My Immortal Love is You _ XiuHan/LuMin (Bagian 14)

Tittle: My immortal love is you

Author: Fie

Genre: romance, family, drama, boyxboy

Length: Multichapter

Rated: T

Languange: bahasa

Pairing: LuMin/XiuHan

Cast:

– EXO XiuMin as Kim Minseok/XiuMin

– Luhan as Xi Luhan

– EXO Baekhyun as Byun Baekhyun

– EXO Chanyeol as Park Chanyeol

– EXO SuHo as Kim Joonmyun

– EXO D.O as Kim Kyungsoo

– EXO Lay as Zhang Yixing

– Kris as Wu Yifan

– EXO Sehun as Kim Sehun

– EXO Kai as Lee Jongin

– EXO Chen as Lee Jongdae

– EXO Tao as Hwang Zitao

– Other….

 

“Sebuah cerita tentang kasih sayang yang akan terus abadi.”


 

Fourteen – Goodbye

“Tidak pernah ada kata selamat tinggal untuknya.”

 

Aku ingat semuanya. Aku ingat penyebab ingatanku hilang. Aku ingat kenapa kecelakaan itu terjadi. Aku ingat siapa keluargaku. Aku ingat siapa aku yang sebenarnya. A-aku, aku adalah Byun Daehyun.

“Minseok-a, kau kenapa?”

“A-aku…aku ingat semua, Sehun.”

“B-benarkah?”

“Andwe, ini salah, benar-benar salah.”

“Apanya yang salah?”

“K-Kim Joonmyun…”

Aku tidak bisa mengendalikan ketakutanku saat menyebut nama itu, nama yang terus kuingat sebelum kecelakaan itu terjadi, nama dari orang yang seharusnya kuhindari seumur hidupku.

“Aku harus sembunyi sekarang juga!”

“Mwo?”

“Kim Joonmyun, d-dia, dia akan membunuhku…”

“Apa maksudmu, Minseok?”

“Jebal…kita harus pergi sekarang juga…”

Aku langsung memeluk Sehun karena sekarang aku benar-benar takut. Inikah alasan kenapa aku harus mengingat semuanya? Supaya aku bisa mengungkap kejahatan Kim Joonmyun dan keluarganya? Apakah harus aku? Tidak…aku takut, Appa, Eomma, aku takut…

“Daehyunnie…kami menyayangimu, benar-benar menyayangimu…”

Kata-kata terakhir Eomma, aku masih ingat kata-kata terakhirnya. Eomma, Appa, kenapa saat kalian mengatakan kalimat yang kutunggu sejak dulu, kalian malah pergi meninggalkanku? Wae…

“Minseok-a, kau baik-baik saja?”

Sehun menepuk pundakku untuk membuatku lebih tenang, tapi tidak berhasil. Aku masih saja ketakutan dan malah mempererat pelukanku padanya.

“Sebenarnya apa yang kau lihat?”

“Namja itu, dia yang membunuh orangtuaku, dia dan Appanya yang merencanakan semuanya.”

“Kalau begitu, kita harus melaporkan mereka ke polisi.”

“Tidak semudah itu, Sehun. Mereka sangat berbahaya.”

“Kenapa berbahaya?”

“Mereka bersekongkol dengan kelompok mafia paling dicari di Korea.”

“Bagaimana kau tahu?”

“Kim Joonmyun yang memberitahuku. Dia menceritakan semuanya padaku karena dia tahu tidak ada yang akan mempercayaiku. Dan benar, saat aku meminta pada orangtuaku untuk membatalkan perjalanan itu, mereka tidak percaya. Aku ingat semuanya, Sehun, tapi aku tidak bisa semudah itu membuktikan kejahatan mereka.”

“Lalu sekarang kita harus apa?”

“Dia bilang, dia akan memisahkanku dan Hyungku jika kami masih hidup, dan itu benar-benar terjadi. Pertanyaannya, kenapa dia harus memisahkan kami?”

“Tunggu dulu, Hyungmu? Siapa itu?”

“Baekhyun-hyung.”

***

“Andwe…andwe, Chanyeol-a…”

“Baekhyun-a, aku mencintaimu dengan segenap perasaanku. Selama aku mengenalmu, tidak ada orang lain yang bisa menggantikanmu, dan itu yang membuatku semakin menderita. Jika saja aku tidak mencintaimu, maka aku akan menjalankan tugas ini dengan mudah, aku bisa membunuhmu seperti aku membunuh orang lain. Jika kau juga tidak mencintaiku, aku akan membunuh adikmu tanpa segan, tapi aku tidak bisa, Baekhyun-a, aku tidak bisa karena aku mencintaimu. Jika malam ini adalah malam terakhir kita bersama, setidaknya aku masih bisa mengatakan perasaanku yang sesungguhnya padamu. Maafkan aku karena tidak bisa menjagamu sampai akhir, Baekhyun-ah…”

 

DARR

 

Di depan mata Baekhyun, orang yang sangat dicintainya itu menembakkan peluru ke dadanya sendiri dan Baekhyun hanya bisa terdiam melihat tubuh itu perlahan jatuh dan menimpanya.

“C-Chanyeol-a?”

“A-adikmu…adikmu adalah Kim Minseok, e-euh…euh…, d-dia adalah Byun Daehyun…”

Baekhyun menyentuh punggung Chanyeol dan mengelusnya perlahan.

“Chanyeol-a…kenapa kau tega melakukan ini, hah?”

“Sudah kubilang kan, aku tidak akan bisa membunuhmu sampai kapanpun. S-selamat tinggal, Baekhyunnie…”

Baekhyun tidak lagi merasakan detak jantung Chanyeol. Nafas yang terengal itu akhirnya lenyap. Namja itu sudah meninggalkannya untuk selama-lamanya, dan menyisakan luka yang mungkin akan sulit disembuhkan untuk Baekhyun.

Suara tangis Baekhyun yang menyakitkan mengiringi kepergian Chanyeol untuk selama-lamanya. Isak yang terdengar begitu pilu itu berlangsung hingga berjam-jam lamanya. Dalam dekapan itu, Baekhyun terus berkata kalau dia mencintai Chanyeol dan bertanya kenapa Chanyeol melakukan ini padanya. Jika saja dia bisa memutar waktu, Baekhyun akan berusaha mencaritahu lebih dalam kenapa Chanyeol seperti ini.

“Andai saja aku bisa menemukan Daehyun lebih cepat, andai saja aku bisa menyadarinya lebih cepat, Chanyeol-a…maafkan aku…”

***

Sehun mengantarku ke apartemen sekitar jam 9 malam. Sebelum berpisah, aku memintanya untuk tidak memberitahu Eomma maupun Kyungsoo tentang kembalinya ingatanku. Aku ingin memberitahunya sendiri, sekaligus mencaritahu kenapa Eomma menyembunyikan identitasku.

“Tenang saja, aku akan menjaga rahasia ini.”

“Terimakasih, Sehun. Jika tidak ada kau, mungkin aku tidak bisa mengingat semuanya.”

“Tidak. Ini semua bukan karenaku, tapi keinginanmu yang kuat untuk mendapatkan ingatan itu yang membantumu.”

“Baiklah, aku naik dulu ya.”

“Jaga dirimu baik-baik, Minseokkie.”

“Ne, kau juga.”

Setelah Sehun pergi, aku masuk ke lift. Kutekan lantai kamarku dan liftpun mulai naik. Selama lift ini bergerak, kepalaku juga tidak berhenti memikirkan apa yang harus kulakukan selanjutnya. Aku harus menyusun rencana untuk menjebloskan Kim Joonmyun dan komplotannya ke penjara. Ini bukan balas dendam, tapi dia telah membunuh banyak orang dan itu jelas-jelas tindak kriminal, dan juga, ini bukan hanya untukku, tapi untuk semua orang yang telah dia sakiti.

 

Ting

 

Lift yang dinaiki Minseok berhenti dan terbuka otomatis. Kim Minseok masih menundukan kepalanya saat keluar dari lift, sehingga dia tidak sadar jika Luhan sudah menunggunya di luar lift. Luhan yang ingin langsung memeluk Minseok merasa enggan dan akhirnya hanya bisa mengikuti Minseok dari belakang. Sesampainya di depan pintu, Minseok menekan kode pintu dengan pikiran yang tidak keruan sehingga nomor yang ditekannya salah.

“Aish…”

Minseok kembali mencoba, tapi lagi-lagi kodenya salah. Akhirnya Minseok mengambil ponselnya dan menghubungi Luhan, tapi betapa terkejutnya Minseok karena suara ponsel Luhan ada di belakangnya. Dia segera berbalik dan mendapati Luhan sedang menatapnya heran.

“L-Lu-ge…”

“Darimana saja kau?”

“Udaranya sangat dingin, aku ingin cepat-cepat masuk.”

“Apa kau tahu aku sangat cemas?”

“Lu-ge, berapa kodenya? Kenapa aku bisa lupa sih.”

Karena kesal omongannya tidak diperhatikan, Luhan menarik tangan Minseok dan mendorongnya ke dinding.

“Ada apa denganmu?”

“Lepaskan, itu sakit.”

Luhan meregangkan genggamannya pada pergelangan tangan Minseok. Dia tidak sadar kalau cengkramannya sangat kuat karena sekarang dia benar-benar cemas.

“Kita tidak akan masuk sebelum kau menjawab pertanyaanku.”

Minseok menatap mata itu beberapa lama, lalu tersenyum sambil tangannya yang tidak dipegang Luhan membelai poni Luhan lembut.

“Kau tidak berubah bahkan setelah 19 tahun berlalu, Lu-ge.”

“A-apa?”

“Apa kau ingin pergi ke kolam ikan sekolah kita yang dulu? Aku rasa ikan-ikan itu sudah banyak yang mati, tapi kita bisa membeli yang baru, bukan?

“X-Xiumin…”

“Aku sudah mengingat semuanya, Lu-ge, jadi sekarang kau bisa memanggilku Byun Daehyun.”

“Bagaimana bisa?”

Bukannya menjawab, Minseok malah memeluk Luhan.

“Aku merindukanmu, Lu-ge.”

“D-Daehyun-a…”

“Sekarang karena kau sudah menemukan Daehyun, kau bisa bilang padanya kalau kau sudah menemukan orang yang ingin kau nikahi.”

Luhan melepas pelukan Minseok dan sedikit merendahkan tubuhnya agar wajah mereka berhadapan.

“Daehyun-a, aku sudah menemukan orang yang tepat untuk kunikahi. Aku sudah menemukan orang yang akan berbagi hidup denganku. Orang itu adalah penulis terkenal di China, sutradara dari beberapa film yang diadaptasi dari novelnya, orang yang menjadi lawan mainku di film terbaruku, namanya Xiumin, atau aku biasa memanggilnya Baozi. Sudah kubilang aku tidak sedang memilih siapa di antara kalian, bukan? Aku memilih dua orang yang sama, jadi apa kau menerima lamaranku?”

“Iya, aku menerimanya sebagai Xiumin maupun Byun Daehyun.”

Luhan tersenyum lega lalu tanpa ragu merengkuh tengkuk Minseok dan mencium bibir itu. Ciuman mereka malam ini berbeda dari biasanya, karena malam ini Luhan tidak hanya mencium Kim Minseok, tapi juga Byun Daehyun, orang yang terus dinantinya selama 19 tahun, orang yang akan terus dicintainya seumur hidupnya.

***

Aku menatap Wu Yifan dengan perasaan tegang, begitupun dia. Dia terlihat salah tingkah saat tahu aku sudah mengingat semuanya.

“Maafkan aku, Tuan Daehyun.”

“Sudah kubilang bukan, jangan panggil aku Tuan.”

“Tidak bisa, apalagi—“

“Apakah salah jika kita berteman, Hyung?”

Wu Yifan terdiam lalu menunduk sambil menghela nafas panjang.

“Lay-hyung, Lu-ge, bisakah kalian meninggalkan kami berdua?”

Lay dan Luhan berpandangan lalu akhirnya pergi meninggalkanku dan Yifan.

“Kenapa kau menyembunyikan identitasku?”

“Itu perintah Nyonya besar Byun, oh maksudku, Nyonya Kang Taera, Tuan.”

“Perintah Nenek? Apa alasannya?”

“Karena menurut perkiraan Nyonya besar, pelaku itu akan lebih mudah menghancurkan kalian berdua jika bersatu.”

“Aku tidak mengerti.”

“Ada sesuatu yang diinginkan si pelaku dari kalian berdua. Kami belum tahu apa itu, tapi…itu pasti sesuatu yang besar.”

“Apa sesuatu itu adalah kekuasaan?”

“Mungkin iya, tapi kami masih menyelidiki itu.”

“Apa kalian sudah mulai mencurigai seseorang?”

“Iya.”

“Siapa?”

“Kim Joonmyun.”

Aku tidak kaget jika mereka mencurigai Kim Joonmyun karena orang itu memang patut dicurigai, dari kasus penggelapan uang yang dilakukan Appanya, bagaimana Eommanya, bibiku, pergi meninggalkan rumah karena kematian suaminya, sampai pemalsuan identitas yang dilakukan orang itu. Akan tetapi, aku harus tahu kenapa Kim Joonmyun masih mengincar kami setelah membuat orangtua kami meninggal. Apakah tidak cukup dia membuat kami menderita dengan itu? Aku harus mencari alasannya.

***

Aku duduk di balkon kamar dengan selimut tipis membalut tubuhku. Kupandangi langit Seoul yang tidak berbintang, tapi tidak masalah, aku ke sini bukan untuk melihat bintang, tapi untuk menenangkan pikiranku karena di sini sangat hening.

“Xiumin-a, masuklah ke dalam. Kau harus istirahat.”

“Aku ingin di sini sebentar saja.”

“Ayolah, nanti—“

“Duduklah di sini, Lu-ge.”

“Hem?”

“Temani aku sebentar.”

Luhan tidak melawan seperti biasa. Dia hanya tertawa kecil lalu duduk di sampingku dan merapatkan selimutku.

“Sejak kapan kau tahu tentang identitasku?”

Luhan terdiam. Dia melihatku lekat lalu mulai tersenyum sambil tangannya mengelus rambutku.

“Sejak kau berteriak kalau aku tidak boleh mendekatimu di rumah pohon.”

“Ohya? Ah, karena reaksi itu toh…”

“Walaupun kau amnesia, Byun Daehyun tetaplah Byun Daehyun.”

Aku tertawa kecil menanggapi perkataannya. Benar, walaupun aku amnesia, aku tetaplah Byun Daehyun.

“Jika aku bukan Byun Daehyun, apakah kau akan tetap mencintaiku?”

“Mungkin untuk selanjutnya aku harus memanggilmu Kim Minseok, bukan lagi Byun Daehyun.”

“Apa maksudmu?”

“Walaupun selama ini aku tidak mencintai orang lain, tapi tetap saja, orang yang selalu bersamaku adalah Kim Minseok. Jadi untuk selanjutnya dalam hidupku, aku akan melihatmu sebagai Kim Minseok. Lagipula aku sudah menemukan Daehyun dan mengatakan kalau aku akan menikahimu, bukan?”

“Iya. Sejujurnya, walaupun aku senang ingatanku sudah kembali, tapi aku tidak mau sepenuhnya kembali menjadi Byun Daehyun. Jika aku harus memilih akan menjadi siapa aku nanti, maka aku memilih untuk tetap menjadi Kim Minseok.”

“Bagaimana dengan keluarga lamamu? Bagaimana dengan Baekhyun?”

“Aku akan tetap mencintai mereka walau tidak sepenuhnya bersama. Bukankah dulu kau bilang sudah cukup bagi mereka jika melihatku sesehat ini?”

Luhan tersenyum lalu memelukku erat.

“Jadilah Xiumin yang lebih kuat dari sebelumnya, dan jangan takut dengan keputusan itu karena aku akan tetap bersamamu.”

“Karena kau kembali setelah 19 tahun, bagaimana aku bisa mengabaikan gombalan ini?”

“Hya, ini bukan gombalan.”

“Hahaha, iya-iya.”

 

Drrt…drrrt

 

“Oh, ada telepon, tolong lepaskan aku, Lu-ge.”

“Ey…”

Yeoboseo?”

“M-Minseok-a…”

“Baekhyun-hyung, ada apa?”

“Tolong ke sini, Minseok-a…”

“N-ne, aku akan ke sana sekarang juga.”

Saat panggilan terputus, sejenak kupandang layar ponselku dengan cemas. Kemudian tanpa pikir panjang aku masuk ke dalam lalu mengambil jaket dan kunci mobilku.

“Kau mau kemana? Ini sudah larut.”

“Ada sesuatu yang terjadi pada Baekhyun-hyung, dia memintaku ke sana.”

“Aku akan pergi bersamamu.”

***

Kami tiba di apartemen Baekhyun-hyung 30 menit kemudian. Aku segera menekan bel kamarnya, dan tidak butuh waktu lama bagi Baekhyun-hyung untuk membuka pintu itu. Aku sangat kaget melihat kemeja namja itu dipenuhi darah. Dia berdiri sambil menatapku dengan airmata yang sudah mengering di pipinya, sedangkan aku belum bergerak karena terlalu kaget. Sampai Baekhyun-hyung mendekat dan langsung memelukku, akhirnya kesadaranku kembali. Kuangkat tanganku perlahan dan membalas pelukannya.

“Chanyeol…dia…”

Mendengar nama itu, firasatku mulai memburuk.

“Ada apa dengannya, Hyung?”

“D-dia…dia menembak dirinya sendiri.”

Tiba-tiba aku merasa waktu di sekitarku berhenti dan hal pertama yang kupikirkan adalah, ‘tidak percaya’.

“A-apa maksudmu?”

“Dia meninggalkanku, Minseok, dia pergi…”

Luhan segera berlari masuk untuk memastikan pernyataan Baekhyun-hyung, sedangkan aku masih tertahan dalam pelukan Hyungku.

“Hya, Park Chanyeol!” teriak Luhan, dan itu membuatku semakin tidak percaya.

“Apa yang terjadi, Hyung?”

“Dia tidak bisa membunuhku, Minseok, dia tidak bisa karena mencintaiku.”

Tubuhku tiba-tiba saja melemas. Tangan yang tadinya mendekap tubuh itu akhirnya jatuh. Pikiranku kacau dan pandanganku mulai kabur, dan seketika…semuanya menjadi gelap.

***

“Apa yang terjadi, Hyung?” tanya Minseok dengan suara bergetar.

“Dia tidak bisa membunuhku, Minseok, dia tidak bisa karena mencintaiku.”

Setelah Baekhyun mengatakan itu, Minseok tiba-tiba saja pingsan.

“M-Minseok-a? Hya, Minseok-a!!”

Mendengar teriakan Baekhyun, Luhan yang sedang berusaha membangunkan Chanyeol langsung berlari keluar dan membantu Baekhyun yang hampir kehilangan keseimbangan saat Minseok pingsan. Baekhyun menyerahkan Minseok pada Luhan dan dibawanya tubuh itu ke dalam lalu disandarkan di samping Chanyeol. Luhan menepuk-nepuk pipi Minseok untuk menyadarkannya, tapi belum bisa, tubuh Minseok terlalu lemah untuk menahan semua beban dalam pikirannya.

“Ada apa ini? Kenapa Park Chanyeol bunuh diri?”

“Dia bilang, dia tidak bisa membunuhku karena mencintaiku. Aku bingung, Luhan…aku benar-benar bingung…,” kata Baekhyun yang akhirnya bersimpuh di hadapan Chanyeol, “aku tidak tahu dosa apa yang telah keluargaku lakukan sehingga semua ini terjadi.”

Luhan memang tidak menyukai Baekhyun, tapi untuk urusan ini, sepertinya tidak baik jika Luhan tidak menenangkan Baekhyun.

“Kita harus menangkap pelakunya, baru kau bisa tahu apa yang sebenarnya terjadi,” kata Luhan tanpa melepas pandangannya pada Minseok.

“Sejak kapan kau tahu?”

“Tahu apa?”

“Kalau Minseok adalah Daehyun.”

“A-apa? Kau bilang apa?”

“Byun Daehyun, adikku, adalah Kim Minseok, orang yang sekarang menjadi pacarmu.”

Dengan ragu, Luhan menolehkan pandangannya pada Baekhyun yang sedang menatapnya tajam.

“Kenapa kau tidak memberitahuku? Jika kau memberitahuku lebih cepat, mungkin ini tidak akan terjadi.”

“A-aku…”

“Apa kau ingin memiliki Daehyunku sendirian?”

“Bukan!” bentak Luhan, “bukan itu yang kuinginkan! Aku tidak akan seegois itu walaupun aku membencimu, tapi karena alasan lain.”

“Alasan apa?”

“Tanyakan saja pada Nenekmu.”

“Nenekku?”

“Iya. Beliau yang menyuruh kami untuk diam.”

“K-kami? Jadi itu artinya Nenekku sudah tahu kalau…”

***

Orang-orang berpakaian hitam berjalan lalu lalang melewatiku, sedangkan aku hanya bisa terdiam di samping Baekhyun-hyung yang sibuk menyalami orang-orang itu. Aku benar-benar syok dengan kejadian ini. Bagaimana bisa malam itu menjadi malam terakhirku mengobrol dengannya? Bagaimana bisa di malam terakhir itu aku memikirkan hal jelek tentangnya? Bagaimana aku bisa begitu jahat pada orang yang benar-benar tulus. Walaupun dia hanya berpura-pura mencintaiku, tapi dengan dia mencintai Hyungku dan rela mati karenanya, aku yakin dia bukan orang jahat.

“Minseok-a, sepertinya itu tamu terakhir. Kau bisa berdoa sekarang.”

“Nde?”

“Ada apa denganmu? Kenapa sepertinya pikiranmu sedang tidak di sini?”

Aku tidak menjawab pertanyaanya dan berjalan gontai menuju foto Chanyeol-hyung. Aku duduk sambil menatap foto itu. Masih lekat dalam pikiranku bagaimana dia berkata kalau dia akan berusaha mendapatkanku kembali, bagaimana dia bertengkar dengan Luhan, bagaimana dia memutuskan hubungan kami, semuanya seperti terulang kembali.

“Hya, Park Chanyeol, apa yang kau pikirkan, hah? Sebenarnya apa yang kau pikirkan? Kenapa kau meninggalkan Baekhyun-hyung tanpa bertanggung jawab? Kau bilang akan terus berada di pihak kami, tapi kenapa kau pergi? Bodoh, kau benar-benar bodoh. Aku ingin sekali membencimu karena telah menyakiti kami, t-tapi…tapi aku tidak bisa. Hyung, aku tidak bisa membencimu…”

Airmata yang sejak tadi kutahan akhirnya keluar. Aku kembali menangis seperti malam itu, malam terakhir kami bersama. Kurasakan sebuah tangan melingkar di pundakku, dan akhirnya menenggelamkan tubuhku dalam pelukannya.

“Aku juga ingin membenci Chanyeol, Minseok-a, tapi aku tidak bisa…” kata Baekhyun-hyung lirih, “karena aku mencintainya. Kau juga mencintainya, kan? Jujurlah.”

Aku ragu untuk menjawab pertanyaanya, tapi jika aku terus berbohong, maka aku akan menyakiti Baekhyun-hyung lebih dalam lagi.

“Iya, aku masih mencintainya, Hyung, bahkan setelah kau berkata kalau kau mencintainya, tapi…cinta itu bukan cinta yang sama lagi, aku tidak mencintai Chanyeol-hyung sepenuh hati seperti dulu. Maafkan aku, Hyung.”

“Tidak apa-apa. Aku mengerti kenapa kau tetap mencintainya. Akupun begitu, dan akan selamanya seperti itu.”

Baekhyun-hyung melepas pelukannya dan menatap mataku lekat. Dia tersenyum, dan itu jelas bukan senyum biasa.

“Walaupun dia sudah pergi, tapi aku lega karena dia mau jujur di saat-saat terakhirnya. Dia pergi dan meninggalkan sesuatu yang lebih besar untukku, yaitu kau.”

“A-aku?”

“Adikku yang selama ini kucari, Byun Daehyun, itu kau.”

“Mwo?”

“Chanyeol yang mengatakannya padaku. Dia bilang kau adalah Byun Daehyun.”

“Jadi dia sudah tahu?”

“Oh? Apa maksudmu? Apa kau juga sudah tahu?”

“Aku baru mengetahuinya kemarin malam, Hyung.”

“Bagaimana bisa?”

“Aku pergi ke tempat kecelakaan itu, tempat dimana terakhir kali aku bisa mendengar Eomma berkata kalau dia mencintaiku.”

“Maafkan aku, Daehyun-a, maafkan aku karena tidak mencarimu secepat mungkin.”

“Tidak, Hyung, kau tidak perlu meminta maaf pada kesalahan yang tidak kau buat.”

“Tentu saja aku bersalah, Daehyun-a. Jika aku bisa menemukanmu lebih cepat, mungkin—“

Kutahan perkataannya dengan menyentuhkan telunjukku ke bibirnya.

“Aku yakin Tuhan punya rencana besar di balik ini, Hyung.”

***

Eomma dan Kyungsoo juga datang ke pemakaman ini, karena bagaimanapun dulu Chanyeol-hyung adalah bagian dari hidupku. Mereka datang saat beberapa tamu sudah mulai berkurang dan langsung menaruh rangkaian bunga di samping foto Chanyeol-hyung.

Sesaat setelah Eomma menaruh bunga, dia berbalik dan sangat terkejut melihat Baekhyun-hyung. Langkahnya perlahan mundur. Saat kugenggam tangannya, dia baru sadar.

“Minseok-ah, dimana keluarga Chanyeol?” tanya Eomma sambil mengalihkan pandangannya padaku.

“Kami belum bisa menghubungi mereka.”

“Ah…kalau begitu Eomma harus pulang sekarang. Apa kau mau ikut?”

“Tidak. Hari ini aku akan menemani Baekhyun-hyung di apartemennya.”

“Ngomong-ngomong, aku tidak menyangka Park Chanyeol akan meninggal secepat ini. Padahal—“

“Eomma, bisakah kita membicarakan Chanyeol-hyung di rumah saja?”

“Oh, baiklah. Kyungsoo, apa ada yang ingin kau sampaikan pada Hyungmu?”

Kyungsoo menatapku lekat, lalu menunduk dan terlihat ragu untuk bicara denganku.

“Ada apa, Kyungie?”

“Tidak ada apa-apa, Hyung. Ayo pulang, Eomma.”

“Baiklah, kami pulang dulu.”

“Mari kuantar.”

“Tidak usah, Minseok-a. Tetaplah di sini dan temani temanmu ini, kurasa dia lebih membutuhkanmu ketimbang kami.”

“Baiklah…”

“Jaga dirimu baik-baik, Minseok-a. Jika sempat, pulanglah sebentar.”

“Ne.”

Eomma hanya menatap Baekhyun-hyung sekilas lalu menggandeng tangan Kyungsoo dan keluar dari ruangan. Aku rasa Eomma sedang ketakutan, melihat sinar mata dan sikapnya, aku yakin dia ketakutan karena melihat Baekhyun-hyung.

“Aku yang terlalu sensitif, atau Eommamu memang ketakutan saat melihatku, ya?”

“Apa kau tidak ingat padanya?”

“He?”

“Ya…walaupun kalian hanya beberapa kali bertemu, tapi seharusnya kau ingat siapa Eommaku.”

“Ah…dia guru lesmu, bukan?”

“Iya.”

“Kenapa dia bisa menjadi ibumu yang sekarang?”

“Aku belum tahu bagaimana itu bisa terjadi. Rencananya akhir pekan ini saat pulang aku akan menanyakannya.”

“Apa mungkin ini ada kaitannya dengan si pelaku?”

“Mungkin.”

“Kenapa mereka harus memisahkan kita, ya?”

“Mollayo…”

Iya, aku belum tahu apa alasan Joonmyun memisahkan kami, aku harus segera mendapatkan jawabannya. Kalau tidak, mungkin akan ada korban lain.

“Daehyun-a…,” kata Baekhyun-hyung seraya memegang pundakku dan menatapku lekat, “tolong jangan pergi lagi.”

***

“Bukankah Park Chanyeol sangat bodoh, Tao-ssie?” kata Joonmyun saat dia dan Tao melihat pemakaman Chanyeol dari jauh.

“Ne.”

“Dia sangat bodoh karena terlalu lemah dengan cinta. Dia bodoh karena tidak bisa mempertahankan pendiriannya. Apa sebenarnya yang dia pikirkan, hah? Kalau kau jadi dia, apakah kau akan melakukan hal yang sama?”

“Aku…tidak tahu.”

Joonmyun menatap Tao yang terus menunduk. Didekatinya lelaki yang lebih tinggi darinya itu dan mengangkat wajahnya.

“Apa yang sedang kau pikirkan?”

“Aku tidak sedang memikirkan apa-apa.”

“Jangan berbohong. Ada apa?”

“Tidak ada apa-apa, Tuan. Aku hanya bingung kenapa Park Chanyeol melakukan ini.”

“Sudah kubilang, kan? Dia itu lemah, sangat lemah.”

“Maaf, Tuan, maaf jika saya lancang, tapi…apakah Tuan tidak pernah berpikir seperti yang Park Chanyeol pikirkan?”

“Maksudmu?”

“Apakah Anda pernah berpikir untuk melepaskan tugas Anda demi Lee Sunny?”

Joonmyun menatap Tao nanar lalu memalingkan wajahnya dengan angkuh.

“Jangan pernah menanyakan hal itu lagi, dan jangan pernah menyebut nama perempuan itu di depanku!”

Tao tersenyum tipis sambil menatap Kim Joonmyun yang membelakanginya.

“Kau pasti pernah berpikir seperti itu,” kata Tao dalam hati.

***

Siang itu, setelah pemakaman Park Chanyeol selesai, Wu Yifan dan Zhang Yixing pergi ke kantor polisi untuk mengetahui perkembangan kasus Kim Han dan Lee Taeyong. Di sana mereka bertemu dengan Lee Jongdae dan Lee Jongin yang khusus menangani kasus ini.

“Oh, kalian datang,” kata Jongdae.

“Bagaimana?” tanya Lay.

“Kami telah menemukan titik terang pada kasus Kim Han. Dia meninggal dengan luka tembak, bukan luka tusuk.”

“Mwo?”

“Kami sudah memeriksa ulang sampel darah Kim Han, dan bubuk mesiu positif terdapat di sana. Lalu…untuk kasus Lee Taeyong, kemarin lusa kami menemukan jasadnya di salah satu kamar rumah sakit di pinggiran Seoul. Dia sedang bersama adiknya yang hari ini meninggal karena perawatannya dihentikan.”

“Perawatan kanker?” tanya Yifan.

“Bagaimana kau bisa tahu?”

“Kami telah mencari identitas Lee Taeyong sebelum kasus ini terjadi.”

“Oh, sudah kuduga. Keluarga Byun memang keluarga yang hebat, mereka sangat cekatan,” puji Jongin.

“Lalu bubuk mesiu itu, kalian sudah menemukan pemilik pistolnya?”

“Sudah.”

“Siapa?”

“Park Chanyeol.”

“Sudah kuduga.”

“Kau juga sudah menduganya, bukan? Mengingat kemungkinan besar kasus Lee Taeyong dan Kim Han berhubungan, kami juga mencurigai Park Chanyeol. Sayang sekali lelaki itu bunuh diri sebelum kita menangkapnya,” kata Jongdae.

“Jika dia tidak bunuh diri, mungkin kalian belum menemukan pemilik pistol itu, bukan?” tanya Lay yang sedikit sinis karena Jongdae menyayangkan hal yang tidak seharusnya.

“Hei-hei, bukan begitu maksudku, tapi alangkah baiknya jika lelaki itu tidak bunuh diri, bukan?”

“Ya…benar, sih, tapi kau tidak seharusnya bilang begitu.”

“Iya-iya, aku kan cuman berpendapat. Eum…bagaimana dengan Daehyun? Kalian bilang dia sudah ingat semuanya, benarkah?”

“Benar, Tuan Daehyun sudah mengingat semuanya.”

“Apa kalian sudah bertanya padanya, jika saja ada sesuatu dari masa lalunya yang bisa kita jadikan bukti?”

“Aku ingat dulu dia pernah mencegah kelaurganya untuk tidak melakukan perjalanan itu, tapi dia tidak pernah mengatakan alasannya, jadi mereka mengabaikannya. Kami belum bertanya lebih lanjut, mungkin dalam waktu dekat ini.”

“Kalian harus cepat bertanya karena kami takut akan ada korban lain dalam kasus ini.”

“Jongdae-ssie, menurutmu siapa korban itu?” tanya Yifan.

“Entahlah, tapi aku punya firasat buruk dengan keluarga Kim Minseok.”

“Maksudmu…”

“Iya, Kim Kyungsoo atau Jung Shinae. Terutama Kim Kyungsoo, dia sudah lama mencari tahu tentang masa lalu Kim Minseok. Jika si pelaku tahu, kemungkinan besar Kim Kyungsoo dalam bahaya. Setelah melihat tiga kasus kemarin, si pelaku selalu membunuh orang yang bisa membahayakan identitasnya, bukan? Jika Kim Kyungsoo juga mencaritahu siapa pelaku itu, maka dia benar-benar dalam bahaya.”

***

Aku masih mengingat tatapan itu, tatapan ragu Kyungsoo yang membuatku penasaran. Jadi aku memutuskan untuk menghubungi Kyungsoo selagi Baekhyun-hyung mandi. Kurasa Kyungsoo tidak ingin ada orang yang tahu tentang pembicaraan kami.

“Hyung…,” katanya.

“Ada apa, Kyungie? Sepertinya tadi kau ingin mengatakan sesuatu padaku.”

“Apa di sana ada Baekhyun-hyung?”

Benar, kan? Dia tidak ingin ada orang yang tahu.

“Tidak, dia sedang mandi.”

“Hyung, aku takut.”

“Takut kenapa?”

“Aku takut sekali, Hyung.”

“Hya, ada apa, Kyungsoo?”

“Aku takut korban selanjutnya adalah aku.”

“Mwo?”

“Jebal, Hyung…selamatkan aku…”

“Jelaskan dulu padaku, ada apa ini?”

“A-aku, aku tahu kalau…,” ucapnya dengan nafas terengal, “orang yang membuatmu hilang ingatan adalah Kim Joonmyun.”

“M-mwo? Kau tahu darimana?”

“Tolong jangan bertindak gegabah, Hyung, karena dia pernah mengancamku untuk tidak menceritakannya padamu.”

“Tanpa kau ceritakan pun, aku sudah tahu kalau pelakunya dia.”

“Mwo? Bagaimana bisa?”

“Ceritanya panjang. Yang terpenting sekarang, kau harus tenang dan tetaplah diam. Jaga Eomma karena aku punya firasat tidak enak tentangnya.”

“Kenapa kau tidak pulang, Hyung?”

“Iya, aku akan pulang besok. Aku akan meminta pada Tuan Xia untuk menghentikan syuting sampai kasus ini selesai. Kuharap beliau mengerti.”

“Aku membutuhkanmu, Hyung…”

“Tenanglah, Kyungsoo-a, aku akan segera datang dan melindungi kalian karena, karena aku tidak ingin kehilangan lagi.”

***

Byun Baekhyun berdiri di depan jendela apartemennya dan menatap pemandangan kota Seoul dengan pikiran kosong. Banyak sekali pertanyaan di pikirannya sampai dia berpikir untuk melepas kepala itu sementara karena terlalu lelah. Saat dia melihat pantulan dirinya di jendela itu, dia bisa melihat Chanyeol berdiri di sampingnya sambil tersenyum lembut.

“Aku belum merelakanmu, Park Chanyeol. Aku belum bisa melepasmu.”

Disentuhnya kaca jendela itu dan menyentuh wajah Chanyeol yang terpantul di sana.

“Aku berjanji akan menangkap orang yang menugaskanmu untuk membunuhku, dan aku berjanji akan menghukumnya seberat-beratnya.”

Kim Minseok yang baru selesai menyiapkan makan malam mengetuk pintu kamar Baekhyun. Baekhyun berbalik dan melihat Minseok sudah membuka sedikit pintu itu.

“Hyung, makan malam sudah siap.”

“Oh, nde.”

Baekhyun mengikuti Minseok ke ruang makan lalu duduk berhadapan dengan adiknya. Kim Minseok mengambilkan nasi untuk Baekhyun dan memberikannya.

“Gomawo.”

“Aku tahu kau akan sulit makan beberapa hari ke depan. Aku juga pernah begitu saat Appaku meninggal, Hyung, tapi cobalah bertahan agar tidak sakit.”

“Eoh.”

Kim Minseok dan Byun Baekhyun mulai makan dalam diam. Ada perasaan canggung di antara mereka. Perasaan canggung karena pertemuan mereka yang tidak biasa. Sebuah hadiah dari pengorbanan Park Chanyeol yang membuat sedikit bagian hati Byun Baekhyun menyesal. Pengakuan identitas Byun Daehyun yang tidak terduga itu, salah satu alasan kenapa Chanyeol bunuh diri, dan itu yang membuat Baekhyun maupun Minseok masih berdiam diri. Mereka bingung apa yang harus dibahas selain kematian Park Chanyeol atau kasus orangtuanya, dan menurut mereka dua topik itu tidak layak dibicarakan saat makan. Minseok yang tidak tahan dengan kediaman ini meletakan sumpitnya di piring nasinya dan menatap Baekhyun yang terus menunduk.

“Hyung.”

“E-euh?” tanya Baekhyun gugup sambil mengangkat wajahnya.

“Rasanya aneh, bukan?”

“Aneh apa?”

“Bertemu dengan orang yang sangat kau rindukan?”

“Siapa?”

“Ey…kau benar-benar menghinaku.”

“Hahaha…aku tidak bermaksud seperti itu.”

Melihat tawa itu, walaupun sedikit dipaksakan, Minseok merasa sedikit lega.

“Besok aku akan meminta pada Tuan Xia untuk menghentikan syuting ini.”

“Mwo? Untuk apa?”

“Kita harus menyelesaikan semuanya dulu, Hyung. Aku tidak akan tenang sebelum semuanya selesai.”

“Lalu setelah selesai, apa kau yakin bisa melanjutkannya?”

“Maksudmu?”

“Pikirkan mengenai segala kemungkinan yang ada, Daehyun-a. Bagaimana jika akhir dari kasus ini bahkan lebih menyakiti kita?”

“Aku tidak ingin berpikir seperti itu.”

“Kenapa?”

“Sudah cukup aku melihat orang-orang yang kusayangi pergi, aku tidak ingin ada lagi yang pergi atau tersakiti, Hyung.”

“Daehyun-a…”

“Dan mulai besok, aku akan tinggal dengan Eomma dan Kyungsoo.”

“A-apa? Apakah kau tidak ingin pulang ke rumah lamamu?”

“Aku sudah memutuskan untuk tinggal dan melindungi mereka dengan caraku, Hyung. Maafkan aku karena membuat keputusan ini, tapi aku harus bersama mereka karena mungkin pelaku itu mengincar Eomma dan adikku.”

“Setidaknya kau harus bertemu dengan Nenek dan Bibi Tiffany.”

“Aku pasti akan berkunjung, tapi untuk saat ini, aku harus tetap bersama mereka.”

“Baiklah, aku mengerti. Bagaimanapun selama 19 tahun ini keluargamu adalah mereka, jadi aku tidak bisa melarangmu. Walaupun aku sedikit kecewa, tapi aku akan mendukung keputusanmu.”

“Maafkan aku, Hyung. Aku melakukan hal yang egois.”

“Aniya, itu tidak egois. Kau memang harus melakukan sesuatu sesuai yang hatimu inginkan.”

“Apa Hyung baik-baik saja?”

“Aku adalah kakakmu yang kuat, tenang saja.”

“Aku ingin sepertimu. Aku ingin menjadi kuat sepertimu, Hyung, tapi aku belum bisa. Sampai sekarang aku belum bisa merelakan kepergian mereka semua, sekeras apapun usahaku untuk itu.”

Minseok kembali memasukan sesuap kecil nasi sambil menunduk, sedangkan Baekhyun menatap adiknya lekat.

“Aku juga belum bisa, Daehyun-a,” katanya dalam hati.

***

Pagi itu, Kim Minseok terbangun dari tidurnya dan mendapati Byun Baekhyun masih tertidur sambil menggenggam tangannya. Minseok menatap Baekhyun penuh arti lalu mengelus poni Baekhyun perlahan.

“Aku akan melindungimu juga, Hyung, tenang saja. Setelah kejadian ini, bagaimana bisa aku meninggalkanmu sendirian?”

 

Drrrt…drrrt…

 

Ponsel Minseok bergetar di sampingnya. Dengan hati-hati, Minseok mengambilnya.

Yeoboseo?”

“Xiumin-a, kapan kau kembali?”

“Oh, Lu-ge…kau tahu ini jam berapa? Baekhyun-hyung masih tidur, jadi—“

“Kau tidur dengannya?”

“Hya, bisakah kau kecilkan suaramu?”

“Kau tidur dengannya?” bisik Luhan.

“Hahaha, kau benar-benar tahu caranya bercanda.”

“Hya! Aku serius!”

“Ish…memangnya kenapa kalau aku tidur dengan Hyungku sendiri, hah?”

“Kau tidur dengan si kepala bulat yang tidak kubenci itu saja aku kesal, apalagi dengan namja sipit itu!”

“Hei…benar-benar pacar protektif. Apa aku perlu meminta pada Yifan-hyung untuk menjauhkanmu dariku?”

“Apa? Jadi kau mau mengadu?”

“Bisa saja. Oiya, hari ini aku akan menemui Tuan Xia untuk menunda pembuatan film.”

“He? Kenapa ditunda?”

“Kasus Lee Taeyong dan Park Chanyeol-hyung belum selesai, jadi kurasa sebaiknya kita menundanya sampai semua selesai.”

“Ah…benar juga.”

“Iya, jika filmnya ditunda, maka kau harus kembali ke China supaya orang-orang tidak curiga dengan hubungan kita, Lu-ge.”

“Mau sampai kapan kita menyembunyikan hubungan ini? Bukankah aku sudah melamarmu?”

“Bertahanlah sedikit lagi, Lu-ge.”

“Baiklah, aku mengerti dengan keadaanmu. Aku akan pergi denganmu menemui Tuan Xia.”

“Tidak usah, Lu-ge. Ini tanggung jawabku, jadi aku yang harus menemuinya sendiri.”

“Tidak-tidak. Karena aku sudah mengenal Tuan Xia sejak lama, maka aku bisa membantumu jika beliau tidak setuju.”

“Eum…benar juga. Kalau begitu nanti siang aku akan pulang ke apartemen dulu baru kita berangkat bersama, bagaimana?”

“Oke.”

“Terimakasih, Lu-ge.”

“Ngomong-ngomong, aku tidak akan kembali ke China.”

“Mwo?”

“Aku akan di sini untuk menemanimu. Kebetulan ada job di Korea minggu depan, jadi aku bisa tinggal beberapa lama.”

“Kenapa kau tidak bilang daritadi?”

“Kenapa memangnya?”

“Jujur aku sedikit cemas saat membayangkan kau tidak bersamaku.”

“Hahahaha, tentu saja kau harus cemas! Apa tadi kau bilang? Mau meminta Yifan-gege untuk menjauhkan kita? Itu tidak mungkin…

“Ey…”

“Mata sipit itu sudah bangun belum, sih?”

“Hya! Hyungku punya nama.”

“Iya-iya. Suruh dia cepat bangun lalu kau bisa ke sini.”

“Aish…sudah ya, bye.”

“Jaga dirimu baik-baik, Xiuminnie.”

“Ne, kau juga.”

Setelah mengakhiri pembicaraan itu, Minseok kembali menatap Baekhyun yang ternyata sudah bangun.

“Oh, kau sudah bangun, Hyung.”

“Ne. Pembicaraanmu dengan Luhan sepertinya sangat seru sampai kau tidak sadar aku sudah bangun.”

“Tidak juga, dia sering memutar-mutar arah pembicaraan, jadi aku harus mengulang perkataanku.”

“Ohya? Tapi itu menyenangkan, bukan?”

“Ya…”

“Kurasa keputusanmu untuk menyembunyikan hubungan kalian kurang tepat. Apa kau tidak memikirkan perasaan penggemarmu jika mereka tahu kau pacaran diam-diam?”

“Aku malah takut jika mereka sakit hati karena kami mengaku.”

“Tidak, Daehyun. Setelah kupikirkan baik-baik, mungkin sebaiknya kau melakukan konferensi pers untuk mengakui hubungan kalian.”

“Dalam keadaan seperti ini?”

“Mwo?”

“Dalam keadaan yang tidak menyenangkan seperti ini, apa aku tega mengumumkan hal yang akan menyakiti beberapa orang? Aku tidak akan melakukan itu, Hyung.”

“Benar juga. Aku memikirkan itu sebelum Chanyeol bunuh diri.”

“Kau bilang, Chanyeol-hyung mengatakan selamat tinggal padamu. Apa kau juga mengucapkan selamat tinggal padanya?”

“Aniyo.”

“Wae?”

“Karena tidak pernah ada kata selamat tinggal untuknya. Dia akan tetap berada di pihak kita selamanya, Daehyun. Setidaknya itu yang dia katakan padamu terakhir kali, bukan? Jadi kau harus percaya dia akan tetap ada bersama kita, sampai kapanpun.”

***

Lee Soonkyu mengepak pakaian seperlunya dan menaruhnya di tas. Hari ini dia akan pindah ke rumah Jung Shinae karena dia harus melindungi dua orang itu, sedangkan Kim Jongwoon? Lelaki itu sudah setuju dengan keputusan Soonkyu karena kemarin malam Lee Soonkyu sudah menceritakan semuanya.

 

“Jongwoonie-oppa, aku ingin membicarakan sesuatu denganmu. Bisakah kau berhenti sebentar?”

“Oh, baiklah. Ada apa, Sunny?”

“Aku ingin mengakui sesuatu. Aku adalah anak hakim Lee Jaemyun.”

“L-Lee Jaemyun?”

“Iya, salah satu guru besar di universitas kita.”

“K-kenapa kau berbohong?”

“Karena aku ingin menuntaskan tugas Appaku.”

“Tugas apa?”

“Aku harus mengungkap kebenaran tentang Kim Joonmyun. Apa kau masih ingat dia?”

“Tentu. Dia mahasiswa kesayangan Lee Jaemyun-seonsaengnim, sekaligus mantan kekasihmu. Kebenaran seperti apa itu?”

“Kebenaran bahwa dia bukan pembunuh.”

“P-pembunuh?”

“Aku menceritakan ini karena aku sangat takut akan ada korban lain, Oppa.”

“Apa maksudmu, Sunny? Tolong ceritakan lebih detail.”

“Apa kau ingat kasus hilangnya anak Byun Minho setelah kecelakaan keluarganya 19 tahun yang lalu? Kasus yang diberikan pada Appaku dan kutunjukan padamu sebagai ilmu tambahan.”

“Iya, aku masih sangat ingat kasus itu.”

“Kim Minseok adalah anak Byun Minho yang hilang pada kecelakaan itu, Byun Daehyun.”

“Mwo?”

“Karena kasus itu masih menjadi misteri bahkan untuk Appaku, jadi aku ditugaskan untuk melanjutkan kasus itu. Sebagai seorang jaksa, apa yang akan kau lakukan jika pelaku itu adalah orang yang kau sayangi? Apa yang harus kulakukan, Oppa?”

“Kau masih mencintai Kim Joonmyun bahkan setelah menikah denganku?”

“Mian, Oppa…”

“Jika kau benar, maka jangan pernah takut pada kebenaran itu walaupun sangat menyakitkan, dan jika orang itu salah, maka berikan dia sebuah cahaya yang bisa menuntunnya.”

“Ne…”

“Kenapa kau tidak pernah menceritakannya padaku?”

“Karena aku belum yakin pada keputusanku untuk memilihmu.”

“Dan sekarang kau sudah yakin?”

“Ne. Setelah kematian Kim Han, aku sadar kalau perbuatan Kim Joonmyun sudah lewat batas, dan aku telah memilih orang yang tepat.”

“Aku tidak mengerti kenapa kau menjadikanku yang kedua walaupun kita sudah menikah. Aku benar-benar kecewa, Sunny-a.”

“M-mian, Oppa.”

“Tidak apa-apa, sekarang perasaanku lebih baik karena akhirnya kau mau jujur padaku. Terimakasih sudah memilihku, Sunny-a.”

“Dan sekarang, aku meminta bantuanmu, Jaksa Kim, untuk membantuku mengumpulkan semua bukti yang akan memberatkan Kim Joonmyun. Aku, bagaimanapun caranya, akan menghentikan lelaki itu.”

“Setelah berhenti selama 3 tahun karena menikah denganku, sepertinya kau sudah rindu pada pekerjaanmu, Jaksa Lee?”

“Tentu.”

 

Kim Jongwoon keluar dengan satu tas lagi berisi dokumen-dokumen penting tentang kasus keluarga Byun yang pernah diselesaikan Lee Jaemyun.

“Sudah siap?” tanya Jongwoon.

“Ne,” jawab Soonkyu seraya melingkarkan tangannya di lengan Jongwoon.

“Kita akan melindungi adikku, bukan?”

“Tentu saja.”

***

Sesuai rencana, Kim Minseok dan Luhan pergi ke tempat Tuan Xia untuk membicarakan penundaan film ini.

“Aku turut sedih dengan dua kasus yang menimpa Anthersy Book, tapi target pembuatan film seharusnya tidak dikesampingkan. Aku yakin CEO Park juga ingin film ini tayang sesuai target.”

“Tuan Xia, apa Anda tidak memikirkan kata orang jika pembuatan film ini tetap dilanjutkan? Mereka akan bilang Byunkor Media tidak memiliki toleransi pada Anthersy Book. Walaupun ini sebuah penghormatan, tapi alangkah baiknya jika pembuatan film ini ditunda sampai kasus mereka selesai,” kata Luhan.

“Benar, Tuan Xia. Aku sebagai perwakilan dari Anthersy Book ingin meminta tolong pada Anda untuk menunda pembuatan film ini agar tidak ada gossip yang tidak-tidak antara perusahan kita.”

Tuan Xia menimang-nimang permintaan itu beberapa lama. Dan akhirnya dia setuju untuk menunda semuanya sampai kasus ini selesai.

“Tapi kalian harus berjanji, jika kasus ini sudah selesai, kalian harus mengungkapkan hubungan kalian pada publik.”

“Hubungan kami?” tanya keduanya hampir bersamaan.

“Memangnya aku bodoh? Aku sudah bertemu macam-macam orang dan juga prilaku mereka untuk memperkaya ilmuku sebagai produser film, jadi aku langsung tahu jika kalian sudah pacaran. Lagipula kemarin ada dua wartawan Korea yang mendatangiku untuk mengonfirmasi kecurigaan mereka. Untung saja mereka percaya kalau kalian tidak sedang pacaran, jadi masalah tidak semakin rumit.”

“Lalu kenapa Anda ingin kami mengonfirmasi hubungan kami?” tanya Minseok.

“Bisa dibilang, aku pandai membaca situasi. Di saat seperti ini, akan ada banyak berita miring mengenai Anthersy Book karena dua kasus abu-abu itu, jadi aku ingin menahan sesuatu yang mungkin akan membuatnya makin rumit. Jika kasus ini sudah selesai, hubungan kalian tidak akan dikira sebagai berita kambing hitam oleh penggemar, tapi murni kisah percintaan.”

“Terimakasih karena pengertian Anda, Tuan Xia,” kata Minseok.

“Iya. Kami akan kembali ke China dan menunggu sampai kasus ini selesai. Dan kau, Luhan, kau beruntung karena ada pekerjaan khusus di Korea, jadi bisa tinggal di sini beberapa lama untuk menemani pacarmu ini. Kalau tidak, aku akan bingung menjelaskan pada penggemarmu kemana si superstar mereka sembunyi.”

“Hahahaha~”

***

Setelah melakukan pembicaraan dengan Tuan Xia, Luhan dan Minseok pergi ke apartemen untuk mengemas barang-barang mereka.

“Aku akan pulang ke rumah, jadi kau tidak perlu cemas, Lu-ge.”

“Justru itu yang kucemaskan.”

“Kenapa?”

“Pelaku itu selalu membunuh orang terdekatmu, jadi bagaimana aku bisa tenang jika kau berada di dekat keluargamu? Maksudku, harus ada orang yang menjagamu selain mereka.”

“Ada Lay-hyung.”

“He? Namja rocker itu? Tidak meyakinkan.”

“Hya! Aku dengar itu, Luhan!” teriak Lay dari kamarnya.

“Ups…”

“Orang yang harus kau khawatirkan adalah dirimu sendiri, Lu-ge.”

“Oh, aku kan sudah bilang kalau aku juara karate nasional.”

“Berjanjilah untuk tidak terlalu mencemaskanku, dan berjanjilah untuk menjaga dirimu sendiri untukku.”

“Kalau janji yang pertama, aku tidak bisa menepatinya.”

“Sudah kuduga, tapi cobalah pikirkan keselamatanmu sendiri sebelum menyelamatkanku, eoh?”

“Tidak tahu, deh~”

“Lu-ge!”

Luhan tetap diam karena dia tidak yakin akan memikirkan dirinya sendiri saat melihat Kim Minseok dalam bahaya. Dia tidak tahu apakah masih bisa berpikir panjang saat hal buruk itu benar-benar terjadi.

***

Lee Jongin meletakan kopinya agak kencang di meja kerjanya yang terbuat dari kaca, sehingga suaranya memecah keheningan di ruangan itu.

“Aish…kasus ini benar-benar membuatku frustasi!” omel Jongin.

“Hya, apa yang kau bicarakan, hah? Semua kasus, sesusah apapun polisi harus bisa memecahkannya.”

“Jongdae-hyung, bagaimana bisa si pelaku tidak membuat celah pada kejahatannya?”

“Tidak, aku sudah menemukan satu lubang kecil itu.”

“Mwo? Kenapa kau tidak memberitahuku!”

“Hahaha, aku sendiri masih memastikannya. Kemari, coba baca yang ini.”

“Oh, kau sedang menyelidiki kehidupan Park Chanyeol?”

“Iya. Baca bagian ini, identitas Park Chanyeol yang asli akhirnya kutemukan. Dia tinggal di Busan bersama Appa, Eomma, dan adik perempuannya. Setelah kepergian Park Chanyeol ke Seoul, keluarga ini menjadi lebih tertutup dan sulit untuk berkomunikasi dengan mereka. Ada beberapa orang yang mengawal kediaman Park Chanyeol, entah apa alasan mereka mengawal rumah kecil itu. Beberapa warga yang ditanyai oleh rekanku di Busan juga tidak ada yang tahu. Mereka benar-benar tertutup. Akan tetapi, sebelum mereka seperti itu, aku menemukan satu data yang cukup mengejutkan. Appa Chanyeol mengalami kecelakaan saat bekerja dan itu membuatnya lumpuh sejak 19 tahun yang lalu.”

“19 tahun yang lalu?”

“Iya, dia mengalami kecelakaan yang sama dengan keluarga Byun. Menurut pemeriksaan saat itu, dia mengalami kecelakaan saat kebetulan lewat di tempat yang sama.”

“Apa pekerjaan Tuan Park?”

“Supir taksi, tapi aku tidak yakin.”

“Kenapa?”

“Jalan tempat kecelakaan itu terjadi sedang ditutup sementara karena keluarga Byun dan pengawal-pengawalnya akan lewat, sehingga mobil lain disuruh menunggu. Akan tetapi, mobil itu bisa melewati pengawasan, apa tidak aneh?”

“Jadi mobil itu melewati, bukan menerobos?”

“Menurut pemeriksaan, mobil ini menerobos, tapi menurutku tidak begitu. Si supir tidak sedang membawa penumpang, jadi untuk apa dia menerobos?”

“Apakah ada rekaman cctv?”

“Tidak ada. Rekaman itu telah hilang bahkan sebelum kecelakaan itu terjadi.”

“Kita tidak bisa menyimpulkan kalau pemeriksaan itu salah, Hyung. Bisa saja si supir memang sedang buru-buru.”

“Iya, walaupun perkiraanku salah, tapi kecelakaan Ayah Chanyeol pasti ada kaitannya dengan kasus 19 tahun yang lalu, atau paling tidak, Park Chanyeol bunuh diri karena alasan itu.”

“Lalu bagaimana dengan pistol Park Chanyeol? Jika benar itu miliknya, berarti Park Chanyeol adalah salah satu anggota mafia yang kita buru?”

“Kemungkinan besar iya, tapi kemungkinan lain, dia disuruh oleh si pelaku.”

“Kemudian Kim Joonmyun, orang itu memalsukan identitasnya untuk kuliah di dua universitas berbeda. Apa kau tidak merasa aneh, Hyung?”

“Tentu saja itu aneh. Untuk apa harus memalsukan identitas hanya untuk mendapatkan gelar yang berbeda?”

“Setelah kuselidiki bagaimana dia di kampus, tidak ada yang aneh selain identitas palsu itu. Dia menjadi mahasiswa berprestasi di kedua kampus, dan selalu lulus lebih cepat dari teman-temannya. Aku sudah menanyainya tentang ini, dan dia bilang melakukan ini bukan karena kesalahannya, tapi kesalahan universitas kedua. Mereka salah mencantumkan identitas asli Kim Joonmyun dan baru diverifikasi saat kelulusan. Aku rasa itu alasan yang terlalu dibuat-buat. Universitas kedua Joonmyun bukan Universitas swasta biasa, tapi universitas terbaik di China, jadi tidak mungkin mereka melakukan kesalahan sefatal itu kalau mahasiswanya sendiri tidak melapor.”

“Apalagi yang kau dapatkan?”

“Di kampus pertama, teman baik Kim Joonmyun adalah Lee Soonkyu-noona, Kim Jongwoon, dan Kim Kibum, sedangkan di kampus kedua Xi Luhan.”

“Xi Luhan? Kenapa dia berteman baik dengan seniornya, maksudku senior berdasarkan tahun masuk?”

“Di kampus kedua, Joonmyun adalah anak yang agak tertutup, dan dia bertemu dengan Luhan karena event tertentu. Karena Luhan saat itu sedang menjalani masa trainee, jadi dia menunda kuliahnya sehingga mereka masih bertemu. Joonmyun pada tahun pertama, sedangkan Luhan di tahun terakhir.”

“Tunggu sebentar. Kim Jongwoon, Lee Soonkyu, Kim Kibum, Xi Luhan, mereka semua berkaitan dengan Kim Minseok dan Byun Baekhyun.”

“Oh, benarkah? Ah…iya! Kim Kibum, sepupu Byun Baekhyun, Kim Jongwoon, kakak angkat Kim Minseok, Lee Soonkyu, anak dari jaksa yang menangani keluarga Byun, dan Xi Luhan…orang yang sekarang dekat dengan Kim Minseok. Apa ini? Apa dia sedang membuat skenario?”

“Apa maksudmu, Jongin?”

“Apa dia sengaja mendekati mereka semua untuk mendapat informasi tentang Minseok dan Baekhyun?”

“Apa pelaku itu benar-benar Kim Joonmyun? Apa itu alasan Lee Soonkyu-noona menyuruh kita memasukan nama Kim Joonmyun dalam list tersangka? Tapi dia kan mantan kekasih Noona…”

“Soonkyu-noona membuat sebuah pilihan yang berat, Hyung. Dia membuat dirinya tersakiti untuk mengungkap kebenaran ini. Kebenaran yang bukan saja untuk mempertaruhkan nama baik Appa dan keluarga Byun, tapi juga untuk menghentikan orang yang dia sayangi.”

Advertisements

16 thoughts on “My Immortal Love is You _ XiuHan/LuMin (Bagian 14)

  1. nah kan chanyeol nya yg mati huks huks

    ternyata semuanya berkaitan huaa berasa kyk nonton drama korea macam ‘three day’

    • perkiraan kamu tepat! kkk
      sebenernya referensiku ada beberapa drama korea chingu, contohnya Reset (Kim Soo Hyun 99line) sama I can hear your voice (lee Jongsuk) . aku suka banget drama macem begitu, belibet, bikin mikir, kkkk . aku belum nonton three day huaaa. nanti deh, soalnya ada Park Yoochun aku suka bangettt >_< tapi belum sempet hehe *napa jadi cerita*
      makasih banyak ya udah baca 😀

  2. update!!!!
    finally .. huaa.. ini makiin seru.. chanyeol mati .. T.T

    plis jgn ad yg mati lagii .. hiks ..
    minseokk ah .. fighting!!!
    next chap asaaap!! hehe

  3. FF yang selalu ku tunggu T.T Chanyeol T.T

    Apa ayah chanyeol juga yang menyebabkan kecelakaan itu?? T.T

    Ah ini benar2 makin Seruuu!!

    • huaaaa, jadi maluuuu >_< .
      ayo-ayo, penasaran kaaan?? kkk, kamu udah baca yang 15, ada kesimpulan buat pertanyaanmu ini? (ttg bapaknya channie)
      makasih banyak ya udah baca 😀

  4. kukira chanyeol bakal nembak baekhyun tp trnyata mlah bnuh diri 😦 tp sneng jg sh akhrnya ingtan xiu blik 🙂 bingung mesti kmen apa lg, daebak dah nh ff 😀 ❤ sm0ga cpet selesai th mslah dan gk ada korban lg, tp msh bngung sm kta"a sunkyu kok dy blg tntg kbnran junmyoon yg bkn pmbnuh, bknx udh jelas dy sm keluarganya it salah tp dy kekeuh bgt pgn bles ddndam.. smangat buat next part yeth jgn lama"

    • aku malah kepikirannya nggak ada yang mati, tapi klise banget ah, sekalian sedih aja *sumpah aku jahat banget*
      seneng kann? itu artinya bentar lagi tamat 😀 😀 .
      Eum, dia cuman pingin nghentiin joonmyun supaya nggak ngebunuh lagi chingu, soalnya dia masih cinta sama joonmyun .
      kkkk. makasih banyak yaa 😀 ngomong-ngomong, aku manggil kamu apa ni?

  5. Jadi sekarang semuanya udah tau kalo Umin itu Byun Daehyun, huaaa makin gereget >.<
    Duh Chanyeol kenapa bunuh diri? Kenapa gak bunuh Junmyeon aja? *eh
    Duh Lu-ge ngelamarnya gak elit banget sih dilorong apartement :3 *dijitakLuhan
    Eonnie ini ff makin seru aja, lanjutnya jangan kelamaan ya eon :v fighting eon^^/ annyeong /lambai-lambai tangan bareng Xiuhan/

    • iyawwww, akhirnya finalnya hampirrrr dekettt. hehe
      kalau joonmyun dibunuh, nanti udahan dong ceritanya *lho?*
      wkwkwkwk, tapi so sweet kan??? aku aja ngebayanginnya senyum-senyum sendiri 😀 LD
      woaa, makasih ya kamu udah ngikutin dari awal 😀 makasih banyak sayanggg 😀

    • sinta, kamu ganti username ya?? aku sampe bingung hehehehe *eh*
      harus! ingetan minseok harus balik supaya cerita ini cepet selesai, sudah lelah kakak ni *mulai gila*
      makasih banyak udah bacaa 😀 *udah baca yang 15?* hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s