My Immortal Love is You _ XiuHan/LuMin (Bagian 18 + EPILOG – END)

Tittle: My immortal love is you

Author: Fie

Genre: romance, family, drama, boyxboy

Length: Multichapter

Rated: T

Languange: bahasa

Pairing: LuMin/XiuHan

Cast:

– EXO XiuMin as Kim Minseok/XiuMin/Byun Daehyun

– LuHan as Xi Luhan

– EXO Baekhyun as Byun Baekhyun

– EXO Chanyeol as Park Chanyeol

– EXO SuHo as Kim Joonmyun

– Kris as Wu Yifan

– EXO Lay as Zhang Yixing/Lay

– EXO D.O as Kim Kyungsoo

– EXO Sehun as Kim Sehun

– EXO Kai as Lee Jongin

– EXO Chen as Lee Jongdae

– EXO Tao as Hwang Zitao

– Other….

“Sebuah cerita tentang kasih sayang yang akan terus abadi.”


 

Eighteen – My Immortal Love is You

“Walaupun akhir kehidupan itu pasti datang, tapi kami akan terus bersamamu, bersama cinta kita, selamanya.”

 

AKU berusaha melepas ikatan di tanganku dengan bagian tajam pada gelang yang diberikan Luhan saat Joonmyun-hyung berdiri.

“Hinalah aku sepuasmu, toh setelah ini aku tidak perlu melihat wajahmu. Seulgi-ssie, berikan pistolku.”

Seulgi tidak melakukan perintah Joonmyun, dia malah menatap Joonmyun dengan tajam. Aku punya firasat buruk tentang ini.

“Park Seulgi?”

“Apa kau pernah berniat membunuh Oppaku?”

“Mwo?”

“Apa kau pernah berniat membunuhnya untuk melihat Byun Baekhyun sedih seperti yang akan kau lakukan pada Luhan?”

“Ani…aku tidak mungkin membunuh orang kepercayaanku sendiri.”

“Benarkah? Apakah Tao-oppa sudah berbohong padaku? Dia bilang kau sering menyuruhnya untuk membunuh Chanyeol-oppa saat dia melakukan kesalahan. Apa kau pikir nyawa seseorang tidak lebih berharga daripada balas dendammu?”

“Apa yang kau katakan?”

“Jika kau sudah tidak menghargainya, lalu untuk apa orang lain menghargai nyawamu?”

Seulgi mengambil pistol yang seharusnya digunakan Joonmyun untuk membunuh kami lalu mengarahkannya tepat ke dada Joonmyun. Andwe, aku tidak bisa membiarkan ini, Joonmyun-hyung tidak boleh mati, dia harus mendapatkan jawaban itu.

“Apa yang sedang kau lakukan, hah?”

“Aku ingin kau pergi ke tempat Oppaku sehingga dia bisa menghukummu di sana. Apa kau siap?”

“S-Seulgi-ssie.”

Ikatan itu terlepas!

Aku segera bangkit dan berlari saat Seulgi menekan pelatuk pistolnya. Kupeluk Joonmyun-hyung erat, dan…

DARR

Appa, apakah seperti ini rasanya ketika kita akan meninggal? Semuanya terlihat putih, seperti sedang berada di dalam kertas putih. Aku bisa melihat semua kenanganku tergambar di sana, Appa.

 

“Daehyun-a!!”

“Xiumin!!”

Peluru itu menembus punggungku dan tubuhku tiba-tiba saja tidak bisa digerakan.

Deg…deg…deg…

Kurasakan Joonmyun-hyung menurunkanku perlahan. Aku bisa melihat wajahnya berkeringat dan cemas. Dengan tangan gemetaran, digenggamnya tanganku erat dan kubalas.

“A-apa yang kau lakukan?”

“Kau tidak seharusnya sendirian, Hyung, aku akan menemanimu saat kau membutuhkanku.”

“A-apa yang kau pikirkan? Kenapa kau melindungiku, hah?!”

“A-aku…heuh-heuh, aku ingin kau bisa menemukan jawaban itu sendiri, Hyung. Aku ingin kau bertanya pada Nenek tentang perasaannya. K-kau…kau harus memberitahuku.”

Aku sudah tidak kuat, sungguh…tubuhku benar-benar sakit. Aku tidak bisa menahan kesadaranku lebih lama lagi dan akhirnya…mataku menutup.

“D-Daehyun-a, bangun, Daehyun-a!”

***

“D-Daehyun-a, bangun, Daehyun-a!”

DUAKK

Wu Yifan mendobrak pintu dan sekelompok orang berpakaian serba hitam dengan jaket anti peluru masuk. Beberapa di antara berusaha melepaskan ikatan Luhan dan Baekhyun.

“Bawa Tuan Daehyun ke rumah sakit!” teriak Yifan.

Luhan segera berlari menyusul Minseok, sedangkan Baekhyun berjalan dengan perasaan kacau menghampiri Joonmyun yang sedang dibekuk.

“Tunggu sebentar,” kata Baekhyun, “aku ingin berbicara dengannya.”

Baekhyun menarik kerah Joonmyun sehingga wajah keduanya cukup dekat, tapi Joonmyun memalingkan wajahnya ke arah lain.

“Jika adikku tidak selamat, kau juga akan mati di tanganku!”

“Baekhyun, kenapa, kenapa dia ingin menyelamatkanku?”

“Daehyun pernah bilang padaku, hanya dia yang bisa menghentikanmu karena…dia memahami perasaanmu, Joonmyun.”

“P-perasaanku?”

“Kau akan menyesal seumur hidup jika adikku tidak selamat, ingat itu.”

***

Luhan terus menggenggam tangan Minseok sepanjang perjalanan. Dia juga tidak berhenti berkata, ‘bangun Xiumin’. Wajahnya sangat pucat dan terus mengeluarkan keringat karena cemas. Sampai Minseok masuk ke ruang operasi, dia baru melepas genggaman itu.

“Aku mohon, Xiumin…bangunlah…bangunlah…”

Luhan menyandar di dinding dan terus berdoa untuk keselamatan Minseok. Tak berapa lama kemudian, Kyungsoo, Baekhyun, dan Jung Shinae datang.

“Luhannie, dimana Minseokku?” tanya Shinae dengan suara bergetar, tanda dia sedang menahan tangis.

Luhan tidak menjawabnya karena sekarang pikirannya sedang kacau. Dia tidak bisa berpikir apa-apa selain keselamatan Minseok, jadi dia hanya diam lalu terduduk sambil menunduk.

“Baekhyun-hyung, sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Kyungsoo pada Baekhyun yang berdiri di samping Luhan.

“Saat Seulgi akan menembak Joonmyun, Minseok langsung berlari untuk melindungi Joonmyun sehingga…”

“J-jangan bilang…”

“Mian…”

Jung Shinae dan Kyungsoo juga terduduk di lantai saat mendengar berita itu.

“Seharusnya aku bisa menjaganya, seharusnya aku bisa mencegahnya…,” kata Luhan lirih.

***

“Appa, aku ingin bertemu denganmu. Aku sudah benar-benar lelah dengan semuanya. Aku ingin beristirahat sejenak.”

“Dokter Kim, jantungnya semakin lemah!”

“Berikan kejutan lagi!”

“Baik.”

“Ayo, Minseok-a, bertahanlah. Kau Minseok yang kuat, bukan? Ayo bertahan…”

“Dokter Sehun! Dia benar-benar kritis!”

“Aish…Minseok-ah…”

“Appa, apakah tempatmu indah? Aku igin ke sana.”

“Jangan, Minseokkie.”

“Nde?”

“Ini bukan waktu untukmu meninggalkan Eomma dan Kyungsoo. Kau harus bertahan.”

“Tapi aku lelah, Appa. Aku benar-benar lelah…”

“Kau akan menemukan sesuatu yang indah di balik rasa lelahmu.”

 

Deg…deg…deg…

“Dokter Kim, jantungnya kembali stabil!”

Entah bagaimana Sehun mengungkapkan rasa senangnya. Dia menghela nafas lega dan tanpa sadar airmatanya menetes.

“Gomawo, Minseokkie, gomawo…”

***

Lampu tanda operasi selesai menyala. Luhan dan yang lain langsung berdiri dan berlari menuju Sehun yang keluar dari ruang operasi.

“Sehun, bagaimana keadaanya Minseok?” tanya Jung Shinae.

Sehun tidak bisa menjawabnya karena sekarang dia terlalu senang. Dia hanya bisa tersenyum sambil mengangguk, tapi itu berhasil membuat keluarga Minseok bernafas lega. Tiba-tiba tubuh Shinae oleng dan terjatuh dalam dekapan Kyungsoo.

“Eomma, Eomma!”

“Cepat bawa Bibi ke salah satu kamar, dia pasti sangat syok.”

“I-iya!”

Kyungsoo dibantu Baekhyun segera membawa Shinae pergi, sedangkan Luhan masih di sana bersama Sehun.

“Sehun-ssie, bisakah aku menemani Xiumin?”

“Dia masih butuh istirahat, Hyung, jadi sebaiknya—“

“Aku mohon…”

Melihat mata lelah Luhan, Sehun tidak tega dan akhirnya memperbolehkan Luhan menemui Minseok setelah para perawat memindahkannya ke kamar rawat.

Saat Luhan masuk, Minseok belum sadarkan diri, jadi dia mengambil kursi dan menaruhnya di samping kasur Minseok dengan sangat pelan. Ditatapnya wajah pucat itu dengan matanya yang agak kabur karena terlalu banyak menangis.

“Semuanya sudah selesai, Xiumin,” lirih Luhan, “dan setelah ini aku akan terus bersamamu.”

Luhan mengelus pipi Minseok dan mengecupnya pelan.

“Jika kau tidak selamat, aku akan membunuh Joonmyun.”

“Aku juga.”

Luhan menoleh pada Baekhyun dan Kyungsoo yang baru datang setelah mengamankan Jung Shinae di kamar lain.

“Aku juga akan membunuh Joonmyun karena membuat Daehyun mempertaruhkan nyawa untuknya,” kata Baekhyun.

“Tapi kenapa Minseok-hyung harus melindungi Joonmyun?”

“Dia ingin Joonmyun bertanya pada Nenek tentang perasaannya. Daehyun tidak ingin Joonmyun meninggal sia-sia dengan balas dendam itu, tapi sebenarnya…dia juga belum menemukan jawabannya sendiri.”

“Jawaban apa?”

“Kenapa Eomma baru berkata kalau dia mencintai Daehyun di saat terakhir. Daehyun belum menemukannya.”

“Dia tidak berpikir panjang jika ingin menyelamatkan orang lain,” kata Luhan.

“Begitulah Minseok-hyung, dia selalu melakukan apa yang diinginkannya. Terkesan egois sih, tapi selalu ada akhir yang baik dari keputusannya. Semoga Minseok-hyung bisa menemukan jawaban itu.”

“Kyungsoo-a, mulai sekarang kau harus mendengarkan kata-kata Hyungmu. Jika dia bilang sebaiknya kau tidak pindah, maka kau tidak usah pindah,” omel Luhan.

“Iya-iya, aku juga tidak berniat pindah kok.”

“Lalu kenapa?”

“Aku hanya bercanda.”

“Ey…”

“Hei-hei kalian bertiga keluarlah, Minseok butuh istirahat,” kata Sehun dari pintu kamar.

“Ani!” teriak ketiganya.

“Hya! Jangan teriak-teriak!” omel Sehun.

“Kau sendiri mengomel, Hyung.”

“Eh, sssh, pokoknya kalian bertiga harus keluar. Setelah aku memeriksanya, kalian boleh masuk lagi.”

“Baiklah, ayo kita keluar,” kata Baekhyun.

“Kami harus masuk lagi, awas ya!” kata Kyungsoo.

“Iya-iya.”

Setelah ketiga namja itu keluar, Sehun menutup pintu kamar dan mendekati Minseok. Ditatapnya wajah itu lekat lalu mengelus dahi Minseok perlahan.

“Aku tidak menyangka akan mengoperasi sepupuku sendiri. Untung saja kau selamat, kalau tidak, mungkin aku akan meninggalkan profesiku, Minseok-a.”

Saat Sehun memeriksa tekanan darah Minseok, tangan Minseok berusaha menyentuh tangannya. Sehun terkejut bukan main melihat reaksi itu. Dia langsung memeriksa detak jantung Minseok.

“Sehun-a…”

“Minseok-a, kau sudah sadar?”

“Dimana aku?”

“Ini di rumah sakit, Minseok. Jangan bicara terlalu banyak, kondisimu masih sangat lemah.”

“Punggungku sakit…”

“Aku akan memberimu obat penahan rasa sakit, kau harus tahan sedikit ya.”

“Sehun-a, apa yang terjadi?”

“Ssssh, sekarang kau harus istirahat total. Setelah itu, Luhan dan yang lain akan menceritakannya padamu.”

“Lu-ge? D-dimana dia? Dimana Baekhyun-hyung dan Kyungsoo?”

“Mereka ada di luar, tapi kau harus tidur sekarang.”

“Ani. Tolong panggilkan mereka kemari.”

“Tidak bisa, kondisimu sangat lemah.”

“Jebal, Sehun-a, jebal…”

Sehun tidak bisa menolak keinginan Minseok dan akhirnya memanggil 3 namja yang diusirnya tadi untuk masuk kembali. Luhan sedikit berlari dan langsung menggenggam tangan Minseok.

“Xiuminnie, kau sudah sadar?”

“Lu-ge…”

“Jangan terlalu banyak bicara, Xiuminnie. Tenang saja, aku akan terus bersamamu, jadi kau bisa tidur dengan tenang sekarang.”

“Euh…”

“Aku akan menyuntikan obat penahan rasa sakit pada Minseok, jadi tolong geser sedikit, Luhan.”

“Ne.”

Wajah Minseok meringis lemah saat Sehun memberikan obat padanya, membuat Luhan tidak berani melihat wajah kesakitan itu. Baru setelah Sehun selesai, Luhan kembali duduk di samping Minseok dan menggenggam tangannya.

“Tidur, ya?”

“Ne.”

Minseok memejamkan matanya dan kembali terlelap.

“Aku akan menemani Eomma,” kata Kyungsoo.

“Aku juga, Kyungie,” kata Sehun.

Setelah Sehun dan Kyungsoo pergi, Baekhyun mengambil kursi lain dan menaruhnya di samping Luhan.

“Apa kau tidak meminta restuku?” kata Baekhyun sedikit menggoda.

“Apa maksudmu?”

“Dia itu adikku, apa kau tidak meminta restuku?”

“Oh. Aku tahu kau akan mengizinkannya.”

“Ohya? Sebenarnya aku memiliki calon yang lebih baik daripada kau.”

“Apa? Siapa?”

“Kim Sehun.”

“Hya, mereka itu bersaudara!”

“Gampang. Daehyun tinggal membatalkan surat adopsinya dan aku akan menjodohkannya dengan Kim Sehun.”

“Ha-ha-ha, sangat lucu. Itu tidak mungkin terjadi.”

“Hahahaha, tentu saja tidak, Luhan. Aku tahu kau sangat mencintainya.”

“Berhenti menggodaku.”

“Maafkan aku ya.”

“Ey…tidak usah minta maaf hanya karena menggodaku, Yifan-gege sering melakukannya.”

“Bukan. Bukan soal menggoda.”

“Lalu?”

“Tentang kejadian 19 tahun yang lalu, saat aku melarangmu berteman dengan Daehyun.”

“Oh, masalah itu.”

“Aku minta maaf, ya.”

“Xiumin sudah pernah memarahiku untuk memaafkanmu, jadi kau tidak perlu minta maaf.”

“Benarkah? Hahahaha, dia benar-benar adik berbakti.”

“Hei, setelah Xiumin pulih, segera siapkan konferensi pers untuk mengumumkan hubungan kami ya.”

“Oh, tentu.”

“Kalau kau tidak menyiapkannya dengan benar, aku akan keluar dari Byunkor Media.”

“Hya, kau tidak professional. Bagaimana artis sepertimu keluar hanya karena urusan pribadi, hah?”

“Hei…adikmu lebih penting daripada perusahaanmu. Aku bisa bekerja di manajemen lamaku karena beberapa hari yang lalu mereka memintaku kembali.”

“Ha-ha-ha, lucu sekali. Byunkor Media adalah bagian terpenting dari perusahaanmu, jadi kau tidak perlu repot-repot kembali ke sana. Kami akan mempertahankanmu.”

“Ohya? Baguslah kalau begitu, jadi aku bisa fokus sekarang.”

“Jadi daritadi kau mengujiku?”

“Aku tidak bermaksud seperti itu lho~”

“Hya!”

“Ssssh, adikmu sedang tidur.”

***

Suasana hening di ruang interogasi membuat Lee Soonkyu dan Kim Joonmyun merasa canggung. Soonkyu belum memulai pertanyaannya karena dia sedang menguatkan hatinya untuk mempertahankan pendiriannya.

“Kim Joonmyun-ssie,” kata Soonkyu, membuat Joonmyun mengangkat wajahnya, “sudah berapa lama kau merencanakan pembunuhan keluarga Byun?”

“ Sejak Appaku masih hidup.”

“Jadi rencana itu seharusnya milik Appamu? Kenapa kau meneruskannya?”

“Aku merasa kepergian Appaku tidak adil.”

“Bisa kau jelaskan lebih rinci?”

“Appaku tidak bersalah dalam kasus penggelapan uang itu, tapi dia harus menanggung hukuman. Itulah kenapa aku ingin membalas dendam pada keluarga Byun.”

“Jadi sudah 19 tahun kau merencanakan ini?”

“Iya.”

“Hakim yang menangani kasusmu sudah menyerahkan dirinya ke polisi. Dia sedang membayar kesalahannya.”

“Mwo?”

“Appaku diberi hukuman karena membuat kesalahan dalam keputusan hasil.”

Soonkyu mematikan perekam yang harusnya dia nyalakan selama interogasi karena menurutnya bagaimanapun pertanyaan yang akan diajukan pada Joonmyun, Joonmyun tetap tersangka.

“Soonkyu-a…”

“Appaku telah menyerahkan dirinya sejak kau lulus, Joonmyun-a. Dia merasa bersalah pada mahasiswa kesayangannya.”

Joonmyun hanya terdiam dan menatap Soonkyu yang mulai menunduk karena tidak mau melihat wajah Joonmyun.

“Apa kau menyesal?” tanya Soonkyu dengan suara bergetar.

“Aku tidak tahu.”

“Apa kau tahu jika Appamu berniat menghancurkan keluarga Byun? Itulah alasan Byun Minho, Appa Daehyun, memfitnah ayahmu supaya kau dan Byun Minah terlepas dari Kim Ilsook.”

“Mwo? Appaku?”

“Maafkan aku karena tidak berusaha mencaritahu lebih cepat, Joonmyun-a, maafkan aku…”

Soonkyu tidak kuasa menahan tangisnya. Airmata dan isak tangis yang menyakitkan itu kembali keluar. Joonmyun memajukan tubuhnya dan mengelus pipi Soonkyu.

“Aku yang seharusnya meminta maaf, Sunny-a. Seperti kata Seulgi, aku adalah orang egois yang bodoh. Aku tidak pernah mau melihat di dua sisi. Aku tidak pernah berusaha mencari kebenaran karena termakan oleh amarah. Aku adalah orang yang lemah karena amarah.”

“Jika aku terus di sisimu, mungkin keadaan tidak akan seburuk ini.”

“Jangan pernah mengatakan itu lagi, Sunny. Walaupun aku masih mencintaimu, tapi aku ingin kau melanjutkan kehidupanmu tanpa merasa bersalah padaku. Jika kau terus seperti ini, maka aku akan lebih merasa bersalah.”

“Apa yang akan kau lakukan setelah ini?”

“Tolong sampaikan pada Byun Daehyun, aku telah mendapatkan jawaban itu.”

“Jawaban apa?”

“Katakan saja padanya supaya dia mau mengunjungiku di penjara.”

“Baiklah.”

“Aku akan memulai semuanya dari awal, Sunny-a, dan masalah kelompok mafia itu…jujur aku tidak pernah tahu markas ataupun identitas mereka. Aku hanya tahu mata-mata yang dulu Appaku kirim adalah Huang Zitao. Apa kau sudah bertemu dengannya?”

“D-dia…dia meninggal.”

“Mwo?”

“Dia menembak dirinya sendiri dengan pistol berjenis sama yang dipakai Chanyeol.”

“Sudah kuduga.”

“Ada apa memangnya?”

“Dia berkata tidak bisa mengkhianati kelompoknya dan akan melakukan hal yang sama dengan Chanyeol saat misinya gagal.”

“Seperti Appamu?”

“Iya, kurasa itulah alasan Appa bunuh diri, bukan karena kami diusir.”

”Kelompok mafia itu sangat mengerikan. Mereka menyuruh anggotanya bunuh diri jika misinya gagal.”

“Kudengar Appa Seulgi mantan anggota kelompok itu, bagaimana dia bisa bebas?”

“Oh, itu karena Byun Minho menebus pembebasannya.”

“Paman Minho?”

“Iya. Park Taesung adalah teman baik Byun Minho jauh sebelum masing-masing dari mereka menikah. Di hari kecelakaan itu, Park Taesung mengetahui rencana mereka dengan cara menyadap seluruh informasi kelompok itu. Park Taesung melakukan itu untuk menghindari kejahatan mereka pada keluarganya karena kemungkinan besar keluarganya menjadi incaran utama. Setelah mendapatkan informasi itu, Park Taesung yang bekerja sebagai supir taksi segera pergi menuju lokasi tempat mereka menyembunyikan peledak. Ternyata benar jika kecelakaan itu terjadi karena bom. Bom yang disembunyikan di dalam lubang jalan dan dikontrol dengan remote. Kemarin polisi telah menemukan puing-puing bom yang sangat tua di bawah aspal. Akan tetapi, saat Park Taesung hendak memperingati Byun Minho, mobilnya sudah masuk ke area jalan sehingga Taesung nekat menerobos penjagaan dan ikut menjadi korban.”

“Dimana keluarga Park sekarang? Aku ingin meminta maaf padanya.”

“Mereka telah diamankan oleh polisi, dan seluruh penjaga yang kau utus juga telah dibekuk.”

“Entah kenapa, walaupun aku harus masuk penjara, perasaanku benar-benar lega sekarang.”

“Syukurlah kalau begitu.”

“Tolong sampaikan pesanku tadi pada Daehyun, ya?”

“Iya.”

“Oiya, aku ingin kau membawa anakmu untuk mengunjungiku. Tinggal 3-4 bulan lagi, bukan?”

“Hei…kau benar-benar mengawasiku, ya? Hahahaha.”

“Aku senang bisa mendengar tawamu lagi, Sunny-a.”

“Aku juga senang bisa melihat senyummu lagi, Joonmyunnie.”

***

Setelah mengantar Joonmyun ke sel, Jongwoon datang dan menggenggam tangan Soonkyu.

“Apa kau tahu jika Joonmyun adalah saudara tiriku?”

“Ho? Chincha?”

“Heum. Kim Ilsook adalah Appaku.”

“Bagaimana bisa begitu?”

“Sebelum menikah dengan Byun Minah, Appaku telah berpacaran dengan Eommaku. Kemudian Appaku meninggalkan Eommaku demi Byun Minah, dan saat itu Eommaku sedang mengandungku. Setelah aku lahir, kira-kira saat umurku 9 tahun, Eommaku berusaha mencari Appa, tapi ternyata Appa sudah berkeluarga dan mempunyai anak yang umurnya sama denganku. Lalu Eommaku yang tahu kalau Appaku seorang anggota mafia hendak melaporkan Appaku ke polisi, tapi rencananya berhenti saat kelompok itu mengetahui maksud Eomma. Apa kau ingat Lee-seonsaengnim pernah memberitahu kita kasus penemuan jenis peluru misterius dari pistol kelompok mafia? Itu Eommaku, Sunny. Setelah menyuruhku pergi, Eomma dibunuh oleh kelompok itu sehingga aku harus hidup sendiri selama 3 tahun, sebelum aku datang ke dalam keluarga Kim. Aku datang dengan tubuh menggigil karena putus asa dan merasa benar-benar beruntung bisa bertemu mereka.”

“Kenapa kau baru menceritakan ini padaku?”

“Aku takut menyakitimu. Kau sangat mencintai Joonmyun, bukan? Jika aku memberitahumu semuanya, kau akan semakin bersalah tidak hanya pada Joonmyun, tapi juga padaku.”

“Ani…itu bukan hal yang bisa menyakitiku.”

“Ohya? Apa aku harus menceritakan bagaimana kau menangis sambil menyebut namanya, he?”

“Oppa-ya!”

***

Kim Sehun memeriksa keadaan Jung Shinae lalu mencatatnya di formulir kesehatan.

“Bagaimana, Hyung?”

“Eommamu hanya syok. Dia akan membaik setelah istirahat.”

“Syukurlah…”

“Kau harus menjaganya ya, aku pergi dulu.”

“Hyung, tunggu sebentar.”

“Iya?”

“Aku minta maaf soal…ingin membalas dendam pada Appamu.”

“Tidak apa-apa, itu bukan salahmu.”

“Tapi aku sudah membenci orang yang salah. Paman Han tidak pernah berniat menyakiti Hyungku dari awal, dia hanya disuruh.”

“Maka dari itu kubilang bukan salahmu. Jika kau memang merasa bersalah, kunjungi dia secara berkala, bawakan rokok kesukaannya.”

“Ahaha, ne.”

“Aku keluar dulu ya.”

“Ne.”

“Oh, aku hampir lupa! Ini masalah pilihan yang waktu itu.”

“Pilihan yang mana?”

“Saat kau ingin memberitahu Minseok tentang identitasnya atau tidak, apa yang kau pilih?”

“Aku memberitahunya, tapi dia sudah tahu lebih dulu.”

“Nah, aku yang menemaninya untuk mendapatkan ingatan itu.”

“Mwo? Bukankah dulu kau berjanji—“

“Aku tidak mengatakannya kok. Aku hanya melakukan tugasku sebagai dokter.”

“Huft…aku tidak percaya lagi padamu.”

“Hei-hei, aku benar-benar tidak mengatakannya, sungguh~”

***

Malam harinya, Minseok terbangun karena haus.

“Eung…,” lirih Minseok, tapi berhasil membangunkan Luhan yang sudah mulai terlelap.

“Oh, ada apa, sayang?”

“Minum…”

“Baiklah, tunggu sebentar,” kata Luhan seraya mengambilkan air untuk Minseok, “ayo bangun.”

Luhan membantu Minseok untuk bangun dan menyandarkannya di pinggan kasur.

“Hati-hati, aku saja yang memegang gelasnya, kau minum saja.”

Minseok pun meminum sedikit airnya dengan bantuan Luhan. Setelah puas, Minseok menjauhkan kepalanya dan kembali bersandar.

“Gomawo…”

“Apa punggungmu sudah tidak sakit?”

“Eum…”

“Untung saja Seulgi tidak menembak bagian fitalmu.”

“Siapa itu di sofa?”

“Oh, itu Baekhyun.”

“Dimana Kyungie?”

“Dia sedang menjaga Eomma di kamar lain.”

“Eomma? Kenapa dengannya?”

“Eomma pingsan saat mendengarmu seperti ini, tapi tenang saja, sekarang dia baik-baik saja.”

“Joonmyun-hyung? Dimana dia?”

“Dia sudah ditangkap.”

“Aku harus menemuinya besok.”

“Yasudah, sekarang kau tidur lagi ya?”

“Lu-ge, maukah kau tidur di sampingku?”

“Aku sudah tidur di sampingmu.”

“Bukan, aku ingin kau memelukmu.”

“Itu berbahaya untuk punggungmu, sayang.”

“Jebal…”

“Eung…baiklah, tapi aku tidak bisa memelukmu terlalu erat.”

“Ne.”

Minseok menggeser tubuhnya agar Luhan bisa tidur di sampingnya. Luhan segera merengkuh tubuh kecil itu dan membenamkan wajah Minseok di dadanya.

“Sangat hangat…,” lirih Minseok.

“Hahahaha, apa yang sedang kau pikirkan, hah?”

“Aku mencintaimu, Lu-ge.”

“Ne…nado…”

Luhan mengecup surai rambut Minseok dan menepuk-nepuk pundaknya supaya Minseok kembali tidur.

“Tidurlah…,” bisik Luhan.

Pagi harinya, Baekhyun membangunkan Luhan dengan hati-hati agar Minseok tidak ikut bangun.

“Sejak kapan kau tidur di sana?” tanya Baekhyun.

“Tadi malam sepertinya Xiumin kedinginan, dia ingin tidur denganku.”

“Ooh…”

“Xiumin ingin menemui Joonmyun hari ini.”

“Mwo? Kau membolehkannya?”

“Tentu…”

“Kondisi Daehyun belum stabil, jadi sebaiknya dia istirahat total hari ini.”

“Tapi aku tidak bisa menolak keinginannya.”

“Jangan selalu seperti itu, Luhan.”

“Aku akan menolak jika merasa itu berbahaya, tapi sekarang…aku ingin dia bertemu Joonmyun.”

“Menurutmu begitu? Menurutku jangan.”

“Baekhyun-a, tolonglah…”

“Hei-hei, sejak kapan kau memanggilku seperti itu? Aku kaget mendengarnya.”

“Ya…mau tidak mau aku akan menjadi iparmu, jadi aku harus membiasakan diri.”

“Hahahahaha…”

“Jadi bagaimana? Nanti siang aku yang akan mengantarnya.”

“Tanyakan dulu pada Sehun.”

“Baiklah.”

Baru saja mereka membicarakan Sehun, namja itu datang bersama Kyungsoo di belakangnya.

“Oh, kami baru saja ingin menemuimu,” kata Luhan.

“Ada apa?”

“Daehyun ingin mengunjungi Joonmyun, apakah boleh?” tanya Baekhyun.

“Tidak.”

“He? Wae??” protes Luhan.

“Kondisinya belum memungkinkan. Hei, kenapa kasur ini berantakan?”

“Luhan tidur dengan Daehyun tadi malam.”

“Mwo? Aish, namja ini benar-benar…”

“Xiumin yang memintanya!!”

“Eungh…”

Karena keributan mereka, Minseokpun terbangun.

“Oh, Minseok-hyung bangun! Ini gara-gara kalian!” omel Kyungsoo.

“Bisakah kalian menyingkir dulu? Aku akan memeriksa Minseok.”

“Ne…”

Setelah 3 namja itu menjauh dan duduk di sofa, Sehun memeriksa keadaan Minseok dari denyut jantung sampai obat infus yang digunakannya.

“Apa kau sudah baikan?”

“Ne.”

“Punggungmu, apa masih terasa sakit?”

“Tidak terlalu.”

“Kau harus istirahat total hari ini.”

“Aku ingin bertemu Joonmyun, Sehunnie.”

“Tidak-tidak, kau harus istirahat dulu. Joonmyun tidak kemana-mana kok, dia aman di penjara.”

“Benarkah? Baiklah…”

“Ah, Eommamu sedang ke rumah untuk mengambil baju-bajumu, sebentar lagi mungkin dia datang.”

“Oiya, aku belum melihat Yifan dan Yixing Hyung, dimana mereka?”

“Mereka sedang mengurus sesuatu di rumah,” kata Baekhyun.

“Ooh…apa mereka akan ke sini?”

“Tentu saja, mereka kan pengawalmu.”

“Baekhyun-hyung, apa yang terjadi pada Seulgi?”

“Dia dan keluarganya pindah ke Seoul. Nenek memberikan mereka rumah dan pekerjaan untuk Appa Seulgi. Seulgi juga akan kursus untuk menempuh ujian masuk tahun depan.”

“Lalu sekarang CEO Anthersy Book siapa?”

“Tentu saja kau.”

“He?”

“Tuan Lee Hoosan telah mengetahui semuanya dan meminta maaf pada keluarga Byun. Kemudian beliau mengangkatmu sebagai CEO, itu juga setelah melihat kinerjamu di cabang China.”

“Ani…jangan aku.”

“Wae?”

“Ada orang yang lebih baik.”

“Nugu?”

“Yifan-hyung.”

“Hah?”

“Dia sangat baik dalam memimpin dan mengatur rencana, aku yakin dia bisa.”

“Apa kau yakin?”

“Iya, aku yakin.”

“Baiklah, aku akan menghubungi Ketua Lee nanti.”

“Gomawoyo, Hyung.”

***

Menjelang sore hari, Yifan dan Yixing datang untuk menjenguk Minseok. Minseok senang bukan main saat keduanya datang. Dia langsung meminta Eommanya berhenti menyuapinya karena dia ingin mengobrol dengan Yifan dan Yixing.

“Makananmu hampir habis, Minseokkie, makan dulu semuanya.”

“Tapi…”

“Tuan, tolong habiskan makanan Anda dulu,” kata Yifan.

“Hya, jangan memanggilku Tuan! Lagipula sebentar lagi kau akan menjadi atasanku.”

“Mwo?”

“Selamat! Aku sudah merekomendasikanmu sebagai CEO Anthersy Book.”

“Aish…Daehyunnie, lama-lama kau seperti Lu saja, seenaknya.”

Setelah menghabiskan makanannya, Jung Shinae pamit keluar hendak membeli makanan untuk orang-orang yang menunggui Minseok. Kyungsoo mengajukan diri untuk membantu Eommanya karena pasti berat membawa makanan untuk orang sebanyak ini.

“Bagaimana keadaanmu, Daehyunnie?” tanya Lay yang langsung mengelus rambut Minseok.

“Sudah cukup baik, tapi Dokter Sehun belum membolehkanku turun dari sini.”

“Itu supaya lukamu cepat sembuh,” kata Yifan.

“Apa kalian pernah tertembak sepertiku? Rasanya sakit sekali…uh…”

“Kami selalu memakai jas anti peluru saat bertugas.”

“Ohya? Itu curang…”

Yifan dan Yixing tertawa mendengar pernyataan polos itu.

“Yifan-hyung, bagaimana perasaanmu menjadi CEO Anthersy Book?”

“Itu belum pasti, Daehyun.”

“Apanya yang belum pasti? Baekhyun-hyung, apa kau sudah memberikan CV Yifan-hyung pada Ketua Lee?”

“Sudah. Ketua Lee puas kok dengan CV Yifan.”

“Benar kan kataku?”

“Kalau begitu, mulai sekarang kau akan memanggilku CEO Wu?”

“Tidak-tidak, aku akan tetap memanggilmu Yifan-hyung.”

“Lalu aku bagaimana? Apa aku tetap menjadi asisten Daehyun?” tanya Yixing.

“Apa yang kau inginkan, Xing?” tanya Yifan.

“Xing? Oh god! Aku baru pertama mendengar panggilan itu! Apa itu panggilan kesayangan untuk Yixing-hyung?”

“Eung…”

“Kalian pacaran ya? Sejak kapan?”

“Sudahlah, Daehyun,” protes Yifan yang sedang merutuki dirinya sendiri karena keceplosan.

“Ish…aku ingin tahu-tahu-tahu!”

“Itu sudah lama sekali.”

“Woa…aku benar-benar tidak menyadarinya. Lu-ge, apa kau menyadarinya?”

“Tidak sama sekali.”

“Kalau begitu kau harus menjadi sekretaris CEO, Xing-hyung!”

“Mwo?”

“Aku akan merelakanmu.”

“Hya…aku tidak akan meninggalkan posisiku yang sekarang. Aku sudah nyaman dengan itu.”

“Benarkah? Kalau begitu aku akan tetap mempunyai asisten rocker.”

“Hahahaha. Oiya, apa kau tahu kalau Hanzhuo-gege adalah pengawalmu juga?” tanya Yifan.

“He? Ahjussie itu pengawalku?”

“Iya. Dia setahu lebih tua dariku, tapi aku lebih dulu bekerja. Kurasa kami harus memberitahumu supaya semuanya selesai.”

“Kalau begitu aku akan menghubunginya nanti.”

“Daehyunnie, terimakasih karena terus bertahan,” kata Yixing.

“Iya. Kami lega karena usaha kami untuk melindungimu tidak sia-sia.”

“Terimakasih juga telah menjagaku selama ini, Hyung…”

***

Tiga hari kemudian…

“Seperti yang telah diberitakan sebelumnya, Kim Minseok, atau penulis terkenal asal China Xiumin, tertembak dalam kasus penculikannya. Dan berkaitan dengan itu, hari ini dia akan keluar dari rumah sakit setelah dirawat selama 3 hari.”

Banyak sekali wartawan yang meliput kepulangan Minseok dari rumah sakit. Sekarang Luhan tidak menutupi wajahnya dengan masker atau semacamnya karena sebentar lagi hubungan mereka akan dipublikasi.

“Hari ini, seperti beberapa bulan yang lalu, aktor terkenal asal China, Xi Luhan, juga menemani Xiumin di rumah sakit. Sebenarnya ada apa ini? Apakah keduanya benar-benar berpacaran?”

Luhan hanya tertawa melihat berita tentang dirinya dan Minseok. Dia terlihat puas dan gembira karena akhirnya beritanya muncul juga.

“Kenapa tertawa, Hyung?” tanya Kyungsoo yang baru datang setelah mengantar Minseok ke kamar.

“Beritaku dengan Xiumin akhirnya keluar juga. Tinggal menunggu konferensi pers.”

“Wah, aku ketiggalan! Mana-mana?”

“Ey…”

“Wajahmu jelek sekali di sana,” ejek Kyungsoo.

“Mwo? Apa kau sendiri tampan, hah? Aish…”

“Aku titip Hyungku ya.”

“Nde?”

“Aku titip Minseok-hyung karena kau akan segera menikahinya.”

“Oh, tentu.”

“Kalau sampai Hyungku menangis karenamu, aku tidak akan segan mencekikmu!”

“Aku tidak akan melakukannya, tenang saja…”

“Dulu Chanyeol-hyung juga bilang begitu. Dia berjanji padaku untuk menjaga Minseok-hyung, tapi nyatanya…dia membuat Hyungku menangis berulang kali.”

“Apa kau masih menyimpan dendam padanya?”

“Ani. Sekarang aku akan melihat di dua sisi. Aku akan berusaha menjadi Kyungsoo yang tidak egois.”

“Itu baru adik iparku.”

“Kau juga.”

“Juga apa?”

“Jangan terlalu protektif dengan Hyungku. Dia terlihat risih.”

“Ohya? Dia senang-senang saja tuh.”

“Awas ya kalau macam-macam.”

“Hei, lalu bagaimana hubunganmu dengan Park Seulgi?”

“Kami baik-baik saja.”

“Apa kau…”

“Apa?”

“Menyatakan perasaan padanya?”

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Aku sudah bertemu dengan orang yang lebih baik.”

“Ha? Nugu?”

“Lee Jongin.”

“Mwo?? Kau serius?”

“Memangnya kenapa?”

“Dia kan iparmu!”

“Memangnya ada hukum yang melarang? Ada-ada saja kau ini.”

“Bagaimana dengannya? Apa dia juga menyukaimu?”

“Iya. Selama menyelidiki kasus Hyung, dia selalu di sampingku, jadi…kami mulai saling menyukai dari sana.”

“Wow. Pertemuan yang tidak diduga ya.”

“Hahahaha…”

“Jongin boleh juga, umurnya masih 23 tapi bisa menjadi polisi ternama.”

“Aku tidak melihat profesinya, Hyung, aku melihat ketulusannya dalam membantuku.”

“Apa kau sudah mengatakannya pada Soonkyu?”

“Sudah. Dia setuju kok.”

“Uh…menakjubkan.”

“Eh, Soonkyu-noona dimana ya? Tadi dia bilang ingin bicara dengan Minseok-hyung.”

“Sepertinya dia sudah ke sana, lihat itu, Jongwoon-hyung makan sendirian di dapur.”

Benar kata Luhan, Soonkyu sudah di kamar Minseok sekarang. Dia merapihkan berkas-berkasnya yang masih tertinggal.

“Noona, apa benar kau jaksa yang menangani kasus Joonmyunie-hyung?”

“Benar. Kenapa?”

“Sejak kapan kau tahu masalah keluargaku?”

“Sejak dia lulus dan Appaku menyerahkan diri ke polisi.”

“Appamu menyerahkan diri?”

“Iya. Setelah meneliti lagi kasus Appamu dengan Kim Ilsook, Appaku merasa sangat bersalah dan akhirnya menyerahkan diri. Dia merasa tidak pantas bekerja lagi sebagai hakim.”

“Apakah Soonkyu-noona mengenal Joonmyun sebelumnya?”

“Ah, Kyungsoo benar-benar merahasiakannya, ya? Hehe, kami berpacaran dulu.”

“Nde? Lalu kenapa?”

“Aku tahu rencana Joonmyun saat dia mulai mengungkit kasus Appanya. Setelah itu aku meninggalkannya dan memilih Jongwoon-oppa.”

“Ooh…begitu.”

“Oiya, Joonmyun bilang dia sudah menemukan jawabannya. Jawaban apa sih?”

“Benarkah? Lalu apa lagi yang dia bilang?”

“Ey…kalian tidak mau memberitahuku, ya?”

“Hahahaha, bukan begitu, Noona. Aku akan memberitahumu setelah menemuinya.”

“Iya, dia bilang agar kau cepat mengunjunginya. Dia terlihat sangat bersalah.”

“Aku akan mengunjunginya besok karena aku sedang mempersiapkan konferensi persku nanti malam.”

***

Malam itu Baekhyun menjadi orang paling sibuk. Dia mengatur konferensi pers malam itu sendirian karena merasa akan lebih baik jika acara adiknya dia tangani sendiri. Banyak sekali wartawan yang datang. Bagaimana tidak? Kebenaran hubungan Luhan dan Minseok sudah menjadi pencarian utama seluruh penggemarnya sejak pengumuman Luhan sebagai pemain utama di film pertama Minseok. Awalnya, banyak yang mengira kalau hubungan mereka dijadikan penunjang untuk promosi film itu, tapi saat Luhan datang ke Korea untuk menjenguk Minseok yang baru diserang beberapa bulan yang lalu, anggapan itupun patah. Beredar juga foto Minseok dan Kyungsoo saat mereka datang ke konser Luhan di Kanada dulu, juga saat Luhan menginap di rumah Minseok. Mereka semua bersiap untuk mengetahui kebenaran itu.

Luhan membantu Minseok menaiki tangga dengan menggendongnya sedangkan kursi roda Minseok ditinggal.

“Hya, tidak usah menggendongku!” omel Minseok.

“Hahaha, sedikit drama apa salahnya sih? Ini akan menjadi berita utama.”

Setelah Byun Baekhyun membuka acara itu, seluruh wartawan langsung mengacungkan tangan untuk bertanya.

“Apakah benar jika kalian berdua sudah lama berpacaran?”

Sambil tersenyum geli dan melirik Minseok sejenak, Luhan mengambil micnya dan menjawab, “iya. Kami sudah berpacaran 19 tahun.”

Jawaban itu sontak membuat semua orang terkejut bukan main, termasuk Minseok yang tidak menyangka Luhan akan menjawab hal sekonyol itu.

“Hahahaha, aku hanya bercanda. Kami baru pacaran sekitar 2 bulan yang lalu, tapi kami telah menjaga hati kami selama 19 tahun. Dia cinta pertamaku.”

“Jadi kalian sudah bertemu 19 tahun yang lalu? Itu kira-kira saat kalian masih SD, bukan?”

“Tepat, saat itu aku hanya mempunyai satu teman, yaitu Xiumin, dan aku menyukainya.”

“Kenapa kami tidak pernah tahu tentang hubungan kalian sebelumnya? Maksudku, kenapa kalian berpisah?”

“Oh, itu karena ada orang ‘jahat’ yang memisahkan kita,” perkataan Luhan membuat Baekhyun mendelik kesal padanya dan dibalas senyum puas olehnnya, “tapi tenang saja, itu kakak kandung Xiumin, jadi aku memakluminya.”

“Kakak kandung Xiumin? Apa maksud Anda?”

“CEO Byun, apa kau mau bicara?”

Seluruh kamera segera menyorot Baekhyun yang gelagapan karena dikerjai Luhan.

“Eung…iya…dulu aku melarang mereka berteman karena adanya rasisme di sekolahku. Kalian tahu kan anak SD bagaimana. Akan tetapi, sekarang aku merestui mereka. Aku bisa melihat ketulusan Luhan dalam menjaga adikku.”

“Jadi Xiumin adalah adikmu? Kenapa marga kalian berbeda?”

“Sebaiknya jangan bahas itu di sini karena malam ini kami mengadakan konferensi pers untuk hubungan mereka, bukan keluargaku.”

“Baiklah, lalu bagaimana rencana kalian selanjutnya? Apa kalian akan menikah?”

Kim Minseok mengambil micnya lalu menyuruh Luhan diam dengan tatapannya.

“Kami akan menikah setelah pemutaran film pertamaku.”

“Karena kalian sesama lelaki, apakah kalian berencana mengadopsi anak?”

“Oh, itu ide yang bagus!” seru Luhan, “kami akan mengadopsi anak supaya hidup kami semakin sempurna!!”

Saking kesalnya karena jawaban Luhan semakin ngawur, Minseok langsung mencubit lengan Luhan yang membuat namja itu meringis kesakitan dan mengundang tawa semua orang.

“Aw! Iya-iya, maafkan aku.”

“Melihat kelakuan kalian, sepertinya Kim Minseok lebih protektif padamu, Luhan-ssie, apa benar?”

“Aniyo! Itu benar-benar salah! Lu-ge yang selalu protektif padaku. Aku mencubitnya karena dia tidak bisa mengontrol jawabannya.” Semua orang kembali tertawa mendengar jawaban Minseok.

Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan untuk keduanya selama 1 jam penuh tanpa jeda. Acara itu selesai sekitar jam 8 malam dan para wartawan terlihat puas dengan konferensi pers itu.

***

Hari ini sesuai keinginan Minseok, dia dan Luhan pergi mengunjungi Joonmyun. Setelah mengisi formulir tamu, Minseok masuk sendiri karena peraturannya narapidana hanya boleh dikunjungi sekali sehari dalam waktu terbatas, jadi Luhan merasa lebih baik Minseok bicara 4 mata dengan Joonmyun.

“Daehyun-a, kau baik-baik saja?”

“Eum. Hyung sendiri? Kau terlihat lebih kurus.”

“Benarkah? Padahal makanan di sini lumayan lho.”

Minseok tertawa kecil seraya membetulkan kacamatanya.

“Sekarang kau pakai kacamata? Apa matamu minus?”

“Iya. Mataku sedikit kabur akhir-akhir ini, jadi aku memakai kacamata. Baru kemarin, jadi sedikit tidak terbiasa.”

“Kau terlihat manis memakainya.”

“Ohya? Luhan malah mengomel karena tidak bisa leluasa mencium kelopak mataku. Apa-apaan sih dia itu.”

“Hahahaha, benarkah? Orang aneh.”

“Hyung, kata Soonkyu-noona kau telah menemukan jawaban itu. Bagaimana ceritanya?”

“Nenek menemuiku saat polisi menangkapku. Daehyun-a, ternyata kau benar, ternyata Nenek melakukan itu dengan maksud tertentu.”

“Apa itu?”

“Dia menyayangiku, Daehyun. Dia ingin aku menjadi anak yang kuat seperti Kakek. Dulu Kakek juga dididik seperti itu, sampai umurnya 10 tahun, baru Nenek akan memberiku segalanya. Aku harus ditempa dulu karena sebenarnya…karena aku cucu tertua, Nenek akan memberiku jabatan terbesar dalam keluarga Byun, tapi aku menghancurkannya semuanya.”

“Kau bisa memulainya dari awal setelah keluar dari sini, Hyung.”

“Nenek juga bilang begitu. Beliau bilang akan menebus pembebasanku sehingga aku hanya harus melakukan pelayanan masyarakat, tapi aku menolaknya.”

“Kenapa?”

“Karena aku harus membayar kesalahanku di sini. Bagaimana bisa aku menghirup udara bebas saat aku telah membunuh banyak orang tak bersalah, memisahkan mereka dari orang-orang yang menyayanginya, melakukan itu tanpa penyesalan. Aku merasa menjadi orang terjahat di dunia ini, Daehyun.”

“Jangan berpikir seperti itu, Hyung. Jika kau terus terpuruk, tidak ada yang bisa kau lakukan untuk orang-orang yang sudah kau sakiti.”

“Ne. Aku berpikir untuk memulai semuanya dari awal dengan langkah yang baik. Walaupun aku akan keluar dengan usia tidak lagi muda, aku akan berusaha melakukan yang terbaik.”

“Berjuanglah, Hyung, aku akan selalu mendukungmu.”

“Ohiya, Daehyunnie. Apa kau sudah mengumumkan hubunganmu dengan Luhan?”

“Iya, kemarin malam aku mengumumkannya.”

“Syukurlah. Aku senang kau bersamanya, dia lelaki yang baik.”

“Terimakasih karena mempertemukanku lagi dengannya. Walaupun niatmu bukan seperti ini, tapi aku tetap senang.”

“Apa kau ingat saat pertemuan kita di China?”

“Saat kau menjadi MC acaraku, kan? Iya, aku ingat.”

“Saat aku bilang aku adalah penggemarmu, aku bersungguh-sungguh.”

“Nde?”

“Saat kau akan melawan musuhmu, maka kau harus mengetahui segalanya tentang dia. Aku mulai membaca semua tulisanmu, dan tidak bisa dibohongi, aku menyukai karya-karyamu.”

“Oh, gomawo…”

“Tapi yang membuatku bingung, kenapa sebagian besar isinya adalah masa lalumu ya? Aku sempat berpikir mungkin kau sudah ingat, tapi kenyataannya belum. Bagaimana itu bisa terjadi?”

“Saat aku sedang memikirkan ide cerita, tiba-tiba saja bayangan-bayangan masalaluku muncul, Hyung, tapi itu mengalir tanpa rasa sakit, jadi kukira itu hanya imajinasi biasa.”

“Hahaha, terkadang alam bawah sadar memang membingungkan.”

“Aku senang mendengar tawamu, Hyung. Sesuatu yang sangat langka didengar.”

“Hei-hei-hei, kau mengejekku, ya?”

“Hahahaha. Ohiya, aku akan rutin mengunjungimu, begitu juga Luhan. Luhan sedang di luar, apa kau mau menyampaikan sesuatu padanya?”

“Sampaikan permintaan maafku padanya. Aku sudah membohonginya cukup lama, tapi jujur…aku senang mempunyai teman sepertinya. Dia bukan seperti artis kebanyakan, dia selalu menyempatkan diri untuk mengunjungiku setiap bulan bahkan merayakan ulangtahunku. Tolong bilang padanya, aku minta maaf dan jika dia mau memberiku kesempatan, aku ingin berteman dengannya lagi.”

“Ne, aku akan menyampaikannya.”

***

Setelah mengunjungi Joonmyun, Minseok dan Luhan pergi ke rumah keluarga Byun untuk memperbaiki hubungan Minseok dan Kang Taera yang sempat renggang beberapa waktu yang lalu. Melihat Minseok datang, Byun Minyoung segera berlari menuju ruangan Ibunya untuk memberitahu kedatangan keponakannya.

“Eomma! Daehyun datang!!”

“Mwo? Uri Daehyunnie?”

“Ne! Dia datang dengan Luhan.”

“Dimana dia?”

“Sedang menunggu di ruang tamu.”

Kang Taera dan Byun Minyoung segera pergi menuju ruang tamu. Saat melihat keduanya, Minseok dan Luhan langsung berdiri dan memberi hormat.

“Selamat siang…eung…selamat siang,” kata Minseok gugup karena tidak tahu harus memanggil neneknya dengan sebutan apa.

“Hahahaha, wajahmu lucu sekali saat gugup, Daehyunnie!!” seru Minyoung.

“Minyoung-a, cukup.”

“Ne, Eomma.”

Mereka berempatpun duduk. Minseok tidak tahu harus mengatakan apa dan akhirnya mereka hanya bisa diam sampai Neneknya bicara.

“Kenapa kau ke sini?”

“Aku ingin meminta maaf padamu karena kelancanganku dulu. Aku mengira kau ingin menjatuhkan Joonmyun-hyung dan keluarganya, tapi ternyata…kau hanya ingin menghentikannya.”

“Jadi kau sudah sadar kesalahanmu?”

“Ne, maafkan aku.”

“Lalu sekarang, apa kau sudah siap menyandang marga Byun lagi?”

“Nde?”

“Kau masih cucuku, Daehyunnie. Perkataanku tempo lalu hanya bohongan.”

“J-jadi maksud Nenek?”

“Kau adalah Byun Daehyun, Presiden Direktur Byunkor Media.”

“M-mwo?”

“Daridulu aku sudah mempercayakan Byunkor Media pada kalian berdua, Daehyunnie. Sebenarnya kau adalah CEO Byunkor Media yang sebenarnya, itulah yang diinginkan kedua orangtuamu, jadi mereka memperlakukanmu berbeda dari Byun Baekhyun. Akan tetapi, karena sekarang keadaannya sudah berbeda, maka aku akan mengangkatmu sebagai Presiden Direktur Byunkor Media.”

Luhan hanya bisa ternganga saat mendengar posisi yang diberikan Kang Taera pada kekasihnya. Dia merasa agak minder jika Minseok menerima posisi itu.

“Tidak, Nenek.”

“Apa?”

“Aku akan meneruskan perkerjaanku di Anthersy Book sebagai penulis dan koordinator bagian editor. Aku sudah menemukan jalanku sendiri selama ini, jadi aku akan meneruskannya.”

“Begitukah? Kudengar kau juga menolak posisi CEO yang diberikan Lee Hoosan. Sebebarnya aku malu, tapi Lee Hoosan bilang dia tidak keberatan jika Yifan yang memegang jabatan itu. Aku juga yakin Wu Yifan bisa menjalankannya dengan baik. Tapi…kau benar-benar tidak mau menerima jabatan itu?”

“Tidak. Aku akan fokus pada pekerjaanku yang sekarang, dan juga…setelah menikah dengan Luhan, aku akan menjadi manajernya.”

“Manajerku?”

“Karena Yifan sudah tidak lagi menjadi manajer Luhan, jadi aku yang akan menggantikannya.”

“Byun Minyoung, keponakanmu akan menikah sebentar lagi, kau kapan?”

“Eomma! Huft…”

“Jadi kapan kalian menikah?”

“Pertengahan tahun depan,” jawab Luhan tegas.

“Ne, mungkin pertengahan tahun depan, Nenek.”

“Baiklah, kami akan menyiapkan semuanya.”

“Jangan, Nyonya!”

“Kenapa, Lu?”

“Keluargaku akan menyiapkan ini sebaik-baiknya.”

“Kalau begitu begini saja. Kita akan mengadakan dua resepsi, 1 di Korea, dan 1 lagi di China. Saat di Korea, kami yang akan menyiapkannya, dan di China, keluargamu yang menyiapkan. Bagaimana?”

“Ide yang bagus!”

“Hahahaha, kau sama seperti yang Yifan ceritakan padaku, Lu.”

“Hehehe~”

***

“Nah, sekarang kita mau kemana?” tanya Luhan saat mereka dalam perjalanan pulang.

“Aku ingin ke makam Appa. Bisakah kau mengantarku ke sana?”

“Tentu! Aku juga belum ke sana. Ayo kita minta restu padanya. Eh, kau tidak ke makan orangtua kandungmu?”

“Aku belum tahu dimana itu, jadi sekarang kita ke makam Appa dulu, ya?”

“Oke!”

Sesampainya di rumah kremasi, Minseok menaruh novel terakhirnya yang belum sempat dia berikan pada Appanya dulu.

“Appamu menyukai novelmu?”

“Ne, dia selalu membacanya diam-diam. Apa kau tahu bagaimana Appaku?”

“Tidak, bagaimana memangnya?”

“Dia tidak tahu cara mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya. Aku pernah berperasangka buruk padanya hanya karena dia melarangku menjadi penulis. Padahal, dibalik larangannya itu dia hanya takut kalau aku tidak lagi bersamanya, tidak bisa lagi menjagaku, tidak bisa lagi memelukku. Saat aku tahu yang sebenarnya, aku merasa menjadi orang paling bodoh di dunia, sama seperti yang dirasakan Joonmyun-hyung.”

“Xiumin-a…”

“Sekarang aku sadar, Lu-ge. Jika ada orang yang berbuat jahat atau berbuat sesuatu yang tidak nyaman padaku, aku harus melihat apa yang ada dibalik itu. Aku tidak boleh berkata kalau aku membenci orang itu dan menutup semua kemungkinan yang ada dengan amarahku.”

“Kau sudah seperti itu kok.”

“Mwo?”

“Kau masih melindungi Joonmyun walaupun dia berniat membunuhmu, kan? Aku yang selama ini mempercayainya pun tidak berpikir sejauh itu.”

“Aku ingin Joonmyun-hyung bisa hidup sepertiku, mempunyai orang-orang yang mempercayai dan mencintaiku sepenuhnya. Aku tidak ingin dia sendirian.”

Luhan merangkul Minseok dan mengecup keningnya.

“Lalu apakah kau sudah menemukan jawabanmu sendiri?”

“Nde?”

“Kenapa Eommamu baru berkata kalau dia mencintaimu di akhir hayatnya?”

“Karena pelatihan itu, bukan?”

Duk

 

Buku harian Minseok yang dinamai Daehyun itu terjatuh dari saku mantel Minseok. Buku itu membuka ke halaman terakhir, membuat dahi Minseok mengerut karenanya.

“Nde? Aku tidak ingat pernah menulis ini.”

15 Oktober 1989

Hari ini anak keduaku lahir. Anak dengan wajah bundah dan mata besar itu akhirnya lahir. Di malam yang dingin ini hanya tangisannya yang dapat menghangatkanku. Kupeluk tubuh kecil bayiku yang tampan dan menggemaskan penuh kasih sayang, karena…mungkin hari ini adalah hari terakhir aku memeluknya. Suamiku memutuskan untuk melakukan pelatihan yang dianjurkan Ayah dan Ibu mertuaku. Sebenarnya aku tidak rela, aku ingin Byun Daehyun bisa menjadi anak normal, tapi…aku tidak bisa. Lagi-lagi aku tidak bisa melindungi anakku. Aku tidak mengerti kenapa keluarga Byun melakukan pelatihan seperti ini. Dan kenapa harus anak keduaku yang mendapatkannya.

Aku berharap Byun Daehyunku menjadi anak yang kuat. Aku berharap dia mendapatkan hidup yang jauh lebih baik dari kakaknya. Maafkan aku, Daehyunnie, maafkan Eomma karena tidak bisa melindungimu.

Buku ini akan menjadi milikmu nanti. Dan saat kau bertanya kenapa Appa dan Eommamu tidak pernah menyayangimu sebelum kami mengatakan itu, buku ini akan menjadi saksi kalau kami menyayangimu. Walaupun akhir kehidupan itu pasti datang, tapi kami akan terus bersamamu, Daehyunnie, bersama cinta kita, selamanya.

Airmata Minseok menetes dan membasahi lembar kertas usang itu. Halaman terakhir yang tidak pernah dicapainya itu menjawab kegelisahannya selama ini.

“Mereka menyayangiku selamanya, Lu-ge, mereka menyayangiku selamanya.”

***

EPILOG

15 Oktober 2014

Di malam ulangtahunku, Luhan mengajakku ke rumah pohon sambil membawa gitar. Aku mengira dia akan menyanyikan sebuah lagu untukku. Kami duduk berhadapan dan dia menatapku sambil tersenyum penuh arti.

“Apa kau tahu hari apa ini?” tanyanya.

“Hari ulangtahunku?”

“Bukan.”

“Lalu?”

“Hari dimana aku telah memilikimu. Hari dimana aku bersyukur kau ada untukku. Hari dimana aku akan terus bersamamu, bersama cinta kita, selamanya.”

 

Seseorang berjalan menuju garis finis

Entah bagaimana kembali ke titik awal

Sebuah dunia baru

Hanya saja sekarang, aku tidak menyadarinya

Waktu tidak absolut

 

Sampai ada orang lain yang datang

Yang bisa mengerti perasaanku

Tidak perlu berkata, tidak perlu bertanya

Hanya akan tahu, hanya akan mengerti

Setiap saat selamanya

 

Aku mencarinya, tidak banyak waktu tersisa

Untuk membuat keingan, aku berharap mungkin ada satu hari lagi

Our tomorrow

 

Aku bertanya, berapa banyak waktu tersisa

Di depan mataku, aku pikir akan ada satu hari lagi

Untuk memenuhi janji kita

Kenangan yang menjadi abadi

 

“Xiumin-a, entah waktu kita bersama masih lama atau tinggal sehari lagi, kenangan yang telah kubuat bersamamu, dan hidup yang akan kita lalui esok, selamanya akan selalu ada di hatiku, juga kuharap…dihatimu.”

END

(cr song: LuHan – Our Tomorrow)

Advertisements

21 thoughts on “My Immortal Love is You _ XiuHan/LuMin (Bagian 18 + EPILOG – END)

  1. huwaaaaa rada ga rela sebenernya mesti tamat /plak.
    tapi endingnya bener2 bagus ;ww; dan keungkap semua masalah2nya.
    bagus bangeet pokoknyaa! makasih, author-nim<3333 terus berkarya!!

    • huwaaa, aku juga sedih sebenernya, tapi…eung…
      ihihiii, makasih banyak yaaa, jadi maluu >_< hehehe .
      sip deeeh, makash banyak ya udah ngikutin dari awal 😀 muaahhh

  2. Woooooooo…. Daebak!!!! Klw disuruh kasih nilai dr 1-10 saya kasih nilai 100000000000!!!! Otak authornya benar2 cemerlang. Bgmn caranya bsa bikin ff sebagus & sekeren ini????!!!! Ngga bsa ngomong lagi pokoknya 12 jempol utk ff ini. Ngga sia2 ngikutin dr episod 1-18. Di setiap partnya ngga prnah membosankan dan sulit ditebak. Keep writing 😉 dan dtunggu ff keren yg lainnya 😀

    • wooooooo makasih buanyakkk yaaa jadi maluuuu >_< kkkk.
      bagaimanakah caranya? aku juga nggak ngerti selama ini nulis apa (?) *eh
      yes! 12 jempol! aku terima semuaaa :*
      huks huks, makasih banyak yaa, nggak sia-sia aku bikin sampe sejauh ini 🙂 muaahh

  3. Huaaaaaa~ eonnieeeee DAEBAk! ff ini bikin perasaanku campur aduk kayak es campur/? dari awal baca chap 1 sampe chap 18 ini aku selalu jatuh cinta/? sama ff ini 😀
    Feelnya dapet banget tiap baca ff ini, entah karena karakter Umin sama kayak sifat asli aku atau emang karena eonnie yang terlalu hebat bikin ffnya, yang jelas perasaanku selalu campur aduk setelah baca tiap chapternya >..< Ah sudahlah aku malah jadi curhat kan jadinya~ Terus berkarya ya eon^^/
    Annyeong /lambai tangan bareng Xiuhan/ aku tunggu ff lainnya eon^^/

    • huaaaaa, komentarmu juga daebak!! kkk. aku juga cinta kamuuu :*
      masaaaa siihhh O.O karaktermu mirip umin di ff ini? wah-wah, selamat! *ini apaan sih*
      aku juga pas bikin kadang-kadang nangis sendiri, ketawa sendiri, ampe ditanyain sama temen kosku, ‘kamu lagi belajar akting ya?’ *lho*
      nggak apa-apa, aku seneng denger curhatan orang 😀 makasih banyak ya udah ngikutin ff-ffkuuu :* muahh

  4. waw daebak!!
    bnyk hal yg bkin kget sm deg2n disini, dr yg td gatau disini kebongkar semua, dr xiu ketembak smpah smpe deg2n pdhal dy yg dtmbk 😀 trus fkta kalo jongwoon sdra tiri junmyoon dan smpe yixing pcran sm yifan, gk nyangka 🙂 😀
    happy ending ❤ ❤
    seneng bgt 😀 ditunggu ya karya yg laen terutama xiuhan yaoi 😀 aku tnggu lho yaa..

    • waw! hehe.
      iyaa harus dibongkar abis! soalnya nggak suka yang nanggung *eh*
      eeeeh, kalau yg yixing sama yifan pacaran udah ada lho di part…eng, aku lupa. kamu lupa yaaa?
      sipooo, makasih juga ya udah ngikutin dari awal 😀

  5. Huaaaaa daebakk sampe jadii orang lebe malem inni…
    Bener” kata-kata’a bagus banged,,, ceritanya bener” daebakkk

    Senengnyaa happy ending

    Padahalll pengennya masih lanjutt….

  6. nggak rela nggak rela klo ff ni esti the end :v endignya sweet banget aku suka akhirnya Lu-ge bisa sama2 Minseok \(^3^)/

    • huks huks, aku juga sedih sih…tapi…harus selesai! kalau nggak,nanti nggak bisa move on *eh*
      xixi, aku juga pengen digituinnn.
      makasih banyak ya udah ngikutin 😀

  7. kerrreeeeen T.T baca awal sampe akhir..setiap chapnya selalu ga ngebosenin dan selalu greget 🙂 gomawo udah bikin ff sekeren ini.. dan semua karakter disini sangat mengagumkan..terutama minseok.

  8. Whoooaaaa……..
    Asdfghjkl :3
    ternyata sudah end.. Kukira bakal lama.. :v
    aku suka ceritanya.. Ada beberapa chapter yg paling aku suka, soalnya kritis banget. Yah meskipun aku gk terlalu mengerti.
    Bagus deh.. 😀 tapi kadang jadi membosankan karena terlalu panjangnya dialog atau narasinya. Masukan aja. Aku suka kok ide ceritanya…
    *keep writing! Fighting!

    • iyaaaaa, aku juga ngerasa ada beberapa part yang seharusnya nggak usah dimasukin ke dalam cerita, tapi apa daya…buat pengisi aja biar nggak mikir terus xD *maksudnya* makasih buat masukannya 😀 😀 muah muah

  9. Yah..akhirnya tamat ceritanya..ahhh sedih banget ni..huhu..tapi ngak apa janji Xiumin&Luhan udah bahagia..jika mau buat cerita baru bilang sama aku ya?jgn lupa..aku adalah penggemar ceritamu!!♥♥I LOVE YOUR STORY!!♥♥

  10. YAAAMPUN YAAAMPUN!! INI KEREN BANGET…
    ga ngangka kalo konfliknya bakal serumit ini..ini ff yang menguras hari dan fikiran/abaikan
    Aaaaaa pokonya keren banget ga ketebak jalan cerintanya!
    ditunggu cerita yang lainnya
    Keep writing autor-nim^^
    Maafkan aku soalnya baru commentdi chap akhir soalnya terlalu fokus baca ceritanya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s