My Immortal Love is You _ XiuHan/LuMin (Bagian 11)

Tittle: My immortal love is you

Author: Fie

Genre: romance, family, drama, boyxboy

Length: Multichapter

Rated: T

Languange: bahasa

Pairing: LuMin/XiuHan

Cast:

– EXO XiuMin as Kim Minseok/XiuMin

– EXO Luhan as Xi Luhan

– EXO Chanyeol as Park Chanyeol

– EXO Baekhyun as Byun Baekhyun

– EXO SuHo as Kim Joonmyun

– EXO D.O as Kim Kyungsoo

– EXO Lay as Zhang Yixing

– EXO Kris as Wu Yifan

– EXO Sehun as Kim Sehun

– EXO Kai as Lee Jongin

– EXO Chen as Lee Jongdae

– EXO Tao as Hwang Zitao

– Super Junior Yesung as Kim Jongwoon

– SNSD Sunny as Lee/Kim Soonkyu

– Other….

“Sebuah cerita tentang kasih sayang yang akan terus abadi.”


 

ELEVEN – (don’t) Afraid

“Apa kau takut aku akan meninggalkanmu? Tidak, jangan takut karena aku tidak akan pernah meninggalkanmu.”

 

 

“Siapa namamu? Namaku Byun Daehyun. Kenapa kau sendirian? Hei…kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku? Apa kau tidak mendengarku? Atau…kau tidak mengerti omonganku? Aku bicara terlalu banyak, ya? Oh, maafkan aku…”

Luhan hanya bisa mengerjap-ngerjapkan matanya saat melihat anak yang kemungkinan lebih muda darinya mendekatinya dan bertanya banyak hal hanya dengan satu nafas. Luhan memang tidak bisa mengerti ucapan anak itu, tapi menurut Luhan anak itu luar biasa.

“Bolehkah aku duduk di sini?”

“E-eum…”

Daehyun duduk di samping Luhan lalu meletakan kapal kertasnya di samping kapal kertas Luhan yang sedang berenang bebas di kolam ikan yang tenang di sekolah mereka.

“Perahu hijau itu punyamu?”

“Iya…”

“Perahumu lebih bagus daripada buatan kakakku. Aku bingung…”

“Kenapa kau bingung?”

“Karena biasanya tidak ada yang bisa mengalahkan kakakku. Hei, kenapa bicaramu terbata? Kau bukan orang Korea, ya?”

“Ye…”

“Tenang saja. Bahasa Koreaku juga belum bagus. Hanya karena aku tinggal di Korea, aku jadi lebih bisa darimu. Kau belum menjawab pertanyaanku, siapa namamu?”

“Luhan, Xi Luhan…”

“Ah…Luhan…nama yang asing, tapi aku menyukainya!”

“Benarkah?”

“Iya! Aku bisa membuat lagu dengan nama itu!”

“Ha?”

“Besok aku akan menunjukan lagu buatanku padamu. Kita bertemu lagi di sini, ya?”

“I-iya…”

“Sampai bertemu besok, Luhannie!”

Daehyun berlari meninggalkan Luhan yang masih menatapnya bingung. Setelah Daehyun menghilang, Luhan berbalik dan melihat perahu putih di samping perahu hijaunya. Senyum Luhan mengembang, dia senang karena mendapatkan teman pertamanya di Korea.

“Byun Daehyun…aku juga menyukainya.”

Setelah meninggalkan Luhan, Daehyun berlari sampai ke kelas kakaknya. Dia memicingkan matanya ke segala arah sampai berhenti pada sosok kurus yang sedang membaca buku di pojok kelas. Daehyun kembali berlari lalu memelankan langkahnya saat hampir dekat dengan sosok itu.

“Hyung…,” panggil Daehyun sedikit berbisik.

“Aigo! Kau mengagetkanku, Daehyun-a!”

Daehyun hanya terkekeh sambil menggaruk kepalanya seperti merasa bersalah.

“Ada apa?”

“Hyung sedang apa?”

“Seperti yang kau lihat.”

“Apa aku mengganggumu?”

“Kenapa kau bersikap seperti orang dewasa, hah? Aku tidak bisa mengenali adikku sendiri kalau kau terus bersikap seperti itu.”

“Hehehe, aku juga tidak suka. Aku hanya meniru adegan di drama.”

“Anak macam apa kau ini? Masih kecil sudah menonton drama.”

“Setidaknya itu yang bisa menghiburku saat menunggumu. Kenapa Appa dan Eomma menyuruhmu belajar sampai larut, Hyung? Bukankah itu melelahkan?”

“Karena mereka menyayangiku, dan aku tidak pernah lelah dengan itu.”

“Lalu bagaimana denganku? Apa mereka tidak menyayangiku jadi aku tidak disuruh belajar sampai larut?”

“B-bukan begitu, tapi belum saatnya.”

“Ooh…”

“Ngomong-ngomong kenapa kau ke sini? Kelasmu sudah selesai?”

“Sudah.”

“Lalu?”

“Ada anak yang bisa membuat perahu yang lebih bagus daripada buatanmu, Hyung!”

“Mwo? Nugu?”

“Aku belum begitu mengenalnya, nanti akan kukenalkan jika kami sudah dekat.”

“Ey…”

“Aku ingin membuat lagu dari namanya, Hyung! Apa kau bisa membantuku nanti malam?”

“Tentu.”

“Baiklah, aku pergi dulu!”

“Iya, jaga dirimu baik-baik, Daehyun-a.”

“Ne!”

Saat Daehyun kembali berlari, Baekhyun memandangi punggung Daehyun lekat.

“Aku juga tidak mengerti kenapa mereka tidak memperlakukanmu sama denganku. Apa mereka tidak menyayangimu? Atau…terlalu menyayangimu?”

Daehyun menunggu kakaknya di ruang tengah sambil membawa kertas dan pewarna. Malam ini dia akan membuat lagu tentang Luhan bersama Baekhyun. Daehyun melirik jam dinding yang jarum pendeknya berada di angka 11.

“Hyung, kau kemana…”

Daehyun duduk lalu menulis nama Luhan sebagai judul dari lagunya. Sesekali, digambarnya bunga dan matahari di sisi kertas kosong itu.

“Sudah jam setengah 12…”

Daehyun terus menatap pintu masuk ruang tengah sambil berharap cemas karena tidak biasanya Baekhyun setelat ini.

“Tuan Daehyun, ini sudah sangat larut.”

“Tunggu dulu, Yifan-hyung aku masih menunggu Baekhyun-hyung.”

“Ah, apakah Anda tidak tahu kalau sore ini Tuan Baekhyun pergi ke luar kota?”

“Mwo?”

“Mungkin Tuan Baekhyun lupa memberitahu Anda karena Tuan dan Nyonya Byun mendadak langsung mengajaknya tadi sore.”

“Jadi mereka menginap?”

“Sepertinya begitu.”

“Oh…yasudah, aku akan kembali ke kamar.”

“Sebaiknya Anda tidur sekarang, Tuan Daehyun.”

“Tidak, aku harus membuat lagu untuk Luhan.”

“Untuk siapa?”

“Untuk teman baruku di sekolah! Dia berbeda kelas dengan Baekhyun-hyung, dan sepertinya mereka tidak berteman. Luhan sangat hebat, Hyung! Dia membuat perahu yang lebih bagus daripada buatan Baekhyun-hyung.”

“Sulit dipercaya.”

“Aku akan membuat lagu sebentar. Pai-pai!”

“Tuan Daehyun, sebaiknya Anda tidak memanggil saya ‘hyung’ karena saya hanya bodyguard Anda.”

“Apa itu bodyguard?”

“Bodyguard adalah penjaga.”

“Kalau begitu kau sama dengan Hyungku, bukan?”

“E-euh…itu…”

“Aku menganggap semua yang ada di sini adalah keluargaku.”

Saat Daehyun berlari ke kamar, Wu Yifan memandangi Daehyun sambil tersenyum.

“Dia sangat baik, dan kuharap dia akan seperti itu sampai kapanpun.”

Daehyun memandang kertas kosong di depannya sambil tersenyum, tapi senyum itu tidak bertahan lama. Saat senyum itu memudar, airmata Daehyun perlahan menetes dan membasahi kertas itu.

“Kenapa hanya Baekhyun-hyung yang diajak? Kenapa bukan aku?”

Daehyun menyeka airmatanya lalu kembali tersenyum.

“Daehyun-a, kau tidak boleh berkata seperti itu lagi, arra? Appa, Eomma, dan Hyung sedang pergi karena mereka mencari sesuatu untukku! Aku benar, kan? Baiklah…sekarang apa yang akan kutulis di sini…”

Daehyun mengayunkan pensilnya sambil berpikir keras.

“Luhan…apa yang akan kutulis, ya…”

Byun Daehyun terbangun dengan melonjak saat tahu dirinya ketiduran selagi membuat lagu untuk Luhan.

“Aigo! Bagaimana ini? Lagunya-lagunya? Ah…untung sudah jadi…”

Seperti anak yang tidak kenal lelah, Daehyun segera berlari keluar untuk mencari Baekhyun.

“Yifan-hyung! Apakah Eomma, Appa, dan Baekhyun-hyung sudah kembali?”

“Belum, Tuan.”

“Yah…terpaksa aku pergi sendiri ke sekolah…”

“Tenang saja, Tuan. Saya akan mengantar Anda.”

“Yifan-hyung, bisakah kau memanggilku dengan nama saja? Aku risih mendengar sebutan tuan.”

“Tidak bisa, Tuan.”

“Huft…Baekhyun-hyung selalu mendengarkanku, tapi kenapa kau tidak?”

“Karena saya…harus menjalankan tugas saya, Tuan.”

“Baiklah, sekarang aku mau mandi setelah itu kita pergi ke sekolah, ya!”

“Tentu.”

“Yifan-hyung, apa kau akan meninggalkanku?”

“Apa?”

“Tidak apa-apa. Aku mandi dulu, pai-pai!”

Setibanya di sekolah, Daehyun langsung berlari menuju kolam ikan yang kemarin, dan ternyata Luhan sudah menunggu di sana sesuai janji mereka.

“Luhan-hyung!”

“Oh, kau benar-benar datang.”

“Tentu saja. Seorang Byun Daehyun tidak akan mengingkari janjinya!”

“Hahaha. Jadi…apa kau sudah membuatnya?”

“Tentu. Tapi maaf, laguku mungkin tidak bagus karena Hyungku tidak membantu.”

“Aku belum mendengarnya, jadi belum tentu tidak bagus.”

“Baiklah…”

Daehyun menyanyikan lagu buatannya dengan lantang. Lagu Daehyun memang tidak bagus, tapi bagi Luhan, lagu itu adalah lagu terbaik untuknya. Airmatanya tanpa sadar menetes.

“Ho? Ini bukan lagu sedih, kenapa kau menangis?” tanya Daehyun.

“Aku tidak tahu.”

“Sudah-sudah, jangan menangis…”

“Ne, aku tidak akan menangis. Oiya, aku baru sadar kalau kemarin kau tidak memanggilku Hyung.”

“Hehehe, aku lupa.”

“Kau masih kelas 1 bukan?”

“Iya.”

“Lagumu sangat bagus walaupun kau masih kelas 1.”

“Benarkah?”

“Benar!”

“Gomawo!! Aku kira lagu ini sangat buruk.”

“Tidak-tidak, lagu ini sangat bagus. Terimakasih, ya. Dan mulai sekarang, bisakah kau memanggilku Lu-ge?”

“Lu-ge?”

“Iya, Gege adalah bahasa Mandarin dari Hyung, dan Lu adalah nama depanku.”

“Baiklah…”

“Terimakasih karena mau menjadi temanku, Daehyun-a.”

“Dengan senang hati.”

“Boleh kutahu, kenapa kau langsung menghampiriku kemarin?”

“Karena aku tidak suka melihat orang sendirian.”

“Apa?”

“Aku sudah sering sendiri, jadi aku tahu kalau sendirian itu tidak enak. Aku tidak mau kau seperti itu juga.”

“T-terimakasih.”

“Kau bisa berteman dengan Hyungku, tapi mungkin agak susah karena saat dia belajar tidak ada yang boleh mendekatinya.”

“Bahkan adiknya sendiri?”

“Tidak-tidak, kalau aku istimewa!”

“Ah…”

“Tapi aku yang tidak mau mendekatinya.”

“Kenapa?”

“Aku tidak mau mengganggu Hyungku. Karena jika Hyungku mendapat nilai jelek, dia akan dimarahi Appa dan Eomma. Jadi lebih baik aku tidak mendekatinya.”

“Tapi kau akan sendirian jika tidak ada hyungmu, bukan?”

“Rasanya tidak enak, tapi aku tidak bisa mendekati Hyungku.”

“Kalau begitu, bagaimana jika aku yang menemanimu?”

“Benarkah?”

“Iya. Di mana rumahmu? Aku akan sering main ke rumahmu.”

“Kalau begitu, nanti kau ikut saja ke rumahku! Bagaimana?”

“Baiklah, aku setuju!”

Daehyun mengambil kotak mainannya dan membuka penutupnya. Luhan cukup takjub melihat seluruh mainan Daehyun.

“Kau boleh memainkan semuanya, Lu-ge.”

“Benarkah?”

“Tentu!”

“Daehyun-a, bisakah kau mengajariku hangul? Aku kesulitan belajar di sekolah karena bahasa…”

“Oh, tentu saja! Lupakan mainan-mainan ini! Kita akan belajar hangul mulai sekarang! Tapi, aku juga mau belajar bahasa Mandarin. Boleh, kan?”

“Siap!”

Semenjak hari itu, setiap hari saat Daehyun sedang menunggu Baekhyun keluar kelas untuk kelas tambahan, Luhan dan Daehyun akan pergi ke kolam ikan dan mengobrol bermacam-macam hal juga belajar bahasa mereka masing-masing.

Akan tetapi, mereka tidak sadar jika banyak orang yang tidak menyukai Luhan berteman baik dengan Daehyun karena Luhan adalah satu-satunya murid China di sekolah itu.

“Hei, lihat, bukankah itu Byun Daehyun? Apa aku tidak salah lihat?”

“Memangnya kenapa?”

“Dia bersama namja China yang baru pindah sebulan yang lalu ke kelas sebelah.”

“Oh, benarkah? Kenapa Daehyun mau berteman dengan dia?”

“Aku tidak tahu. Kurasa kakaknya tidak menjaga Daehyun dengan baik.”

“Iya, aku kasihan pada Daehyun, anak itu sering sendirian menunggu Baekhyun. Kenapa Baekhyun tega sekali padanya, ya?”

“Anak perfeksionis seperti Baekhyun tidak akan peduli pada adiknya, aku yakin.”

“Benar juga. Lihat-lihat, tidak ada anak lain yang mau berteman dengan Daehyun karena namja itu.”

“Oh, mereka menjauhi Daehyun…”

Baekhyun bisa mendengar itu dengan jelas. Tangannya mengepal kuat saat mendengar ucapan teman-teman sekelasnya dari balik pintu kelas. Gemeretak gigi Baekhyun terdengar jelas tanda dia benar-benar marah.

“Jadi orang yang selama ini dekat dengan Daehyun adalah namja China itu? Aku tidak akan membiarkan anak itu mendekati adikku!”

Baekhyun menggebrak pintu kelasnya, membuat kaget dua orang yang sedang membicarakannya, lalu berlari keluar menuju tempat Daehyun dan Luhan sedang mengobrol. Tanpa basa-basi, Baekhyun menarik kerah seragam Luhan dan mendorong tubuh Luhan sampai jatuh ke tanah. Ditahannya tubuh itu dengan tubuhnya lalu Baekhyun menarik kerah baju Luhan sekali lagi.

“Kau, jangan pernah kau mendekati adikku lagi!”

 

BUG

 

Baekhyun memukul pipi Luhan sekuat tenaga sampai mulut Luhan mengeluarkan darah. Daehyun yang melihat itu hanya bisa berdiri mematung.

“Apa maksudmu? Aku tidak pernah menyakiti Daehyun!”

“Hyung!” seru Daehyun saat Baekhyun kembali memukul pipi Luhan.

“Sudah kubilang jangan dekati adikku!”

“Hyung, hentikan!!”

“Kalau kau mendekati adikku, dia akan diejek oleh teman-temannya! Sebaiknya sekarang kau pergi!”

Dengan segenap keberanian, Daehyun mendorong Baekhyun dan melindungi Luhan dengan tubuhnya.

“Tolong jangan pukuli Lu-ge, Hyung!”

Luhan melihat Daehyun menangis untuk pertamakalinya. Hatinya terluka saat airmata itu menetes di pipinya.

“D-Daehyun-a…”

Ini pertamakalinya ada orang yang menangis untuknya.

“Daehyun-a, aku akan memukulinya lagi jika kau tidak menjauhinya. Apa kau tahu apa kata orang saat melihat kalian bersama, hah?”

“Aku menyayangi Lu-ge, Hyung!”

Baekhyun tidak kuasa menahan amarahnya, dia mendorong Daehyun hingga tubuh itu tersungkur di tanah. Luhan hendak menolong Daehyun, tapi Baekhyun sudah terlebih dahulu menarik bajunya dan bersiap memukuli Luhan lagi.

“A-arra…,” ucap Daehyun saat tangan Baekhyun hampir sampai di pipi Luhan, membuat kedua namja itu memandangnya heran.

“Arra…aku akan menjauhi Lu-ge, aku berjanji…”

Mendengar itu, Baekhyun melepas pegangannya pada Luhan dan mengulurkan tangannya pada Daehyun untuk membantunya berdiri.

“Daehyun-a…”

Luhan memandangi Daehyun dari jauh. Daehyun sedang menunggu kelas Baekhyun selesai sambil menggambar. Tanpa sadar, Luhan berjalan mendekati Daehyun. Daehyun yang melihat Luhan mendekatinya langsung berdiri dan memeluk erat buku gambarnya.

“Daehyun-a…”

“Pergi!!”

Kelopak mata Luhan melebar saat Daehyun mengusirnya.

“Pergi! Jangan sampai Hyungku memukulimu lagi, Lu-ge! Aku tidak ingin kau terluka! Pergi! Jebal…”

“Daehyun-a…”

Daehyun langsung berlari tanpa memandang Luhan lagi. Dia terus berlari dan bersembunyi agar Luhan tidak menemukannya.

“Aku tidak ingin kau terluka, Lu-ge…karena aku menyayangimu…”

Saat punggung Daehyun sudah tidak terlihat lagi, Luhan menatap surat pengunduran dirinya yang sudah dia remas sampai membentuk bola. Dibukanya kertas itu dan menatap isinya lekat.

“Aku akan kembali, Daehyun-a, dan saat aku kembali, aku tidak akan melepasmu lagi.”

***

“Jangan sampai Hyungku memukulimu lagi, Lu-ge! Aku tidak ingin kau terluka! Pergi! Jebal…”

Aku tidak tahu kenapa kata-kata itu keluar dari mulutku. Saat aku mengucapkannya, Luhan perlahan menjauhiku. Sekilas aku melihat wajahnya dipenuhi kecemasan, tapi aku belum bisa mengendalikan kelakuanku.

“X-Xiumin, kau siapa?”

Saat Luhan bertanya seperti itu, airmataku mengalir tanpa sadar. Nafasku memburu seperti orang kelelahan. Terdengar gigiku yang gemetar karena sekarang aku ketakutan entah apa penyebabnya. Kudekap kakiku sambil sekuat tenaga menahan ketakutanku.

“Xiumin?”

Kenapa bayangan itu tiba-tiba mucul lagi? Tuhan, tolong jangan siksa aku seperti ini…

Kurasakan tangan Luhan meraih tubuhku lalu mendekapnya erat. Aku bisa merasakan detak jantung Luhan berdebar sangat kencang, pertanda namja itu juga ketakutan.

“Kau kenapa?”

“Lu-ge, apa kita pernah bertemu 19 tahun yang lalu?”

“Apa?”

“Aku tidak tahu kenapa tiba-tiba saja…”

“Sssh, sudah-sudah, kau harus tenang. Kau tidak boleh berusaha terlalu keras jika itu hanya menyakitimu.”

“Aniyo…aku harus bisa mengingat semuanya, Lu-ge. Karena mungkin saja, setelah aku mengingatnya, semua masalah akan terpecahkan.”

“Tidak, Xiuminku. Sekarang kau harus tenang dan lupakan semuanya sejenak.”

Luhan benar. Sebaiknya aku tidak mengingat masalah itu dulu karena tenagaku seperti terkuras habis saat mengingatnya.

“Aku akan ada di sisimu, selalu. Jadi kau tidak perlu khawatir tentang cinta pertamaku atau orang yang akan mengganggu hubungan kita. Aku berjanji…”

Kueratkan pelukanku padanya karena aku takut sekali kehilangan Luhan.

“Aku mencintaimu, Xiumin-a, sangat mencintaimu…”

***

Luhan memandangi wajah Minseok saat namja itu sudah tertidur lelap. Kata-kata yang dilontarkan Minseok barusan akhirnya menyadarkan Luhan akan sesuatu.

“Kau adalah dia.”

Tok tok tok

 

Luhan menoleh ke arah pintu dan mendapati Kyungsoo berdiri.

“Masuklah, tapi jangan berisik.”

Kyungsoo masuk lalu berdiri di samping Luhan sambil menatap Minseok juga.

“Kau sudah tahu, bukan?” tanya Kyungsoo.

“Mengenai apa?”

“Siapa dia sebenarnya.”

“Ha? Bagaimana…”

“Aku mendengar percakapan kalian di rumah pohon tadi.”

“Jadi kau juga sudah tahu?”

“Waktu itu aku ragu, tapi sekarang aku yakin kalau Minseok-hyung adalah dia.”

“Iya. Dia adalah cinta pertamaku, orang yang selama ini kucari. Byun Daehyun.”

***

Pagi harinya, saat Minseok membuka mata, dia bisa melihat Luhan sedang tertidur pulas disampingnya. Minseok hanya bisa mengerjap-ngerjapkan mata karena sedikit terkejut melihat Luhan tidur sambil menggenggam tangannya. Dari jarak sedekat ini, Minseok bisa melihat detail wajah Luhan yang indah dan Minseok hanya bisa tersenyum malu karena mengingat namja tampan ini adalah pacarnya.

“Luhan-a, gomawo…”

“Kenapa kau berterimakasih, hah?” kata Luhan seraya membuka matanya.

“L-Lu-ge, kau sudah bangun?”

“Bagaimana aku bisa tidur jika kau terus menatapku seperti itu?”

“Aniya…aku hanya…”

cup

 

Luhan mengecup bibir Minseok singkat, tapi berhasil membuat wajah namja itu memerah. Akan tetapi, berbeda dengan hari biasa, kali ini Minseok tidak langsung mengusir Luhan saat namja itu menciumnya tiba-tiba, Minseok hanya terus menunduk karena tidak berani menatap mata Luhan.

Melihat itu, Luhan tertawa kecil lalu mengangkat wajah Minseok untuk menghadap padanya.

“Jangan menunduk, Xiuminnie.”

“E-euh…”

“Apa kau sudah baikan?”

“Eum…”

“Kau harus fokus pada film pertamamu, ya? Jangan memikirkan yang lain dulu.”

“Ne…”

“Anak pintar. Ayo bangun. Kalau Eommamu tahu aku tidur di sini, bisa-bisa aku tidak boleh lagi berkunjung kemari.”

“Jadi Kyungsoo mengizinkanmu tidur denganku?”

“Tentu.”

“Aneh…”

Luhan dan Minseok bangun bersamaan, tapi mereka tidak langsung bangkit dari tempat tidur.

“Apa kau lihat luka memar di sini, lalu di sini, di sini? Itu hasil perkelahianku dengan Kyungsoo!”

“Mana? Sepertinya baik-baik saja.”

“Huft…susah punya pacar cuek.”

“Hahaha, walaupun Kyungsoo suka marah-marah, tapi dia bukan tipe orang yang suka berkelahi jika tidak terdesak.”

“Baiklah, aku memang tidak bisa membohongimu.”

“Ayo, Lu-ge, kita keluar.”

“Kau duluan saja, aku akan keluar setelahmu.”

“Kenapa?”

“Kan sudah kubilang tadi, kalau Eommamu tahu…”

“Ah, benar juga.”

Saat Minseok hendak bangkit dari kasur, Luhan langsung menarik tangan Minseok dan memeluk namja itu erat.

“Lu-ge, kenapa tiba-tiba…”

“Aku tidak mau kehilanganmu, Xiumin.”

“Iya-iya, aku tidak akan kemana-mana, sekarang lepaskan aku karena aku mulai sesak nafas, Lu-ge.”

Setelah puas memeluk Minseok, dilepasnya tubuh itu. Minseok tersenyum sekali lagi lalu keluar. Sesaat setelah Minseok keluar, Luhan langsung tersenyum sambil menghela nafas lega.

“Ternyata aku tidak kehilangan dia. Tuhan, tolong jangan pisahkan kami lagi.”

***

Setelah keluar dari kamar, aku pergi ke dapur untuk minum. Akan tetapi, langkahku terhenti saat melewati ruang tengah, kulihat Kyungsoo sedang merapikan kotak vcd. Karena penasaran, aku menghampirinya dan duduk di sampingnya.

“Tumben kau beres-beres.”

“Hehe…”

“Hei, kenapa kau membiarkan Luhan tidur denganku?”

“Tidak ada alasan khusus.”

“Iya, tapi itu aneh.”

“Bukankah Luhan-hyung bersungguh-sungguh denganmu?”

“Maksudmu?”

“Nanti kau akan tahu sendiri.”

Sikap Kyungsoo pagi ini tidak biasa. Dia terlihat lebih…dewasa?

“Hari ini sampai 3 bulan ke depan kita akan jarang bertemu,” ucapku seraya memeluk Kyungsoo dari belakang.

“Eoh.”

“Apa yang akan kau lakukan saat aku tidak ada?”

“Kenapa kau bertanya? Bukankah dulu kau pernah pergi selama 4 tahun?”

“Kyungsoo-a, jangan bersikap begini dong. Apa kau cemburu karena aku tidur dengan Luhan?”

“Mwo? Cemburu?”

“Hahaha, jangan seperti ini, Kyungie, aku tidak bisa mengenali adikku sendiri.”

“Benarkah?”

“Apa yang sedang kau pikirkan?”

“Apanya?”

“Aku tahu kau sedang memikirkan sesuatu. Katakanlah.”

“Hyung akan tahu nanti.”

“Baiklah, aku akan menunggunya.”

Kulepas pelukanku darinya dan pergi ke dapur. Di setiap langkahku menuju dapur, aku bertanya-tanya, apa yang sedang dipikirkan anak itu, ya? Aku benar-benar penasaran.

***

Setelah mengepak semua barang yang kubutuhkan, Kyungsoo membantuku memasukan semuanya ke bagasi mobil.

“Ini untuk persediaan makanan beberapa minggu. Kau akan tinggal dengan Yixing, Yifan, dan Luhan, bukan? Semuanya cukup untuk kalian, tenang saja.”

“Eomma, memangnya kami tidak diberi makan di sana?”

“Kau harus memakan semuanya, arra? Jika sudah habis, kau bisa menghubungi Ibu supaya aku mengirimnya lagi.”

“Ey…punggungmu akan patah jika terus-terusan memasak, Eomma,” ledekku dan langsung dibalas dengan pukulan darinya.

“Sekarang aku tidak terlalu sedih saat melepasmu, tidak seperti 4 tahun yang lalu.”

“Apa Eomma berniat membalasku? Aish…”

“Apa karena sekarang kau punya mereka?”

“Mereka?”

“Luhan, Yixing, dan Yifan. Mereka akan menjagamu, kan?”

“Tentu…”

“Tolong jaga dirimu baik-baik.”

“Eomma juga harus begitu. Aku pergi dulu, ya.”

Eomma mengangguk lalu melepas pegangannya padaku. Saat pegangan kami terlepas, entah kenapa perasaanku terasa sangat berat.

***

Kim Shinae menatap mobil yang membawa anaknya menjauh sampai akhirnya menghilang. Nafasnya tiba-tiba menjadi sesak saat melihat Minseok, anak yang sangat disayanginya, kembali pergi.

“Eomma, ayo masuk.”

“Eoh…”

Setelah mereka masuk, Kim Shinae langsung pergi ke kamarnya dan mengambil berkas kesehatan Minseok. Ditatapnya berkas itu lekat sambil mengingat perkataan Park Jungsoo kemarin.

“Sehun sudah tahu kalau Kim Minseok bukan anakmu.”

“Mwo? Darimana?”

“Apa kau menyembunyikan berkas kesehatan Daehyun dengan baik?”

 

 

“Aku tidak ingin kau pergi, Minseok.”

Kim Shinae mengambil ember besi dan korek api serta minyak tanah untuk membakar berkas kesehatan Minseok.

“Aku tidak ingin ada orang yang tahu kalau kau adalah Byun Daehyun, Minseok-a. Aku akan melindungimu bagaimanapun caranya.”

Kim Shinae melempar berkas itu ke ember besi dan menyiraminya dengan minyak tanah. Tangan Shinae bergetar saat memegang korek api. Dipantiknya korek api itu dan menatap sekali lagi berkas kesehatan Minseok.

Airmata Shinae menetes, dan dengan nafas berat, Shinae menjatuhkan korek api yang menyala itu ke ember dan api langsung berkobar membakar berkas itu.

“Eomma!!”

Kyungsoo yang melihat kejadian itu langsung pergi ke kamar mandi dan mengambil air untuk memadamkan api. Saat dia tiba, ibunya sedang duduk di lantai sambil menangis. Melihat ibunya menangis seperti itu, tangan Kyungsoo melemas sehingga ember berisi air yang dipegangnya jatuh.

“Sebenarnya, apa yang sedang Eomma sembunyikan?”

“Hyungmu…”

“Mwo?”

“Aku tidak ingin dia pergi.”

“Apakah yang sedang Eomma bakar adalah…”

“Ne, sepertinya kau juga sudah tahu, aku membakar semua bukti kalau dia bukan anakku.”

“Wae?”

“Karena dia adalah kakakmu, Kyungsoo-a…karena dia kakakmu…”

“Dia akan menjadi kakakku apapun alasannya. Mau sampai kapan Eomma menyiksa Minseok-hyung? Dia ingin bertemu dengan keluarga aslinya, Eomma.”

“Tidak ada gunanya Minseok bertemu dengan keluarga aslinya.”

“Kenapa?”

“Karena itu hanya akan menyakitinya.”

***

Minseok, Yixing, Yifan, dan Luhan tiba di tempat syuting. Suasana di sana sudah cukup ramai, termasuk Tuan Xia, Baekhyun, dan Daehyun ada di sana. Baekhyun melambaikan tangannya pada keempat namja itu dan dibalas dengan lambaian dari Minseok.

Luhan yang melihat Baekhyun melambai terlihat tidak senang karena dia ingat kejadian 19 tahun yang lalu, saat Baekhyun melarangnya berteman dengan Minseok.

Luhan menarik tangan Minseok saat namja itu hendak berlari menghampiri Baekhyun.

“Ada apa, Lu-ge?”

“Jalan biasa saja. Kau tidak lihat kondisi tanah di sini? Kau bisa terjatuh karena batu-batu ini.”

“Kalau aku jatuh, kau akan menangkapku, kan? Iya, kan?”

“I-iya…”

“Jadi aku tidak perlu cemas karena kau selalu di sampingku.”

“Tapi tetap saja—“

“Sssh, aku tidak mau kau terlalu berlebihan di tempat umum, Lu-ge, kita bisa ketahuan.”

“Iya…”

“Hahaha, kau sangat cemas gara-gara semalam, ya? Tenang saja, jika kepalaku ini bisa dikontrol, aku akan baik-baik saja.”

“Apa itu sakit, saat kau mencoba mengingat masa lalumu?”

“Ne. sangat sakit, tapi setelah melihatnya perasaanku menjadi lebih lega.”

“Oh, kalau begitu pelan-pelan saja.”

“Tentu.”

Saking asiknya mengobrol, mereka tidak sadar jika Baekhyun sudah berada di samping keduanya.

“Apa yang kalian bicarakan?” tanya Baekhyun.

“Oh, bukan apa-apa, Hyung. Apa kau akan tinggal di sini juga?” tanya Minseok.

“Tidak, aku hanya akan memantau seminggu sekali.”

“Yah…sayang sekali…”

“Hahahaha. Ngomong-ngomong, bisakah aku bicara dengan Minseok berdua saja?” tanya Baekhyun pada Luhan yang masih memegangi tangan Minseok.

“Kenapa?”

“Ada hal penting yang harus kubicarakan dengannya.”

“Lu-ge…”

Dengan berat hati, Luhan melepas genggaman itu dan harus melihat Baekhyun membawa Minseok. Luhan hanya bisa menghela nafas kesal sambil berjalan menghampiri Yifan dan Yixing.

“Kau kenapa? Sepertinya ada yang mengganggumu,” ucap Yifan seraya memberikan kopi hangat pada Luhan.

“Tidak ada apa-apa.”

“Tenang saja, Baekhyun dan Minseok hanya berteman.”

“Aku tahu.”

“Kalau kau tahu, kenapa wajahmu seperti itu?”

“Seperti apa?”

“Seperti singa yang sedang menunggu mangsanya,” timpal Yixing sedikit bercanda.

“Huft…bukan urusan kalian,” ucap Luhan seraya menyesap kopinya.

Iya, aku tahu mereka tidak akan saling suka karena bagaimanapun mereka itu bersaudara. Yang mengganggu pikiranku, bagaimana jika Baekhyun melarangku berteman dengan Xiumin jika dia tahu Xiumin adalah Daehyun?

“Luhan?”

Luhan menoleh pada orang yang memanggilnya, Daehyun palsu.

“Iya?”

“Apa kau Luhan yang dulu?”

“Nde?”

“Apa kau tidak ingat aku? Aku Byun Daehyun.”

“Oh. Tentu, aku ingat.”

Apa-apaan orang ini? Bagaimana dia bisa menyamar menjadi Byun Daehyun? Aku penasaran kenapa Baekhyun bisa tertipu, bukankah orang itu sangat pintar? Huh, ternyata dia bisa bodoh juga.

“Aku menyesal kita berpisah dulu,” ucap Daehyun.

“Iya, aku juga.”

“Jadi…apa kau sudah punya pacar?”

“Sudah.”

“Ah…aku benar-benar kecewa mendengarnya. Aku kira kau akan menungguku.”

“Aku memang menunggumu.”

“Benarkah?”

“Iya.”

“Kalau kau menungguku, kenapa…”

“Kau akan mengerti nanti, Daehyun-ssie.”

Luhan menepuk-nepuk kepala Daehyun lalu mengajak Yixing dan Yifan untuk melihat rumah baru mereka.

***

Sesampainya di bawah pohon yang rindang, tempat yang agak jauh dari keramaian, Baekhyun belum juga melepas genggaman tangannya pada Minseok dan memastikan tidak ada yang mengikutinya.

“Ada apa, Hyung?” tanya Minseok yang tidak bisa melepas pandangannya pada tangan mereka yang bergandengan.

“Aku ingin memastikan tidak ada yang mengikuti kita.”

“Kenapa?”

“Kau masih ingat pada ceritaku tentang kecelakaan yang menimpa keluargaku 19 tahun yang lalu?”

“Iya, aku masih ingat.”

“Aku rasa Daehyun palsu itu ditugaskan untuk memata-matai keluargaku.”

“Kenapa kau tidak menangkapnya?”

“Seperti yang dulu kita bicarakan, aku sedang mengawasinya. Akan tetapi, sepertinya mereka tidak akan beraksi dalam waktu dekat ini.”

“Jadi apa yang akan kau lakukan sekarang, Hyung?”

“Aku sudah mencaritahu asal usul Daehyun palsu itu lewat orangku. Nama aslinya Lee Taeyong. Sebelumnya dia bekerja di salah satu toko kelontong di pinggiran Seoul. Dia hanya mempunyai adik lelaki yang sekarang harus dirawat di rumah sakit karena kanker otak. Menurut prediksiku, dia melakukan pekerjaan kotor ini untuk mendapatkan uang demi perawatan adiknya.”

“Kasihan…”

“Kasihan? Iya, itu memang menyedihkan, tapi apakah harus membohongi orang lain untuk melakukan kebaikan?”

“Pilihannya mungkin salah, Hyung, tapi dia tetap manusia. Aku yakin dia melakukannya karena terpaksa.”

“Sekarang aku sedang menyelidiki siapa orang yang menyuruhnya.”

“Jika orang itu ditemukan, apa ada kemungkinan kau juga akan menemukan adikmu?”

Baekhyun terdiam. Genggamannya pada tangan Minseok perlahan mengendur.

“Mungkin.”

“Semoga semuanya lancar, Hyung.”

“Minseok-a, apa kau sudah menemukan ingatanmu?”

“Sebenarnya…tadi malam, saat aku mengobrol dengan Luhan, aku melihat bayangan aneh.”

“Bayangan seperti apa?”

“Aku melihat seorang anak lelaki sedang dipukuli oleh anak lelaki lain dan…sepertinya anak yang memukuli itu kakakku.”

“Bisa kau ceritakan lebih jelas?” tanya Baekhyun karena sepertinya dia familiar dengan cerita itu.

“Kakakku berkata pada anak itu untuk tidak berteman denganku karena akan membuatku dijauhi oleh anak lain. Kemudian setelah itu, aku menjauhinya karena tidak mau dia terluka lagi. Aku merasa hatiku sangat saat melihat kejadian itu, Hyung.”

“Apa ada lagi yang kau ingat?” tanya Baekhyun seraya mengeratkan kembali genggamannya.

“Belum. Aku belum ingat yang lain karena Lu-ge melarangku untuk mengingatnya.”

“Siapa katamu?”

“Apanya yang siapa?”

“Lu-ge?”

“Ah…iya, itu panggilanku pada Luhan-gege selama ini.”

“Lu-ge…,” gumam Baekhyun sambil mengingat dimana dia pernah mendengar panggilan itu.

“Ada apa, Hyung?”

“Panggilan itu…sepertinya aku pernah mendengarnya.”

“Benarkah? Apa mungkin kita pernah bertemu 19 tahun yang lalu?”

“Entahlah, ingatanku juga hanya samar-samar.”

“Hyung, sepertinya kita harus kembali. Aku harus merapikan semua barangku.”

“Oh, baiklah. Aku juga mau melihat rumah kalian.”

***

Kim Joonmyun menatap kertas sketsa kosong di mejanya sambil membawa sebuah pensil di tangan kirinya. Seutas senyum tipis menyungging di bibirnya, dan dia mulai menggambar. Tangannya bergerak sangat cepat seakan ilustrasi dalam pikirannya tumpah dengan sendirinya.

“Aku akan memulainya sebentar lagi, Nenek. Aku akan membuat mereka semua hancur seperti yang telah ayah mereka lakukan pada ayahku.”

Tok tok tok

 

“Masuk.”

Seorang lelaki tinggi dengan rambut hitam legam masuk dan membungkuk hormat.

“Oh, kau.”

“Saya telah menemukan identitas asli Wu Yifan, Tuan.”

“Ohya?”

“Wu Yifan adalah…bodyguard keluarga Byun.”

“Hya…Huang Zitao, kau benar-benar menakjubkan. Kau adalah satu-satunya bawahanku yang dapat diandalkan.”

***

Kyungsoo dan Eommanya masih terdiam sambil memandangi kobaran api yang mulai padam. Sedetik kemudian, Kyungsoo memberanikan diri mendekati ibunya dan duduk di sampingnya.

“Eomma…,” panggil Kyungsoo, “apa kau tahu bagaimana tersiksanya Minseok-hyung? Apa kau pernah memikirkannya? Dia harus menahan pusing luar biasa saat melihat bayangan masa lalunya. Dia bilang, rasanya seperti ingin mati saja. Dia bilang, rasanya sangat menyakitkan.”

“B-benarkah?”

“Dengan melihatnya berteriak histeris saja, aku sudah bisa menyimpulkannya, Eomma.”

“Nama asli Minseok adalah Byun Daehyun. Dia anak bungsu dari Tuan Byun Minho, orang yang menjadikanku guru les Tuan Daehyun beberapa bulan sebelum kecelakaan itu terjadi…

“Seonsaengnim! Akhirnya Appa dan Eomma menyuruhku belajar sampai larut seperti yang mereka lakukan pada Hyungku.”

“Oh, apa kau senang?”

“Tentu saja! Dari dulu aku kira mereka tidak menyayangiku karena hanya memperhatikan kakakku. Tapi sekarang, mereka juga memperhatikanku!”

 

“Sejak dia mengatakan itu, dia terus belajar sekuat tenaga supaya orangtuanya bangga padanya. Akan tetapi, saking semangatnya belajar, kondisi tubuhnya memburuk. Sampai suatu hari…

“Daehyun-a? Kenapa wajahmu pucat?”

“Aku tidak apa-apa, Seonsaengnim. Ayo kita selesaikan soal matematika yang kemarin.”

“Aniyo, wajahmu sangat pucat, Daehyun-a. Aku akan meminta orangtuamu untuk mengantarmu ke rumah sakit.”

“J-jangan, jangan mengatakan pada orangtuaku kalau aku sakit. Hyungku, dia tidak pernah mengeluh pada mereka, jadi kenapa aku harus mengeluh? Aku tidak mau…”

 

“Saat kupegang dahi Daehyun dengan punggung tanganku, suhu tubuhnya sangat tinggi. Eomma yang saat itu belum memiliki anak, rasanya ingin menangis sekaligus marah pada orangtua Daehyun yang membiarkan anaknya menderita seperti itu. Langsung saja, Eomma membawa Daehyun ke rumah sakit dan bertemu dengan dokter Park. Dokter Park adalah dokter pribadi keluarga Byun, tapi saat itu Eomma tidak tahu bagaimana cara menghubunginya, jadi aku pergi tanpa ada yang tahu. Waktu itu Dokter Park bilang, kalau Eomma terlambat membawa kakakmu ke rumah sakit, mungkin…mungkin nyawanya tidak tertolong lagi.

“Setelah kejadian itu, aku memerhatikan keadaan Daehyun dengan sangat baik. Jika dia terlihat lelah, aku akan berhenti. Aku sudah menganggap Daehyun sebagai anakku sendiri. Eomma benar-benar menyayangi Daehyun…

“Kemudian kecelakaan maut itu terjadi. Saat melihat berita mengenai kecelakaan itu, Eomma merasa dunia yang Eomma impikan hancur, kehilangan Daehyun yang sangat kusayangi adalah hal terberat untuk Eomma saat itu. Akan tetapi, tiba-tiba Kim Han datang membawa Byun Daehyun yang berlumuran darah. Tanpa berpikir apa-apa, aku membersihkan semua luka Daehyun dan membalutnya dengan perban.

“Shinae-ah, apa kau mau merawat anak ini?”

“Mwo?”

“Aku tahu kau sangat menyayangi anak ini. Apa kau sudah melihat berita kecelakaan keluarganya di tv? Sudah dipastikan tidak ada yang selamat selain anak ini. Percayalah, jaga anak ini baik-baik jika kau menyayanginya.”

“B-baik…”

 

“Aku percaya kalau seluruh keluarga Daehyun telah meninggal. Maka dari itu, aku menerima Daehyun sebagai anakku. Beruntung, Daehyun tidak mengingat apapun saat bangun, jadi aku bisa merawat Daehyun sebagai Kim Minseok sepenuhnya.”

Setelah mendengar cerita Eommanya dengan seksama, dia mulai setuju kalau sebaiknya Minseok tidak mengingat masa lalunya, sebaiknya Minseok tetap menjadi Kim Minseok, sebaiknya Minseok tetap menjadi kakak kandungnya. Akan tetapi, dalam hati kecil Kyungsoo, dia ingin setidaknya Minseok bisa mengenali kakaknya, Byun Baekhyun. Ini adalah pilihan yang sulit untuk Kyungsoo.

***

Dada Minseok terasa sangat sesak saat melihat Daehyun memeluk Luhan dari belakang. Waktu seakan berhenti di sekitar mereka, dan tanpa sadar airmata Minseok menetes.

“Aku merindukanmu, Luhan…,” ucap Daehyun.

Minseok perlahan mundur sampai akhirnya berlari meninggalkan tempat itu. Baekhyun yang sedikit terkejut langsung mengejar Minseok, sedangkan Luhan yang tidak melihat kedatangan Minseok berusaha melepaskan pelukan Daehyun.

“D-Daehyun-ssie, lepaskan pelukanmu.”

“Aku benar-benar merindukanmu.”

“Hya! Yifan-ge, tolong lepaskan namja ini dariku!”

Yifan menarik paksa Daehyun dan akhirnya pelukan itu terlepas. Luhan menyeka bajunya seperti membersihkannya dari kotoran.

“Apa yang kau lakukan di tempat umum seperti ini, hah?!” bentak Luhan.

“L-Luhan-a…”

“Apa kau tidak berpikir dulu sebelum melakukan itu? Sekarang aku ini artis, bukan namja China yang selalu dibully seperti dulu. Jadi, kau tidak perlu memeluk atau menemaniku.”

“Kenapa kau berubah drastis, Luhan?”

“Karena kau bukan dia…,” gumam Luhan supaya Daehyun tidak mendengarnya, tapi Yifan bisa mendengarnya dengan jelas sehingga namja itu sangat terkejut karena Luhan bisa langsung tahu kalau dia bukan Daehyun asli.

“Kalau kau berani memelukku sembarangan seperti tadi, aku tidak akan segan melaporkanmu ke polisi atas pelecehan seksual.”

“Lu, kau sedikit berlebihan sekarang,” bisik Yifan.

“Biar saja. Sudahlah, ayo pergi dari sini.”

***

Kupukul dadaku berkali-kali untuk menekan perasaan sakit di sana, tapi tidak berhasil. Sebenarnya aku sudah terbiasa melihat Luhan ber-lovely dovey dengan orang lain karena namja itu artis, tapi entah kenapa aku benar-benar tidak rela sekarang.

Baekhyun yang duduk disamping merangkulku erat dan mengelus lenganku lembut. Dia tidak berbicara apa-apa karena mengerti dengan keadaanku. Aku yakin dia pernah merasakannya saat Chanyeol-hyung berpacaran denganku.

“Hyung, mian…”

“Kenapa harus minta maaf?”

“Dulu aku melukaimu seperti ini, kan?”

“Itu hanya masa lalu, Minseok-a.”

“Kenapa rasanya sesakit ini?”

“Karena kau tidak mau kehilangan orang yang kau cintai.”

“Kenapa Daehyun palsu itu memeluk Luhan dari belakang?”

“Molla.”

“Apa karena dia masih berharap?”

“Mwo?”

“Lu-ge bilang, cinta pertamanya adalah Byun Daehyun. Apa karena Daehyun masih berharap Lu-ge akan kembali padanya?”

“Tunggu dulu, kenapa kau bertanya seperti itu? Apakah kau dan Luhan…”

“Jangan katakan pada siapapun, Hyung.”

“Minseok-a, kau tidak tahu resikonya jika reporter mengetahui ini?”

“Kami akan melakukannya diam-diam.”

“Aish, tapi—“

“Aku mencintainya, Hyung, sangat mencintainya.”

Baekhyun menghelas nafas lelah lalu memelukku sehingga wajahku terbenam di dada kurusnya.

“Baiklah, aku mengerti. Aku akan berusaha melindungi kalian semampuku.”

“Gomapta, Hyung.”

***

Park Chanyeol berdiri di sana, di tempat yang tidak jauh dari tempat Baekhyun dan Minseok berpelukan. Namja tinggi itu kemudian memegangi dadanya dan memejamkan matanya, merasakan sesuatu yang berbeda dalam dirinya. Tangannya mengepal, seperti mengepal sebuah keputusan kuat yang tidak akan tergoyahkan.

“Aku berjanji semuanya akan selesai sebentar lagi.”

Chanyeol mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Kim Joonmyun.

“Tuan Kim, sepertinya Baekhyun akan mengetahui identitas Minseok sebentar lagi.”

“Ohya? Jadi keberadaan Taeyong tidak ada efeknya?”

“Sepertinya tidak ada.”

“Baiklah, urus anak itu.”

“A-apa maksud Anda?”

“Apa lagi? Jika dia masih hidup, rencana yang sudah kubuat akan hancur.”

“Tuan Kim, adik Taeyong…”

“Bukankah kita sudah menepati janji kita? Adik Taeyong sudah mendapatkan perawatan yang layak untuk penyakitnya. Lagipula, sebentar lagi dia juga akan meninggal. Jadi jika Taeyong meninggal, tidak ada pengaruh besar untuk adiknya. Atau…kau mau melawanku?”

“Baiklah. Aku akan…membunuh Taeyong.”

***

Byun Baekhyun mengantar Kim Minseok ke rumah barunya, rumah nomor 15 dan terletak di lantai dua. Saat mereka masuk, Luhan dan yang lain sedang sibuk membereskan barang yang mereka bawa.

“Xiumin! Kau darimana saja?” tanya Luhan dan langsung mendekati Minseok, tapi Minseok tidak menjawab dan langsung melewatinya.

Luhan langsung menatap Baekhyun dengan ekspresi bertanya ‘ada apa dengannya?’ dan Baekhyun hanya bisa menaikan kedua bahunya seperti orang tidak tahu apa-apa.

“Xiumin, kau kenapa?”

“Tidak apa-apa.”

“Hya, memangnya kau kira aku bodoh? Aku bisa tahu ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku.”

“Sudah kubilang tidak ada apa-apa, Lu-ge.”

“Aish…kenapa kau tiba-tiba kesal padaku, hah?”

Luhan memegang kedua pundak Minseok dan menatap mata itu lekat, sedangkan yang dipegang hanya bisa diam sambil menggigit bibir.

“Ceritakan, ada apa?”

“Kenapa Daehyun memelukmu tadi?”

“He?”

“Ish, lepaskan.”

“Ah…hahahaha!! Jadi gara-gara itu? Kau cemburu?”

“Aniyo! Aku tidak cemburu!”

“Kalau tidak, kenapa mukamu cemberut begitu?”

“Lepaskan tanganmu, Lu-ge!”

Bukannya melepas, Luhan malah memeluk tubuh itu, membuat Baekhyun, Yifan, dan Yixing tertawa geli sambil memalingkan pandangan mereka.

“Hya! Lepaskan!!”

“Tidak akan, sebelum kau bilang kalau kau cemburu.”

“Aish…”

“Ayo? Kau mau kupeluk sampai malam? Atau kau memang sengaja?”

“Lu-ge!!”

“Kau memang sengaja, kan?”

“Arra, aku memang cemburu.”

“Ooh…,” kata Luhan seraya mengayun-ngayunkan tubuh Minseok yang masih dipeluknya, “baozi kecil ini bisa cemburu juga ternyata.”

Karena kesal, Minseok menyubit pinggang Luhan sangat keras sehingga Luhan berteriak dan melepas pelukannya.

“Hya! Itu sakit!!”

“Sakit? Tapi, ah, sudahlah.”

Minseok langsung meninggalkan Luhan dan membawa kopernya ke kamar, sedangkan Luhan masih mengusap pinggangnya.

“Luhan-ssie, apa kau sadar kalau perasaan Minseok lebih sakit daripada cubitan itu?” tanya Baekhyun.

“Apa?”

“Dia menangis saat melihat Daehyun memelukmu.”

“Benarkah?” kata Luhan dengan cemas.

“Jangan mempermainkan perasaan pacarmu seperti itu.”

“Tunggu dulu. Kau tahu kalau…”

“Ye. Aku tahu semuanya.”

“Oh, syukurlah. Setidaknya aku tidak perlu berpura-pura di depan CEOku sendiri.”

“Iya…tapi kalian harus berhati-hati dengan reporter.”

“Itu urusanku.”

“Jangan sampai Minseok kehilangan semuanya gara-gara kau.”

Tangan Luhan yang sedang mengusap bekas cubitan Minseok terdiam. Luhan merasa tidak asing dengan kata-kata itu, kata-kata yang hampir sama dengan ucapan Baekhyun 19 tahun yang lalu.

Luhan tertawa kecil sambil memandang Baekhyun dengan tatapan tajam. Baekhyun yang mendapat tatapan itu hanya mengerutkan dahinya, heran.

“Aku tidak akan kehilangan dia untuk kedua kalinya. Kau harus tahu itu.”

“Mwo?”

“Bodoh…,” gumam Luhan dan pergi ke kamar yang dimasuki Minseok, sedangkan Baekhyun hanya bisa diam sambil memikirkan ucapan Luhan barusan.

“Apa maksudnya?”

“Jangan terlalu dipikirkan,” ucap Wu Yifan sambil menepuk pundak kanan Baekhyun, “dia seperti itu karena menurutnya kau akan melarang hubungan mereka.”

“Benarkah? Tapi aku—“

“Iya, aku mengerti. Kau tidak akan melakukan kesalahan untuk kedua kalinya, kan?”

“Ha? Maksud—“ ucapan Baekhyun terhenti saat tiba-tiba dia teringat dengan kejadian 19 tahun yang lalu, ketika dia melarang adiknya berteman dengan seseorang.

“Kenapa kau bisa tahu?” tanya Baekhyun dengan suara bergetar.

“Tahu apa?”

“Masa laluku. Kenapa kau bisa mengetahuinya?”

“Masa lalumu? Maksudmu masa lalu dengan Park Chanyeol?”

“Ha? Chanyeol?”

“Kau menyukai Chanyeol, bukan? Xiumin menceritakannya pada Lay, dan Lay menceritakannya padaku. Kesalahan yang kumaksud adalah kau melepas orang yang kau sukai untuk kedua kalinya, seperti yang mungkin akan kau lakukan pada hubungan Xiumin dan Luhan.”

“Ah…aku kira kau tahu tentang masa laluku yang lain.”

“Kenapa kau berpikir begitu? Apa kita pernah bertemu dulu?”

“Molla. Sebelum kehilangan adikku, aku tidak pernah peduli pada orang-orang di sekitarku.”

“Ohya? Baiklah, aku akan lanjut bersih-bersih. Apa kau masih urusan di sini?”

“T-tidak. Aku pergi dulu, sampaikan pada Minseok dan Luhan untuk fokus pada reading sore ini dan sampaikan maafku pada mereka, aku tidak bisa datang melihat mkarena ada rapat.”

“Baiklah…”

Selepas kepergian Baekhyun, Lay mendekati Yifan dan bertanya dengan suara sangat pelan.

“Wah, kau benar-benar pandai menyembunyikan kenyataan kalau kau tahu semua tentang Tuan Byun. Ngomong-ngomong, masa lalu apa yang kau ketahui?”

“Saat Tuan Baekhyun melarang Tuan Daehyun berteman dengan Luhan.”

“Ha? Kenapa?”

“Karena saat Luhan dan Tuan Daehyun berteman, teman-temannya menjauhi mereka.”

“Oh, itu konyol.”

“Tidak jika saat itu anak-anak di sekolah Tuan Byun masih rasis dengan anak dengan kewarganegaraan asing.”

“Ah…aku mengerti.”

“Sudah selesai pertanyaannya? Cepat selesaikan pekerjaanmu!”

“Iya-iya. Kenapa kau selalu kasar pada pacarmu sendiri? Aku benar-benar iri pada Tuan Daehyun yang selalu diperhatikan Luhan.”

“Hei…jangan mulai lagi.”

“Memang benar kok,” ucap Lay seraya pergi ke dapur.

“Sampai semuanya selesai, Lay, sampai semuanya selesai…”

***

Luhan masuk pelan-pelan ke dalam kamar saat Minseok sedang merapikan bajunya di lemari. Dia berdiri di belakang Minseok dan mengumpulkan segenap keberanian untuk menjelaskan semuanya.

“Xiumin-a,” panggil Luhan, “aku ingin menjelaskan semuanya.”

Tangan Minseok terdiam saat mendengar suara lembut Luhan. Diturunkannya tangan itu, tapi tidak berani membalikan tubuhnya.

“Dia, Byun Daehyun, duluan yang memelukku.”

“Karena dia masih berharap padamu, bukan?”

“Apa?”

“Dia masih berharap kau menjadi miliknya, Lu-ge.”

“Tidak, bukan seperti itu.”

“Lalu?”

Luhan memutar tubuh Minseok dan menyandarkannya ke lemari serta menahan tubuh kecil Minseok dengan tubuhnya.

“Karena dia bukan Byun Daehyun yang dulu.”

“M-mwo?”

“Aku bisa mengenali cinta pertamaku lebih baik dari siapapun, Xiumin.”

“Jadi kau tahu kalau dia bukan Daehyun asli?”

“Ha? Jadi kau juga sudah tahu?”

“Eumh…”

“Kenapa kau tidak memberitahuku?”

“Karena Baekhyun-hyung bilang—“

“Tolong jangan sebut nama itu dulu.”

“Kenapa?”

“Karena saat aku mendengar namanya, aku merasa tangan ini ingin segera memukul wajahnya, seperti yang dulu dia lakukan padaku.”

“M-mian…”

“Apa kau takut aku akan meninggalkanmu?”

“Eum…”

“Tidak, jangan takut karena aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Xiumin.”

Dan pagi itu, di dalam dekapan itu, Luhan mencium bibir Minseok lembut. Minseok hanya bisa memejamkan matanya saat Luhan mulai memasuki dunianya yang dulu kelam.

“Terimakasih, Tuhan, karena Kau telah memberikan orang ini untuk membuat awan di langitku pergi,” kata Minseok dalam hati.

***

Zitao meletakan secangkir kopi di meja Kim Joonmyun, membuat namja itu menghentikan kegiatannya menggambar.

“Apa yang mengganggu pikiranmu, Tao?”

“Anda selalu bisa menebak jika saya sedang gelisah.”

“Ada apa?”

“Saya masih belum mengerti kenapa Anda tidak langsung membunuh Daehyun dan Baekhyun? Bukankah dengan begitu Anda tidak harus hidup dengan bayang-bayang mereka?”

“Oh, jadi kau bingung karena itu.”

“Iya, Tuan.”

“Aku ingin membunuh mereka pelan-pelan. Bukankah akan menyenangkan jika mereka meninggal dalam keadaan yang sama dengan Appaku? Aku akan membuat mereka menjadi ‘sampah’ sebelum maut menjemput mereka. Appaku, dia meninggal saat semua orang tidak mau mendengarkan penjelasannya, dia meninggal tanpa ada orang yang tahu kalau dia tidak bersalah, dia meninggal dalam keadaan benar-benar tersiksa. Aku ingin mereka berdua juga seperti itu.”

Advertisements

12 thoughts on “My Immortal Love is You _ XiuHan/LuMin (Bagian 11)

  1. Akhirnya di post in jg chap berikutnya itu kim joonmyun, tao ama chanyeol bener2 pengen minta di tabok massa :v
    Ff nya bener2 bikin penasaran dgn kelanjutannya :v (Y) (Y)

  2. Huaaa~ akhirnya muncul juga chap 11nya^^/
    Udah banyak yang tau nih, tinggal Umin sama Baekhyun doang yang belum tau kalo Umin itu Daehyun.
    Chanyeol kenapa jadi jahat? “ψ(`∇´)ψ

    Eonnie semangat terus ya buat lanjutinnya ‘-‘9 annyeong /lambai tangan bareng Xiuhan_

  3. Whoa ada Kray disini, asikk. Iyaa ihh Luhan perhatiannya ke Xiumin bikin envy. Chanyeol kejam juga ya? gak berguna di bunuh , apa nanti Baekki masih mau terima Chanyeol yg kaya gini? . Suho sudah mau beraksi nih yee. Author semangat ya lanjutin ff ini fighting!
    Ps : bilangin ma Xiuhan filmnya cepetan jadi aku mau nonton di bioskop terdekat #ngacoo -_-“

  4. Yayyy Akhirnya lu-ge tahu juga siapa daehyun yg asli.. Tinggal baekhyun.. Tapi aku jadi khawatir baek bakal menghalangi xiuhan lagi.. Dan astaga… kim junmyeon sama chanyeol kejam banget.. Aku jadi kasihan sama taeyong.. ._. Makin seruuu author-nim.. Ditunggu lanjutannya ^^ fighting

  5. ninggalin jejak dlu, entar bru baca 🙂
    saya mau izin save boleh yah ;;) krn bacanya bru entar, sibuk ngerjain tugas…
    cuman maau blng klw kelanjutannya sgt dinantikan (y).. fighting 😀

  6. woow.. ak reader baruu ini..

    minseok ah.. T.T
    pengen mukul suho ihh.. kesel bgt…

    sumpah deh si suho..
    author nim ditunggu lnjutn nya..
    asap ne??
    .

  7. yeah, udah lama sy nunggu nh chapter 🙂 akhrnya diposting juga hehe
    sdih bgt pas tau masa lalu daehyun kok ada ya ortu ky gtu?
    daaaaan akhrnya luhan tau siapa minseok sbnrnya ^^ joonmyun udh tau ya idntitas xiumin?

    semakin penasan & menarik !!
    semangat ya author buat next chap, kalo bs jgn lma2 hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s