My Immortal Love is You _ XiuHan/LuMin (Bagian 12)

Tittle: My immortal love is you

Author: Fie

Genre: romance, family, drama, boyxboy

Length: Multichapter

Rated: T

Languange: bahasa

Pairing: LuMin/XiuHan

Cast:

– EXO XiuMin as Kim Minseok/XiuMin

– EXO Luhan as Xi Luhan

– EXO Chanyeol as Park Chanyeol

– EXO Baekhyun as Byun Baekhyun

– EXO SuHo as Kim Joonmyun

– EXO D.O as Kim Kyungsoo

– EXO Lay as Zhang Yixing

– EXO Kris as Wu Yifan

– EXO Sehun as Kim Sehun

– EXO Kai as Lee Jongin

– EXO Chen as Lee Jongdae

– EXO Tao as Hwang Zitao

– Other….

“Sebuah cerita tentang kasih sayang yang akan terus abadi.”


 

TWELVE – Wrong step

“Aku ingin semua bisa kembali normal supaya aku tidak perlu melihat orang-orang yang kusayangi berada di jalan yang salah sepertiku.”

 

CHANYEOL membersihkan percikan darah di pipinya sambil menatap tubuh yang terkapar tak berdaya di kasur berbalut kain putih itu.

“Pergilah, Taeyong-ssie.”

“H-Hyung…k-kenapa, kenapa aku?”

“Ini kesempatan terakhir untukmu, jadi pergilah.”

Dengan setengah kesadaran, Taeyong memegangi dadanya dan berjalan agak cepat menuju pintu keluar.

“Berhati-hatilah, Hyung,” ucap Taeyong sebelum akhirnya menghilang di balik pintu.

Tangan Chanyeol mengepal kuat, seperti mengumpulkan semua kebencian yang selama ini dia tahan.

DUAK

Dipukulnya kasur yang penuh darah itu dengan tatapan penuh amarah. Dia terduduk sambil memegangi dadanya yang mulai sesak.

“Sampai kapan dia akan membuatku seperti ini, hah?”

***

Suasana lokasi syuting pagi ini cukup asing untukku. Pasalnya, ini pertamakalinya aku terlibat dalam pembuatan film. Dan terlebih lagi, sekarang aku menjadi pemain utamanya. Ada banyak sekali orang di sini, mulai dari para penata kamera sampai pembuat properti. Mereka semua bekerja keras dan itu membuatku semakin gugup.

Kuedarkan pandanganku untuk mencari Baekhyun-hyung, tapi dia tidak ada.

“Kau mencari Baekhyun?” tanya Luhan yang daritadi berdiri di sampingku.

“Iya.”

“Dia itu CEO, kan? Aku yakin dia sedang sibuk dengan urusannya di kantor, mana sempat ke sini.”

Mendengar pernyataan itu, aku mulai merasa aneh pada Luhan. Mungkin dulu Baekhyun-hyung pernah berbuat salah padanya, tapi itu sudah lama sekali, dan sekarang kondisinya sudah benar-benar berbeda bukan?

“Apa kau tidak akan memaafkan Baekhyun-hyung?”

“He?”

“Masalah 19 tahun yang lalu, apa kau tidak akan memaafkannya?”

“Tidak juga.”

“Lalu kenapa kau terus berbicara dengan nada sinis saat aku mengungkitnya?”

“Ohya? Aku sedang latihan drama.”

“Tolong jangan berbohong, Luhannie, aku benci itu.”

Luhan langsung terdiam dan hanya bisa menatapku dengan tatapan bersalah.

“Maaf, aku hanya takut.”

“Takut kenapa?”

“Aku takut dia akan melarangku berhubungan denganmu.”

“Kenapa kau berpikir seperti itu? Aku kan bukan adiknya, Lu-ge, jadi kau tidak perlu cemas.”

“Eum…”

Ada yang dia sembunyikan, aku tahu itu. Kenapa akhir-akhir ini semua orang tidak mau lebih terbuka padaku? Eomma, Kyungsoo, Chanyeol-hyung, dan sekarang Luhan. Apa aku satu-satunya orang yang tidak tahu apa-apa? Oh, menyedihkan.

“Kim Minseok!”

Oh, suara itu, Park Chanyeol-hyung. Sudah lama aku tidak melihatnya.

“Maaf ya, aku baru bisa datang sekarang,” ucapnya dengan nafas terengal.

“Tidak apa-apa, syutingnya juga belum dimulai. Kemarin kami baru melakukan reading.”

“Oh, dimana Daehyun? Bukankah seharusnya dia ada di sini bersamamu? Dia asisten sutradara, kan?”

“Ah…iya, aku belum melihatnya sejak tadi.”

Baru saja kami membicarakan Daehyun, seorang lelaki paruh baya berlari dengan langkah tak keruan seperti orang ketakutan sambil meneriakan nomor kamar Daehyun.

“Ini gawat!! Penghuni kamar 23 menghilang dan kasurnya dipenuhi darah!!”

Tubuhku langsung membeku saat mendengarnya. A-apa? Apa yang terjadi sekarang?

Tanganku bergetar dan tubuhku tiba-tiba saja melemas. Luhan menangkap tubuhku yang oleng karena pikiranku mulai kacau. Beberapa orang berlari ke Apartemen untuk mengetahui apa yang terjadi, termasuk Chanyeol-hyung yang sekarang sudah menghilang.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Luhan.

“N-ne…”

Siapa yang membuat Daehyun seperti itu? A-apa…Baekhyun-hyung?

“Kau tidak perlu cemas, Minseok-a. Bagaimanapun, orang itu akan segera pergi.”

Aku ingat betul kata-kata terakhir Baekhyun-hyung sebelum mengantarku ke Apartemen. Apakah Baekhyun-hyung yang melakukan itu?

***

Ada banyak sekali wartawan yang mengerumuni kamar Daehyun, dan juga ada beberapa staff film yang sedang mengurus kasus ini sehingga pembuatan film belum dimulai. Orang-orang kepolisian yang datang sebelum para wartawan itu masih melakukan penyelidikan, termasuk yang kukenal, Lee Jongin dan Lee Jongdae.

“Lee Jongin-ssie, boleh aku bertanya sesuatu?” kataku saat melihat Jongin keluar dari kerumunan, sepertinya dia sudah mengumpulkan cukup data.

“Oh, bukankah Anda…”

“Aku tidak berharap akan bertemu denganmu dalam kondisi seperti ini, tapi…senang bisa bertemu denganmu lagi. Terimakasih untuk bantuanmu tempo lalu.”

“Iya, aku juga tidak berharap begitu, tapi mau bagaimana lagi. Ah, sama-sama, itu sudah tugasku, Kim Minseok-ssie. Lalu, apa yang ingin kau tanyakan?”

“Apakah Daehyun, maksudku, penghuni kamar ini meninggal?”

“Kami belum memastikan itu, tapi mungkin belum. Karena menurut beberapa petugas di sini, tidak ada yang melihat orang mencurigakan tadi malam.”

“Oh…”

“Apa kau mengenal Daehyun?”

“Ne, dia asistenku selama pembuatan film ini.”

“Ohya? Benar-benar kebetulan, bukan?”

“Maksudmu?”

“Kim Han juga adalah kenalanmu, dan orang yang menangani dua kasus ini adalah aku dan Hyungku.”

“Ne, benar-benar kebetulan.”

“Kami minta maaf karena menunda pembuatan film perdanamu.”

“Oh, tidak apa-apa. Aku rasa para staff juga belum bisa melanjutkan pembuatan film karena kasus ini.”

“Kami akan berusaha menyelesaikannya secepat mungkin.”

“Eum, gomawo.”

“Aku pergi dulu ya. Jaga dirimu baik-baik, Kim Minseok-ssie.”

“Ne…”

Kim Jongin berlalu dan Luhan yang baru saja membicarakan jadwal syuting yang berubah pun kembali.

“Bagaimana?” tanyaku.

“Sepertinya syuting akan ditunda sampai besok, jadi kita bisa kembali ke Apartemen.”

“Kalau begitu aku mau pulang ke rumah sebentar.”

“Jangan,” kata Luhan sambil menggenggam pergelangan tanganku.

“Kenapa?”

“Mungkin agak tidak masuk akal, tapi aku merasa ada orang yang mengincarmu.”

“Maksudmu?”

“Kim Han, Byun Daehyun, mereka terlibat dalam kasus serupa setelah melakukan kesalahan padamu.”

“Tunggu dulu, Byun Daehyun tidak melakukan kesalahan padaku, bukan?”

“E-euh…itu…maksudku…ah, orang yang pernah terlibat denganmu mengalami kasus yang serupa. Mungkin ini kebetulan, tapi aku tetap cemas.”

Benar kata Luhan. Apakah ini benar-benar kebetulan atau memang ada orang yang mengincarku? Tapi siapa?

“Sebaiknya kau tinggal di Apartemen denganku.”

“Kalau dia mengincarku lewat orang-orang yang kukenal, bagaimana aku bisa tenang saat memikirkan keselamatanmu, Lu-ge?”

“Tenang saja. Aku ini juara karate nasional dulunya, jadi aku bisa melindungimu dan diriku sendiri.”

“Kau tidak berbohong?”

“Apa kau mau melihat foto-foto kemenanganku? Aku bisa menunjukannya.”

“Bukan itu maksudku, apa benar kau bisa melindungi dirimu sendiri?”

“Hahaha, kenapa jadi canggung begini sih? Sudahlah, percaya saja padaku. Ayo kembali.”

Walaupun Luhan terlihat tenang, tapi aku yakin dia sama cemasnya denganku. Jika orang itu mengincarku, kenapa harus dengan menyelakai kenalanku? Dan Byun Daehyun, kenapa orang itu juga terlibat? Aku benar-benar tidak mengerti.

***

Kim Joonmyun berdiri di depan laci kaca berisi abu kremasi bernama Kim Ilsook. Dibukanya laci itu dan memasukan serumpun bunga mawar putih tepat di samping foto berisi keluarganya saat masih utuh.

“Appa, maafkan aku karena sudah lama tidak mengunjungimu. Akhir-akhir ini aku sibuk dengan gambar ilustrasiku untuk film Byun Daehyun. Apa kau ingat siapa dia? Anak yang pernah berkenalan denganku saat kau pergi menemui nenek. Anak yang lebih muda 3 tahun dariku itu sekarang sudah besar dan cukup tampan. Aku hampir tidak bisa mengenalinya karena dia tumbuh dengan sangat baik, berbeda dengan dia yang dulu. Daehyun 19 tahun yang lalu adalah anak yang tidak lebih beruntung dariku. Orangtuanya membuatnya seperti anak tiri karena terlalu mementingkan Byun Baekhyun. Dulu aku kasihan padanya, tapi…saat Appanya membuatmu seperti sampah di depan nenek, rasa kasihan itu berubah menjadi benci. Aku ingin membalas dendam, Appa, aku ingin membuat mereka menyesal karena telah membuang kita. Apakah aku salah? Tolong jawab, Appa, apakah aku salah? Selama 19 tahun ini aku hidup dengan kebencian. Rasanya sangat melelahkan, tapi aku akan sangat lega jika semua orang yang terlibat dalam kasus itu juga merasakan hal yang sama denganmu. Aku berjanji, setelah semuanya selesai, aku akan kembali menjadi Kim Joonmyun yang dulu, Kim Joonmyun yang kau banggakan.”

Setelah bercerita panjang lebar, Kim Joonmyun menutup laci kaca itu lalu tersenyum sambil terus menatap wajah Appanya dalam foto.

“Tuan Kim,” kata Tao, “sepertinya Park Chanyeol belum menyelesaikan tugasnya.”

“Mwo?”

“Taeyong menghilang.”

“Begitukah? Kurang ajar orang itu. Apa kita harus membunuhnya?”

“Sebaiknya tidak, Tuan.”

“Kenapa?”

“Karena kemampuannya masih kita butuhkan untuk membunuh dua anak Byun jika semuanya sudah selesai. Sampai sekarang polisi belum bisa menemukan pembunuh Kim Han, bukan? Itu berkat pekerjaan Park Chanyeol yang rapi.”

“Oh, kau benar juga. Yasudah, terserah jika Park Chanyeol tidak membunuhnya. Perintahkan orang lain untuk mencari dan membunuh Taeyong.”

“Baik, Tuan.”

Tao langsung pergi untuk memenuhi perintah Kim Joonmyun. Selepas kepergian Tao, Joonmyun kembali menatap foto Appanya.

“Aku akan membereskan semuanya, Appa. Tidurlah dengan tenang.”

***

Baekhyun langsung tersedak dan memuntahkan sedikit kopi yang sudah diminumnya saat melihat berita kehilangan Byun Daehyun di tv. Dahinya berkerut karena tidak percaya pada apa yang dilihatnya. Kasur yang berlumuran darah itu membuat tubuhnya merinding karena membayangkan hal yang sangat buruk terjadi pada Byun Daehyun tadi malam.

“Ada apa ini?”

Baekhyun mengambil jasnya lalu segera pergi ke tempat kejadian karena dia mencemaskan Minseok. Entah apa alasannya, tapi dia merasa harus melindungi Minseok karena kemungkinan ada pembunuh yang berkeliaran di sana.

Akan tetapi, saat Baekhyun hendak memasuki lift, seseorang menggenggam pergelangan tangannya dan mencegahnya memasuki lift.

“C-Chanyeol?”

“Apa kau akan pergi ke Apartemen itu?”

“Ne, aku ingin melihat tempat kejadian karena adikku menghilang.”

“Jangan berbohong lagi, Baekhyun-a.”

“Mwo?”

“Daehyun yang kubawa itu bukan adikmu, kan?”

“A-apa maksudmu?”

“Kita sudah saling mengenal cukup lama, Baekhyun, jadi aku bisa tahu kalau kau sedang berbohong. Sama dengan saat kau tahu kalau aku sedang menyembunyikan sesuatu darimu.”

“Jadi sekarang kau ingin mengatakan yang sejujurnya?”

“Belum.”

“Kenapa?”

“Karena ini belum dimulai.”

“Apa yang belum dimulai?”

Park Chanyeol melepas genggamannya sambil tersenyum.

“Aku sangat merindukanmu, Baekhyun-a.”

Ini pertamakalinya Baekhyun melihat wajah Chanyeol sesedih itu. Ada sesuatu yang mendesak Baekhyun untuk memeluk tubuh itu. Memeluk dengan sangat erat tanpa ingin dilepasnya lagi.

“Aku juga, aku sangat merindukanmu…”

“Maafkan aku karena belum bisa menceritakannya padamu, Baekhyun. Jika—“

Belum selesai Chanyeol menyelesaikan ucapannya, dua orang polisi datang menghampiri keduanya. Baekhyun segera melepas pelukan itu dan keduanya langsung salah tingkah.

“Tuan Byun Baekhyun?” tanya salah seorang polisi.

“Iya, saya Byun Baekhyun.”

“Bisakah Anda ikut dengan kami ke kantor polisi?”

“Oh, itu pasti berkaitan dengan menghilangnya adikku, bukan? Baiklah, saya akan ikut dengan kalian.”

“Apa Anda tahu kenapa kami mengajak Anda?”

“Agar aku tahu bagaimana kronologinya, bukan?”

“Bukan, tapi sebagai tersangka.”

“Mwo?”

***

Kyungsoo memandangi gelas berisi air minum itu dengan tatapan kosong. Pikirannya jelas bukan ke arah gelas itu, tapi pada ucapan ibunya kemarin tentang kehidupan Hyungnya.

“Hyung, apa aku salah jika menyembunyikan identitasmu? Apakah aku jahat jika tidak memberitahumu yang sebenarnya padahal jelas-jelas kakakmu sudah di depan mata? Aarrrgh, aku bingung!!”

Kyungsoo menegak minumannya sampai habis lalu pergi ke kamarnya dan mengambil sebuah buku tulis yang agak tebal dan pena.

“Jika aku tidak bisa mengatakannya, sebaiknya kutuliskan itu di sini. Aku bisa gila jika terus-terusan menyimpannya sendiri.”

Saat Kyungsoo menulis satu kalimat pertama, ponselnya bergetar dan itu membuatnya kaget setengah mati.

“Aish, siapa sih yang menelponku?”

Saking kesalnya, Kyungsoo mengangkat telepon itu sambil berteriak, membuat orang yang menghubunginya, Minseok, harus menjauhkan ponselnya sejenak.

“Hya, Kyungsoo-ya! Apa yang kau lakukan, hah? Telingaku bisa rusak karena teriakan cemprengmu!”

“Mwo? Minseok-hyung? Apa kau ganti nomor?”

“Ani, ponselku sedang mati, jadi aku meminjam ponsel Lay-hyung.”

“Oh, ada apa?”

“Aku sedang bosan, jadi aku menelponmu.”

“Bukankah kau sedang syuting?”

“Syutingnya ditunda sampai besok karena banyak polisi di sini.”

“Mwo? Polisi? Kenapa mereka di sana?”

“Byun Daehyun, adik Baekhyun-hyung yang tempo lalu kuceritakan, menghilang…”

“Apa? Kenapa bisa begitu?”

“Kalau kami tahu alasannya, tidak mungkin ada polisi di sini.”

“Ah…benar juga. Lalu?”

“Kasur di kamarnya…penuh dengan darah.”

“Apa?” teriak Kyungsoo, “jadi itu kasus pembunuhan??”

“Kami belum tahu, polisi masih menyelidikinya. Jujur, aku sedikit takut sekarang.”

“Tentu saja kau harus takut, Hyung! Kenapa kau tidak pulang saja? Di sana berbahaya.”

“Aku juga maunya begitu, tapi Lu-ge menahanku.”

“Oh, si artis narsis itu. Kenapa memangnya?”

“Dia bilang, dia bisa menjagaku.”

“Cuih, tapi tetap saja dia itu hanya—“

“Hya! Apa kau tidak tahu jika aku bisa mendengarnya dengan jelas dari sini!” seru Luhan yang sejak tadi mendengar percakapan Kyungsoo dan Minseok diam-diam.

“He? Luhan-hyung? Hya! Kenapa kau menguping? Pergi sana!”

“Enak saja! Jangan bicara seenaknya, ya! Tunggu sebentar, Xiumin, aku ingin memarahi anak ini! Aish…kenapa kau mengusirku, hah? Hei-hei!!”

“Apa dia sudah pergi?”

“Eoh. Aku tidak sadar kalau dia ada di belakangku.”

“Aish…hyung itu benar-benar protektif.”

“Hahaha, kau bicara pada dirimu sendiri, bukan?”

“Maksudmu?”

“Aku melihat kau berkelahi dengan Baekhyun-hyung, Kyungie.”

“A-apa? Kau melihatnya?”

“Ne. terimakasih karena sudah mempertahankanku sebagai kakakmu, tapi lain kali jangan seperti itu ya.”

“Eum…”

“Seperti yang dikatakan Baekhyun-hyung, aku mungkin tidak akan meninggalkan kalian walaupun sudah bertemu dengan keluarga asliku.”

“Benarkah?”

“Tentu. Aku tidak mungkin meninggalkan keluarga yang sudah membesarkanku. Mungkin aku sangat ingin bertemu dengan mereka, tapi jika harus memilih…aku akan memilih kalian. Separuh hidupku sudah kuhabiskan dengan Eomma, Hyung, Appa, dan kau, jadi aku ingin melanjutkannya sampai akhir.”

“Hyung, benarkah?”

“Kenapa kau terus bertanya?”

“Tidak apa-apa. Aku hanya terharu.”

“Aku merasa semua ini seperti mimpi. Aku tidak menyangka keluarga yang selama ini bersamaku bukan keluarga kandungku. Ngomong-ngomong, sejak kapan kau tahu tentang masalah ini?”

“Kau mau aku jujur atau bohong?”

“Hei…jangan bercanda.”

“Baiklah, aku akan jujur. Aku sudah tahu sejak kasus penyeranganmu bulan lalu, saat aku menemukan berkas kesehatanmu 19 tahun yang lalu.”

“Berkas kesehatan?”

“Iya, di sana margamu bukan marga Appa maupun Eomma.”

“D-dimana kau menemukan berkas itu?”

“Aku lupa. Mungkin sekarang Eomma sudah menyembunyikannya.”

“Jadi Eomma sengaja menyembunyikan identitasku? Kenapa?”

“Molla…”

“Apa kau ingat siapa nama asliku? Aku sangat penasaran.”

“Aku lupa…”

“Kyungsoo-a…jebal…”

“Aku akan memberitahumu jika menemukan berkas itu.”

“Kau berjanji?”

“E-eoh…,” kata Kyungsoo sambil meremas pensilnya.

“Baiklah, kututup dulu teleponnya ya. Jaga dirimu baik-baik, Kyungie.”

“Ne, kau harus berhati-hati, Minseok-hyung.”

Tidak bisa. Kyungsoo tidak bisa mengatakan yang sebenarnya pada Minseok walaupun dia bilang akan memilih mereka ketimbang keluarga aslinya. Ada sesuatu yang ditakutkan Kyungsoo, terutama setelah kematian Kim Han dan menghilangnya Byun Daehyun palsu, yaitu kasus 19 tahun yang lalu. Jika benar ada orang yang mengincar keluarga alm. Byun Minho, tentu saja itu sangat berbahaya untuk Minseok, bukan? Dia akan menyembunyikan ini sampai semuanya selesai.

“Wu Yifan…,” lirih Kyungsoo, “apakah dia benar-benar tidak ada hubungannya dengan Hyungku? Hei, kenapa tiba-tiba aku memikirkan ini? Mungkin karena aku ingin ada orang yang melindungi Minseok-hyung selain Luhan.”

***

Setelah menutup telepon, aku pergi keluar kamar. Luhan sedang duduk sambil di ruang tengah sambil menatapku kesal. Aku tertawa kecil melihat ekspresinya yang menggemaskan. Saat aku duduk di sampingnya, dia bergeser lebih jauh sedikit.

“Wae~~?” tanyaku manja untuk membuatnya lebih baik.

“Berhenti menggodaku. Aku sedang marah.”

“Dia itu adikku, jadi kau tidak perlu cemburu.”

“Aku tidak pernah cemburu pada si kepala bulat itu, tapi aku marah karena kau tidak membiarkanku memarahinya. Apa katanya tadi? Artis narsis? Kurang ajar…”

“Memang kenyataannya begitu, kan?”

“Apa katamu?”

“Kalian berdua ini ribut terus, seperti tidak ada habisnya,” ucap Lay yang baru saja kembali dari dapur.

“Hei, ribut itu pertanda kami saling mencintai,” ucap Luhan.

“Tidak juga. Bagaimana kalau kalian ribut sampai berpisah?”

“Kami tidak akan berpisah, iya kan?”

Aku tidak menjawab pertanyaan Luhan dan hanya bersandar di pundaknya.

See?”

“Arra…kalian adalah pasangan paling romantis yang pernah kulihat,” kata Lay sedikit kesal lalu pergi ke kamar.

Saat Lay pergi, beberapa saat kemudian Yifan datang dan duduk di samping kami lalu menyalakan tv.

“Gege, apa kau tidak melihat kami sedang pacaran?”

Yifan hanya menatap Luhan sinis dan melempar remote tv ke sofa lalu pergi ke kamar yang sama dengan Lay.

“Lu-ge, apa yang kau pikirkan? Kenapa kau mengusir Lay dan Yifan-gege.”

“Jadi kau tidak suka?”

“Aish…benar-benar kekanakan.”

Kami terdiam beberapa saat sampai aku teringat sesuatu yang membuatku penasaran sampai sekarang.

“Lu-ge, kenapa kau lebih memilihku daripada Daehyun?”

“Siapa yang kupilih dan siapa yang kutolak?”

“Jangan memutar-mutar pertanyaanku, Gege.”

“Aku serius. Aku tidak pernah memilih siapapun.”

“Maksudmu?”

“Kalau boleh jujur, aku juga tidak tahu kenapa aku melanjutkan hubungan ini. Kau masih ingat bagaimana pertamakali kita bertemu?”

“Ne, aku ingat. Saat itu kita bertemu di pesawat karena kau ditinggal Manajermu gara-gara…mau membeli bukuku.”

“Aku yang awalnya hanya melihatmu sebagai penulis terkenal berangsur-angsur mulai menyadari, mungkin tidak ada salahnya jika aku mulai menyukaimu sebagai namja. Walaupun pada saat itu aku masih berharap bisa bertemu dengan Daehyun, tapi saat melihatmu, keinginan itu mulai hilang. Bukan karena aku ingin mengingkari janjiku, tapi ternyata Tuhan memberikan sesuatu yang lebih berharga dari yang kupikirkan. Mungkin aku terlalu berlebihan, tapi aku merasa Tuhan telah mengirimkan orang yang tepat untukku.”

“Kau datang tepat saat Appaku meninggal, dan aku juga berpikir Tuhan telah mengirimmu untuk menyingkirkan awan kelabu di langitku.”

“Aku berharap kita bisa seperti ini seterusnya. Aku ingin melamarmu.”

“M-mwo?”

“Kenapa kau kaget begitu? Orang yang kau cintai sedang melamarmu, apa itu aneh? Ya…walaupun kondisinya tidak seromantis yang kau inginkan, tapi aku bersungguh-sungguh.”

“Lu-ge, kau benar-benar sedang melamarku?”

“Memangnya aku terlihat sedang berbohong?”

“Ani…”

“Jadi, apa kau menerimanya?”

“Entahlah, aku masih merasa bersalah pada Daehyun. Dia akan sedih jika kau menikah dengan orang lain. Setidaknya kau harus bilang dulu padanya.”

“Sampai kapan?”

“Nde?”

“Sampai kapan aku harus menunggunya untuk berkata kalau aku sudah memiliki orang lain yang ingin kunikahi?”

“Selama apapun itu, kau harus menunggunya dulu.”

“Kalau begitu, aku akan mencarinya.”

“Benarkah?”

“Tentu. Aku akan mencarinya sampai ketemu, lalu akan berkata padanya kalau aku sudah menemukan cinta sejatiku.”

“Kau bisa bilang begitu padanya?”

“Kau benar-benar menyebalkan, Xiumin, huft…”

Luhan berpaling ke arah lain sambil memajukan bibirnya kesal. Aku yang gemas padanya langsung mengecup pipinya singkat dan kulihat dia sedikit kaget. Hahaha, biasanya dia yang menciumku duluan, jadi wajar jika dia kaget.

“Apa barusan kau menciumku?”

“Menurutmu?”

“Kenapa hanya di pipi?”

“He?”

“Aku selalu menciummu di bibir, tapi kau hanya menciumku di pipi?”

“Ya…itu…”

“Tidak apa-apa, aku senang karena ini sebuah kemajuan. Kau sudah berani menciumku duluan.”

“Hei…jadi selama ini kau menungguku menciummu duluan?”

“Tentu saja. Aku kira kau tidak mencintaiku karena tidak pernah menciumku duluan.”

“Hahaha, kau benar-benar aneh.”

“Apanya yang aneh? Aku hanya takut kalau ucapan cinta itu hanya omong kosong.”

“Kalau seterusnya aku tidak menciummu, apa kau tidak yakin kalau aku mencintaimu?”

“Sejujurnya, iya.”

“Jahat.”

“Nde? Kau bilang aku jahat?”

“Selama ini aku membalas ciumanmu, bukan? Itu sudah cukup membuktikan kalau aku…, ah sudahlah aku sedang tidak mood.”

“Bukan begitu, sayang. Aku hanya…”

“Sssh, aku sedang tidak mood membicarakan ini.”

“Baiklah…”

“Dimana hp yang sedang ku-charge?”

“Itu di dekat kulkas.”

Dengan sedikit kesal, kutinggalkan Luhan untuk mengambil ponselku. Saat kunyalakan ponsel itu, ada 10 sms masuk dan semua itu dari Chanyeol-hyung.

Minseok, bisakah kau ke kantor polisi di alamat ini? Sekarang Baekhyun sedang ditahan karena kasus Daehyun. Sepertinya dia lebih membutuhkanmu daripada aku.

Kelopak mataku membesar saat membaca sms itu. Tanpa sadar, ponsel yang sedang kupegang itu terjatuh ke lantai dan aku segera berlari mengambil jaket dan kunci mobilku tanpa memedulikan Luhan yang terus bertanya kemana aku akan pergi. Yang kupikirkan sekarang adalah Baekhyun-hyung. Baekhyun-hyung yang sedang membutuhkanku.

***

Luhan yang sedang termenung memikirkan kata-kata Minseok untuk mencari Daehyun lagi langsung terkejut saat Minseok tiba-tiba saja berlari dengan membawa jaket dan kunci mobilnya.

“Kau mau kemana?”

Minseok tidak menjawab pertanyaan Luhan dan sekarang wajahnya terlihat ketakutan. Luhan berdiri dan hendak menahan Minseok pergi, tapi langkah Minseok terlalu cepat sehingga Luhan kehilangan sosok itu di balik pintu keluar.

Luhan langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Minseok, tapi suara dering ponsel Minseok ada di dekat kulkas. Segera Luhan mengambil ponsel yang sedikit retak di sisi kirinya itu dan melihat apa yang Minseok baca barusan, sampai-sampai namja itu pergi tanpa bicara. Kemudian saat Luhan membaca pesan itu, dia hanya bisa memegangi dahinya seperti kebingungan.

“Astaga…kenapa urusan mereka semakin runyam sih!”

Luhan pergi ke kamar Yifan untuk meminta kunci mobil agar dia bisa menyusul Minseok.

“Ada apa? Memangnya Xiumin kemana?” tanya Yifan.

“Dia pergi ke kantor polisi.”

“Apa? Kenapa?” tanya Lay yang langsung berdiri.

“Baekhyun ditangkap atas kasus menghilangnya Daehyun.”

Yifan dan Lay saling bertatap cemas dan memutuskan untuk ikut dengan Luhan ke kantor polisi.

“Sialan!” umpat Yifan diam-diam, kesal karena si pelaku membuatnya kecolongan sekali lagi.

***

Byun Baekhyun menatap jaksa di depannya dengan tenang walaupun kini jaksa itu sudah hilang kesabaran karena Baekhyun tidak mau mengaku kalau dialah yang menculik Daehyun.

“Untuk apa aku menculik adikku sendiri? Apa kau bodoh?”

“Kau tahu kalau Byun Daehyun yang menghilang itu bukan adik kandungmu, kan?”

“Iya, aku memang sudah tahu. Lalu?”

“Kau pasti ingin menculik Daehyun dan menyuruhnya mengaku kalau dia bukan adikmu, kan? Lalu kalian berkelahi sehingga tempat tidur Daehyun berlumuran darah.”

“Tuan, sebaiknya kau mencaritahu dimana aku kemarin malam.”

“Kau ada di apartemen, bukan? Tapi apa ada yang bisa membuktikannya?”

“Kau bisa melihat rekaman cctv di apartemenku kalau aku masih di sana sampai Daehyun menghilang.”

“Kau adalah anak keluarga Byun, bukan? Mungkin saja kau mengirim orang.”

“Mwo? Mengirim orang? Keluargaku tidak sekeji itu sampai mengirim orang untuk menyelakai orang lain.”

“Siapa yang tahu, Byun Baekhyun? Keluargamu sangat tertutup bahkan pada polisi yang sedang menangani kasus keluargamu 19 tahun yang lalu.”

“Kasus 19 tahun yang lalu? Maksudmu?”

“Sesuai dugaanku, dua anak alm. Byun Minho yang dirumorkan masih hidup adalah kau dan Byun Daehyun. Apa kau mau menyangkalnya?”

“Kalau benar, lalu kenapa?”

“Kau pasti kesal karena ada orang yang mengaku sebagai adikmu, bukan?”

“Iya, aku benar-benar kesal. Akan tetapi, kau perlu tahu sesuatu tentang keluargaku. Kami tidak pernah menyelakai orang lain hanya karena kesal, dan kami tidak semudah itu mendendam. Mungkin kau tidak percaya pada omonganku, tapi selama ini keluarga Byun tidak pernah terlibat kasus pembunuhan, bukan? Kami korban, bukan tersangka.”

“Menurutmu seperti itu? Tidak pernah ada yang tahu bagaimana keluargamu menyembunyikan kesalahan kalian.”

“Jika kau menyuruhku ke sini hanya untuk menghina keluargaku, maka aku akan pergi sekarang. Lagipula, kenapa kau tiba-tiba menangkapku tanpa bukti yang kuat? Kumpulkan bukti itu dulu, baru aku akan mengaku tanpa harus kau paksa.”

“Menarik. Baiklah, kami akan mendapatkan bukti yang kau inginkan.”

“Sudah selesai?”

“Byun Baekhyun, aku tidak akan melepasmu.”

Baekhyun sekuat tenaga menahan amarahnya karena tidak ingin ada yang mencurigainya hanya karena dia memukuli jaksa kurus itu. Baekhyun berdiri dan membuka pintu ruangan interogasi, tapi sebelum dia keluar, dia menatap jaksa itu dan tersenyum tipis padanya.

“Senang bertemu lagi denganmu, Kim Kibum-ssie.”

“Sudah lama sekali, bukan?”

“Ne, sudah lama sekali.”

Baekhyun keluar dan menutup pintu itu. Dia menghela nafas panjang lalu mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok yang sejak tadi menemaninya sampai ke kantor polisi.

“Dimana kau Park Chanyeol?”

Bukannya Chanyeol yang datang, tapi Minseok yang berlari ke arah Baekhyun dan langsung memeluknya.

“Ada apa ini, Hyung? Kenapa mereka menjadikanmu tersangka?”

“M-Minseok-a? Kenapa kau bisa di sini?”

“Chanyeol-hyung yang menyuruhku ke sini.”

“Lalu dimana dia?”

“Molla, aku belum melihatnya sejak tadi.”

“Jadi begitu. Yasudah, ayo kita ke apartemenku. Kurasa di sana lebih aman daripada di Apartemen.”

“Ne.”

Baekhyun menggenggam tangan Minseok, dan keduanya pergi ke tempat parkir. Saat mereka keluar, Luhan, Yixing, dan Yifan hanya bisa melihat mereka berdua sambil bernafas lega. Setidaknya sekarang Minseok bersama Baekhyun, dan itu lebih baik daripada dia sendirian, pikir ketiganya.

“Kenapa Baekhyun bisa menjadi tersangka penculikan adiknya sendiri?” tanya Luhan.

“Kenapa kau bertanya? Bukankah kau sudah tahu jawabannya?”

“Apa maksudmu, Yifan-ge? Oh, tunggu dulu, apa karena…”

“Iya. Daehyun yang menghilang itu bukanlah adik kandung Baekhyun, dan kau sudah tahu itu.”

“Iya, aku sudah tahu, tapi bukankah Baekhyun belum tahu?”

“Tentu saja dia tahu. Dia adalah kakak kandung Daehyun, jadi dia tidak mungkin tertipu dengan mudah.”

“Oh, pintar juga…”

“Kau berpikir kalau Baekhyun tidak mengenali adiknya?”

“Tentu saja aku berpikir begitu karena—“

“Karena?”

“Tidak apa-apa.”

“Tuan Lu, kami berharap Anda bisa menjaga rahasia ini,” ucap Yifan yang berubah serius.

“Ada apa denganmu? Kenapa tiba-tiba berbicara formal denganku?”

Yifan dan Yixing saling bertatap dan Yixing mengangguk setuju jika Yifan ingin mengungkap identitas asli mereka pada Luhan.

“Kami kira Anda tidak akan menyadari kalau Kim Minseok adalah Tuan Daehyun.”

“Yifan-ge, apa yang sedang kau bicarakan? Lay, tolong jelaskan padaku kenapa dia seperti itu?”

“Tuan Lu, kami adalah bodyguard di keluarga Byun. Dan sekarang kami bertugas untuk melindungi Tuan Daehyun dan Baekhyun dari orang-orang yang mengincar mereka,” jelas Lay.

“A-apa? Jadi kalian…”

“Kami melakukan ini untuk menjebak si pelaku yang sudah menyebabkan kecelakaan pada keluarga Tuan Byun Minho 19 tahun yang lalu. Kami yakin lambat laun si pelaku akan mengincar mereka berdua dan sepertinya sekarang mereka sedang beraksi,” ucap Yixing.

“Jadi kami meminta pada Anda untuk menyembunyikan identitas Tuan Daehyun sampai semuanya selesai,” kata Yifan.

“Hei-hei, apa yang sedang kalian bicarakan? Apa kalian sedang berlatih drama?”

“Tuan Lu, kami bersungguh-sungguh.”

Mendengar kalimat terakhir Yifan, pikiran Luhan mulai dipenuhi rasa takut. Apa yang harus dia lakukan untuk melindungi Minseok yang sedang diincar oleh komplotan penjahat yang kejam. Luhan cemas, dia sangat mencemaskan keselamatan Minseok.

“Lalu, apa yang harus kulakukan untuk melindungi Xiumin?”

“Tetaplah bersamanya, dan kami akan selalu ada di belakang kalian,” kata Yifan.

“Kalian, jadi selama ini kalian membohongi kami? Tidak apa-apa, aku senang karena kalian berbohong untuk menemukan pelaku itu. Aku harap kalian bisa secepatnya menemukan pelakunya.”

“Terimakasih atas kerja samanya, Tuan Lu.”

“Tapi kenapa aku? Kenapa Yifan-gege berpura-pura menjadi manajerku?”

“Karena orang-orang yang berhubungan dengan masa lalu Byun Daehyun mungkin saja akan terlibat dalam kasus ini.”

“Apa yang terjadi jika Xiumin mengingat masa lalunya?”

“Maka semuanya akan berakhir.”

“B-berakhir?”

“Ada kemungkinan mereka akan melakukan hal buruk selagi keduanya terpisah, dan akan lebih buruk lagi jika mereka bersatu.”

“Sebenarnya apa yang membuat si pelaku sangat membenci keluarga asli Xiumin?”

“Kami masih mencaritahu itu, tapi kemungkinan…karena masalah 20 tahun yang lalu, tentang kasus korupsi yang dilakukan oleh Kim Ilsook, ayah Kim Joonmyun.”

“Joonmyunie? D-dia?”

“Jika kami menelusuri jalan yang benar, maka dalang dari permainan ini adalah sahabatmu, Kim Joonmyun.”

“Tidak, itu tidak mungkin. Joonmyun adalah anak yang baik. Tidak mungkin dia…”

“Sayang sekali, Tuan Lu. Dia telah berbohong banyak hal padamu, mulai dari umurnya sampai latar belakang keluarganya.”

“Umur? Memangnya dia umur berapa sekarang?”

“28 tahun, setahun lebih tua dari umurmu.”

***

Di sepanjang perjalanan menuju apartemen Baekhyun-hyung, dia terus menggenggam tanganku dan aku bisa merasakan kecemasan di sana. Aku ingin tahu apa yang membuatnya cemas, apakah dia cemas karena Byun Daehyun? Atau Park Chanyeol? Aku ingin sekali bertanya, tapi tidak mau mengganggu ketenangannya.

Setibanya di apartemen, kami duduk di sofa ruang tengah dan dia langsung memelukku erat sehingga aku bisa merasakan jantungnya yang berdegup sangat kencang.

“A-ada apa, Hyung?” akhirnya setelah mengumpulkan cukup keberanian, aku bisa bertanya padanya.

“Aku sangat mencemaskanmu.”

“Mwo? Aku?”

“Iya. Tolong izinkan aku memelukmu seperti ini beberapa lama, Minseokkie.”

“N-ne…”

“Apakah Luhan bisa melindungimu dengan baik?”

“Kurasa bisa.”

“Apakah dia sangat mencintaimu?”

“Aku tidak tahu, tapi sepertinya iya.”

Baekhyun-hyung melepas pelukannya lalu menjitak dahiku pelan.

“Kenapa kau seperti tidak yakin begitu?” tanyanya.

“Eum…bukannya tidak yakin, tapi…”

“Tapi?”

“Aku takut terlihat berlebihan jika menjawab semua pertanyaanmu tadi dengan jawaban, iya.”

“Tidak apa-apa, Minseokkie. Kalau dia memang bisa melindungimu, maka aku tidak perlu cemas lagi.”

“Begitukah? Tapi kenapa Hyung mencemaskanku?”

“Tidak aneh kan kalau temanmu sendiri mencemaskanmu?”

“Ya…tidak aneh sih.”

“Aku tidak mau melakukan kesalahan untuk kedua kalinya pada Luhan. Aku akan segera meminta maaf padanya.”

“Benarkah?”

“Tentu. Aku rasa selama 19 tahun ini dia memendam benci padaku, jadi aku harus menebus kesalahan itu.”

“Hyung, apa kau tidak mencemaskan Dae—oh, maksudku Taeyong?”

“Tidak, untuk apa? Di mataku dia adalah salah satu dari komplotan penjahat yang ingin menyelakai keluargaku. Aku yakin, mereka sudah tahu kalau aku sudah tahu siapa dia, jadi mereka melakukan scenario ini.”

“Menurutmu, apakah mereka membunuh Taeyong?”

“Menurutku iya. Mereka berusaha membunuh Taeyong, tapi sepertinya belum.”

“Belum?”

“Untuk apa mereka susah-susah menyembunyikan jasad Taeyong?”

“Mungkin agar mereka tidak ketahuan?”

“Tidak, Minseok. Aku yakin mereka belum membunuh Taeyong. Jika mereka hanya meletakannya di sana, polisi hanya akan mencari pembunuhnya, tapi jika mereka sampai menyembunyikan jasadnya, maka polisi akan mencari pembunuh dan alasan kenapa Taeyong disembunyikan, jadi polisi akan mencari dua kali lebih dalam ketimbang kasus pembunuhan biasa. Seperti perkiraan jaksa tadi, dia bahkan sampai mencari masalaluku yang tidak diketahui banyak orang.”

“Oiya, kenapa kau dituduh menculik Taeyong?”

“Karena mereka mengira aku menyuruh Taeyong mengaku kalau dia bukan Daehyun dan kami terlibat pertengkaran. Mereka belum punya bukti kuat, jadi ini hanya pemeriksaan awal.”

“Itu benar-benar mengejutkan, aku kira…”

“Apa kau benar-benar mengira aku menculik Taeyong?”

“Kau berkata kalau Taeyong akan segera pergi, jadi aku mengira…”

“Hahahaha, itu hanya spontanitas, Minseokkie, karena aku yakin kelompok itu tahu kalau mereka gagal menipuku. Aku yakin ada orang dalam yang tahu kalau aku tidak tertipu.”

“Menurutmu, siapa itu?”

“Orang yang sangat mengenalku.”

“Apa maksudmu…”

“Ne. Park Chanyeol.”

***

Lee Soonkyu merapikan baju-bajunya lalu memasukannya ke lemari. Setelah menyelesaikan pekerjaannya, dia kembali ke ruang tengah untuk menemani ibu mertuanya yang sedang menghitung pengeluaran keluarga minggu ini.

“Eomma, apa kau tidak menemani Kyungsoo di rumah? Aku rasa dia membutuhkanmu. Sebentar lagi pengumuman kelulusan, bukan?”

“Jadi kau mengusirku?”

“Hahahaha, tidak-tidak. Aku hanya heran kenapa kau semakin sering meninggalkan Kyungsoo sendirian, padahal Minseok sedang tidak ada.”

Shinae meletakan pensilnya dan menatap Soonkyu lekat.

“Soonkyu-a, aku ingin bertanya padamu. Bagaimana perasaanmu saat anakmu tahu kalau kau berbohong padanya?”

“Pertanyaan yang sangat sulit, Eomma.”

“Ayolah, aku yakin pasti ada satu jawaban yang tepat.”

“Aku tidak akan pernah membohongi anakku lagi.”

“Walaupun kebenaran itu akan menyakitinya?”

“Ne, aku akan lebih menyesal jika tidak mengatakan yang sebenarnya.”

“Lalu apa yang akan terjadi jika kau mengatakan yang sebenarnya? Apakah anakmu akan meninggalkanmu?”

“Tidak, aku tidak berpikir akan seperti itu. Aku yakin itu adalah keputusan terakhir jika anakku sudah benar-benar kecewa atau jika aku tidak mau mengatakan yang sebenarnya.”

“Begitukah? Jadi menurutmu, aku harus jujur?”

“Jadi daritadi?”

“Aku tidak ingin Minseok pergi, Soonkyunie…”

Lee Soonkyu terkejut mendengarnya, tapi juga senang karena akhirnya Shinae menyadari kesalahannya.

“Kenapa Eomma tiba-tiba berpikir seperti itu?”

“Kyungsoo bilang, Minseok tersiksa dengan masa lalu yang tidak bisa diingatnya itu. Jadi aku berpikir, apakah aku harus menceritakan semuanya agar Minseok tenang…”

“Jika itu yang terbaik, menurutku Eomma memang harus menceritakannya.”

“Aku akan memikirkannya baik-baik.”

***

Setelah Baekhyun-hyung merasa baikan, aku pamit padanya karena hari sudah hampir malam. Dia bilang ingin mengantarku, tapi aku bersikeras menolaknya. Sebenarnya aku ingin pergi ke suatu tempat sebelum kembali ke apartemen. Aku ingin menceritakan semuanya pada Sehun, satu-satunya sahabat yang bisa kupercaya. Memang, aku masih punya Lu-ge dan Kyungsoo, tapi untuk saat ini, aku ingin menceritakannya pada Sehun.

“Sehun-a, apa kau sibuk?” tanyaku lewat telpon saat tiba di depan rumah sakit tempat dia bekerja.

“Tidak, sekarang aku baru mau pulang. Ada apa?”

“Aku ingin mengobrol denganmu.”

“Baiklah. Dimana kau? Aku akan menjemputmu.”

“Aku sudah menunggu di depan rumah sakit.”

“Oh, benarkah? Baiklah, aku akan segera ke bawah.”

Beberapa saat kemudian, Sehun datang dan langsung masuk ke mobilku. Aku tersenyum padanya dan dia membalasnya.

“Ada apa?”

“Ada banyak sekali yang kupikirkan.”

“Hahaha, kau tidak pernah berubah ya.”

“Ohya? Apa aku seperti ini dari dulu?”

“Tentu saja. Aku sudah mengenalmu sejak kecil, jadi aku benar-benar memahamimu. Ya…walaupun kita tidak dekat akhir-akhir ini, tapi aku masih mengenalmu dengan baik.”

“Apa aku seperti ini saat kabur dari rumah?”

“Eum…,” Sehun memperhatikan wajahku dengan seksama, “kurang lebih sama.”

“Menurut mereka, aku adalah orang yang tidak tahu apa-apa.”

“Maksudmu?”

“Mereka menyembunyikan sesuatu dariku dan berpedapat kalau aku tidak menyadarinya.”

“Aku masih tidak mengerti, siapa yang kau maksud mereka?”

“Eomma, Lu-ge, Kyungsoo, Chanyeol-hyung, Yifan-gege, dan Lay-hyung. Mereka menyembunyikan sesuatu dariku.”

“Menurutmu, apa yang mereka sembunyikan darimu?”

“Masa laluku. Aku yakin ada sesuatu yang penting di masa laluku terkait dengan mereka.”

“Bersabarlah, Minseok-a. Kau harus mengingatnya pelan-pelan.”

“Apa kau melihat berita pagi ini tentang kasus menghilangnya asistenku, Byun Daehyun?”

“Oh, iya, aku melihatnya. Apa kau sudah mendapat kejelasan?”

“Sehun-a, kenapa aku merasa hilangnya Daehyun sama seperti Appamu?”

“Apa yang sama?”

“Aku juga belum memastikannya, tapi aku merasa Daehyun melakukan sebuah pengorbanan besar yang mengantarkannya pada masalah ini.”

“Jadi maksudmu…”

“Iya. Ada orang yang menyuruhnya untuk melakukan sesuatu padaku, dan saat itu gagal…”

“Dia akan dibunuh?”

Aku hanya mengangguk ragu karena aku sendiri tidak yakin.

“Apa yang Daehyun lakukan?”

“Dia menyamar sebagai adik Baekhyun-hyung. Akan tetapi, Baekhyun-hyung tidak tertipu dan orang yang menyuruhnya tahu itu.”

“Bagaimana bisa orang yang menyuruhnya tahu?”

“Dari orang yang benar-benar dekat dengan Baekhyun-hyung.”

“Chanyeol?”

“Iya.”

“Jadi Chanyeol…”

“Molla, aku dan Baekhyun-hyung belum bisa memastikan itu.”

“Kalau kasus ini sama, seharusnya Daehyun melakukan kesalahan padamu. Apa itu?”

Kata-kata itu, kenapa aku tidak asing mendengarnya? Dimana aku mendengarnya?

“Minseok-a, apa yang sedang kau pikirkan?”

“Tunggu sebentar. Ah! Aku juga menanyakan itu pada Lu-ge, kenapa dia bisa berpikir kalau Daehyun melakukan kesalahan padaku.”

“Lalu apa katanya?”

“Dia langsung mengalihkan pembicaraan. Apa kau merasa itu aneh?”

“Iya, itu aneh. Perkataan refleks seseorang biasanya adalah kebenaran.”

“Benar. Kenapa Lu-ge tiba-tiba berkata seperti itu?”

“Kau harus memancing Luhan untuk mengatakan yang sebenarnya, Minseok-a, karena kemungkinan ini memang berkaitan dengan masa lalumu.”

“Kemudian kita bisa menemukan pembunuh Appamu.”

“Ne. Ah, aku teringat sesuatu. Beberapa hari yang lalu, saat aku bertanya pada dokter Park mengenai masa lalumu, dia bilang kau pernah mengalami koma karena demam, dan itu pertamakalinya kalian bertemu.”

“Koma karena demam?”

“Dia juga bilang, orang yang mengantarmu ke rumah sakit adalah Eommamu yang sekarang.”

“Jadi dia tidak bohong jika bertemu denganku saat demam?”

“Dia pernah bilang begitu?”

“Iya, saat aku dirawat setelah penyerangan itu. Lalu apa lagi yang dia katakan?”

“Dia tidak mau bercerita lagi, tapi kata-kata terakhirnya cukup membuatku kaget.”

“Apa itu?”

“Dia bersyukur sekarang kau tumbuh menjadi Kim Minseok.”

“Mwo?”

***

Malam sudah larut, tapi Luhan masih menunggu Minseok di depan pintu rumahnya sambil sesekali melihat ponselnya, kalau-kalau Minseok menghubunginya dengan ponsel Baekhyun.

“Xiumin-a…kau dimana, hah?”

Tap tap tap

Suara langkah berat datang dari arah tangga lalu berjalan mendekati Luhan. Luhan kira itu Minseok, tapi ternyata bukan.

“Oh, kau,” kata Luhan.

“Apa Minseok belum pulang?”

“Apa kau tidak lihat aku masih di sini? Tentu saja dia belum pulang.”

“Dia pasti senang bersama Baekhyun.”

Luhan tidak menanggapi pernyataan Chanyeol dan kembali bersandar di dinding, dan Chanyeol mengikuti gaya Luhan.

“Kau sangat mencemaskannya, bukan?”

“Kenapa kau terus bertanya hal yang mudah dijawab, hah?”

“Aku mencemaskannya, mereka berdua.”

“Mwo? Siapa maksudmu?”

“Baekhyun dan Minseok.”

“Oh, aku kira kau hanya mencemaskan Minseok.”

“Baekhyun adalah temanku sejak smp, jadi wajar jika aku mencemaskannya, bukan?”

“Iya…”

“Kau akan melindungi Minseok, kan?”

“Itu sudah pasti! Lalu apa hubungannya denganmu?”

“Mungkin aku tidak bisa melindunginya sebaik kau, Luhan.”

“Tolong jangan bertele-tele, apa sebenarnya yang kau inginkan?”

“Kim Minseok, Byun Baekhyun, aku mencintai mereka dengan cara berbeda.”

“Mwo? Aish…jangan menggantung ucapanmu seperti itu, Park Chanyeol!”

“Aku harus pergi sekarang. Tolong ingat pesanku ini, Luhan. Kau harus berada di samping Minseok apapun yang terjadi, karena mungkin suatu saat nanti, kalian tidak punya pilihan lain selain berpisah.”

“Apa kau menantangku?”

Chanyeol menggeleng lalu tersenyum lembut dan berkata, “Aku tidak bermaksud seperti itu, Luhan. Sampai jumpa.”

Chanyeol berbalik dan meninggalkan Luhan yang masih kebingungan dengan pesan terakhir Chanyeol.

“Huft, kenapa aku harus mendengar omong kosongnya? Tanpa disuruh pun aku akan berada di samping Xiumin apapun yang terjadi. Ada apa dengannya? Kenapa dia sangat aneh malam ini? Aish…Xiumin, kau dimana sih!!”

“Kau memanggilku?” tanya Minseok yang sudah berdiri di belakang Luhan.

“Wa!! Kau mengagetkanku!!”

***

Setelah mengantar Sehun pulang, aku kembali ke apartemen. Aku berjalan perlahan dari mobilku ke tangga lantai dua. Sambil berjalan, aku memikirkan percakapanku dengan Sehun sebelum berpisah.

“Minseok-a, apa kau mau melakukan terapi agar ingatanmu kembali?”

“Adakah terapi seperti itu?”

“Bukan terapi secara langsung, tapi mungkin akan berguna.”

“Bagaimana itu?”

“Kau bilang, kau akan berteriak histeris saat melihat kecelakaan bukan? Kita akan pergi ke lokasi kecelakaan keluarga Byun , sesuai dengan margamu, 19 tahun yang lalu. Aku yakin dengan sedikit bertahan, kau bisa menemukan ingatanmu lebih cepat.”

“Baiklah. Aku akan mencobanya.”

“Jangan ada orang yang tahu tentang terapi ini. Karena jika benar ada yang mengincarmu, maka itu akan berbahaya.”

Pengembalian ingatan…Apakah itu keputusan yang baik? Dan apakah aku bisa pergi tanpa diketahui Lu-ge? Aish…aku harus memikirkan itu mulai sekarang.

Oh? Bukankah itu Lu-ge? Apa yang sedang dia lakukan?

“Huft, kenapa aku harus mendengar omong kosongnya? Tanpa disuruh pun aku akan berada di samping Xiumin apapun yang terjadi. Ada apa dengannya? Kenapa dia sangat aneh malam ini? Aish…Xiumin, kau dimana sih!!”

“Kau memanggilku?”

“Wa!! Kau mengagetkanku!!”

“Hahaha~”

“Kau lewat mana?”

“Lewat tangga belakang, soalnya tangga depan ditutup karena kasus Daehyun.”

“Ooh…”

“Kenapa kau di luar, Lu-ge?”

“Aku sedang cari udara segar.”

“Jadi bukan karena menungguku?”

“Bodoh, kenapa harus bertanya kalau kau sudah tahu jawabannya? Seperti Park Chanyeol saja.”

“Chanyeol-hyung? Apa kau bertemu dengannya?”

“Iya, tadi dia kemari, tapi omongannya tidak jelas.”

“Tidak jelas bagaimana?”

“Dia menyuruhku untuk berada di sampingmu apapun yang terjadi, padahal aku akan melakukannya tanpa dia suruh.”

“Apa dia sudah lama pergi?”

“Tidak. Dia lewat tangga yang ditutup.”

Tanpa berpikir panjang, aku berlari ke tangga yang tidak jadi kulewati untuk mencari Chanyeol-hyung. Beruntung Chanyeol-hyung masih tertahan di tepi tangga untuk melewati palang pembatas polisi. Kupercepat langkahku dan akhirnya berhasil mencekal tangannya.

“Hyung,” kataku sambil terengal.

“M-Minseok-a?”

“Kita harus bicara.”

“Aku…”

“Kajja, karena jika tidak sekarang, mungkin kita tidak punya kesempatan lagi untuk ini.”

“Baiklah, aku mengerti.”

Chanyeol melepaskan tanganku dari lengannya lalu berganti menggenggam erat tanganku.

***

Aku dan Chanyeol-hyung pergi ke kedai pedagang kaki lima di dekat apartemen. Kami memesan soju dan beberapa makanan ringan. Dia menuangkan soju ke gelas kecilku dan gelasnya, sedangkan aku hanya bisa menatap gelas soju itu seraya memikirkan apa yang harus kutanyakan pertama kali.

“Ada apa, Minseok-a?”

“Sejak kapan…,” ucapanku menggantung saat hatiku menolak untuk menanyakan ini, tapi aku harus bertanya, “kau mencintaiku?”

Sesuai dugaanku, dia terdiam beberapa saat sambil memandangku. Kuangkat wajahku dan menatap mata sendunya.

“Sejak kita SMA.”

“Apakah sebelum kau mencintaiku, kau sudah mencintai Baekhyun-hyung lebih dulu?”

“Apa maksudmu?”

“Saat kau berpacaran denganku, apa kau tidak mencintaiku sepenuhnya?”

“Minseok, bukan seperti itu.”

“Lalu apa? Tolong jelaskan semuanya padaku, Hyung.”

“Kenapa kau bertanya seperti ini?”

“Karena aku mulai yakin, kalau kau sebenarnya tidak pernah mencintaiku.”

“Apa buktinya?”

“Apa kau ingat kenapa aku selalu iri pada kalian berdua? Itu karena aku bisa melihat Baekhyun-hyung di matamu. Hanya dia yang ada di matamu, bukan aku. Awalnya aku berpikir, mungkin karena kalian adalah sahabat sejak smp, jadi itu sudah biasa jika kau lebih memperhatikannya ketimbang aku. Akan tetapi, walaupun kau berkata kalau ingin mendapatkanku lagi, aku merasa semua itu hanya omong kosong. Bahkan hari ini, kau berkata pada Luhan untuk menjagaku. Apa maksudnya itu? Tidak, aku tidak cemburu sama sekali, tapi aku ingin kau jujur sebelum orang-orang yang kau sayangi lebih tersiksa lagi. Terutama Baekhyun-hyung.”

“Maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf.”

“Tidak, Hyung. Kau tidak seharusnya meminta maaf padaku, tapi katakan itu pada Baekhyun-hyung. Selama 7 tahun ini, aku yakin dia tersiksa.”

“Aku tidak bisa mengatakan yang sebenarnya sebelum semua selesai.”

“Apa sebenarnya yang harus kau selesaikan?”

“Sebuah perpisahan.”

“Nde?”

“Sebuah perpisahan yang indah, Minseok-a, itulah rencanaku.”

Chanyeol-hyung berdiri dan memasukan kedua tangannya ke saku mantelnya.

“Tenang saja. Aku akan selalu ada di pihak kalian. Aku akan selalu ada untuk Baekhyun apapun yang terjadi karena…aku mencintainya.”

Namja itu pergi tanpa berkata apa-apa lagi. Saat dia sudah benar-benar menghilang, kupandang gelas sojuku lagi. Ada banyak sekali yang kupikirkan dan belum semua kukatakan padanya. Aku benar-benar takut pada kenyataan. Aku takut jika apa yang diperkirakan Baekhyun-hyung benar-benar terjadi. Aku takut sekali…

Greb

 

Sesosok tubuh mendekapku dari belakang. Dia memberi kehangatan yang kubutuhkan, dan dia memang selalu ada setiap aku membutuhkannya.

“Aku takut sekali, Lu-ge…”

“Sssh, jangan memikirkannya jika itu menyakitimu, Xiumin-a.”

Aku tidak bisa lagi menahannya. Air mata yang mewakili rasa takutku itu keluar. Aku menangis sekencang-kencangnya seperti melepas semua bebanku. Aku ingin menyelesaikan semuanya supaya hatiku tidak sakit lagi. Aku ingin semua bisa kembali normal supaya aku tidak perlu melihat orang-orang yang kusayangi berada di jalan yang salah sepertiku.

#NOTE

Temen-temen, sepertinya aku akan hiatus selama kurang lebih 1 bulan lebih. soalnya dua minggu lagi aku uas, dan uasku berlangsung 3 minggu. Jadi dengan sangat menyesal aku memutuskan untuk hiatus nulis. Maaf banget karena terkesan nggak bertanggung jawab sama kalian 😦 tapi daripada php, mending aku kasih tahu ke kalian dari awal 🙂

Makasih yang udah setia ngikutin FF ini 😀 abis uas, aku akan fokus lagi sama FF ini! *yaiyalah harus Fie!* jadi…wait me~~~ 😀 berharap akan semakin baik 🙂

Advertisements

14 thoughts on “My Immortal Love is You _ XiuHan/LuMin (Bagian 12)

  1. fighting buat uas nya.. suksees..

    ditunggu yaah buat kelanjutannya.. yg pnting ngasih tau .. taun depan lanjutin yaa.. hihihi.

    fighting2!!!!

  2. Ngomong2 aku ngikut trus nih ff dri ep 1-12 .. kemaren cuma baca smpe 11 aja.. trus temen yg juga aku suruh baca ff ini bilang klo ep 12 udh keluar.. seneng nya nggak ke tolong!!! Smpe fans sma pembuat ny.. 😁 kk boleh minta pin bbm nggak??? Ak pengen bicara nih ama kk.. 😁😁 soal ny ak udh nggak sabar nih baca ff yg ke 13 dan seterus ny… semoga sukses ya kak uas ny.. doain ak juga ya hehe ^^ bls ya kak.. 👐

    • waduuh, jadi malu ni >_< hehehe.
      aku nggak ada bbm dek, adanya line 🙂 IDku Sufi Pertiwi hehe
      aku belum bikin yang ep13 dst dek 😦 hiks.
      oiya, makasih banyak ya udah baca 😀

  3. Ffnya makin seru (y)
    Sedikit demi sedikit masalah dr masa lalu sdh mulai keungkap..
    Junmyeon jahat bgt disini. Nggak bsa bayangin muka Suho jd org jahat :/ *noooo*
    Jd ceritanya Minseok umurnya dibuat yg paling muda di sini, kecuali ama Kyungsoo. Pdhl di dunia nyata dia yg plng tua. Tp cocok sih, secara Minseok kan ngegemessin. (jd inget ama generation show 😀 )
    Iyaa, gpp kok nunggu ampe sebulan. Gw rela nunggu. Yg pnting ffnya nggak stop ditengah jalan >_<
    Gw bahkan udah nunggu ff ampe setahun lbh, tp kgak dilanjut2 sma authornya 😥
    Keep writing!!! Next!

    • huaaa, aku juga nyesel SuHo yang jadi jahat di sini, tapi…nggak sengaja (?)
      Iya hehehe, akhirnya aku bisa bikin xiu paling muda O.O soalnya muka doi nggak sesuai umur si -_-
      Aku udah post yang 13 kok! 😀 selamat bacaaaa 😀
      makasih banyak udah baca 😀

  4. Huaaa~ akhirnya muncul juga chap 12nya 😀
    Kenapa orang-orang di ff ini pinter semua? Terus siapa yang bakal ketipu nanti? “ψ(`∇´)ψ aku iri sama mereka, mereka semua pinter dan gak mudah ketipu, tapi aku sering ketipu -_- haha
    Ughh greget sama Jaksanya, minta digigit.
    Jadi yang belum tau cuma Umin sama Baekkie doang?

    Makin penasaraann~ ≧﹏≦
    Eonnie semangat ya uasnya, semoga sukses dan bisa lanjutin ff ini lagi 😀 fighting! ‘-‘9
    Annyeong eonnie /lambai tangan bareng Xiuhan/

    • wkwkwk, terkesan lebay pinternya ya? abisnya pada nyembunyiin sesuatu masing-masing sih, jadinya aku kasihan kalau Xiu doang orang yang nggak tau.
      Jangan digigit, nanti nggak bisa ngebantuin Xiu-Baek dongggg *eh
      Iya, mereka belum tahu, tapi firasat si udah ada 😀
      iyaaaa, makasih banyak ya buat semangatnya n makasih udah baca 😀

  5. Ini cerita semakin ruwet deh :v ok deh di tunggu comeback nya author dari hiatus 1 bln lg semoga sukses untuk UAS nya ya FIGHTING!!!!! 😀

  6. wah. akhrnya update juga nh, bru tau sy kalo trnyta minseok 3thn lbh muda dari junmyoon sy kira mrka seumuran -_- lma klmaan ksus 19thn lalu bkal ketauan deh, hah tp kok td baek bs d kira yg culik daehyun plsu bknx yg nganiaya chanyeol yakk? Makin seru aja, lanjut yakk!!

    Yaah kok h!atusnya disaat2 ky gni :3 hiatusnya gk bs d tnda ya smpe nh ff kelar 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s