My Answer is You _ XiuHan/LuMin (Bagian 02)

Tittle: My Answer is You (sekuel My Immortal Love is You)

Author: Fie

Genre: romance, family, drama, crime, mystery, boyxboy

Length: Multichapter

Rated: M

Languange: bahasa

Pairing: LuMin/XiuHan

Cast:

– EXO XiuMin as Kim Minseok/XiuMin/Byun Daehyun

– LuHan as Xi Luhan

– SM The Ballad Jino as Cho Jinho

– EXO Baekhyun as Byun Baekhyun

– EXO Tao as Hwang Zitao

– Kim Sohyun as Byun Chaeri

– EXO Lay as Zhang Yixing/Lay

– Kris Wu as Wu Yifan

– EXO D.O as Kim Kyungsoo

– EXO Kai as Lee Jongin

– EXO Chen as Lee Jongdae

– EXO Sehun as Kim Sehun

– RV Seulgi as Park Seulgi

– EXO SuHo as Kim Joonmyun

– SNSD Sunny as Lee Sunny/Lee Soonkyu

– Super Junior Yesung as Kim Jongwoon

– SR15B Johnny as Seo Youngho

– RV Wendy as Son Seungwan

– dan lainnya yang akan terungkap seiring cerita…

 

 

Saat aku harus memilih, maka aku akan memilih bahagia bersamamu.


 

TWO – Stranger

 

HELAAN nafas lelaki itu terdengar semakin berat. Entah karena gugup, atau udara di ruangan itu mulai memanas, peluh keringatnya pun semakin deras. Beberapa kali diusapnya keringat dari dahi lebarnya dengan tangan yang sebenarnya tidak benar-benar mengurangi volume keringat itu.

 

Hwang Zitao sedang berada dalam hidup dan mati.

Setelah gagal membantu Kim Joonmyun untuk menghancurkan keluarga Byun, nyawanya langsung berada di ujung tanduk. Pada hari dimana Kim Joonmyun ditangkap, Zitao juga segera digiring oleh rekan satu kelompoknya. Seperti buronan keji dan menjijikan, tubuh Zitao di ikat di tiang sebuah gudang dengan ikatan tali yang sangat kuat dan menyesakan dadanya. Beberapa orang berbadan besar masuk membawa tongkat baseball super besar dan berdiri berjajar di hadapannya. Tao pasrah dengan apapun yang akan dilakukan para lelaki itu. Pasalnya, dia sudah tahu konsekuensi kegagalannya. Sama seperti Appa Kim Joonmyun, Kim Han, Park Chanyeol, dan orang-orang yang sudah meninggal sebelum mereka.

“Gagal lagi, Tao-ssie?”

Terdengar suara berat dari balik pintu yang membuatnya bergidik ngeri. Sudah lama sekali sejak bekerja dengan Kim Joonmyun dia tidak mendengar suara itu. Seorang lelaki bertubuh tegap dan berwibawa masuk, diikuti para ajudannya, lalu berhenti beberapa cm dari Tao. Dia berjongkok lalu mengangkat wajah Tao yang penuh ketakutan.

“Bukankah aku sudah memberimu kesempatan kedua?”

“T-Tuan Choi, tugas pertamaku dulu tidak gagal, bukan? Aku berhasil menaruh bom itu tanpa ketahuan.”

Tuan Choi menampar wajah Tao sangat kencang hingga darah keluar dari mulutnya.

“Tidak ketahuan? Polisi sudah mengetahui penyebab kecelakaan itu, bodoh.”

“M-mwo?” suara Tao mulai bergetar.

“Tapi kuanggap itu bukan salahmu. Siapapun bisa melakukan itu. Dan kegagalan kedua? Kau tahu apa itu?”

“M-maafkan aku, Tuan, a-aku—“

Tuan Choi menepuk kepala Tao sebelum Tao melanjutkan perkataannya.

“Iya-iya, bukan salahmu sepenuhnya.”

“Nde?”

Tao kaget bukan main. Tuan Choi yang dikenalnya bukan orang selembut ini. Dia tidak pernah berhenti membunuh orang-orang yang menghalanginya, tapi sekarang Tuan Choi malah memaklumi kesalahan Tao?

“Jika bukan karena Kim Minseok dan teman-temannya, misi ini tidak akan gagal, bukan?”

“E-eng…”

“Jika Kim Minseok tidak mengingat apa-apa, maka rencana ini akan berhasil, bukan?”

“N-ne…”

“Kalau begitu sebelum dia mengingat sesuatu yang penting lagi, kita buat lelaki itu tidak bisa mengingat apapun, termasuk orang-orang yang disayanginya.”

***

Hari kamis malam, Luhan membaca lagi jadwal keberangkatannya ke China besok. Dia akan pergi lebih awal dari jadwal premiere yang telah direncanakan karena harus menemui seorang teman lama. Teman yang mungkin akan membantunya melindungi Minseok. Meskipun beberapa hari ini mereka tidak bertemu, tapi Luhan tetap menerima kabar keadaan Minseok dari Kyungsoo dan Lay.

 

“Kalian bertengkar?” tanya Kyungsoo saat Luhan menelponnya di kampus karena Luhan tahu jika sudah di rumah, Kyungsoo dan Minseok tidak terpisahkan.

“Tidak, aku hanya sedang sibuk.”

“Lalu kenapa kau tidak menelponnya langsung?”

“Ada alasan tertentu, tapi aku tidak bisa memberitahumu sekarang, dan tolong rahasiakan panggilan ini dari Minseok.”

“Kalian berdua benar-benar aneh. Beberapa bulan lagi kalian akan menikah, apa tidak bisa kalian akur seperti biasa?”

“Kami tidak bertengkar, Kyungsoo, sungguh.”

 

“Besok, jam 7.30…,” gumam Luhan seraya meletakan tiket pesawatnya ke dalam tasnya. Dia ambil ponselnya lalu mencari sebuah kontak, My Xiumin. Dia ingin sekali menelpon kekasihnya itu, mendengar suaranya yang indah dan menenangkan hati, tapi…keadaan terlalu memaksa. Luhan harus menahan diri demi kebaikan mereka. Setelah berpikir cukup lama, akhirnya dia ganti kontak itu dengan kontak lain, Wu Yifan.

“Ada apa, Lu?”

“Apa kau ada waktu malam ini?”

“Tentu. Kenapa?”

“Apa kau bisa datang ke apartemenku? Aku kesepian…”

“Berhentilah seperti ini, Lu. Kita sudah tahu kalau pengirim paket itu adalah penggemar iseng, bukan? Apa kau sudah memberitahu Tuan Daehyun masalah ini?”

“Aku belum memberitahunya. Lagipula besok aku akan berangkat ke China, jadi—“

“Apa? Kau akan ke China besok? Kenapa tiba-tiba?”

“Aku harus bertemu seorang teman lama.”

“Jangan bilang kau tidak berani menghubungi Tuan Daehyun karena ini.”

“Kau tahu aku paling tidak tega melihat wajah kecewanya kan.”

“Tapi mau sampai kapan kau seperti ini, hah? Tuan Daehyun sering bercerita padaku kalau kau tidak bisa dihubungi sama sekali.”

“Lalu apa yang kau katakan?”

“Aku selalu berkilah kalau sekarang aku juga jarang menghubungimu. Jika dia tahu yang sebenarnya, dia akan benar-benar kecewa bukan hanya padamu, Lu.”

“Aku benar-benar merindukannya, Gege.”

“Kalau begitu temui dia malam ini. Ceritakan kenapa kau menjauhinya.”

“Aku hanya merasa kejadian kemarin bukan sekedar keisengan penggemar. Aku punya firasat buruk tentang ini, Gege.”

“Semakin kau menjauh darinya, kau akan semakin mencemaskannya. Cepat temui dia, Lu, atau mungkin kau akan menyesal nantinya.”

“Tidak. Kami akan bertemu beberapa hari lagi dalam rangkaian tur film di China. Aku akan bersabar sampai hari itu tiba. Tolong jaga Xiuminku, Gege.”

***

Kim Kyungsoo kembali memperhatikan kakaknya seksama, seperti sedang menerka apa yang sedang terjadi padanya. Hari ini hari sabtu, dan sesuai janji mereka beberapa hari yang lalu, mereka pergi ke tempat yang akan ditunjukan Kyungsoo pada Minseok.

“Belok kemana lagi?” tanya Minseok saat menemui pertigaan.

“Kanan, Hyung,” jawab Kyungsoo dengan nada ragu, lebih tepatnya takut, karena nada suara Minseok benar-benar tidak biasa.

“Hyung.”

“Eoh?”

“Kau baik-baik saja?”

“Kau mau aku berbohong atau jujur?”

“Tentu saja jujur.”

“Aku tidak sedang baik-baik saja.”

“Kenapa?”

“Bukan masalah yang besar.”

“Iya, tapi kenapa?”

“Aku tidak bertemu dengan Lu-ge beberapa hari ini.”

“Ah, aku baru ingat kalau akhir-akhir ini kau pulang dengan Lay-hyung. Apa kalian bertengkar?”

“Tidak.”

“Lalu?”

Minseok hanya menghela nafas lelah dan menatap lurus ke depan. Saat ini dia sedang frustasi karena mencemaskan keadaan Luhan. Sudah berulang kali Minseok menghubungi Luhan, tapi lelaki itu sama sekali tidak merespon. Ini artinya Luhan memang sedang menjauhinya. Tapi karena apa?

“Sh*t!”

Minseok membanting setirnya ketika melihat seseorang tiba-tiba lewat di depan mobilnya. Untung saja mereka tidak menabrak dinding perumahan di sekitarnya. Setelah menenangkan diri beberapa detik, Minseok langsung keluar dari mobilnya untuk memastikan orang yang hampir ditabraknya itu baik-baik saja.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Minseok pada lelaki yang sepertinya sebaya dengannya.

“Maafkan aku. Aku sedang mengejar seseorang, jadi tidak melihat sekeliling. Uh…orang itu sudah pergi jauh…,” kata lelaki itu sambil memicingkan matanya ke arah orang yang ‘dikejarnya’ lari.

“Aku tidak melihat orang lain sebelum kau,” kata Minseok agak tidak percaya, maklum, akhir-akhir ini dia menjadi lebih waspada sejak pengiriman foto teror itu.

“Makanya kubilang dia sudah pergi jauh. Maaf ya mengagetkanmu,” katanya seraya menggaruk kepala, “oh, tunggu dulu, sepertinya aku mengenalmu.”

“Aku harus pergi sekarang.”

“Tunggu dulu, aku sedang mencoba mengingat!” seru lelaki itu seraya menyengkram tangan Minseok. Minseok mencoba melepaskan cengkraman itu, tapi lelaki itu lebih kuat darinya. Kyungsoo yang melihatnya langsung keluar dari mobil dan memelototi lelaki itu.

“Hya! Lepaskan tangan kakakku!” omel Kyungsoo.

“Sebentar-sebentar, aku sedang mengingat dimana aku melihatmu.”

Kyungsoo yang agak tidak sabar langsung memukul tangan lelaki itu sehingga cengkraman itu langsung lepas.

“Kami akan memanggil polisi kalau kau tidak pergi sekarang!” ancam Kyungsoo seraya berusaha melindungi Minseok di belakangnya.

“Tidak perlu memanggil polisi karena aku sendiri polisi.”

“Mwo?”

Lelaki itu mengambil lisensi polisinya dari jas lalu menunjukannya pada Kyungsoo.

“Cho Jinho? Aku belum pernah mendengar nama itu,” kata Minseok.

“Iya, kita memang belum pernah bertemu sebelumnya, tapi aku mengenal saudara iparmu. Kau itu penulis terkenal, tapi kenapa susah sekali mengingat wajahmu, ya.”

“Maksudmu, Lee Jongin dan Lee Jongdae? Kau mengenal mereka?”

“Iya. Aku baru pindah ke Seoul beberapa minggu yang lalu. Sekali lagi maafkan aku karena membuat kalian marah. Aku benar-benar sedang mengejar orang. Dia mencuri donat kami.”

“Jadi kantormu ada di dekat sini? Kyungsoo-a, kau tidak berniat mengajakku ke kantor polisi, kan?”

“Uhm…sudah tertebak.”

“Hya! Moodku sedang jelek begini tapi kau mengajakku ke kantor polisi?”

“Makanya ayo kita kunjungi Jongin-hyung dan Jongdae-hyung untuk memperbaiki moodmu.”

“Bilang saja kau mau bertemu pacarmu si Jongin itu!”

“Itu bonusnya. Kikiki,” ucap Kyungsoo sedikit terkekeh, “lagipula sejak kemarin kau bilang ingin ke tempat mereka bekerja karena penasaran, kan? Ayolah jangan marah-marah…”

“Jadi kalian ingin berkunjung ke kantor kecil kami? Sebaiknya tidak usah. Di sana sedang kacau gara-gara donat kami dicuri. Kecuali kalau…kalian membawa makanan manis, hehehe.”

“Kami membawa kue beras dan beberapa manisan, tenang saja,” kata Kyungsoo yang langsung dijitak Minseok.

“Aku hanya mengantarmu, setelah itu aku akan langsung ke makam Channie-hyung. Kau pulang saja dengan Jongin.”

“Yah…jangan begitu dong, Hyung. Kan sudah kubilang Jongin dan Jongdae-hyung bisa memperbaiki moodmu.”

“Dengan apa? Dengan menakut-nakutiku dengan kasus pembunuhan?”

Kyungsoo berusaha menahan tawanya karena ekspresi Minseok saat marah bukan menakutkan, tapi menggelikan.

“Ayolah, Hyung, kita sudah sampai sini,” kata Kyungsoo sambil menarik manja lengan Minseok. Cho Jinho yang daritadi memperhatikan kakak-beradik itupun hanya bisa tersenyum geli.

“Hanya sebentar.”

“Yes! Cho Jinho-ssie, ayo ikut mobil kami.”

“Oke! Dengan senang hati!”

***

Sekali lagi Byun Baekhyun merapikan dasinya untuk sekedar mengalihkan kegugupannya pada pertemuan yang sangat penting. Saking pentingnya sampai dia rela datang di hari sabtu seperti ini. Dia akan bertemu dengan direktur utama dari perusahaan hiburan terbesar di Asia, BIG Entertainment. Kalau dibandingkan dengan Byunkor Entertainment, manajemennya, masih kalah jauh dari BIG Ent. Maka dari itu, dia harus mendapatkan kesepakatan kerja sama ini. Baekhyun sendiri sangat terkejut saat mendapat panggilan dari pihak BIG Ent. beberapa hari yang lalu tentang pertemuan penting ini. Dia memang sudah mengincar hubungan kerja sama dengan perusahaan itu sejak pertama menjadi CEO Byunkor media. Jadi sejak kemarin dia berkata pada dirinya sendiri untuk tidak membuat kesalahan pada pertemuan ini.

Beberapa saat kemudian, 3 orang lelaki tinggi datang. Salah satu diantaranya berdiri di tengah dengan penampilan yang sangat kontras dengan 2 lelaki yang mengapitnya. Lelaki itu memakai setelan jas abu-abu dengan dasi senada. Diperkirakan umur lelaki itu telah berusia 40an, dilihat dari keriput di pelipis matanya yang masih tersamar.

Baekhyun langsung berdiri saat melihat lelaki itu, Lee Kangin, direktur utama BIG Ent. yang kabarnya adalah pekerja keras yang berwatak keras.

“Selamat pagi, Direktur Lee.”

“Selamat pagi, CEO Byun. Apa kau sudah lama menunggu?”

“Tidak, saya baru datang sekitar 10 menit yang lalu.”

“Itu waktu yang lama untuk menunggu, CEO Byun. Apakah kau tidak keberatan jika aku membayar sarapanmu pagi ini untuk menebus waktu menunggumu?”

“Oh, tidak perlu, Direktur Lee.”

“Tidak-tidak. Sekarang aku memaksa. Hahaha, maklum, aku tidak suka berhutang pada orang lain sekalipun itu waktu.”

Baekhyun terdiam sejenak sambil berpikir apakah dia harus menolak atau menerima tawaran Lee Kangin, dan pada akhirnya dia menerimanya.

“Terimakasih banyak, Direktur Lee.”

“Ngomong-ngomong, Kim Minseok itu adik kandungmu, kan?”

“Oh, Anda benar, Direktur.”

“Salah satu penulis naskah film di agensiku ingin bekerja sama dengannya.”

“Benarkah? Itu adalah suatu kehormatan. Kalau boleh tahu, siapa dia?”

“Lee Jonghyun.”

Mata Byun Baekhyun langsung terbelalak saat mendengar nama itu. Bagaimana tidak? Lee Jonghyun adalah salah satu dari 3 penulis naskah film terbaik di Korea, sekaligus penulis terbaik di agensinya. Sungguh suatu keuntungan besar jika adiknya bekerja sama dengannya.

“Aku dengar Kim Minseok sedang mengerjakan proyek novel lain. Bisakah kau merekomendasikan Lee Jonghyun sebagai mitranya?”

“T-tentu, Direktur Lee, dengan senang hati!”

“Oh, yaampun…aku benar-benar merepotkanmu pagi ini. Sebagai gantinya, aku akan mengundangmu dan adikmu makan malam saat kalian ada waktu luang. Bagaimana?”

“Tentu, Direktur Lee.”

“Baiklah, sudah cukup basa basinya. Bagaimana dengan kontrak kerjasama kita? Aku akan langsung menandatanganinya dengan senang hati.”

Dengan sedikit kikuk, Byun Baekhyun mengeluarkan berkas berisi kontrak kerjasama agensinya dengan agensi Lee Kangin. Dan seperti yang Lee Kangin bilang barusan, dia langsung menandatangani kontrak itu setelah membaca sekilas isi kontraknya.

“Senang bertemu dengan Anda, CEO Byun. Aku harus pergi sekarang. Aku juga titip salam pada adikmu, ya.”

“Terimakasih banyak, Direktur Lee.”

***

Mobil Minseok menepi di dekat kantor polisi tempat saudara iparnya bekerja. Melihat mobil Minseok, Jongin segera keluar dari kantor dan mencari orang yang sangat dirindukannya.

“Kyungsoo-ya! Kau jadi ke sini ternyata.”

“Jadi kalian sudah merencanakan ini, hah?” kata Minseok dengan nada agak tinggi.

“Kata Kyungsoo, moodmu sedang buruk, Hyung? Ayo kita ke restoran ramen dekat sini, di sana ramennya enak-enak sekali. Mudah-mudahan moodmu bisa kembali bagus.”

“Apa aku boleh ikut?” tanya Jinho.

“Tentu saja boleh. Jongdae-hyung, mereka sudah datang, ayo!”

“Iya, sebentar…,” kata Jongdae yang masih memeriksa beberapa berkas kasusnya.

“Untung kalian datang saat jam istirahat,” ucap Jongin.

“Rencana kita hampir ketahuan, Jongin-hyung, ha ha ha~”

“Seharusnya kita terus terang saja.”

“Sudah kubilang mood Minseok-hyung sedang jelek, bisa-bisa dia tidak mau.”

“Hya! kalian membicarakanku di depanku! Dasar tidak sopan.”

“Lihat, kan? Dia menakutkan kalau sedang kesal.”

***

Kim Minseok menepikan mobilnya di dekat sebuah restoran mie sederhana yang tidak jauh dari kantor polisi tempat iparnya bekerja. Mereka semua turun lalu Minseok menyalakan alarm mobilnya. Setelah itu, kelima namja itu memasuki restoran itu dan memilih tempat duduk yang dekat dengan jendela. Sementara 3 lainnya ke tempat duduk, Cho Jinho dan Lee Jongin pergi ke tempat pemesanan.

“2 mie ramen ukuran sedang, 3 ukuran jumbo. Yang ukuran jumbo salah satu tolong dibuat sangat pedas, ya.”

“Terimakasih, meja nomor berapa?”

“5.”

“Silahkan menunggu.”

Keduanya kembali ke tempat duduk dan berkata kalau pesanan akan siap dalam 15 menit. Kyungsoo yang daritadi penasaran dengan Jinho langsung membuka pembicaraan.

“Ohiya, aku baru melihat Cho Jinho hari ini. Jongin-hyung juga tidak pernah menceritakannya padaku.”

“Aku baru pindah ke sini sekitar 3 minggu yang lalu, jadi wajar karena kalian juga baru ke kantor hari ini.”

“Memangnya Jinho-hyung pindahan darimana?”

“Dari Busan.”

“Busan? Sama dengan…”

Kyungsoo tidak meneruskan ucapannya karena akan mengingatkan Minseok soal Chanyeol. Dia langsung memutar otak untuk mengalihkan pembicaraan.

“Kenapa Hyung pindah??”

“Eommaku baru sembuh, jadi aku ke sini untuk tinggal bersamanya.”

“Ah…begitu…”

“Ngomong-ngomong, aku ingin bertanya pada Kim Minseok-ssie.”

“I-iya?” kata Minseok yang baru sadar karena terlalu fokus pada keadaan luar.

“Apa kau berencana mengeluarkan novel baru? Aku adalah penggemarmu…”

“Ah…iya, aku sedang mengerjakannya.”

“Benarkah? Kira-kira kapan selesai?”

“Aku belum bisa memastikannya. Lagipula beberapa minggu ke depan aku akan sibuk melakukan promosi film di China dan Korea.”

“Ah…benar juga. Adik perempuanku juga bermimpi menjadi penulis karena dia suka membaca buku dongeng dulu.” Jinho kaget kenapa dia bisa menceritakan adiknya pada Minseok. Apa karena Minseok mengingatkannya pada adiknya?

“Ohya? Apakah dia mencoba mengirimkan hasil tulisannya ke redaksi?”

“Tidak…aku tidak yakin.”

“Kalau kau berkenan, aku bisa membaca tulisan adikmu.”

“Tidak-tidak, aku takut merepotkanmu.”

“Tentu saja tidak. Aku senang membaca tulisan anak muda. Oiya, berapa umurnya?”

“Kalau dia masih hidup, umurnya 24 tahun ini.”

“Kalau dia masih hidup? Oh, maksudmu…”

“Ha ha ha…maafkan aku karena merusak suasana. Aku juga tidak mengerti kenapa tiba-tiba saja bercerita tentang adikku. Tulisannya memang sudah hilang entah kemana, tapi saat bertemu denganmu aku jadi ingat tulisan itu.”

“Kalau kau tidak keberatan, inti ceritanya seperti apa?”

“Dia membuatnya saat berumur 12 tahun, tentang seorang putri yang bertemu dengan pangerannya di pantai dan akhirnya menikah di sana. Ha ha ha…tulisan anak kecil…”

“Sepertinya cerita yang manis. Aku tidak pernah berpikir untuk membuat tokoh wanita dan pria bertemu di pantai, tapi…sepertinya aku pernah membaca satu.”

“Ohya?”

“Iya. Jika kau mau, aku akan membawakan bukunya.”

“Benarkah?”

“Tentu.”

Kyungsoo bisa bernapas lega sekarang karena sepertinya suasana hati Minseok sudah membaik karena obrolan ini. Dia jadi teringat Luhan. Hari ini dia belum direcoki oleh namja itu. Kyungsoo memutuskan untuk menghubungi Luhan nanti.

***

Luhan membalikan halaman demi halaman majalah yang dibacanya dengan perasaan galau. Dia benar-benar tidak tenang jika belum menghubungi Kim Minseok, tapi lagi-lagi, jika dia mengingat kejadian tempo lalu, dia akan mengurungkan niatnya dan pada akhirnya menghubungi Yifan sebagai perantaranya dengan Minseok. Akan tetapi, siang ini Yifan tidak bisa dihubungi bahkan smspun tidak dibalas. Luhan penasaran apa yang dilakukan Yifan di hari sabtu seperti ini. Jika dia menghubungi Kyungsoo, ada kemungkinan Minseok sedang bersamanya. Dia terus berpikir siapa yang kira-kira bisa dihubunginya.

“Baekhyun?” gumamnya, “apa aku harus menghubungi Byun Baekhyun?” Luhan sedikit ragu karena bagaimanapun hubungan mereka tidak terlalu dekat walaupun keadaannya semakin baik akhir-akhir ini. Dia takut Baekhyun akan menanyainya macam-macam soal kenapa Luhan tidak menghubungi Minseok langsung. Tapi apa boleh buat, daripada menghubungi orang-orang yang kemungkinan besar bersama Minseok di rumah, sebaiknya dia menghubungi Baekhyun.

Diambilnya ponsel sentuhnya di kasur lalu mencari nama itu ‘Byun Baekhyun’ dan menekannya. Terdengar suara dering menunggu cukup lama, membuat Luhan menjadi ragu untuk menunggu sampai panggilan itu terputus.

 

Pip

 

“Yeoboseo?”

“Oh, Baekhyun-ssie, ini aku Luhan.”

“Iya, aku tahu. Ada apa?”

“Apa kau bertemu Xiumin hari ini?”

“Nanti malam aku akan mengajaknya makan malam, mumpung kau pulang ke China.”

“Eung…”

“Apa kau tidak menghubunginya? Kenapa kau bertanya padaku?”

“Tidak apa-apa. Apa kau tahu dia sedang kemana pagi ini?”

“Seingatku dia pergi dengan Kyungsoo ke kantor polisi.”

“Kantor polisi?!” teriak Luhan.

“Hya, tidak perlu cemas. Dia sedang mengunjungi Lee Jongin dan Lee Jongdae.”

“Ah…begitu…”

“Kalian sedang marahan?”

“Tidak. Aku hanya sedang sibuk, jadi tidak sempat menghubunginya.”

“Tapi kenapa kau menghubungiku?”

“Tidak apa-apa. Aku harus menutup telponnya, terimakasih soal infonya.”

“Hei-hei, sebentar!”

“Ada apa?”

“Aku ingin meminta saranmu.”

“Saran apa?”

“Jika aku menawari Minseok untuk bermain film lagi, apa dia akan menerimanya?”

“Film seperti apa?”

“Mungkin film romantis seperti kemarin.”

“JANGAN!!”

“Hya! Sudah kubilang jangan berteriak!”

“Sudahlah…dia jadi penulis saja sudah cukup kok. Untuk apa kau menawarinya lagi…,” kata Luhan sedikit sinis karena membayangkan Minseok akan berpasangan dengan orang lain sangat membuatnya marah.

“Ya…aku juga berpikir begitu sih, tapi aku akan mencoba bertanya padanya nanti.”

“Hya, Byun Baekhyun, kau benar-benar tidak mengerti perasaanku.”

“Hahahaha, dasar tidak professional. Yasudah, kututup teleponnya sekarang.”

“Eum. Annyeong…”

 

Pip

 

“Sialan, Byun Baekhyun,” gerutu Luhan seraya melempar ponselnya, “dia malah menambah pikiranku.”

Luhan melirik ponselnya, merasa tidak puas dengan informasi dari Baekhyun, tapi dia tidak bisa menghubungi Kyungsoo karena tadi kata Baekhyun, Minseok sedang pergi dengan Kyungsoo.

 

Drrt…drrt…

 

Getar ponselnya langsung mengagetkan Luhan sehingga dia terlonjak sedikit. Dahinya berkerut saat membaca nama si pemanggil.

 

‘My Xiumin’

 

Rasa rindu luar biasa langsung memenuhi hatinya. Dia ingin sekali mengangkat telepon itu, tapi…

 

Drrt…drrt…

 

Ponsel itu terus bergetar, membuatnya tidak bisa memertahankan pendiriannya. Cepat-cepat dijawab panggilan itu sebelum deringnya berakhir.

“H-halo?”

“Luhan-hyung, ini aku!”

“Kyungsoo?”

“Aku diam-diam menghubungimu dengan ponsel Minseok-hyung untuk mengerjaimu.”

“Kurang ajar…tutup telponnya!”

“Hei…kukira kau tidak akan mengangkat panggilan Hyungku. Kalau kau melakukannya, awas saja.”

“Xiumin dimana?”

“Dia sedang berbicara dengan Chanyeol-hyung.”

“Mwo? Chanyeol?”

“Maksudku, sekarang dia sedang mengunjungi makam Chanyeol-hyung.”

“Ah…apa dia merindukan Chanyeol?”

“Sudah pasti. Dia kan pacarnya dulu.”

“Jangan memancing emosiku, sialan.”

“Aku menelponmu karena sepertinya kau ingin mengetahui keadaan Hyungku tapi takut menghubungiku. Iya, kan?”

“Ya…kurang lebih begitu.”

Akhir-akhir ini Minseok-hyung sering melamun.”

“O-ohya?”

“Iya. Aku khawatir kalau dia tidak memerhatikan jalan. Hari ini dia pergi bersamaku, jadi aku masih bisa membuatnya sadar 100%, tidak tahu besok-besok.”

“Apakah Lay selalu bersamanya?”

“Ah…benar juga. Lay-hyung selalu bersamanya kok.”

“Tolong katakan pada Lay untuk terus bersamanya,” kata Luhan cemas.

“Oke-oke. Kapan kalian berbaikan?”

“Kami tidak marahan kok.”

“Minseok-hyung juga bilang begitu, tapi kau tahu dia orang yang tidak bisa berbohong kan?”

“Percayalah pada Minseok, jangan berpikir macam-macam.”

“Oh, Minseok-hyung sudah selesai. Akan kututup teleponnya.”

“Tolong jaga Minseok ya.”

“Tentu…annyeong.”

 

Pip

 

Minseok sering melamun? Benar. Minseok selalu melamun jika ada masalah dan itulah yang dia takutkan. Luhan, kau benar-benar bodoh karena melupakan kebiasaan Minseok yang satu itu. Jika terjadi sesuatu pada Minseok, Luhan tidak akan memaafkan dirinya sendiri. Dan sekarang, dia hanya berharap semuanya akan baik-baik saja sampai Minseok tiba di Beijing.

***

Setelah makan ramen, Minseok dan Kyungsoo mengantarkan 3 polisi tampan itu ke kantornya lagi. Kemudian sesuai rencana awal, mereka pergi ke makam Park Chanyeol karena Minseok benar-benar merindukan namja itu.

Saat mereka tiba di rumah kremasi, Minseok menyuruh Kyungsoo untuk tidak ikut ke dalam karena ada yang ingin dia bicarakan dengan Chanyeol, berdua saja.

“Aku akan memegang barang-barangmu,” kata Kyungsoo seraya menyodorkan tangannya lalu Minseok menyerahkan ponsel dan kunci mobilnya itu.

Sambil memegang bunga, Kim Minseok berjalan masuk dan berhenti tepat di hadapan tempat abu kremasi Chanyeol. Dibukanya laci kaca itu lalu meletakan bunganya di samping foto Chanyeol. Melihat senyum di foto Chanyeol, membuat Minseok kembali membuka kenangan manis mereka.

“Hyung…”

Lirihan itu keluar bersamaan dengan mata Minseok yang mulai berkaca-kaca.

“Maafkan aku karena baru ke sini. Ada banyak hal yang harus kulakukan akhir-akhir ini. Tapi Baekhyun-hyung mengunjungimu, kan? Aku yakin dia ke sini setiap minggu. Bagaimana di sana? Apakah kau tenang? Apakah kau bahagia? Oh…aku benar-benar penasaran, Hyung. Aku mendapat mimpi buruk tentangmu, Hyung. Aku bermimpi ada orang yang menembakmu dari belakang, di depan mataku, dan kau langsung meninggal. Mimpi macam apa itu, Hyung? Jika kau ingin menemuiku dalam mimpi, kenapa kau harus muncul dalam keadaan seperti itu? Apa kau membenciku? Maafkan aku karena berbuat buruk padamu selama kau masih hidup. Jika aku tahu lebih cepat kalau kau hanya di suruh, aku akan…mungkin…aku akan kembali mencintaimu. Akan tetapi, bagaimana dengan Luhan dan Baekhyun-hyung jika aku mencintaimu lagi? Bukankah itu akan semakin buruk? Tidak. Itu lebih baik daripada kau memutuskan bunuh diri. Aku sudah melihat cukup banyak kematian, dan aku tidak berharap kalau kau salah satunya. Tapi apa boleh buat. Semua sudah terjadi, bukan? Ini takdir dari Tuhan, bukan?

“Aku ingat kau pernah berkata padaku kalau kau memercayai takdir. Aku juga percaya, tapi ada 1 takdir yang belum bisa kuterima sampai sekarang. Kau pergi. Itulah takdir yang belum bisa kuterima. Aku egois, bukan? Aku benar-benar egois. Apa mungkin itu yang membuatmu pergi dulu? Aku terlalu memikirkan diriku sendiri sehingga aku tidak memedulikan alasanmu meninggalkanku. Atau mungkin…Tuhan memang tidak mau kita bersama? Bahkan berteman?

“Kalau sekarang kau ada di sini, mungkin kau akan memarahiku karena terus-terusan menyalahkan Tuhan, dan sekarang aku mulai merasa bersalah padaNya. Aku hanya ingin Tuhan tahu, tolong jangan ambil orang-orang yang kusayangi lagi. Jika Tuhan ingin memisahkan kami, bisakah Tuhan menundanya dulu? Aku tidak ingin mereka pergi sepertimu. Oh, yaampun…kapan aku bisa dewasa, Hyung? Jika aku terus seperti ini, mungkin aku akan kehilangan lebih banyak lagi. Benar kan, Hyung? Aku harus kuat walaupun sekarang Lu-ge sedang marah padaku.

“Oh, apa kau tahu kalau Lu-ge sedang marah padaku? Iya. Dia marah tanpa alasan. Sikapnya sangat dingin sejak…aku menerima foto aneh yang dikirim padaku sekitar seminggu yang lalu. Apa menurutmu dia tahu tentang foto-foto itu? aku berharap dia tidak tahu, tapi jikapun tahu…kenapa dia tidak mengatakannya padaku? Aku bingung apa yang sedang dia pikirkan. Aku merindukannya, Hyung, dan maaf, lebih dari aku merindukanmu. Ha ha ha…kau tidak marah, kan?

“Ah, aku harus pulang sekarang untuk bersiap-siap karena malam ini aku akan makan malam dengan Baekhyun-hyung. Apa kau mau kutitipkan salam padanya? Baiklah…akan kubilang kalau kau semakin mencintainya. Ha ha ha. Bagus kan ideku? Lega sekali rasanya mengobrol denganmu. Sekarang aku akan pulang. Jaga dirimu baik-baik, Hyung.”

***

Cho Jinho terus tersenyum setelah pulang dari restoran ramen. Lee Jongin yang menyadari itu langsung mendekati Jinho dan memiringkan kepalanya untuk memastikan sikap aneh Jinho.

“Kau kenapa, Hyung?”

“Eh! Aigo…kau benar-benar mengagetkanku, Jongin-a…”

“Kenapa kau terus tersenyum?”

“Tidak apa-apa.”

Jinho pura-pura mengambil berkas kasus lalu pergi ke mejanya. Dia agak panik karena Jongin menyadari sikapnya yang aneh akibat terlalu senang bertemu dengan Kim Minseok. Iya. Dia sangat senang bisa mengobrol dengan penulis kesukaannya. Salah satu hal yang sangat diimpikannya akhirnya terwujud. Bahkan Minseok akan meminjaminya buku rekomendasinya, itu benar-benar hal yang menakjubkan, bukan? Jinho tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini, dia akan mencoba berteman lebih dekat dengan Minseok.

“Jongdae-ssie, apa aku boleh melihat berkas kasus keluarga Byun tahun lalu?” tanya Jinho pada Jongdae yang melewati mejanya.

“Untuk apa?”

“Daripada tidak ada kerjaan, sebaiknya aku membaca kasus menarik itu.”

“Eung…berkasnya ada di lemari kedua di ruang penyimpanan. Tolong jangan mengobrak-abrik sisanya.”

“Oke…”

Jinho bergegas menuju ruang penyimpanan untuk mengambilnya. Sebenarnya Kim Minseok bukan satu-satunya alasan dia ingin membaca kasus itu, melainkan mengikuti jejak kelompok mafia yang sudah menjadi buronan Korea Selatan sejak bertahun-tahun yang lalu. Jinho ingat saat pertama kali dia menjadi polisi, 5 tahun yang lalu, lebih tepatnya saat kasus mafia itu sedang marak-maraknya. Dia tidak bisa menanganinya secara khusus karena dia baru masuk, tapi Jinho masih bisa mencuri dengar perkembangan kelompok itu.

Senjata dan motif kelompok itu memiliki pola yang sama, tapi kasus keluarga Byun memiliki keunikan tersendiri. Hanya pada kasus itu kelompok mafia tersebut hampir terungkap keberadaannya. Iya, hampir saja karena jejak yang ditinggalkan Kim Han dan Park Chanyeol sudah menunjukan sepertiga dari identitas mereka. Sayangnya Kim Joonmyun tidak bisa memberi penjelasan lengkap mengenai mereka, jadi penyelidikan terputus di tengah jalan.

“Kim Han, surat perjanjiannya berisi tentang persetujuan keanggotaan dan konsekuensinya meninggalkan kelompok itu. Tidak ada tanda tangan di sana, hanya cap, tapi polisi sudah tahu darimana cap itu berasal. Setelah diselidiki lebih lanjut, pusat dari cap itu semuanya berasal dari Cheomdamdong sehingga polisi dapat mempersempit pencarian di sana. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan kalau kelompok itu sudah pindah markas. Aku yakin sekarang markas mereka sudah diperluas untuk menyulitkan kepolisian…”

Cho Jinho menutup berkas itu dan mengembalikannya ke laci. Kemudian namja bermata sipit itu keluar dari ruang penyimpanan sambil berpikir keras.

“Jika pola pembunuhan kelompok itu selalu sama, itu artinya…”

***

Sore ini, sebelum Baekhyun menjemput Minseok dirumahnya, Minseok pergi ke gudang untuk mencari dokumen-dokumen lawasnya yang berisi draft naskah yang dulu tidak jadi dia publikasikan karena ceritanya saling bertumpuk dan dia tidak bisa memakai mereka semua dalam 1 novel. Tujuannya mencari dokumen itu sebagai referensinya untuk novel barunya ini. Mungkin saja ada beberapa isi yang cocok. File yang ada di laptop Minseok telah terhapus, tapi untungnya dia tidak membuang hasil print-annya. Minseok memang memiliki kebiasaan yang tidak biasa, yaitu mencetak draft naskahnya walaupun tidak terpakai. Ternyata ada untungnya juga kebiasaan itu, pikir Minseok.

 

Srak srak

 

Suara kertas-kertas lain saat Minseok menyingkirkannya.

“Dimana kalian wahai ide-ideku…,” gumam Minseok.

 

Buk

 

Minseok memalingkan wajahnya pada buku yang tidak sengaja jatuh. Ini pertamakalinya dia melihat buku itu. Dengan wajah keheranan, Minseok mengambil buku itu dan membuka covernya.

“Kumpulan surat kabar?”

Dahinya berkerut saat membaca beberapa halamannya karena isi berita itu semuanya memiliki inti yang sama.

“Siapa yang mengumpulkan ini?”

Seakan terlupa pada draftnya, Minseok keluar dari gudang masih dengan memandang buku itu. Dia takjub pada ketertarikan orang ini pada kasus-kasus itu.

“Dia benar-benar terobsesi…”

Saking seriusnya, dia tidak sadar kalau sudah sampai di dalam rumah sehingga tidak sengaja menabrak Lay yang sedang berjalan tanpa melihat ke depan juga.

Kamcagiya!” teriak Minseok.

“Hei! Jalan lihat-lihat dong!” omel Lay.

“Kau sendiri? Huft…”

Lay menangkap buku usang yang sedang dijinjing Minseok dan dahinya juga berkerut heran seperti Minseok tadi.

“Apa yang kau bawa?”

“Molla, aku juga penasaran.”

“Album foto ya?”

“Kukira juga begitu, tapi…”

Minseok membuka kembali buku itu dan menunjukan judul dari beberapa halaman album itu.

“Darimana kau dapatkan itu?”

“Dari gudang. Aku tidak tahu ini punya siapa.”

“Mungkin punya Appamu?”

“Mungkin. Ah, bisa kau simpan ini sampai aku pulang makan malam? Baekhyun-hyung akan marah jika aku telat.”

“Okey…”

Setelah menyerahkan buku yang terlihat seperti album itu pada Lay, Minseok bergegas ke kamarnya untuk bersiap-siap. Sepeninggal Minseok, Lay kembali membuka album itu dan membaca detail berita pada halaman pertama.

“Ini familiar, tapi dimana aku melihatnya?”

Saat Lay membaca 1 nama dari sekian banyak kata dalam berita itu, matanya langsung terbelalak karena terkejut. Cepat-cepat dia tutup album itu dan membawanya ke kamar.

“B-bagaimana bisa berita itu ada di sini?”

***

Byun Baekhyun dan adiknya tiba di restoran seafood kesukaan Baekhyun sekitar jam 6.30 malam. Sebelumnya Baekhyun telah memesan tempat pribadi untuk mereka berdua supaya lebih leluasa mengobrol. Setelah menyebutkan pesanan mereka dan pelayan pergi, Baekhyun mengambil sebuah bingkisan dan menyodorkannya pada Minseok.

“Apa ini, Hyung?”

“Buka saja.”

Dengan rasa penasaran yang besar, Minseok membuka bingkisan itu.

“Syal?”

“Apa kau menyukainya? Aku rasa dulu aku pernah berjanji padamu untuk membuatkan syal untukmu.”

“Ohya?”

“Kau tidak ingat?”

“Eung…itu sudah lama sekali…”

“Tidak apa-apa, yang penting sekarang aku sudah menepati janjiku.”

“Kau membuatnya sendiri?”

“I…ya.”

“Apa kau punya waktu untuk membuat ini? Ha ha ha…maksudku, kau sudah cukup sibuk dengan pekerjaanmu, Hyung, seharusnya kau tidak perlu repot-repot.”

“Ey…jangan merasa segan padaku. Aku ini kan kakakmu.”

“Oke-oke, kalau begitu bisakah aku meminta yang lain?”

“Hei-hei, tidak begitu juga.”

“Ha ha ha. Aku serius, Hyung.”

“Oke, apa lagi?”

“Apa kau bisa menanyakan pada Luhan kenapa dia menghindariku akhir-akhir ini?”

Mendengar Minseok menanyakan itu, Baekhyun hampir saja tersedak mengingat obrolannya tadi siang dengan Luhan.

“M-mwo?”

“Kau jangan marah padanya, aku mohon. Aku tidak tahu apakah dia marah atau tidak, tapi sepertinya dia sedang menyembunyikan sesuatu.”

“Apa kau membuatnya marah?”

“Tidak. Kurasa tidak.”

“Aku juga merasa dia tidak marah padamu.”

“Apa Lu-ge menghubungimu?”

“A-apa maksudmu?”

“Aku hanya menebak, kenapa kau segugup itu?”

“Tidak…aku tidak gugup sama sekali.”

“Aku ingin menghubunginya, tapi ragu…”

“Kenapa ragu?”

“Aku takut dia memang sedang tidak ingin diganggu. Bisa-bisa dia lebih marah jika aku menghubunginya.”

“Memangnya kalian tidak saling rindu?”

“Rindu sih sudah pasti, Hyung.”

“Hubungilah dia duluan. Jikapun Luhan sibuk, setidaknya kau telah mencoba, bukan?”

“Eum…akan kupikirkan nanti.”

“Oiya, apa kau tahu jika Byunkor Media akan bergabung dengan BIG ent.?”

“Nde? BIG Ent? Manajemen terbesar di Negri ini?”

“Iya!”

“Chukae! Seharusnya kau memberitahuku supaya membawa hadiah atas kerjasama ini!”

“Ha ha ha. Tidak perlu. Anggap saja sudah cukup dengan menemaniku makan malam hari ini. Lalu ada kabar baik lagi. Kau kenal dengan Presdir Lee?”

“Iya.”

“Dia menawarimu pekerjaan untuk membuat naskah film bersama dengan Lee Jonghyun!”

“Jeongmal!!?”

“Ne! Kau harus cepat menyelesaikan novelmu sehingga dia bisa mereviewnya.”

“Novelku? Aish…sudah kubilang aku ini penulis novel, bukan penulis skenario. Kami berbeda, Hyung.”

“Oh, maaf-maaf. Aku tidak bermaksud begitu kok.”

“Kalau bisa, aku ingin menulis skenario asli, Hyung, bukan dari novelku.”

“Kalau begitu aku akan mengatakannya pada Lee Jonghyun.”

“Benarkah? Hyungku memang yang terbaik!”

“Tentu saja…”

Mereka berdua tertawa lepas, dan untuk sejenak, Kim Minseok dapat melupakan masalahnya dengan Luhan.

Akan tetapi, mereka tidak sadar jika ada sepasang mata yang memperhatikannya diam-diam. Sepasang mata yang dipenuhi dendam dan kemarahan. Hwang Zitao. Lelaki itu terus mengikuti Kim Minseok tanpa ketahuan para penjaga yang diutus Wu Yifan.

Hwang Zitao telah berjanji untuk mencegah Kim Minseok untuk mengingat satu kejadian penting di masa lalunya yang bisa membongkar identitas kelompok mafia yang bisa membunuh Tao setiap saat jika dia melakukan sedikit saja kesalahan, lagi. Zitao berjanji untuk tidak menjadi selemah Kim Joonmyun atau Park Chanyeol. Dia ingin mempertahakan nyawanya untuk suatu alasan kuat.

“Kim Minseok, kau benar-benar menghancurkan hidupku. Lihat saja nanti.”

***

Kim Minseok dan Byun Baekhyun tiba di rumah Minseok sekitar jam 10 malam. Waktu benar-benar tidak terasa untuk keduanya saat bertemu. Setelah menyuruh Baekhyun untuk hati-hati menyetir, Minseok mencari kunci gerbang di dalam saku jasnya.

 

Singh…

 

Tangan Minseok berhenti mencari saat perasaan tidak enak menyerangnya. Dia sadar kalau itu sudah cukup malam dan seharusnya dia segera masuk, tapi kuncinya tidak ketemu.

“Dimana sih,” gerutunya.

“Apa Anda mencari ini?”

Tubuh Minseok membeku saat mendengar suara lelaki di belakangnya. Dia langsung menelan ludah karena tenggorokannya tiba-tiba saja terasa kering. Dengan segenap keberanian, dia berbalik. Didapatinya seorang lelaki bertubuh jauh lebih tinggi darinya menenteng sekumpulan kunci dan Minseok yakin itu miliknya. Lelaki itu memakai masker dan topi sehingga Minseok tidak bisa melihat wajahnya. Dengan hati-hati, Minseok membungkuk untuk berterimakasih pada lelaki itu.

“I-iya…”

“Aku melihatnya terjatuh saat kau mencarinya.”

“Benarkah? Terimakasih banyak.”

Lelaki itu menyodorkan kunci-kunci itu pada Minseok lalu pergi tanpa berkata apa-apa lagi. Minseok memperhatikan lelaki yang jalannya timpang itu sampai menghilang di belokan. Lalu cepat-cepat dia buka gerbang rumahnya dan masuk. Nafasnya sedikit terengal karena dia menahan nafas saat berhadapan dengan orang itu. Minseok jadi ingat pada kasus-kasus pembunuhan yang sedang marak akhir-akhir ini, dan kejadiannya selalu malam hari sekitar jam 10-12 malam di kompleks perumahan seperti tempatnya.

“Ah, apa yang kupikirkan,” kata Minseok seraya menghapus pikiran-pikiran aneh itu.

Minseok segera mengunci kembali gerbang lalu berjalan agak cepat ke dalam rumah. Saat melewati ruang tengah, dia teringat pada buku yang dititipkannya pada Lay. Setelah memastikan pukul berapa sekarang, Minseok pergi ke kamar Lay untuk mengambilnya.

“Lay-hyung…,” panggil Minseok seraya mengetuk pintu kamar Lay.

“Oh, Daehyunnie?”

“Iya, ini aku.”

Lay membuka pintu kamarnya dan mempersilahkan Minseok masuk.

“Apa kau ke sini untuk mengambil buku album itu?”

“Ne.”

Lay mengambil album itu dari laci mejanya lalu memberikannya pada Minseok.

“Apa kau sudah membacanya?”

“Iya, beberapa.”

“Lalu menurutmu ini punya siapa?”

“Kurasa itu milik Hyungmu.”

“Benarkah?”

“Jongwoon-hyung itu jaksa, bukan? Tidak aneh jika dia terobsesi pada 1 kasus tertentu. Kau tanyakan saja padanya besok.”

“Baiklah…sekarang aku ke kamar dulu ya.”

“Eoh. Selamat beristirahat.”

Sepeninggal Minseok, Lay merebahkan tubuhnya di kasur dan menatap langit-langit.

“Jika benar itu milik lelaki itu, artinya aku dalam bahaya. Sejak kapan dia mengincarku?”

***

Minseok melempar buku album itu ke kasur lalu mengganti pakaiannya dengan baju rumahan. Kemudian dia buka laptopnya untuk membaca kembali isi novel barunya.

“Ah! Aku lupa!”

Minseok menepuk jidatnya karena lupa untuk mengambil naskah draftnya dari gudang. Karena Minseok termasuk orang yang tidak suka menunda pekerjaan, Minseok bergegas keluar untuk mengambil naskah itu di gudang.

Selagi mencari, tanpa sengaja Minseok mendengar suara langkah kaki dari arah luar. Minseok terkesiap saat langkah itu mulai mendekati gudang. Minseok berjalan mengendap-endap menuju jendela untuk melihat siapa yang berjalan, tapi belum sempat dia sampai, tiba-tiba saja pintu gudang tertutup!

Minseok segera berlari ke arah pintu lalu mencoba membukanya, tapi tidak bisa, itu terkunci dari luar.

“YA! Siapa di luar?! YA! Cepat buka pintunya!!”

Minseok berteriak sekuat tenaga, tapi tidak ada respon dari luar sampai sesuatu yang aneh bergerak di belakang tumpukan kardus bekas. Minseok menoleh ke arah kardus-kardus itu dan dengan hati-hati mendekatinya.

“S-siapa itu? Kyungsoo? Apa itu kau?”

Saat Minseok benar-benar berhadapan dengan kardus-kardus itu, tiba-tiba saja seorang lelaki keluar dan mendorong tubuh Minseok sampai tersungkur. Lelaki itu sama dengan lelaki yang menemukan kuncinya tadi. Minseok menyeret tubuhnya mundur, tapi lelaki itu berjalan mendekati Minseok.

“S-siapa kau?”

“Kau tidak mengenalku, Minseokkie?”

“M-mwo?”

Lelaki itu berjongkok di hadapan Minseok lalu membuka masker dan topinya. Melihat siapa dia sebenarnya, mata Minseok langsung terbelalak.

“K-kau?”

 

 

———————————————————————-

 

NOTE: 9 bulan sudah saya menunda postingan ini hahahahaaa… abisnya ragu buat ngelanjutin karena tahun kemarin saya lagi…nggak mood 😦

MAAFIN AKUUUU HUAAAA . Maafin aku banget 😦 maaf ya…

InsyaAllah aku mulai lanjutin cerita ini . Mungkin nggak akan ekstra cepet siii, tapi mudah-mudahan nggak terbengkalai lagi . Makasih yang udah baca dan komentar yaa ^^

 

Advertisements

7 thoughts on “My Answer is You _ XiuHan/LuMin (Bagian 02)

  1. Penasaran sama identitas ketua mafia yg nginer kluarga byun. Kyknya makin ksini makin bnyak hal” yg baru, hal yg gk kepikiran sblumnya. Msalnya, slain identitas si ktua mafia, ternyata masih ada satu ingatan minseok yg mungkin bkaln bisa ngancurin tuh mafia tp kyknya minseok nggk inget, trs tntang buku yg minseok temuin digudang, itu buku apaan? Kalo emg bner pnya hyungnya tp kok pas lay baca dy blg dy dlam bhaya. Why? Berarti ada sesuatu sm diri lay yg mungkin itu sesuatu yg kurang bagus. Sumpah! Ini kan sequel y. Tp kok justru malah makin bnyak misterinya. Kirain karna ini squel isinya cm cerita” yg membahagiakan. Tp ternyata nggk. Makin keren deh. Ditunggu next chap’a 🙂

    • aku juga bingung kenapa bisa begini lanjutannya wkwkwkkk . sebenernya aku masih mikirin arah dari cerita ini, makanya mentok hampir setahun. semoga aku bisa bikin yang terbaik yaa. Udah ada chapter 3nya kokk ^^
      makasih banyak yaa udah bacaaaaa . aku seneng banget kamu nggak lupa sama akuuu . ^^

  2. Semua nya fake !! Apa BIGent adalah perusahaan di bawah naungan tuan choi ? Oh ayolah , perusahaan sebesar itu langsung menerima perusahaan byun tanpa basa-basi lagi ?menurut ku itu semua hanya lah permainan bisnis belaka cuma buat minseok terlibat.. apa prediksi ku bener kak sufi ? :”( huaaaa tambah kesini knp tambah bnyk misteri ? Siapa yg ngincer lay ? Apa kemungkinan kris juga ada yang ngincer ? Bagaimana ini ? Huaaaaaaaaaa terlalu banyak teka-teki yang gak bisa di jawabb ! Dan dan dan huaaaaaa ini daebakkk ! Kk sufi emang jjang !!! Huaaaaaaaaaa kakak apa sudah lupa dengan diri ku huh ? Wkwk yaudah deh semoga kk terus ngelanjutin ff nya yahhh aku mohon bangettttt !! Tahun ini walaupun gak di bulan2 ini tapi tolonggg lanjutinnn udh gak sabar !!! :”( ngmng2 minta id line nya kak 😂 masih inget sama aku gak ? Wkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s