My Answer is You _ XiuHan/LuMin (Bagian 01)

Tittle: My Answer is You (sekuel My Immortal Love is You)

Author: Fie

Genre: romance, family, drama, crime, mystery, boyxboy

Length: Multichapter

Rated: M

Languange: bahasa

Pairing: LuMin/XiuHan

Cast:

– EXO XiuMin as Kim Minseok/XiuMin/Byun Daehyun

– LuHan as Xi Luhan

– EXO Baekhyun as Byun Baekhyun

– EXO Lay as Zhang Yixing/Lay

– Kris Wu as Wu Yifan

– EXO D.O as Kim Kyungsoo

– EXO Kai as Lee Jongin

– EXO Chen as Lee Jongdae

– EXO Sehun as Kim Sehun

– EXO SuHo as Kim Joonmyun

– SNSD Sunny as Lee Sunny/Lee Soonkyu

– Super Junior Yesung as Kim Jongwoon

– dan lainnya yang akan terungkap seiring cerita…

 

 

Saat aku harus memilih, maka aku akan memilih bahagia bersamamu.


 

ONE – Dedication

Tolong berjanjilah untuk baik-baik saja selama aku tidak bersamamu…

 

MALAM itu Kim Minseok terlarut dalam pikirannya saat membuat kerangka naskah novel barunya. Sudah menjadi kebiasaan lelaki berwajah bundar itu untuk membuat loncatan-loncatan kecil dalam penyusunan bukunya. Itu menyenangkan, pikirnya. Karena kadang di antara kerangka itu ada beberapa alur yang kemudian harus ditolaknya dan bisa menjadi bahan baru untuk novel berikutnya.

Sesekali dia menguap dan mengusap matanya, entah karena ada kotoran mata atau memang kebiasaan, tapi yang pasti tubuhnya sudah memaksa untuk istirahat.

Akhirnya Minseok menutup laptopnya lalu bangkit dari sofa.  Diregangkannya tubuh kecil itu perlahan lalu menatap jam dinding. Dahinya mengeryit heran dan mencoba memastikan apa yang dilihatnya itu benar.

“Jam 11 malam?” katanya sedikit tak percaya.

Lelaki itu segera membereskan pekerjaannya lalu memasukannya dalam satu map. Sambil memasukan draft naskah itu, dia teringat kata-kata Hyungnya tempo lalu. Baekhyun sudah memeringati adiknya untuk segera mengeluarkan novel baru supaya orang-orang tidak melupakannya. Saat di’ultimatum’ seperti itu, Minseok hanya tertawa seperti tidak peduli, tapi sebenarnya dia segera memulai proyek baru.

“Lu-ge sedang apa ya…,” kata Minseok yang sekarang sudah berada di kamar mandi sambil terus menyikat giginya.

Rencana pernikahannya dengan Luhan sudah di depan mata. Mereka akan menikah 4 bulan dari sekarang. Waktu yang cukup lama untuk mempersiapkan pernikahan, tapi lebih baik begitu daripada acara sekali seumur hidup itu gagal. Apalagi Minseok belum pernah bertemu dengan orangtua Luhan, jadi dia harus menjalin hubungan yang baik dengan mereka dulu sebelum menikah dengan Luhan.

Sudah dua minggu sejak pembuatan film pertamanya selesai, dan semuanya berjalan normal. Tidak ada kasus seperti saat itu, saat paling menyeramkan dalam hidup Minseok. Terkadang Minseok masih merasa kejadian itu hanyalah mimpi buruk yang tidak pernah terjadi, tapi setiap melihat Luhan, dia akan langsung tersadar kalau itu adalah kenyataan. Minseok bukan Tuhan yang bisa memutar waktu, juga tidak baik untuk berandai-andai atau menyesal terlalu lama. Nasi sudah menjadi bubur. Semua sudah terjadi dan sekarang tugas Minseok untuk membuat hari-hari di depannya menjadi lebih baik.

 

Surr….

 

Minseok keluar dari kamar mandi lalu mencari ponselnya yang dengan naasnya tertimpa bantal sofa untuk menghubungi Luhan. Matanya langsung terbelalak saat melihat di layar ponselnya terpampang lebih dari 20x missed call dari Luhan. Cepat-cepat dia hubungi nomor itu dan bersiap menerima omelan Luhan.

“Hya!”

Minseok langsung menjauhkan ponsel itu dari telinganya karena suara Luhan lebih keras dari biasanya. Bahkan, saat Minseok sudah menjauhkannya beberapa cm, suara Luhan masih terdengar jelas.

“Kenapa kau tidak menjawab teleponku?! Aku sudah di depan rumahmu!!”

“Mwo? Di depan rumah? Selarut ini?”

“Kau tidak percaya? Cepat buka pintunya!”

 

Ting…tong…

 

Dengan sedikit berlari, Kim Minseok bergegas menuju pintu depan. Saat membuka pintu, Luhan langsung memasang wajah marah yang siap membunuh Minseok.

“Apa kau tahu aku sudah menghubungimu dari jam 9 malam?”

“Ponselku disilent, aku lupa…”

“Kau tahu aku langsung ke sini saat syuting selesai?” kata Luhan dengan nada lebih tinggi.

“Syutingmu baru selesai?” tanya Minseok polos.

“Hya, Kim Minseok!”

***

Ini sudah sangat larut, tapi Luhan tidak peduli dengan itu. Dia segera pergi ke rumahku setelah syutingnya selesai hanya karena aku tidak mengangkat panggilannya. Apa dia tidak berpikir kalau aku sudah tidur, ya? Ada-ada saja lelaki ini.

Sekarang dia sedang melahap sisa makan malam keluargaku seperti orang kesetanan sambil menggerutu tentang ketidakpekaanku soal ini. Aku hanya manggut-manggut sambil memasang wajah penuh penyesalan supaya dia senang. Sebenarnya terkadang aku bosan dengan sikapnya yang berlebihan, tapi aku harus menerima Luhan apa adanya. Dia juga bisa menerimaku yang sering bersikap cuek, kenapa aku tidak? Anggap saja kita satu sama.

“Kenapa setiap aku ke sini makanan rumahmu selalu lebih enak daripada makanan di restoran, ya? Lalu kenapa kau tidak membolehkanku tinggal di sini? Wartawan kan sudah tahu hubungan kita, jadi—“

“Stop,” kataku seraya mengangkat kelima jariku di depannya, “kita sudah membicarakannya, Lu-ge.”

“Baiklah…”

Huft…akhirnya dia berhenti.

“Karena sekarang sudah larut, kau tidak bisa mengusirku,” katanya sedikit menyeringai.

Arra, aku akan tidur dengan Kyungie.”

“He? Kau tidak menjawab kodeku, Minnie~”

“Kode apa?”

“Dasar tidak peka!”

“Cukup kode-kodeannya, Gege. Sekarang aku harus tidur karena besok ada rapat pagi mingguan.”

“Ayo kita tidur bersama~”

Kutatap Luhan dengan tatapan tajam yang sengaja kubuat sangat menyeramkan supaya dia tidak macam-macam. Sudah beberapa kali dia mengajakku tidur bersama, tapi aku menolaknya. Ya walaupun kami tidak berbuat apapun selain tidur, tapi akhir-akhir ini aku berpikir tidak nyaman juga terlalu sering tidur dengannya. Kami ini kan belum…resmi?

“Sudah kuduga kau akan menolaknya. Aku sampai menghitungnya lho.”

“Ohya? Sudah berapa kali kutolak?”

“Lebih dari 10 kali.”

“Benarkah? Jangan mengada-ada, Lu-ge.”

“Aku tidak berbohong!”

“Kalau begitu aku akan menolaknya lagi. Sudah kubilang tidak baik kalau kita tidur bersama.”

“Aku kan tidak macam-macam!”

“Kalau sekali tidak macam-macam, apa kau akan begitu seterusnya?”

“Eung…pertanyaan yang sulit.”

“Lupakan. Kita tidak akan tidur bersama sampai menikah atau terpaksa!”

“Baiklah, aku akan menerima kalau tidak tidur bersama, tapi kalau…”

Belum selesai Luhan bicara, lelaki itu langsung menahan tubuhku dengan kedua tangannya yang di tempelkan di tepi meja di belakangku sehingga tubuh kami sangat dekat sekarang. Dia menempelkan pipinya dengan pipiku lalu berbisik sepelan angin, “seperti ini tidak apa-apa, kan?”

“L-Lu-ge…”

“Aku akan menunggunya, tenang saja, sayang.”

Bisikan Luhan berubah seduktif dan baru kali ini aku merasa segugup ini berada dekat dengannya. Apa karena kami sudah tidak pernah tidur bersama? Ah, tidak mungkin. Kami kan sering berpelukan, itu sama saja.

“Iya, tunggulah 4 bulan lagi.”

“Ey…,” katanya seraya melepas pipinya dari wajahku lalu menatapku dalam, “aku yakin kau yang akan mengajakku duluan.”

“Aku ingin tidur, Gege.”

“Nah kan benar!”

Dengan gemas kucubit pipi putihnya, membuat lelaki itu sedikit meringis.

“Maksudku, lepaskan tanganmu, aku ingin tidur.”

“Aish…pelit sekali. Jadi aku tidur dimana?”

“Karena Lay-gege masih tinggal di sini sampai minggu depan, kau bisa tidur di kamarku biar aku tidur dengan Kyungie.”

“Sebaiknya aku saja yang tidur dengan kepala bundar itu, nanti kau ditendang-tendang.”

“Kyungsoo tidak pernah menendangku, Gege, kau ini mengarang saja kerjaannya.”

“Benar?”

“Iya. Ayolah…ini sudah jam setengah 12.”

“Baiklah. Selamat tidur, Xiuminku,” katanya lalu mengecup bibirku.

“Eum, selamat tidur,” kataku sedikit canggung.

Luhan mengambil jaketnya lalu menatapku sampai aku benar-benar masuk ke kamar Kyungsoo. Dia melakukan ini karena mencintaiku, bukan? Bagaimana bisa dia mencemaskan orang lain sampai seperti itu? Aku penasaran kenapa cinta bisa membuat orang menjadi aneh sepertinya.

***

Berbeda dengan keadaan rumah Kim Minseok yang gelap dan sepi, di kantor polisi tempat Lee Jongin dan Lee Jongdae bekerja tidak pernah sepi karena kejahatan hampir tidak pernah libur. Seperti malam ini, walaupun jam sudah menunjukan pukul 12 malam, beberapa polisi masih berlarian sambil membawa berkas kasus dan terlihat dari wajah beberapa polisi itu, ada yang belum tidur sama sekali. Salah satunya seorang lelaki bertubuh kurus dengan mata kecil yang lelah sedang memohon pada Jondae yang bersikap tidak peduli padanya untuk memberinya satu kasus.

“Tolonglah, Jongdae-ssie…”

“Sudah kau rapihkan berkas kasus tahun kemarin?”

“Sudah! Sudah semuanya!”

“Kalau begitu rapihkan berkas tahun ini.”

“Nde?”

“Kau mau menolak?”

“E-eung…baiklah,” kata lelaki itu pasrah lalu berbalik sambil berjalan gontai.

“Ohiya, Jinho-ssie,” panggil Jongdae.

“Iya?” tanya Jinho penuh semangat.

“Bisa kau buatkan kopi untuk Jongin? Dia terlihat lelah.”

Dengan sangat kecewa Jinho hanya bisa menghela nafas lalu berkata, “baiklah…” kemudain sedikit menghentakan kakinya kesal dan pergi ke pantry untuk membuatkan Jongin kopi. Dengan sedikit tidak ikhlas, dimasukannya serbuk kopi hitam kesukaan para polisi di sini lalu menuangkan air panas ke dalamnya.

“Aku ini kan lebih tua dari mereka berdua. Seenaknya saja menyuruhku melakukan pekerjaan tidak penting seperti ini mentang-mentang aku baru pindah ke sini!”

“Apa?”

Nafas Jinho tercekat saat mendengar suara Jongin di belakangnya. Dia hanya bisa menatap kopi yang masih berputar karena adukannya.

“Jadi kau tidak suka kami perlakukan seperti ini?”

Dengan penuh keberanian, sekaligus menghilangkan prasangka buruk kalau dia bisa saja dikucilkan gara-gara membicarakan senior, Jinho berbalik dan tersenyum meringis pada Jongin.

“Jinho-hyung, sudah kubilang kau tidak perlu pindah ke Seoul. Kami melakukan ini supaya kau kembali ke Busan, tapi ternyata kau bertahan lebih lama dari yang kami bayangkan.”

“Kenapa begitu?”

“Teman-teman di Busan membutuhkanmu. Mereka sendiri lho yang bilang.”

“Sudah kubilang aku ingin pindah ke sini karena Eommaku baru keluar dari rumah sakit dan tidak bisa kuajak ke Busan.”

“Setelah Eommamu pulih, apakah kau tetap di sini?”

“Tentu. Lagipula di Busan masih ada Taeil-sunbae yang jauh lebih hebat dariku, jadi kenapa mereka cemas?”

“Molla. Mungkin Taeil-sunbae terlalu galak?”

“Ya…dia memang galak, tapi sebenarnya baik sekali kok.”

“Katakan itu pada teman-temanmu di sana.”

Jongin mendekat ke meja pantry lalu mengambil kopi buatan Jinho. Diminumnya sedikit, dan wajahnya langsung meringis kepahitan. Dia letakan kopi itu lalu menambahkan banyak sekali gula ke dalamnya.

“Aku tidak menyangka kau sebenci itu padaku, Hyung!!”

“Oh, tidak-tidak, aku hanya belum sempat menaruh gula di dalamnya. Jangan salah sangka dulu.”

“Oh…”

Jinho duduk di salah satu kursi pantry lalu menatap Jongin dengan pikiran kosong. Dia teringat saat pertamakali pindah ke Seoul untuk membantu Eommanya keluar dari rumah sakit. Eomma Jinho yang sudah koma selama 10 tahun akhirnya sadar walaupun harus mengalami kelumpuhan pada kakinya. Ketidakpercayaannya pada doa dan Tuhan akhirnya hancur sehancur-hancurnya. Dulu dia berpikir Tuhan tidak akan mengabulkan doanya untuk kesadaran Eommanya. 10 tahun bukan waktu yang sebentar, terutama untuk anak yang hanya mempunyai Eomma dalam hidupnya.

“Hyung.”

“O-oh, nde?”

“Kau melamun lagi.”

“Ohya? Maaf.”

“Melihatmu benar-benar mengingatkanku pada seseorang.”

“Siapa?”

“Saudara kakak iparku.”

“Maksudmu?”

Jongin tertawa kecil lalu mengeluarkan dompetnya sambil memasang wajah bangga. Kemudian menujuk seseorang pada foto yang terpasang rapih di pojok kiri dompetnya.

“Kau tahu dia, kan?”

“Kim Minseok?”

“Penulis terkenal itu, dia sangat mirip denganmu.”

“Mirip darimana?”

“Saat aku menangani kasusnya, dia juga sering melamun sepertimu, dan gayanya mirip sekali denganmu. Aku beberapa kali melihatnya sedang termangu. Apa kau ada masalah?”

“Tidak, aku hanya sedang memikirkan Eommaku.”

“Yasudah sebaiknya kau pulang saja, Hyung. Tenang saja, kami masih bisa menangani beberapa kasus yang baru datang.”

“Eoh, sebaiknya aku pulang. Walaupun Park Sunyoung, tetanggaku yang masih kuliah, menjaganya, tapi aku tetap cemas.”

“Tapi ingat kau harus kembali walaupun tidak betah, hahahaha.”

“Setelah tahu alasanmu, tentu saja aku akan kembali! Bye~”

***

Cho Jinho tiba di rumahnya 30 menit kemudian. Keadaan rumah sudah sepi karena di sana hanya ada dia dan Eommanya, dan sekarang Eommanya sudah tidur. Jinho melihat pipi Eommanya memerah karena kedinginan lalu segera menyalakan penghangat dan menambah selimut untuk menghangatkan Eommanya yang mulai menggigil.

“Sunyoungie pasti lupa menyalakan penghangat, dia memang agak pelupa.”

Jinho menempelkan kedua telapak tangannya ke pipi Eommanya pelan lalu sedikit mengusapnya.

“Eomma, jangan pernah kedinginan, eum? Aku akan selalu di sini agar kau tetap hangat.”

“Jika saja aku bisa menyelamatkan Sohyun, kita akan tetap bersama sekarang. Tapi tidak ada gunanya berlarut-larut dalam kesedihan, bukan? Sekarang yang kupunya hanya Eomma, jadi aku akan menjagamu sekuat tenaga.”

Jinho mengambil sebuah album yang covernya sudah terbakar separuh. Hanya benda itu yang bisa dia selamatkan dari rumahnya yang terbakar. Jinho mengelus album itu perlahan lalu membukanya. Di album itu tersimpan seluruh kenangannya selama 15 tahun dengan keluarga utuhnya. Matanya tertuju pada seorang anak manis yang mengenakan gaun berwarna merah muda sedang tersenyum pada kamera. Dia, Cho Sohyun, adik perempuannya yang baru berumur 13 tahun itu harus meninggal sebelum janji Jinho untuk mengajarinya berenang tercapai. Dada Jinho terasa nyeri saat mengingat tawa Sohyun saat dia mengambil foto ini.

“Sohyun-a, bagaimana kabarmu di sana? Apa kau baik-baik saja? Aku sangat merindukanmu, Sohyun-a…”

Cho Jinho menutup album foto itu karena seperti katanya tadi, dia tidak ingin terus terlarut dalam kesedihan. Dia harus menatap masa depan.

“Aku merindukanmu, tapi tidak ada yang bisa Oppa lakukan, Sohyun-a. Oppa minta maaf karena tidak bisa menyelamatkanmu dulu. Sebagai bayarannya, Oppa akan menjaga Eomma seperti yang sering kau katakan padaku.”

***

“Chanyeol-hyung!!”

Kim Minseok terbangun dari tidurnya sambil meneriakan nama Chanyeol seperti orang ketakutan. Keringat dingin membasahi wajahnya sehingga kini dia seperti orang yang sedang mandi. Kyungsoo yang mendengar itu juga bangun dan langsung menyalakan lampu. Dia sedikit terkejut karena mendapati Minseok tidur dengannya padahal sebelum tidur dia yakin kalau kakaknya sedang bekerja di ruang tengah.

“Hyung? Kenapa kau di sini?”

“Eung? Ah…Luhan datang, jadi kusuruh dia tidur di kamarku.”

“Luhan-hyung datang? Aish, chinca…orang itu menyebalkan juga lama-lama. Apa kau mau aku mengusirnya?”

“Hei…ini sudah larut, Kyungie.”

“Ah, kenapa kau tiba-tiba bangun dan berteriak seperti itu, Hyung?”

“Aku hanya mimpi buruk, bukan masalah besar.”

“Kau memimpikan Chanyeol-hyung? Apa kau merindukannya?”

“Setiap hari aku merindukan orang-orang yang sudah meninggalkanku, Kyungie,” kata Minseok seraya menyeka keringatnya. Kemudian Kyungsoo mendekati Minseok dan merangkulnya.

“Jika kau memang merindukannya, hari sabtu nanti Hyung mau mengunjungi makamnya bersamaku?”

“Ide yang bagus. Baiklah, aku mau.”

“Tanpa Luhan-hyung?”

“Ada apa ini? Kau mengajakku kencan?”

“Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Nah, sekarang ayo kita tidur lagi, besok, oh maksudku nanti, aku ada kelas pagi.”

Kim Minseok hanya mengangguk sambil tersenyum tipis, lalu Kyungsoo beranjak untuk mematikan lampu. Saat keduanya berbaring, berbeda dengan Kyungsoo yang kembali memejamkan matanya, Minseok tidak. Dia mengingat apa yang dia lihat dari mimpinya tadi. Sesuatu yang menyeramkan dan membuat perasaan Minseok tidak enak. Minseok takut kenangan buruk itu kembali membuka. Dia mencoba tidak memedulikan mimpi, tapi mimpi itu sangat kuat dan nyata. Seperti sedang memperingati Minseok kalau dia harus lebih waspada dari sebelumnya.

***

“Aku hanya akan mengulanginya satu kali. Jika kau tidak mengerjakannya dengan benar, maka jangan harap aku akan mempercayakan pekerjaan ini lagi padamu.”

“Baik, Sunbaenim.”

Kim Minseok baru datang pagi itu di kantornya dan sudah disuguhi pemandangan tidak enak dari Son Seungwan yang sedang memberi tugas pada salah satu karyawan baru Anthersy Book. Lelaki itu terlihat kikuk saat Seungwan memarahinya karena dia melakukan kesalahan pada beberapa buku cetakan baru. Bukan kesalahan fatal, tapi cukup membuat si senior geram.

“Seungwan-ssie, ada apa? Ini masih pagi dan wajahmu sudah kusut sekali,” kata Minseok yang sedikit tidak tega melihat lelaki itu dimarahi.

“Jangan mencoba mengalihkan perhatianku, Minseok-ssie,” kata Seungwan ketus, walau masih ada kesan hormat di sana.

“Hahaha, bukan begitu. Aku hanya ingin tahu apa yang terjadi.”

“Huft…buku baru yang dicetak kemarin malam, ada beberapa yang covernya terbalik karena dia ketiduran saat mengawasi mesin cetak. Kau tahu berapa kerugian kantor kita kalau ada kesalahan di percetakan?”

“Ada berapa yang salah?”

“Sekitar 20 buku.”

“Oh, itu jumlah yang tidak banyak kok. Sudahlah, tidak perlu marah-marah begitu, manis. Aku akan meneraktirmu makan siang jika kau berhenti membuat wajah seperti itu.”

“Benar kan kataku? Kau selalu mengalihkan perhatianku saat aku dalam kondisi bad mood. Hari ini kau beruntung, Seo Youngho. Sekarang kau boleh pergi.”

Lelaki tinggi bernama Seo Youngho itu memberi hormat pada kedua seniornya lalu meninggalkan ruang rapat. Rapat pagi mingguan para kepala divisi belum dimulai, jadi pantas jika Seungwan bisa seenaknya memarahi karyawannya di sini.

“Menjadi karyawan percetakan bukan hal yang mudah, Seungwannie, kau tidak boleh seenaknya memarahi pegawaimu hanya karena kesalahan kecil,” kata Minseok yang kemudian duduk di samping Seungwan.

“Jika dari kesalahan kecil mereka tidak disadarkan, mereka akan terus lalai.”

“Hahahaha, kau memang wanita yang tegas. Pantas saja semua pegawai takut padamu. Akan tetapi, ada baiknya jika kau mempunyai kontrol diri supaya tidak cepat tua, hehe. Atau…sebaiknya kau punya kekasih.”

“Kekasih? Apa hubungannya dengan kekasih?”

“Jika kau jatuh cinta, mungkin perasaanmu akan lebih lunak.”

“Omong kosong. Punya pacar di saat-saat seperti ini hanya akan meningkatkan amarahku.”

“Benarkah? Memangnya sudah pernah kau coba?”

“Tentu saja.”

“Aku tidak pernah mendengar berita asmaramu!”

“Kau itu seperti ibu-ibu gosip saja sih! Siapa juga yang mau menyebarkan kisah asmaranya di kantor.”

“Hahaha, wanita memang unik.”

“Bagaimana dengan Luhan? Apa dia juga unik? Sepertinya kau sangat mencintainya. Aku benar-benar iri.”

“Tidak perlu iri karena belum tentu Luhan lebih baik daripada pasanganmu.”

“Bisa kau ceritakan bagaimana dia melamarmu? Aku penasaran bagaimana seorang superstar melamar orang yang benar-benar dicintainya, bukan dalam akting.”

“Karena kau tidak mau mengatakan siapa kekasihmu, aku juga tidak akan menceritakannya.”

“Hya! Kim Minseok! Kau benar-benar menyebalkan!”

Obrolan mereka terhenti saat beberapa orang yang tidak asing bagi mereka masuk ke ruang rapat sambil bercakap-cakap. Melihat Seungwan dan Minseok yang langsung berdiri memberi salam, mereka membalasnya lalu duduk di tempat masing-masing. Terlihat Wu Yifan berjalan di antara mereka lalu membungkuk hormat pada Minseok, karena bagaimanapun Minseok tetap majikannya walaupun sekarang jabatannya lebih tinggi.

“Pagi, Yifan-ssie.”

“Pagi, Tu—maksudku, Kim Minseok-ssie. Sepertinya semua sudah lengkap, jadi mari kita mulai rapatnya.”

***

Rapat berlangsung hanya sekitar 1 jam karena perbincangan mereka tidak melebar ke bahasan selain perkembangan antar divisi. Tidak seperti minggu kemarin yang tidak habis-habisnya membahas film baru Kim Minseok dan Xi Luhan.

Setelah berpisah dengan para rekan kerjanya, Minseok berjalan agak cepat menuju Wu Yifan. Lelaki tinggi itu langsung membungkuk hormat seperti yang biasa dia lakukan di luar maupun di dalam kantor.

“Sudahlah, Hyung, kau tidak perlu seperti ini.”

“Masih ada beberapa perintah darimu yang tidak bisa kuturuti.”

“Baiklah-baiklah. Kalau begitu aku langsung bilang saja ya.”

“Ada apa?”

“Hari sabtu ini aku akan ke makam Chanyeol-hyung dengan Kyungsoo. Tolong kau jaga Luhan supaya dia tidak membututiku. Kyungsoo ingin menunjukan sesuatu padaku, jadi dia tidak mau Luhan datang.”

“Oh, baiklah.”

“Sampai kapan dia di Korea? Memangnya tidak ada pekerjaan di China?”

“Tidak tahu, aku kan sudah bukan manajernya. Seharusnya kau yang lebih tahu, Tuan Daehyun.”

“Ohohoho, bagaimana aku bisa bertanya padanya kalau setiap aku bertanya dia akan mengancam meniduriku.”

“Ish…orang itu. Apa perlu aku mengurungnya di apartemen atau kupulangkan ke China supaya dia tidak mengganggumu?”

“Hahahaha, tidak-tidak, aku hanya bercanda. Akhir-akhir ini aku memang sedikit cuek padanya, jadi wajar kalau dia berulah.”

Minseok dan Yifan berpisah di depan pintu ruang rapat. Kemudian saat Minseok berbalik hendak kembali ke ruangannya, lelaki bernama Seo Youngho yang tadi tidak sengaja diselamatkannya berlari menghampirinya.

“Kim Minseok-sunbaenim!”

“Oh, kau Seo Youngho, bukan?”

“Iya, aku yang tadi dimarahi Nona Son.”

“Ahahaha…jangan terlalu dipikirkan ya, gadis itu memang agak sensi akhir-akhir ini.”

“Tentu. Aku juga sudah sering dimarahi oleh seniorku, tapi bukan itu yang ingin kubicarakan denganmu sekarang.”

“Ada apa?”

“Apa Sunbae punya waktu malam ini? Aku ingin mengajak Sunbae ke kafe tempatku bekerja.”

“Kafe tempatmu bekerja? Kau masih bekerja selepas dari sini? Menakjubkan…”

“Hanya pekerjaan sambilan, Sunbaenim, tidak setiap hari. Jadi bagaimana? Apa Sunbae menerima ajakanku? Kujamin Sunbae tidak menyesal ke kafe itu.”

“Dalam rangka apa kau mengajakku? Berterimakasih karena meloloskanmu dari Nona Son?”

“Bisa dibilang begitu. Oh, maaf jika aku kurang sopan karena tiba-tiba mengajakmu seperti ini, padahal kita baru kenal.”

“Jangan meminta maaf padaku, minta maaflah pada kekasihku yang setiap malam menungguku untuk makan malam bersama.”

“Ah, kalau begitu Sunbae bisa mengajak Luhan juga ke kafeku. Aku akan sangat senang menerima kalian.”

“Apa kita akan ditraktir? Hahaha,” canda Minseok seraya tertawa geli.

“Tentu! Aku akan bilang pada Manajerku kalau kalian orang terkenal. Dia pasti akan memberikan makanan gratis.”

“Hya, kau benar-benar…tidak sopan.”

“Ha? Aigo!! Maafkan aku, Sunbaenim!! Aku tidak bermaksud seperti itu, benar…”

“Aku hanya bercanda, tapi jangan lakukan itu pada oranglain, oke? Kami akan datang sebagai orang biasa karena aku lelah selalu dikerumuni orang-orang yang ingin meminta tanda tangan. Bisa kau atur itu? Jika bisa, aku akan merasa tersanjung.”

“Oh, tentu bisa, Sunbaenim! Di kafeku ada beberapa ruangan privat untuk sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara, jadi—“

“Hya! Berhenti bicara macam-macam! Siapa juga yang sedang dimabuk asmara, hah?” kesal Minseok seraya menatap tajam Youngho.

“Uhm…maafkan aku lagi, Sunbaenim,” katanya sambil sedikit menahan tawa karena Minseok tidak terlihat marah, melainkan malu.

“Jangan terlalu banyak meminta maaf, Youngho-ssie. Yang perlu kau lakukan adalah memperbaiki kesalahan itu dan tidak mengulanginya.”

“Ne! Terimakasih untuk nasihatmu, Sunbae! Tidak salah jika aku menobatkanmu sebagai Sunbae favoritku.”

“Sunbae favorit? Hahaha…”

“Jika Luhan bukan pacarmu, mungkin aku akan mendekatimu.”

“Hya! Lagi-lagi kau!!”

***

Hari ini Lay tidak menemaniku karena dia harus mengurus sesuatu di rumah nenek. Rasanya sangat sepi tidak ada dia di sampingku. Ya…walaupun dia berisik dan sering membuatku marah, kurang lebih sama dengan Luhan, tapi aku tetap menyukainya.

Berbicara tentang Lay, karena sekarang kami sudah semakin dekat, aku jadi tahu kalau keluarga aslinya ada di China dan mereka tidak tahu kalau dia seorang bodyguard. Aku pernah bertanya kenapa dia menyembunyikannya, dia hanya menjawab kalau hubungannya dengan keluarganya yang terdiri dari ayah, ibu, dan adik perempuannya itu tidak begitu baik. Bahkan, mereka tidak pernah menanyakan keadaannya, jadi untuk apa dia membertitahukan pekerjaan ini. Mereka hanya tahu kalau Lay adalah orang kantoran di perusahaan kecil yang hidup berkecukupan. Bukan keinginan Lay untuk memperlakukan keluarganya seperti itu, tapi sejak masalah yang tidak bisa diceritakannya padaku itu terjadi, semuanya berubah total. Lay memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya di Seoul supaya dia terlepas dari keluarganya, dan saat itulah dia bertemu Yifan-hyung yang saat itu sedang menyamar menjadi dosen tamu di universitasnya untuk mengawasi Suho-hyung.

Dia tidak menceritakan detail bagaimana dia berpacaran dengan Yifan-hyung, tapi yang pasti, Yifan-hyung yang pertama mendekatinya, katanya, secara intensif karena kecerdasannya. Mungkin awalnya Lay menjadi asisten Yifan-hyung dan munculah perasaan itu. Hubungan keduanya sangat berbeda dengan hubunganku dan Luhan, mereka memang saling membutuhkan, tapi tidak memperlihatkannya di depan. Mereka sama-sama mandiri walaupun terkadang Lay-hyung terlihat manja, tapi itu tidak berlangsung lama. Terkadang aku berpikir kalau hubungan mereka hanya sarana untuk menjagaku, tapi mudah-mudahan tidak.

Terlepas dari rasa rinduku pada Lay-hyung, pagi itu di ruangan kerja, sendirian, aku langsung membuka salah satu buku cetakan baru untuk melakukan review. Akhir-akhir ini aku senang melakukan review saat waktu senggang karena selain untuk menambah ideku, juga membuatku berteman dengan lebih banyak penulis lokal karena mereka menyukai reviewku. Salah seorang penulis yang kusukai bernama Byun Chaeri, gadis yang umurnya lebih muda 2 tahun dariku itu termasuk penulis baru, tapi tulisannya benar-benar menyentuh hati. Aku pernah bertemu dengannya di acara tahunan seluruh penulis se-korea bulan lalu dan kami cukup cocok di beberapa hal. Dia memintaku untuk me-review bukunya dan dengan senang hati kuterima. Kuhabiskan 3 malam untuk membaca bukunya dan langsung mengirim reviewku lewat email. Lalu sejak itu hubungan kami jadi cukup dekat, sebagai teman dan rekan kerja tentunya.

Aku tidak pernah punya perasaan lebih pada orang yang dekat denganku karena jujur tidak ada yang bisa membuatku berpaling dari Luhan-gege. Dia benar-benar sudah menghinoptisku dengan segala yang dia punya. Akan tetapi, aku tidak selalu berlebihan cemas sepertinya. Bukan karena tidak mencintainya, tapi dia tidak pernah terlihat terancam. Hahaha, tidak sepertiku, bukan? Aku juga sudah tidak terancam, tapi dia tidak pernah melepas pengawasannya padaku. Ah…aku jadi merindukannya. Apa kutelpon saja ya?

 

Drrt…drrt…

 

Oh? Lu-ge! Hahahaha, dia benar-benar menyeramkan.

“Yeoboseo?”

“Xiumin-a, apa kau ada di kantor?”

“Ne. Ada apa?”

“Nanti malam aku ingin mengajakmu ke suatu tempat.”

“Ohya? Aku juga, tapi yasudah, aku ikut denganmu.”

“Aku akan menjemputmu sepulang kerja. Ah, tunggu aku di tempat parkir, ya?”

“Tempat parkir? Tidak biasanya.”

“Tidak apa-apa, tolong tunggu aku di sana, eum?”

“Baiklah…”

“Annyeong.”

“A—“

 

Tut…tut…tut…

 

Ada apa ini? Nada bicara Lu-ge tidak seperti biasanya. Dia juga langsung menutup telepon sebelum aku selesai bicara. Apa telah terjadi sesuatu padanya? Atau dia hanya sedang menjahiliku? Oh, tentu saja dia balas dendam karena perlakuanku kemarin malam. Oke…aku tidak akan tertipu.

 

Tok tok tok

Oh, jeongmal! Ketukan itu benar-benar mengagetkanku! Huft…

“Siapa?”

“Ada paket untuk Anda, Tuan Kim.”

“Oh, sebentar.”

Aku segera beranjak lalu membuka pintu. Seorang lelaki bertubuh kurus membawa sebuah kotak lalu menyodorkannya padaku.

“Ini tanda terimanya,” katanya seraya menyerahkan sebuah kertas tipis yang segera kutandatangani.

“Terimakasih.”

“Sama-sama. Saya pamit dulu.”

Selepas kepergiannya, aku langsung menutup pintu lalu kembali ke mejaku sambil menerka-nerka isi kotak ini.

 

Tek

 

Aku terpekik perlahan saat melihat isi kotak itu dan hampir melemparnya. Beberapa fotoku bersama Luhan yang wajahku telah dicorat-coret dengan spidol merah. Apa ini? Siapa yang mengirim bingkisan aneh ini? Oh, apakah ini dari penggemar Luhan yang tidak menyukaiku? Baiklah, sepertinya begitu. Karena jika benar, aku tidak perlu cemas. Ini bukan benar-benar teror yang harus kucemaskan. Ini hanya kejahilan penggemar. Aku harus tenang, tenang…

Tunggu dulu, apa karena ini Lu-ge menyuruhku bertemu di parkiran? Apa dia juga menerima bingkisan aneh ini? Oh, Lu-ge…maafkan aku karena selalu melibatkanmu dalam masalahku. Aku harus menyembunyikan ini supaya dia tidak cemas.

***

Luhan menyesal karena memutus obrolannya dengan Minseok sebelum Minseok menyelesaikan kata-katanya. Sekarang dia terlalu takut untuk itu karena disampingnya terdapat beberapa foto yang sama dengan yang diterima Minseok. Bedanya, di foto itu wajahnya lah yang dicorat-coret sehingga dia berpikir penggemar Minseoklah yang melakukan ini. Digenggamnya foto itu ragu lalu mengelus wajah manis Minseok dalam foto itu.

“Sialan. Aku harus menemukan orang yang mengirim ini.”

Tanpa pikir panjang, Luhan segera menghubungi Yifan karena menurutnya sesibuk apapun mantan manajernya itu, Yifan tidak akan mengabaikan apapun yang mengancam Tuan mudanya.

“Ada apa, Lu? Tumben sekali kau menelpon pagi-pagi begini.”

“Ada orang yang ingin menerorku dan sepertinya dia adalah penggemar Daehyun.”

“Nde? Apa maksudmu?”

“Aku ingin kau menyuruh orang untuk mengawasi Daehyun selama beberapa hari ke depan karena aku akan jarang bersamanya.”

“Tolong ceritakan lebih jelas, Lu.”

“Baru saja ada yang mengirimiku foto aneh dan aku yakin sekali kalau dia sedang menerorku. Untuk beberapa hari ke depan aku akan menjaga jarak dengan Minseok untuk melihat reaksi orang sialan itu, tapi tolong suruh orang untuk menjaga Minseok selama aku tidak bersamanya.”

“Lalu bagaimana denganmu?”

“Ah…aku akan baik-baik saja. Jika aku tidak bisa menjaga diri sendiri, bagaimana aku bisa menjaga Minseok.”

“Jangan sok berani. Aku akan menyuruh orang untuk menjagamu juga.”

“Aku sangat tersanjung Direktur Wu, hahahaha.”

“Apa kau memberitahukan ini pada Tuan Daehyun?”

“Tentu saja tidak, bodoh. Bagaimana mungkin aku memberitahunya. Bisa-bisa dia cemas setengah mati. Aku tidak mau dia memikirkan hal seperti ini lagi. Hei, Gege, apa kejadian kelam itu akan terulang?”

“Tidak ada yang tahu, Lu. Kita hanya bisa berharap tidak akan ada lagi kejadian seperti itu. Kim Joonmyun juga sudah di penjara, jadi…mudah-mudahan tidak.”

“Aku harap ini hanya kejahilan penggemar, sungguh. Meskipun aku yakin bisa melindungi Minseok, tapi aku takut jika tdak datang di saat yang tepat. Aku sudah melihat Minseok berjuang dalam hidup dan mati sebanyak dua kali, dan itu membuatku trauma.”

“Aku dan rekan-rekanku akan menjaga Daehyun, kau tenang saja, Lu. Sekarang kau juga harus menjaga dirimu.”

“Iya. Aku akan berhati-hati. Terimakasih, Gege.”

“Baiklah, sekarang akan kututup teleponnya.”

“Sekali lagi terimakasih…”

Luhan meremas foto itu dengan amarah meluap. Tidak bisakah dia hidup tenang dengan kekasih yang sebentar lagi akan menjadi pasangan hidupnya? Kenapa ada saja orang yang melakukan ini pada mereka setelah apa yang telah mereka alami sebelum ini?

***

Sesuai janji keduanya pagi tadi, selepas pulang kerja Kim Minseok menunggu Luhan di tempat parkir. Minseok kira Luhan akan sedikit terlambat karena sejam yang lalu ketika dia memastikan pertemuan ini, Luhan bilang dia masih melakukan pemotretan, tapi ternyata dia bisa datang tepat waktu.

“Oh, Xiuminnie, aku di sini,” kata Luhan seraya melambaikan tangannya.

“Kukira kau akan telat,” kata Minseok yang sedikit berlari seperti anak kecil yang tidak mau ketinggalan acara TV kesukaannya, sangat lucu.

Saat Minseok sudah berada di hadapan Luhan, Luhan mengelus poni Minseok lalu tersenyum penuh arti. Dibukanya pintu mobilnya untuk Minseok lalu Minseok masuk dengan perasaan agak ragu karena tidak biasanya Luhan hanya mengelus poninya, bukan memeluk atau menciumnya. Apa dia benar-benar marah karena kejadian kemarin malam? Pikir Minseok.

“Jangan berpikir yang aneh-aneh, Xiuminnie.”

Mata Minseok sedikit melebar karena Luhan bisa membaca pikirannya. Ketika Luhan juga masuk ke mobil, keduanya langsung memasang sabuk pengaman bersamaan lalu Luhan melajukan mobil itu dengan kecepatan sedang.

“Apa aku orang yang mudah ditebak?” tanya Minseok penasaran karena sudah sering Luhan bisa menebak apa yang dipikirkannya.

“Tidak juga,” jawab Luhan singkat.

“Lalu kenapa kau selalu benar saat menebak pikiranku?”

“Aku tidak pernah menebak, aku hanya merasakannya.”

“Benarkah? Memangnya apa yang kau rasakan barusan?”

“Aku merasa tingkahku aneh sejak tadi pagi, jadi sepertinya kau langsung menyadarinya dan mencoba menebak ada apa denganku, kan?”

“Ya…kau memang aneh.”

“Apa aku harus menciummu sekarang? Hahaha~”

“Bukan soal ciuman, Gege, tapi soal…teleponmu tadi pagi dan tempat kita bertemu malam ini. Apa kau sedang ada masalah?”

“Oh, tidak-tidak, tadi pagi aku sedang sangat sibuk jadi buru-buru menutup telepon kita. Lalu masalah kita bertemu di sini, aku sedang malas bertemu orang-orang yang langsung mengerumuni kita. Aku juga butuh waktu privasi dengan pacarku, bukan? Apa kau keberatan?”

“Tidak, aku sama sekali tidak keberatan. Harusnya hari ini aku ingin mengajakmu ke kafe rekomendasi temanku, dia bilang punya ruangan yang nyaman untuk kita tanpa gangguan orang-orang, tapi karena kau ingin menunjukan sesuatu padaku, jadi kapan-kapan saja kita ke sana.”

“Kenapa kau tidak bilang daritadi? Huft…aku sendiri bingung mau kemana malam ini.”

“He? Bukan salahku dong.”

“Kita ke apartemenku saja, ya? Setelah membeli makan malam, kita makan di sana.”

“Kau tidak akan macam-macam, kan?”

“Hya, kenapa kau selalu berpikir aku mesum atau semacamnya, sih?”

“Hanya penasaran dimana Luhan yang kukenal.”

“Maksudmu?”

“Kau agak pendiam malam ini. Apa kau kelelahan? Jika kau lelah, aku akan menunggu sampai besok baru kita bicara lagi.”

“Iya, aku memang kelelahan, tapi di saat seperti ini aku ingin terus bersamamu, Xiuminnie.”

“Kalau begitu aku akan menemanimu malam ini.”

“Kau mau tidur denganku?” tanya Luhan penuh antusias.

“Lu-ge, berhenti berlebihan. Sudah kubilang kita bisa tidur bersama hanya saat terpaksa.”

“Jadi sekarang kau terpaksa? Huft…”

“Hahahaha, ini dia Lu-ge yang kukenal.”

Luhan menatap Minseok sejenak lalu menyimpulkan senyum tipis dan kembali fokus pada jalanan walaupun pikirannya tidak di sana. Maafkan aku, Xiumin, aku tidak jujur padamu. Batin Luhan.

***

Luhan dan Kim Minseok tiba di apartemen Luhan setelah membeli sup daging dan beberapa kaleng bir. Sebenarnya Minseok sudah melarang Luhan untuk minum bir karena itu tidak baik untuk kesehatan, tapi Luhan hanya tertawa dan berjanji tidak akan meminumnya terlalu sering. Lagipula selain bir, dia juga membeli jus kaleng untuk Minseok yang sangat anti pada alkohol.

Sementara Minseok memanaskan sup mereka, Luhan diam-diam pergi ke kamar untuk menyembunyikan foto aneh yang diterimanya pagi tadi. Luhan menaruh foto itu di kantung salah satu jasnya yang jarang dipakai karena dia berpikir Minseok tidak akan menemukannya jika dia tidak memakai jas itu.

Setelah menaruhnya di tempat yang aman, Luhan keluar dan membantu Minseok menyiapkan meja. Minseok yang baru saja selesai memanaskan sup segera mengangkat panci sup yang agak besar itu menuju meja makan. Luhan mengawasi Minseok sampai panci itu benar-benar berada di tempatnya. Keduanya duduk berhadapan lalu Luhan mengambil mangkuk Minseok untuk menaruh nasi di dalamnya.

“Ini,” kata Luhan sambil menyerahkan kembali mangkuk Minseok.

“Gomapta.”

Mereka berdua pun makan dalam diam, larut dalam pikiran masing-masing. Ingin sekali keduanya menceritakan masalah masing-masing soal kejadian tadi pagi, tapi ada desakan yang membuat keduanya tetap bungkam.

“Xiumin-a,” panggil Luhan yang tidak tahan dengan kediaman ini, “apa supnya enak?” yang akhirnya hanya bisa menanyakan hal itu.

“Eum, menurutmu?”

“Aku cukup sering makan di sana jika tidak makan di rumahmu. Oiya, minggu depan setelah premiere film, aku akan pulang.”

“Oh? Tiba-tiba sekali.”

“Kau juga ikut ke China untuk mempromosikan film ini, kan?”

“Iya sih…”

“Untuk beberapa hari ini sepertinya aku tidak bisa menjemputmu, jadi kau harus pulang langsung ke rumah, oke?”

“Sesibuk itukah kau sampai tidak bisa menjemputku?”

“Iya. Pengambilan gambar untuk beberapa hari ini akan sangat intensif, jadi aku akan pulang larut.”

“Jika sempat, makan malam di rumahku, ya?”

“Aku tidak janji.”

Nada suara Luhan berubah dingin dan itu membuat Minseok semakin cemas. Berhubungan dengan foto itu, apakah si peneror sudah melakukan aksinya pada Luhan? Oh, Minseok-ah, kau harus menanyakannya.

“Apa ada yang mengganggumu akhir-akhir ini?”

“Mengganggu apanya?”

“Aku tidak tahu, ya…mungkin ada sesuatu yang membuat pikiranmu tidak fokus?”

“Tidak ada.”

“Kemampuan aktingmu sangat bagus, Xi Luhan, aku tidak bisa menebak apakah itu hanya akting atau nyata.”

“Oh, Xiumin…jangan mulai…”

“Baiklah, dari dulu memang begitu, selalu aku yang tidak tahu apa-apa.”

“Bukan begitu, tapi memang tidak ada apa-apa.”

“Aku yang akan membereskan semuanya, kau bisa tidur duluan.”

“Kau marah?”

“Tidak…”

“Percayalah kalau semuanya baik-baik saja, eum?”

“Ne.”

Luhan tidak melanjutkan obrolannya karena takut jika kelepasan memberitahu Minseok soal teror itu. Begitupun Minseok, melihat suasana hati Luhan yang sepertinya sedang buruk, dia tidak berani bertanya lebih banyak.

 

Drrt…drrt…drrt…

 

Ponsel Minseok bergetar, panggilan dari Kyungsoo.

“Yeoboseo?”

“Hyung, kau dimana? Apa kau lupa hari ini kita akan makan malam dengan keluarga Sunny-noona?”

“Ya Tuhan! Aku benar-benar lupa! Acaranya jam berapa? Aku akan ke sana secepatnya!”

“Masih setengah jam lagi, tapi kau tidak boleh telat.”

“Baiklah.”

Saat Minseok memutus panggilan itu, dia menatap Luhan ragu dan penuh perasaan bersalah.

“Aku harus pulang. Aku lupa hari ini ada acara makan malam bersama keluarga Sunny-noona. Apa kau mau ikut?”

“Tidak, aku di sini saja.”

“Maafkan aku, Lu-ge. Aku benar-benar lupa memberitahumu.”

“Tidak apa-apa. Kau bisa pulang sendiri, kan?”

Itu sesuatu yang baru lagi untuk Minseok. Tidak biasanya Luhan membiarkan Minseok pulang malam sendirian, apalagi setelah berkunjung ke apartemennya. Luhan yang ada di depannya bukan Luhan yang dia kenal, sungguh.

“N-ne, aku bisa pulang sendiri.”

Minseok memang bukan tipikal orang manja yang selalu meminta diantar kemana-mana oleh pacarnya, tapi ini terlalu tiba-tiba. Minseok tidak tahu kenapa Luhan berubah malam ini, dan Luhan sendiri bersikeras untuk menyembunyikan masalahnya. Ingin sekali sekarang Minseok menampar Luhan untuk menyadarkan namja itu kalau tidak seharusnya dia berbohong, tapi Minseok sendiri sedang menyembunyikan sesuatu, jadi mereka satu sama.

“Aku akan menemanimu besok malam, Lu-ge, aku janji.”

“Tidak perlu. Sudah kubilang kau harus langsung pulang, kan?”

“Baiklah. Aku pulang dulu ya. Habiskan makan malammu, akan sayang jika dibuang.”

“Eoh.”

Minseok mengambil mantelnya lalu berjalan keluar tanpa menoleh ke belakang karena bingung dengan sikap Luhan. Setelah Minseok menghilang dari pintu keluar, Luhan segera melempar sumpitnya lalu berlari menyusul Minseok. Punggung Minseok yang terlihat menjauh membuat Luhan sedikit lega karena belum tertinggal jauh darinya. Dengan langkah hati-hati, Luhan mengikuti Minseok untuk memastikan Minseok menaiki bis yang benar. Pasalnya Luhan tidak pernah membiarkan Minseok pulang sendiri selama dia di sini.

“Maafkan aku, Xiuminnie, aku tidak mau melakukan ini, sungguh. Tapi, jika keberadaanku membuatmu dalam bahaya, maka aku harus melepasmu sementara sampai keadaan tidak memaksa.”

Luhan berdiri di balik pohon besar dekat halte sambil memperhatikan Minseok yang duduk sendirian. Minseok beberapa kali mengusap telapak tangannya karena malam ini sangat dingin bahkan lebih dingin lagi karena tidak ada Luhan di sampingnya, pikir Minseok.

Luhan ingin sekali memeluk tubuh itu, tapi tidak bisa. Dengan sangat frustasi, Luhan meninju pohon yang bersedia menjadi tempat persembunyiannya. Beberapa kali dia membisikan nama kekasihnya itu, seperti memaksa pikirannya kalau Minseok akan baik-baik saja.

Beberapa saat kemudian, bis yang akan dinaiki Minseok datang. Dengan sedikit tergopoh, Minseok menaiki bis itu dan duduk dengan perasaan gelisah. Luhan segera bersembunyi saat bis itu melewatinya.

“Tolong berjanjilah untuk baik-baik saja selama aku tidak bersamamu, Xiuminku,” kata Luhan pasrah.

***

“Jongdae-ssie, aku ingin bertanya padamu,” kata Jinho yang sedang asyik membaca beberapa kasus tahun lalu.

“Iya?”

“Apa kelompok mafia yang menyerang Kim Minseok dan keluarganya benar-benar mafia yang kita cari?”

“Iya, aku 100% yakin. Melihat dari senjata yang mereka gunakan dan pola yang selalu sama, yaitu kematian salah satu anggotanya bernama Hwang Zitao setelah gagal melaksanakan misi.”

“Sebenarnya tujuan utama mereka apa sih? Kenapa mereka harus meneror orang yang tidak sepenuhnya terlibat dengan mereka?”

“Mereka sedang menyembunyikan identitas. Karena kau membahas ini, aku jadi ingat dengan Minseok-hyung. Aku takut mereka belum melepas pengawasannya pada Minseok-hyung karena secara tidak langsung dialah yang membuka jalan pada kami untuk menemukan mereka.”

“Lalu bagaimana kalau mereka beraksi lagi?”

“Maka kami harus lebih siap.”

“Apa aku boleh ikut dalam penyelidikan ini?”

Jongdae hanya mengangguk karena sekarang hatinya sedang tidak tenang. Hal yang seharusnya tidak dia lupakan malah terlupakan begitu saja karena kesibukannya akhir-akhir ini. Masih ada mereka yang sedang menunggu dan menertawakan kepolisian Korea. Jongdae dan yang lain tidak boleh lengah lagi.

***

Seorang lelaki bertubuh tinggi berjalan dengan perasaan gugup melewati lorong sebuah rumah yang super megah. Dia memakai kacamata hitam untuk menutupi sebagian luka memar serius di wajahnya dan jika diperhatikan lebih dekat, kaki lelaki itu sedikit pincang, penampilannya seperti orang yang baru dipukuli. Lelaki itu mempercepat langkahnya saat melewati belokan di depannya, tanda sebentar lagi dia sampai.

Sesampainya dia di tempat yang dituju, tubuhnya membungkuk hormat pada dua penjaga yang bertubuh lebih tinggi darinya. Kedua lelaki itu menyeringai lalu salah satunya mendekati lelaki itu dan menepuk pundaknya.

“Apa kau datang kemari untuk dipukuli lagi?”

“T-tentu saja tidak. Tuan Choi memanggilku.”

“Benarkah? Baiklah, masuk!”

Lelaki itu didorong dengan kasar oleh si penjaga sementara penjaga lainnya membuka pintu ruangan. Saat melihat lelaki itu masuk tergopoh-gopoh, orang yang dipanggil ‘Tuan Choi’ yang menyuruhnya ke tempat itu segera menghentikan pekerjaannya lalu menatap lelaki itu dengan tatapan meremehkan.

“Senang melihatmu lagi, Hwang Zitao.”

 

 

———————————————————————-

A/N : Hi, i’m back! Entahlah, kenapa aku bisa punya pikiran gila buat bikin sequel My Immortal Love is You . mungkin karena saya masih belum bisa move on dari LuHan (?) tapi yang pasti, kalian pernah kepikiran ga kalau kelompok mafia yang ngincer keluarga Byun nggak mau berhenti begitu aja? Hahahaha *ketawa jahat* . Pembuatan ff ini juga akan sangat lama … dari serial pertama karena …dengan alasan yang mainstream, sibuk kuliah *sok sibuk* . kkkk . maafkan aku kalau chapter selanjutnya bakal lamaaaa bingit keluarnya . So… ENJOY IT

Advertisements

24 thoughts on “My Answer is You _ XiuHan/LuMin (Bagian 01)

  1. Wah bener2 gak nyangka lho klo ada kelanjutannya ni ff, ternyata tao masih hidup :v ok deh di tunggu kelanjutan ff nya lama jg gak papa yg penting ff nya gak di telantarkan gitu aja (Y)

  2. ini nih yg di sebut php uhh
    nerusin ff nya trus bilang bakal lama update nya /unyel2 kepala luhan/ tegaaaaaa….

    apa lg itu,, rencana apa lagi yg mau dilakuin untuk minseok??
    minseok selalu dibuat tidak nyenyak dlm tidurnya ya,, uuu kasian minseok…

    aku jg blm bisa move on dr rusa beijing 😦

    • hoaaaaa. maaf yaaaa aku sering php beginiii. aku baru bisa update Januari tahun 2016 . Oh God…apa-apaan iniiii. aku juga baru buka blog usang ini , hari ini. Maaf banget yaa 😦 makasih banyak udah ngikutin ffku ya Ristaaa 😀

  3. yeay!!
    gk nyangka akan dibuat sequelnya 🙂 tapi aku seneng..

    jinho itu cast bru ya?

    menurutku yg neror xiuhan itu klmpok mafia yg dlu nyelakain xiumin, trus mrka sngja nror, krna luhan berinisiatif ngjauhin xiumin krna luhan tkt xiumin dlm bhya lg..
    kn untk smentara wktu xiuhan gk bsa brsma smpe mslh teror ini slesai..
    nah krna mrka pisah mungkin ini bkal mmpermudah pelaku untk mnclakai mrka atau slh 1 dr mrka..
    xiumin trget utma si mafia yeth??

    pgn bhagia ajah bth perjuangan yg sangat -_- 😀

    ditnggu next chapter ^_^ jgn lama” 😀 😀

    • iyyaa, jinho itu cast baruu . Prediksi kamu benar, say. Xiumin adalah target utama kelompok mafia itu. Sebenernya masih ada 1 rahasia lagi yang belum Minseok inget untuk membongkar identitas mereka. Minseok emang nggak punya ingatan futuristik *eh apasih itu yang bisa inget setiap detail kehidupan dia* tapi asalkan ada yang memicunya, dia pasti inget. aku jamin. *iyalah gue penulisnya* wkwkkk.
      Maaf ya baru update lagii . Makasih banyak kamu udah ngikutin ff-ffkuuu

  4. Wah ada sequelnya ternyata..
    Jinjja eonnie daebak!! ^o^)b

    Duh ff eonnie emang keren ya, susah buat nebaknya 😀 ah iya aku lupa gimana kabar Sehun sekarang, yang aku inget dia dokter kan yah? o.O
    Kalo Lu-ge jarang ketemu Umin, mereka momennya dikit dong? tapi ya sudahlah demi kebaikan mereka (?) kan kata Lu-ge? 😀 hihihi

    Sama eon aku juga gak bisa move on dari rusa jejadian itu sama galaxy fan juga 😥 mereka pake apa ya aku jadi gak bisa move on begini? :v *lupakan*
    Aku tunggu lanjutannya ya eon, aku gak akan bosen baca ff eonnie^^

    Annyeong eon /lambai tangan bareng XiuHan/ fighting! ‘-‘9

    • wkwkwk malah inget sehun kamu maaaahhh . Kayaknya di MAIY ini Lu-ge agak berkurang, tapi rencananya bakalah nambah nanti *apasih ini anak*
      maaf banget ya aku baru bisa update sekarang 😦 tahun kemarin aku lagi nggak mood banget ihhhh *jahat* moodnya di awal doang. Maaf yaa.
      Makasih udah ngikutin ff-ff akuuuu . kecupan buat kamuuuu

  5. Akhirnya dibikinin sekuel juga (y) Dan ternyata banyak cast baru disini…

    Duh *tepuk jidat* penjahat gak ada berhentinya gangguin Minseok -,,- Luhan juga mau batesin intensitas pertemuan dia sama Minseok :3 XH momen bakalan berkurang deh…

    Huaaa… Ternyata Tao masih hidup 😮 Terus tuan choi siapa lagi ? Uuh bikin kepo..

    Walaupun sibuk kuliah tetep sempetin nulis dong 😀 Moga aja gak lama buat next chapter, fighting thor ^^

    • iyaaa. banyak cast baruuu niii. he-he-he.
      aku masih kesyel gr2 luhan keluar, jadi kudepak sebentar dia dari ffku. heu.
      Iya, tao masih hidup ternyata O_O aku baru tau *apasih*
      tuan Choi ini kejam banget, dia kejammmm banget, aku pengen dia mati *HOAHAHA, ketawa jahat*
      Makasih yaaa udah baca dan komentar. Maaf aku baru bisa lanjutin ff ini sekaranggg .

  6. aku ud sempet hopeless ngira ff sebelumnya gabakalan ada lanjutan. eeh ternyata ada astaga aku seneng bgt xD
    mana mulai muncul konflik baru lagi. kkk semangat authornim!!♡♡♡

    • maaf yaaa aku lama banget bikin lanjutanyaaaa. aku baru dapet mood nih tahun iniii. Makasih banyak udah ngedukung ff-ffku yaaa. Nama asli kamu sapa nihh? biar kita enak ngobrol di komentar. ^^ .

  7. Aaaaaaa kakakaaaaaaaa aku bolak balik blog ini cuma pengin liat apa udah ada ff baru yg update apa belom, sampee aku capek sendiri bolak balik mulu, hehe
    tapi, waktu tadi aku buka blog ini dan tau kalo kaka update ff baru, aku langsung pengen jejingkrakan sendiri.
    Aku sukaaaa banget sama semua ff kak. Ibaratnya tuh, aku penggemar onlinenya kaka, hehe
    oh ya, aku nggak pernah kepikiran deh kalo ff miliu bakal ada sequelnya, soalnya menurutku ending ff itu udah perfect. Tapi, ggp sih, klo kaka bkin sequel, itung2 sbg obat rindu ke ff kaka, hehe

    • ngoaaaaaaa. aku merasa bersalah banget sama kamu 😦 aku baru update setahun kemudian. Maafin aku ya .. nama asli kamu sapa? Biar enak kalau ngobrol di komentar 🙂 . Aku nggak enak banget sama pembaca yang udah komentar tapi kuanggurin. Aku nggak buka blog ini udah lama banget dan sekarang baru kekumpul lagi moodnya. Makasih banyak banget ya 🙂

  8. Jd My immortal ada sequelnya lg. Dan My Answer ini sequelnya. Oooo….daebak (y)(y)
    Kiraiin msalah XiuHan udah slesai. Trnyata urusan sma Mafia nya blm kelar. Nasib Xiumin kembali terancam 😥 😥 eothokkee???? Next thor. Penasaran!

    • iya Iphaaaa 😀 ada sekuelnya. Aku masih nyisain misteri soal mafia itu sebenernya. Nggak enak ya kalau dianggurin? Hehehe.
      maaf banget ya aku baru update . Makasih banget Ipha udah ngikutin ff-ffku 😀 muahhh

    • maaf ya lutfia 😦 Aku baru update 9 bulan kemudian. Demi apapuunnnnn aku nggak mood banget tahun kemarin bikin ff . Makasih banyak ya udah komentar dan nunggu kelanjutannya. ^^

  9. Apakah pensaran ku ini benar? Aku sedikit penasaran denan keluarga kepolisian yg baru itu. Sungguh apa ada kaitan nya dengan orang itu kak? Dan aku juga mulai penasaran dengan pegawai baru itu kak, apa hanya sampai di makan malam saja atau masih ada yang lain? Tidak kah itu terlalu cepat? Kk pasti tau apa yg aku maksud.. Sumpah kk daebak! !

    • Harus ada misteri-misteri lain! Aku mau bikin kalian penasaran terus di setiap chapter *rasakan, hahaha* . Aku sendiri penasaran ini bakal kelar tepat waktu atau nggak. Maaf ya aku baru lanjut sekarang. Makasih banyak banget buat dukungan kamu, Reni 🙂 love yaaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s