My Immortal Love is You _ XiuHan/LuMin (Bagian 10)

Tittle: My immortal love is you

Author: Fie

Genre: romance, family, drama, boyxboy

Length: Multichapter

Rated: T

Languange: bahasa

Pairing: LuMin/XiuHan

Cast:

Main cast:

– EXO XiuMin as Kim Minseok/XiuMin

– EXO Luhan as Xi Luhan

– EXO Chanyeol as Park Chanyeol

– EXO Baekhyun as Byun Baekhyun

Supporting cast:

– EXO SuHo as Kim Joonmyun

– EXO D.O as Kim Kyungsoo

– EXO Lay as Zhang Yixing

– EXO Kris as Wu Yifan

– EXO Sehun as Kim Sehun

– EXO Kai as Lee Jongin

– EXO Chen as Lee Jongdae

– EXO Tao as Hwang Zitao

– Super Junior Yesung as Kim Jongwoon

– SNSD Sunny as Lee/Kim Soonkyu

– Other….

“Sebuah cerita tentang kasih sayang yang akan terus abadi.”


 

TEN – Enough

“Bukankah sudah cukup apapun pilihan yang akan kau ambil nanti untuk mereka?”

KYUNGSOO mengepalkan tangannya sambil terus berkomat-kamit mengulang hafalan pelajarannya. Hari ini adalah hari penentuan untuknya. Sebuah pembuktian akan janjinya pada Kim Minseok dan Appanya bahwa ia akan menjadi dokter yang hebat. Bukan saja dokter yang hebat dalam menangani pasiennya, tapi juga memahami dirinya sendiri.

Sebuah tekad kuat ada di kepalan tangannya yang sedikit berkeringat. Nafas Kyungsoo terdengar berat karena sekarang dia benar-benar gugup. Minseok yang duduk di sampingnya bisa memahami perasaan Kyungsoo karena dulu dia juga begitu.

“Tenang saja, semua akan berjalan dengan sendirinya. Yang penting kau sudah berusaha semaksimal mungkin. Yakinlah jika semua yang akan terjadi selanjutnya adalah keputusan terbaik Tuhan untukmu, dan juga orang-orang yang kau sayangi.”

Saking gugupnya, Kyungsoo tidak bisa membalas kata-kata Minseok. Akhirnya, untuk menenangkan Kyungsoo, Minseok meraih tangan kecil itu dan menggenggamnya erat.

“Kau boleh memberi sedikit rasa gugupmu padaku.”

“Hyung…”

“Aku jadi ingat, dulu Appa yang mengantarku ke tempat ujian dan dia berkata aku harus menjadi dokter bagaimanapun caranya. Saat itu aku menjadi lebih gugup bahkan aku hampir pingsan, tapi dengan keyakinan kuat, aku berhasil mengatasi semuanya. Kau juga harus begitu, Kyungie.”

Kyungsoo tersenyum lalu mengangguk. Sekarang dia sudah sedikit tenang. Memang, saat-saat bersama Hyungnya adalah hal yang sangat berharga bahkan tak ternilai harganya bagi Kyungsoo.

“Seluruh peserta ujian, harap masuk ke ruang ujian masing-masing karena sepuluh menit lagi ujian masuk Universitas akan segera dimulai.”

Mendengar pengumuman itu, Minseok mengeratkan genggamannya sejenak lalu mengendurkannya kembali seperti memberi energi positif pada adiknya itu.

“Fighting! Aku akan menunggumu di sini!”

“Ne!”

Dengan berat hati, Kyungsoo melepas tangan Minseok lalu masuk ke dalam ruang ujian dengan lebih percaya diri.

Saat Kyungsoo dan peserta lain sudah memasuki ruang ujian, Minseok memejamkan matanya lalu mulai berdoa agar Kyungsoo bisa mendapatkan yang terbaik dari Tuhan.

“Jauh di dalam hatiku, aku ingin Kyungsoo menjadi arsitektur atau pelukis karena dia selalu terlihat senang saat menggambar. Aku tidak ingin merenggut senyum bahagia itu hanya karena dia masuk ke tempat yang salah. Berikan dia keputusanMu yang terbaik Tuhan.”

Setelah 2 jam ujian, akhirnya suara bel tanda selesai berbunyi. Semua orang di dalam ruangan sibuk memeriksa kembali pekerjaannya sebelum pengawas mengambil kertas jawaban mereka, ada juga yang berdoa dengan wajah penuh keringat, dan sebagainya. Untuk Kyungsoo sendiri, dia hanya bisa menatap kertas jawabannya yang terisi sempurna tanpa satupun nomor yang kosong. Sampai pengawas mengambil kertasnya, dia baru mengangkat kepalanya lalu berdiri dan meninggalkan tempat duduknya.

Saat keluar, Minseok langsung menghampiri Kyungsoo dan langsung merangkul namja itu cukup erat.

“Bagaimana?”

“Aku sudah berusaha semampuku.”

“Bagus-bagus. Bagaimana kalau sekarang kita ke rumah Jongwoon-hyung? Kata Eomma, mereka sudah menyiapkan banyak makanan untukmu!”

“Baiklah, ayo!”

Minseok lega saat melihat Kyungsoo yang sudah tidak gugup.

“Untunglah…,” gumam Minseok.

***

Park Chanyeol memakai mantelnya sambil berkaca. Sudah seminggu sejak kejadian tidak menyenangkan itu, saat Joonmyun memukulinya karena tindakan bodoh Chanyeol mempertemukan Baekhyun dengan Daehyun palsu. Terlihat luka memar di pipinya yang belum sembuh karena pukulan Joonmyun benar-benar keras di bagian itu. Jika tidak memakai make up yang pas, mungkin memar itu akan terlihat jelas.

Padahal, maksud Chanyeol untuk mempertemukan Baekhyun dengan Daehyun palsu itu secepatnya agar Baekhyun tidak meluangkan waktunya untuk bertemu Minseok, tapi Joonmyun tidak mau menerima alasan itu.

Selesai dengan mantelnya, Park Chanyeol mengambil kunci mobilnya lalu berjalan agak cepat ke luar. Siang ini dia akan bertemu dengan Baekhyun karena Baekhyun mengajaknya ke suatu tempat yang masih Baekhyun rahasiakan.

“Iya-iya, sebentar lagi aku sampai,” bohong Chanyeol pada Baekhyun yang menghubunginya karena namja tinggi itu sudah terlambat 10 menit dari jam yang dijanjikan.

Sebenarnya Chanyeol tidak bermaksud untuk telat, tapi dia harus mengurusi pekerjaannya yang belum selesai sampai dia lupa waktu dan akhirnya telat.

Setelah 15 menit melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, Chanyeol tiba di depan apartemen Baekhyun, dan namja yang sudah menunggunya di luar sekitar setengah jam langsung masuk ke mobil itu dengan wajah ditekuk.

“Hei…maafkan aku. Ada yang harus kuurus tadi.”

“Yasudah, jalan saja.”

“Jadi kita mau kemana?”

“Ke taman Yongpyu.”

“Hah? Kemana katamu?”

“Taman Yongpyu, tempat pertama kali kita bertemu.”

Chanyeol masih terdiam beberapa saat, tapi akhirnya dia melajukan mobilnya sambil menerka-nerka apa yang sedang Baekhyun rencanakan.

“Kenapa tiba-tiba mau ke sana?”

“Karena aku ingin mencari Chanyeol yang dulu.”

“Apa maksudmu? Aku kan di sini.”

“Bukan. Chanyeol yang duduk di sampingku bukan Chanyeol yang biasanya.”

Chanyeol dengan kasar menepikan mobilnya, dan itu membuat Baekhyun sedikit kaget.

“Kalau kau mengajakku ke sana hanya untuk melakukan hal yang tidak penting, sebaiknya kita kembali. Masih banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan.”

“Baiklah, kalau kau tidak mau, aku akan ke sana sendiri.”

“Baekhyun-a!”

“Wae? Apa kau akan datang ke sana dan kembali menjadi Chanyeol si jerapah? Atau kau tetap pulang dan membuatku harus menunggu lebih lama?”

“Aku tidak mengerti kenapa kau bersikap aneh begini.”

“Jadi…siapa yang bersikap aneh? Kau, atau aku?”

***

Kyungsoo dan Minseok tiba di kediaman Jongwoon. Saat mereka tiba di sana, ada seorang wanita yang tidak mereka kenal duduk di ruang makan bersama Soonkyu dan Jongwoon.

“Oh, kalian datang juga. Ayo duduk, Eomma akan segera ke sini,” ucap Jongwoon.

Wanita itu, Byun Minyoung, terlihat sedang menahan keinginannya untuk memeluk keponakannya yang sudah lama sekali tidak dia temui.

“Ahiya, perkenalkan, ini Byun Minyoung. Dia teman kuliahku, sekaligus kakak kelas Soonkyu,” jelas Jongwoon yang sepertinya mengerti pada wajah bingung Minseok dan Kyungsoo.

“Salam kenal,” ucap Byun Minyoung sedikit gugup karena tidak menyangka Daehyun asli lebih tampan daripada di foto.

“Salam kenal, Kim Minseok imnida.”

“Kyungsoo imnida.”

Di dalam hati, Minyoung ingin Minseok berkata, ‘Byun Daehyun imnida’, ah…pasti menyenangkan jika mereka bisa berkumpul.

“Oh, kalian berdua sudah datang. Kalau begitu, mari kita mulai saja makan siangnya,” ucap Eomma yang baru saja datang dan duduk di samping Minseok.

“Makan siang kali ini kita persembahkan untuk orang yang baru saja menempuh ujian masuk Universitas yang sangat susah!” seru Jongwoon sambil mengangkat gelasnya, seperti meminta yang lain juga melakukannya.

“CHEERS!”

Selagi makan, Minyoung diam-diam menatap Minseok saat namja itu sedang fokus pada makanannya. Anak bungsu Byun Taera itu sangat senang melihat keponakannya bisa tumbuh dengan baik.

Dulu Minyoung masih berumur 13 tahun saat pertama kali bertemu dengan Daehyun kecil yang saat itu genap berumur 5 tahun. Perbedaan umur yang jauh dengan kedua kakaknya membuat Minyoung tumbuh menjadi anak yang kesepian karena saat itu kedua kakaknya sudah sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Dan saat bertemu dengan Minseok dan Baekhyun, semuanya berubah. Setiap Minyoung datang ke rumah kakak pertamanya, Appa dari Minseok dan Baekhyun, Minyoung selalu mempunyai teman yang membuatnya lebih ceria. Maka dari itu, orang yang paling sedih setelah Baekhyun saat Daehyun menghilang adalah dirinya.

“Minyoung-ssie, apa ada yang salah dengan wajahku?” tanya Minseok yang menyadari Minyoung sedang menatapnya.

“A-ah…tidak ada yang salah. Aku hanya sedang melamun dan kebetulan mataku mengarah padamu.”

“Ooh…”

“Apa dia benar-benar tidak ingat denganku?” batin Minyoung.

“Kyungsoo-a, bagaimana ujianmu hari ini?” tanya Soonkyu yang langsung mengalihkan pembicaraan karena dia tahu kenapa Minyoung menatap Minseok sampai seperti itu.

“Aku sudah berusaha semampuku, Noona.”

“Bagus kalau begitu.”

“Ah, aku lupa. Bukankah Eomma juga mengundang Sehun dan Eommanya?” tanya Jongwoon sambil meletakan sumpitnya dan mengambil ponselnya.

“Iya, Eomma mengundang mereka, tapi sepertinya…mereka tidak bisa datang.”

“Kalau begitu, aku akan mengantar makanan ini ke rumah mereka,” saran Minseok.

“Oh, benar juga. Kau harus mengunjungi mereka cukup sering sebelum sibuk syuting minggu depan,” ucap Soonkyu.

“Iya, Noona.”

“Setelah apa yang terjadi pada keluarga mereka seminggu yang lalu, kita harus sering-sering mengunjungi mereka,” ucap Shinae terkait dengan kasus pembunuhan Kim Han, ayah Sehun, seminggu yang lalu.

“Aku tidak menyangka ada orang yang bisa diam-diam masuk ke dalam penjara tanpa ketahuan dan membunuh Han-ahjussie,” ucap Jongwoon.

“Oppa…,” kata Soonkyu sambil memberi isyarat pada Jongwoon agar tidak membicarakan masalah itu di depan Minyoung karena bagaimanapun Minyoung bukan anggota keluarga Kim.

“Ah, Minyoungie, maafkan aku karena keceplosan bercerita.”

“Tidak apa-apa. Kebetulan aku pernah membaca berita itu, jadi aku tidak terlalu kaget.”

“Nah, ayo kita selesaikan makan siang ini agar Minseok bisa segera mengantar makanan ke rumah Sehun,” ucap Eomma.

***

Aku pergi ke rumah Sehun dengan membawa bungkusan yang cukup besar di tangannya. Saat aku datang, Eomma Sehun, Kim Minra-ahjumma, yang membukakan pintu.

“Oh, Minseok-ah, ternyata kau yang datang.”

“Maaf karena aku baru berkunjung, Ahjumma.”

“Mari masuk.”

“Aku membawakan makanan untukmu dan Sehun.”

“Gomawo.”

Aku mengikuti Min-ahjumma ke dalam dan duduk di ruang tengah, sedangkan dia pergi ke dapur setelah mengambil bungkusan dariku. Saat kembali dari dapur, dia membawa minuman dingin dan kue cokelat untukku.

“Aku senang karena kau berkunjung, Minseokkie.”

“Aku sengaja datang ke sini karena kemungkinan besar mulai minggu depan aku tidak sempat mengunjungi kalian. Mian.”

“Tidak apa-apa. Aku mengerti kalau kau akan sibuk beberapa bulan ke depan.”

“Bagaimana keadaanmu, Ahjumma?”

“Baik, jauh lebih baik.”

Wanita itu sedang berbohong. Mata lelahnya tak bisa membohongiku. Aku tahu bagaimana perasaan seseorang yang ditinggalkan oleh orang kesayangannya. Seperti saat aku kehilangan Appaku.

“Aku akan meninggalkan Sehun di Seoul. Aku akan pindah ke Jeju bulan depan.”

“N-nde?”

“Aku tidak bisa lagi tinggal di sini, Minseok-ah.”

“Tapi kenapa?”

“Aku tidak bisa menghilangkan bayangan Kim Han di rumah ini. Setiap aku ingin melupakannya, dia selalu datang dan mengganggu tidurku.”

Airmata yang sudah sekuat tenaga dia tahan itu akhirnya jatuh dan membasahi pipinya. Aku segera mengambil tissue dan memberikannya pada Min-ahjumma. Dia mengambil tissue itu dan menyeka airmatanya perlahan.

“Aku merasa bersalah karena tidak bisa menghentikannya menjadi rentenir. Aku yakin orang yang membunuhnya adalah orang yang membenci lelaki itu. Maka dari itu, aku tidak akan menyalahkan siapapun pembunuh suamiku bahkan aku berniat untuk menutup kasus ini.”

“Minra-ahjumma, tidak seharusnya kau berkata seperti itu. Bagaimanapun, orang yang membunuh Han-ahjussie tidak bisa dilepaskan begitu saja.”

“Apa kau tidak membenci pamanmu yang jahat itu?”

“Nde?”

“Setelah apa yang dia lakukan padamu, apa kau tidak membencinya?”

“Aniyo.”

Minra-ahjumma mengangkat wajahnya dan menatapku dengan tatapan tidak percaya.

“Aku tidak pernah membenci Han-ahjussie walaupun dia menyakitiku. Apakah Ahjumma tahu kenapa aku tidak melaporkannya ke polisi? Bukan karena aku takut dia akan menyakiti keluargaku, t-tapi, tapi karena…,” ucapanku terhenti saat aku tak kuasa menahan tangisku karena teringat kejadian malam itu, tapi aku harus menjelaskan semuanya agar keluarga Sehun tidak salah paham lagi pada Han-ahjussie, “karena dia menangis saat memukuliku.”

“Mwo?”

“Maafkan aku karena tidak mengatakannya dari awal, tapi aku tidak tahu kapan waktu yang tepat untuk memberitahumu dan Sehun karena kita tidak bisa bertemu. Aku yakin waktu itu dia tidak ingin melakukannya karena setelah dia memukuliku, mungkin dia tidak tahu kalau aku masih sadar, dia meminta maaf padaku.”

“C-chinca?”

Aku terkejut saat mendengar suara Sehun. Aku tidak tahu kalau Sehun ada di rumah. Dia berdiri seperti patung lalu tak lama kemudian dia terjatuh.

“Apa kau mengatakan yang sebenarnya, Minseok-ah?”

“Eoh. Appamu tidak berubah seperti yang kau ceritakan padaku, Sehun-a. Dia masih paman terbaikku, paman yang mendukung impianku menjadi penulis, paman yang sangat kusayangi. Maafkan aku, maafkan aku karena tidak bisa menyelamatkannya dari penjara dan sekarang dia harus pergi seperti ini. Maaf…”

Aku tidak bisa berhenti meminta maaf karena merasa bersalah telah melibatkan Han-ahjussie dalam kasus ini. Jika waktu itu aku hanya membayar hutang Appa, mungkin kejadiaannya tidak akan seperti ini.

“Maukah kau pergi bersamaku ke makam Appa?” tanya Sehun sambil berdiri dan mendekatiku.

“Tentu.”

“Aku akan bersiap. Eomma, aku akan pergi berdua saja dengan Minseok, kau harus memulihkan kondisimu.”

Eomma Sehun hanya bisa mengangguk lemah. Lalu saat Sehun kembali ke kamarnya untuk bersiap, dia mendekatiku dan menggenggam tanganku.

“Terimakasih karena kau sudah mengatakan yang sebenarnya. Aku sudah cukup senang karena suamiku tidak berubah karena kemauannya sendiri, dan yang paling membuatku lega, Sehun mungkin tidak lagi membenci Appanya.”

“Ne, Ahjumma…”

***

Siang itu, setelah Minseok pergi ke rumah Sehun, Kyungsoo meminta Jongin menemuinya lagi di kedai Valcy untuk membicarakan permintaan Kyungsoo tempo lalu. Saat keduanya bertemu, Lee Jongin langsung meletakan sebuah amplop cokelat besar di meja lalu mendorongnya ke arah Kyungsoo.

“Maaf, kami baru bisa menemukan itu.”

Tanpa berkata apa-apa, Kyungsoo mengeluarkan isi amplop itu dan didapatinya beberapa berkas berisi kasus-kasus kecelakaan 19 tahun yang lalu.

“Itu semua adalah kasus kecelakaan 19 tahun lalu yang telah dipublikasikan, tapi aku sudah mereduksinya menjadi kasus-kasus dengan latar belakang yang tidak biasa.”

“Latar belakang tidak biasa?”

“Iya, seperti pembunuhan berencana atau semacamnya.”

“Apa tidak terlalu jauh jika kau mereduksinya seekstrem itu?”

“Kita memang sengaja menyelidikinya dari kasus yang tidak biasa dulu karena ada yang mengganjal pikiranku.”

“Apa itu?”

“Eommamu menyembunyikan kenyataan kalau Hyungmu amnesia, bukan? Itu artinya, ada hal yang tidak biasa memaksa Eommamu untuk merahasiakannya.”

“N-ne. Aku baru ingat kenapa aku bisa menyimpulkan kalau Eommaku menyembunyikan Hyungku amnesia karena dia mempunyai data kesehatan Hyungku saat masih kecil. Nama Hyungku berbeda di data itu.”

“Apa kau masih ingat?”

“Eum…Byun…Byun…aish, aku lupa…”

“Byun, jadi marga Hyungmu adalah Byun?”

“Ne. Aku hanya ingat marga asli Hyungku.”

“Berikan amplop itu padaku.”

Kyungsoo menyerahkan amplop besar itu pada Jongin lalu namja itu mencari sebuah berkas di sana.

“Kasus ini sudah ditutup beberapa tahun yang lalu karena tenggang waktu penyelidikan sudah habis. Lagipula, data pada kasus ini sangat sedikit.”

“Kasus apa itu?”

“Kasus yang menimpa keluarga bermarga Byun saat mereka hendak mendatangi undangan makan malam seorang pengusaha besar. Keluarga ini juga keluarga yang tidak biasa. Salah satu korban meninggal dalam kecelakaan itu adalah anak sulung dari Byun Taera, pemilik Byunkor Media.”

“Lalu apakah ada korban selamat dalam kasus ini?”

“Tidak bisa diketahui secara pasti, karena keluarga Byun sangat tertutup. Mereka tidak memberikan data siapa saja yang berada dalam mobil itu saat kecelakaan terjadi.”

“Apakah anak sulung Byun Taera itu sudah mempunyai anak?”

“Menurut sumber, dia mempunyai dua anak yang tidak diketahui keberadaannya sampai sekarang.”

“Tidak diketahui keberadaannya? Apa itu masuk akal?”

“Kekuatan Byun Taera dan almarhum suaminya, Byun Jaesun, sangat kuat untuk menyimpan seluruh data keluarganya. Mereka menyelidikinya hanya dengan orang-orang tertentu, jadi aku tidak tahu banyak tentang kasus ini.”

“Kenapa kau memasukan kasus ini dalam kasus yang tidak biasa?”

“Karena ini adalah kasus yang sangat menarik perhatianku. Sejak dulu, walaupun atasan kami sudah melarang seluruh polisi yang tidak berkaitan dengan kasus ini untuk berhenti mencari tahu, tapi Jongdae-hyung dan aku selalu berusaha mencari informasi sebisa kami, tapi sayangnya kami hanya bisa menemukan ini.”

“Kalau mereka bukan dari keluarga biasa, bukankah berita ini menjadi berita paling heboh di masanya?”

“Sudah kubilang kan, mereka mempunyai kekuatan untuk menyembunyikan semua yang berkaitan dengan kasus ini. Tapi menurutku, sepertinya memang masuk akal jika mereka menyembunyikannya. Kalau kecelakaan ini adalah kasus pembunuhan berencana, itu artinya ada sekelompok orang yang berniat menghancurkan keluarga Byun Taera dan mereka pasti bukan orang biasa, mereka pasti sangat berbahaya karena bisa membuat penjagaan keluarga itu kecolongan.”

“Kenapa mereka membiarkan kasus ini berlalu begitu lama?”

“Menurut analisaku, mereka sedang bekerja ekstra hati-hati untuk menangkap pelaku itu.”

“Apa menurutmu Hyungku bisa saja korban dalam kecelakaan keluarga itu? Maksudku, apa mungkin jika Minseok-hyung adalah salah satu anak dari korban meninggal itu?”

“Jika Hyungmu bermarga Byun, itu bisa saja terjadi.”

“Lalu Yifan-hyung? Bagaimana dengan latar belakangnya?”

“Ah, ternyata Wu Yifan pernah tinggal di Korea, dan nama Koreanya adalah Lee Hyungsik.”

“Mwo? Lalu?”

“Dia adalah anak yatim piatu saat umurnya 16 tahun, setidaknya itu yang kami dapatkan dari panti asuhan tempat Yifan tinggal dulu. Menurut mereka, Yifan masih mempunyai Appa sampai umurnya 16 tahun, lalu karena sesuatu hal, Appanya meninggal dan Yifan segera diadopsi oleh keluarga Wu dan pindah ke China.”

“Hanya itu?”

“Alasan kenapa dia mempunyai kenalan penyidik handal karena Appanya yang meninggal dulu adalah bodyguard sebuah keluarga pengusaha. Tidak terlalu jelas siapa keluarga itu, tapi kemungkinan besar Appa Yifan meninggal saat melakukan tugasnya.”

“Menurutmu, tidak ada apa-apa antara Hyungku dan Yifan-hyung?”

“Kami belum bisa memastikannya, tapi sejauh ini tidak ada.”

“Jadi begitu…”

“Ah, aku lupa. Salah satu cucu Byun Taera adalah Byun Baekhyun, CEO Byunkor Media saat ini.”

“A-apa katamu? Byun Baekhyun?”

“Iya, kenapa?”

“Tidak, tidak apa-apa.”

“Jika ada yang ingin kau ceritakan padaku, ceritakan saja, Kyungsoo-ssie.”

Kyungsoo masih terdiam karena dia sedang berpikir keras. Seingatnya, Byun Baekhyun memang kehilangan adiknya dulu, tapi bukankah dia sudah menemukannya kemarin? Jadi mungkin bukan keluarga Byun Baekhyun yang mengalami kecelakaan, batin Kyungsoo.

***

Sehun membawaku ke tempat kremasi untuk melihat abu Appanya yang berada tepat di sebelah tempat abu Appaku. Kim Han-in, Kim Jae-in, dua nama itu kupandang bergantian, tapi airmata membuat pandanganku sedikit kabur.

“Minseok-a.”

“Iya?”

“Apa kau tahu kalau aku sangat membenci Appaku saat dia berubah?”

Aku tidak menjawab pertanyaan Sehun karena takut salah menjawab.

“Aku membenci orang yang tidak pernah berubah karena aku tidak tahu, karena aku sangat bodoh.”

“Sehun-ah…”

“Aku sangat menyanginya…”

“Aku mengerti perasaanmu, Sehun. Aku juga pernah membenci Appaku tanpa tahu kalau dia melakukan tindakan yang kubenci hanya untuk menjagaku. Menurutku Appamu juga begitu.”

“Siapa yang memaksa Appaku untuk melakukan itu…”

“Kita akan mengetahuinya saat pelaku pembunuhan Appamu tertangkap.”

“Minseok-a, ada yang harus kuberitahukan padamu.”

“Apa itu?”

“Maafkan aku jika ini bukan hal yang ingin kau dengar, atau mungkin waktunya kurang tepat, tapi aku harus memberitahumu sebelum kau sibuk dalam pembuatan filmmu. Marga aslimu adalah Byun.”

Tubuhku membeku saat mendengar kalimat terakhir Sehun. Byun? Kenapa marga itu mirip dengan marga Baekhyun-hyung?

“Darimana kau tahu?”

“Eommamu. Aku mendengarnya saat Eommamu berbicara dengan dokter Park.”

“Dokter Park?”

“Iya.”

Dokter Park? Jadi dia benar-benar tahu siapa aku yang dulu?”

***

Sudah sekitar 5 menit Chanyeol dan Baekhyun saling berdiam diri. Baekhyun tidak bisa keluar dari mobil Chanyeol karena Chanyeol mengunci mobil itu.

“Chanyeol-a,” kata Baekhyun membuka pembicaraan, “jika kau memang tidak mau memberitahuku kenapa kau berubah setelah urusanmu di Busan tempo lalu, maka jangan berbicara denganku.”

“Jangan seperti anak kecil, Baekhyun.”

“Aku tidak tahu lagi bagaimana memaksamu untuk bicara.”

Setelah kembali terdiam beberapa saat, akhirnya Chanyeol membuka kunci mobil seperti mempersilahkan Baekhyun untuk keluar.

“Baiklah, aku tidak akan berbicara padamu sampai aku bisa menjelaskan kenapa aku berubah di matamu.”

Rasanya Baekhyun ingin menampar Chanyeol, tapi dia tidak bisa. Seberapapun bencinya Baekhyun pada Chanyeol, rasa cinta Baekhyun tetap lebih besar.

Akhirnya setelah menghela nafas panjang, Baekhyun membuka pintu mobil dan keluar setelah sekali lagi melihat Chanyeol dari spion luar. Setelah Baekhyun menutup pintu mobil, dengan cepat mobil Chanyeol melaju meninggalkan Baekhyun.

“Aku tidak ingin kau melakukan hal yang tidak-tidak, Chanyeol-a, hanya itu.”

Sementara di dalam mobil, Chanyeol tidak henti-hentinya meminta maaf pada Baekhyun karena harus melakukan hal buruk pada Baekhyun dan adiknya. Chanyeol yang sebenarnya tidak ingin melakukan itu semua, tapi dia mempunyai tanggung jawab yang memaksanya melakukannya.

“Aku mencintaimu, Baekhyun-a…,” lirih Chanyeol.

***

Byun Baekhyun meminta Minseok untuk menemuinya di apartemennya karena dia sangat membutuhkan Minseok. Saat ini, Byun Daehyun sedang tidak di apartemen Baekhyun, melainkan di rumah keluarga Byun. Seperti Baekhyun, Minyoung dan Taera juga berpura-pura tertipu dengan Daehyun palsu itu, jadi semua aman.

Ting tong ting tong

Dengan sedikit tergesa-gesa, Baekhyun membukakan pintu dan betapa leganya dia saat melihat Minseok yang datang.

“Minseok-a…”

Baekhyun menarik tangan Minseok dan mereka duduk di sofa. Baekhyun tidak langsung bercerita dan menggenggam tangan Minseok lebih erat.

“Chanyeol…orang itu…”

“Ada apa, Hyung?”

“Aku tidak mengerti kenapa dia tidak mau berterus terang tentang perubahan sikapnya.”

“Jadi sampai sekarang dia masih diam?”

“Eoh…”

“Hyung, aku tidak terlalu mengenal Chanyeol-hyung sebaik kau mengenalnya, tapi jangan berperasangka buruk dulu padanya, atau…kau mungkin akan sangat menyesal jika mengetahui alasan kenapa dia berubah.”

“Kenapa kau berkata seperti itu?”

“Karena aku pernah mengalaminya, Appa dan Pamanku.”

“Maafkan aku karena mengingatkanmu pada mereka, Minseok-ah.”

“Tidak apa-apa, Hyung.”

“Apakah malam ini aku boleh menginap di rumahmu? Satu malam saja.”

“Tentu saja, Hyung. Kau boleh tinggal di sana selama kau mau.”

“Gomawo.”

Kyungsoo yang baru saja kembali dari kedai Valcy terkejut saat melihat Baekhyun ada di rumahnya, terlebih lagi Baekhyun memakai baju santai.

“Kyungsoo-a, aku akan menginap di sini malam ini.”

“Oh…”

Kyungsoo tidak bisa menyembunyikan rasa cemburunya karena sekarang hubungan Baekhyun dan Minseok sangat baik.

“Hanya ‘oh’?”

“Eum…semoga kau nyaman di sini.”

“Kyungsoo, ada apa denganmu hari ini? Apa karena kau baru ujian, jadi kau sedikit bad mood?”

“Tidak, Hyung. Aku hanya sedikit lelah.”

“Kalau begitu istirahatlah yang banyak, mumpung sedang liburan.”

“Ne. Minseok-hyung kemana?”

“Dia sedang membeli makan malam.”

Kyungsoo duduk di sebelah Baekhyun lalu menyalakan tv. Akan tetapi, pikiran Kyungsoo sama sekali tidak ke tv, tapi pada kasus keluarga Byun 19 tahun yang lalu. Kasus itu benar-benar mengganggu pikirannya, tapi dia mencoba tenang. Setidaknya adik Baekhyun sudah ditemukan, jadi kemungkinan besar Minseok bukan adik kandung Baekhyun, begitulah pikir Kyungsoo.

“Kyungsoo-a, aku ingin bertanya padamu.”

“Tentu.”

“Bagaimana kalau Hyungmu adalah adikku?”

Tangan Kyungsoo yang sedang memegang remote tiba-tiba gemetar. Dia mengigit bagian bawah bibirnya untuk menahan amarahnya yang meluap. Saat dia benar-benar tidak sanggup menahannya, Kyungsoo menarik kerah baju Baekhyun dan mendorong Baekhyun sampai tertidur di sofa dan dia bisa menahan tubuh Baekhyun dengan tubuhnya.

“Apa maksudmu?”

“K-Kyungsoo-a, aku hanya bertanya.”

“Apa kau tahu kalau aku benar-benar menyayangi kakakku? Dari hatiku yang paling dalam, aku tidak ingin dia kembali pada keluarga aslinya, tapi kenapa kau datang?”

“Apa yang kau katakan?”

“Berhenti membuat Hyungku seolah-olah adalah adikmu!”

“Apa kau tahu bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang sangat kau sayangi? Apa kau tahu, hah?!”

Baekhyun berganti mendorong Kyungsoo sampai namja itu tersungkur di lantai.

“Aku hanya ingin menganggapnya sebagai adikku, Kyungsoo-a. Bagaimanapun, dia bukanlah adikku.”

“Mian…”

Baekhyun mengulurkan tangannya pada Kyungsoo, tapi Kyungsoo tidak menanggapinya.

“Maafkan aku karena tidak bisa mengontrol emosiku, Hyung. Aku tidak bermaksud seperti itu, aku hanya…”

“Kau akan sangat sedih, bukan, jika kakakmu bertemu dengan keluarga aslinya?”

“Mengetahui kenyataan kalau dia bukan kakakku saja sudah membuatku gila, apalagi jika dia benar-benar pergi.”

“Menurutku dia tidak akan meninggalkanmu.”

“Nde?”

“Minseok memang pernah bilang, kalau dia sangat ingin menemui keluarga aslinya. Tapi aku yakin, dia tidak akan semudah itu meninggalkanmu.”

“Aku takut…”

“Kyungsoo-a, aku berjanji akan melindungi Hyungmu saat dia tidak bersamamu, dan, aku tidak akan merebut tempatmu di hatinya.”

***

Seminggu kemudian…

Hari ini adalah hari dimana semua staff dan juga pemain untuk pembuatan film adaptasi novel Minseok yang berjudul Immortal Love berkumpul. Saat tiba di lokasi, Luhan langsung mencari Minseok seperti orang gila. Wu Yifan sampai kewalahan mengikuti namja itu.

“Gege, kira-kira dimana Xiumin?”

“Mungkin dia masih perjalanan ke sini.”

“Aku sudah menelponnya berulang kali, tapi dia tidak mengangkatnya.”

“Mungkin dia tidak bisa mengangkat telepon jika sedang mengemudi.”

“Bukankah dia pergi dengan Yixing?”

“Mungkin Yixing tidak mengantarnya.”

“Arrgggh, aku bisa gila karena menunggunya!”

“Xi luhan, berhentilah berlebihan hanya karena kau ingin bertemu dengan Xiumin!” omel Yifan yang sudah tidak tahan dengan tingkah Luhan yang sangat berlebihan.

“Iya-iya,” kesal Luhan sambil menggembungkan pipinya.

Tap…

Tap…

Tap…

Terdengar suara langkah kaki datang dari pintu masuk ruang pertemuan, dan pemilik langkah itu adalah Kim Minseok. Luhan langsung berdiri saat melihat kekasihnya datang sambil tersenyum padanya. Akan tetapi, dahi Luhan sedikit berkerut saat melihat orang asing di samping Minseok. Sambil menerka-nerka siapa itu, Luhan menghampiri Minseok dengan sedikit berlari.

“Kenapa kau tidak menjemputku di bandara?” tanya Luhan sedikit berbisik.

“Tadi aku harus bertemu dengan asistenku, orang yang akan membantuku selama menjadi sutradara,” jelas Minseok seraya merangkul orang asing di sampingnya, “perkenalkan, namanya Byun Daehyun.”

Senyum di wajah Luhan langsung memudar. Kelopak matanya sedikit melebar saat mendengar nama yang tidak asing lagi baginya, nama yang sangat dirindukannya. Nafas Luhan sedikit tertahan dan langkahya perlahan menjauh walau tidak signifikan sehingga kedua namja di depannya tidak sadar.

“S-siapa namanya?”

“Namaku Byun Daehyun,” ucap Daehyun seraya membungkuk hormat.

***

“S-siapa namanya?”

Sikap Luhan langsung berubah saat aku mengenalkan Daehyun palsu itu padanya. Aku tidak tahu secara pasti, tapi entah kenapa Luhan seperti bertemu dengan orang yang sudah lama tidak ditemuinya dan sekarang dia sedang menenangkan dirinya sekaligus tidak percaya pada apa yang dilihatnya.

“Namaku Byun Daehyun.”

Luhan tidak bereaksi apa-apa, dia hanya menatap Byun Daehyun cukup lekat lalu saat aku menggoyangkan lengannya, Luhan langsung salah tingkah.

“Kau kenapa?”

“T-tidak, aku tidak apa-apa.”

“Yasudah, ayo duduk. Sebentar lagi acara akan dimulai.”

Kugandeng tangannya yang dingin. Ada apa dengan Luhan? Kenapa dia bersikap aneh begini? Apakah dia dan Daehyun palsu ini pernah bertemu?

“Ah, senang berjumpa lagi denganmu, Gege,” ucapku pada Yifan.

“Iya, senang melihatmu sudah sehat sekarang.”

“Ne, terimakasih untuk semuanya.”

Aku duduk di hadapan Yifan dan Luhan, sedangkan Daehyun duduk di sampingku. Beberapa saat kemudian, Tuan Xia datang dengan sebuah tumpukan kertas di tangannya. Kurasa itu naskah film.

“Selamat pagi, semuanya.”

“Selamat pagi…”

“Sudah lama sekali aku tidak ke Korea, dan sekarang Seoul semakin indah saja,” pujinya, “Nah, karena seluruh staff dan pemain film ini sudah berkumpul, mari kita bicarakan rencana kita 2-3 bulan ke depan.”

Tuan Xia memang orang yang perfeksionis. Dia sudah memikirkan semuanya secara menyeluruh dan membuat kami tidak keberatan pada sebagian besar rencananya. Beberapa hal penting yang dia rencanakan diantaranya, pertama, semua staff dan pemain akan tinggal di asrama yang sama dan boleh sesekali pulang pada saat jadwal syuting tidak terlalu padat. Asrama itu seperti rumah susun yang terdiri dari beberapa rumah dengan dua kamar, dua kamar mandi, satu ruang tengah, balkon, dan satu dapur di dalam satu rumah. Satu rumah akan diisi oleh 4 orang, aku akan satu atap dengan Luhan, Yifan, dan Lay.

Kedua, syuting akan dilakukan dengan jadwal tetap dari jam 7 pagi sampai jam 9 malam dengan beberapa jam istirahat. Jadwal yang ditawarkan Tuan Xia tidak memberatkan atau membahayakan kesehatan kami, jadi kami semua langsung menerimanya. Akan ada 1 minggu ekstra untuk memperbaiki kekurangan dalam film ini. Jadi target pembuatan film ini adalah 3 bulan lebih 1 minggu. Jika kami beruntung, mungkin film ini bisa selesai kurang dari itu.

Ketiga, sekaligus terakhir, setiap minggu akan diadakan meeting 1-2 jam oleh staff saja, untuk membicarakan scene yang sudah dan akan dilaksanakan agar semuanya terorganisir dan tidak kacau balau.

“Nah, itulah beberapa hal penting yang dapat kusampaikan pada pertemuan kita kali ini. Besok kita akan mulai melakukan reading untuk para pemain, jadi jaga kesehatan kalian untuk kesuksesan film kita kali ini!”

Setelah berteriak ‘fighting’, kami semua bubar. Daehyun pamit duluan karena ingin menemui Baekhyun-hyung.

Aku langsung menghampiri Luhan yang diam saja selama pertemuan. Ya tidak salah sih, tapi wajahnya saat diam agak tidak biasa. Seperti ada yang dia sembunyikan.

“Lu-ge, kau baik-baik saja?” tanyaku.

“Dimana kau bertemu dengan Daehyun?”

Benar dugaanku. Penyebab sikap aneh Luhan adalah Daehyun.

“Dia adik Baekhyun-hyung yang tempo lalu kuceritakan. Kenapa?”

“Tidak apa-apa.”

“Jangan berbohong, Luhannie.”

“A-aku tidak berbohong, sungguh.”

“Baiklah…ah, apa kau tidak senang kita satu rumah?”

“Tentu saja aku senang! Sangat senang, mumumumu!!”

Luhan langsung bertingkah seperti ingin menciumku, tapi aku langsung memukul kepalanya dengan kertas naskah karena masih ada beberapa orang di ruangan itu.

“Ya! Berhenti berlebihan, Lu-ge!”

“Huft…kata-katamu mirip sekali dengan Yifan-gege.”

“Hahaha, ayo kita keluar. Yifan-ge dan Lay-ge sudah menunggu kita.”

“Apa aku boleh menginap di rumahmu? Sepertinya Yifan-gege lupa memesan apartemen.”

“Tumben. Baiklah, kau boleh menginap.”

“Yes!”

Luhan memang sudah kembali menjadi Luhan yang biasa, tapi sikapnya tadi cukup menggangguku. Apa dia sudah menemukan sesuatu yang dia tunggu sangat lama sehingga perhatiannya padaku berkurang?

***

“Yifan-ssie, Luhan-ssie, senang sekali melihat kalian berkunjung lagi,” ucap Shinae saat menyambut keduanya.

“Eomma, apa kau tidak senang melihatku?” tanya Lay yang kesal karena dia sendiri yang tidak disambut.

“Hahaha, kau kan sudah sering datang, Lay-ah.”

“Senang bertemu denganmu juga, Eomma,” ucap Luhan.

“Kami membawakan oleh-oleh untukmu,” kata Yifan seraya memberikan sebuah bingkisan pada Shinae.

“Gomapsimida. Mari, aku sudah menyiapkan makan siang untuk kalian. Ah, apa kalian akan menginap malam ini?”

“Iya, kami berencana menginap di sini karena temanku tidak sempat menyiapkan apartemen untuk kami,” ucap Yifan seraya melirik Lay tajam, “tapi besok kami sudah pindah ke asrama untuk pembuatan film, begitu juga Minseok.

“Iya, Eomma. Aku akan tinggal di asrama untuk pembuatan film beberapa bulan dari besok. Jadi sebaiknya ajak Kyungsoo jika kau mau menginap di rumah Jongwoon-hyung.”

“Tenang saja, Minseokkie. Kenapa akhir-akhir ini kau agak protektif pada Kyungsoo, eum? Itu membuatku cemburu.”

“Oh, maafkan aku, Eomma. Aku tidak sadar kalau…”

“Hahaha, tidak-tidak, aku hanya bercanda.”

***

“Tenang saja, Minseokkie. Kenapa akhir-akhir ini kau agak protektif pada Kyungsoo, eum? Itu membuatku cemburu.”

“Oh, maafkan aku, Eomma. Aku tidak sadar kalau…”

“Hahaha, tidak-tidak, aku hanya bercanda.”

Bagaimana aku tidak memberi perhatian lebih pada Kyungsoo jika teringat kejadian seminggu yang lalu. Saat dia berkelahi dengan Baekhyun-hyung karena aku. Aku tidak menyangka kalau Kyungsoo menahan kemarahannya saat aku dekat dengan Baekhyun-hyung. Sampai sekarang aku tidak bilang kalau aku tahu tentang perkelahian itu karena aku takut keadaannnya semakin buruk. Lagipula mereka sudah berbaikan.

“Xiuminnie, bagaimana kalau nanti malam kita ke rumah pohon?” bisik Luhan.

“Untuk apa?”

“Apa kau tidak merindukanku?”

“Memangnya kenapa kalau aku merindukanmu?”

“Hei…kau itu bodoh atau polos sih?”

“Ha?”

“Aish…pokoknya nanti aku ingin mengobrol denganmu di rumah pohon.”

“Baiklah…”

***

Wu Yifan pamit pada Luhan dan Minseok dengan alasan ingin mengunjungi temannya, padahal sebenarnya dia pergi ke apartemen Lay untuk membicarakan perkembangan masalah Daehyun palsu itu.

“Sejauh ini mereka belum melakukan apa-apa,” kata Lay seraya meletakan kopi hangat di hadapan Yifan.

“Jadi mereka belum beraksi?”

“Belum. Menurutmu, apa yang akan mereka lakukan? Kenapa mereka sampai mengirim Tuan Daehyun palsu?”

“Kemungkinan pertama, mereka takut jika Baekhyun tahu kalau Minseok adalah Daehyun, mengingat hubungan mereka sudah membaik. Kemungkinan kedua, mereka mengirim Daehyun palsu itu sebagai mata-mata untuk mengetahui titik kelemahan penjagaan keluarga Byun saat ini.”

“Apa mereka akan membunuh Tuan Baekhyun dan Daehyun?”

“Aku tidak tahu, tapi mungkin mereka memang berencana begitu. Aku masih mencurigai anak kedua Nyonya besar, Byun Mina, yang sekarang sudah mempunyai usaha besar di China. Anak Byun Mina, Kim Joonmyun, sudah kau selidiki identitasnya?”

“Sesuai keterangan sebelumnya, Kim Joonmyun dan Byun Mina tinggal di China beberapa tahun terakhir untuk mengelola usaha almarhum Kim Joona. Hubungan mereka dengan keluarga Nyonya besar sudah putus sepenuhnya.”

“Lalu?”

“Hanya itu yang bisa kudapatkan.”

“Lalu bagaimana dengan Park Chanyeol?”

“Sekarang dia tinggal dengan Ayahnya yang cacat, Ibu dan adik perempuannya yang seumuran dengan Kyungsoo. Mereka tidak tinggal di Seoul, melainkan di Busan. Sebelum Chanyeol menjadi CEO di Anthersy Book, dia belajar di Universitas negri di Seoul bersama Tuan Baekhyun. Mereka teman dekat sejak smp, jadi wajar jika Tuan Baekhyun memanfaatkan koneksinya untuk membantu Park Chanyeol yang saat itu tidak sekaya sekarang. Setelah kuliah, yang membantu Chanyeol menjadi CEO di Anthersy Book adalah Tuan Baekhyun.”

“Tuan Baekhyun benar-benar memberikan semua yang dia punya untuk Chanyeol, tapi kenapa Chanyeol malah menyukai Tuan Daehyun?”

“Aku juga menyelidiki masa lalu itu. Dulu, Chanyeol bertemu dengan Tuan Daehyun di supermarket tempat Chanyeol bekerja sambilan. Sepertinya Tuan Daehyun sedang mengalami masalah dengan Ayahnya dan Tuan Chanyeol menghiburnya. Sejak itu mereka dekat dan akhirnya berpacaran. Akan tetapi, saat Tuan Daehyun memutuskan untuk pergi dari rumah 4 tahun yang lalu, Chanyeol mengakhiri hubungan mereka.”

“Apa ada yang harus kita curigai dari Park Chanyeol?”

“Ada. Hubungannya dengan Kim Joonmyun. Kemarin Tuan Daehyun bercerita padaku kalau Park Chanyeol dan Kim Joonmyun mengatakan hal yang berbeda tentang kenapa Kim Joonmyun bisa berada di sana. Saat Chanyeol berkata pada Tuan Baekhyun, Kim Joonmyun adalah orang yang dibawanya pribadi dari China, tapi pada Tuan Daehyun, Kim Joonmyun berkata kalau dia mengajukan diri pada Chanyeol. Jika itu salah paham, setidaknya inti dari keterangan keduanya seharusnya hampir mirip, tapi kenyataannya berbeda.”

“Iya, itu cukup aneh.”

“Aku akan berusaha mencari lebih banyak lagi keterangan tentang mereka bertiga, Kim Joonmyun, Park Chanyeol, dan Byun Daehyun palsu itu.”

“Ah, ada dua orang lagi yang harus kita selidiki.”

“Nugu?”

“Dokter Park dan Kim Shinae.”

***

Siang itu, Kim Sehun mengajak Park Jungsoo untuk makan siang bersama di kantin rumah sakit. Tujuan Sehun mengajak Jungsoo makan siang adalah menggali informasi mengenai masa lalu Minseok sebanyak mungkin. Karena dia merasa, mungkin saja pembunuhan ayahnya berhubungan dengan masa lalu Minseok.

“Jungsoo-ssie, apa Anda tahu kalau aku adalah sepupu Kim Minseok?” tanya Sehun di sela-sela makan siang.

“Ah, tentu.”

“Kalau begitu, bolehkah mengetahui kondisi Kim Minseok setelah penyerangan itu?”

Park Jungsoo terdiam sejenak sambil menatap Sehun bingung.

“Itu bukan alasan yang kuat bagimu untuk mengetahuinya.”

“Apa aku tidak boleh tahu bagaimana kondisi korban Appaku?”

Jungsoo terbatuk. Dia baru ingat kalau tersangka penyerangan Minseok adalah Appa Sehun.

“B-bukan seperti itu, Sehun-ssie.”

“Jadi, perbolehkan aku melihat berkas kesehatan Minseok.”

“Sebenarnya apa tujuanmu?”

“Hah?”

“Apa tujuanmu mengajakku makan siang?”

“Aku hanya…ah, hahahaha, kau memang dokter yang luar biasa, Jungsoo-ssie.”

“Jadi kau sudah tahu?”

“Ye. Akan tetapi, bagaimana kau bisa tahu apa maksudku?”

“Sudah terlihat jelas kalau kau ingin mengetahui sesuatu dariku tentang Kim Minseok.”

“Ye-ye, aku memang tidak pernah bisa membohongimu.”

“Kalau kau ingin mengetahuinya, kau bisa bertanya pada Kim Shinae, Eomma Minseok.”

“Aku memang berniat menanyakannya, tapi bukankah lebih baik aku bertanya padamu?”

“Kenapa?”

“Karena jika aku bertanya padanya, itu mungkin akan menyakitinya.”

***

Luhan meraih tanganku saat membantuku naik ke atas rumah pohon. Setelah sampai di atas, dia terus menggenggam tanganku sampai kami duduk di tempat yang sama saat dia menyatakan perasaannya padaku. Dia mulai merangkul tubuhku sampai tidak ada jarak lagi di antara kami.

“Apakah kau baik-baik saja?” tanyanya.

“Iya, kau sendiri?”

“Aku tidak baik-baik saja.”

“Wae? Apa kau sakit?”

“Tidak, aku merindukanmu, jadi aku tidak baik-baik saja.”

“Ey…mulai lagi…”

“Apa kau sudah menemukan petunjuk mengenai keluarga aslimu?”

“Eoh…”

“Apa itu?”

“Marga asliku Byun.”

“Byun? Sama seperti Byun Baekhyun atau…Byun Daehyun?”

“Eum, tapi pemilik marga Byun itu banyak.”

“Hem, benar juga. Lalu?”

“Aku tidak tahu apakah aku akan melanjutkan pencarianku atau tidak. Sudah pernah kubilang bukan, aku sudah cukup bersyukur dengan keadaanku yang begini. Jika aku bukan Kim Minseok, mungkin aku tidak akan pernah bertemu denganmu, Yifan-gege, Lay-gege, atau mungkin aku tidak akan mempunyai adik yang luar biasa seperti Kyungsoo. Aku ingin bertemu dengan mereka, tapi apakah semua akan baik-baik saja jika kami bertemu? Bagaimana jika mereka tidak membolehkanku bertemu lagi dengan Eomma dan Kyungsoo?”

“Oh, ayolah, Xiuminnie. Kau hanya terlalu takut.”

“Tapi aku memang takut, Lu-ge. Aku takut membuat semua orang kecewa dengan keputusanku kelak.”

“Bukankah dulu aku pernah bilang, kalau kau masih takut, kau bisa menggenggam tanganku, seperti ini.”

“Tentu, aku tidak pernah lupa bagaimana pertamakali kau menghiburku. Akan tetapi, masalah ini tidak sama, Lu-ge. Bagaimanapun, aku harus memilih antara mereka yang sudah kucari sekian lama, dan mereka yang sudah menemaniku sekian lama.”

Luhan menuntun tanganku dan meletakannya di dadaku lalu memejamkan matanya, sedangkan aku hanya bisa menatapnya heran.

“Apa yang kau rasakan?”

“Apanya?”

“Kau harus menutup matamu untuk bisa merasakannya.”

Dengan sedikit bingung, kupejamkan mataku sepertinya. Setelah itu, aku bisa merasakan detak jantungku lebih kencang dari biasanya.

“Bukankah sudah cukup apapun pilihan yang akan kau ambil nanti untuk mereka? Mereka akan menerimanya saat melihatmu sesehat ini, Xiuminnie.”

Kubuka mataku dan menoleh padanya yang sudah tersenyum sambil menatapku. Lalu Luhan mengecup dahiku dan menempelkan dahinya dengan dahiku.

“Benar, kan? Dengan memiliki kehidupan terbaik dengan keluargamu, mereka akan menerima apapun keputusanmu.”

Benar. Apa yang Luhan katakan semuanya benar. Dengan melakukan yang terbaik untuk mereka, aku akan membuat mereka menerima apapun keputusanku.

“Gomawo…,” lirihku.

Setelah melihatku yang sudah agak tenang, Luhan melepas dahinya lalu memandang ke langit.

“Selain itu, maafkan aku karena bersikap aneh hari ini, Xiuminnie.”

“Apa kau membicarakan masalah tadi siang?”

“Iya. Saat aku terlalu lama menatap Byun Daehyun.”

“Jadi itu karena Daehyun?”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Mungkin, dia cinta pertama yang selama ini kutunggu.”

“Mwo?”

“Maaf karena harus mengatakannya padamu, tapi aku berharap kau tidak salah paham dengannya. Aku sedang berusaha melupakan orang itu bagaimanapun caranya, Xiuminnie. Kata-katamu waktu itu yang membuatku bisa menahan perasaanku pada Daehyun.”

“T-tapi…”

“Iya?”

Tidak, aku tidak boleh mengatakannya pada Luhan kalau namja itu adalah Daehyun palsu. Aku tidak ingin masalah Baekhyun-hyung semakin rumit.

“Tolong jangan mencintai orang itu, Lu-ge.”

“Hahahaha, apa sekarang kau cemburu?”

“Ne, aku cemburu!”

“Jangan berbohong, Xiuminnie.”

“Apa jika aku tidak cemburu, kau berniat menyukainya lagi?”

“Apa?”

“Jika kau belum bisa melupakannya, kenapa kau mau menjadi kekasihku, Lu-ge?”

“B-bukan begitu…”

“Jadi?”

“Bolehkah aku berkata jujur?”

“Tentu.”

“Setiap aku bersamamu, aku selalu merasa orang itu sedang bersamaku. Kau sangat mirip dengan Byun Daehyun, Xiuminnie, senyummu terutama.”

“T-tunggu dulu. Jadi orang yang selama ini kau tunggu adalah Byun Daehyun? Adik Baekhyun-hyung?”

“Aku tidak tahu kalau Byun Baekhyun adalah kakak Daehyun, tapi seingatku dulu Daehyun memang punya kakak yang…melarangku untuk berteman dengan Daehyun.”

“Melarangmu? Kenapa?”

“Karena dia takut adiknya tidak mempunyai teman gara-gara berteman dengan namja China sepertiku.”

“Hyung!”

“Sudah kubilang jangan dekati adikku!”

“Hyung hentikan!”

“Kalau kau mendekati adikku, dia akan diejek oleh teman-temannya! Sebaiknya sekarang kau pergi!”

Sebuah bayangan tidak biasa tiba-tiba saja terlintas di pikiranku. Bayangan yang sama saat Chanyeol-hyung memukuli Luhan.

Tanganku gemetar saat mendapatkan bayangan itu. Kudekap kedua telingaku karena suara teriakan anak kecil itu terus menggema di telingaku. Aku mulai berteriak histeris dan berusaha menjauh dari Luhan.

Luhan yang kebingungan langsung mendekatiku dan menggoyang-goyangkan tubuhku cukup kencang.

“Xiuminnie, kenapa kau seperti ini?”

“Pergi! Pergi!”

“Ha?”

“Jangan sampai Hyungku memukulimu lagi Lu-ge! Aku tidak ingin kau terluka! Pergi!”

***

“Jangan sampai Hyungku memukulimu lagi Lu-ge! Aku tidak ingin kau terluka! Pergi!”

Luhan berhenti menggoyang tubuh Minseok. Dia ingat kata-kata itu, kata-kata yang dilontarkan Byun Daehyun saat terakhir kali mereka bertemu. Kata-kata yang membuatnya kehilangan cinta pertamanya.

“X-Xiuminnie, kau siapa?”

#note: waaa, udah tembus 10 chapter aja -_- padahal kan aku targetnya nggak lama-lama. tapi ternyataaa. alurnya juga makin pelan aja ya -_- kkkk. kita pelan-pelan dulu yaaa. aku seneng ngejahilin kalian xD . sankyuuuu 😀

Advertisements

19 thoughts on “My Immortal Love is You _ XiuHan/LuMin (Bagian 10)

  1. Xiumine kau siapa? Kau seperti jelly! #plak maafkan aku yang bru review lagi di chap ini yahh kau tahu lah sejak Luhan leave aku menghilang dri peradaban selama beberapa minggu hehe. Oke aku kangen cerita ini huee, udah mulai terbuka sedikit2 aku tebak Luhan pasti udah tau xiumin itu byun Daehyun duluan abis cerita masa kecil mereka romantis . Chanyeol juga kyanya udag move on dri xiumin. oke semangat untuk next chap author !

    • wadoh! saking imutnya ya?? heheheheee
      hiks, sama…aku juga nggak semangat ngelanjutin ff gara-gara luhan pergi. nggak nyangka luhan yang kugambarin sbg artis solo di ff ini malah jadi kenyataan 😦 aku sih masih berharap… *curcol*
      aku juga kangen komentar dari kamuuuu huaaaa.
      iya ni, tapi aku masih bingung gimana caranya mereka bener-bener bisa ngebuktiin semuanya. masih roaming ni otakku, stuck in the moment *apadah*
      wkwkwk, luhan pasti tahu! yes! 😀
      chanyeol bukan move on, tapi…eum….rahasia! hehehehe 😀
      makasih banyak udah baca 😀

  2. huwaaa udah lama ga baca ff gara” sibuk sama tugas dan sekarang ga kerasa udah sampe chapter 10

    daebak thor ceritanya makin kesini makin seru dan bikin tegang jadi ternyata keluarga asli minseok itu baekhyun? huwaa ga nyangka banget dan chanyeol sama joonmyeon itu jahat ya?

    Pokoknya mah ini ff DAEBAK !!
    Lanjut thor ^^

    • huwaaa, aku juga lagi sibuk jadinya updatenya lama -_-
      aku juga! makin tegang gara-gara joonmyun mencuci otak semua orang buat nyelakain keluarga Byun *eh*
      sama, aku juga nggak nyangka chanyeol sama joonmyun jahat 😦 hiks,sedih bangettt
      jadi maluuuu, makasih banyak ya udah ngikutin 😀

  3. waah bru td pg sy bc yg part 8 sm 9 eh skrg yg part 10 udh ada haha senengnyaa..
    mkin lma masa lalu minseok bkal ktauan nh.. semangat author buat part slnjtnya, partnya yg pnjang ya ehehe

    • heheheeee, makasih banyak ya udah mau baca ffkuu 😀
      pasti! aku harus mengungkap identitas Xiumin bagaimanapun caranya! *apadah*
      semangat-semangat!! doain aja ya 😀 makasih banyak 😀

  4. Akhirnyaa,,,
    Chap 10 muncul jugaaa…

    Ahh,, jadi makin penasaran sama cerita nya…
    Apalagi waktu adegan Luhan nanya sama Xiumin “X-Xiuminnie, kau siapa?” Greget bangett…

    Chap depan buruan di update ya, eon ^^

    • woaaa, akhirnyaaa hehehe.
      jadi penasaran ni yaaa, hayooo
      samaa!! aku juga gereget banget, tapi apa daya, saya suka ngejahilin pembaca *et dah*
      mudah-mudahan bisa cepet 😀
      makasih banyak yaw 😀

  5. Huaaaa~ akhirnya chap 10 update jugaaa \^.^/

    Ah eonnie kok aku ngerasa Chanyeol cuma pura-pura masih suka sama Minseok ya? Dan sebenernya dia sukanya sama Baekhyun. *sok tau*

    Wah udah pada tau deh marga asli Minseok~ ^.^/\ tapi Lu-ge kayaknya masih dilanda/? kebingungan tentang Minseok dan Daehyun palsu siapa yang asli :3 haha

    Keluarga Byun emang Jjang! (y) haha keren deh keluarga Byun, etapi lebih keren eonnie yang bikin ff ini :3 haha

    Ahhhh~ eonnie lagi seru-seru malah tbc-_- tapi yaudahlah ya aku tau eonnie lagi sibuk *sok tau*
    Eonnie cepet-cepet update ya, kau membuatku sangat penasarann “ψ(`∇´)ψ haha
    Udah ah segitu aja reviewnya kepanjangan :3 bye eonnie semangat terus buat bikin ffnya, Annyeong~ /lambai tangan bareng Xiuhan/

    • huaaa, akhirnyaaa
      hayo=hayo mulai tebak-tebakan ni 😀 kayaknya tebakan kamu…dingdong! rahasia! 😀
      yes! kayaknya bentar lagi tamat ni *belum kepikiran siih*
      iya, aku kayaknya berlebihan banget ngegambarin keluarga Byun. hebat bingit. eeeh, aku jadi maluu >_<
      hehehe, kan aku suka ngejahilin pembaca *ditimpuk* . hehe, maap yaaa, mudah-mudahan bisa cepet.
      makasih banyak udah baca 😀

  6. huwwaaaa,,,, ceritanya makin seru, ketjeh, keren (y) pokok’e is the best lah 😀
    Suka bgt sma alurnya, apalg genrenya. Brothership, family, tp romancenya ttp ada..Bingung mau ngomong apalg, pokonya ff ini mesti dilanjutin & gg boleh lama2 ne 😉
    Mian sblmnya, dr part 2 ampe 9 ane jd siders. Bru di part 1 ama part ini saya ngomen. Tp janji deh part slanjutnya saya bakal komen trus 😉 Fightingg!!

    • waduh-waduhhh, jadi malu niiii. heheheh
      aku juga suka kamuuu :* *eh*
      wkwkwk, doain aja semoga ni otak makin panas ajaaa hehehe
      iya nggak apa-apa 😀 aku udah seneng kok kamu mulai komen lagi 😀
      makasih banyak ya 😀

  7. jadi peceye cintanya sama baekhyun toh pantesan dia mutusin minseok yg pergi ke china krn dia gak mungkin ninggalin baekhyun yg dia cinta..knp peceye jd jahat? pasti junmyung yg ngancem dia bakal ngapa-ngapain keluarganya ughh dasar jahat >.<

    kesian kyungsoo sangat tertekan, takut kehilangan perhatian dr org yg sangat dia sayang, minseok.

    luhan pasti bakal mengenali siapa cinta pertamanya, emm hati emng gak bisa bohong ^^

    lanjut cuss jgn lama-lama, aku gak sabar pingin baca part luhan dan minseok dipembuatan film yg adegan romantis gtu hehe

    • hem-hem, kayaknya bukan gitu alurnya sayang, eum…nanti kukasih tahu kok hehehehe
      Joonmyun jahat banget ya kayaknya 😦 aku jadi merasa bersalah 😦 padahal doi aslinya guardiannn >_< hehehe
      iya, aku sebenernya nggak tega sama Kyungie, tapi minseok tetep harus milih pada akhirnya *eh*
      luhan kan paranormal, jadi dia harusnya tahu *eh* heheheee
      wkwkwk, aku nggak janji part selanjutnya bakal cepet updatenya 😦 maap yaaa
      makasih banyak udah baca 😀

  8. jiaaaa nggak terasa udah sampai chap 10 walau pun alur ceritanya agak lamban nggak papa deh jgn terburu buru jg ntar ceritanya nggak asyikk lg ayo author yg semangat ya nulis ff nya FIGHTING!!!!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s