My Answer is You _ XiuHan/LuMin (Bagian 03)

Tittle: My Answer is You (sekuel My Immortal Love is You)

Author: Fie

Genre: romance, family, drama, crime, mystery, boyxboy

Length: Multichapter

Rated: M

Languange: bahasa

Pairing: LuMin/XiuHan

Cast:

– EXO XiuMin as Kim Minseok/XiuMin/Byun Daehyun

– LuHan as Xi Luhan

– SM The Ballad Jino as Cho Jinho

– EXO Baekhyun as Byun Baekhyun

– EXO Tao as Hwang Zitao

– EXO Lay as Zhang Yixing/Lay

– Kris Wu as Wu Yifan

– EXO D.O as Kim Kyungsoo

– Kim Sohyun as Byun Chaeri

– EXO Kai as Lee Jongin

– EXO Chen as Lee Jongdae

– EXO Sehun as Kim Sehun

– RV Seulgi as Park Seulgi

– EXO SuHo as Kim Joonmyun

– SNSD Sunny as Lee Sunny/Lee Soonkyu

– Super Junior Yesung as Kim Jongwoon

– SR15B Johnny as Seo Youngho

– RV Wendy as Son Seungwan

– dan lainnya yang akan terungkap seiring cerita…

 

 

Saat aku harus memilih, maka aku akan memilih bahagia bersamamu.


 

THREE – Back

 

“S-siapa kau?”

“Kau tidak mengenaliku, Kim Minseok?”

“M-mwo?”

Lelaki itu berjongkok di hadapan Minseok lalu membuka masker dan topinya. Dia hanya tersenyum tipis dengan raut wajah penuh beban, tapi juga lega. Minseok yang melihat siapa dia sebenarnya langsung terbelalak, benar-benar tidak percaya.

“K-kau?”

“Iya, ini aku.”

Nafas Minseok terdengar berat karena dadanya terasa sangat sesak saat menatap lekat wajah itu. Tangannya pun gemetar saat berusaha menyentuh pipi lelaki itu. Dan tanpa dia sadari, airmata telah membasahi pipinya.

“C-Chanyeol-hyung?”

“Syukurlah kalau kau masih mengingatku.”

“Kau masih hidup? B-bagaimana bisa?”

Park Chanyeol menyentuh tangan Minseok dan menggenggamnya erat.

“Karena kau menginginkannya, bukan?”

“Tidak…ini pasti mimpi, bukan? K-kau…kau sudah…aku melihatnya, aku melihat jenazahmu…” Minseok tidak bisa mengatur kata-kata yang keluar dari mulutnya karena terlalu terkejut dengan keadaan ini.

“Maafkan aku, Minseok-ah…,” lirih Chanyeol penuh rasa bersalah, sedangkan Minseok sedang berusaha menenangkan pikirannya.

Baru setelah cukup tenang, Minseok bisa membuka kembali pembicaraan. “Tolong ceritakan apa yang terjadi, Hyung…”

“Ini semua rencana Yifan.”

“Mwo?” Mendengar nama Yifan, penjaga setianya, Minseok semakin menyangsikan keadaan ini bukanlah mimpi.

“Aku sudah di sini, apa kau senang?”

Minseok tidak menjawabnya. Dia hanya bisa menatap Chanyeol lalu tangannya yang lain menyentuh pundak Chanyeol sambil mengelusnya.

“Ini benar-benar kau, Hyung? Chanyeol-hyung?”

Chanyeol mengangguk sambil tersenyum.

“Bagaimana kau bisa membohongi kami semua, ha?” kata Minseok seraya melepas semua amarahnya dengan memukul tubuh Chanyeol berkali-kali, “aku hampir gila karena kejadian itu. Apa kau tahu jika aku merasa bersalah karena telah memperlakukanmu sangat buruk? Kenapa kau begitu tega, Hyung!??”

Chanyeol merengkuh tubuh Minseok dan memeluknya erat, sedangkan Minseok hanya bisa menangis dalam pelukan Chanyeol yang sangat dia rindukan.

“Maafkan aku…”

***

1 minggu sebelum kejadian bunuh diri Park Chanyeol

 

“Hanya ada satu cara, dan kau tahu itu.”

Perkataan Zitao terus terngiang dalam pikiran Chanyeol. Dia terus memikirkan cara yang paling tepat untuk melindungi Byun Baekhyun. Apakah dia harus membunuh dirinya sendiri, atau…membunuh Byun Baekhyun?

“Sial…,” umpatnya, “apa yang harus kulakukan…”

 

Ting tong

 

“Siapa malam-malam begini bertamu?”

Park Chanyeol beranjak dari sofa untuk membuka pintu. Saat membukanya, Chanyeol sangat terkejut karena melihat tamu yang tak diundangnya itu, Wu Yifan.

Wu Yifan, dengan wajah dinginnya seperti biasa, membungkuk pada Chanyeol dan terpaksa Chanyeol harus mempersilahkannya masuk.

“Kenapa harus orang itu sih yang datang,” katanya dalam hati.

“Silahkan duduk, mau minum apa?”

“Tidak usah, Park Chanyeol-ssie.”

Chanyeol hanya mengangkat bahunya tanda tidak peduli lalu duduk di sofa yang lain.

“Ada apa kau ke sini? Seorang manajer artis terkenal mendatangiku, aku sangat tersanjung.”

“Berhentilah berpura-pura, Park Chanyeol-ssie.”

“Nde?”

“Park Chanyeol-ssie, aku datang ke sini untuk menawarkan kerja sama denganmu.”

“Tolong jangan bertele-tele, cepat katakan.”

“Jika kau melakukan ini, maka kupastikan kau tidak akan dituntut atas pembunuhan Kim Han dan penculikan Lee Taeyong.”

“M-mwo?”

“Aku sudah memikirkannya. Jika kami bisa mengajak salah satu anak buah kelompok mafia yang mengincar keluarga Byun, maka itu dapat memudahkan penyelidikan.”

“Kau sudah gila? Kelompok mafia apanya?”

“Jadi kau tidak mau mengaku? Baiklah. Terpaksa aku akan menyerahkan rekaman pembicaraanmu dengan Kim Han ke kantor polisi sekarang juga.”

Chanyeol yang merasa terancam langsung mengambil pistolnya dan mengarahkannya pada Yifan, sedangkan lelaki itu hanya bisa tersenyum, lebih pada menyeringai mungkin. “Silahkan. Kau bisa membunuhku sekarang dan aku akan langsung menekan tombol send pada Lee Jongdae untuk rekaman ini.”

“Sebenarnya apa maumu?”

“Kau mengikuti rencanaku.”

***

3 hari sebelum kejadian bunuh diri Park Chanyeol

Park Chanyeol masih menimang-nimang tawaran Wu Yifan 4 hari yang lalu. Tawaran yang sangat sulit untuk ditolak, dan bisa jadi dengan menjalankan rencana Yifan, Chanyeol dapat terlepas dari kelompok mafia itu.

“Kau harus menghilang,” kata Yifan.

“Bagaimana caranya?”

“Dengan bunuh diri.”

“Mworago? Berani-beraninya kau menyuruhku bunuh diri!”

“Aku belum selesai bicara. Kita akan memalsukan kematianmu. Tugasmu adalah meninggal di hadapan Byun Baekhyun. Kami akan mengatur kematianmu sehingga terlihat nyata. Dengan begitu, orang yang menyuruhmu juga akan mengira kau sudah meninggal.”

“Sejak kapan kau mengetahui aku yang membunuh Kim Han?”

“Aku menyadap ponselmu sejak penyerangan Kim Han pada Kim Minseok.”

“Kau benar-benar menakjubkan, Wu Yifan…”

“Tidak ada yang mengetahui ini kecuali aku dan beberapa bawahanku. Kita akan memulainya di apartemen Byun Baekhyun, hari minggu malam.”

Dengan menguatkan niatnya untuk melindungi Byun Baekhyun dan adiknya, akhirnya Park Chanyeol mengirim pesan singkat pada Byun Baekhyun yang berisi ajakan makan malam di apartemen Baekhyun. Jika itu saat terakhirnya untuk melihat Baekhyun, maka sebelum menghilang, setidaknya Park Chanyeol harus mengatakan semuanya pada Baekhyun.

 

Hari kejadian bunuh diri Park Chanyeol

Park Chanyeol memasang jaket anti peluru yang diberikan Wu Yifan padanya kemarin malam. Dia juga membawa sebuah obat dari Wu Yifan yang dapat melemahkan detak jantung sementara sehingga kematiannya di depan Baekhyun akan terlihat nyata. Setelah semuanya siap, dia segera pergi ke apartemen Byun Baekhyun.

Malam itu Byun Baekhyun terlihat lebih manis dari biasanya. Dia memakai celemek dan kaus santai yang membuatnya seperti wanita muda yang menunggu suaminya pulang. Dia menyiapkan semua makanan kesukaan Chanyeol dan menyuruh Chanyeol menghabiskannya.

Setelah semua makanan habis, Baekhyun mengajak Chanyeol ke sofa untuk mengobrol. Baekhyun terus memandangi Chanyeol sambil tersenyum lebar. Melihat Baekhyun sesenang itu saat bersamanya membuat Chanyeol semakin merasa bersalah karena telah meninggalkan Baekhyun beberapa hari terakhir dan sebentar lagi akan menghilang lagi.

“Baekhyun-a, aku mencintaimu dengan segenap perasaanku. Selama aku mengenalmu, tidak ada orang lain yang bisa menggantikanmu, dan itu yang membuatku semakin menderita. Jika saja aku tidak mencintaimu, maka aku akan menjalankan tugas ini dengan mudah, aku bisa membunuhmu seperti aku membunuh orang lain. Jika kau juga tidak mencintaiku, aku akan membunuh adikmu tanpa segan, tapi aku tidak bisa, Baekhyun-a, aku tidak bisa karena aku mencintaimu. Jika malam ini adalah malam terakhir kita bersama, setidaknya aku masih bisa mengatakan perasaanku yang sesungguhnya padamu. Maafkan aku karena tidak bisa menjagamu sampai akhir, Baekhyun-ah…”

 

DARR

 

Chanyeol menembak dadanya sendiri di depan mata Baekhyun dan terjatuh dalam pelukan namja itu. Dia berpura-pura batuk dengan menutup mulutnya dengan tangan yang sebenarnya berisi obat itu.

“C-Chanyeol-a?”

“A-adikmu…adikmu adalah Kim Minseok, e-euh…euh…, d-dia adalah Byun Daehyun…”

“Chanyeol-a…kenapa kau tega melakukan ini, hah?”

“Sudah kubilang kan, aku tidak akan bisa membunuhmu sampai kapanpun. S-selamat tinggal, Baekhyunnie…”

***

Dua jam setelah kejadian bunuh diri Park Chanyeol

 

Luhan menggoyang-goyangkan tubuh Chanyeol yang sudah tidak dalam pengaruh obat. Untung saja Luhan tidak memastikan kematian Chanyeol karena tubuh Chanyeol sudah kembali normal, lelaki itu juga sudah sadar dari “kematian”nya.

 

Buk

 

Chanyeol membuka sedikit matanya. Dia sangat terkejut melihat Minseok yang tidak sadarkan diri berada di sampingnya. Dia juga mendengar perdebatan Luhan dan Baekhyun mengenai masa lalu mereka, tapi tidak berlangsung lama. Baekhyun segera memanggil polisi untuk mengamankan mayat palsu Chanyeol.

Chanyeol dibawa ke rumah sakit oleh orang-orang utusan Wu Yifan, dan di rumah sakit Chanyeol langsung digantikan oleh mayat orang lain yang akan dikremasi sebagai dirinya. Wu Yifan menyerahkan sebuah tas berisi kunci, kartu identitas, buku tabungan serta kartu atmnya, dan sejumlah uang untuk Park Chanyeol.

“Kau bisa menjadi orang lain untuk sementara. Jika sudah waktunya, aku akan memanggilmu.”

“Kenapa kau melakukan ini, Wu Yifan? Kenapa kau ingin membebaskanku?”

“Karena itu satu-satunya cara untuk menyelamatkan Tuan Byun.”

***

Wu Yifan memandangi Chanyeol dan Minseok dari jendela gudang. Diam-diam dia membuka kunci pintu itu dan membiarkan keduanya melepas rindu.

“Aku ingin bertemu dengan Kim Minseok, Yifan-ssie.”

“Untuk apa?”

“Aku ingin meminta maaf padanya.”

“Kenapa bukan Baekhyun?”

“Nde?”

“Kenapa kau ingin menemui Tuan Daehyun lebih dulu?”

“Entahlah. Aku mendapat firasat kalau aku harus berada di samping Minseok secepatnya. Yifan-ssie, tidakkah kau cemas pada keselamatan anak itu setelah apa yang dia lakukan pada rencana Joongmyun?”

“Maksudmu?”

“Kelompok itu tidak akan melepaskan Minseok. Mereka akan mengincar Minseok, aku yakin itu. Bagaimanapun aku dulu bagian dari mereka, jadi aku tahu siapa saja musuh yang akan selalu mereka kejar. Dan menurut perkiraanku, salah satu musuh itu adalah Kim Minseok.”

Jika apa yang dikatakan Chanyeol benar, itu artinya Kim Minseok masih dalam masalah. Dia masih diincar dan bagaimana bisa Yifan melewatkan itu?

***

Setelah beberapa lama menangis dalam pelukan Chanyeol, Minseok pun mengangkat tubuhnya dan melepas pelukan itu. Dia tidak tahu apa yang akan dilakukannya sekarang. Apakah dia harus memukuli Chanyeol sampai puas, atau mencekiknya sampai dia memohon ampun. Oh ayolah, sekarang Minseok memang sangat kesal.

Chanyeol mengusap airmata dari pipi Minseok lalu mengangkat wajah namja itu. Setelah melihat senyum Chanyeol, Minseok tidak lagi marah. Dia bersyukur orang itu masih hidup, dan semua orang harus tahu itu, terutama Baekhyun.

“Tolong rahasiakan ini. Pada siapapun. Apa kau berjanji?”

“Kenapa?”

“Aku masih harus bersembunyi, Minseok-ah. Aku harus memastikan kalau kau dan Baekhyun benar-benar aman.”

“Setelah sekian lama sejak kasus itu selesai, apa menurutmu kami masih dalam bahaya?”

“Aku berharap tidak. Hanya berjaga-jaga.”

“Kau benar-benar menyebalkan. Lalu kenapa kau datang padaku?”

“Aku rasa, kesalahanku padamu lebih besar.”

“Maksudmu?”

“Aku membuatmu jatuh cinta pada orang yang salah, sedangkan aku hanya memanfaatkanmu.”

“Memangnya kau kira aku benar-benar mencintaimu?”

“Iya, bukan?”

“Jangan berkhayal. Aku hanya melakukannya karena aku iri pada Baekhyun-hyung. Dia memiliki orang yang sangat perhatian padanya, jadi itu sebabnya aku menerimamu.”

“Benarkah? Lalu sekarang kalau aku menciummu, apakah kau akan jatuh cinta padaku?”

“Hya! Jangan sembarangan! Aku sudah punya pacar!!”

“Ha ha ha. Aku hanya bercanda, Minseok-a.”

“Dimana kau tinggal, Hyung? Apa aku boleh berkunjung?”

“Tentu saja. Aku akan mengirimkan alamatku lewat sms. Nomormu masih sama, kan?”

“Iya…”

“Nah, sekarang kau harus isitirahat. Aku akan pulang dengan Wu Yifan.”

“Yifan-hyung di sini? Di mana dia? Aku harus memarahinya!”

“Ha ha ha. Sudah-sudah, besok kau bisa memarahinya sepuasmu. Sekarang kau harus istirahat, sudah malam.”

“Aku berniat untuk melanjutkan novelku. Minggir.”

Minseok berdiri lalu kembali mencari naskah-naskahnya. Selagi mencari, Chanyeol mendekati Minseok dan memeluknya dari belakang.

“Aku selalu menganggapmu sebagai adikku sendiri, Minseokkie. Yang harus kau tahu, aku tidak pernah ingin mengecewakan kalian berdua. Aku pergi dulu…”

Minseok tidak berkata apa-apa sampai akhirnya Chanyeol meninggalkannya. Dia hanya bisa tersenyum dan bernafas lega karena Park Chanyeol telah kembali.

***

Keesokan harinya, saat Minseok terbangun, dia langsung terkejut saat tahu tertidur di gudang. Minseok mengusap matanya lalu menepuk-nepuk pipinya untuk membantu kesadarannya terkumpul. Dia mengingat kejadian tadi malam, saat Chanyeol datang dan menjelaskan semuanya. Apakah itu mimpi? Pikirnya berulang, tapi setelah memastikan kalau itu nyata, dia kembali tersenyum.

“Yifan-hyung, dia harus menjelaskan semuanya.”

Minseok keluar dari gudang sambil membawa naskah draftnya dan berjalan gontai menuju rumah. Saat dia masuk, Kyungsoo dan Jung Shinae sudah berdiri di ruang tengah sambil melipat kedua tangannya di depan dada, sedangkan Lay berdiri di belakang mereka, agak jauh, hanya untuk mengamati.

“Darimana kau, Hyung?” tanya Kyungsoo.

“Apa kau tahu ini sudah jam berapa? Apa kau pergi lagi tadi malam?” tanya Eomma Minseok.

“Aku tertidur di gudang saat mencari ini,” kata Minseok seraya menunjukan kertas-kertas naskahnya.

“Pantas saja Hyung tidak membawa ponsel…”

“Huft…bikin kaget saja. Sudahlah, mandi sana lalu kita sarapan bersama.”

Eomma kembali ke dapur, sedangkan Kyungsoo ke kamarnya. Lay yang merasa semua sudah tenang menghampiri Minseok yang berlaku seperti orang kebingungan.

“Kenapa kau bisa tertidur di sana?”

“Mungkin karena aku kelelahan.”

“Seharusnya saat weekend seperti ini kau istirahat.”

“Aku akan pergi sebentar pagi ini.”

“Mau kemana?”

“Hanya menemui nenek kok.”

“Apa perlu kuantar?”

“Tidak-tidak. Aku bisa ke sana sendiri. Aku ingin meminta nenek untuk melepaskan semua penjaga itu. Rasanya risih saat mereka mengikutiku.”

“Kau tahu kalau ada penjaga yang mengikutimu?”

“Tentu saja. Memangnya kau pikir aku bodoh? Seperti kata Baekhyun-hyung, jangan meremehkan otak keturunan Byun.”

“Uhm…Daehyun-ah…”

“Iya?”

“Aku…,” kata Lay sedikit ragu, “aku akan memakai kamar mandi duluan.”

Lay berlari ke kamar mandi sebelum Minseok bertanya lebih lanjut. Minseok hanya mengerutkan dahinya karena heran, tapi tidak terlalu memikirkannya karena sekarang dia sedang senang.

***

Setelah sarapan, Minseok segera mengambil jaket dan kunci mobilnya. Dia akan pergi ke apartemen Yifan untuk menanyakan semuanya. Minseok menyesal harus membohongi Lay dan keluarganya, tapi apa boleh buat, ini untuk menjaga rahasia Chanyeol.

Dia tiba di apartemen Yifan sekitar 30 menit kemudian. Yifan sudah bisa menebak kalau majikannya itu akan datang ke sini perihal kematian palsu Park Chanyeol. Setelah mengantarkan minuman dingin untuk Minseok, Yifan duduk di samping Minseok dan bersiap dengan semua pertanyaannya.

“Sampai kapan kau akan menyembunyikan Chanyeol-hyung?”

“Sepertinya Park Chanyeol sudah mengatakannya padamu.”

“Hyung, aku serius. Apa yang sedang kau cemaskan?”

“Bagaimana caranya supaya kalian semua benar-benar aman.”

“Bagaimana denganmu, Hyung? Apa kau sudah merasa aman?”

“Maksudmu?”

“Jika kau terus-terusan memikirkan orang lain, maka kau sendiri yang akan hilang.”

“Jangan menyemaskanku, Daehyunnie, aku—“

“Suruh para penjagaku pergi.”

“Nde?”

“Aku tidak bisa selalu diikuti seperti ini. Aku punya ponsel berisi alarm keamanan sehingga kau bisa tenang.”

“Apakah mereka mengganggumu?”

“Tidak. Mereka melakukannya dengan baik, tapi aku merasa tidak bebas jika diikuti terus.”

“Apakah kau yakin?”

“Tidak pernah merasa seyakin ini.”

Yifan menimang-nimang permintaan Minseok. Ditatapnya Minseok dengan tatapan ragu lalu menghela nafas panjang.

“Baiklah, asal kau berjanji bisa menjaga diri dan jangan terlalu lama jauh dari Yixing atau Luhan saat di China nanti.”

I’m promise…”

“Kapan kau akan pulang?”

“Aku akan menetap selama 2 minggu, itu artinya aku akan kembali pada pertengahan februari.”

“Selama itu, akan kupastikan hanya Lay yang menjagamu.”

“Ah, Hyung.”

“Iya?”

“Apakah kau pertamakali bertemu dengan Lay-hyung saat dia kuliah?”

“Benarkah? Sebentar…eum…iya, sepertinya begitu.”

“Sepertinya begitu? Kau tidak ingat bagaimana pertama kali kalian bertemu?”

“Terlalu banyak yang kupikirkan, Daehyun-a, aku tidak benar-benar mengingat masa laluku.”

“Tapi kalian kan pacaran, bagaimana bisa kau tidak ingat?”

“Sungguh, aku tidak begitu ingat.”

“Lalu bagaimana kau menyatakan cinta padanya?”

“Eung…”

“Apakah kau benar-benar menyukainya?”

Pertanyaan Minseok membuat Yifan tersadar akan sesuatu. Selama ini, apakah dia benar-benar menyukai Lay atas dasar cinta, atau…hanya keperluan pekerjaan?

“T-tentu saja, aku menyukainya.”

“Aku belum pernah melihat kalian kencan.”

“Hanya karena kau belum pernah melihatnya, belum tentu kami tidak pernah berkencan.”

“Kalau begitu, ajak dia kencan besok malam. Ajak dia ke restoran paling romantis di Seoul.”

“Tapi dia harus mengantarmu pulang.”

“Sudah kubilang aku bisa menjaga diriku sendiri. Ada ponsel ini, tenang saja.”

“Daehyun-ah…”

“Aku akan merasa bersalah jika berada di antara kalian berdua.”

“Kau tidak—“

“Dalam arti sesungguhnya.”

Minseok mendekatkan diri pada Yifan lalu merangkul tubuh itu.

“Aku tidak ingin hubungan kalian memburuk hanya karena kalian terlalu fokus menjagaku. Aku baru berumur 25 tahun beberapa bulan yang lalu, bukan lagi umur seorang anak kecil yang kemana-mana harus bersama penjaganya. Pergilah makan malam dengannya, Hyung.”

Yifan sekali lagi menatap ragu Minseok, tapi akhirnya dia mengangguk setuju pada permintaannya.

“Aku akan pulang sekarang. Ingat, kau sudah menyetujui permintaanku.”

“Iya.”

“Sampai jumpa, Hyung.”

Baru saja Minseok berdiri, tapi Yifan langsung mencekal tangannya.

“Daehyun-ah.”

“Iya?”

“Apa kau tidak berniat menghubungi Luhan?”

“Akan kuhubungi dia sepulang dari sini. Apa kau tahu jika aku sangat merindukannya?”

“Aku tahu dan kuyakin dia juga begitu.”

***

Minseok berbohong saat dia bilang akan pulang setelah pergi ke apartemen Yifan. Dia pergi ke kafe Valcy untuk menikmati kopi sendirian. Ada sesuatu yang mengganjal pikirannya, tapi dia tidak tahu apa itu. Dan dia akan lari ke kopi untuk menurunkan stressnya.

“Apa karena foto-foto itu ya?”

Minseok teringat pada foto-foto aneh yang berisi gambarnya dicorat-coret sekitar 1 minggu yang lalu. Tidak ada kiriman lagi setelah itu, tapi sikap Luhan sudah menunjukan keanehan tersendiri bagi Minseok.

“Aku harus menelpon Lu-ge.”

***

“Apa kau tidak menunggu Minseok dulu?”

“Tidak apa-apa, Eommoni, besok kami juga akan bertemu.”

“Kenapa harus pindah, Hyung? Kamar itu bisa menjadi milikmu seterusnya.”

“Apartemen yang dulu kutempati sudah lama tidak kuurus, jadi aku merasa rugi sudah membayarnya.”

“Kau hanya perlu menjualnya lagi. Pasti ada orang yang akan membelinya,” timpal Kyungsoo.

“Tidak-tidak. Aku harus memiliki apartemen sendiri karena mungkin saja keluargaku akan datang dari China.”

“Ah…aku lupa kalau keluargamu ada di China,” kata Shinae yang mulai merasa bersalah, “baiklah, tapi jangan lupa kalau kau boleh ke sini kapan saja kau mau, Lay-a.”

“Ne. Gomapsimida, Eommoni…”

Lay menyesal harus membohongi Kyungsoo dan Shinae karena sebenarnya tidak mungkin keluarganya datang ke Korea, apalagi tahu dimana dia tinggal. Alasannya pindah adalah untuk memecahkan masalahnya terkait dengan buku yang ditemukan Minseok kemarin sore. Tidak ada yang boleh mengetahui hal ini karena bisa jadi akan sangat berbahaya untuk hubungannya dengan Minseok. Bahkan dia tidak berniat untuk memberi tahu Yifan.

“Aku akan menghubungi Minseok sesampainya di apartemen,” kata Lay.

“Aku akan membawakan tasmu ke mobil, Hyung!”

“Kenapa tasku berat sekali, ya? Kurasa kemarin aku tidak membawa banyak baju…”

“Aku memasukan banyak makanan ke dalamnya, he he he…”

“Eommoni…aku benar-benar merepotkanmu.”

“Aku akan marah jika kau menolaknya. Hati-hati di jalan, Lay-a.”

Lay mengangguk dengan semangat lalu keluar bersama Kyungsoo yang kesusahan membawa tasnya. Lay tertawa kecil melihat wajah Kyungsoo yang meringis keberatan.

“Berat sekali, ya?”

“Eomma benar-benar memberi banyak makanan untukmu, Hyung. Mungkin bisa dibuat persediaan seminggu sebelum kalian pergi ke China.”

“Ha ha ha…Eommamu benar-benar orang yang baik.”

“Ahiya, Hyung. Aku lupa memberitahumu sesuatu.”

“Ada apa?”

“Kemarin aku melihat Yifan-hyung berjalan mengendap-ngendap di halaman belakang. Sebenarnya aku tidak yakin karena saat aku mencarinya, dia sudah menghilang.”

“Yifan? Dia di sini semalam?”

“Sudah kubilang aku tidak yakin. Mungkin aku hanya berhalusinasi.”

“Apa kemarin kakakmu sudah pulang saat kau melihatnya?”

“Eung…belum,” kata Kyungsoo sambil menggeleng.

“Baiklah, aku pergi dulu ya. Terimakasih atas bantuanmu. Katakan pada kakakmu kalau aku akan menghubunginya.”

“Ne! Hati-hati di jalan, Hyung!”

Lay masuk ke mobilnya dan segera melajukan mobilnya. Kyungsoo membuka gerbang rumahnya dan Lay melambai pada namja itu sebelum benar-benar keluar dari area rumah.

“Untuk apa dia ke sini?”

***

Kim Minseok tiba di rumahnya beberapa saat setelah Lay pergi. Saat tiba di rumah, kondisi rumah sangat sepi karena Kyungsoo dan Shinae berada di kamar masing-masing. Minseok juga segera pergi ke kamarnya untuk menghubungi Luhan perihal foto-foto itu. Dia tidak tahan lagi. Jika benar Luhan diam akibat foto-foto itu, maka Minseok harus meluruskan semuanya walaupun dia sendiri tidak yakin darimana asal mereka.

Selagi menunggu jawaban Luhan, Minseok membuka buku yang dia temukan kemarin. Dia belum membaca detailnya. Berita-berita di dalam buku itu berkaitan dengan penyelundupan obat terlarang ke seluruh penjuru Korea Selatan. Di halaman pertama tidak disebutkan siapa pelakunya, mungkin karena ini berita pertama yang terbit dalam perjalanan kasus itu. Saat dia hendak membuka halaman lain, terdengar suara Luhan.

“Halo?”

“Lu-ge.”

Tidak ada respon dari Luhan.

“Lu-ge? Ini aku, Xiumin.”

Tetap tidak ada respon.

“Aku merindukanmu.”

“N-nado…”

Tergambar seulas senyum di wajah Minseok saat mendengar jawaban itu.

“Bisakah kita tidak diam-diaman seperti ini? Aku benar-benar tidak tahan.”

“Aku harus pergi sekarang, maaf—“

“Foto. Apakah ini karena foto-foto itu?”

“Mwo?”

“Aku tahu kau juga menerima foto-foto itu, Lu-ge. Tolong jujur.”

“Aku tidak mengerti apa maksudmu, Xiumin.”

“Apakah kau menghindariku karena takut aku diganggu? Tidak, Lu-ge, aku bisa menjaga diriku dari gangguan-gangguan selanjutnya. Yang kubutuhkan sekarang adalah kehadiranmu.”

“Xiumin…”

“Jika kau tidak kembali seperti dulu, apakah aku harus mencari pacar baru yang lebih perhatian?”

“YA! Apa maksudmu dengan pacar baru, hah?! Aku baru mendiamimu 1 minggu, tapi kau sudah berpikir mencari pacar baru? Kau kira menunggu selama 19 tahun membuatku melupakanmu? Kau benar-benar tega, Xiumin!!”

Minseok harus sekuat tenaga menahan rasa senangnya karena mendengar omelan Luhan. Ah..dia benar-benar merindukan omelan ini.

“Kalau begitu apa maumu? Apa aku harus menyetujui usulan Baekhyun-hyung yang ingin menjodohkanku dengan Sehun?”

“Kau mau mati?! Jangan berani-berani menyetujuinya! Lihat saja saat kau di China aku tidak akan melepasmu!”

“Katanya kau harus pergi. Pergi sana!”

“YA! Jangan mengalihkan obrolan!”

“Baekhyun-hyung, Lu-ge setuju kalau aku mencari pacar baru,” ucap Minseok yang berpura-pura bicara pada Baekhyun untuk membuat Luhan semakin marah.

“Berikan telepon ini pada si mata sipit itu! Aku harus bicara dengannya! Kurang ajar…”

“Ha ha ha ha!! Aku tidak bisa menahan tawaku, Lu-ge…”

“He?”

“Aku hanya bercanda soal Baekhyun-hyung.”

“YA!”

“Seperti inilah Lu-ge yang kukenal. Tolong jangan berubah lagi, Lu-ge…”

Tidak ada respon dari Luhan. Yang terdengar hanyalah suara nafas Luhan yang berat. Minseok bisa merasakan kegelisahan di sana.

“Lu-ge, tolong berhenti seperti ini, eoh?”

“Maafkan aku, Xiumin. Aku hanya cemas. Aku takut jika kau terus bersamaku, orang itu akan mengganggumu juga.”

“Ayo kita hadapi apapun masalah itu bersama-sama. Seperti yang kita lakukan dulu? Arrayo?”

“Cepatlah datang ke Beijing, dan aku akan selalu berada di sampingmu.”

“Apa sekarang aku bisa mengunci ucapanmu?”

“Ne.”

“Gomawo, Luhanie-hyung.”

“Apa-apaan ini? Jangan panggil aku seperti itu.”

“Aku hanya ingin kau tahu kalau aku sangat mencintaimu.”

***

Keesokan harinya adalah tanggal merah di Korea. Kim Minseok bangun pagi-pagi sekali untuk menyiapkan sarapan untuk keluarganya dan Baekhyun. Hari ini dia akan mengunjungi Baekhyun dan bercerita banyak padanya. Kim Kyungsoo yang baru saja bangun hanya terheran-heran melihat prilaku kakaknya yang kegirangan, terlebih lagi, Minseok juga menyiapkan sarapan, tidak seperti biasanya.

“Kau kenapa, Hyung?” Pertanyaan spontan Kyungsoo langsung membuat Minseok sedikit terkejut lalu tersenyum lebar sekali.

“Memangnya Hyungmu ini tidak boleh senang?”

“Iya…tapi kenapa?”

“Aku dan Lu-ge sudah berbaikan.”

“He? Memangnya kapan kau marahan dengannya?”

Minseok hanya memutar bola matanya dan bersenandung riang. Kyungsoo menangkap makanan kesukaannya lalu segera menyomot kimbap yang sebenarnya untuk Baekhyun.

“Hya…ini untuk Baekhyun-hyung.”

“Untukku?” Kyungsoo tidak menggubris perkataan Minseok dan malah bertanya dimana jatahnya.

“Itu,” jawab Minseok singkat seraya menunjuk kotak makan yang lebih besar daripada punya Baekhyun.

“Saranghae, Hyung!”

“Cepat cuci mukamu. Ah, bilang pada Eomma aku akan sarapan dengan Baekhyun-hyung.”

“Eoh…”

“Aku harus berangkat sekarang. Sampai jumpa, Kyungsoo-ah!!” kata Minseok penuh semangat seraya menutup kotak makan Baekhyun dan mengambil jas serta tasnya lalu pergi meninggalkan Kyungsoo yang masih sibuk mengunyah kimbapnya.

“Baru sekarang aku melihat Minseok-hyung sangat bersemangat seperti itu. Ada apa, ya?”

***

Hanya membutuhkan waktu 10 menit untuk sampai ke apartemen Baekhyun dengan mobil karena Baekhyun sudah pindah ke apartemen yang dekat dengan kediaman Minseok beberapa bulan yang lalu.

Sesampainya di sana, Baekhyun yang terlihat baru selesai mandi agak terkejut karena Minseok mendatanginya pagi-pagi sekali.

“Wah-wah, ada apa ini? Kenapa kau datang pagi sekali?”

“Apa kau tidak mau mempersilahkanku masuk?” tanya Minseok seraya menggembungkan pipinya, berlaku seperti anak kecil. Baekhyun hanya bisa tertawa gemas lalu merangkul adiknya itu, mengajaknya masuk.

“Ayo kita sarapan bersama, Hyung!”

“Aku ganti baju dulu, ya. Kau bisa menyiapkannya di sana seperti biasa.”

“Arrayo…”

Baekhyun merasakan energi yang tidak biasa dari Minseok, energi yang positif tentu saja, dan itu membuatnya semakin bersemangat. Mereka berdua memang sering sarapan, atau makan bersama, tapi baru kali ini Minseok datang sepagi ini.

Setelah berganti baju, Baekhyun duduk di hadapan Minseok dan sedikit takjub melihat makanan-makanan yang dibawa Minseok.

“Kau membuatnya sendiri?”

“Yep!”

“Daebak…kau bangun jam berapa?”

“Aku tidak bisa tidur malah kemarin malam.”

“Ada apa, Daehyunnie? Sepertinya kau sangat senang hari ini.”

“Huft…Kyungsoo juga bertanya seperti itu. Apa aku tidak boleh sesenang ini?”

“Bukannya tidak boleh, tapi kau memang terlihat lebih riang daripada biasanya.”

Minseok terkekeh geli menyadari kelakuannya yang terlalu berlebihan pagi ini. Tapi mau bagaimana lagi, dia memang benar-benar senang. Bertemu dengan Chanyeol dan berbaikan dengan Luhan, apa lagi yang lebih menyenangkan daripada itu? Ah, akan lebih menyenangkan lagi jika Baekhyun tahu kalau Chanyeol masih hidup.

“Kau duluan yang makan, Hyung.”

“Baiklah…”

Baekhyun mengambil sebuah kimbap dan melahapnya utuh-utuh.

“Ya…enak sekali seperti biasa. Luhan benar-benar beruntung memilikimu, Daehyunnie.”

“Ah. Itu salah satu alasan kenapa aku sesenang ini, Hyung. Aku telah berbaikan dengannya.”

“Memangnya kalian marahan?”

“Bukan marahan sih, hanya salah paham.”

“Cepat ceritakan padaku. Apa dia menyakitimu?”

Minseok hanya menggeleng lalu meminum susu hangatnya sambil tersipu malu. Sebenarnya Baekhyun sangat ingin mencubit wajah bundar itu tapi harus ditahannya karena tidak ingin merusak suasana.

“Mumpung kau sedang senang, aku ingin membicarakan sesuatu denganmu, Daehyun-ah.”

“Ada apa, Hyung?”

Sambil mengambil 1 kimbab lagi, Baekhyun tersenyum sambil menatap Minseok lekat. “Aku akan bertunangan.”

“MWO?!”

Baekhyun terlonjak kaget saat Minseok berteriak. Begitupula Minseok, dia terkejut bukan main dengan pernyataan Baekhyun soal pertunangannya. Bagaimana tidak. Setelah kemarin dia bertemu dengan Chanyeol dan itu artinya Baekhyun bisa kembali berhubungan dengan Chanyeol, tapi kenapa tiba-tiba Baekhyun mengatakan itu?

Oke, ini bukan kesalahan Baekhyun sama sekali karena dia tidak tahu kalau sebenarnya Chanyeol masih hidup. Minseok harus berusaha agar Baekhyun tidak melakukan pertunangan itu.

“Dengan siapa, Hyung? Kenapa tidak pernah bercerita padaku soal hubungan kalian? Kenapa tiba-tiba sekali?”

Baekhyun hanya bisa mengerjap-ngerjapkan matanya mendapati pertanyaan beruntun Minseok.

“Hyung, jawab aku!!”

“Kenapa kau cemas sekali, Daehyunnie?”

“A-aku…aku…”

“Kau cemburu, ya? Memangnya aku tidak cemburu saat kau bertunangan dengan Luhan?”

“Bukan masalah cemburu, Hyung, tapi…”

“Chanyeol pasti akan mengerti.”

“Nde?”

“Aku juga tidak enak karena akan bertunangan dengan orang lain, padahal belum genap setahun kepergiannya. Tapi…aku harus melanjutkan hidupku, Daehyunnie.”

“Iya, Hyung. Kau tidak salah, tapi kenapa tiba-tiba sekali? Apa kau sudah mengenal orang itu dengan baik?”

“Dia temanku saat kuliah dulu, selain Chanyeol tentu saja.”

“Siapa dia, Hyung? Apa aku mengenalnya?”

“Tidak. Kau belum mengenalnya sekarang, tapi setelah kau mengenalnya, kau akan menyukainya juga.”

Minseok menggigit bagian bawah bibirnya, gugup. Dia bingung harus memulai darimana agar Baekhyun mengurungkan niatnya itu.

“Apa kau sudah berpacaran dengannya?”

“Belum. Aku akan langsung melamarnya.”

“Mwo? Apa kau kira lamaran itu hanya main-main? Kau harus benar-benar mengenalnya, baru bisa melamarnya.”

“Aku sudah mengenalnya dengan baik, Daehyunnie, tenang saja.”

“Aku belum mengenalnya! Kalau Hyung belum mengenalkannya padaku, dan aku belum bisa menerimanya, Hyung tidak boleh melamarnya dulu!”

“Jadi kau berniat melangkahi aku?”

“Aish…bukan begitu, Hyung. Aku akan menikah dengan Luhan setelah Hyung menikah. Bagaimana?”

“He? Bukankah kau sudah menentukan bulan pernikahan kalian?”

“Itu masalah gampang. Yang pasti, sekarang aku tidak bisa melepaskan Hyungku pada orang yang belum pernah kutemui.”

“Ada apa denganmu, Daehyunnie? Kau berubah 180 derajat setelah mendengar rencanaku ini. Kukira kau akan senang jika aku senang.”

“Bukan seperti itu, Hyung. Aku hanya ingin memastikan orang seperti apa yang akan Hyung lamar. Hanya itu.”

Baekhyun hanya tersenyum penuh arti mendengar pernyataan Minseok. Dia merasa ada yang disembunyikan adiknya itu, tapi Baekhyun harus menahan rasa penasarannya karena mungkin Minseok memang merencanakan sesuatu yang baik untuknya.

“Baiklah. Kita akan menemui Sooyoungie sabtu depan. Bagaimana?”

“Apa kau lupa? Aku kan akan pergi ke Beijing untuk mempromosikan filmku.”

“Eum…lalu bagaimana kalau sepulang kau ke sini?”

“Berarti 2 minggu dari besok, ya? Aku harus ke rumah orangtua Lu-ge dulu.”

“Hya, Daehyun-ah. Kau jangan main-main.”

“Aku tidak main-main. Begitulah rencanaku 1 bulan ke depan.”

“Dan saat kau kembali, aku sudah memakai cincin pertunangan. Dengan begitu kau akan lebih cepat menikahi Luhan juga.”

“Hyung…tolong jangan seperti ini…”

“Kenapa?”

“Pokoknya Hyung jangan melamar…siapa namanya?”

“Sooyoungie, Park Sooyoung.”

“Ne, jangan melamar gadis itu dulu, arrayo?”

“Baiklah…”

“Dan yang penting juga, jangan mengajaknya berkencan!”

“Hya, Byun Daehyun!!”

“Maafkan aku, Hyung, tapi sekali ini saja tolong penuhi keinginanku, ya?”

Baekhyun terlihat menimang-nimang permintaan Minseok.

“Baiklah, tapi jika gara-gara kau, aku tidak kunjung menikah, kau juga tidak boleh menikah.”

“Ne-ne! Aku berjanji itu tidak akan terjadi!”

“Yasudah, cepat habiskan makananmu. Setelah ini kita akan pergi kemana?”

“Bagaimana kalau mengunjungi nenek?”

“Kau tidak bosan apa setiap minggu ke sana?”

“Bibi Minyoung kelihatan sangat kesepian kalau kita tidak ke sana.”

“Ayo kita kencan ke tempat lain.”

“Kemana?”

“Taman kota, tempat yang sering kukunjungi dengan Chanyeol.”

Bibir Minseok menyungging lebar. Masih ada harapan untuk menyatukan Baekhyun dan Chanyeol. Ya, pasti masih ada.

***

Dan di sinilah Minseok dan Baekhyun. Mereka berdua berjalan menyusuri jalan setapak taman yang berlapis batu-batu kecil. Sambil bergandengan dan menghirup udara segar pagi, keduanya menyusuri jalan itu dalam diam. Minseok tidak ingin mengganggu ketenangan Baekhyun karena mungkin Hyungnya itu sedang mengingat kenangannya bersama Chanyeol. Minseok juga jadi ingat kenangannya saat bertemu dengan Luhan di taman ini, saat dia menendang kaleng dan berujung pada obrolan menyenangkan dengan Luhan. Tanpa mereka sadari, terdapat kenangan manis yang mereka tenun di taman ini. Suatu saksi bisu atas pertemuan tak terduga yang mengantarkan keduanya pada cinta sejati.

Setelah 10 menit berjalan, Minseok dan Baekhyun duduk di bangku taman. Baekhyun memasukan tangan Minseok yang masih digendongnya ke dalam saku mantelnya agar adiknya itu tidak kedinginan.

“Hari ini dingin sekali, ya…,” gumam Baekhyun sambil menatap langit.

“Aku tidak merasa kedinginan.”

Celetukan Minseok membuat Baekhyun menoleh padanya. “Eum?”

“Karena Hyung memasukan tanganku di sakumu.”

“Hanya sebelah, apa rasanya?”

“Apa Chanyeol-hyung sering melakukan ini?”

“Hei-hei…kenapa tiba-tiba membicarakannya?”

Minseok hanya tersenyum penuh arti lalu mendekatkan tubuhnya pada Baekhyun.

“Kemarin aku menemui Chanyeol-hyung.”

“Ohya? Apa katanya?”

“Dia bilang, dia tidak akan pernah mengecewakan kita lagi.”

“Ah…berhentilah berbicara dengan Chanyeol, Daehyunnie, dia benar-benar raja gombal.”

“Aku serius, Hyung.”

“Hahaha…iya-iya…”

Minseok ingin sekali menceritakan semuanya pada Baekhyun. Semuanya. Tapi, Chanyeol melarangnya dan itu membuat Minseok tidak bisa berbuat apa-apa.

“Daehyunnie, apa yang sudah kau persiapkan untuk menemui orangtua Luhan?”

“Aku sudah menyiapkan mental, Hyung, hahaha…”

Baekhyun ikut tertawa bersama Minseok lalu mengeluarkan tangan mereka dari sakunya. Dirematnya tangan mungil adiknya dengn kedua tangannya lalu menatap Minseok lekat.

“Baru saja kita bersama, kenapa kau harus bersama orang lain?”

“Hyung merasa kesepian ya akhir-akhir ini?”

“Tidak juga. Sooyoungie selalu berhasil membuatku tertawa.”

“Aku penasaran dengan gadis itu…”

“Dia memang tidak bisa menggantikan Chanyeol seutuhnya, tapi…aku merasa nyaman di dekatnya, sungguh.”

“Hyung.”

“Eum?”

“Seandainya, ini hanya seandainya, jadi jangan terlalu dianggap serius.”

“Iya-iya. Ada apa?”

“Seandainya, tiba-tiba saja Chanyeol-hyung muncul lagi, apa yang akan kau lakukan?”

Pertanyaan itu membuat Baekhyun terdiam. Dia tidak menyangka Minseok akan membayangkan hal yang tak mungkin terjadi seperti itu. Terkadang Baekhyun memang membayangkan hal itu, tapi dia terus menolak mimpi yang mustahil terwujud itu. Bagaimana tidak. Baekhyun melihat dengan mata kepalanya sendiri, Chanyeol menembakan peluru tepat ke dadanya dan merasakan jantungnya berhenti. Saat dia memikirkannya lagi, Baekhyun merasa hatinya sangat sakit, tapi tidak langsung ditunjukan pada Minseok agar adiknya tidak ikut-ikutan sedih.

“Seandainya, ya? Eum…ah, kau lihat ayunan di sana?” Baekhyun menunjuk 2 buah ayunan yang berdudukan karet dan bertali rantai yang telah berkarat. Sepertinya ayunan itu telah lama tidak digunakan. “Semasa SMA, aku selalu menyempatkan diri menaikinya sambil Chanyeol mendorongnya. Terdengar kekanakan, bukan? Hahaha… kami akan mengobrol di sana sampai jam keluarku habis. Dia tidak pernah absen menemaniku saat aku menginginkannya. Dia adalah teman terbaikku bahkan jika dia memiliki niat untuk membunuhku. Tidak ada seorangpun yang bisa menggantikan Chanyeol, Daehyunnie, tidak ada bahkan jika orang itu berhasil membuatku tertawa atau merasa nyaman. Akan tetapi, luka yang diberikan Chanyeol padaku juga yang terburuk. Jika aku bisa bertemu dengannya, aku akan memukulinya habis-habisan karena telah memberi luka ini padaku. Aku tidak tahu apakah bisa menyembuhkan luka ini sekalipun kenangan yang dia berikan bisa membakar semangat hidupku lagi. Aku sangat ingin dia kembali, Daehyunnie, lebih dari apapun di dunia ini, lebih dari nyawaku sekalipun. Aku ingin memukulinya lalu kembali hidup normal bersamanya. Aku ingin melampiaskan semua yang kurasakan padanya.”

Minseok memeluk erat Baekhyun yang kini telah menumpahkan airmata yang tidak bisa ditahannya lagi. Minseok merasakan kesakitan yang sama dengan Baekhyun, sebelum dia bertemu dengan Chanyeol kemarin. Minseok berjanji akan membuat Chanyeol kembali ke kehidupan Baekhyun. Minseok berjanji.

“Maafkan aku, Hyung…maafkan aku…”

***

Setelah mengantar Baekhyun pulang ke apartemennya, Minseok segera melajukan mobilnya ke apartemen tempat Chanyeol bersembunyi selama ini. Apartemen itu terletak cukup jauh dari pusat kota sehingga Minseok harus menempuh waktu 45 menit untuk sampai ke sana. Padahal Chanyeol sudah bilang akan menjemput Minseok karena perjalanan ke tempatnya cukup melelahkan, tapi Minseok bersikeras pergi ke sana sendiri.

“Oh, kau sudah datang,” kata Chanyeol saat membukakan pintu untuk Minseok.

“Ne, Hyung. Aku membawakan makanan ini untukmu.” Minseok terlihat membawa bungkusan berisi camilan manis yang dibelinya di supermarket dekat apartemen Chanyeol.

“Ayo masuk.”

Mereka berdua masuk. Chanyeol mempersilahkan Minseok untuk duduk di sofa ruang tengahnya.

“Aku akan membuatkan cokelat hangat kesukaanmu. Sore ini sangat dingin, bukan? Kemarikan makananmu, akan kusimpan di dapur.”

“Gomawoyo…”

Minseok memperhatikan sekeliling ruangan itu. Tidak ada yang spesial di sana sepanjang pengelihatan Minseok sampai matanya tertuju pada sebuah bingkai berisi fotonya bersama Baekhyun. Minseok pun beranjak dari sofa dan mendekati foto itu. Di dalam foto itu, keduanya memakai baju kelulusan kas SMA Dongguk, tempat mereka bersekolah dulu, sambil membawa sertifikat kelulusan. Minseok ingat foto ini karena dia yang mengambil foto itu.

 

“Kim Minseok-ssie, bisakah kau mengambil fotoku dengan Chanyeol?”

Baekhyun menyerahkan kamera palaroidnya pada Minseok saat Minseok sedang asyik berfoto dengan Chanyeol. Minseok merasa sangat terganggu, tapi dia mau bagaimana lagi. Baekhyun adalah senior dan teman terdekat Chanyeol, pacarnya, jadi dia tidak bisa menolak atau menunjukan kekesalannya itu.

“Baiklah, Sunbaenim.”

Baekhyun langsung menarik lengan Chanyeol sehingga tak ada celah di antara keduanya. Minseok benar-benar dibuat panas dingin karenanya.

“Satu…dua…tiga!!”

Klik

“Coba kulihat hasilnya,” kata Baekhyun seraya mengambil kameranya. Setelah melihat hasilnya, wajah Baekhyun berseri senang.

“Sekali lagi, ya?”

“Baik…”

Kejadian foto-memfoto itu berlanjut cukup lama. Sebenarnya Minseok sangat kesal, tapi melihat wajah Chanyeol yang sangat senang membuat Minseok mengurungkan diri untuk menyela kegiatan mereka.

“Hasilnya benar-benar bagus. Sangat berbeda dengan foto kalian,” sindir Baekhyun sambil tertawa sinis.

“Apa maksudmu?” tanya Chanyeol yang merasa tersindir.

“Eum…bukan apa-apa. Akan kucetak foto ini dan kuberikan padamu. Sampai jumpa!”

 

Minseok tertawa kecil mengingat kenangan itu. Kalau dipikir-pikir, sangat telihat jika Baekhyun sangat membenci Minseok dulu, tapi sekarang…membiarkan tangan Minseok kedinginanpun Baekhyun tidak mau. Minseok bersyukur masa-masa kelam itu telah dilaluinya.

“Kau sedang apa, Minseokkie?”

“Oh, foto ini…”

“Ah…foto itu. Kau yang mengambilnya, kan?”

“Eum.”

“Ini cokelat panas dan cemilannya.”

Minseok kembali ke tempat duduknya, di samping Chanyeol.

“Terimakasih, Hyung. Cokelatmu adalah yang terbaik!” seru Minseok setelah menyeruput cokelatnya.

“Hahaha…itu kan cokelat instan.”

“Beda tangan beda rasa, Hyung. Buktinya Baekhyun-hyung tidak bisa membuat cokelat seenak buatanmu.”

“Ohya?”

Minseok hanya mengangguk dan meletakan cangkirnya.

“Bagaimana kabar Baekhyun?”

“Baik dan tidak baik.”

“Maksudmu?”

“Baik karena dia baru saja mendapatkan kesempatan untuk bekerja sama dengan BIG Ent.”

“Ohya!?” Chanyeol sedikit terperanjat mendengar nama agensi besar itu. “Dia benar-benar hebat. Lalu tidak baiknya?”

“Kalau kau tidak cepat-cepat kembali, Baekhyun-hyung akan melamar seseorang.”

Chanyeol terdiam mendengar ucapan Minseok. Dia tidak bisa bekomentar apa-apa karena terlalu terkejut.

“Aku berhasil membuatnya mengurungkan niatnya, tapi aku takut itu tidak berlangsung lama…”

“Tidak apa-apa.”

“Mwo?”

“Tidak apa-apa jika Baekhyun ingin melamar seseorang. Ini bukan salahnya. Dia berhak bahagia dengan orang yang lebih baik dariku. Aku juga akan melanjutkan hidupku dengan orang lain saat memastikan semuanya sudah selesai. Aku—“

“Hyung!” Bentakan Minseok membuat Chanyeol terkejut dan tidak bisa melanjutkan kata-katanya.

“Apa kau pikir ada orang yang lebih baik darimu untuk menjaga Hyungku? Apa yang akan dilakukan Baehyun-hyung saat tahu kau masih hidup dan dia malah menikah dengan orang lain? Dia akan merasa bersalah walau dia tidak bersalah sedikitpun! Dan kau tahu siapa yang paling merasa bersalah? Aku. Aku yang tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri jika Baekhyun-hyung menikah tanpa tahu keadaanmu! Hyung, kau juga berhak bahagia dan mendapatkan apa yang kau inginkan setelah pengorbanan ini. Tolong jangan menyiksa dirimu sendiri terus-terusan, Hyung.”

“Aku ingin menebus kesalahanku, Minseokkie, hanya itu.”

“Kau sudah membayarnya selama 1 tahun ini. Kau menjadi orang yang sudah meninggal, kehilangan orang-orang yang kau sayangi. Dan sekarang waktunya kau mendapatkan imbalannya, Hyung.”

“Aku…”

Minseok meremas erat jemari Chanyeol dan menatap dalam ke matanya.

“Melakukan yang terbaik untuk Hyungku bukan berarti kau harus meninggalkannya, kan?”

Chanyeol membalas perkataan Minseok dengan anggukan dan tersenyum lembut. Satu lagi kebahagiaan didapatkan Minseok hari ini. Dia senang Chanyeol setuju untuk tidak meninggalkan Baekhyun. Minseok yakin mereka berdua bisa bersatu lagi.

***

“Aku pulang dulu ya, Hyung.”

“Benar tidak mau kuantar? Ini sudah malam, Minseok.”

“Tidak perlu. Ini kan masih jam 8. Lagipula kau kan tahu warna sabuk karateku.”

“Arra…”

“Hahaha. Sampai jumpa lain waktu, Hyung!”

“Ne. Hati-hati di jalan.”

Minseok pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Lelaki itu memang sudah jarang melakukan perjalanan jauh sendirian karena ada Lay yang menyetir, tapi kemampuan menyetirnya masih sebaik dulu.

Dari apartemen Chanyeol menuju pintu tol tidak jauh, hanya butuh waktu 10 menit, tapi perjalanan yang jauh memang saat memasuki tol itu. Untung saja sudah malam jadi jalanan tidak terlalu ramai sehingga Minseok bisa melajukan mobilnya lebih cepat. Dia harus sampai di rumah sebelum jam 9 malam kalau tidak mau ditanyai macam-macam oleh Eommanya. Terkadang Minseok merasa risih karena di umurnya segini dia masih diomeli Eomma jika pulang malam selain karena urusan pekerjaan. Sebenarnya Minseok memiliki apartemen sendiri di dekat kantornya, tapi dia jarang menempatinya dengan alasan ingin menjaga Eomma dan Kyungsoo. Apartemen itu akhirnya ditempati Luhan dan Yifan saat mereka ke Korea.

“Oh? Apa sedang ada perbaikan jalan?”

Ada sebuah plang berisi perintah agar mobil Minseok melewati jalur lain karena ada perbaikan jalan. Minseok berpikir sejenak baru kemudian memutar setirnya ke jalur alternatif yang disediakan. Minseok sendiri belum pernah melewati jalur itu, tapi mudah-mudahan ada petunjuk jalan di sana. Lagipula jalan tol tidak serumit itu, pikir Minseok.

Minseok terus melajukan mobilnya tanpa sadar ada 2 buah mobil yang sejak tadi mengikutinya. Kedua mobil itu mulai menyejajarkan posisinya dengan mobil Minseok, tapi Minseok tidak curiga sedikitpun, malah dia bersyukur ada pengemudi lain di sana. Jalan itu benar-benar sepi.

Akan tetapi, salah satu mobil yang mengapitnya tiba-tiba saja melaju lebih cepat, membelot ke kiri dan berhenti tepat di depan mobil Minseok. Sontak saja Minseok menghentikan mobilnya.

Kini dia mulai curiga. Jantungnya berdegup kencang dan keringat dingin mulau bercucuran melewati dahinya saking gugupnya. Minseok berusaha tenang dan berniat untuk membelokan mobilnya ke celah jalan yang tidak ditempati mobil, tapi ternyata mobil yang tidak menghadangnya kini juga berhenti. Minseok segera mencari ponselnya di dasbor, tapi sangat sulit mencari barang di situ dalam situasi gelap dan mencekam seperti ini. Ponselnya tidak kunjung ketemu sedangkan beberapa pemuda berbadan besar keluar dari 2 mobil itu. Mereka mendekati mobil Minseok dengan setengah berlari sampai akhirnya salah satu yang memegang tongkat baseball langsung memecahkan kaca mobil Minseok dan membuka paksa pintu mobil itu. Orang yang lain segera menyeret tubuh kecil Minseok keluar dan melemparkannya ke aspal.

Minseok belum melakukan apa-apa karena terlalu bingung dengan kejadian ini. Dia hanya memerhatikan orang-orang yang sedang mengelilinginya, setidaknya ada sekitar 8 orang, dan tidak ada seorangpun yang dia kenal. Sampai akhirnya para pemuda itu membukakan sebuah jalan untuk seseorang, dan Minseok mengenali orang itu dengan baik, sangat baik.

 

———————————————————————-

hayo loh siapa loh …

Advertisements

7 thoughts on “My Answer is You _ XiuHan/LuMin (Bagian 03)

  1. Kirain yg org yg ada digudang bareng minseok itu tao yg mau bles dendam ehh taunya malah chanyeol. Gak nyangka pisan sayaa. Hahahaa..
    Ihh kenapa sih sm lay? Ada sesuatu yg dy sembunyiin yg bahkan yifan aja gatau. Apaan ya kira”. Org yg nyegat minseok di tol mungkin tao kali yaa.. Pasti bakal diapa”in tuh, mungkin aja si mafia itu bner” pgn bkin minseok lupa ingatan kyk yg dy blg di chap sblumnyaa…. Next!! Jangan lama lama..

    • Kamu ganti nama lagi jadi XiuMing ya?? kemarin teh nama kamu Alanzaa *eh* . Nama asli kamu sapa say? biar enak ngobrol di komentarr 😀
      Iya ya Lay kenapa ya, aku juga bingung kenapa dia banyak misterinya. Dikupas satu-satu deh yaa . 😀 😀 .
      yang di tol itu Tao nggak yaaa….Tao nggak yaaa…. seyem ya di tol gitu dihadang orang-orang gede, diseret pula. Itu mau ditampol apa diapain ya *kok malah nakutin*
      Minseok kasian banget deh di setiap ffku nggak pernah bahagia di awal -__- wkwkwkwkk
      Makasih banyak yaa udah baca dan komentarrr. Semoga nggak lama-lama kali inii!! 😀

  2. Ah ternyata Chanyeol, duh udah was-was ini supaya kuat mental/? bacanya xD
    Duh aku bingung mau komentar apa yang pasti ikut seneng sama Umin lah yah atas kembalinya Chanyeol dan selesainya diem-dieman XiuHan^o^/ hohoho
    Duh itu yang terakhir jangan bilang Tao? duh siapin mental takut Umin kenapa-kenapa><

    Lanjut terus eon~ semangat ya eon lanjutnya^^
    Annyeong /lambai tangan bareng XiuHan/

    • Tao bukan yaaa . Hayo tebak, Tao apa… wkwkwkkkk
      tunggu yaaa. nanti malam atau besok aku selesein chap 4 😀
      Makasih banyak udah baca dan komentar sayangg

  3. Ikut dapet perasaan senengnya Umin pliss! Tapi kok jleb ya? baru juga seneng malah di cegat gitu di tengah jalan tol lagi.. Fighting aja deh Buat Umin supaya tetap tegar menjalani cobaan yang di berikan tuhan untuk dia..

    And For Author Unnie Semangat juga ya buat lanjutan ‘Sequel’ nya? apakah akan lebih banyak dari 18 chap? Entahlah Semagat Ya~~ ^^

  4. Kenapa ? Kenapa ?? Kenapa berhenti di tengah jalannnnnaku penasarannnn huaaaaaaaaaa jahatttttttttt kak sufi jahatttttt demi apa , kk cepet lanjutinnnnnn !!!! Udh frustasi dan gatel mau liat chap selanjutnyaaaa astagahhhh 😭

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s