My Immortal Love is You _ XiuHan/LuMin (Bagian 16)

Tittle: My immortal love is you

Author: Fie

Genre: romance, family, drama, boyxboy

Length: Multichapter

Rated: T

Languange: bahasa

Pairing: LuMin/XiuHan

Cast:

– EXO XiuMin as Kim Minseok/XiuMin/Byun Daehyun

– LuHan as Xi Luhan

– EXO Baekhyun as Byun Baekhyun

– EXO Chanyeol as Park Chanyeol

– EXO SuHo as Kim Joonmyun

– Kris as Wu Yifan

– EXO Lay as Zhang Yixing/Lay

– EXO D.O as Kim Kyungsoo

– EXO Sehun as Kim Sehun

– EXO Kai as Lee Jongin

– EXO Chen as Lee Jongdae

– EXO Tao as Hwang Zitao

– Other….

“Sebuah cerita tentang kasih sayang yang akan terus abadi.”


 

Sixteen – Duty

“Aku akan menuntaskan tugasmu untuk melindungi mereka.”

 

“Aku menulis semua yang kudengar di buku ini. Sekarang, kita akan menyatukan pecahan yang dulu tidak bisa kucaritahu. Kita harus menghentikan permainan ini.”

“Permainan apa?”

Tubuh Minseok membeku saat mendengar suara wanita di belakangnya. Lay yang terlebih dulu berbalik langsung membungkuk hormat pada wanita itu.

“Nona Byun,” kata Lay.

“Byun Daehyun, apa kau tidak mau memberi salam padaku?” kata Byun Minyoung.

Kim Minseok berdiri dan berbalik. Bayangan Minyoung yang masih berumur 13 tahun tergambar jelas di depan Minseok. Dia berjalan perlahan mendekati Minyoung dan mengangkat tangannya untuk menggapai lengan wanita itu.

“B-bibi Minyoung.”

“Sepertinya kau harus memanggilku Noona mulai sekarang, aku tidak suka dipanggil Bibi.”

Minseok memeluk Minyoung erat dan Minyoung membalasnya.

“Sudah lama sekali, bukan?” tanya Minyoung.

“E-eoh…”

***

Minseok memegang cangkir tehnya dengan gugup, dan bertambah gugup karena Nenek dan Bibinya menatap Minseok dalam diam.

“Bagaimana kabarmu, Daehyunnie?” kata Minyoung yang tidak tahan dengan suasana canggung ini.

“A-aku…aku baik-baik saja, Gomo.”

“Sudah kubilang jangan panggil aku Bibi.”

“Minyoung-a, cukup.”

“Ne, Eomma…”

“Kenapa Baekhyun tidak bilang kalau kau sudah mengingat semuanya?”

“Nde? Hyung belum bilang apa-apa?”

“Belum.”

“Aku juga tidak tahu.”

Tak berapa lama kemudian, Byun Baekhyun datang dengan sedikit berlari dari pintu masuk utama. Matanya menyiratkan kecemasan saat menatap adiknya.

“Daehyun-a, kenapa kau tidak bilang kalau mau ke sini? Heuh-heuh-heuh…”

Baekhyun duduk di samping Minseok lalu menggenggam tangan adiknya, sedangkan Taera dan Minyoung saling berpandangan.

“Aku ingin mengambil bukuku, Hyung,” kata Minseok seraya memperlihatkan buku hariannya.

“Buku apa ini?”

“Ini buku harianku. Aku menulis sesuatu yang penting di sini.”

“Apa itu?”

“Rencana Kim Joonmyun dan Appanya untuk membuat kecelakaan 19 tahun yang lalu.”

Semua terdiam sekaligus kaget dengan pernyataan Minseok. Tidak ada yang menyangka Minseok mempunyai hal sepenting itu dalam masa lalunya.

“Dia menceritakan semuanya padaku, tapi aku tidak bisa membuktikannya. Maafkan aku.”

“Ini bukan salahmu, Daehyunnie,” kata Baekhyun seraya merangkul adiknya.

“Jadi benar pelakunya adalah Kim Joonmyun?”

“Iya. Aku yakin pelakunya Joonmyun-hyung.”

“Berikan buku harian itu pada kami,” ucap Taera.

“Nde? T-tapi…”

“Tapi apa? Bukti kejahatan harus diberikan pada pihak berwajib. Sekarang berikan buku itu, Daehyun.”

“Aniyo.”

“Mwo?”

“Aku tidak akan menyerahkan buku ini pada orang yang memulai masalah.”

“Apa maksudmu?”

“Jika kau tidak menyembunyikan identitasku, maka tidak akan ada yang terbunuh. Jika sekali saja kau mendengarkan ucapan Kim Ilsook, cucumu tidak akan menjadi pembunuh. Apa kau pernah memikirkan bagaimana perasaan keluarga Joonmyun-hyung? Apa kau pernah sekali saja berkata kalau kau mencintainya? Aku melihat mata itu, Nenek, mata seorang anak yang kecewa karena ketidakadilan.”

“Apa kau sedang memberontak?”

“Nde. Aku akan menyelesaikan kasus ini dengan caraku, bukan caramu.”

“Baiklah. Kau bisa menanggalkan statusmu sebagai anggota keluarga Byun dari sekarang. Itu maumu, bukan? Kau lebih memilih keluarga barumu ketimbang kami, sudah sangat jelas.”

“Nenek, jangan berpikir seperti itu,” kata Baekhyun.

“Aku akan melepas nama Byun Daehyun jika itu maumu.”

“Daehyun-a!”

“Hyung, walaupun aku bukan Byun Daehyun, aku tetap adikmu, bukan? Statusku sebagai anggota keluarga Byun tidak penting lagi, yang terpenting sekarang, aku akan menangkap penjahat yang telah merenggut orang-orang yang kusayangi, bukan melupakan mereka demi ambisi Nenek untuk menjatuhkan Kim Joonmyun.”

“Tarik semua pengawal yang selama ini mengawasi Kim Minseok. Termasuk kau, Lay, kau tidak perlu menjadi asistennya lagi.”

“A-apa, Nyonya?”

“Nenek!”

“Sekarang kau boleh pergi, Kim Minseok-ssie, dan jangan pernah menginjakkan kakimu lagi di rumah ini.”

“Baiklah.”

Baekhyun berusaha menahan Minseok, tapi Minseok telah menetapkan tujuannya. Dia akan menangkap Kim Joonmyun bukan karena orang itu ingin menjatuhkan keluarganya, tapi untuk orang-orang yang Minseok sayangi.

“Byun Minho tidak mengajari anaknya dengan benar, maka dari itu dia menjadi pemberontak.”

Langkah Minseok terhenti saat mendengar Ayahnya diejek. Dia menahan amarahnya lalu kembali berjalan keluar.

Byun Baekhyun berlutut di depan neneknya sambil memohon pada Taera untuk menarik perkataan itu, untuk tetap menjadikan Kim Minseok sebagai bagian keluarga Byun.

“Baekhyunnie, apa kau juga berpikir kalau nenekmu sejahat itu?”

“Nde?”

“Apa kau pikir aku akan melepaskan adikmu semudah itu? Biarkan dia melakukan apa yang diinginkannya.”

“Apa maksud Nenek?”

“Dia sangat mirip dengan kakekmu, melakukan hal sesuai dengan keinginannya. Sekarang yang harus kita lakukan adalah mengawasi Byun Daehyun dari jauh. Jangan lepas pengawasan kalian darinya. Jika ini termasuk isi skenario yang dibuat Joonmyun, maka kita juga bisa membuat skenario lain yang dapat menjatuhkannya.”

***

Kim Minseok membuka pintu mobilnya kasar. Saat dia hendak masuk, Lay menahan Minseok dan menutup pintu itu.

“Apa yang sedang kau pikirkan, Daehyun-ssie?”

“Lay-ssie, jangan panggil aku Daehyun lagi mulai sekarang.”

“Tidak. Kau adalah Tuan kami, dan akan seterusnya seperti itu. Walaupun Nyonya Taera mengusirmu, kau tetap tanggung jawabku.”

“Kenapa?”

“Karena aku bekerja pada Tuan Byun, kakek Anda, bukan Nyonya Taera.”

“A-apa maksudmu?”

“Sebelum Tuan Byun meninggal, Appaku berjanji untuk menjagamu. Akan tetapi, lima tahun setelah kecelakaan itu, Appaku meninggal dan menitipkan tugas ini padaku. Appaku dan Appa Yifan adalah orang kepercayaan Tuan Byun, dan seyogyanya aku dan Yifan juga bisa menjadi orang kepercayaanmu. Jadi, aku tidak peduli dengan perintah Nyonya Taera karena kaulah orang yang harus kujaga, sesuai pesan terakhir Appaku.”

“L-Lay-hyung…”

“Kau ingat saat kita mengobrol di mobil dulu, saat pertama kali aku datang? Aku bilang, walaupun kau tidak menyukaiku sekarang, tapi aku akan berusaha keras untuk menjaga orang yang telah dipercayakan padaku. Itu janjiku, Daehyun-ssie, aku akan menjagamu.”

Lay memeluk Minseok dan mengelus punggung namja itu seperti adiknya sendiri. Secara tidak langsung, saat Appanya menceritakan segala sesuatu tentang Daehyun, Lay merasa mempunyai adik kandung yang harus dijaga dan dia sayangi sepenuh hati.

***

Lay dan Minseok pulang ke rumah sekitar jam 7 malam. Di ruang makan, Shinae dan Soonkyu sedang menyiapkan makan malam, sedangkan Jongwoon belum pulang, mungkin dia akan lembur.

“Aku mandi duluan ya,” kata Lay.

“Eum.”

Minseok menghampiri Soonkyu dan membantunya menata piring.

“Kenapa kau tidak istirahat saja, Noona?”

“Aku tidak mau badanku jadi kaku, hehe.”

“Dimana Kyungsoo?”

“Dia di kamar.”

“Oh…”

“Kenapa pulang telat? Biasanya jam 6.30 sudah sampai.”

“Eung, tadi ada urusan sebentar.”

“Adakah sesuatu yang mengganggumu, Minseokkie?” tanya Shiae yang baru meletakan rice cooker di samping meja.

“Tadi aku pergi ke rumah lamaku.”

“A-apa?”

“Aku ingin mengambil barangku yang tertinggal.”

“Apa barang itu penting?” tanya Soonkyu.

“Iya, sangat penting.”

“Lalu apa kau bertemu dengan Nyonya besar?”

“Iya, Eomma, aku bertemu dengannya.”

“Apakah dia masih mengingatmu?”

“Tentu. Dia tidak akan pernah melupakan cucu termudanya.”

“Fiuh…syukurlah kalau begitu. Hubunganmu dengan mereka masih baik-baik saja, kan?”

“Ne.”

Minseok terpaksa berbohong pada Eommanya agar dia tidak cemas. Minseok tidak mau membuat Eommanya bersalah karena dia lebih memilih keluarga ini.

“Kalau begitu ganti bajumu dulu, baru ke sini lagi untuk makan,” kata Shinae.

“Baiklah. Aku ke atas dulu.”

Saat Minseok tiba di kamarnya, Kyungsoo sedang sibuk dengan laptopnya, dia terlihat sangat serius sehingga tidak sadar dengan kedatangan Minseok. Melihat itu, Minseok diam-diam berjalan menghampiri Kyungsoo dan melihat apa yang adiknya kerjakan.

KKS : Hei, apa kau pernah tinggal di Busan?

PSG : Iya, aku memang tinggal di sana dulu. Orangtuaku tinggal di sana.

KKS : Lalu dengan siapa kau tinggal di Kanada?

PSG : Dengan kakak lelakiku. Kenapa kau terus bertanya? Kau sedang menginterogasiku, ya?

KKS : Hahahaha, tidak masuk akal, untuk apa aku menginterogasimu? Memangnya kau penjahat?

PSG : Bisa saja.

KKS : Mwo? Apa maksudmu?

PSG : Hahahaha, aku hanya bercanda. Aku mengerjaimu karena kau bersikap aneh! Oh, sudah dulu ya? Ada beberapa hal yang harus kukerjakan. Sampai jumpa hari minggu nanti.

KKS : Iya, semangat untuk pekerjaan barumu!

Nama yang mereka pakai dalam percakapan hanya inisial, jadi Minseok tidak bisa menebak siapa orang berinisial PSG itu. Dengan jahil, Minseok meniup telinga Kyungsoo yang membuat namja itu melompat dan jatuh ke lantai.

“Hyung!”

“Hahahaha, kau serius sekali sampai tidak sadar aku di sini.”

“S-sejak kapan kau di belakangku?”

“Cukup lama.”

Kyungsoo langsung bangkit dan menutup laptopnya.

“Apa kau membaca percakapanku dengan temanku?”

“Iya…dari kau bertanya apakah dia pernah tinggal di Busan atau tidak. Apa dia teman lamamu? Kenapa kalian memakai inisial saat mengobrol?”

“Eung…kami hanya senang seperti itu, terlihat seperti mata-mata. Seru, bukan?”

Kyungsoo berbohong, padahal dia yang meminta Seulgi untuk memakai inisial sejak kejadian tadi pagi dengan Soonkyu.

“Bohongmu terlihat sekali. Apa yang sedang kau sembunyikan?”

“Ey…kenapa aku harus berbohong?”

“Aku juga tidak tahu, tapi sebaiknya kau jangan berbohong, Kyungie.”

“Eum.”

Kyungsoo memasukkan laptopnya ke laci lalu merebahkan diri ke kasur.

“Kenapa baru pulang?”

“Tadi aku ke rumah lamaku.”

“Ho? Kediaman keluarga Byun?”

“Iya.”

“Untuk apa?”

“Untuk mengambil ini,” kata Minseok seraya menunjukan buku bersampul cokelat bertuliskan nama Byun Daehyunnie.

“Buku apa itu?”

“Buku harianku.”

“Woa! Ternyata kau sudah senang menulis sejak kecil.”

“Hahahaha, benar juga ya. Nah…sekarang simpan buku ini di tempat yang aman karena setelah ini kita harus makan malam dulu.”

“Simpan saja di rak komikku. Di sana tempat teraman untuk buku apapun.”

“Arra…”

Minseok meletakan buku hariannya di salah satu celah anatara buku-buku komik Kyungsoo. Kemudian dia mengambil baju dan menyuruh Kyungsoo untuk turun karena Eomma dan Soonkyu hampir selesai menyiapkan makan malam. Kyungsoopun keluar dengan cepat, seperti menghindari percakapan yang berlarut-larut dengan Minseok. Dia takut percakapan itu menjurus pada Park Seulgi.

“Weits! Hati-hati, Kyungsoo-a,” kata Lay yang baru selesai mandi dan hampir ditabrak Kyungsoo.

“Oh, maafkan aku.”

“Ada apa denganmu?”

“Kenapa semua orang bertanya begitu padaku? Apa ada yang salah dengan sikapku?”

“Eum…iya.”

“Apa yang salah?”

“Kau terlihat seperti buronan.”

“M-mwo? Aku seperti buronan?”

“Iya. Kau habis memecahkan gelas atau vas mahal, ya?”

“Ey…mana ada barang seperti itu di sini. Sudahlah, aku mau ke bawah dulu ya.”

Lay hanya manggut-manggut sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Tak berapa lama, Minseok keluar dan berhenti saat melihat Lay.

“Oh, kau tidak mandi?” tanya Lay.

“Tidak. Hari ini sangat dingin, jadi aku tidak berani mandi.”

“Hu~”

“Apa Kyungsoo sudah ke bawah?”

“Iya, dia sudah ke bawah. Hei, apa dia menyembunyikan sesuatu darimu?”

“Memangnya kenapa?”

“Dia terlihat ketakutan, seperti buronan.”

“Benarkah?”

“Iya!”

“Yasudah biarkan saja. Nanti juga dia jujur padaku.”

“Kalau tidak?”

“Eung…aku akan memaksanya, mungkin?”

“Apa kau sudah membaca bukumu?”

“Belum. Setelah makan malam aku baru akan membacanya. Temani aku, ya?”

“Siap!”

***

Kim Joonmyun mengundang Park Seulgi untuk makan malam di rumahnya. Park Seulgi datang dengan pakaian santai yang menawan. Tubuhnya yang tinggi langsing terlihat sangat indah dengan dress biru muda itu.

“Kau sangat cantik malam ini, Seulgi-ssie.”

“Terimakasih, Tuan.”

“Silahkan nikmati makan malammu. Aku sedikit merasa bersalah karena membuatmu menjadi omongan para karyawan Anthersy Book.”

“Tidak apa-apa. Aku sudah sering mengalaminya.”

“Ohya? Kapan?”

“Saat masih sekolah, aku selalu dianggap aneh oleh orang-orang sekitar karena kecerdasanku.”

“Tapi Kyungsoo memperlakukanmu dengan baik, bukan?”

“Iya. Dia satu-satunya temanku di Kanada.”

“Apa kau menyukainya?”

Tangan Seulgi yang sedang memotong daging langsung berhenti saat mendengar pertanyaan mengganggu itu.

“Tidak, aku sama sekali tidak menyukainya.”

“Benarkah?”

“Untuk apa aku menyukai musuhku sendiri?”

“Hahahaha, pemikiran yang bagus. Kukira kau akan melakukan hal yang sama dengan Oppamu jika kau menyukai orang itu.”

“Sudah kubilang kemarin, bukan? Aku tidak akan bertindak bodoh seperti dia.”

“Pilihan yang tepat, sayang.”

“Joonmyun-ssie, bolehkah aku bertanya padamu?”

“Tentu, apapun untuk gadis cantik sepertimu.”

“Apa kau yakin balas dendam ini ada gunanya?”

Senyum Joonmyun memudar, berganti dengan tatapan tajam yang menyeramkan.

“Apa maksudmu?” ucapnya geram.

“Jika balas dendam ini sia-sia, apa kau akan menyesalinya? Kau sudah cukup membuat dua orang itu menderita dengan membunuh orangtua mereka, dan sekarang kau masih mau membunuh mereka?”

“Mereka semua harus merasakan rasa sakit yang diderita Appaku. Kehilangan, ketakutan, dan ketidakadilan.”

“Lalu?”

“Lalu aku bisa tertawa puas setelah semuanya selesai.”

“Apa kau tidak pernah mencaritahu kenapa Byun Minho memfitnah Appamu?”

“Tidak perlu, yang kutahu, Appaku tidak bersalah.”

“Itu namanya egois.”

“Mwo?”

“Jika kau hanya melihat dari satu sisi, itu artinya kau egois. Kau selalu diselimuti oleh amarah, Joonmyun-ssie. Dan itu artinya, kau tidak ada bedanya dengan kakakku. Dia menjadi lemah karena rasa bersalah, dan kau, apa kau akan menunggu sampai menjadi lemah karena amarah?”

“Hahahaha!! Kau benar-benar berbeda dengan Kakakmu. Aku menyukai kata-katamu, Seulgi-ssie. Lemah karena amarah? Oh my…jangan menunggu hal yang tidak mungkin terjadi karena itu akan membuatmu lelah.”

“Baiklah.”

***

Minseok membawa buku hariannya ke kamar Lay seusai makan malam. Dia membuka beberapa halaman terakhir, tepatnya beberapa minggu sebelum kecelakaan itu terjadi.

27 September 1995

Daehyunnie, bagaimana ini? Aku baru saja mendengar sesuatu yang mengerikan dari Joonmyun-hyung. Bagaimana aku harus mengatakannya pada keluargaku? Aku benar-benar bingung, Daehyunnie.

Hari ini dia datang bersama Appanya saat aku sedang mengerjakan tugas. Dia pergi ke ruangan nenek dan karena aku penasaran, aku mengikutinya. Kemudian beberapa saat kemudian dia keluar sendiri dan menyandarkan tubuhnya di dinding. Aku kembali melihat matanya berkaca-kaca seperti menahan tangis untuk kesekian kalinya, jadi aku menghampirinya.

“Ada apa, Hyung?” tanyaku.

Dia hanya menatapku dan masih terdiam. Karena tidak tega, aku mengajaknya ke taman belakang, tempat biasa kami mengobrol saat dia datang. Lalu aku memberinya bunga mawar putih, bunga yang sangat kusukai, dan dia menerimanya.

“Terimakasih,” katanya.

“Aku akan menemanimu, Hyung, tenang saja.”

“Eum…Daehyunnie, apakah kau juga sering sendirian?”

“Nde? Eung…iya, tapi itu tidak masalah, orangtuaku tetap pulang setiap malam dan aku punya Kakak yang hebat.”

“Ohya? Apa kau menyayangi mereka?”

“Tentu saja.”

“Apakah menurutmu Nenek juga menyayangiku?”

“Apa maksudmu, Hyung?”

“Aku merasa Nenek tidak menyayangiku, Daehyunnie. Dia mengusir keluargaku dari keluarga ini…”

“Aku yakin Nenek juga menyayangimu, Hyung! Kau tidak boleh berpikir seperti itu.”

“Apa orangtuamu menyayangimu?”

Daehyunnie, itu pertanyaan yang sulit. Aku tidak bisa menjawabnya karena aku tidak tahu apakah Appa dan Eomma menyayangiku atau tidak karena mereka tidak pernah mengatakannya padaku.

“Jika mereka meninggalkanmu, apa yang akan kau lakukan?”

“Ho? Memangnya mereka mau kemana?”

“Entahlah. Mungkin Appaku akan membunuh mereka.”

“N-nde? Membunuh? Kenapa?”

“Karena Appamu membuat bisnis Appaku hancur, dan sekarang Nenek dan Kakek sangat membenci Appaku.”

“Aku tidak mengerti, Hyung.”

“Biar kuceritakan bagaimana Appaku akan menghancurkan keluargamu. Appaku adalah anggota mafia terhebat di Negri ini, jadi dia punya banyak teman yang bisa membantunya. Kau akan ke pulau Jeju bulan depan, bukan? Appaku sudah mengirim mata-mata yang berpura-pura menjadi pengawal kalian. Kemudian mereka akan memasang bom di bagian yang sangat tersembunyi dan…BAM! Mobil yang kau tumpangi akan hancur berkeping-keping, menghilangkan semua bukti yang mungkin akan memberatkan Appaku. Teman-teman Appaku adalah orang yang hebat, jadi kau tidak perlu takut kesakitan saat malaikat maut menjemputmu.”

“A-aku…aku akan mengatakannya pada Appa!”

“Tidak akan ada yang mempercayai bocah kecil sepertimu, Daehyunnie. Dan apa kau yakin orangtua yang selalu meninggalkanmu sendiri akan mendengar ucapanmu? Kata Appa, jika kau dan Hyungmu masih hidup, kita akan memisahkan kalian supaya Hyungmu menjadi sosok yang tertutup karena rasa bersalahnya padamu. Bukankah menarik? Appaku bilang, kalian akan menyesal karena mengusir kami.”

 

28 September 1995

Daehyunnie, Joonmyun-hyung benar. Appa tidak mempercayai omonganku. Mereka semua tidak mempercayaiku bahkan Hyungku sendiri. Mereka bilang aku terlalu banyak berimajinasi, jadi aku memutuskan untuk mengawasi mata-mata yang dikirim Joonmyun-hyung dengan kemampuanku sendiri! Semangat!!

 

29 September 1995

Kenapa susah sekali sih menemukan mereka? Semua orang yang ada di sini adalah orang yang kukenal, tidak ada orang yang mencurigakan. Hari keberangkatan kami tinggal beberapa hari lagi, tapi aku belum bisa menemukan mereka. Apakah Joonmyun-hyung berbohong?

 

10 Oktober 1995

Hari ini kami berangkat, Daehyunnie, dan aku tidak bisa menemukan mata-mata yang Joonmyun-hyung bilang. Aku tidak mengerti. Aku akan meninggalkanmu di sini, Daehyunnie. Jika aku tidak kembali, maka kau harus menjadi bukti kalau Joonmyun-hyung tidak berbohong. Kau akan menjadi bukti kalau semua ucapanku benar.

 

Kim Minseok dan Lay terdiam saat membaca halaman terakhir buku harian itu. Hari dimana kecelakaan itu terjadi, dan masih tidak ada yang mempercayai Byun Daehyun kecil.

“Joonmyun-hyung benar-benar mempermainkanku dulu, Hyung.”

“Eum.”

“Sekarang dialah yang sendirian. Dialah orang yang kesepian.”

Drrt…drrt

 

Ponsel Minseok bergetar, Byun Baekhyun menghubunginya. Segera Minseok mengambil ponsel itu dan pergi ke luar untuk menerimanya.

Yeoboseo?”

“Daehyun-a, apa kau sudah di rumah?”

“Iya, aku sudah di rumah.”

“Apa kau baik-baik saja, sayang?”

“Aku baik-baik saja, Hyung.”

“Aku benar-benar mencemaskanmu, Daehyunnie. Nenek tidak benar-benar mengatakan kalau dia mengusirmu, percayalah padaku.”

“Tidak apa-apa, Hyung. Jika Nenek memang ingin aku pergi, aku akan pergi. Kalian tetap keluargaku walaupun Nenek sudah tidak menganggapku, jadi tenang saja.”

“Daehyun-a, tolong pikirkan ini baik-baik. Kau bisa menyelesaikan kasus ini, tapi sebagai keluargamu, kami juga ingin membantu. Kami akan membantu sesuai keinginanmu.”

“Tidak, Hyung. Aku akan menyelesaikannya sendiri dengan orang-orang kepercayaanku karena…mungkin hanya aku yang bisa memahami perasaan Kim Joonmyun.”

“Kenapa bisa begitu?”

“Aku juga pernah sepertinya, Hyung. Aku juga pernah berteriak mempertanyakan ketidakadilan itu, tapi tidak ada yang mendengarnya. Aku juga pernah sendirian, tapi tidak ada yang berusaha menemaniku. Aku terus bertanya kenapa Eomma baru berkata kalau dia mencintaiku di saat terakhir, seperti Joonmyun-hyung yang terus bertanya kenapa Nenek tidak pernah melihatnya sepertimu. Kami berdua sama, Hyung, bedanya, aku masih memilikimu yang menyempatkan diri mengobrol denganku saat tidak belajar, tapi selebihnya? Kami sama. Tolong berikan aku kesempatan untuk menemukan jawaban itu, Hyung.”

“Daehyunnie…maafkan aku.”

“Aku tidak menyalahkanmu.”

“Jika aku tidak terlalu sibuk dengan pelajaranku, maka aku akan menghabiskan waktu lebih banyak denganmu dan kau tidak harus menanggung beban itu.”

“Tidak apa-apa, Hyung. Aku akan tetap mencintaimu walau waktu yang kau berikan sedikit karena cinta tidak diukur dengan berapa banyak waktu yang kita habiskan bersama, tapi dari cara kita menjaga cinta itu. Itulah sebabnya, aku tidak bisa berhenti mencintai Appa dan Eomma walau mereka memberi ketidakadilan itu padaku, dan aku yakin, itulah yang Joonmyun rasakan sekarang. Dia hanya belum bisa membunuh kemarahannya pada kita, dan tugasku sekarang untuk menghentikannya.”

***

“Bom dan mata-mata, itu dua poin penting yang diceritakan Joonmyun pada Tuan Daehyun,” kata Lay saat berkumpul dengan Lee Jongin, Jongdae, dan Wu Yifan.

“Bom? Tidak-tidak, penyebab kecelakaan itu bukan bom,” sanggah Jongin.

“Kenapa?”

“Kami menemukan adanya kebocoran dalam tabung bensin mobil itu, dan itu adalah penyebab paling mungkin. Si mata-mata bisa melakukannya saat keluarga Byun berhenti di tengah-tengah perjalanan, jadi itu bisa lolos dari pemeriksaan awal.”

“Bagaimana jika itu manipulasi seperti yang dilakukan Chanyeol pada Kim Han?” kata Yifan, membuyarkan kesimpulan Lee Jongin.

“Arra…kita bisa dimanipulasi dengan data itu, tapi polisi tidak menemukan puing-puing bom di sana,” kata Jongdae.

“Jika bom itu memang dirancang khusus untuk hancur saat kebakaran itu terjadi?”

“Itu hanya perkiraan, Lay-ssie, tidak bisa dipakai sebagai bukti.”

“Baiklah, kalau bom kita hilangkan, masih ada satu poin penting lagi. Kim Joonmyun tidak mengirim mata-mata saat kecelakaan, tapi beberapa hari atau bahkan beberapa lama sebelum rencananya dibuat.”

“Iya, itu bisa kita gunakan dalam penyelidikan ini. Pertanyaannya, berarti Kim Ilsook memang mengincar keluarga Byun sejak lama?” kata Jongdae.

“Benar! Kim Ilsook telah mengincar keluarga Byun sejak lama, tapi kenapa?”

“Apa karena kasus kelompok mafia itu?”

“Kasus yang mana, Yifan-ssie?”

“Aku pernah mendengarnya dari Appaku, sebuah cerita yang masih dirahasiakan pada Nyonya besar Taera. Beberapa tahun sebelum Tuan Byun Minho menikah, beliau berteman dengan salah satu anggota mafia bermarga Park. Dulunya Tuan Minho tidak tahu kalau Park adalah anggota mafia, tapi setelah memergoki Park sedang menghubungi rekannya saat membicarakan penggelapan senjata, Tuan Minho segera memutuskan hubungan pertemanan itu. Kemudian, ada suatu kejadian yang mengharuskan Tuan Minho membantu Park karena Park ingin keluar dari komunitas itu. Akhirnya Tuan Minho membantunya dengan membayar tebusan yang sangat besar, tapi resikonya, Park harus bersembunyi. Kemudian sebulan setelah Tuan Minho menikah, adiknya, Byun Minah menikah dengan Kim Ilsook. Karena Tuan Minho sangat menyayangi adiknya, dia menyuruh beberapa orang menyelidiki siapa Kim Ilsook itu, dan ternyata Kim Ilsook mempunyai hubungan dengan kelompok mafia yang dulu ditebusnya untuk Park bahkan mereka tahu kalau pernikahan itu dilakukan untuk menjatuhkan keluarga Byun. Akhirnya Tuan Minho melakukan manipulasi pada kasus penggelapan uang sehingga tersangka kasus itu adalah Kim Ilsook.”

“Kenapa kelompok mafia itu ingin menjatuhkan keluarga Byun?”

“Kemungkinan supaya identitas mereka tidak terbongkar. Setelah melakukan transaksi pembebasan Park, kelompok mafia itu tahu kalau Tuan Minho bukan orang biasa di Korea, beliau bisa mengerahkan kesatuan polisi terbaik untuk menangkap kelompok itu.”

“Jadi titik berat dalam kasus ini adalah, lelaki bermarga Park yang diselamatkan oleh Byun Minho?” tanya Jongdae.

“Bisa jadi. Jika Tuan Byun Daehyun tidak mendengar rencana itu dari Kim Joonmyun, mungkin kita tidak bisa mengaitkan semua ini.”

“Dan jika Appamu bukan orang kepercayaan Byun Minho, maka kita tidak akan tahu kasus yang sebenarnya.”

“Jadi, sekarang apa yang harus kita lakukan?” tanya Jongin.

“Mencari mata-mata yang dimaksud Byun Daehyun dan mantan anggota mafia bermarga Park itu, serta membuktikan hubungan Kim Joonmyun dengan kelompok mafia itu,” jawab Yifan.

“Jika saja…ada orang yang mau mendengarkan Byun Daehyun 19 tahun yang lalu…,” kata Lay dengan suara lirih.

***

Malam itu Kim Minseok berencana untuk mencaritahu siapa teman yang mengobrol dengan Kyungsoo tadi. Jadi setelah memastikan Kyungsoo tidur, Minseok diam-diam mengambil laptop Kyungsoo dan memeriksanya. Untung saja laptop itu tidak diproteksi kata sandi, jadi Minseok bisa dengan mudah membukanya.

“PSG…siapa itu?”

Minseok membuka laman percakapan yang sebelumnya, tapi sayang sekali, laman itu sudah dihapus.

“Ah, apakah PSG itu masih online?” kata Minseok saat melihat tanda online di samping nama PSG. Melihat kesempatan itu, Minseok langsung membuka obrolan untuk mengetahui siapa orang ini.

KKS : PSG PSG…hahaha, itu inisial yang lucu.

PSG : Hei, kau masih bangun, Kyungsoo? Ini sudah jam 2 pagi. Apa kau tidak tidur?

KKS : Aku terbangun dan tiba-tiba ingin mengobrol denganmu.

PSG : Ohya? Kenapa tadi kau menyebut inisialku lucu? Bukankah kau yang menyuruhnya?

KKS : Benarkah? Aku lupa…hahaha!

PSG : Inisialku lebih baik daripada punyamu, apa itu? KKS? Ahahahaha…

KKS : KKS untuk Kim KyungSoo, dan PSG untuk…apa-apa? Kenapa aku lupa namamu, ya?

PSG : Hya! Kau benar-benar teman yang jahat!

KKS : Eum…tidak, aku benar-benar lupa namamu.

PSG : Aku marah padamu! Kenapa nama Park SeulGi langsung terhapus dari pikiranmu hanya karena kita tidak bertemu beberapa bulan? Huh!

Tubuh Minseok membeku saat membaca nama asli orang berinisial PSG itu. Apakah teman Kyungsoo ini Park Seulgi yang dia kenal juga?

“Jika iya, Kyungsooku dalam bahaya.”

Tangan Minseok tiba-tiba gemetar dan nafasnya terdengar berat karena ketakutan saat membayangkan kematian Park Chanyeol dan Kim Han. Dia berusaha menenangkan tubuhnya, tapi tidak bisa. Dengan cepat dia menghapus percakapannya dengan Seulgi kemudian menutup laptop itu dan langsung berbaring kembali di samping Kyungsoo. Dia memeluk Kyungsoo erat karena takut adiknya mengalami hal yang sama dengan Baekhyun.

“Tidak…tolong berhenti, Joonmyun-hyung…”

Mendengar suara ketakutan Minseok, Kyungsoo terbangun dan menggeliat, tapi Minseok tetap memeluk tubuh itu tanpa celah.

“Ada apa, Hyung?”

“Kyungsoo jebal…”

“Ho? Ada apa?” tanya Kyungsoo yang langsung mendekatkan wajahnya pada Minseok.

“Tidak apa-apa. Malam ini sangat dingin, jadi aku ingin memelukmu seperti ini. Tidak apa-apa, kan?” kata Minseok seraya mengelus rambut Kyungsoo lembut.

“Ooh…kukira kenapa.”

“Tidurlah lagi…”

“Eoh…”

***

Paginya, Kyungsoo bangun dengan keadaan Minseok masih memeluknya. Kyungsoo menyingkirkan tangan Hyungnya yang melonggar lalu mengelus pipi Minseok.

“Seharusnya kemarin kumatikan saja ACnya daripada melihatmu seperti itu. Aku sangat takut, Hyung.”

Kyungsoo beranjak dari kasurnya dan tidak sengaja menendang laptopnya yang tergeletak di lantai.

“Kenapa laptopku bisa ada di sini? Bukankah kemarin kutaruh di…”

Kyungsoo tidak meneruskan ucapannya dan langsung berbalik menatap Minseok.

“M-Minseok-hyung, apa dia memeriksa laptopku?”

Kyungsoo langsung mengambil laptop itu dan menyembunyikannya di laci meja belajarnya.

“Tenang, Kyungsoo, tenang. Minseok-hyung tidak akan tahu siapa PSG karena laman percakapanku sudah dihapus. Iya, kau harus tenang…”

Kyungsoo mendekati Minseok dan menatapnya lekat.

“Maafkan aku, Hyung. Aku belum bisa jujur padamu.”

***

Kim Minseok bangun saat sinar matahari mengganggu pandangannya. Saat menyadari Kim Kyungsoo tidak lagi di sampingnya, Minseok langsung terbangun dan berlari keluar. Dia mencari Kyungsoo seperti orang gila sampai namja yang dicarinya itu keluar dari kamar mandi.

“Kau kenapa, Minseokkie?” tanya Lee Soonkyu yang baru turun dari tangga.

“A-aku mencari Kyungsoo.”

“Aku di sini, Hyung, kenapa denganmu?”

“Tidak apa-apa, hanya saja…aku bermimpi buruk tadi.”

“Ohya? Basuhlah mukamu dulu, itu bisa menenangkan pikiranmu,” kata Soonkyu.

“Ne.”

Setelah menatap Kyungsoo sekali lagi, dia masuk ke kamar mandi dan menutupnya cepat. Kyungsoo dan Soonkyu hanya bisa berpandangan heran karena tidak biasanya Minseok seperti itu.

“Mau sarapan apa pagi ini? Eomma sedang tidak enak badan, jadi aku yang akan menyiapkan sarapan.”

“Noona, apa kau menceritakan Park Seulgi pada Hyungku?”

“Mwo? Tidak.”

“Syukurlah…”

“Jadi kau belum mengaku padanya?”

“Tidak akan sebelum aku membuktikan kalau Seulgi bukan adik Chanyeol-hyung.”

“Ya-ya-ya, terserah kau saja.”

“Jangan mengatakannya pada Hyungku, kau sudah janji.”

“Iya…”

“Hari minggu nanti aku akan bertemu Seulgi dan menanyakan hal itu langsung padanya.”

“Ohya? Baguslah.”

“Noona-ya, kenapa nada bicaramu seperti itu sih?”

“Memangnya apa yang salah?”

“Kau terdengar malas menanggapiku. Apa kau marah?”

“Tentu saja aku marah pada orang yang keras kepala sepertimu.”

“Aku bukan keras kepala, tapi—“

“Cukup, Kyungsoo. Kau harus mengakui semuanya pada Hyungmu setelah menemui Seulgi. Sampai masa itu, aku juga akan menjaga jarak denganmu.”

“Kenapa harus begitu?”

“Ada yang harus kukerjakan, dan kau tidak boleh tahu.”

“Huft…”

“Hahahaha, aku tidak benar-benar marah padamu, sayang. Aku memang sedang mengerjakan sesuatu yang penting, jadi aku akan jarang keluar kamar.”

“Ooh…”

***

Kim Minseok keluar dari kamar mandi dan hendak pergi ke ruang makan. Saat dia melewati Kyungsoo yang sedang menonton tv, langkahnya terhenti dan berakhir duduk di samping adiknya.

“Sedang nonton apa?”

“Gosip.”

“Mwo? Gosip?”

“Aku sedang menunggu beritamu dengan Luhan.”

“Eh…dasar.”

“Luhan-hyung sedang pemotretan, ya?”

“Belum, baru dimulai minggu depan.”

“Kenapa dia tidak ke sini?”

“Akan banyak awak media ke sini kalau dia datang.”

“Benar juga.”

Percakapan yang canggung, benar-benar canggung, pikir Minseok.

“Kau akan tinggal di dekat kampus atau bagaimana?”

“Minggu depan aku akan mulai mencari kontrakan.”

“Jadi kau berencana pindah?”

“Iya.”

“Kampusmu tidak terlalu jauh dari rumah ini, kenapa harus pindah?”

“Eomma bilang aku boleh pindah. Lagipula kau tinggal di sini, kan?”

“Iya, sih…”

Kyungsoo menghela nafas panjang lalu mematikan tvnya. Dia masih menghindari percakapan yang terlalu lama dengan Hyungnya karena setiap melihat wajah Minseok, Kyungsoo akan merasa bersalah.

“Aku lapar. Soonkyu-noona sudah selesai belum, ya.”

“Kyungsoo-a…”

“Ada apa?”

“Apa kau percaya padaku?”

“Apa yang kau bicarakan, Hyung?”

“Jawab aku, apa kau percaya padaku?”

“E-euh…iya.

“Jika kau percaya padaku, kau harus mendengarkan perkataanku ini baik-baik. Berhati-hatilah dengan semua orang yang kau kenal, entah itu baru atau lama, kau tetap harus waspada.”

“Iya.”

“Berjanjilah padaku, eoh?”

“N-ne…”

“Baiklah, sekarang dimana rocker itu? Apa dia belum bangun?”

“Hya! Jangan mengataiku rocker! Kau itu sama saja dengan Luhan.”

***

Kim Minseok dan Yixing tiba di kantor jam 6.45 pagi. Saat memasukan sidik jari ke mesin absen, mereka bertemu dengan Park Seulgi yang baru datang juga.

“Oh, kau baru datang juga, Kim Minseok-ssie, Yixing-ssie.”

“Iya, Seulgi-ssie.”

“Maaf karena selalu menanyakan ini, apa undangan makan malam itu sudah kau sampaikan, Minseok-ssie?”

“Sudah. CEO Byun menerimanya.”

“Bagus kalau begitu. Apa kau punya rekomendasi untuk restorannya?”

“CEO Byun sangat suka kepiting pedas, apa kita harus ke restoran Seafood?”

“Oh, benarkah? Chanyeol-oppa juga menyukainya. Baiklah, aku tahu tempat Seafood yang enak.”

Park Seulgi menempelkan ibu jarinya ke mesin lalu melepasnya.

“Apa kau mau langsung ke ruangan? Kita bisa naik bersama karena ruangan kita tidak jauh.”

“Baiklah.”

“Aku yakin Chanyeol-oppa sengaja menempatkan ruanganmu di dekat ruangannya supaya bisa sering mengunjungimu.”

“Mungkin.”

Mereka bertiga memasuki lift dan Seulgi menekan lantai 7 pada tombol lift.

“Aku penasaran bagaimana kalian bisa pacaran.”

“Apa dia tidak menceritakannya padamu?”

“Aku ingin mendengarnya darimu.”

“Untuk apa?”

“Untuk mengetahui perasaanmu yang sebenarnya pada Oppaku.”

Minseok terdiam sejenak sambil memperhatikan Seulgi yang tidak menatapnya sepanjang obrolan ini.

“Aku mencintainya, Seulgi-a. Aku tidak bisa membencinya walau ingin. Aku ingin berhenti mencintainya karena dia sudah menyakitiku, tapi tidak bisa.”

Kemudian Seulgi menatap Minseok dengan tatapan datar, lalu beberapa saat kemudian dia kembali tersenyum.

“Benarkah? Aku menghargainya.”

“Apa kau pernah bertanya perasaannya padaku?”

“Tentu.”

“Apa yang dia katakan?”

“Dia tidak mencintaimu.”

“Iya. Memang seperti itu kenyataannya.”

“Jika kau sudah tahu, kenapa masih mencintainya?”

“Karena dia pernah memberikan kenangan indah untukku, Seulgi. Kenangan indah itu tidak akan pernah terhapus dari pikiranku walau dia juga memberi kenangan buruk setelahnya. Apa kau pernah menyukai seseorang? Jika pernah, maka kau akan berpikir dua kali untuk melupakan kenangan indah dengan orang itu, aku yakin.”

“Jika kenangan indah itu hanya sandiwara?”

“Tapi kenyataannya tidak begitu, bukan?”

“Mwo?”

“Kakakmu adalah orang yang tulus, Seulgi-a. Dia tidak pernah berusaha untuk menyakitiku karena keinginannya sendiri. Dan kau, apa kau juga tulus seperti kakakmu? Itulah pertanyaan yang menghantuiku sejak pertama kali kita bertemu.”

Ting

 

Saat pintu lift terbuka, tiga orang itu masih terdiam di dalam dengan Seulgi menatap tajam pada Minseok.

“Oh, pintunya sudah terbuka. Aku duluan, CEO Park.”

Park? Batin Lay. Dia tiba-tiba saja teringat sesuatu tentang perbincangannya tadi malam. Marga keluarga Chanyeol adalah Park dan ayahnya punya kenangan buruk yang berkaitan dengan kecelakaan keluarga Byun.

“Astaga!”

“Ada apa, Hyung?”

“T-tidak, tidak apa-apa.”

“Apa tadi aku keren? Senang sekali membalas ucapan gadis itu sampai dia tidak bisa tersenyum lagi! Err…sekarang aku benar-benar kesal padanya. Dia sangat berbeda dengan Oppanya.”

“Hei…kau tidak boleh bermain-main dengan musuhmu.”

“Siapa yang menganggapnya musuh? Aku masih menganggapnya sebagai nona kecil yang meminta pertolonganku 7 tahun yang lalu. Dia sudah seperti adikku, Hyung.”

“Oiya, apa adikmu sudah jujur tentang sikap anehnya belakangan ini?”

“Belum.”

“Apa kau berniat memaksanya?”

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Aku akan mengikutinya hari minggu nanti, kau tenang saja.”

“Memangnya dia mau kemana?”

“Dia akan menemui teman perempuannya. Karena penasaran, aku memutuskan untuk mengikutinya!”

“Lama-lama kau mirip Luhan, ya, protektif.”

“Hahahaha!”

***

Luhan melepas earphonenya lalu menggantungkannya di penyangga kertas di depannya. Kemudian dia berlari keluar dari ruang rekaman.

“Bagaimana? Apa sudah bagus?”

“Sudah cukup bagus, tinggal menyelesaikan bagian akhir lalu kita selesai.”

“Oh, terimakasih, Kangwoo-a. Kau selalu membantuku di saat yang tepat.”

“Ngomong-ngomong, apakah lagu yang kau rekam barusan untuk orang yang spesial?”

“Tentu saja, penggemarku sangat spesial.”

“Hei-hei, jangan terlalu naïf, Luhannie. Siapa dia? Apakah Xiumin?”

“A-apa maksudmu?”

“Hahahaha, ternyata rumor itu benar. Kau sedang berkencan dengan Xiumin, kan? Penulis novel itu…”

“Ey…”

“Ayo mengakulah, seperti baru mengenalku saja.”

“Jangan menyebarkannya.”

“Jadi benar? Wah sayang sekali, padahal aku sudah lama mengincarnya.”

“Apa katamu?”

“Hahaha, aku serius. Kebetulan aku bekerja untuk membuat soundtrack film terbarunya, jadi mungkin itu kesempatan untukku mendekatinya, tapi sepertinya terlambat.”

“Kau memang terlambat, jauh sebelum kau berniat mendekatinya.”

“Mwo? Berlebihan sekali. Kau juga baru mengenalnya lewat film ini, kan?”

“Enak saja…aku sudah mengenalnya sangat-sangat-sangat lama!”

“Masa’ sih?”

“Tanyakan saja padanya kalau tidak percaya.”

“Lalu lagu ini mau kau masukkan ke album terbarumu?”

“Iya, tapi sebelum itu akan kutunjukan padanya. Dia penggemarku lho.”

“Chinca? Sulit dipercaya.”

“Apanya yang sulit dipercaya? Lelaki tampan sepertiku sudah sepantasnya punya banyak penggemar.”

“Mulai deh narsis…”

“Kira-kira dia senang tidak ya kalau kuberi lagu ini sebagai hadiah ulangtahunnya?”

“Jadi lagu ini benar-benar untuknya?”

“Eung…iyap.”

“Lagumu bagus, tapi apa tidak terlalu sedih untuk momen bahagia?”

“Liriknya sih tidak, tapi musiknya terlalu mellow, ya? Kalau begitu ganti saja deh lagunya.”

“Aku bercanda, lagu ini bagus kok. Apa judulnya? Our Tomorrow?”

“Iya! Aku membayangkan di malam ulangtahunnya, di sebuah kafe, aku bernyanyi lagu ini di podium sambil menatapnya. Kemudian aku turun dari panggung diiringi tepuk tangan semua orang dan berlutut di depannya sambil menyodorkan sebuah cincin untuk melamarnya. Ah…bukankah itu romantis sekali?”

“Hoaahm…iya-iya, romantis sekali. Berapa banyak drama yang kau tonton?”

“Hya!”

“Hahahaha~”

“Aku ingin hidup bahagia dengannya, Kangwoo-a. Setelah semua masalah yang kami hadapi, aku ingin semua berakhir bahagia.”

“Memangnya ada masalah apa? Sepertinya serius.”

“Iya. Cukup serius.”

“Kalau serius, kenapa sekarang kau tidak bersamanya? Kau harus terus di sampingnya sampai semua selesai. Tidak perlu takut apa kata orang, yang penting kau selalu ada untuknya.”

“Begitukah?”

“Itu sudah pasti! Aku yakin dia membutuhkanmu, Luhan.”

“Kalau begitu malam ini aku akan pindah ke rumahnya!”

“E-eh, bukan itu maksudku. Kalau begitu sih namanya kau nekat.”

“Bagaimana sih? Dasar teman plin-plan!”

***

Sesuai rencananya, Luhan benar-benar berniat pindah ke rumah Minseok malam itu. Yifan sudah melarangnya, tapi Luhan bersikeras untuk menginap di sana selama di Korea.

“Aku tidak peduli! Aku bisa tidur di sofa atau dimanapun yang penting di rumah Xiumin!”

“Kenapa kau tiba-tiba ingin pindah ke sana?”

“Karena seharusnya memang begitu, Gege. Aku tidak bisa membiarkan Xiumin menghadapi masalahnya sendiri.”

Yifan akhirnya menyerah. Tidak ada yang bisa melarang Luhan jika lelaki itu sudah membulatkan niatnya. Yifan menghubungi Minseok untuk bersiap-siap karena Luhan dan dia akan menginap di rumahnya selama mereka di Korea.

“Mwo? Apa yang dipikirkan orang itu? Tidak ada kamar di sini!”

Yifan harus menjauhkan ponselnya karena suara Minseok sangat keras.

“D-Daehyunnie, kau tahu kalau—“

Belum selesai Yifan menyelesaikan ucapannya, Luhan langsung mengambil ponsel itu dan berbicara dengan Minseok.

“Xiuminnie, aku akan tidur dimanapun itu, yang penting aku bisa terus bersamamu.”

“Memangnya kita bayi kembar siam harus kemana-mana bersama?”

“Aku serius, sayang~”

“Aku juga serius, Lu-ge. Aku tidak mungkin membuatmu tidak nyaman.”

“Aku tidak merasa begitu kok. Atau begini saja, kau usir saja si rocker itu dan biarkan dia tinggal dengan Yifan-gege di apartemennya. Dengan begitu aku bisa tidur di kamar tamu, kalau bisa sih…tidur denganmu~”

“Kau ini benar-benar seenaknya ya. Aku membutuhkan Lay-hyung di sini, jadi aku tidak akan mengusirnya.”

“Jadi kau lebih membutuhkan dia ketimbang aku?”

“Aish…bukan begitu, Lu-ge…”

“Sudahlah, Xiuminnie, semuanya akan tetap terkendali. Lagipula Eommamu senang kalau aku tinggal di sana, kan?”

“Tapi…”

“Tidak ada tapi-tapian. Kami akan tiba satu jam lagi, tepat pada jam makan malam, jadi kami akan makan di sana. Hehe~”

“Arra, aku akan mengatakannya pada Eomma.”

“Nah, itu baru pacarku tersayang.”

“Sudah kubilang berhenti menggodaku!”

“Iya-iya. Sampai jumpa di rumah.”

Tut…

 

See? Semua terkendali, Gege!”

“Kau benar-benar keterlaluan, Lu.”

“Jangan melarangku untuk melindungi Xiumin karena itu hal yang mustahil terjadi.”

“Kalau begitu aku akan memberimu tugas.”

“Tugas apa?”

“Apa kau tahu jika Daehyun bertengkar dengan Neneknya?”

“A-apa? Kapan itu? Kenapa dia tidak cerita?”

“Aku yakin dia tidak ingin membuatmu cemas, Lu. Mereka bertengkar kemarin malam, saat Daehyun mengambil buku hariannya di rumah.”

“Lalu?”

“Daehyun tidak mau memberikan buku itu pada Neneknya karena dia merasa sumber masalah ini adalah Neneknya sendiri.”

“Aku tidak mengerti.”

“Kau bisa menanyakan sisanya pada Daehyun. Sekarang masalahnya, Nyonya Taera berpura-pura mengusir Daehyun sebagai cucunya karena Daehyun ingin menyelidiki kasus ini sendiri. Maka dari itu, kau harus melaporkan semua yang Daehyun kerjakan pada kami, tapi jangan bilang kalau ini rencana Nyonya Taera.”

“Ah…aku tidak menyangka kalau masalah ini bertambah rumit.”

“Ada satu lagi, kau masih ingat dengan Park Seulgi, gadis yang kemarin kuceritakan?”

“Iya, adik Park Chanyeol itu, kan?”

“Tepat. Kalian harus waspada pada gadis itu karena kemungkinan Kim Joonmyun menyuruhnya untuk melanjutkan tugas Chanyeol yang tertunda.”

“Apa benar Kim Joonmyun sejahat itu? Aku masih belum percaya, Gege.”

“Maafkan aku, Lu.”

***

“Eomma, Lu-ge akan menginap di sini malam ini, err…maksudku, sampai mereka kembali ke China.”

“Benarkah? Itu kabar bagus, Minseokkie! Kapan mereka datang?”

“Mungkin satu jam lagi. Eomma, apakah melelahkan saat banyak orang di sini?”

“Tidak sama sekali, sayang. Eomma sangat senang ada banyak orang di rumah.”

Melihat raut bahagia itu, Minseok juga ikut tersenyum lalu memeluk Eommanya dari belakang.

“Terimakasih, Eomma, terimakasih karena telah menjadi Eommaku.”

“Hei-hei, lepaskan aku. Sekarang aku harus memasak lebih banyak untuk teman-temanmu.”

“Ani! Aku ingin memelukmu lebih lama karena aku menyayangimu, Eomma, benar-benar sayang…”

***

Satu jam kemudian, Luhan dan Yifan tiba di rumah keluarga Kim dan Jung Shinae langsung menyambut mereka dengan semangat seperti biasa.

“Ayo masuk-masuk! Bawa tas kalian ke kamar Kyungsoo dulu baru kita bicarakan kalian bisa tidur dimana.”

“Kami bisa tidur di ruang tamu, Eommonim, tenang saja,” kata Luhan.

“Tidak-tidak, kalian bisa tidur di kamar. Aku punya kasur lipat.”

“Benarkah? Itu lebih baik. Hehehe.”

Minseok hanya bisa bergumam tidak jelas sambil menatap kesal Luhan, sedangkan Luhan mengedipkan sebelah matanya seperti menggoda Minseok.

Saat semua orang sibuk, Minseok menarik Luhan menjauh dari keramaian untuk meminta penjelasan kenapa Luhan harus pindah ke rumahnya.

“Tadi siang aku melakukan rekaman.”

“Lalu?”

“Rekaman album baruku!”

“Lu-ge, aku serius.”

“Temanku bilang dia mengincarmu.”

“Mwo? Jadi gara-gara itu kau pindah kemari?”

“Bukan-bukan, aku sudah memperingatinya untuk tidak mendekatimu, sungguh.”

“Hya! Kau menceritakan hubungan kita padanya?”

“Tenang saja, Xiuminnie, dia pandai menjaga rahasia.”

“Huft…lalu?”

“Lalu dia bilang, kalau kekasihku punya masalah seharusnya aku berada di sampingnya sesering mungkin supaya kau bisa meluapkan semua amarahmu padaku, supaya kau bisa lebih tenang.”

“Itu yang dia bilang?”

“Kalimat di bagian tengah kukarang sendiri sih, hehe~”

“Baiklah jika itu maumu, aku juga tidak bisa melarang namja keras kepala sepertimu.”

“Kau harus menceritakan semuanya padaku, Xiumin, karena rasanya tidak akan enak jika memendam semuanya sendirian. Janji?”

“Eung…ne.”

“Kau harus bilang, ‘aku berjanji’.”

“Ne, aku berjanji.”

“Nah, sekarang ayo kita makan lalu aku akan menendang si kepala bulat itu ke kasur lipat jadi kita bisa tidur berdua, hahahahaha!”

“L-Lu-ge, kau benar-benar menakutkan…”

***

Sabtu malam yang ditunggu itu akhirnya tiba. Kim Minseok, Byun Baekhyun, dan Park Seulgi pergi ke restoran Seafood sederhana yang terletak di pusat Seoul. Mereka memesan ruang pribadi di sana. Setelah memesan beberapa menu, merekapun mengobrol dengan agak canggung.

“Senang bertemu denganmu, CEO Byun.”

“Jadi kau benar-benar adik Chanyeol?”

“Benar.”

“Kalau begitu jangan panggil aku CEO Byun, cukup panggil Baekhyun-oppa.”

“Baiklah.”

“Apa kau sudah pergi ke makam Chanyeol?”

“Sudah.”

“Apakah kau melihat banyak mawar putih di sana? Maaf ya karena memenuhi kotak kremasi kakakmu dengan bunga-bunga itu.”

Park Seulgi terdiam karena merasa ada yang aneh dari pernyataan Baekhyun. Makam yang kemarin dia kunjungi tidak ada bunga mawar seperti yang dimaksud Baekhyun, jadi makam itu palsu?

“Seulgi-ssie, kenapa kau melamun?” kata Baekhyun.

“Oh? T-tidak, aku tidak apa-apa.”

“Maafkan aku karena membuat Oppamu bunuh diri. Sungguh, aku tidak pernah menginginkannya. Yang kuinginkan adalah hidup bahagia dengannya sampai akhir, Seulgi-ssie.”

Dada Seulgi sesak saat menatap mata yang penuh kesakitan itu. Baekhyun benar-benar kehilangan Chanyeol bahkan lebih dariku, pikir Seulgi.

“Sudah kubilang itu bukan kesalahan kalian, itu keinginannya sendiri.”

“Tapi tetap saja…”

“Berhenti menjadi lelaki lemah, Byun Baekhyun. Kakakku akan marah jika melihatmu terus menyesali kepergiannya.”

Minseok dan Baekhyun terkejut mendengar pernyataan Seulgi, terutama Minseok, dia tidak menyangka Seulgi yang ada di depannya akan berkata seperti itu.

“Dia yang bodoh karena menyerah begitu saja. Dia yang bodoh karena tidak bisa mempertahankan pendiriannya. Dia yang bodoh karena tidak bisa membunuh kalian!”

“Dia tidak mau membunuh orang yang dicintainya, apa itu salah?” kata Minseok yang agak kesal karena dari cara bicara Seulgi, dia merasa nyawanya dan Baekhyun tidak lebih berharga daripada perintah Joonmyun.

“Daehyun-a, jangan bicara seperti itu.”

“Sekarang kutanya, kenapa dia berbohong dan pergi secepat itu? Kenapa dia tidak bisa menepati janjinya untuk melindungi kami? Jika dia bisa hidup lebih lama, kami juga akan melindunginya, jadi dia tidak perlu hidup dalam penjara itu. Apa kau tidak mengerti perasaan kakakmu sendiri, hah? Apa hatimu terbuat dari batu sehingga dengan mudahnya mengatai kakakmu bodoh?”

“D-Daehyun-a…”

“Jika dia bisa membunuh perasaan itu, maka dia masih bisa mengobrol denganku sekarang. Apa kalian kira hanya kalian yang kehilangan dia? Aku juga, aku juga kehilangan dia. Aku kehilangan orang yang bisa membuatku tertawa saat mengingat beban yang harus kami tanggung. Iya, hatiku mungkin terbuat dari batu, tapi setidaknya aku masih bisa memikirkan cara lain untuk menuntaskan tugas itu selain bunuh diri. Byun Daehyun, kau bilang akan membebaskanku juga, bukan? Kita lihat bagaimana kau bisa menghadapi adikmu sendiri.”

“M-mwo? Apa maksudmu?”

“Kim Kyungsoo itu adikmu, bukan? Dia sudah jatuh seperti lelaki ini. Dia jatuh pada lubang yang sama, bedanya, aku tidak seperti kakakku yang lemah.”

“Apa yang mau kau lakukan pada Kyungsoo?”

“Sesuatu yang bisa kau bayangkan.”

Park Seulgi mengambil tasnya dan pergi dari ruangan itu. Minseok ingin mengejar gadis itu, tapi Baekhyun menahannya.

“Tidak, Daehyun-a, aku yakin Park Seulgi tidak akan melakukan hal senekat itu.”

“Apa jaminannya, Hyung? Bagaimana kalau dia membunuh Kyungsooku?”

“Kita akan mengawasi mereka berdua seperti yang kau rencanakan. Jika kita bisa menangkap gadis itu, Kim Joonmyun juga akan tertangkap.”

“Kyungsooku, Hyung, Kyungsooku…”

“Tenang, Daehyunnie, aku tidak akan membiarkan adik Chanyeol melakukan hal yang sama pada Kyungsoo.”

***

Malam itu, setelah mengantar Minseok ke rumahnya, Baekhyun pergi ke rumah kremasi untuk mengunjungi Chanyeol. Dia membawa bunga mawar putih kesukaannya dan Chanyeol. Diletakannya bunga itu dan menatap foto Chanyeol lekat.

“Chanyeol-a, akhir-akhir ini aku merasa sedikit kesepian. Bukan karena belum bisa melepasmu, tapi…aku juga tidak tahu. Bisakah kau memberiku jawaban seperti biasanya? Aku merasa sendirian, Chanyeol.”

Baekhyun mengelus kaca penutup tempat abu Chanyeol dan menutup matanya, mencoba mengingat bagaimana mereka dulu bersama.

“Apa kau tahu kalau adikmu sudah menggantikanmu? Daehyun mencurigai adikmu, begitupun aku. Kami takut adikmu melakukan kesalahan yang sama sepertimu, Chanyeol, kami benar-benar takut. Tapi aku yakin, dia bukan orang jahat. Aku ingin melindungi gadis itu seperti adikku sendiri. Dan jika perkiraanku benar, aku juga akan melindungi keluargamu.”

Setelah puas bercerita, Baekhyun berbalik dan meninggalkan tempat itu. Lalu beberapa saat kemudian seorang gadis dengan kacamata hitam datang. Dia, Park Seulgi, membuka tempat abu kakaknya lalu meletakan sebuah flashdisk di sana.

“Aku sudah melakukan apa yang kau inginkan, Oppa. Semua rekaman pembicaraan antara kau dan Kim Joonmyun sudah kumasukan di sana. Maafkan aku karena baru datang ke sini. Sebelumnya aku pergi ke nisan palsumu di pinggiran Seoul dengan Appa dan Eomma. Mereka tidak tahu kalau nisan itu palsu, tapi aku tahu dari pacarmu yang barusan datang. Aku tidak mengerti kenapa Joonmyun tidak memberitahu kami dimana makammu yang asli, tapi yang pasti, dia akan mendapat pelajaran yang setimpal dari perbuatannya ini. Aku berjanji untuk membalaskan dendammu, Oppa. Aku akan menuntaskan tugasmu untuk melindungi Byun Daehyun dan Baekhyun.”

Advertisements

13 thoughts on “My Immortal Love is You _ XiuHan/LuMin (Bagian 16)

  1. wah cepet bgt nh apdetnya 😀

    mungkin kah mantan mafia yg dulu dtlng!n sm byun minho it ortunya chanyeol?
    Eh msh bngung mklum rda telmi, bpk.a junmyoon it brslah kg sh?

    untk next chap bisa gk thor apdet cpet? dan kira2 brapa chapter lg tmat?
    semangat!!

    • KKkk, coba baca lagi penjelasan Yifan soal kasus Byun Minho sama mafia deh, itu udah rada jelas kok say 🙂 intinya Byun Minho itu pengen ngejauhin Ilsook dari adiknya dengan cara manipulasi kasus (read: fitnah) kk. Soalnya dari awal si Ilsook itu emang mau jahat sama keluarga Byun, jadi dibales sama Minho. .
      aku belum bikin chapter selanjutnya wkwkwkwk. mangap yaaa xD
      ini berapa chapter lagi ya ._. belum bisa diprediksi, tapi paling banyak 1-2 episode lagi mungkin *udah kayak drakor aja* kk
      makasih banya udah baca 😀

      • _di tunggu yagg aku seneng banged ama ff kamu…. Kaloo bisaa yang banyak lagii lumin cuple’a…

        _tapii kaloo bolehh minta kyungsoo jangan mati yahh 🙂

      • widiiiih, aku jadi malu ditunggu-tunggu (ffnya) kkkk.
        aku kanget banget ih sama LuMin, sumpah 😦 *kok curcol*
        boleh kok, boleh bangettt hehe.
        makasih banyak udah baca 😀

  2. Itu pas dbagian buku harian. Saya bingung. Yg nulis buku harian & yg punya buku harian kan Daehyun. Tp kok serasa Daehyun yg diceritakan. Kyak Baekhyun yg nulis itu.. Ato gmna yah??
    Sedikit lg ceritanya bakal end nih. Kejahatan Junmyeon akan terungkap. Jd ngga sabar nunggu endnya. Tuhkan, trnyata keluarga Park itu baik. Cuman keluarga Kim aja yg jahat. Ehhh, tp itukan jg difitnah sma Appanya Baekhyun-Daehyun.
    Next part 😉

    • ada kok penjelasannya di part terakhir sayang 😀 hehehe
      hiks-hiks, iya ni bentar lagi end. (udah dipost) kkk.
      iya, mereka tu sebenernya baik-baikkkk banget. makasih banyak ya udah bacaaa 😀

  3. Makin penasaran sama ceritanya >..<
    Rusa dan segala sifat menyebalkannya :v *ditendang Luhan*

    Eonnie eonnie eonnie~ semangat terus ya buat lanjutinnya
    Ah iya aku mau bilang sama-sama karna udah ngikutin cerita ini dari awal hehe. Aku suka ceritanya bikin greget, gak membosankan dan aku gak suka yang setengah-setengah/? jadi aku bakal ngikutin cerita ini sampe ending~ 😀 hihihi
    Ah aku kembali ke komenan awal-awal (komen terlalu panjang), segini aja deh aku komennya nanti malah nambah panjang. Sekali lagi lagi semangat ya eon buat lanjutinnya, aku bakal terus ngikutin/? sampe akhir kok^^
    Annyeong /lambai tangan bareng Xiuhan/

    • si rusa emang rese abeeesss. hehehe.
      saeng-saeng-saenggg iya aku semangat kook. makasih banyak ya kamu selalu komen di ffku sayang 😀 makasiiiii bangetttt (sampe gatau mau ngomong apa lagi)
      sip deh! part terakhirnya udah ada kok say, selamat baca 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s