My Immortal Love is You _ XiuHan/LuMin (Bagian 17)

Tittle: My immortal love is you

Author: Fie

Genre: romance, family, drama, boyxboy

Length: Multichapter

Rated: T

Languange: bahasa

Pairing: LuMin/XiuHan

Cast:

– EXO XiuMin as Kim Minseok/XiuMin/Byun Daehyun

– LuHan as Xi Luhan

– EXO Baekhyun as Byun Baekhyun

– EXO Chanyeol as Park Chanyeol

– EXO SuHo as Kim Joonmyun

– Kris as Wu Yifan

– EXO Lay as Zhang Yixing/Lay

– EXO D.O as Kim Kyungsoo

– EXO Sehun as Kim Sehun

– EXO Kai as Lee Jongin

– EXO Chen as Lee Jongdae

– EXO Tao as Hwang Zitao

– Other….

“Sebuah cerita tentang kasih sayang yang akan terus abadi.”


 

Seventeen – (not) Alone

“Kau tidak seharusnya sendirian, Hyung, aku akan menemanimu saat kau membutuhkanku.”

 

DENGAN tangan berkeringat, Park Seulgi mengambil sebuah pistol dan mengarahkannya pada papan sasaran. Kalau biasanya orang harus menyipitkan matanya untuk memokuskan pandangan, berbeda dengan Seulgi, dia tidak harus melakukannya. Berlatih menembak sejak berumur 7 tahun membuatnya terbiasa dengan membidik, dan setiap dia menekan pelatuk pistolnya…

DARR

Pok pok pok pok

 

“Benar-benar mengagumkan, Park Seulgi, kemampuan menembakmu jauh lebih hebat daripada kakakmu. Kuharap kau bisa menembak dengan tepat nanti. Hari ini kau pergi dengan Kim Kyungsoo, bukan? Berikan persembahan terbaikmu.”

“Ne, Tuan Kim.”

“Aku belum memberikan kehilangan yang menyakitkan pada Byun Daehyun, jadi ayo kita berikan itu sebelum dia pergi.”

Tangan Seulgi mengepal kuat, mencoba menahan kemarahannya pada Kim Joonmyun. Jika itu yang dia inginkan, maka Seulgi akan menghalanginya.

“Apa kau sudah sarapan? Kau datang pagi sekali, aku merasa bersalah.”

“Nanti aku akan sarapan dengan Kyungsoo, Tuan Kim. Dan juga…,” kata Seulgi sedikit menggantung perkataannya, “kau tidak perlu selalu merasa bersalah padaku, Tuan, karena ini adalah tugasku.”

“Ahahaha, aku hanya tidak ingin kehilangan yeoja menakjubkan sepertimu, Seulgi-ssie.”

“Aku merasa tersanjung.”

“Aku hanya mempunyai dua bawahan yang bisa kupercayai, yaitu kau dan Tao.”

“Begitukah? Lalu bagaimana dengan Oppaku?”

“Dia kan sudah tidak ada.”

“Ah…kau benar.”

“Bersiap-siaplah, aku akan menyiapkan mobil untukmu. Oh, ngomong-ngomong, apakah kau senang menjadi CEO? Kurasa Appaku cukup baik dalam memilih orang.”

“Aku senang bekerja di sini, Tuan. Ketua Lee tidak menuntut apa-apa padaku, beliau hanya bilang untuk menjaganya sementara sampai kau siap menjadi CEO.”

“Apa kau pernah bertemu dengannya?”

“Pernah, sekali.”

“Menurutmu seperti apa dia?”

“Beliau orang yang baik.”

“Ya…dia memang baik, tapi jujur, aku tidak menyukainya.”

“Kenapa?”

“Karena dia terlalu baik, tapi aku menyukai kebodohannya.”

“Maksud Anda?”

“Dia tidak sadar kalau anak angkatnya melakukan ini. Dia terlalu percaya padaku.”

“Jika balas dendam ini selesai, apa kau akan kembali ke kehidupan normalmu?”

“Tentu. Aku akan menjadi CEO Anthersy Book setelah semuanya selesai.”

“Aku menantikan waktu itu.”

“Hahahaha, apa kau mulai menyukaiku?”

“Mwo?”

“Aku berpikir untuk mencari pasangan hidup, tapi kau terlalu muda untuk kujadikan istri, jadi aku akan mencari orang lain saja.”

“Apakah aku terlihat sedang menyukaimu?”

“Jadi tidak? Hahahaha, mungkin aku yang terlalu percaya diri.”

Aku tidak mungkin menyukai musuhku sendiri, batin Seulgi.

***

Kim Kyungsoo merapikan bajunya di depan kaca dan melihat jam dinding yang menunjukan puku 09.45, dan itu artinya dia harus berangkat sekarang jika tidak mau terlambat menemui Seulgi. Pagi ini dia harus memastikan semuanya, memastikan kalau Park Seulgi yang dikenalnya bukan orang yang dimaksud Minseok, kalau Park Seulgi bukanlah orang jahat.

“Aku harus memastikannya, Seulgi-a. Akan tetapi, jika kau orang yang dimaksud Hyungku, maka aku tidak akan membiarkanmu menyelakainya.”

Setelah memakai jaketnya, Kim Kyungsoo keluar dari kamarnya. Dia berpapasan dengan Jung Shinae saat melewati ruang tv.

“Kau mau kemana, Kyungie?”

“Aku akan menemui Park Seulgi, Eomma.”

“Oh, sahabatmu saat di Kanada, bukan? Dia kembali ke Korea?”

“Iya. Dia kembali belum lama ini.”

“Berikan salamku padanya, ya.”

“Tentu. Oiya, kemana Minseok-hyung dan yang lain, Eomma?”

“Mereka bilang ada rapat dadakan soal film Hyungmu.”

“Jadi mereka akan melanjutkannya?”

“Sepertinya begitu.”

“Uh…CEO yang sekarang benar-benar keras. Kalau begitu aku pergi dulu, Eomma.”

“Ne. Hati-hati, Kyungsoonie.”

Selepas kepegian Kyungsoo, Jung Shinae pergi ke kamarnya untuk mengambil suatu berkas penting untuk diserahkannya pada Soonkyu dan Jongwoon. Mengingat percakapan panjang mereka kemarin malam, Shinae merasa berkas itu juga harus dia berikan.

“Eommonim, aku dan Jongwoon-oppa ingin membicarakan sesuatu denganmu. Ini tentang Minseok.”

“Kenapa dengan Minseok?”

“Kita harus membicarakannya di kamarmu, Eomma.”

“Kenapa?”

“Ini benar-benar penting.”

Jung Shinae meletakan lap yang dipakainya untuk membersihkan meja kaca ruang tamu asal setelah melihat raut wajah Soonkyu yang serius. Dengan perasaan cemas, Jung Shinae pergi ke kamarnya dengan Soonkyu, sedangkan Jongwoon sudah di sana. Mereka duduk di lantai dan Jongwoon mulai menjabarkan foto Byun Daehyun, Byun Baekhyun, Park Chanyeol, Kim Joonmyun, Kim Han, dan Lee Taeyong.

“Eomma, aku sudah tahu kalau Kim Minseok adalah Byun Daehyun.”

“M-mwo?”

“Apa Eomma tahu kenapa Paman Han menitipkan Minseok padamu?”

“Ani…aku tidak pernah menanyakannya.”

“Tepat. Mereka tahu kalau Eomma tidak akan menanyakannya karena terlalu bahagia saat menerima Minseok jadi kami yang akan memberitahu hal penting ini supaya Eomma tahu alasan itu.”

“Apa maksudmu, Jongwoonnie?”

“Apa Eomma tahu tentang Kim Joonmyun?”

“Sepertinya aku pernah mendengarnya. Eung…dia itu teman Minseok, bukan? Kurasa Minseok pernah menyinggungnya beberapa kali.”

“Kim Joonmyun bukan sekedar teman untuk Minseok, Eomma, tapi dia adalah sepupu Minseok, atau sepupu Byun Daehyun.”

“A-apa?”

“Dia adalah orang yang menyuruh Paman Han untuk menitipkan Minseok padamu, Eomma. Appanya berhubungan dengan Paman Han dengan alasan pekerjaan yang sangat menguntungkan Paman Han. Sehingga, saat Appa Joonmyun meminta bantuannya, Paman Han akan melakukannya dengan senang hati, dan bantuan itu adalah menyelamatkan Minseok dari kecelakaan 19 tahun yang lalu. Karena Eomma sangat menyayangi Minseok, Eomma tidak pernah bertanya kenapa Paman Han bisa menemukan Minseok, dan langsung percaya kalau keluarganya telah meninggal semua, bukan?”

“I-iya…aku percaya kalau keluarga Minseok telah meninggal semua.”

“Akan tetapi, jika Eomma ingin mengadopsi Minseok, Eomma harus mengurusnya ke pengadilan, bukan? Kim Joonmyun mengetahui itu, dan akhirnya menyuruh Paman Han untuk mengurusnya sebagai ganti Eomma dan Appa sehingga identitas Joonmyun tetap aman. Jika Eomma dan Appa mengusulkannya sendiri, kalian akan mengatakan kalau Minseok adalah Byun Daehyun, dan itulah masalahnya. Kalian akan tahu jika Byun Daehyun sedang dicari, dan jika kalian tahu, maka kalian akan bertanya pada Paman Han tentang perkara ini. Apakah Eomma masih menyimpan surat adopsi Minseok?”

“Iya, aku masih menyimpannya.”

“Bolehkah kami memintanya untuk diselidiki?”

“Tentu, tapi…aku masih tidak mengerti kenapa Kim Joonmyun melakukan itu?”

“Itu tujuanku menjabarkan foto-foto ini, Eomma. Dimulai dari Park Chanyeol, orang yang menjadi pacar Minseok semasa SMA dan juga…orang suruhan Kim Joonmyun. Park Chanyeol bertugas untuk mendekati Baekhyun sehingga kakak kandung Minseok menyukainya, dan setelah Minseok masuk SMA, Park Chanyeol malah memacari Minseok sehingga itu membuat Baekhyun membenci adiknya sendiri. Akan tetapi, setelah 7 tahun berlalu, Minseok dan Baekhyun bertemu lagi dan tanpa disadari Baekhyun malah menjadi dekat dengan Minseok karena alasan tertentu. Itulah mengapa Park Chanyeol memanggil Lee Taeyong untuk berperan sebagai Daehyun palsu agar Baekhyun bisa membunuh firasatnya pada Minseok. Akan tetapi, keluarga Byun bukan orang sembarangan. Mereka mencaritahu asal usul Taeyong dan menemukan kebenaran tentangnya, sehingga misi Chanyeol gagal lagi. Setelah itu, Chanyeol bunuh diri di depan Baekhyun dengan alasan tidak bisa lagi menyakiti orang yang dicintainya itu lebih lama lagi. Kim Joonmyun tidak kehabisan akal. Dia mengeluarkan kartu lainnya, yaitu Park Seulgi. Orang yang pernah menjadi sahabat Kyungie di Kanada. Apa Eomma mengingatnya?”

“Park Seulgi? Ah…gadis yang sering bermain dengan Kyungie sejak kami pindah ke Kanada? Iya, aku masih mengingatnya.”

“Tepat. Park Seulgi sekarang menjadi CEO di Anthersy Book untuk menggantikan Park Chanyeol. Sepertinya dia tidak hanya mengincar Minseok, tapi juga Kyungsoo.”

“Mwo? Apakah mereka akan baik-baik saja? Apa yang akan Joonmyun lakukan pada dua anakku?”

“Kami belum bisa menyimpulkan rencananya, Eomma. Tapi, ini pasti berhubungan dengan balas dendam Joonmyun karena kematian Appanya. Dia ingin membuat Baekhyun dan Daehyun mengalami perasaan yang sama sepertinya,” jelas Soonkyu.

“Apakah dia akan membunuh Minseokku?”

“Kami belum tahu…”

“Jongwoonnie, Soonkyunnie, tolong selamatkan anak-anakku…”

“Kami pasti akan melakukannya, Eomma. Maka dari itu, sekarang kami ingin Eomma menyerahkan surat adopsi Minseok.”

“T-tentu, aku menyimpannya dengan baik di lemari.”

 

Jung Shinae mengambil sebuah amplop cokelat tebal yang diberikan Kim Han sehari sebelum dia ditangkap. Amplop berisi surat perjanjian Kim Han dengan Kim Ilsook dan Kim Joonmyun. Surat yang tidak pernah dia hiraukan karena terlalu membenci Kim Han setelah penyerangan itu.

“Shinae-ssie, maafkan aku karena telah menyerang anakmu.”

“J-jadi kau yang menyerangnya? Kenapa kau melakukan itu, Han-ssie?”

“Aku benar-benar menyesal. Aku melakukan itu untuk keluargaku, tapi sepertinya semua sudah selesai. Aku ingin memberikan amplop ini padamu. Di dalam amplop ini ada surat perjanjian antara aku dengan orang-orang yang terlibat dalam kasus ini. Jika dibutuhkan, segera keluarkan surat ini sehingga penyesalanku terhadap keponakan yang sangat kusayangi bisa terbayar.”

“Aku tidak akan percaya dengan ucapanmu, Han-ssie. Aku akan mengambil amplop ini, tapi aku sudah tidak peduli dengan isinya. Yang kuinginkan sekarang adalah melihat polisi menangkapmu.”

“Terserah padamu. Sekali lagi maafkan aku, Shinae-ssie.”

Jung Shinae menatap amplop besar itu sambil menghela nafas lelah.

“Maafkan aku karena tidak mempercayaimu, Han-ssie.”

***

Saat Kyungsoo keluar dari gerbang, Minseok segera membangunkan Luhan yang tertidur akibat menunggu Kyungsoo sejak pagi buta.

“Hya, Lu-ge! Kyungsoo sudah keluar!”

“O-oh? Benarkah? I-iya-iya, aku bangun.”

Kyungsoo memanggil taksi untuk mengantarnya ke kedai Valcy. Luhan segera menyalakan mesin mobilnya dan mengikuti taksi itu dengan kecepatan sedang.

“Pelan-pelan saja, Lu-ge.”

“Euh.”

Membutuhkan waktu selama 15 menit untuk sampai ke kedai Valcy. Saat taksi itu berhenti, mobil Luhan juga berhenti di tempat yang agak jauh sehingga Kyungsoo tidak curiga. Kyungsoo turun dari taksi itu dan masuk ke kedai Valcy, sedangkan Minseok sibuk menutupi wajah Luhan sehingga kedatangan mereka ke kedai itu tidak menimbulkan keributan.

“Hei-hei, mau seberapa tebal lagi syalnya, hah?”

“Pokoknya kau harus menyamar dengan baik, Lu-ge.”

“Kalau begini, orang akan memperhatikanku karena terlihat sangat aneh.”

“Oh, benar juga. Baiklah, sekarang pakai topi ini dan masker ini. Pastikan syal itu menutupi wajahmu, oke?”

“Oke.”

“Nah, ayo kita masuk.”

Mereka berdua masuk dan memesan bangku yang agak jauh dari bangku Kyungsoo, tapi cukup dekat untuk mengawasinya.

Sudah pukul 10.05, tapi Park Seulgi belum datang. Kyungsoo memesan makanan dan minuman masing-masing dua porsi, seperti sudah tahu apa yang akan dipesan Seulgi. Kyungsoo memeriksa ponselnya dan kembali melihat jam dinding dengan perasaan was-was.

Pukul 10.10, seorang gadis dengan rambut dikuncir satu sedikit berlari dari pintu masuk dan duduk di hadapan Kyungsoo. Gadis itu terengal dan terlihat panik karena telah terlambat.

“Maaf, Kyungsoo-a, jalanannya macet.”

“Oh, tidak apa-apa.”

Penampilan Seulgi pagi ini benar-benar berbeda dengan penampilannya di kantor. Jika di kantor dia terlihat seperti wanita dewasa yang arogan, kini dengan sweater dan rok mini warna lembut membuatnya terlihat seperti gadis muda polos yang ceria.

“Park Seulgi benar-benar berbeda saat bertemu Kyungie,” komentar Minseok.

“Ohya?”

“Sssh…”

Seulgi melihat jam dinding dan semakin merasa bersalah karena sadar sudah terlambat 10 menit.

“Oh my…aku terlambat 10 menit. Maafkan aku, Kyungsoo.”

“Sudah kubilang tidak apa-apa. Aku juga baru sampai 5 menit yang lalu.”

“Benarkah? Uh…tapi tetap saja…”

“Hahaha, sudahlah tidak usah dipikirkan.”

“Apa kau sudah memesan makanan?”

“Sudah, sebentar lagi juga datang. Kau datang dengan siapa?”

“Dengan supir pribadiku. Kau sendiri?”

“Dengan taksi, tapi rumahku tidak terlalu jauh dari sini kok. Kau bisa mampir nanti.”

“Oh, tentu. Nanti aku pasti berkunjung. Aku merindukan Eommamu.”

“Eomma menitipkan salam untukmu.”

“Ohya? Aku akan mengunjunginya kapan-kapan karena hari ini aku ada urusan mendadak di kantor.”

“Kantor? Kau benar-benar sudah bekerja?”

“Hahaha, pertanyaan klasik.”

“Kau bekerja dimana?”

“Kalau aku menceritakannya, kau mungkin tidak akan percaya.”

“Oh, aku belum mendengarnya, Seulgi-a, bagaimana aku bisa tidak percaya?”

“Ahaha, benar juga. Eung…kakakmu penulis, bukan?”

“Minseok-hyung? Iya, dia penulis. Kenapa?”

“Aku bekerja dengannya.”

“Bekerja dengannya?”

“Iya. Aku bekerja di perusahaan yang sama dengannya, di Anthersy Book.”

“Sebagai apa? Asistennya?”

“Ani, sebagai CEO.”

“C-CEO?”

“Kau tidak percaya, bukan? Hahahaha, aku sudah menduganya. Apa kau tidak diberitahu Hyungmu?”

“Jadi kau adalah adik Park Chanyeol yang diceritakan Hyungku?”

“Oh? Jadi dia sudah cerita? Bagus kalau begitu.”

“Kau tidak pernah memberitahuku tentang kakakmu.”

“Ohya? Sepertinya pernah. Aku pernah bilang punya kakak lelaki yang tinggal bersamaku di Kanada, tapi karena dia sering bolak-balik Kanada-Korea, aku tidak bisa mengenalkannya padamu. Aish…aku benar-benar lapar! Pelayan, apakah makanan kami sudah siap?”

“Tunggu sebentar, Nona, kami akan segera mengantarkannya.”

“Uh…aku belum makan dari pagi. Bagaimana denganmu? Aku harus berlatih menembak pagi ini. Apa kau pernah menembak? Itu sangat mengasyikan!”

“Untuk apa kau berlatih menembak?”

“Untuk membunuh.”

Dada Kyungsoo terasa sesak saat mendengar jawaban itu. Dia tidak pernah menyangka kalau sahabatnya akan berpikir sejauh itu dalam usia semuda ini.

“M-mwo?”

“Oh, makanannya sudah datang! Gomawo. Woa…semua ini makanan kesukaanku, bukan? Ternyata kau masih ingat makanan kesukaanku! Aku makan, ya?”

Tanpa menunggu jawaban Kyungsoo, Seulgi menyantap makanannya dengan lahap. Sedangkan Kyungsoo, dia hanya bisa menatap Seulgi dengan cemas. Dia takut jika harus menyakiti sahabatnya demi menyelamatkan Minseok. Oh my…kepala Kyungsoo tiba-tiba pening dan perutnya mual sehingga dia tidak sedikitpun menyentuh makanannya.

Di meja Minseok dan Luhan, Minseok tidak berhenti mengawasi Kyungsoo seperti mata-mata. Luhan yang melihat itu hanya bisa tertawa kecil.

“Kenapa kau tertawa?”

“Aku tidak menyangka kau bisa seprotektif ini pada adikmu.”

“Apa kau tidak seperti ini saat mengawasiku?”

“Ey…aku tidak mungkin seperti itu. Aku lebih menyeramkan lagi.”

“Hahahaha, dasar…”

“Tapi apa kau yakin Seulgi akan menyakiti Kyungsoo? Sepertinya mereka baik-baik saja.”

“Aku tdak tahu.”

“Kalau menurutmu?”

“Aku melihat Seulgi dan Chanyeol sebagai sosok yang sangat berbeda, tapi aku tidak tahu apakah perbedaan itu baik atau tidak.”

“Lalu Kyungsoo, apa menurutmu dia akan jatuh seperti Baekhyun?”

“Tidak.”

“Tidak?”

“Kyungsoo tidak akan mengingkari janjinya padaku. Dia tidak akan jatuh ke lubang yang sama dengan Baekhyun-hyung.”

“Iya. Aku juga berpikir seperti itu. Aku juga yakin Kyungsoo tidak akan semudah itu tertipu.”

Percakapan keduanya berhenti saat Seulgi telah selesai makan.

“Kau tidak makan?” tanya Seulgi.

“Tidak.”

“Hahahaha, apa kau sedang memikirkan kata-kataku tadi?”

“Tentu saja.”

“Jangan terlalu dianggap serius, Kyungsoonie, santai saja.”

“Bagaimana aku bisa santai saat kau—”

“Aku benar-benar melewatkan banyak hal di sini. Bahkan aku baru tahu kakakku meninggal karena bunuh diri.”

“B-bunuh diri? Apa maksudmu?”

“Jadi Minseok-oppa tidak memberitahumu hal ini? Oh, tentu saja dia tidak berani. Kau akan sangat membenci kakakku jika tahu alasan kenapa dia bunuh diri.”

“Kenapa?”

“Kakakku memanfaatkan Hyungmu untuk suatu alasan, tapi akhirnya meninggal di depan Byun Baekhyun karena sasaran sebenarnya memang Byun Baekhyun, bukan kakakmu.”

“Apa yang sedang kau bicarakan, Seulgi-a? Kenapa…”

“Aigo…apa kau belum mengerti juga? Benar-benar bukan Kyungsoo yang kukenal.”

“Apa tujuanmu berteman denganku?”

“Maksudmu?”

“Apa kau juga akan melakukan hal yang sama dengan kakakmu?”

“Sepertinya iya, kecuali bagian bunuh diri.”

“Kenapa kau melakukan ini, Seulgi-a?”

Raut wajah Seulgi berubah dingin. Dia menatap Kyungsoo dengan matanya yang tajam cukup lekat, seperti siap membunuh namja itu kapan saja.

“Karena keluargaku dalam bahaya, Kyungsoo. Keluarga yang sangat kucintai dalam bahaya sekarang, dan satu-satunya cara untuk menyelamatkan mereka adalah membunuh.”

“Siapa yang akan kau bunuh?”

“Apa kau bisa menebaknya?”

“Aku.”

“Hahahaha, ini baru Kyungsoo yang kukenal!”

“Berhenti, Seulgi-a.”

“Apa kau sedang memohon untuk tidak dibunuh?”

“Berhenti membuatku membencimu.”

“Jadi kau sudah mulai membenciku? Sebaiknya memang begitu, Kyungsoo. Karena jika kau tidak membenciku, aku tidak bisa berhenti menyukaimu.”

“Mwo?”

“Jika kau bukan musuhku, mungkin aku akan menyukaimu.”

“Seulgi-a.”

“Aku sangat membenci kakakmu, Kyungsoo, kau harus percaya itu.”

“Hya, Seulgi-a! Sampai kapan kau akan berbohong, hah?”

Teriakan Kyungsoo membuat Minseok dan Luhan bersiap untuk menghampiri Kyungsoo.

“Sejak kapan kau berani meneriaki perempuan?”

“Aku akan meneriakimu sampai kau sadar pada kesalahanmu, Seulgi-a.”

“Aku sadar sepenuhnya saat melakukan ini, Kyungsoo. Apa kau tidak percaya?”

“Tidak, dan tidak akan pernah.”

“Baiklah, terserah kau saja. Aku pergi dulu, ya. Sampai bertemu di lain kesempatan.”

“Jika kau tidak berhenti, aku terpaksa harus menyakitimu, Seulgi-a.”

“Aku menantikan itu.”

Seulgi berdiri dan berjalan tanpa mempedulikan Kyungsoo yang hanya bisa terdiam dengan perasaan tidak keruan. Setelah Seulgi keluar, Minseok dan Luhan sedikit berlari menghampiri Kyungsoo.

“Kyungie…”

“M-Minseok-hyung? Apa kau mendengar percakapan kami tadi?”

“Eum…”

“Dia Park Seulgi yang kau maksud, Hyung. Orang suruhan Kim Joonmyun…”

“Ne-ne, sekarang tenangkan dirimu dulu.”

Kyungsoo memeluk Minseok sangat erat sambil menahan tangisnya sekuat tenaga. Dia tidak bisa percaya, lebih tepatnya tidak mau, karena dia tahu Seulgi bukan orang seperti itu. Dengan melihat mata Seulgi saat bercerita tentang keluarganya, Kyungsoo tahu kalau Seulgi sedang meminta pertolongan, bukan menantangnya.

“Hyung, jebal…bebaskan Seulgi dari Kim Joonmyun.”

***

Park Seulgi berjalan menuju ruangan Kim Joonmyun untuk melaporkan pekerjaannya. Saat dia masuk, Joonmyun sedang bermain catur dengan Tao.

“Tuan Kim.”

Mendengar suara Seulgi, Joonmyun langsung menghentikan kegiatannya dan memutar kursinya menghadap Seulgi.

“Oh, kau sudah datang. Cepat sekali?”

“Aku belum membunuh Kyungsoo.”

“Wae?” kata Joonmyun seraya berdiri.

“Pengawal keluarga Byun mengawasi kami.”

“Mwo? Pengawal keluarga Byun?”

“Iya, Tuan.”

“Bagaimana bisa?”

“Sepertinya Kim Minseok tahu tentang perjanjian ini. Jika aku ditangkap, bukankah itu akan membahayakan identitasmu?”

“Ah, benar juga.”

“Lalu bagaimana recana Anda selanjutnya, Tuan?”

“Karena mereka sudah mengetahui keseluruhan rencanaku, maka mari kita buat rencana baru.”

***

Siang itu Kim Minseok dan Luhan pergi ke kantor polisi tempat Lee Jongin dan Lee Jongdae bekerja. Mereka ingin melaporkan Park Seulgi. Saat mereka ke sana, Yifan dan Yixing juga sedang berada di sana untuk membicarakan kasus yang sama.

“Yifan-hyung, Yixing-hyung? Kenapa kalian di sini?”

“D-Daehyun-a,” kata Yixing gugup.

“Jangan bilang kalian sedang…”

“Maafkan kami, Tuan Daehyun, kami harus ikut menyelidiki kasus ini walau diam-diam.”

“Apa Nenek yang menyuruh kalian? Yixing-hyung, kau bilang tidak akan terpengaruh pada perintah Nenek, tapi kenapa?”

“Tidak, Tuan. Kami mengerjakan ini tanpa perintah Nyonya Taera,” kata Yifan seraya mendekati Minseok.

“Lalu?”

“Kami mengerjakannya untuk menyelamatkanmu. Nyonya Taera tidak tahu tentang ini.”

“Benarkah?”

“Anda bisa memegang omongan kami.”

Lee Jongin mendekati Minseok dan mengulurkan tangannya.

“Hai kakak ipar.”

“M-mwo?”

“Jongin-a, apa yang kau lakukan?” kata Jongdae.

“Ini akan segera berakhir, Hyung, jadi apa bedanya? Kim Minseok, aku dan Jongdae-hyung adalah adik Lee Soonkyu-noona, kakak iparmu.”

“Nde?”

“Kami yang bekerja di semua kasus keluargamu, dan Soonkyu-noona, dia adalah jaksa yang bertanggung jawab atas kasus Kim Joonmyun.”

“Soonkyu-noona? Uh, pantas saja.”

“Pantas saja apa?” tanya Luhan.

“Waktu aku bercerita tentang masalahku, Soonkyu-noona tidak bertanya tentang masa laluku, padahal jelas-jelas aku belum pernah bercerita padanya kalau aku amnesia.”

“Soonkyu-noona terkadang memang ceroboh,” kata Jongdae.

“Lalu kenapa kalian ke sini?” tanya Yixing.

“Oh, kami hampir lupa. Hari ini Seulgi dan Kyungsoo bertemu, tapi tidak terjadi apa-apa di antara mereka,” jelas Minseok, “selain itu…Seulgi mengancam akan membunuh Kyungsoo.”

“Perkiraan kami benar.”

“Perkiraan apa, Yifan-hyung?”

“Seulgi mengincar Kyungsoo untuk menarik perhatianmu, Daehyun.”

“Jadi maksudmu, Seulgi akan melakukan hal yang sama dengan Chanyeol-hyung?”

“Bisa jadi.”

“Apa kalian sudah mengamankan keluarga Park?”

“Masih dalam proses. Oiya, Daehyun, kami ingin memberitahumu 1 hal.”

“Apa itu?”

“Appa Kim Joonmyun tidak bersalah dalam penggelapan uang 19 tahun yang lalu.”

“Mwo? J-jadi Appaku memfitnah Paman Ilsook?”

“Ini bukan 100% kesalahan Appamu. Tuan Byun Minho melakukan ini karena Kim Ilsook berencana menjatuhkan keluarga Byun. Apa Anda masih ingat dengan cerita Joonmyun tentang Appanya berteman dengan kelompok mafia?”

“Iya, aku masih ingat.”

“Kim Ilsook adalah salah satu anggota mafia itu. Dia menikahi Nona Byun Minah untuk menjatuhkan keluarga Byun.”

“Lalu sekarang dimana Bibiku? Apakah dia masih hidup?”

“Iya. Dia masih hidup dan menikah dengan orang lain, pemilik Anthersy Book, Lee Hoosan.”

“Jadi itu sebabnya Chanyeol-hyung dengan mudah menjadi CEO Anthersy Book?”

“Bukan begitu, Daehyun,” kata Yixing, “Chanyeol masuk ke Anthersy Book dengan bantuan Byun Baekhyun, lalu karena kinerjanya sangat bagus, Chanyeol diangkat menjadi CEO sementara sebelum Kim Joonmyun siap menjabat.”

“Jadi Lee Hoosan tidak tahu tentang kejahatan Kim Joonmyun?”

“Kemungkinan besar begitu.”

“Tapi kenapa tidak ada yang tahu kalau Bibiku menikah dengan Lee Hoosan?”

“Nona Byun Minah adalah istri kedua yang disembunyikan oleh Lee Hoosan. Dia hanya mengenalkan istri pertamanya karena tidak mau mendengar perkataan tidak enak dari rekan-rekannya. Maka dari itu mereka tinggal di China, sedangkan istri pertama Lee Hoosan tinggal di Korea untuk memantau Anthersy Book. Tidak ada yang dirugikan dari pernikahan ini, jadi istri pertama Lee Hoosan tidak keberatan.”

“Kalian sudah menyelidikinya sampai sejauh ini, tapi kenapa belum bisa menangkap Joonmyun?”

“Kami harus mengungkap hubungan Joonmyun dengan Kim Han, Lee Taeyong, dan Park Chanyeol. Dengan begitu, hubungannya dengan kelompok mafia yang ingin menjatuhkan keluargamu bisa terungkap.”

***

Kim Minseok dan yang lain kembali sekitar jam 4 sore. Suasana rumah saat itu cukup lenggang, semua orang sedang berada di kamarnya masing-masing. Minseok pergi ke dapur untuk mengambil minuman, dan Luhan mengikutinya.

“Aku juga ingin minum,” kata Luhan seraya duduk di kursi makan.

“Hanya ada air putih, tidak apa-apa?”

“Iya, tidak apa-apa.”

Minseok mengambil sebotol air dingin dan dua gelas pelastik lalu meletakannya di meja. Luhan dengan sigap menuangkan air ke dua gelas itu lalu meneguknya.

“Xiumin, apa yang akan kau lakukan saat semuanya selesai?”

“Aku akan melanjutkan kehidupanku seperti biasa.”

“Sebagai penulis atau pasanganku?”

“Ey…apa maksudmu?”

“Kau tahu kan kalau kita akan mengumumkan hubungan kita setelah kasus ini selesai, jadi aku akan mengadakan pernikahan juga.”

“Itu terlalu cepat, Luhan.”

“Apa lagi yang kau tunggu?”

“Eung…tidak ada sih.”

“Yasudah, kalau begitu kita akan menikah setelah pemutaran filmmu.”

“Baiklah…”

“Dan juga, aku akan melamarmu di tempat yang lebih baik. Bukan di ruang tamu atau lorong apartemen. Hehe~”

“Aku menantikannya.”

“Oh, aku punya ini untukmu.”

Luhan mengeluarkan sebuah gelang dengan banyak huruf x dan l di dalamnya.

“Aku membelinya sebelum ke Korea. Karena kau sudah membuatkanku gantungan tas, jadi aku membuatkanmu ini.”

“Ah…gantungan tas itu.”

“Apa kau suka? Tapi hati-hati dengan bagian tajam pada x, sepertinya itu cukup tajam untuk melukai kulitmu.”

“Gomapta, aku menyukainya.”

“Apa sekarang kau akan berbicara dengan Kyungsoo? Kurasa aku bisa menunggu.”

“Tumben sekali kau seperti ini. Apa kau sudah berubah menjadi Luhan yang pengertian?”

“Tidak! Aku hanya tidak enak pada Kyungsoo karena sering mengambilmu darinya.”

“Hahaha. Yasudah, kalau kau sudah selesai, masukan minuman ini ke kulkas ya.”

“Eum.”

Minseok meninggalkan Luhan dan pergi ke kamarnya. Di sana Kyungsoo sedang membaca komik seperti biasanya, tapi saat Minseok masuk, Kyungsoo langsung menutup komiknya dan menaruhnya asal.

“Hyung, bagaimana?”

“Aku sudah bicara pada polisi.”

“Lalu?”

“Mereka akan berusaha mengamankan keluarga Seulgi.”

“Fiuh…”

Minseok tersenyum masam melihat adiknya lebih memperhatikan orang lain ketimbang dirinya.

“Apa kau sudah bisa lega?”

“Maksud, Hyung?”

“Aku masih diincar, tapi kau sudah lega karena keluarga Seulgi akan diselamatkan.”

“Itu masalah yang berbeda, Hyung.”

“Ooh…beda toh.”

“Apa kau sedang cemburu? Memangnya aku tidak cemburu kalau kau terus bersama Luhan dan Baekhyun-hyung? Huft…”

“Hahahaha, aku hanya bercanda.”

“Kalau Seulgi dan keluarganya ditangkap, apakah polisi akan menghukumnya?”

“Molla, tergantung kesalahan mereka.”

“Jenis kejahatan apa kira-kira, Hyung?”

“Rencana pembunuhan?”

“Hya! Mereka hanya disuruh!”

“Aku tidak berniat menuntut mereka kok.”

“Ooh…kukira…”

“Memangnya aku sejahat itu? Oiya, ini tentang kepindahanmu.”

“Ada apa?”

“Sebaiknya kau tidak pindah.”

“Ho? Kenapa?”

“Eomma akan sangat kesepian jika anaknya pergi lagi. Setidaknya kita bisa makan malam bersama. Aku akan membelikanmu motor.”

“Lalu bagaimana denganmu? Bukankah setelah ini kau akan menikah dengan Luhan-hyung? Kau juga akan pindah, bukan?”

“Itu maksudku. Jika kau juga pergi, Eomma akan kesepian.”

“Ah…benar juga.”

“Jadi kau tidak usah pindah, ya?”

“Aku akan memikirkannya.”

“Ey…”

***

Malam itu Kyungsoo kaget bukan main saat mendapatkan email dari Park Seulgi. Email itu berisi tentang permintaan maaf Park Seulgi soal kejadian siang ini.

Aku tidak bermaksud mengancammu, Kyungsoo-a. Sekarang aku tidak tahu harus bagaimana. Kim Joonmyun mengancam akan membunuhku jika tidak membunuhmu. Tolong aku, Kyungsoo-a, tolong aku.

 

Kyungsoo hanya bisa berdiam diri membaca pesan itu karena dia juga tidak tahu harus melakukan apa. Kyungsoo ingin membangunkan Minseok, tapi tidak tega. Akhirnya Kyungsoo membalas pesan itu dengan ragu.

Kau ada dimana sekarang? Kenapa tidak pergi saja? Hyungku sudah meminta polisi untuk menjemput keluargamu.

 

Setelah beberapa lama, Park Seulgi membalasnya.

Itu sudah terlambat. Mereka akan membunuh kami tidak lama lagi. Kau harus menolongku, Kyungsoo!

 

Kyungsoo semakin panik, dia terus bertanya dimana Park Seulgi sekarang, tapi gadis itu hanya menjawab sudah terlambat. Sampai akhirnya Kyungsoo keluar rumah hanya dengan membawa ponselnya. Dia berusaha menghubungi Jongin, tapi saat dia keluar, seorang lelaki besar membekap mulutnya sampai tidak sadarkan diri dan membawanya ke mobil.

***

“Xiumin-a, Xiumin-a, bangun!”

Minseok terbangun saat Luhan meneriaki namanya.

“Wae?”

“Kyungsoo, dia menghilang!”

“Mwo?”

Minseok segera bangkit dari kasurnya dan berlari keluar. Jung Shinae dan yang lain sedang menunggu di ruang tv.

“Ada apa ini? Dimana Kyungsoo?”

“Kami sedang menghubungi Jongin apakah dia ke kantor polisi pagi ini.”

“Palli, Yifan-hyung, palli!”

Selagi Yifan menghubungi Jongin, Minseok teringat sesuatu dan berlari ke kamar. Dibukanya laptop Kyungsoo dan memeriksa percakapan terakhir Kyungsoo dan Seulgi.

“Andwe…andwe!!”

Minseok berteriak histeris saat membaca pesan terakhir Seulgi dalam percakapan itu.

Kim Minseok, apa kau ingin membebaskanku? Jika iya, kau harus membebaskan adik dan kakakmu dulu. Jangan menghubungi polisi atau semacamnya, karena ini benar-benar membahayakan.

Luhan segera berlari ke kamar saat mendengar teriakan itu. Dia mencoba menenangkan Minseok, tapi tidak berhasil.

“Ayo kita ke rumah Joonmyun, Lu-ge.”

“Nde? Aku tidak tahu dimana itu.”

“Aku tahu.”

“Darimana kau tahu?”

“Joonmyun pernah memberikan alamatnya padaku sebelum aku pulang ke Korea. Ayo, Lu-ge!”

“T-tapi…”

“Cepat!”

“Tuan Daehyun, ada apa?” tanya Yifan, “Jongin bilang Kyungsoo tidak ke sana.”

“Kita harus menangkap Joonmyun sekarang juga, Hyung. Dia menangkap Kyungsoo dan Baekhyun-hyung!”

“Apa?”

“Kami akan ke sana lebih dulu, sedangkan kalian harus mengikuti kami diam-diam. Baca pesan ini.”

Setelah Yifan membaca pesan itu, dia menggebrak meja karena kesal. Dia segera mengambil ponsel dan menghubungi rekan-rekannya, termasuk polisi, untuk mengawasi Minseok dan Luhan yang akan pergi ke kediaman Joonmyun.

“Kami akan pergi sekarang,” kata Luhan.

Luhan mengambil kunci mobilnya dan mereka langsung melajukan mobil silver itu dengan kecepatan penuh. Akan tetapi, di tengah perjalanan, tiba-tiba ada asap yang keluar dari bagian belakang mobil dan masuk. Saat Luhan dan Minseok menghirup asap itu, mereka mengantuk dan Luhan langsung menghentikan mobilnya.

“Ada apa ini? Kenapa pandanganku jadi kabur? Asap apa itu, Lu-ge?”

“Aku tidak tahu. Ayo cepat keluar!”

Luhan dan Minseok pun keluar, tapi kesadaran mereka terus menurun karena pengaruh asap itu. Sampai akhirnya mereka berdua pingsan di tengah jalan dan sekelompok orang berpakaian hitam membawa mereka ke dalam mobilnya.

***

Baekhyun, Minseok, dan Luhan membuka matanya bersamaan saat para pengawal Joonmyun memberikan aroma yang menyengat pada mereka. Saat membuka mata, ketiga namja itu sangat terkejut karena kini mereka berada di sebuah gudang dengan tangan terikat di belakang. Minseok sangat lega saat melihat Baekhyun masih hidup, tapi rasa leganya tidak lama karena Kyungsoo tidak di sana.

“Senang bertemu dengan kalian, Byun Baekhyun, Byun Daehyun. Ah, ada kau juga, Luhannie. Sudah lama kita tidak bertemu, apa kau merindukanku?”

“J-Joonmyun, apa yang mau kau lakukan?” kata Luhan.

“Ow…jangan buru-buru, Luhan. Aku ingin bermain-main dulu.”

“Joonmyun-hyung, hentikan ini. Dimana Kyungsoo?!”

“Oh, Daehyunnie, sudah kubilang jangan terburu-buru.”

Joonmyun berjalan mengitari Baekhyun, Minseok, dan Luhan lalu berhenti di samping Baekhyun dan duduk di sebelahnya.

“Baekhyunnie…cucu kesayangan Nenek. Heum…rasanya akan lebih seru jika aku membunuh Daehyun di depanmu ya daripada membuat Chanyeol bunuh diri. Benar, kan?”

“Jangan berani-berani.”

“Oh, kau mengancamku? Benar-benar beran.”

“Apa yang kau inginkan, Kim Joonmyun?”

“Apakah Nenek masih menyayangimu? Apakah kau masih menjadi satu-satunya cucu untuknya? Baekhyunnie-Baekhyunnie…aku benar-benar iri padamu. Nenek hanya memperhatikan cucu dari anak pertamanya, padahal aku lahir lebih dulu. Oh…benar-benar menjengkelkan, bukan? Sudah 9 tahun aku mengemis cinta Nenek supaya dia memberiku kesempatan belajar yang baik sepertimu, tapi itu sia-sia. Keluargaku malah diusir karena Appamu, lelaki yang licik.”

“Jangan pernah mengejek Appaku!”

“Kenapa tidak? Bahkan dia telah mengabaikan anak keduanya demi kau. Apa kau tidak tahu kalau Daehyun juga kesepian? Apa kau tidak tahu kalau kami harus bersabar demi mendapatkan cinta dan kepercayaan itu? Kau tidak akan tahu, pasti begitu karena kau tidak pernah merasakannya. Yang kau dapatkan adalah pendidikan dan kehidupan yang jauh lebih baik daripada kami. Aku benar-benar iri padamu.”

“Jika kau pintar, maka kau harusnya meminta langsung pada Nenek, bukan menimbulkan masalah seperti ini!”

“Meminta? Aku? Oh, yaampun, Baekhyunnie…aku sudah memintanya berulang kali, aku selalu meminta keadilan itu, tapi kau tahu apa yang Nenek bilang? Aku tidak bisa, sekeras apapun aku mencoba, aku tidak akan bisa. Aku tidak mengerti kenapa Nenek bersikap seperti itu padaku. Aku tidak mengerti kenapa dia membenci keluargaku. Apa kau punya jawabannya?”

Baekhyun tidak bisa menjawab pertanyaan Joonmyun dan hanya bisa menatap nanar namja itu.

“Ayolah, Baekhyunnie, aku menunggu jawabanmu.”

Baekhyun masih tidak menjawab.

“Kau tidak bisa menjawabnya? Ternyata aku salah menilaimu, kau benar-benar bodoh.”

Kim Joonmyun bangkit dan berjalan lagi, kini dia berhenti di hadapan Luhan. Luhan menatap Joonmyun dengan tatapan sedih, lebih tepatnya prihatin sekaligus tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

“Hai, Luhannie, kaget melihatku?”

“Iya, aku sangat terkejut, Joonmyun. Aku tidak pernah percaya jika kau adalah orang jahat. Yang kutahu, kau adalah sahabat terbaikku, orang yang tulus.”

“Tidak, Luhan, tidak…jangan terlalu polos dan langsung percaya pada orang lain karena itu akan menyakitimu.”

“Tapi kenapa, Joonmyun, kenapa kau membohongiku?”

“Apa kau belum mengerti dengan permainan ini? Ah, apa kau ingat hari dimana kau bertemu dengan Byun Daehyun? Eung…di pesawat, bukan? Itu aku yang mengaturnya.”

“Apa?”

“Aku tahu hari itu Byun Daehyun akan ke Kanada, dan kau juga, jadi aku mengulur waktu Daehyun dengan seorang reporter mata-mata yang hadir di launching bukunya. Hahaha, waktu yang tepat, bukan? Aku tidak menyangka rencana itu akan berhasil. Padahal aku tidak bermaksud mempertemukan kalian di sana, tapi saat tahu Ayah angkat Byun Daehyun sedang sekarat, aku langsung memutar otak. Hem…mungkin pertemuan di Kanada boleh juga, karena jika Kim Jaein meninggal, Byun Daehyun akan membutuhkan orang di sampingnya, dan aku tahu siapa itu. Aku yakin kau akan mengikuti penulis kesukaanmu dan prediksiku tepat, bukan? Awalnya aku ingin membunuhmu setelah kau dekat dengan Daehyun, tapi…Wu Yifan selalu ada di sampingmu, dan itu akan mempersulit keadaanku. Jadi aku mengubah rencana, aku akan membiarkanmu bersamanya sampai dia mengingat semuanya. Dan hari ini, aku akan membunuhmu di depan mata Daehyun sehingga dia akan meninggal dalam keadaan yang menyakitkan.”

“Hya, Kim Joonmyun! Jangan pernah menyentuh Xiumin!”

“Ow…benar-benar menakutkan. Kau sangat mencintainya, bukan? Aku tidak sedang berusaha memisahkan kalian, malah aku membuat kalian bersama di…dunia lain? Hahahaha.”

Kim Joonmyun berjalan lagi dan kini giliran Minseok. Dipegangnya dagu Minseok dan mengangkat wajah itu.

“Apa kabar, Daehyunnie? Sepupu yang selalu menemaniku saat aku ke rumahmu.”

“J-Joonmyun-hyung.”

“Keadaannya sudah berbeda ya, sekarang banyak orang yang mempercayaimu. Sayang sekali dulu tidak ada orang yang mendengarmu. Jika dulu mereka percaya, keadaannya tidak akan seperti ini, bukan? Ah, apa kau sudah menemukan jawaban dari pertanyaanku dulu?”

“Pertanyaan apa?”

“Apakah orangtuamu mencintaimu?”

“Ah…pertanyaan itu? Apa kau benar-benar penasaran?”

“Tentu. Aku sangat penasaran.”

“Apa kau tahu jika Eommaku berkata kalau dia mencintaiku sebelum meninggal?”

“Ohya?”

“Dia mencoba menyelamatkanku dari kobaran api itu sebelum Paman Han mengambilku. Dia menatapku dengan matanya yang lelah sambil berkata ‘Daehyunnie…kami menyayangimu, benar-benar menyayangimu…’ apa itu menjawab pertanyaanmu?”

“Wah…sayang sekali ya. Kau baru tahu kalau mereka menyayangimu di saat-saat terakhir.”

“Aku sudah menemukan jawaban itu, tapi kau? Kenapa kau tidak mencari jawaban atas pertanyaanmu sendiri? Tentang…apakah Nenek menyayangimu atau tidak.”

“Sudah cukup untukku melihat prilaku tidak adilnya padaku selama 9 tahun, dan itu merupakan jawaban mutlak.”

“Jawaban mutlak?”

“Kalau dia tidak menyayangiku.”

“Kau tidak akan tahu sebelum bertanya, Hyung.”

“Jadi kau kira Nenek menyayangiku?”

“Aku juga tidak tahu, tapi yang kutahu, Nenek tidak pernah melakukan sesuatu tanpa alasan yang pasti. Dia juga mengusirku hari itu, saat aku menolak bantuannya untuk menangkapmu, dan sekarang aku tahu kenapa dia mengusirku.”

“Ohya?”

“Dia mengusirku supaya keinginanku untuk menangkapmu semakin kuat.”

“Hahahaha, sayang sekali keinginanmu itu gagal.”

“Ani. Walaupun aku harus meninggal sekarang, tapi aku sudah membuatmu menunjukan identitas aslimu pada Luhan, orang yang mempercayaimu sejak lama, Hyung. Walaupun pada akhirnya kau tidak masuk sel, tapi rasa bersalah akan menghantuimu seumur hidup. Tidak ada yang indah dari balas dendam, Hyung, sama sekali tidak ada.”

“Woa…kata-katamu benar-benar menakjubkan, sayang, tapi aku tidak akan menyesal. Inilah tujuan hidupku, membuat kalian menderita. Setelah 19 tahun menunggu, akhirnya aku bisa membunuh kalian semua.”

“Jadi ini tujuan hidupmu? Benar-benar memperihatinkan,” kata Baekhyun.

Kim Joonmyun berdiri dan menatap sinis Baekhyun.

“Hinalah aku sepuasmu, toh setelah ini aku tidak perlu melihat wajahmu. Seulgi-ssie, berikan pistolku.”

Park Seulgi tidak bergeming saat Kim Joonmyun mengangkat tangannya.

“Park Seulgi?”

“Apa kau pernah berniat membunuh Oppaku?”

“Mwo?”

“Apa kau pernah berniat membunuhnya untuk melihat Byun Baekhyun sedih seperti yang akan kau lakukan pada Luhan?”

“Ani…aku tidak mungkin membunuh orang kepercayaanku sendiri.”

“Benarkah? Apakah Tao-oppa sudah berbohong padaku? Dia bilang kau sering menyuruhnya untuk membunuh Chanyeol-oppa saat dia melakukan kesalahan. Apa kau pikir nyawa seseorang tidak lebih berharga daripada balas dendammu, bodoh?”

“Apa yang kau katakan?”

“Jika kau sudah tidak menghargainya, lalu untuk apa orang lain menghargai nyawamu?”

Seulgi mengambil pistol yang seharusnya digunakan Joonmyun untuk membunuh tiga namja di depannya lalu mengarahkannya tepat ke dada Joonmyun.

“Apa yang sedang kau lakukan, hah?”

“Aku ingin kau pergi ke tempat Oppaku sehingga dia bisa menghukummu di sana. Apa kau siap?”

“S-Seulgi-ssie.”

Tap tap tap…

DARR

Appa, apakah seperti ini rasanya ketika kita akan meninggal? Semuanya terlihat putih, seperti sedang berada di dalam kertas putih. Aku bisa melihat semua kenanganku tergambar di sana, Appa.

 

“Daehyun-a!!”

“Xiumin!!”

Kim Minseok melindungi Joonmyun saat peluru itu hampir mengenai tubuh Joonmyun. Setelah melepas ikatannya, Minseok berlari dan memeluk Joonmyun sehingga peluru itu malah mengenai punggungnya.

Tubuh Minseok jatuh menimpa Joonmyun yang spontan menahan tubuh itu. Kim Joonmyun mencoba menahan tubuh itu dan menurunkannya perlahan dengan perasaan kacau.

“A-apa yang kau lakukan?”

“Kau tidak seharusnya sendirian, Hyung, aku akan menemanimu saat kau membutuhkanku.”

Minseok tersenyum lemah dan terdengar suara nafas yang berat. Nafas itu terdengar melemah seperti matanya yang semakin menutup. Joonmyun tak kuasa menahan airmatanya. Dia langsung menggenggam tangan Minseok.

“A-apa yang kau pikirkan? Kenapa kau melindungiku, hah?!”

“A-aku…heuh-heuh, aku ingin kau bisa menemukan jawaban itu sendiri, Hyung. Aku ingin kau bertanya pada Nenek tentang perasaannya. K-kau…kau harus memberitahuku.”

Tangan yang digenggamnya itu tidak lagi membalas. Suara nafas berat itu tidak lagi terdengar. Dan sekarang, Joonmyun merasakan kehilangan yang lebih besar ketimbang 19 tahun yang lalu, saat dia kehilangan Appanya.

“D-Daehyun-a, bangun, Daehyun-a!”

Advertisements

8 thoughts on “My Immortal Love is You _ XiuHan/LuMin (Bagian 17)

  1. Andweeeeeee…. Xiuminnya jangan matiii…

    _jangann yahhhh andweee 😦 😦

    _ceritanya bagusss aku baca dan selalu nunggu kelanjutanyAa 🙂

    _terus berkaryaa fightinggg 🙂

  2. ampunn aku mah udh seneng ya joonmyeon ketauan terus ditembak sm seulgi eh tapi kenapa malah minseok ngelindungin dia aduh 8(
    update soooooon<333333333

  3. Huaaa aku telat baca lagi, sekarang chap terakhirya udah keluar/? 😥
    Minseokie andwae~ huaaaa eonnie ini bukti/? aku udah baca chapter ini ya hehe 😀
    Aku mau baca chapter terakhir~
    Annyeong eonnie /lambai tangan bareng Xiuhan/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s