My Immortal Love is You _ XiuHan/LuMin (Bagian 15)

Tittle: My immortal love is you

Author: Fie

Genre: romance, family, drama, boyxboy

Length: Multichapter

Rated: T

Languange: bahasa

Pairing: LuMin/XiuHan

Cast:

– EXO XiuMin as Kim Minseok/XiuMin

– LuHan as Xi Luhan

– EXO Baekhyun as Byun Baekhyun

– EXO Chanyeol as Park Chanyeol

– EXO SuHo as Kim Joonmyun

– EXO D.O as Kim Kyungsoo

– EXO Lay as Zhang Yixing

– Kris as Wu Yifan

– EXO Sehun as Kim Sehun

– EXO Kai as Lee Jongin

– EXO Chen as Lee Jongdae

– EXO Tao as Hwang Zitao

– Other….

“Sebuah cerita tentang kasih sayang yang akan terus abadi.”


 

Fifteen – A doll

“Jangan menjadi ‘boneka’nya karena itu hanya akan menyakitimu.”

 

SEORANG lelaki paruh baya yang duduk di kursi roda menatap nama Park Chanyeol yang tercetak permanen di nisan makam. Airmata lelaki itu akhirnya jatuh walaupun dia sudah berusaha menahannya agar istri dan anak perempuannya bisa berhenti menangis.

“Ayo kita pulang,” katanya.

“Ini kesalahanmu, Park Taesung,” lirih Shin Yooni, ibu Chanyeol, “ini kesalahanmu karena berusaha menyelamatkan keluarga Byun.”

“Eomma…”

Tanpa berkata-kata, Shin Yooni berlari meninggalkan suami dan anak perempuannya menuju mobil yang khusus mengantar mereka ke makam Chanyeol.

“Appa, ayo kita pulang.”

“Park Seulgi-ah, tunggu sebentar,” ucap Park Taesung seraya menggenggam tangan anaknya.

“Ada apa, Appa?”

“Apakah Appa bersalah?”

Park Seulgi menatap Appanya lekat. Dia memejamkan matanya dan menghela nafas panjang, lalu memeluk tubuh renta itu.

“Tidak, ini bukan salah Appa. Ini semua takdir, dan Tuhan punya rencana besar di balik ini.”

“Jika Appa tidak berusaha menyelamatkan keluarga Byun, mungkin hidup kita tidak akan seberat ini.”

“Jangan berpikir kalau menyelamatkan orang lain itu salah, Appa. Kita hanya belum menuntaskan tugas itu.”

“Tugas?”

“Iya. Aku akan melanjutkan tugas ini sampai tuntas, dan aku tidak akan lemah sepertinya.”

***

Kim Minseok mengambil beberapa pakaiannya dari lemari dan dimasukkan ke tas. Hari ini dia akan pindah ke kamar Kyungsoo karena kamar ini akan ditempati Kim Jongwoon dan Lee Soonkyu, sedangkan kamar tamu akan ditempati Lay. Minseok tidak tahu alasan apa yang membuat dua kakaknya itu tiba-tiba ingin menginap di sini. Mereka juga membawa tas besar, seperti akan lama tinggal di sini.

“Mungkin sampai kelahiran anak pertama Soonkyu-noona,” gumamnya.

“Maaf karena mengusirmu, hehe, bahkan kau belum pernah bermalam lama di sini, ya?” tanya Soonkyu yang sedang merapikan barang-barangnya.

“Tidak apa-apa, Noona.”

“Bagaimana dengan film terbarumu? Apa benar itu ditunda?”

“Iya. Aku ingin menundanya sampai polisi menyelesaikan kasus perusahaan kami.”

“Oh, begitu. Keputusan yang cukup bijak.”

“Eum. Akan banyak tersebar berita miring antara Anthersy Book dan Byunkor Media jika pembuatan film dilanjutkan.”

Lee Soonkyun hanya mengangguk-anggukan kepalanya, tanda setuju pada alasan Minseok menunda film itu.

“Apa kau baik-baik saja?”

“Iya, aku baik-baik saja, Noona. Film itu akan selesai, tenang saja.”

“Bukan tentang film, tapi tentang Park Chanyeol.”

Tangan Kim Minseok yang sedang menata bajunya langsung berhenti saat mendengar nama itu. Dia menghela nafas panjang lalu berbalik untuk menatap Soonkyu.

“Noona, bukankah dulu kau seorang jaksa?”

“Iya.”

“Apakah kau pernah menangkap orang yang kau cintai?”

Lee Soonkyu sepertinya tahu arah pembicaraan Minseok, jadi dia hanya bisa diam beberapa saat baru kemudian mengelus surai kepala Minseok seperti sedang mengurus adiknya sendiri.

“Belum.”

“Jika suatu saat nanti kau harus berada di posisi itu, apa kau akan membatalkan kasusmu?”

“Tidak. Jika dia memang bersalah, aku tidak akan membatalkan kasusku.”

“Walaupun itu berat?”

“Iya. Walaupun itu sangat berat untukku. Kenapa kau bertanya, Minseok?”

“Jika Park Chanyeol tidak bunuh diri, maka Baekhyun-hyunglah yang terbunuh. Jika itu terjadi, maka aku harus menjebloskan orang yang kucintai ke penjara, bukan?”

“A-apa maksudmu? Chanyeol ingin membunuh Baekhyun?”

“Selain orang-orang yang tahu masa laluku, mungkin kau juga harus tahu masalah ini, Noona. Aku ingin bertanya dari sudut pandangmu, itu saja.”

“Ada apa ini?”

“Park Chanyeol, dia berhubungan dengan pelaku yang menyebabkan kecelakaan pada keluarga Baekhyun-hyung 19 tahun yang lalu. Chanyeol-hyung disuruh membunuh Baekhyun-hyung malam itu, tapi karena dia mencintai Baekhyun-hyung dan tidak sanggup membunuhnya, jadi dia membunuh dirinya sendiri.”

“Benarkah? Apa Eomma dan adikmu tahu tentang ini?”

“Tidak, mereka belum tahu.”

“Lalu itu sebabnya kau bertanya padaku, apa yang kulakukan jika orang itu jadi membunuh Baekhyun?”

“Iya.”

“Kau harus memilih antara mengkhianati Park Chanyeol atau Byun Baekhyun?”

“Iya.”

“Maka aku akan mengkhianati Park Chanyeol.”

“W-wae?”

“Karena jika aku tidak menkhianatinya, aku tidak bisa menghentikan kejahatannya.”

Kim Minseok terdiam setelah mendengar pernyataan Lee Soonkyu. Dia sadar jika pilihan berat itu tidak harus ditolaknya.

“Iya, aku mengerti, Noona. Gomawo…”

“Akan tetapi, sekarang keadaannya berbeda, bukan? Park Chanyeol menghentikan dirinya sendiri padahal belum tentu itu kesalahannya.”

“Maksudmu?”

“Kau bilang dia disuruh, dan itu pasti ada alasannya. Apa kau sudah mencari tahu kenapa dia disuruh?”

“Belum.”

“Aku yakin dia melakukan itu karena paksaan. Dia harus melakukan itu untuk alasan tertentu dan kau harus mencaritahu.”

“Nde, aku pasti akan mencarinya.”

“Jika kau butuh bantuanku, kau boleh datang kapan saja. Aku akan membantumu sebisa mungkin.”

“Terimakasih, Noona, aku senang karena Jongwoon-hyung tidak memilih istri yang salah, hehehe~”

“Hya, jangan mulai menggombal ya.”

“Hahahaha.”

Di sela tawanya, Minseok menyadari ada kejanggalan dalam pembicaraannya dengan Soonkyu. Soonkyu tidak bertanya masa lalu apa yang dimaksud Minseok, apa itu artinya Soonkyu tahu? Tidak, mungkin dia hanya fokus pada kasus Chanyeol, jadi tidak sadar dengan itu.

***

Malam itu Jung Shinae menyiapkan makan malam spesial karena telah cukup lama mereka tidak berkumpul sekeluarga, dan Shinae bertambah senang karena ada Lay yang ikut menginap.

“Hari ini kalian harus makan banyak, jangan kecewakan Eomma ya?”

“Iya, Eomma!” seru mereka berlima bersamaan.

“Oiya, kenapa kau tidak mengajak Luhan dan Yifan, Minseok?”

“Mereka bilang—“

Ting tong…

 

“Oh? Siapa itu?” kata Soonkyu seraya bangkit dari kursinya untuk membuka pintu.

“Hahahaha, kalian toh! Baru saja Eomma menanyai kalian.”

Minseok dan Lay kaget bukan main melihat tamu itu adalah Yifan dan Luhan karena mereka bilang hari ini akan tinggal di hotel saja supaya tidak ada gosip yang aneh.

“Kami mampir karena rindu dengan masakan Xiumin Eomma,” kata Luhan.

“Pas sekali! Eomma memasak banyak sekali malam ini. Silahkan duduk-duduk!” kata Jung Shinae semangat.

Luhan langsung menyuruh Kyungsoo berpindah agar bisa duduk di sampingku. Sambil menggerutu, Kyungsoo pindah di samping Soonkyu-noona, sedangkan Luhan hanya bisa tertawa puas.

“Terimakasih, Kepala bulat.”

“Berhentu memanggilku ‘kepala bulat’, Hyung!”

“Hehehe~”

Eomma mengambilkan nasi untuk Yifan dan Luhan, kemudian makan malam kami mulai dalam tawa dan obrolan yang cukup seru. Minseok menatap keluarganya lekat sambil membayangkan apa lagi yang akan terjadi pada mereka.

“Akhirnya aku bisa menikmati malam yang indah bersama keluargaku, di sini, di dalam keluarga yang telah bersamaku selama 19 tahun, keluarga yang akan kulindungi dengan segenap kemampuanku,” ucapnya dalam hati.

“Minseokkie, Eomma benar-benar penasaran dengan pacarmu.”

Pertanyaan Shinae membuat Minseok dan Luhan terbatuk dan hampir memuntahkan makanan mereka.

“Ada apa dengan kalian berdua?” tanya Shinae penasaran.

“T-tidak apa-apa, tadi Eomma tanya apa?” tanya Minseok.

“Pacarmu, apa kau sudah punya?”

“E-euh…”

“Sudah,” kata Luhan, dan itu membuat semua orang langsung menoleh padanya.

“Sudah? Siapa?” tanya Soonkyu mulai antusias.

“A-aw!!” teriak Luhan karena kakinya diinjak Minseok.

“Aku akan mengenalkannya nanti, Eomma.”

“Kenapa harus nanti?”

“Eum…itu…aku…”

“Katakan saja siapa dia, Minseokkie,” goda Jongwoon.

“Aku,” celetuk Luhan, membuat Shinae, Jongwoon, dan Soonkyu kaget bukan main.

“Mwo? Kau?” kata Jongwoon sedikit tidak percaya, sedangkan Luhan hanya mengangguk riang.

“Iyap. Kami sudah pacaran sejak kedatanganku ke rumah ini dulu, Eommonim. Maaf baru sekarang aku mengatakannya. Ini karena anakmu takut ketahuan.”

“Kenapa kau harus takut, Minseok?”

“Dia kan artis, akan berbahaya jika hubungan kami ketahuan.”

“Tapi lambat laun kalian harus mengungkapkan hubungan ini, bukan?” kata Soonkyu.

“Iya…”

“Kapan kalian melakukan publikasi?” tanya Jongwoon yang tiba-tiba saja nada bicaranya berubah serius.

“Setelah kasus di Anthersy Book selesai,” jawab Minseok gugup.

Semua terdiam, membayangkan kengerian kasus itu sudah cukup untuk membuat suasana hangat di rumah itu berubah drastis.

“Oh. Kalau begitu lanjutkan makan kalian, tidak usah membicarakan masalah ini saat makan. Ayo-ayo dihabiskan,” kata Shinae langsung mengalihkan pembicaraan.

Minseok bisa menangkap ketakutan di wajah Eommanya, dan itu membuatnya cemas. Dia cemas Eommanya berada dalam jebakan si pelaku. Bagaimana dia harus bertanya pada Eommanya perihal statusnya di keluarga ini? Itulah yang sejak tadi Minseok pikirkan.

***

Kim Joonmyun menatap papan kaca berisi foto orang-orang yang terdapat dalam skenario kejahatannya. Setelah menggambar tanda silang di foto Park Chanyeol, matanya tertuju pada Jung Shinae, Kim Kyungsoo, dan Lee Soonkyu.

“Tao, menurutmu di antara mereka bertiga, siapa yang paling berbahaya?”

Tao mengamati tiga foto itu bergantian, lalu matanya terfokus pada namja bermata besar yang mempunyai wajah manis khas anak sekolahan.

“Kim Kyungsoo.”

“Anak ini?”

“Iya. Saat bertugas untuk mengawasi Minseok di rumah sakit dulu, aku juga diam-diam mengamati anak ini karena dia yang terlihat sangat marah saat Minseok terluka. Dia bilang akan melindungi Hyungnya.”

“Ohya? Menarik. Lihat sampai seberapa jauh dia bisa melindungi Minseok. Apa kau mau bermain sebentar?”

“Apa maksud Anda?”

***

Park Seulgi tidak pulang dengan orangtuanya ke Busan. Dia pergi ke kediaman Kim Joonmyun karena Joonmyun ingin bertemu dengannya. Gadis tinggi berumur 18 tahun itu berjalan angkuh melewati lorong rumah Joonmyun yang megah. Tangannya mengepal kuat, seperti sedang menggenggam dendam besar di sana.

“Oh, Park Seulgi-ssie, akhirnya kita bertemu,” kata Joonmyun saat Seulgi masuk ke ruang kerjanya.

“Iya, Tuan.”

“Kau sudah melihat makam kakakmu?”

“Sudah.”

“Lihatlah kakakmu yang bodoh itu. Dia terlalu lemah karena tidak bisa mempertahankan pendiriannya.”

“Iya, dia sangat bodoh,” kata Seulgi sambil menelan ludahnya karena tidak terima kakaknya dikatai seperti itu.

“Kau tahu kenapa aku memanggilmu?”

“Saya tidak tahu.”

“Kau akan menjadi CEO Anthersy Book selanjutnya, menggantikan Park Chanyeol. Atau bisa dibilang, menuntaskan tugas namja itu untuk menghancurkan Byun Daehyun dan Byun Baekhyun.”

“Sebuah penghormatan bagi saya, Tuan.”

“Kuharap kau berbeda dengan kakakmu, Seulgi-ssie,” kata Joonmyun seraya menyerahkan sebuah pistol yang sama dengan milik Park Chanyeol pada Seulgi.

“Tentu, Tuan.”

***

Luhan dan Yifan, lebih tepatnya Yifan, tidak berencana untuk menginap di rumah Minseok, jadi mereka pergi setelah makan malam selesai.

“Ya…sebenarnya aku lebih senang tidur di sini daripada di hotel,” gerutu Luhan saat membuka pintu mobilnya.

“Mau tidur dimana? Semua kamar penuh,” kata Minseok.

“Di kamarmu?”

“Aku tidur dengan Kyungsoo, kamarku dipakai Jongwoon-hyung dan Soonkyu-noona.”

“Oh, mereka menginap? Kukira mereka punya rumah sendiri.”

“Mereka memang punya. Aku juga bingung kenapa mereka menginap.”

“Yasudah, sekarang aku agak tenang karena di rumahmu banyak orang, selain rocker itu tentunya.”

“Hahaha, berhentilah mengejek Lay-hyung, Lu-ge.”

“Aku pulang dulu, Xiumin,” kata Luhan seraya mengecup pipi putih Minseok.

“Iya, hati-hati. Yifan-hyung, aku titip Lu-ge, ya.”

“Siap, Tuan.”

“Ey…sudah kubilang jangan panggil aku ‘tuan’, kan.”

“Eum…”

Mobil silver Luhanpun melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan rumah Minseok, kemudian Minseok masuk ke rumahnya. Dia langsung membantu Eommanya yang sedang merapikan meja makan bersama Soonkyu.

“Soonkyu-noona, sebaiknya kau istirahat saja, biar aku yang membantu Eomma,” kata Minseok seraya memberi isyarat pada Soonkyu agar dia bisa bicara dengan Eommanya berdua saja. Soonkyun mengangguk lalu pergi ke kamar.

“Minseokkie, aku senang kau memilih Luhan.”

“O-ohya?”

“Dia lelaki yang baik.”

“Euh…”

“Saat di rumah sakit, Eomma sudah yakin Luhan mencintaimu dengan tulus.”

“Benarkah?”

“Iya, Eomma melihat matanya yang menatapmu cemas, berbeda dengan Park Chanyeol.”

“Apa maksud Eomma?”

“Mungkin Chanyeol mencemaskanmu, tapi tidak lebih cemas daripada Luhan. Dia menungguimu sepanjang malam dan ketika Eomma datang paginya, dia terlihat sangat lesu, tapi bersikeras untuk tetap terjaga. Eomma belum pernah bertemu dengan orang sepertinya, dia benar-benar mencintaimu, Minseokkie.”

“Aku bersyukur jika Eomma menyetujui hubungan kami.”

“Tentu. Sebelum kalian pacaran pun, Eomma sudah menyetujuinya.”

“Mwo?”

“Hahahaha, Eomma bilang pada Luhan kalau Eomma ingin menantu sepertinya.”

“Eomma bilang begitu? Aish…malunya…”

“Hahahaha~”

“Eomma…bolehkah aku bertanya sesuatu?”

“Tentu.”

“Apakah Eomma sedang menyembunyikan sesuatu dariku?”

“A-apa yang kau bicarakan?”

“Kenapa aku tidak mengingat masa laluku sebelum umur 6 tahun?”

“I-itu…itu karena…”

“Aku tidak pernah menanyakan ini sebelumnya karena takut melukai perasaan Eomma, tapi aku rasa jika aku terus menyembunyikannya, itu akan lebih menyakitkan.”

“Apa kau sudah mengingatnya?”

“Mengingat apa?”

“Masa lalumu…”

Eomma membalikan tubuhnya padaku lalu menyentuh pipiku.

“Apa kau sudah mengingat semuanya?”

“Nde.”

“Byun Daehyun-a, maafkan aku karena menyembunyikan identitasmu.”

“Kenapa Eomma melakukannya?”

“Karena Eomma takut kehilanganmu, sayang. Eomma mencintaimu seperti anakku sendiri bahkan saat kau menjadi muridku. Eomma tidak tega melihatmu bersama orangtuamu yang tidak peduli itu.”

“Orangtuaku tidak bersalah, Eomma. Mereka juga mencintaiku seperti kau mencintaiku.”

“Tapi kenapa…”

“Eommaku berkata kalau dia mencintaiku di saat-saat terakhirnya. Aku bisa mengingat senyum terakhirnya di tengah kobaran api yang hampir merenggut nyawaku, dan itu sangat menyakitkan.”

Jung Shinae terkejut saat mendengar pernyataan Minseok mengenai ibu kandungnya. Wanita itu menurunkan tangannya dari pipi Minseok dan menunduk, dia merasa bersalah sudah mengunci ingatan Minseok pada orangtua kandungnya. Dia selalu berpikir kalau lebih baik Minseok tidak pernah mengenal mereka, dan sekarang dia merasa sangat bodoh.

“Maafkan aku, Daehyun-a…aku tidak tahu…”

“Jangan, Eomma, jangan meminta maaf padaku. Kau sama sekali tidak pantas meminta maaf karena sudah membesarkanku selama 19 tahun. Jika Eomma tidak menemukanku, mungkin aku tidak akan tumbuh sebaik ini.”

“B-bukan, bukan aku yang menemukanmu, tapi Kim Han, dia yang membawamu padaku.”

“Mwo? Paman Han?”

“Iya. Dia membawamu yang sedang sekarat, dan aku langsung membawamu pada Dokter Park Jungsoo.”

Jadi benar, jika Paman Han memiliki hubungan dengan pelaku itu? Apa itu yang membuatnya melakukan penyerangan padaku? Apa itu yang membuatnya terbunuh? Kim Joonmyun, kau orang yang benar-benar jahat.

***

Setelah merapikan meja makan, Minseok pamit pada Eommanya untuk beristirahat. Saat dia masuk ke kamar Kyungsoo, Kyungsoo sedang duduk di pinggan jendela sambil membaca komik dengan serius.

“Apa yang sedang kau baca, Kyungie?”

“Komik, seperti biasa.”

“Ooh…”

Kyungsoo belum mengalihkan perhatiannya dari komik itu sampai Minseok duduk di sampingnya.

“Kamarmu enak ya, ada balkonnya.”

“Eoh.”

“Hya, kakakmu sedang di sini, tapi kenapa perhatianmu masih pada komik itu?”

“Ey…ini komik yang sejak bulan lalu kuincar, jadi jangan ganggu aku.”

“Hahahaha, begitukah? Baiklah…aku tidur duluan.”

“J-jangan.”

“Jangan?”

“Aku ingin bicara sebentar denganmu, Hyung.”

“Baiklah…”

Kyungsoo menutup komiknya lalu meletakannya di rak komik. Kemudian dia kembali duduk di samping Minseok.

“Jadi kau benar-benar menunda pembuatan filmmu?”

“Iyap.”

“Kalau begitu aku bisa tenang sekarang. Hyung, aku ingin mengakui sesuatu.”

“Mengaku apa?”

“Aku sudah tahu identitas aslimu sejak lama.”

“Mwo? Kenapa kau tidak mengatakannya padaku?”

“Itu karena Eomma tidak mau kau kembali ke keluarga lamamu.”

“Ah…alasan itu. Tenang saja, aku akan tetap di sini.”

“Benarkah?”

“Aku sudah pernah bilang, kan? Seingin apapun aku kembali menjadi Byun Daehyun, tapi kalianlah yang selalu bersamaku selama ini. Apakah aku tega meninggalkan kalian?”

“Syukurlah…”

“Kau harus tenang, Kyungie, supaya Joonmyun tidak mengintimidasi pikiranmu, walaupun secara tidak langsung.”

“Kenapa sih orang itu mengincarmu?”

“Ceritanya panjang, intinya dia ingin membalaskan dendam Appanya.”

“Balas dendam seperti apa?”

“Appanya menggelapkan sejumlah uang di perusahaan kedua terbesar keluarga Byun, jadi nenek mengusirnya bersama keluarganya. Kemudian Kim Ilsook meninggal tidak lama setelah pengusiran itu karena bunuh diri. Mungkin Kim Joonmyun tidak terima karena Appanya meninggal akibat tuduhan itu.”

“Tuduhan? Memangnya ada bukti kalau dia tidak bersalah?”

“Molla. Waktu itu aku tidak mengerti apa-apa, jadi aku tidak mencari tahu.”

“Jika Appa Joonmyun benar-benar bersalah, apakah Joonmyun akan berhenti?”

“Aku tidak tahu…”

Mereka terdiam beberapa saat sampai Kyungsoo teringat sesuatu yang tak kalah penting.

“Ahiya, ini mengenai tes masuk universitas.”

“Oh! Bagaimana hasilnya? Maaf ya karena tidak menanyaimu, keadaannya benar-benar sulit belakangan ini.”

“Tidak apa-apa, Hyung, aku mengerti.”

“Jadi?”

“Jadi…aku lulus.”

“Chinca? Aigo…adikku memang yang terhebat! Jurusan apa?”

“A-arsitektur…”

“Woa…itu yang kuharapkan!”

“Mwo? Jadi kau tidak benar-benar mendukungku menjadi dokter?”

“Hahahaha, bukan begitu, Kyungie. Aku hanya berharap Tuhan akan memberimu jalan terbaik yang sesuai denganmu. Kau harus bersyukur.”

“Fiuh…aku kira kau akan kecewa.”

“Kecewa? Tentu saja tidak! Kapan kuliahnya dimulai?”

“Bulan depan.”

“Semangat! Kau harus menjadi yang terbaik di sana! Sekarang jangan pikirkan masalah Joonmyun atau semacamnya, kau harus fokus pada hidup barumu di kampus, arra?”

“Ne!”

“Itu baru adikku, adikku yang terhebat! High five!”

***

Hari ini Kim Minseok dan Zhang Yixing pergi ke Anthersy Book untuk bekerja seperti biasa. Walaupun pembuatan film ditunda, bukan berarti mereka bisa libur. Saat mereka tiba di kantor, semua orang bertingkah aneh dengan saling berbisik dan mengobrol serius.

“Selamat pagi, Nona Song,” sapa Minseok pada seorang karyawan yang pernah dikenalnya saat pertama kali ke sini, Song Wendy.

“Oh, Kim Minseok-ssie, Anda datang bekerja.”

“Iya, aku tidak mungkin bolos hanya karena pembatalan film itu. Bagaimana keadaan di kantor?”

“Di sini baik-baik saja, tapi…”

“Tapi?”

“Kami masih terpukul dengan kematian CEO Park yang tiba-tiba.”

“Oh, jadi itu sebabnya mereka bertingkah aneh?”

“Bukan karena itu, tapi karena kabar yang mengejutkan tentang pergantian CEO.”

“Mwo? Akan ada pergantian CEO? Secepat itu?”

“Kami juga sangat kaget mendengarnya, tapi kabarnya pagi ini CEO itu akan datang.”

“Apa kau tahu siapa dia?”

“Rumornya CEO itu adik perempuan CEO Park.”

“A-apa?”

Belum selesai Minseok sadar dari keterkejutannya, seluruh orang di lobby kantor sedikit berlari menuju pintu masuk. Karena penasaran, Minseok juga ikut melihat apa yang terjadi. Seorang wanita tinggi dengan penampilan yang mempesona memasuki area lobby. Saat melihat wajah itu, Minseok memicingkan matanya karena sepertinya dia pernah melihat wanita itu.

Park Seulgi berjalan dengan angkuh melewati orang-orang yang menatapnya heran, sampai mata itu menangkap sosok Kim Minseok. Dia berjalan mendekati Kim Minseok dan mengulurkan tangannya pada namja itu, membuat semua orang makin heran.

“Bukankah Anda Kim Minseok?”

“Ha? I-iya…”

“Senang bertemu dengan orang kepercayaan Oppaku.”

“Mwo?”

***

Park Seulgi menyesap kopinya sambil terus memperhatikan Kim Minseok yang kebingungan dengan pertemuan ini. Kemudian diletakannya gelas itu dan menyilangkan kedua tangannya di dada.

“Kau pasti sedang bingung, kan?”

“Tentu saja. Kau tiba-tiba datang dan mengajakku ke sini, padahal kita belum pernah bertemu.”

“Hahahaha, iya-iya maafkan aku, Minseok-ssie. Jadi, ayo kita mulai dari awal. Namaku Park Seulgi, aku adalah CEO baru perusahaan ini.”

“Jadi benar CEO Park Chanyeol sudah digantikan secepat itu?”

“Tentu, semua orang harus bangkit dari masa lalu. Benar, kan?”

“Nde.”

“Kau adalah salah satu orang kepercayaan Oppaku di perusahaan ini, jadi bimbinglah aku.”

“Apakah dia bercerita banyak tentangku?”

“Oh, tentu. Sangat banyak sampai aku bisa mengenalmu sebaik dia mengenalmu.”

“Aku menyesal Oppamu meninggal dengan cara seperti itu.”

“Kenapa harus menyesal? Dia meninggal atas keinginannya sendiri, dan jika itu yang terbaik, maka tidak ada yang harus disesalkan.”

“Apa yang kau inginkan, Seulgi-ssie?”

“Apa yang kuinginkan? Hahahahaha, jangan terburu-buru, Minseok-ssie.”

“Kalau tidak ada urusan lain, maka aku akan pergi.”

“Tunggu sebentar. Aku ingin bertanya satu hal padamu.”

“Iya?”

“Apa yang kalian lakukan sampai Oppaku melakukan hal sebodoh itu?”

Kim Minseok terdiam. Dia menatap mata Park Seulgi yang berkaca-kaca.

“Dia ingin berhenti menjadi ‘boneka’ orang itu. Dia ingin menyelamatkan orang yang dicintainya tanpa bayang-bayang orang itu. Dan jika kau pintar, kau juga tidak akan terpengaruh oleh ‘tuanmu’.”

“Jadi maksudmu aku juga harus bunuh diri?”

“Pasti ada cara selain bunuh diri, Seulgi-ssie, cara untuk bebas dari penjara itu.”

“Jika tidak ada?”

“Maka aku yang akan membebaskanmu,” ucap Minseok seraya keluar.

Kata-kata terakhir Kim Minseok membuat Park Seulgi meregangkan kepalannya. Nyeri yang ditahannya akibat kepalan yang membuat tangannya berdarah itu baru terasa dan membuatnya meringis kesakitan.

“Oppa…kenapa harus aku…kenapa harus aku yang melanjutkan tugas ini…”

Isak tangis Seulgi terdengar oleh Minseok. Hatinya sakit mendengar pertanyaan yang sama dengan pertanyaannya.

“Kenapa aku yang harus mengungkapkan kejahatan mereka, Eomma?”

***

“Mana ada CEO yang masih berumur 18 tahun?”

“Iya, yang benar saja? Aish…”

“Memangnya kita mau dipimpin oleh bocah ingusan?”

“Seharusnya dia kuliah, apa sih yang dia lakukan di sini?”

Langkah Kim Minseok terhenti saat mendengar obrolan para karyawan tentang adik Chanyeol.

“Apa yang kalian bicarakan?” tanya Minseok.

“Oh, Minseok-ssie, kebetulan kau lewat. Tadi kau sudah bicara pada bocah itu, bukan?”

“Iya…”

“Apa yang kalian bicarakan? Dia pasti meminta bantuanmu untuk mengatur perusahaan ini, kan? Uh…benar-benar tidak tahu malu. Kenapa bocah seumurnya menjadi CEO kita? Ini tidak masuk akal.”

“Berhentilah berkomentar. Kalian belum tahu keahliannya, bukan?”

“Hei-hei, bukan begitu maksud kami. Kau tahu kan CEO Park itu orang yang jenius, dan baru siap menjabat sebagai CEO di umur 25, sedangkan adiknya? Baru berumur 18 tahun, Minseok-ssie, 18 tahun!”

Minseok hanya tersenyum masam menanggapi omongan rekan-rekannya dan berlalu. Saat melewati ruangan Kim Joonmyun, dia kembali berhenti. Sambil menelan ludah, diketuknya pintu itu sampai lelaki yang telah membunuh orang-orang yang disayanginya itu membukanya.

“Oh, Kim Minseok-ssie? Sudah lama sekali kita tidak bertemu!!”

“N-ne…”

“Ayo masuk.”

Ingin sekali rasanya Kim Minseok mencekik orang ini, atau berkata kalau dia sudah mengingat semuanya, tapi dia menahannya. Dia tidak bisa mengungkapkannya untuk melihat apa lagi yang akan dilakukan Kim Joonmyun.

“Mau minum apa?”

“Aku penasaran kenapa CEO Park memberikanmu ruangan sendiri.”

“He? Ah…mungkin karena perkerjaanku sebagai illustrator. Aku butuh ketenangan saat bekerja.”

“Apa cuman kau illustrator di sini?”

“Eum…mollayo, aku tidak pernah keluar dan hanya berkonsentrasi dengan pekerjaanku.”

“Lalu bagaimana kau mengirim semua gambarmu?”

“Aku mengirimnya lewat asistenku.”

“Bahkan kau punya asisten? Hebat…”

“Sebenarnya aku juga tidak enak. CEO Park memperlakukanku dengan sangat baik, tapi dia pergi sebelum melihat kesuksesanku.”

Minseok merasa kesuksesan yang dimaksud Joonmyun bukan tentang pekerjaannya, tapi tentang balas dendam itu.

“Iya, sayang sekali. Ah, apa kau sudah bertemu dengan CEO yang baru? Dia adik Park Chanyeol.”

“Belum, tapi aku sedikit mendengar omongan tidak enak dari para karyawan. Sepertinya mereka tidak terima dipimpin oleh anak berumur 18 tahun.”

“Ya, aku mendengarnya barusan.”

“Bagaimana menurutmu? Apakah dia pantas memimpin? Kudengar dia mengajakmu bicara di ruangannya.”

“Aku belum tahu. Aku hanya berharap dia tidak melakukan kesalahan yang sama dengan kakaknya. Aku tidak ingin dia terjebak dalam permainan orang lain.”

“Maksudmu?” tanya Joonmyun sambil mengangkat alisnya.

“Bukan apa-apa. Nah, aku pergi dulu ya. Ada naskah yang harus kusunting.”

“Kau sedang membuat novel baru?”

“Iya, dan ini akan berbeda dari novel-novelku sebelumnya.”

“Berbeda seperti apa?”

“Kau lihat saja nanti, tapi aku ragu kau akan menyukainya.”

“Oh, ayolah. Aku adalah penggemarmu, Minseok-ssie.”

“Bahkan suatu saat nanti, penggemar bisa menjadi pembenci, bukan? Hahaha, aku hanya bercanda. Aku pergi dulu.”

Minseok keluar dengan perasaan tak keruan. Dia sekuat tenaga menahan amarahnya saat mengatakan itu pada Joonmyun, dan harus mengatur nafasnya karena lehernya agak terkecekik tadi.

“Tenang saja, Minseok-ssie, aku akan menyukai apapun yang kau tulis karena itu salah satu bentuk penghargaanku sebelum kau mati di tanganku.”

***

Kabar pergantian CEO itu cepat sekali tersebar, dan akhirnya sampai ke telinga Byun Baekhyun. Karena Byun Baekhyun penasaran dengan CEO baru itu, dia pergi ke Anthersy Book untuk memastikannya. Tapi sebelum pergi ke ruangan CEO, dia menyempatkan diri pergi ke ruangan Kim Minseok.

“Daehyun-a, bolehkah aku masuk?”

“Ah! Hyung, kenapa harus sungkan? Err…kau tidak menganggapku adik lagi, ya?”

“Hahaha, aku hanya bercanda.”

“Mau minum apa?”

“Tidak usah, aku ke sini untuk bertemu dengan CEO yang baru.”

“Hyung, sebenarnya aku penasaran dengan ini sejak dulu.”

“Tentang?”

“Bagaimana caranya Chanyeol-hyung menjadi CEO di perusahaan ini, dan siapa pemilik Anthersy Book? Aku belum pernah bertemu dengannya. Aku hanya mengenal direkturku di China, sedangkan kantor di China hanya cabang, jadi pemiliknya pasti orang Korea, bukan?”

“Iya. Pemilik Anthersy Book adalah orang Korea. Namanya Lee Hoosan, dia sekarang tinggal di China bersama istrinya yang juga asli Korea, tapi kami tidak pernah tahu siapa wanita itu karena Lee Hoosan tidak suka orang lain mencaritahu tentang keluarganya. Lalu…masalah Park Chanyeol, dia masuk ke sini karena keinginannya sendiri. Aku hanya membantunya sedikit karena kebetulan perusahaan ini telah berkerja sama dengan Byunkor Media sejak lama bahkan sebelum Appa meninggal. Ternyata Lee Hoosan menyukai Chanyeol dan merekrutnya sebagai CEO.”

“Lalu kenapa tiba-tiba saja adik perempuan Chanyeol-hyung diangkat menjadi CEO?”

“Mwo? Adik perempuan Chanyeol?”

“Jadi kau tidak tahu kalau dia punya adik?”

“Chanyeol tidak pernah menceritakannya padaku.”

“Kalau begitu, ini adalah rencana lain dari si pelaku, Hyung.”

“Kau harus hati-hati, Daehyunnie. Karena sekarang tidak ada lagi orang yang bisa kita percayai selain diri kita sendiri.”

“Ada satu hal yang mengganjal pikiranku, Hyung, sepertinya…aku pernah bertemu dengan gadis itu.”

“Ohya? Dimana?”

“Aku belum bisa mengingatnya. Jika nanti aku ingat, akan kuberitahu.”

“Baiklah, sekarang aku akan pergi menemui…siapa namanya?”

“Park Seulgi.”

***

Park Seulgi

Kyungsoo-a, apa kau sudah di Seoul? Aku ingin sekali bertemu denganmu! Hubungi aku jika kau ada waktu ya. Aku akan menyesuaikan jadwal karena untuk selanjutnya aku tidak bisa sering-sering berkirim pesan atau bahkan bertemu denganmu.

Kim Kyungsoo tersenyum sendiri melihat email dari teman lamanya, Park Seulgi. Gadis yang dikenalnya saat dia masih di Kanada. Park Seulgi adalah gadis yang baik dan menyenangkan. Dia menyukai komik dengan berbagai genre, sama dengan Kyungsoo. Dia juga pandai menggambar dan sering membantu Kyungsoo dalam membuat manga. Selama Minseok kabur dari rumah, orang yang menemani Kyungsoo adalah Seulgi, satu-satunya teman yang cocok dengannya.

Kim Kyungsoo

Aku sudah di Seoul sejak lama, Seulgi-a. Apa kau mau bertemu denganku? Hari minggu nanti aku ada waktu, bagaimana kalau kita bertemu di Kedai Valcy? Kau tahu kedai itu, kan? Kita bertemu jam 10 pagi, oke? Sebelum kuliah, aku ingin bertemu denganmu.

 

Park Seulgi

Oh, enaknya…kau bisa kuliah tahun ini. Sepertinya aku belum bisa kuliah tahun ini karena urusan yang sangat penting, hehehe~ nanti akan kuceritakan padamu. Oke, kita bertemu jam 10 pagi di kedai Valcy! See you!!

 

Pesan itu menutup percakapan Kyungsoo dan Seulgi. Kyungsoo merebahkan tubuhnya di kasur sambil menatap layar tabnya dengan wajah berseri.

“Akhirnya kita bisa bertemu lagi, Seulgi-a…”

“Kau kenapa, Kyungie?” tanya Minseok yang baru pulang.

“Oh!” seru Kyungsoo seraya bangun, “tidak apa-apa.”

“Hoa…hari ini benar-benar melelahkan.”

“Apa banyak pekerjaan?”

“Iya. Ada banyak draft yang harus kusunting.”

“Kau sedang membuat novel baru?”

“Iyaw~”

“Ey…benar-benar di luar perkiraan. Kukira kau akan beristirahat untuk menyelesaikan kasus keluargamu.”

“Hari ini aku menemukan orang suruhan Joonmyun lagi.”

“Ohya? Siapa?”

“Adik perempuan Park Chanyeol, CEO baru Anthersy Book.”

“Apa dia berbahaya?”

“Aku tidak tahu, semoga saja tidak. Namanya Park Seulgi, dia seumuran denganmu.”

“M-mwo? Park Seulgi?”

“Iya, kenapa?”

“T-tidak, tidak apa-apa.”

“Ngomong-ngomong, apa kau mau jalan-jalan minggu nanti? Sebelum kau sibuk kuliah, sebaiknya—“

“Aniyo!”

“Ha?”

“Aku ada janji dengan temanku, Hyung, jadi aku tidak bisa jalan-jalan denganmu.”

“Ooh…begitu. Yasudah.”

Minseok beranjak dari tempatnya dan mengambil beberapa baju untuk mandi. Setelah Minseok pergi, Kyungsoo membuka laman percakapannya dengan Park Seulgi untuk membacanya lagi.

 

Park Seulgi

Kyungsoo-a, apa kau sudah di Seoul? Aku ingin sekali bertemu denganmu! Hubungi aku jika kau ada waktu ya. Aku akan menyesuaikan jadwal karena untuk selanjutnya aku tidak bisa sering-sering berkirim pesan atau bahkan bertemu denganmu.

“Apakah dia Park Seulgi yang dimaksud Hyung? Tidak mungkin!”

Park Seulgi

Oh, enaknya…kau bisa kuliah tahun ini. Sepertinya aku belum bisa kuliah tahun ini karena urusan yang sangat penting, hehehe~ nanti akan kuceritakan padamu. Oke, kita bertemu jam 10 pagi di kedai Valcy! See you!!

“Seulgi bukan seperti yang Hyung pikirkan, dia gadis yang baik, dan aku harus memastikannya.”

***

Keesokan harinya, setelah percakapan mereka kemarin sore, tingkah Kyungsoo agak berbeda. Dia lebih berhati-hati saat mengobrol dengan Minseok, dan beruntung Kyungsoo bisa menyembunyikannya. Dia memang bukan orang yang pintar berbohong, tapi untuk menjaga rahasia, Kyungsoolah jagonya.

“Aku dan Lay-hyung pergi dulu, ya,” kata Minseok.

“Aku juga,” kata Jongwoon.

“Baiklah, hati-hati di jalan.”

Setelah tiga namja itu pergi, Kyungsoo langsung membawa piring kotornya ke wastafel dan mencucinya. Lee Soonkyu yang kaget dengan prilaku aneh Kyungsoo langsung menyusulnya ke wastafel.

“Kau kenapa?”

“Ha? Apanya yang kenapa?”

“Kenapa tiba-tiba pergi? Kau sedang menghindari kami?”

“Tidak ada alasan untuk menghindari kalian, Noona.”

“Ah…benar juga. Kau boleh meletakkan piringmu. Pagi ini aku yang bertugas mencuci.”

“Noona, apa kau sudah menemukan bukti-bukti yang memberatkan Kim Joonmyun? Kapan dia ditangkap?”

Lee Soonkyu langsung menutup mulut Kyungsoo dengan tangan kanannya.

“Sssh, jangan keras-keras. Jika kau mau tahu, pergilah ke kamar setelah aku selesai mencuci. Akan kutunjukan beberapa data penting itu.”

“E-eum…”

Kyungsoo pergi ke kamarnya setelah menyerahkan piring kotornya pada Soonkyu. Dia kembali membuka laman percakapannya denga Park Seulgi dan membacanya berulang. Tulisan mengenai urusan penting yang ingin Seulgi tuntaskan tahun ini membuat hati kecil Kyungsoo gelisah. Jika benar dia Park Seulgi yang dimaksud Minseok, apakah kejadian yang menimpa Baekhyun dan Chanyeol akan terulang lagi? Dan lebih parahnya lagi, itu terjadi padanya.

“Aish…benar-benar membuatku frustasi!!”

Dilemparkannya tab itu ke kasur dan merembahkan tubuhya. Kyungsoo menatap langit-langit yang berwarna cokelat lembut, sesuai dengan warna kesukaannya. Dia tiba-tiba teringat saat Seulgi membantunya membangun rumah pohon di Kanada dulu.

“Seulgi adalah gadis yang tulus, dia tidak mungkin terjebak dalam permainan Kim Joonmyun.”

***

Hari ini ada rapat untuk para koordinator masing-masing departemen dengan CEO baru Anthersy Book. Kim Minseok yang bertugas mewakili bagian editor juga turut serta dalam rapat itu. Tema rapatnya adalah membicarakan rencana si CEO baru untuk target setengah tahun 2014 ini. Dengan begitu para staff dapat mengevaluasinya.

“Selamat pagi semua,” sapa Seulgi yang langsung dibalas oleh para karyawan dengan nada kurang bersahabat, “baiklah, mungkin hampir semua yang ada di sini telah mengenalku, atau paling tidak tahu namaku. Akan tetapi, sebagai orang baru di sini aku akan kembali memperkenalkan diri, namaku Park Seulgi, aku adalah adik perempuan Park Chanyeol yang bertugas menggantikannya sebagai CEO. Direktur Lee telah mempercayakan jabatan ini untukku sejak kakakku menjabat, jadi aku belajar keras selama aku masih sekolah. Mungkin kalian tidak terima dipimpin oleh bocah 18 tahun sepertiku, tapi aku berjanji akan membawa perusahaan ini sebaik yang dilakukan kakakku. Jadi, aku meminta bantuan kalian untuk mau bekerja sama denganku.”

Park Seulgi menjelaskan perasaannya dengan kata-kata yang baik dan tidak menghakimi siapapun, membuat beberapa orang yang telah berbicara jelek tentang sedikit malu, atau lebih tepatnya kasihan, pada gadis muda yang telah diberikan beban seberat itu.

Rapat hari ini berjalan lancar dengan rencana-rencana cemerlang yang dipaparkan Park Seulgi. Semua orang di sana agak terkejut dengan sebagian besar rencananya karena itu belum pernah terpikirkan oleh mereka. Termasuk target film terbaru Kim Minseokpun disinggung di sana.

“Aku ingin film ini bisa tayang di pertengahan tahun 2015. Toleransi antara perusahaan ini dengan Byunkor Media memang penting, tapi mau sampai kapan masyarakat harus menunggu? Jika kasus ini tidak selesai sampai 2 atau 3 tahun lagi? Apa mereka harus menunggu sampai bosan? Yang mereka butuhkan adalah kepastian, bukan toleransi. Jadi saya akan membicarakan ini dengan orang di Byunkor Media untuk menyiapkan pembuatan film di awal tahun depan. Saya harap Anda setuju, Kim Minseok-ssie.”

“Bukan saya yang mengambil keputusan ini, tapi Anda, Park Seulgi-ssie. Jika Anda menginginkan itu, maka saya tidak akan keberatan.”

“Bagus. Kemarin kata sekretarisku CEO Byunkor Media ingin menemuiku, tapi karena ada banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan, jadi kami batal bertemu. Kudengar kau sangat dekat dengan CEO Byun, bisakah kau mengadakan janji makan malam bertiga denganku? Hahaha, sepertinya ini pembicaraan yang kurang pantas di rapat penting seperti ini, maafkan saya. Sekarang saya akhiri pertemuan ini dengan segala hormat. Sekali lagi, saya harap kalian mau bekerja sama dengan saya sampai akhir. Terimakasih.”

Rapat itu berakhir. Beberapa orang menghampiri Seulgi dan menyalaminya seperti memberi ucapan selamat datang, sedangkan Kim Minseok memutuskan untuk keluar dengan pikiran waspada, terutama pada permintaan Seulgi untuk makan malam dengannya dan Baekhyun.

“Xiuminnie!!” teriakan yang khas itu langsung membuyarkan lamunannya.

Luhan berlari menghampirinya dengan Yifan berjalan dengan tenang di belakang. Melihat suasana yang cukup ramai, Minseok langsung berbalik sambil memberi isyarat pada Luhan untuk pergi ke ruangannya saja.

“Bagaimana dengan pemotretanmu, Lu-ge?” tanya Minseok seraya menyuguhkan kopi pada Yifan dan Luhan.

“Belum, itu belum dimulai.”

“Ohiya, baru minggu depan, bukan?”

“Iyap.”

“Lalu kenapa kau ke sini? Bukannya kantormu di Byunkor Media?”

“Aku kan merindukanmu, sayang~”

“Berhenti menggodaku, itu menggelikan.”

“Hahahaha, aku senang sekali melihat ekspresi kesalmu. Baru 2 hari tidak bertemu, kenapa kau agak kurusan?”

“Benarkah?”

“Dia berbohong, Daehyun-a,” kata Yifan yang mulai menyesap kopinya.

“Nah! Aku lebih senang kau memanggilku seperti itu, Hyung.”

“Hanya di luar. Saat kita kembali ke rumah, aku akan memanggilmu Tuan Daehyun.”

“Huft…benar-benar keras kepala.”

“Tadi kau rapat ya?” tanya Luhan.

“Oh, iya.”

“Aku dengar Park Chanyeol sudah digantikan, benar?”

“Iya. CEO Park telah digantikan oleh adiknya.”

“Adiknya? Jerapah itu punya adik?”

“Berhenti mengejek orang lain, Lu-ge!”

“Iya-iya, maaf…”

“Eum, aku juga baru tahu dia punya adik. Bagaimana, Hyung? Apa kau tahu sesuatu?”

“Park Chanyeol memang mempunyai adik. Dia juga mempunyai Ayah dan Ibu yang sekarang tinggal di Busan. Mereka adalah keluarga kecil yang sederhana, tapi agak tertutup. Menurut keterangan polisi yang menangani kasus bunuh diri Chanyeol, keluarga itu sedang diawasi oleh sekawanan orang, entah untuk apa. Polisi tidak bisa memastikannya karena saat mereka memeriksa kediaman Chanyeol, orang-orang itu mempersilahkan, tapi tidak mengatakan maksud sebenarnya kenapa mereka menjaga rumah itu. Mereka hanya berkata kalau mereka ditugaskan untuk melindungi keluarga Chanyeol karena Chanyeol adalah orang penting di Anthersy Book.”

“Itu pasti ulah si pelaku yang menyuruh Chanyeol-hyung membunuh Baekhyun-hyung.”

“Ah, apa kau sudah tahu jika pistol yang digunakan Park Chanyeol sama dengan pistol yang digunakan untuk membunuh Kim Han?”

“M-mwo? Pistolnya sama?”

Mendengar itu, tubuh Minseok langsung oleng dan Luhan langsung menangkapnya.

“Jadi Chanyeol-hyung yang membunuh Paman Han?”

“Kemungkinan besar iya. Polisi masih menyelidikinya.”

“Apa ada kemungkinan Park Seulgi juga disuruh oleh si pelaku?”

“Bisa jadi. Sekarang kita harus benar-benar waspada, Daehyun-a.”

“Ne.”

***

Lee Soonkyu memanggil Kyungsoo ke kamarnya setelah pekerjaannya selesai. Dengan ragu, namja bermata besar itu masuk ke kamar Soonkyu dan duduk di kasur. Soonkyu mengambil salah satu map besar dan meletakannya di kasur, lalu wanita itu mengambil buku kasusnya.

“Sejauh ini aku sudah mempunyai rekaman saat Joonmyun menyerang kita, lalu hubungannya dengan Paman Han, Lee Taeyon, dan Park Chanyeol.”

“Park Chanyeol, aku ingin tahu identitas aslinya.”

“Identitas asli? Dia memakai identitas aslinya kok.”

“Maksudku, tentang keluarganya. Apakah dia punya adik atau kakak?”

“Kenapa tiba-tiba kau penasaran?”

“Aku…hanya ingin tahu, Noona.”

“Benarkah? Baiklah…kita mulai dengan latar belakang Park Chanyeol. Lelaki ini seumuran dengan Byun Baekhyun. Dulu dia tinggal di Busan sebelum akhirnya pindah ke Seoul untuk melanjutkan sekolah di smp yang sama dengan Baekhyun, dan disitulah dia mendekati Baekhyun. Park Chanyeol tinggal bersama Ayah, Ibu, dan adik perempuannya. Dia—“

“Adik perempuan?”

“Iya, adik perempuan. Menurut keterangan dia seumuran denganmu.”

“Siapa namanya?”

“Park Seulgi.”

“Dimana anak itu sekarang?”

“Aku belum mencaritahu.”

“Dimana dia sekolah?”

“Di Busan.”

“Busan? Bukan di Negara lain?”

“Ani…kenapa kau penasaran dengan adik Chanyeol?”

“Noona, tolong jangan katakan ini pada Minseok-hyung maupun Eomma. Sebenarnya, aku mengenal orang bernama Park Seulgi. Dia sekolah di Kanada, satu sekolah denganku. Tapi di berkasmu dia sekolah di Busan, bukan? Jadi dia pasti bukan Park Seulgi yang kukenal. Aku sudah takut karena Seulgi adalah sahabatku.”

“Iya, mungkin temanmu bukan orang ini.”

“Semoga saja.”

“Jadi kau hanya penasaran dengan adik Chanyeol?”

“Ne. Aku takut Park Seulgi menyakiti orang yang kusayangi, Noona.”

Lee Soonkyu menatap Kyungsoo yang sedang ketakutan. Dipegangnya tangan Kyungsoo dan mengelusnya perlahan penuh kasih sayang.

“Jika Park Seulgi yang kau kenal adalah adik Chanyeol, dan dia berusaha menyakiti Hyungmu, apa yang akan kau lakukan?”

“Aku tidak tahu.”

“Jawab, Kyungsoo, karena jawabanmu ini berhubungan dengan janjimu dulu, saat kau bilang akan melindungi Hyungmu bagaimanapun caranya.”

“A-aku…aku…”

“Jawab.”

“Aku tidak tahu!” seru Kyungsoo seraya melepas genggaman Soonkyu dengan kasar, “Seulgi yang kukenal bukan orang seperti itu! Dia adalah gadis yang tulus dan tidak mungkin berbuat jahat! Jangan menanyaiku hal yang tidak berguna, Noona!”

“Orang yang membunuh Paman Han mempunyai pistol yang sama dengan milik Park Chanyeol, orang yang pernah menjadi pacar Hyungmu. Bukan tidak mungkin orang yang kau anggap tulus akan menusukmu dari belakang.”

“Aku akan membuktikan kalau Seulgi bukan orang seperti itu!”

Kyungsoo berlari keluar, meninggalkan Lee Soonkyu yang sekarang curiga dengan Park Seulgi yang Kyungsoo kenal. Dia langsung menghubungi Lee Jongdae untuk menyelidiki lebih lanjut siapakah Park Seulgi itu.

***

Sore itu, satu jam sebelum jam pulang, Kim Minseok dipanggil ke ruangan Park Seulgi untuk membicarakan acara makan malam yang tadi sempat disinggung.

“Bagaimana, Minseok-ssie? Apakah tawaran makan malamku diterima? Aku kosong malam minggu, jadi bisakah kau membuat janji dengan CEO Byun untuk menemuiku malam itu? Ah, karena aku belum mengenalnya, jadi aku memintamu untuk menemaniku. Apa kau keberatan?”

“Kau bilang mengenalku sebaik Chanyeol-hyung mengenalku, tapi kau tidak mengenal Baekhyun-hyung?”

“Oh, hahaha. Yang kumaksud adalah, aku belum pernah bertemu langsung dengannya, jadi akan sangat canggung jika tidak ada penengah di antara kami.”

“Kau juga belum pernah menemuiku, tapi bisa berbicara hal sebanyak ini.”

“Eum…apa kau lupa? Kita pernah bertemu beberapa kali, Kim Minseok-ssie.”

“Mwo? Kapan?”

“Hahahaha, sudah kuduga kau akan lupa. Itu sudah lama sekali, sekitar 7 tahun yang lalu, sebelum kau kabur ke China.”

“7 tahun yang lalu?”

Minseok berusaha memutar otaknya, pergi ke masa 7 tahun yang lalu, sebelum dia masuk kuliah…

“Apakah Oppa orang Korea? Bisakah Oppa membantuku? Aku baru di sini dan bahasa Inggrisku belum lancar.”

“Oh, tentu. Ada apa, Nona kecil?”

“Sebelum itu…namaku Park Seulgi, siapa nama Oppa?”

“Namaku Kim Minseok.”

“Eung, aku ingin membeli komik ini, tapi aku tidak tahu cara membayarnya. Sepertinya di sini cara membayarnya berbeda.”

“Iya, cara membayar di toko ini memang berbeda. Kau bisa bertanya pada adikku. Kyungsoo-a, bisa kau bantu nona kecil ini? Kau lebih tahu daripada aku.”

“Baiklah…”

Setelah mendapatkan ingatan itu, kelopak mata Minseok membesar.

“Kau?”

“Iya, aku orang yang meminta bantuanmu saat di toko komik.”

“Seulgi-a, jangan jatuh ke dalam permainan yang sama dengan Oppamu.”

“Permainan apa?”

“Jika kau punya maksud tertentu saat mengenalku, kuharap kau tidak melakukannya.”

“Memangnya aku sejahat apa sampai kau berpikir begitu?”

“Aku tidak bilang itu maksud jahat, tapi sebaiknya kau berhati-hati.”

“Aku akan lebih berhati-hati, tidak seperti kakakku. Dia tidak bisa menuntaskan tugasnya karena terlalu lemah dan bodoh, sedangkan aku? Aku tidak akan seperti itu.”

“Seulgi-a!”

“Jangan terburu-buru, Oppa. Aku tidak akan secepat itu melakukan maksudku. Sekarang bisakah kita hidup normal tanpa membicarakan masalah Oppaku? Aku hanya ingin mengerjakan tugasku sesuai keinginan direktur Lee.”

“Tolong, Seulgi-a, pikirkan baik-baik perkataanku ini. Jangan menjadi ‘boneka’nya karena itu hanya akan menyakitimu.”

“Terimakasih sudah mengingatkanku. Sekarang kau boleh pergi, Oppa.”

“Pikirkan baik-baik.”

***

“Park Seulgi…Kanada…Kyungsoo! Kyungsoo, anak itu, apa dia berteman dengan Seulgi setelah pertemuan itu?”

Pikiran Kim Minseok terus berpacu, mencoba menemukan jawaban dari kegelisahannya. Ada sesuatu yang disembunyikan Kyungsoo kemarin malam, saat dia menyebut nama Park Seulgi dengan gugup.

“Aku harus menghentikan ini semua!”

Kim Minseok berjalan agak cepat menuju ruangannya dan mengambil tas dan jaketnya. Lay terkejut melihat Minseok tergesa-gesa membereskan pekerjaannya.

“Kau kenapa?”

“Aku harus pergi ke rumah lamaku.”

“Rumah lamamu? Maksudmu rumah keluarga Byun?”

“Iya. Aku harus mengambil sesuatu di sana.”

“Mengambil apa?”

“Buku harianku.”

***

Beberapa pengawal menghadang Minseok dan Lay saat mereka hendak memasuki gerbang utama. Saat Lay menunjukan kartu IDnya, baru pengawal-pengawal itu mundur.

“Kalian tidak memberi salam pada Tuan Daehyun?”

“Apa? Tuan Daehyun?”

“Aish…mau kupukul satu-satu, hah?”

“Hya, Lay-hyung, kita harus cepat.”

“Oh, baiklah. Sekarang kalian bisa lolos!”

Minseok dan Lay pun masuk, tapi langkah Minseok terhenti saat melihat taman yang sama, rumah yang sama, semua hal yang sama dengan keadaan 19 tahun yang lalu.

“Tidak ada yang berubah…”

“Tentu saja. Bukan kebiasaan keluargamu untuk mengubah yang sudah ada, bukan?”

“Eoh. Keluargaku hampir tidak pernah merenovasi rumahnya, dengan begitu aku bisa mengingat semua tempat di sini dengan mudah. Ayo, Hyung!”

“Kau mau kemana?”

“Ke taman belakang.”

“Kau menyimpan buku harianmu di taman?”

“Itu tempat kesukaanku untuk menulis.”

Setelah sedikit berlari, akhirnya mereka tiba di taman belakang. Minseok mulai mengingat-ingat dimana dia menaruh buku hariannya dulu. Lalu saat dia melihat kursi putih tempatnya biasa menulis, Minseok langsung tahu dimana buku itu.

“Sedikit ke utara, di bawah pohon apel Kakek!”

Minseok menggali tanah di bawah pohon yang sudah mengeras hampir seperti batu itu dengan sekuat tenaga. Lalu saat melihat kaleng berwarna emas yang sudah berkarat, Minseok mempercepat penggalian itu. Sampai dia merasa sudah bisa mengeluarkan kaleng itu seutuhnya, mereka berhenti menggali.

“Kau menyimpan buku itu dalam kaleng?”

“Eoh. Aku melakukannya supaya bukuku tetap awet.”

Dengan sekuat tenaga dia membuka penutup kaleng berbentuk kotak itu karena karat membuat tutup itu lebih menempel dengan tubuhnya.

 

Kleng

Kaleng itu terbuka. Sebuah buku harian berwarna cokelat tergeletak lemah di dasar kaleng. Diambilnya buku itu dan ditepuk-tepuk untuk membersihkan tanah yang masuk melewati lubang kaleng yang mulai rapuh.

“Aku menulis semua yang kudengar di buku ini. Sekarang, kita akan menyatukan pecahan yang dulu tidak bisa kucaritahu. Kita harus menghentikan permainan ini.”

Advertisements

10 thoughts on “My Immortal Love is You _ XiuHan/LuMin (Bagian 15)

  1. yuhhhhuuuuuuu apdet kilat yakk 😀 biarpun kilat tp feelnya tetep dpet kok 🙂 🙂
    masih blm ngerti & penasaran sm junmyoon -_- sebenernya appa’a dy it bersalah apa enggak sh? seriusan bingung :3

    trus knp coba pke tbc -_- kan lg seru, penasaran sm isi buku diary minseok..

    next part kalo bisa cepet yaakk 😀 makin cinta dah sm nh ff ❤ ❤

    • yuhhuuuu, soalnya lagi liburan, jadi update kilat 😀
      aku sebenernya pas bikin juga rada bingung, kayak deja vu, (ini kayaknya udah kubikin, eh belum ya?) hahaha
      tenang-tenang, ini tinggal dikit lagi kok *sepertinya* kita libas abis dulu latar belakang antar tokoh yang belum disentuh dari awal chapter . oke? makasih banyak ya udah ngikutin! 😀

  2. huwaaa daebak ceritanya bagus banget thor, aku udah baca dari chap 1 sampai chapter ini dan ini keren bgt ceritanya
    maaf ga bisa komen dari chap 1 nya soalnya jaringannya rada lemot jadi daripada ga komen sama sekali, aku komen di chap ini langsung aja
    sekali lagi mian ya thor *bow*

  3. Tbc nya muncul dsaat yg tidak tepat -_-
    Huwaaaa…..sprtinya kejahatan Junmyoon akan segera terungkap /:)
    Pleaseeee thor, jgn ada yg meninggal lg ye…
    Nextt..

  4. Eonnie mian aku baru baca sekarang, bahkan chapter 16 udah muncul aku baru baca T.T
    Kemaren-kemaren gak sempet karna sibuk huaaa T.T tapi gapapa deh yang penting sekarang udah baca.
    Aku disini ninggalin jejak aja ya eon tanda aku udah baca, chap 16 nya udah muncul soalnya :v hehe
    Annyeong eon aku mau baca chap 16 /lambai tangan bareng Xiuhan/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s