My Immortal Love is You _ XiuHan/LuMin (Bagian 08)

Tittle: My immortal love is you

Author: Fie

Genre: romance, family, drama, boyxboy

Length: Multichapter

Rated: T

Languange: bahasa

Pairing: LuMin/XiuHan

Cast:

Main cast:

– EXO XiuMin as Kim Minseok/XiuMin

– EXO Luhan as Xi Luhan

– EXO Chanyeol as Park Chanyeol

– EXO Baekhyun as Byun Baekhyun

Supporting cast:

– EXO SuHo as Kim Joonmyun

– EXO D.O as Kim Kyungsoo

– EXO Lay as Zhang Yixing

– EXO Kris as Wu Yifan

– EXO Sehun as Kim Sehun

– EXO Kai as Lee Jongin

– EXO Chen as Lee Jongdae

– EXO Tao as Hwang Zitao

– Super Junior Yesung as Kim Jongwoon

– SNSD Sunny as Lee/Kim Soonkyu

– Other….

“Sebuah cerita tentang kasih sayang yang akan terus abadi.”


 

EIGHT – Return

“Aku ingin kembali ke masa lalu yang tidak pernah kuingat. Karena aku merasa, ada seseorang yang sedang menungguku dengan perasaan terluka.”

WU YI FAN menaruh tasnya di sofa putih yang kemudian didudukinya. Seorang lelaki bertubuh kecil mendekatinya sambil membawa dua cangkir teh panas dan meletakannya di hadapan Yifan.

“Bagaimana?” tanya pria kecil itu.

“Apanya yang bagaimana?”

“Kasus Tuan Daehyun.”

“Oh, itu tidak sulit. Mungkin sekitar 2 minggu lagi Kim Han akan ditangkap.”

“Baguslah.”

“Yixing, apa yang dikatakan Hanzhuo-ge saat menyuruhmu ke sini?”

“Ya seperti biasa.”

“Oh…”

“Tadi siang, Tuan Baekhyun dan Tuan Daehyun bertemu.”

“Benarkah? Kudengar mereka teman satu SMA dulu.”

“Eum, tapi sepertinya Tuan Baekhyun tidak menyukai adiknya karena Park Chanyeol.”

“Ohya?”

“Apa yang harus kita lakukan pada Park Chanyeol? Dan sampai kapan kita harus menyembunyikan identitas Tuan Daehyun?”

“Sampai pelaku pembunuhan itu tertangkap. Sebentar lagi, aku yakin, sebentar lagi.”

“Kim Joonmyun bukan orang yang bisa diremehkan, Yifan. Kau tidak boleh bersantai.”

“Tentu saja, dia dan keluarganya bukan orang biasa dan kita tahu itu. Itulah mengapa Nyonya besar menyuruh kita menjaga Tuan Daehyun dan Tuan Baekhyun.”

“Sampai sekarang, sebenarnya aku tidak mengerti kenapa mereka dipisahkan.”

“Aish…kau tetap bodoh seperti biasa.”

“Berhenti mengejekku dan jelaskan apa yang terjadi. Selama 19 tahun ini aku benar-benar tidak mengerti.”

“Jika mereka tinggal bersama, kita tidak bisa menemukan pelakunya.”

“Kenapa?”

“Pelaku itu berhubungan dengan Kim Shinae.”

“Eomma Kim Minseok, oh, maksudku Eomma angkat Tuan Byun Daehyun?”

“Iya.”

***

Luhan membuka sedikit pintu kamar Minseok dan melihat Minseok yang sudah tertidur lelap dari celah pintu. Senyumnya mengembang cukup lebar saat melihat wajah polos Minseok. Kemudian, dia tutup lagi perlahan karena tidak mau mengganggu Minseok.

Dimasukan kedua tangannya ke kantong celananya dan berjalan sambil tertawa kecil. Dia masih tidak percaya Minseok bisa menjadi kekasihnya padahal dulu dia hanya berharap untuk bermain film dengannya.

“Aku tidak tahu kalau perasaanku bisa berubah saat bertemu denganmu. Byun Daehyun-ah, maafkan aku, aku tidak bisa lagi menunggumu karena ada orang lain yang harus kujaga. Maaf karena telah melanggar janji kita untuk bertemu lagi. Aku tidak ingin bertemu denganmu karena aku takut perasaanku padamu kembali muncul dan membuat Xiuminku terluka.”

Luhan membuka pintu kamar Kyungsoo dan hendak tidur juga, tapi saat akan masuk, Wu Yifan muncul dari tepi tangga.

“Oh, kau baru kembali,” ucap Luhan seraya melihat jam, “kau baru kembali jam 11 malam, apa yang kau kerjakan sih?”

“Aku berkunjung ke rumah temanku. Kau ingat orang yang memesankan kamar untuk kita tempo lalu? Tentu saja aku harus mengunjunginya.”

Luhan tidak menjawab atau berdebat dengan Yifan karena sekarang dia sangat mengantuk. Luhan masuk diikuti Yifan kemudian lelaki super tinggi itu melepas sepatu dan kaos kakinya serta jasnya.

“Kasus itu akan segera selesai, tenang saja.”

“Kasus penyerangan Xiumin? Benarkah?”

“Eum.”

“Bagaimana kau melakukannya?”

“Aku hanya membantu sedikit. Kami menyelidiki data transfer uang Kim Han diam-diam dan menemukan sesuatu yang ganjil di sana. Ada sejumlah uang dengan nilai yang sama seperti jumlah hutang Appa Xiumin ditransfer tepat sehari setelah malam penyerangan itu juga pada para saksi palsu. Nama pengirimnya masih diselidiki, tapi kami akan menyelidiki uang 1 juta won yang ditransfer itu terlebih dahulu. Saksi yang sebelumnya dipanggil atas rekomendasi Kim Han juga diselidiki karena diduga ada penyuapan karena dari masing-masing rekening saksi, didapatkan data transfer dengan jumlah yang sama juga di waktu yang sama, keesokan harinya setelah malam penyerangan, oleh Kim Han.”

“Apa menurutmu kesaksian Xiumin tentang Kim Han itu asli?”

“Sepertinya tidak. Aku yakin Xiumin tidak ingin melibatkan keluarganya lebih jauh karena dia tahu Kim Han bukan orang sembarangan. Kim Han dikenal sebagai rentenir yang sangat kejam dan kaya, dia bisa membayar banyak orang untuk menyelakai keluarga Xiumin walau dia masuk penjara. Maka dari itu, jika Kim Han ditangkap karena kesaksian Xiumin, keluarga Xiuminlah yang akan menjadi korban selanjutnya. Xiumin membuat polisi benar-benar kebingungan.”

“Aku juga mungkin akan melakukan itu jika menjadi Xiumin.”

Yifan hanya tersenyum getir seraya meregangkan tubuhnya.

“Ah, aku harus jujur padamu, Gege.”

“Hem?”

“Aku dan Xiumin sudah pacaran.”

“Apa!?”

“Aku menyatakannya kemarin malam. Kami akan berhubungan diam-diam, tenang saja.”

“Aish…kau ini…”

“Kau masih ingat perkataanku tempo lalu, kan. Aku tidak akan kehilangan orang yang kusukai untuk kedua kalinya.”

“Iya, aku tahu, tapi…”

“Sudahlah, walaupun kau melarangku aku sudah menjadi kekasih Xiumin sekarang.”

“Bukan, aku tahu kau adalah orang paling keras kepala yang pernah kukenal, jadi aku tidak akan melarangmu. Masalahnya di sini, apa kau tahu jka kau mempunyai saingan yang sangat berat untuk memiliki Xiumin?”

“Saingan? Aku sudah mendapatkan Xiumin sekarang, lalu apa yang harus kutakutkan? Ah…maksudmu si Park Chanyeol itu? Aku tidak takut.”

“Bukan saingan seperti itu, tapi saingan yang mungkin saja merenggut kehidupan Xiumin dengan mudah saat kau tidak bersamanya.”

“Apa? Maksudmu ada orang yang berniat menyakiti Xiumin lagi?”

“Aku tidak tahu, tapi mungkin saja iya.”

“Kalau kau tidak tahu kenapa berkata seperti itu?”

“Semua kemungkinan bisa saja terjadi bahkan kemungkinan yang paling buruk.”

“Lalu aku harus bagaimana?”

“Kau harus bernafas lega karena sekarang Xiumin sudah punya manajer baru walaupun orangnya seperti itu. Setidaknya, orang itu bisa melindungi Xiumin sementara kau di China sebelum pembuatan film.”

“Kau ini membuatku was was saja sih! Bagaimana bisa aku mempercayai orang seperti Lay? Kita harus membayar bodyguard tambahan untuk melindungi Xiumin!”

“Aish, itu malah akan membuat hubunganmu dengan Xiumin terbongkar.”

“Lalu?”

“Sudah kubilang kan tadi?”

“Aish…”

***

Hari ini Luhan dan Yifan akan pulang ke China. Di bandara, sangat banyak wartawan yang meliput kepulangan Luhan dan juga penggemar Luhan. Dengan kacamata hitam di matanya, Luhan melambaikan tangannya dari pintu masuk menuju pesawat dan berlalu. Minseok dan Lay memutuskan untuk langsung pulang dan tidak menanggapi pertanyaan para wartawan perihal kepulangan Luhan.

“Kita mau kemana sekarang?” tanya Lay.

“Tentu saja ke kantor.”

“Apa kau baik-baik saja?”

“Memangnya aku kenapa?”

“Luhan sudah pulang, apa kau bisa bertahan dari Park Chanyeol?”

“Apa yang kau bicarakan, Gege. Aku tidak akan selingkuh.”

“Iya, aku yakin kau tidak akan selingkuh, tapi…apakah Chanyeol akan diam saja? Apalagi dia belum tahu kalau kau dan Luhan sudah berkencan.”

“Aku tidak peduli. Yang kupedulikan sekarang adalah film dan bukuku.”

“Ooh…baguslah kalau begitu.”

“Kalau kau khawatir padaku, kenapa kau tidak mencoba mendekati Chanyeol dan berkencan dengannya agar dia tidak menggangguku.”

“Apa kau gila?”

“Mwo? Kau mengataiku gila?”

“Bagaimana aku bisa berkencan dengan orang lain jika aku sendiri sudah punya pacar.”

“Ha? Kau sudah punya? Nugu?”

“Kau tidak perlu tahu urusan pribadiku.”

“Hei…dasar menyebalkan…”

Minseok membuka kaca mobil dan mengeluarkan tangannya. Sambil memejamkan matanya, dia merasakan desiran angin pagi yang dingin. Dalam pejaman itu, dia bisa melihat wajah Luhan yang manis sedang menatap dan tersentum padanya. Senyum Minseok mengembang karena bayangan itu, dan sekarang dia baru sadar kalau…dia merindukan Luhan.

“Oh, bagaimana bisa…,” gumamnya.

“Kau kenapa?”

“Apa kau paranormal? Kenapa kau bisa mendengar gumamanku?”

“Tidak, aku hanya melihat wajahmu yang berubah merah.”

“Oh, benarkah?”

“Iya, tapi sekarang sudah tidak.”

“Lay-ssie, bolehkah aku bertanya?”

“Tentu.”

“Kenapa kau tidak menyuruhku untuk menjauhi Baekhyun-hyung?”

“Apa kau mau aku menyuruhmu menjauhi dia juga?”

“Menurutku orang yang berbahaya untukku adalah dia.”

“Kenapa?”

“Aku rasa dia tidak menyukaiku sejak awal. Senyumnya itu…tidak menggambarkan kalau dia benar-benar tulus berteman denganku.”

“Tidak ada yang tahu perasaannya yang sebenarnya.”

“Lalu apa kau tahu perasaan Chanyeol dan Joonmyun padaku?”

“Aku juga tidak tahu.”

“Nah, itu poinnya. Kalau kau tidak tahu, kenapa aku harus menjauhi mereka?”

“Aku tidak bisa mengatakannya sekarang, Xiumin. Suatu saat nanti, kau akan mengetahuinya.”

“Mengetahui apa?”

Lay tidak menjawab pertanyaan Minseok karena dia sudah berbicara terlalu jauh dan itu sangat berbahaya untuk rencananya.

“Sejak kedatanganmu, aku jadi semakin tidak tenang.”

“Mian…”

“Kau meminta maaf? Oh hahaha, aku hanya bercanda!”

“Aku juga bercanda soal minta maaf.”

“Ey…”

***

Lay dan aku tiba di kantor sekitar 30 menit kemudian. Karena aku belum tahu dimana ruangan kami, aku memutuskan untuk bertanya pada Chanyeol-hyung. Saat kami ke ruangannya, ternyata Chanyeol-hyung sedang ke luar kota.

“Maaf, apakah aku boleh meminta nomor ponsel Tuan CEO? Aku harus bertanya dimana ruanganku.”

“Oh, Tuan CEO menitipkan ini untukmu,” ucap sekretaris itu dan memberiku sebuah amplop.

“Gomapsimida, tapi bisakah aku meminta nomor Tuan CEO?”

“Aku kira kalian berteman baik.”

“Maksudmu?”

“Setiap aku melihatmu berkunjung ke sini, tatapan Tuan CEO padamu tidak pernah biasa.”

“Apakah kau paranormal atau semacamnya? Hahaha, tolong jangan bergurau.”

“Tidak, aku sama sekali tidak bergurau.”

“Nona, bisakah kau hanya memberikan nomor Tuan CEO padanya?” ucap Lay yang tidak tahan pada kelakuan gadis ini yang seperti sedang menggali informasi mengenai hubunganku dan Chanyeol-hyung.

“Oh, baiklah, ini.”

Gadis itu memberiku secarik kertas berisi nomor Chanyeol-hyung, lalu kami berpamitan.

“Apa hanya dia bagian informasi di kantor ini yang bisa kau hubungi? Kau bisa bertanya pada bagian informasi yang sebenarnya.”

“Sudahlah, lebih baik aku menghubungi yang sudah di depan mata.”

“Dasar kekanakan.”

“Mwo?”

Lay tidak menanggapiku lagi. Dia hanya berdiri dengan bersandar di tembok lalu mengeluarkan ponselnya dan berpura-pura sibuk dengan benda itu. Aku sudah tidak peduli pada larangannya yang tidak masuk akal lalu menghubungi Chanyeol-hyung.

“Yeoboseo?”

“Oh, yeoboseo, Tuan CEO. Ini aku, Kim Minseok.”

“Minseok-ah? Ada apa?”

“Kemarin aku lupa bertanya dimana ruanganku, jadi sekarang aku kebingungan harus kemana.”

“Maafkan aku karena tidak memberitahumu sebelumnya. Eum, ruanganmu ada di lantai 4. Ada namamu di salah satu ruangan di sana, tepatnya di sisi kanan saat kau keluar dari lift.”

“Baiklah. Terimakasih, Tuan CEO.”

“Ne. Semoga harimu menyenangkan.”

“Kau juga, semoga urusanmu di luar kota lancar, Tuan CEO.”

“Gomawo, Minseok-a…”

“B-baiklah, aku akan menutup teleponnya, Hyung.”

“Oh? Kau memanggilku hyung di kantor?”

“Eung…”

“Baiklah, kau boleh menutupnya. Terimakasih karena sudah menelponku.”

“Ne, anneyong.”

“Anneyong.”

Kulepas ponselku dari telinga dan menatapnya penuh arti. Aku tidak mengerti kenapa jantungku masih berdetak sangat cepat dan airmataku serasa ingin keluar saat aku mendengar suara berat Chanyeol-hyung. Aku yakin tidak lagi mencintainya, tapi kenapa…

“Xiumin?”

“Iya?”

“Kau baik-baik saja?”

“Eoh.”

“Kenapa wajahmu pucat?”

“Benarkah? Tidak, aku tidak apa-apa.”

“Xiumin, apa kau benar-benar sudah melupakan Chanyeol?”

“Aku yakin sudah melupakannya, Gege, tapi…”

“Kau belum melupakannya.”

“Ho?”

“Kau belum benar-benar melupakan namja itu. Jadi kurasa Luhan sendiri juga belum melupakan cinta pertamanya saat TK dulu.”

“Lay-ge, darimana kau tahu kalau Luhan punya cinta pertama saat TK?”

“B-bukankah kau pernah menceritakannya padaku?”

“Aku merasa tidak pernah menceritakannya.”

“Kau pasti lupa, Xiumin. Aku yakin kau pernah menceritakannya.”

“Benarkah?”

“Tentu.”

“Kapan?”

“Eum…”

“Lay-ge, sebenarnya kau siapa?”

***

Saat tiba di ruangan, Lay meminta izin pada Minseok untuk ke kamar mandi. Minseok yang sebenarnya masih penasaran kenapa Lay bisa tahu tentang cinta pertama Luhan akhirnya harus menyerah karena Lay bilang kalau dia tahu dari Yifan.

“Tapi kenapa dia harus berbohong tadi?” gumam Minseok.

Minseok duduk di sofa lalu mengeluarkan laptopnya untuk mengevaluasi naskah film yang baru saja dia revisi. Chanyeol bilang, dia harus memasukan dua adegan ciuman dengan Luhan, tapi Minseok bingung dimana dia akan menaruhnya.

“Eum…apa di akhir saja, ya? Itu baru satu kali, lalu…”

 

Pip pip pip

Ponsel Minseok berdering. Saat melihat nama si pemanggil, dahinya berkerut karena nomor itu tidak ada di kontaknya.

“Yeoboseo?”

“Oh, yeoboseo, Kim Minseok. Ini aku, Byun Baekhyun.”

“Baekhyun-hyung? Ah, ada apa?”

“Apa kau sudah tiba di kantor? Aku ingin membicarakan naskah filmmu.”

“Sudah, Hyung. Aku sudah di kantor.”

“Baiklah, aku akan ke sana sebentar lagi. Apa kau sudah punya janji makan siang? Kalau belum, aku ingin mengajakmu makan siang.”

“Belum, Hyung. Baiklah, aku akan makan siang denganmu.”

“Baguslah kalau begitu. Aku berangkat sekarang.”

“Ne, hati-hati, Hyung.”

“Eum, tunggu aku ya.”

“N-ne…”

Tut tut tut

“Apa? Benarkah tadi Baekhyun-hyung? Kenapa dia tiba-tiba saja baik padaku? Oh, mungkin dia hanya ingin memperbaiki hubungannya denganku karena sekarang kami bekerja bersama.”

Minseok menatap ponselnya sambil menimang-nimang benda tipis itu. Ada hal yang mengganjal pikirannya. Dia ingin menghubungi Luhan.

“Aku merindukannya…”

Akan tetapi, Luhan masih di dalam pesawat sehingga mereka tidak bisa saling kontak.

“Luhan-ah, kau sedang apa? Aku benar-benar merindukanmu.”

Minseok memasukan ponselnya di saku jasnya lalu membuka file naskah. Akan tetapi, perhatian Minseok langsung beralih pada sekeliling. Ada yang aneh menurut Minseok. Kenapa dia mempunyai ruangan semewah ini, padahal dia hanya penulis. Kemudian, dia tertawa kecil karena sudah pasti orang itu yang sengaja menempatkan Minseok dalam ruangan ini.

“Ini pasti karena Chanyeol-hyung.”

Minseok kembali fokus pada naskah filmnya. Dia mulai menambahkan adegan ciuman di scene terakhir film, saat Luhan menyuruh Minseok untuk memejamkan matanya agar Minseok dapat melihat bintang.

Saat Minseok mengetik adegan itu, tiba-tiba saja tangannya berhenti. Dia merasa pernah berada dalam keadaan itu. Minseok kembali membaca scene yang seharusnya sudah ditulisnya dalam novel.

“Aku tidak mengerti, kenapa kejadian ini tidak asing lagi untukku? Ini memang imajinasi yang sudah kupikirkan sejak lama, tapi bayangan kabur yang tiba-tiba saja kudapatkan ini…seperti kejadian masa lalu yang selama ini kucari,” ucap Minseok sambil terdiam, lalu tiba-tiba dia tertawa kecil, “ah, mungkin aku yang terlalu kepikiran dengan masa lalu itu, jadi semua kukaitkan dengan cerita dalam novel.”

Minseok kembali membaca isi naskahnya lalu tersenyum penuh arti saat membayangkan semua adegan dalam cerita itu.

“Aku harap semua akan berjalan baik.”

***

Luhan membuka tasnya lalu mengambil sebuah kantung kecil semacam gantungan tas buatan tangan bertuliskan XiuLu. Luhan tersenyum lalu tertawa kecil saat ingat bagaimana Minseok memberikan gantungan ini.

“Itu dari Xiumin?” tanya Yifan.

“Iya.”

“Gantungan yang manis, apalagi ditambah inisial nama kalian.”

“Dia bilang, setidaknya aku harus selalu mengingatnya walaupun kami tidak bersama. Aku rasa Xiumin sedikit bodoh.”

“Kenapa?”

“Kenapa dia harus takut aku akan melupakannya hanya karena kami berpisah sementara?”

“Menurutku tidak ada yang salah dengan itu.”

“Benarkah?”

“Itu perasaan yang biasa untuk seorang yang tidak ingin kehilangan orang yang disayanginya.”

“Aku benar-benar merasa bersalah padanya.”

“Tentang apa?”

“Karena sampai sekarang aku masih memikirkan Byun Daehyun.”

“Oh, cinta pertamamu saat TK?”

“Iya.”

“Itu kan sudah lama sekali, Lu. Memangnya orang itu masih ingat padamu?”

“Kalau iya, bagaimana? Apa yang harus kulakukan, Gege?”

“Itu artinya kau harus memilih salah satu dari mereka.”

“Ha?”

“Tentu saja, Lu. Kau harus memilih Xiumin atau…Byun Daehyun.”

“Aku ingin sekali bertemu dengan Byun Daehyun, tapi jika kami bertemu, semua akan semakin rumit.”

“Jadi kau lebih memilih Byun Daehyun?”

“Tidak! Aku akan memilih Xiumin tentu saja!”

“Lalu?”

“Aku takut orang itu kecewa padaku. Aigo…apa yang harus kulakukan, Gege?”

“Tanyakan pada dirimu sendiri, Lu.”

***

Baekhyun tiba di Anthersy Book sekitar 30 menit kemudian. Karena dia sudah tahu dimana ruangan Minseok, segera saja Baekhyun ke sana. Baekhyun memang ingin memperbaiki hubungannya dengan Minseok sejak kejadian tempo lalu, saat dia memegang tangan Minseok. Entah kenapa, Baekhyun seperti sedang berhadapan dengan adiknya, Byun Daehyun jadi dia penasaran seperti apa Minseok sebenarnya.

Tok tok tok

Minseok segera membukakan pintu karena dia yakin tamu itu adalah Baekhyun. Dan benar saja, saat pintu dibuka, Baekhyun sedang berdiri di sana dan tersenyum walau sedikit dipaksakan karena mereka sangat jarang bertemu dalam keadaan baik seperti sekarang.

“Silahkan masuk, Hyung.”

“Woah, Chanyeol memberikan ruangan yang cukup bagus ya untukmu.”

“Ne, aku sendiri bingung kenapa dia sampai melakukan ini.”

“Mungkin karena dia ingin menghormati penulis terkenal sepertimu, atau…dia masih mencintaimu,” ucap Baekhyun sedikit sinis. Walaupun dia ingin menutupi rasa kesalnya karena hubungan Chanyeol dan Minseok, tapi tetap saja sulit.

“Mau minum apa, Hyung?” tanya Minseok saat Baekhyun duduk di sofa.

“Terserah kau saja.”

“Bagaimana kalau jus jeruk? Hari ini sangat panas.”

“Boleh. Aku sangat suka jus jeruk.”

“Benarkah? Aku juga.”

Minseok menghubungi bagian dapur untuk mengantarkan minuman dingin itu ke ruangannya lalu kembali ke sofa dan duduk di samping Baekhyun.

“Jadi bagaimana? Apa kau sudah mengevaluasi naskah filmmu?”

“Ne, aku sudah membaca dan mengubah sedikit isi naskah itu. Akan tetapi, aku hanya bisa memasukan 1 adegan ciuman di sana, itupun di bagian akhir film.”

“Begitukah? Yasudah, tidak perlu memaksakan isinya. Jika terlalu dipaksakan nanti pesan dari film ini tidak tersampaikan.”

“Iya, aku juga berpikir seperti itu. Eum…Hyung, maaf sebelumnya, tapi…ini pertamakalinya kau mau menemuiku duluan.”

“Benarkah? Bukankah dulu aku sering membantumu membuat artikel di klub mading?”

“Aku tahu kau melakukannya karena Chanyeol-hyung memintamu untuk membantuku, tapi sekarang…apakah Chanyeol-hyung juga memintamu?”

“Memangnya dia siapa, sampai bisa mengaturku untuk membantumu?”

“Kalian sudah berteman lama, bukan? Jadi kurasa kau tidak bisa menolak permintaannya.”

“Tidak juga.”

“Dulu, aku iri pada hubungan kalian karena aku jarang punya hubungan pertemanan sebaik itu.”

“Benarkah?”

“Ne. Mungkin karena aku agak pendiam dulu.”

“Kau anak keberapa, Minseok?”

“Aku anak kedua dari tiga bersaudara, Hyung.”

“Pantas saja.”

“He?”

“Biasanya anak tengah itu paling berbeda dari dua saudaranya. Aku sendiri tidak bisa memastikan itu, sih, tapi menurut pengalaman, kenyataannya memang begitu. Bagaimana dengan dua saudaramu? Apa mereka punya banyak teman dekat?”

“Setahuku mereka punya banyak.”

“Benar, kan? Hehehe…”

“Benar. Aku memang sedikit berbeda dari mereka. Hanya aku yang berani pergi dari rumah dan melawan Appaku sampai seperti itu. Aku benar-benar buruk.”

“Kau mungkin berpikir kalau keputusanmu saat itu adalah keputusan yang salah, tapi pada akhirnya kau bisa membuktikan kalau kau bisa sejauh ini, bukan? Tuhan pasti sudah merencanakan sesuatu di balik keputusanmu itu.”

“Ternyata Baekhyun-hyung tidak seburuk yang kupikirkan.”

“Mwo?”

“Dulu aku kira Baekhyun-hyung tidak menyukaiku karena setiap kita bertemu, Hyung selalu mengalihkan pandangan atau semacamnya. Akan tetapi, saat kau menasihatiku seperti ini, aku rasa waktu kita bertemu dulu perasaanmu sedang buruk sehingga aku salah paham.”

“Minseok, boleh aku bertanya sesuatu padamu?”

“Tentu.”

“Apa kau masih mencintai Chanyeol?”

Minseok terdiam. Senyum yang tadi menghiasi wajahnya memudar dan akhirnya hilang.

“Aku tidak tahu,” ucapnya sambil menunduk.

Mata Baekhyun melebar sekaligus kaget. Dia tidak menyangka kalau Minseok akan menjawab seperti itu.

“A-apa maksudmu?”

“Aku tidak tahu, apakah aku sudah benar-benar melupakannya atau tidak. Tapi sekarang, aku sedang berusaha melupakan lelaki itu agar tidak banyak orang yang tersakiti karena keegoisanku.”

Nafas Baekhyun yang tertahan akhirnya dapat keluar. Ada sedikit perasaan lega karena dia tidak harus mengurungkan niatnya untuk membenci Minseok lagi.

“Apa kau tertarik dengan Luhan?”

“M-mwo?”

“Sepertinya kalian cukup dekat, apa benar?”

“I-iya…bisa dibilang begitu.”

“Aku sangat mendukung hubungan kalian.”

“Mwo?”

“Aku rasa Luhan juga tertarik padamu. Mengingat bagaimana dia langsung datang saat kau masuk rumah sakit tempo lalu.”

“Eum…”

“Jika dia benar-benar menyukaimu, bagaimana?”

“A-aku…”

“Tidak ada yang salah dengan saling mencintai, bukan? Kalian memang harus menghargai perasaan para penggemar, tapi kalian juga tidak boleh menyembunyikan perasaan itu karena jika terlambat, mungkin kalian sendiri yang akan terluka.”

“Apa Hyung pernah mengalami hal itu?”

Baekhyun memandang Minseok, tersenyum, lalu mengalihkannya ke jendela.

“Pernah.”

***

Siang ini, Eomma Kim Minseok pergi menemui Park Jungsoo di rumah sakit untuk membicarkan perkembangan luka di kepala Minseok. Saat Shinae berada di lobi rumah sakit, Kim Sehun yang juga bekerja di sana tidak sengaja melihat Eomma Minseok masuk ke ruangan Park Jungsoo. Karena penasaran, Sehun segera mengikuti Eomma Minseok dan membuka sedikit pintu ruangan Park Jungsoo untuk tahu apa yang terjadi.

“Kim Shinae-ssie, ada yang harus kuberitahukan padamu.”

“Iya?”

“Kakak laki-laki Kim Minseok belum meninggal.”

“A-apa?”

“Dia sedang mencari Kim Minseok sekarang.”

“M-masih ada keluarga Tuan Byun yang hidup?”

“Iya.”

Tangan Shinae melemas dan akhirnya jatuh dari meja yang dipengangnya.

“A-apa yang harus kulakukan, Park Jungsoo-ssie?”

“Aku rasa kita tidak perlu menyembunyikan masa lalu Minseok lagi. Biarkan anak itu hidup dengan kakaknya. Apa Anda tega membiarkan mereka berdua terpisah? Aku rasa hidup dalam kebohongan adalah hal yang paling menyakitkan bagi Anda, Shinae-ssie.”

Sehun mundur secara perlahan karena terkejut dengan apa yang dia dengar. Ternyata Minseok memang bukan keluarga Kim, dia bukan sepupu kandung Sehun.

“Byun? Jadi marga Minseok yang sebenarnya adalah Byun?”

***

Lee Jongin meminta Kim Kyungsoo untuk menemuinya di kafe yang terakhir kali mereka kunjugi, saat Kim Kyungsoo meminta bantuan Lee Jongin untuk memeriksa kecocokan DNA dari hyung dan eommanya. Dan di sinilah mereka, di kedai kopi, duduk berhadapan dengan perasaan tidak menentu. Terutama Kyungsoo, dia takut apa yang ditakutkannya benar-benar terjadi.

“Bagaimana, Jongin-ssie?”

“Maafkan aku.”

“A-ada apa?”

“DNA mereka tidak cocok.”

Kyungsoo terdiam. Dia mencoba tenang karena tidak mau orang lain melihat kesedihannya. Kyungsoo sekuat tenaga menahan airmatanya saat mengetahui kenyataan pahit ini. Namja itu mengambil cangkir kopinya dan meneguknya sedikit untuk sekedar mengalihkan perhatiannya dari masalah ini.

“Kim Kyungsoo-ssie, apa Anda baik-baik saja?”

“N-ne…”

“Apa kau akan melakukan rencanamu?”

“E-euh…”

“Aku tahu ini sulit, mengingat kau sangat menyayangi kakakmu.”

“Aku harus tahu kenapa Eomma menyembunyikannya dari kami.”

“Eommamu pasti punya alasan yang kuat.”

“Walaupun alasan itu hanya untuk kepentingannya sendiri? Aku tahu Eomma sangat menyayangi kami, jadi apa karena itu dia tidak ingin memberi tahu kami?”

Lee Jongin tidak menjawab karena begitu banyak kemungkinan untuk jawaban pertanyaan Kyungsoo.

“Aku tidak mengerti kenapa Eomma menyembunyikan semuanya dari kami…”

Tidak bisa, sekuat apapun usaha Kyungsoo untuk menahan airmatanya, airmata itu tetap memaksa untuk keluar. Kini Kyungsoo hanya bisa menunduk sehingga airmatanya membasahi celana cokelatnya. Melihat itu, Lee Jongin memindahkan kursinya ke samping Kyungsoo dan merangkul Kyungsoo untuk sekedar menenangkan namja yang lebih kecil darinya itu.

“Aku akan membantumu untuk mencari tahu siapa Kim Minseok yang sebenarnya, Kyungsoo.”

***

Sesuai permintaan Baekhyun sebelum menemui Minseok, mereka makan siang bersama di restoran keluarga yang tidak jauh dari Anthersy Book.

“Apa yang mau kau pesan, Minseok?”

“Sup iga, Hyung.”

“Kalau begitu aku juga. Tolong dua porsi sup iga dan minuman dingin.”

“Ne.”

Minseok menatap Baekhyun dengan ragu karena tidak enak sudah bertanya hal yang sensitif padanya. Dia memandang sekeliling sambil memikirkan bahan pembicaraan apa yang cocok untuk mereka, pasalnya selama ini mereka memang tidak pernah mengobrol berdua.

“Baekhyun-hyung…”

“Iya?”

“Kenapa kau tiba-tiba saja…eum…bagaimana cara mengatakanya, ya…”

“Kenapa aku tiba-tiba menjadi lebih terbuka padamu?”

“Oh? Eum…ne…”

“Bukankah aneh jika sesama rekan kerja kita tidak pernah mengobrol berdua seperti ini? Aku hanya mencoba lebih professional.”

“Ooh…”

“Apa kau nyaman dengan sikapku?”

“Tentu saja, walaupun aku sedikit kaget.”

“Hahaha, kau tidak pernah melihat sisi lainku, bukan? Maaf karena aku selalu bersikap dingin padamu.”

“Apa karena Chanyeol-hyung?”

“Nde?”

“Ah, tidak apa-apa.”

Minseok meraih gelas minumnya lalu menegak isinya untuk sekedar mengalihkan perhatian. Dia berusaha tidak mengungkit masa lalu karena tidak mau Baekhyun kembali lagi menjadi Baekhyun yang dingin. Jujur, Minseok sangat menyukai Baekhyun yang sekarang.

“Minseok-ah, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?”

“Tentu.”

“Tapi kau jangan marah, janji?”

“Ne.”

“Jika aku mencintai Chanyeol, bagaimana menurutmu?”

Minseok terdiam. Ternyata dugaannya selama ini benar. Baekhyun selalu bersikap dingin padanya gara-gara hubungannya dengan Chanyeol. Minseok langsung merasa tidak enak karena ternyata kejadian yang dimaksud Baekhyun tadi itu adalah ketika Chanyeol dan Minseok berpacaran.

“Minseok-ah?”

“Kenapa aku harus menjawab itu, Hyung?”

“Karena dia pernah mencintaimu, jadi mungkin aku bisa mendapatkan beberapa saran agar—“

“Aku tidak bisa memberimu saran.”

“Wae?”

“Karena kita berbeda. Gunakan caramu sendiri untuk membuktikan padanya kalau kau memang benar-benar mencintainya.”

“Ah…kau benar.”

“Jujurlah padaku, Hyung, selama kami berpacaran, apa kau sudah mencintai Chanyeol-hyung?”

Baekhyun meletakan tangannya di atas meja lalu menatap kedua mata Minseok lekat. Dari sinar matanya, Minseok tahu jawaban apa yang akan diberikan Baekhyun.

“Mianhae, Hyung. Aku tidak pernah menyadari itu, jadi—“

“Tidak apa-apa. Siapa yang bisa melarang orang untuk saling mencintai? Dia telah memilihmu, Minseok, jadi aku tidak bisa berbuat apa-apa.”

“Berjuanglah, Hyung! Aku akan mendukung hubunganmu dengannya!” seru Minseok sambil bertingkah seperti anak kecil.

“Hahaha, kau benar-benar anak yang lucu, Minseok. Aku tidak berniat melanjutkan hubungan itu sebelum Chanyeol yang memulainya.”

“Wae?”

“Karena kurasa dia masih mencintaimu.”

“Aku tidak akan menerimanya, Hyung, karena aku sudah punya yang lain.”

“Hah? Nugu?”

Minseok menaruh telunjuknya di bibirnya dan tersenyum jahil.

“Hyung tidak boleh tahu.”

Saat melakukan itu, Baekhyun langsung teringat pada adiknya yang sudah lama hilang. Matanya mulai berkaca-kaca dan nafasnya terasa sesak.

“D-Daehyun-ah…,” ucapnya sedikit terengal.

“Nde?”

“A-ah…tidak apa-apa. Aku ke kamar mandi dulu, ya.”

Baekhyun berdiri dan dengan pikiran kacau dia berjalan meninggalkan Minseok. Akan tetapi, belum sempat dia sampai di toilet, tubuhnya terhuyung dan akhirnya ambruk. Minseok yang melihatnya langsung berlari menghampiri Baekhyun dan membantu Baekhyun berdiri.

“Daehyun-ah…”

“Ada apa, Hyung?”

Baekhyun tidak bisa lagi menjawab karena perasaannya benar-benar kacau. Akhirnya Minseok memutuskan untuk membawa Baekhyun ke kantor.

***

Aku benar-benar bingung melihat tubuh Baekhyun tiba-tiba saja ambruk. Aku langsung berlari menghampirinya dan membantunya berdiri.

“Daehyun-ah…”

Aku terdiam sejenak saat mendengar nama itu. Nama yang tidak asing untukku, tapi aku tidak tahu kapan aku pernah mendengarnya.

“Ada apa, Hyung?”

Baekhyun tidak lagi menjawab pertanyaanku. Wajahnya benar-benar pucat sekarang, jadi aku memutuskan untuk membawanya ke ruanganku. Kugenggam tangannya dan merangkul pundaknya agar dia tidak jatuh lagi, dan sekali lagi…aku merasakan sesuatu yang aneh saat aku menyentuh tangannya.

Karena aku takut Baekhyun-hyung berbuat macam-macam saat aku menyetir, akhirnya aku meminta bantuan Lay-gege untuk datang kemari dan mengantar kami ke kantor.

Kami menunggu di halte dekat restoran yang sepi. Sambil terus merangkulnya, sesekali kuelus surai rambut Baekhyun-hyung agar namja itu lebih tenang karena nafasnya masih terengal. Aku benar-benar khawatir padanya.

“Aku tidak mengerti kenapa kau tiba-tiba seperti ini, Hyung, tapi jika itu karenaku…aku minta maaf.”

Tiba-tiba saja Baekhyun-hyung menunduk dan menggenggam tanganku lebih erat lagi lalu menangis. Ini pertamakalinya aku melihat Baekhyun-hyung menangis. Maafkan aku, Hyung. Aku tidak tahu kalau kau sesakit ini karena Chanyeol-hyung lebih memilihku dulu.

“Adikku…”

“Nde?”

“Adikku…maafkan aku…”

“H-hyung?”

Dia tidak menjawab dan terus menangis. Ayolah, Lay-gege, cepatlah datang…

***

Karena cemas dengan keadaannya, aku memutuskan untuk membawa Baekhyun-hyung ke rumah. Aku harap Eomma bisa menenangkan Baekhyun-hyung.

“Lay-gege, antarkan kami ke rumah saja ya. Aku perlu bantuan Eomma.”

“Baiklah.”

Lay menatap kami lewat kaca depan dengan tatapan heran.

“Kau apakah dia, Xiumin?”

“Aku tidak melakukan apa-apa.”

“Kau pasti berkata yang aneh-aneh padanya.”

“Eum…”

“Tu kan.”

“Aku tidak tahu, sepertinya bukan karena itu…”

“Apanya yang bukan?”

“Aku tidak menyinggung tentang adiknya, tapi dia terus memanggil adiknya dan berkata maaf.”

“A-apa?”

“Apa yang sebaiknya kulakukan, Gege?”

“E-euh, sebaiknya kita pergi ke apartemennya, jangan ke rumahmu.”

“He? Kenapa?”

“Eommamu sedang tidak ada di rumah, apa kau lupa?”

“Ah, benar juga. Tadi Eomma bilang dia mau ke rumah sakit untuk melihat perkembangan kepalaku. Aish…tapi aku tidak tahu dimana apartemennya.”

“Kalau begitu kita ke apartemenku saja. Aku punya obat penenang, kurasa dia membutuhkan itu.”

“Apa baik-baik saja menggunakan obat penenang tanpa resep dokter?”

“Tidak apa-apa, obat tenang yang kupunya dosisnya cukup aman.”

“Ooh…”

***

Bagaimanapun, Lay tidak boleh membocorkan rahasia keluarga Byun agar pelaku kecelakaan 19 tahun yang lau dapat tertangkap. Tidak lucu kan kalau hanya karena Baekhyun bertemu dengan Eomma Minseok, semua jadi kacau. Lay yakin Baekhyun masih ingat dengan wajah guru privat Minseok yang tidak lain adalah Kim Shinae, Eomma Minseok yang sekarang, jadi dia harus berhati-hati.

“Aku sudah tidak apa-apa, Minseok-a,” ucap Baekhyun saat Minseok membantunya duduk di sofa sesampainya mereka di apartemen Lay.

“Setidaknya suasana di sini lebih nyaman daripada di kantor, Hyung. Sekarang masih jam makan siang, jadi istirahatlah dulu.”

“Maafkan aku karena merepotkanmu.”

“Tidak apa-apa, Hyung.”

Lay kembali ke ruang tengah sambil membawa secangkir teh hangat dan obat penenang untuk Baekhyun.

“Aku tidak perlu obat ini karena aku harus bekerja.”

“Terserah kau saja,” ucap Lay sambil mengambil obatnya lagi.

“Lay-gege, jaga sikapmu.”

“Eoh.”

Lay duduk di sofa lain sambil memperhatikan dua namja yang sebenarnya majikannya. Lay benar-benar merasa kasihan pada dua keturunan Byun itu karena tidak tahu kalau mereka adalah kakak-beradik, tapi di sisi lain dia lega karena hubungan Minseok dan Baekhyun sudah lebih baik.

Setelah Baekhyun meminum tehnya, dia menyandarkan kepalanya di pundak Minseok karena sekarang dia benar-benar lelah. Entah apa yang terjadi padanya tadi. Kepala Baekhyun tiba-tiba sakit dan pikirannya menjadi kacau. Sikap Minseok benar-benar mirip dengan Daehyun saat merahasiakan sesuatu darinya.

“Hyung tidak boleh tahu!”

“Kenapa aku tidak boleh? Apa kau menyukai orang yang kubenci?”

“A-ani…”

“Cepat katakan padaku, Daehyun-a, siapa orang yang kau suka?”

“Aniyo…kau tidak boleh memaksaku.”

“Kalau begitu, aku tidak akan menemanimu tidur malam ini!”

“Hyung!! Kau benar-benar kejam!!”

“Hahahaha~~”

***

Luhan dan Yifan tiba di Beijing sekitar jam 6.30 malam. Para wartawan dan penggemar sudah siap menyambut mereka di bandara, dan yang bisa Luhan lakukan adalah tersenyum.

“Ayo cepat, aku ingin segera tiba di apartemen dan menghubungi Xiumin,” bisik Luhan pada Yifan yang berusaha melindungi Luhan dari kericuhan.

“Kau ini…”

Singkat cerita, mereka tiba di apartemen Luhan sekitar 1 jam kemudian. Seperti yang Luhan bilang, dia langsung melemparkan tubuhnya ke kasur dan mengambil ponselnya untuk menghubungi Xiumin.

“Xiuminnie!” seru Luhan saat panggilannya dijawab.

“Lu-ge, kau tidak perlu berteriak begitu.”

“Aku benar-benar merindukanmu, chagi~”

“Ish, sudah kubilang jangan panggil aku dengan panggilan yang menggelikan seperti itu.”

“Apanya yang menggelikan? Dasar tidak romantis.”

“Aku romantis dengan caraku sendiri, Lu-ge.”

“Apa yang kau lakukan hari ini?”

“Aku bekerja seharian.”

“Hanya bekerja?”

“Eum…”

“Ada apa, chagi?”

“Sebenarnya…”

“Iya?”

“Tadi siang aku makan siang dengan Baekhyun-hyung.”

“Apa? Kau makan siang dengan CEOku? Seingatku dia tidak menyukaimu, bagaimana bisa?”

“Ini karena dia ingin memperbaiki hubungan kami.”

“Ooh…lalu?”

“Kau tidak cemburu?”

“Hah? Cemburu? Tidak usah, aku percaya padamu.”

“Kalau dengan Chanyeol?”

“Jangan macam-macam, ya.”

“Um…sebenarnya ada hal yang membuatku bingung hari ini.”

“Kenapa?”

“Saat aku makan siang dengan Baekhyun-hyung, dia tiba-tiba saja bersikap aneh dan memanggil nama adiknya sambil meminta maaf. Padahal aku sama sekali tidak menyinggung adiknya.”

“Ohya? Apa kau sudah bertanya kenapa dia seperti itu?”

“Belum, aku tidak mau dia bersikap aneh lagi, jadi aku diam saja.”

“Iya, aku juga tidak akan bertanya jika aku jadi kau.”

“Ah, apa kau baru tiba?”

“Iya, dan aku langsung menghubungimu.”

“Benarkah? Aku cukup tersanjung.”

“Hanya seperti itu? Apa kau tidak merindukanmu?”

“Tidak, biasa saja.”

“Apa? Awas ya kalau kita bertemu lagi, aku tidak akan melepasmu dari pelukanku!”

“He? Apa kau mau kulempari dengan panci? Ish…”

“Coba saja kalau berani.”

Minseok terdiam sejenak, lalu…

“Aku merindukanmu, Luhannie.”

Luhan mengerjap-ngerjapkan matanya lalu wajahnya bersemu merah karena malu mendengar suara lembut Minseok berkata seperti itu.

“B-benarkah?”

“Apa kau merindukanku juga?”

“T-tentu… Aku rasa dua bulan ini akan menjadi waktu yang berat untukku karena tidak bisa melihatmu secara langsung.”

“Hahaha, sudah kuduga kau akan berkata seperti itu. Ah, apa kau sudah membuka email? Aku mengirimkan naskah yang sudah kuubah pada para pemain dan staff pembuatan film. Naskah itu kubuat bersama Baekhyun-hyung tadi.”

“Oh, aku belum membukanya.”

“Nah, sebaiknya kau buka dulu lalu segera hubungi aku jika sudah selesai, arra? Sekarang kututup teleponnya karena aku mau membuat makan malam.”

“Ah! Aku ingin memakan masakanmu!!”

“Hahaha, sudahlah. Kau harus istirahat, Luhannie. Aku ingin kau tetap sehat di sana.”

“Aku berjanji akan menjaga kesehatanku!”

“Bagus, anak pintar… Annyeong~”

“Annyeong…”

***

Setelah puas menelpon Luhan, kuletakan ponselku di atas meja dan keluar menuju dapur dan memasak makan malam untuk Kyungsoo. Hari ini Eomma tidak pulang karena masih mengurus Soonkyu-noona. Wah…berarti sebentar lagi aku akan mendapat adik baru! Jadi tidak sabar rasanya.

“Hyung, kau masak apa malam ini?” tanya Kyungsoo yang baru datang sambil mengusap matanya.

“Kau habis bangun tidur?”

“Iya, tadi aku ketiduran.”

“Matamu bengkak, Kyungie, kau benar-benar baru bangun tidur?”

“Iya, Hyung…”

“Aku sedang memasak banyak sekali makanan karena aku lapar sekali.”

“Memangnya tadi siang Hyung tidak makan?”

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Ceritanya cukup panjang.”

“Apa Chanyeol-hyung memintamu untuk bekerja ekstra?”

“Oh, tidak-tidak, bukan itu alasannya.”

“Lalu?”

“Tadi siang aku harus menemani Baekhyun-hyung yang kurang sehat.”

“Baekhyun-hyung? Sejak kapan kau dekat dengannya?”

“Eum…belum bisa dibilang dekat sih. Hubungan kami sebatas rekan kerja.”

“Memangnya dia sakit apa?”

“Aku juga tidak tahu, tapi dia langsung jatuh dan seperti orang syok. Sepertinya dia merindukan adiknya, tapi setahuku dia anak tunggal.”

“Aneh juga…”

“Aneh, kan?”

“Yasudah, Hyung, tidak perlu dipikirkan.”

“Tapi entah kenapa aku mencemaskannya.”

“Kau lebih aneh lagi, mencemaskan orang yang baru dekat denganmu.”

“Hei, asal kau tahu, kami ini satu SMA dulu.”

“Iya, aku tahu. Kalian berteman karena Baekhyun-hyung itu teman dekatnya Chanyeol-hyung, tapi kalian kan bukan teman dekat. Aneh juga, kenapa kau tidak bisa berteman baik dengan teman pacarmu.”

“Karena Baekhyun-hyung menyukai Chanyeol bahkan sebelum kami berpacaran.”

“Mwo?”

“Dia cemburu, tentu saja. Sekarang aku mengerti kenapa dia membenciku dulu, tapi aku bersyukur hubungan kami semakin baik akhir-akhir ini.”

“Baguslah kalau semua baik-baik saja. Semoga filmmu lancar, Hyung.”

“Ah, ngomong-ngomong, ujian masuknya sebentar lagi, bukan? Aku akan mengantarmu ke tempat tes.”

“He? Tidak usah, seperti anak kecil saja.”

“Hei…aku kan kakakmu Lagipula aku sudah lama tidak jalan-jalan denganmu, jadi tidak ada salahnya, kan?”

“Hyung mau jalan-jalan denganku sabtu ini?”

“He? Benarkah?”

“Eoh.”

“Jadi ini semacam kencan?”

“Ya…terserah kau saja bagaimana menanggapinya.”

“Arra, aku akan mengosongkan jadwalku sabtu ini.”

“Jangan beritahu Luhan-hyung atau aku bisa dibunuh olehnya.”

“Hahahaha, dia tidak sekejam itu kok.”

“Hyung, apa kau serius dengannya?”

“Maksudmu?”

“Kalian kan sama-sama orang terkenal, bagaimana jika—“

“Aku akan tetap mencintainya.”

Kyungsoo tertawa geli dan aku langsung memukul kepalanya karena menertawaiku.

“Kenapa kau tertawa?”

“Saat kau bersama Chanyeol-hyung, kau tidak seperti ini.”

“Oh, seperti apa memangnya?”

“Kau tidak segenit ini, Hyung, hahaha.”

“Hya!”

Saat aku hendak memukul kepalanya lagi, tiba-tiba saja Kyungsoo memelukku dan membenamkan kepalanya di dadaku.

“Hyung, kau adalah kakakku apapun keadaannya.”

“W-wae? Kenapa kau tiba-tiba berkata seperti itu?”

Kyungsoo melepas pelukannya lalu menatapku lekat. Baru sekarang dia menatapku seperti ini, aku jadi agak ngeri.

“Tidak apa-apa. Aku menyayangimu, Hyung, dan sekarang cepatlah selesaikan masakanmu! Aku sudah lapar!”

“Iya-iya.”

Kyungsoo pergi dengan membawa piring menuju ruang makan setelah aku menyuruhnya untuk menata meja. Aku rasa Kyungsoo menyembunyikan sesuatu dariku.

***

Park Chanyeol pergi ke sebuah restoran yang tidak jauh dari tempat pertemuannya hari ini. Di sana, sudah ada orang yang menunggunya. Orang itu tidak lebih tinggi darinya, dan saat Chanyeol datang, orang itu langsung membungkuk hormat begitupun Chanyeol.

“Anda tidak perlu membungkuk seperti itu,” ucap Chanyeol.

“Tidak apa-apa, bagaimanapun sebentar lagi kau akan menjadi atasanku yang baru.”

“Jadi, bagaimana kabarmu, Byun Daehyun-ssie?”

Orang bernama Daehyun itu menatap Chanyeol sambil tersenyum tipis.

“Baik, sangat baik.”

“Seperti yang kuharapkan.”

“Bagaimana dengan kakakku?”

“Dia juga baik-baik saja. Kau akan menemuinya sebentar lagi, bukan?”

“Tentu. Aku sangat merindukannya.”

***

Sejak kejadian siang itu, setiap siang selama seminggu ini, Baekhyun selalu mengajak Minseok makan siang bersama. Chanyeol sendiri belum pulang dari kunjungannya ke Busan karena urusannya masih banyak, jadi Chanyeol tidak tahu kalau Minseok dan Baekhyun sudah sedekat ini. Minseok pun tidak keberatan dengan ajakan itu karena dia sangat senang makan siang dengan orang selucu Baekhyun. Baekhyun benar-benar orang yang menyenangkan walaupun Minseok tidak tahu sisi lain Baekhyun yang sebenarnya.

“Hyung, hari ini kita kemana?”

“Bagaimana kalau ke restoran ddukboki kesukaanku?”

“Boleh!”

“Hari ini aku yang menyetir, bagaimana?”

“Oh, baiklah.”

Selama seminggu ini, Baekhyun merasa telah menemukan adiknya, Byun Daehyun. Dia melihat banyak kesamaan dari Minseok dan Daehyun, jadi sedikitnya Baekhyun bisa mengurangi rasa rindunya pada Daehyun. Baekhyun akan sangat senang jika Minseok benar-benar Daehyun, karena perlahan, Baekhyun mulai menyayangi Minseok seperti adiknya sendiri. Jika dia tahu Minseok adalah orang yang sangat menyenangkan, Baekhyun akan berhenti membenci Minseok. Baekhyun sudah memberhentikan Kim Han dari pekerjaannya memata-matai Minseok karena itu sudah tidak perlu. Sekarang Baekhyun memandang Minseok sebagai temannya, bukan rival yang sudah merebut Chanyeol darinya.

“Hei, ada apa itu? Apa ada kecelakaan?” ucap Baekhyun saat melihat keramaian yang mengakibatkan mobilnya tidak bisa lewat.

“S-sebaiknya kita putar balik, Hyung.”

“Kenapa? Restorannya sudah dekat. Apa kita turun saja lalu berjalan ke sana?”

“E-eung…”

“Ada apa, Minseok-a?”

“Aku tidak bisa melihat kecelakaan.”

“Wae?”

“A-aku tidak bisa, Hyung.”

“Baiklah, kalau begitu kita pergi ke tempat lain. Bagaimana kalau ke apartemenku? Kau belum pernah ke sana, bukan? Apartemenku tidak jauh dari sini jika kita putar balik.”

“Ne, itu lebih baik.”

Baekhyun melihat Minseok dengan tatapan cemas karena sekarang wajah Minseok sedikit pucat.

“Gwenchana?”

“Oh, aku baik-baik saja.”

“Bisakah kau memesan makanan dulu? Kurasa stok makananku habis, hehehe. Ini, pakai ponselku untuk memesan. Kau tinggal tekan kontak Ddukboki-home. Itu restoran yang harusnya kita datangi sekarang.”

“Mianhae karena aku mengacaukan rencana kita.”

“Tidak apa-apa. Kita anggap 1-1 karena seminggu yang lalu aku yang mengacaukan makan siang kita.”

“Hahaha, baiklah…”

“Kalau boleh kutahu, kenapa kau tidak bisa melihat kecelakaan?”

“Entahlah. Sepertinya aku mengalami trauma karena kecelakaan yang tidak bisa kuingat.”

“Tidak bisa kau ingat? Maksudnya?”

“Mungkin aku mengalami amnesia karena suatu kecelakan, saat umurku 6 tahun.”

“M-mwo? 6 tahun?”

“Eum. Aku tidak bisa mengingat masa laluku sebelum umur 6 tahun. Yang kuingat hanya Eomma membawaku ke rumah sakit dan saat aku membuka mata, aku seperti hidup sebagai orang lain.”

“Adikku juga hilang saat dia berumur 6 tahun, setelah kecelakaan besar yang menimpa keluargaku.”

“Adikmu yang kemarin kau sebut saat kau syok?”

“Iya.”

“Semoga adikmu segera kembali, Hyung.”

“Kalau dia tidak hilang, umurnya sama denganmu berarti ya.”

“Benar juga. Ah, itu artinya kau pernah merasakan jadi kakak kan, Hyung?”

“Tentu.”

“Eum…hari sabtu ini aku akan jalan-jalan dengan adikku, tapi aku bingung apa yang akan kulakukan bersamanya. Apa kau punya saran?”

“Lakukan sesuatu yang dia sukai. Dulu, aku selalu mengajak adikku ke taman dan membantu dia bermain ayunan karena dia sangat menyukainya. Kaki anak itu sangat pendek dulu, jadi aku selalu berkata padanya untuk cepat tumbuh supaya dia bisa berayun sendiri.”

“Wah…kalian pasti sangat dekat, ya.”

“Iya. Dia anak yang unik. Seperti yang kau tahu, seorang anak sulung mempunyai tanggung jawab yang besar sebagai penerus usaha keluarga, kan? Nah, sejak aku kecil, orangtuaku selalu memberikan pendidikan nomor satu untukku, tapi tidak untuk adikku. Mereka terlalu fokus padaku sehingga adikku tidak diperhatikan. Awalnya aku juga menganggapnya tak ada, tapi aku baru sadar kalau dia terus memperhatikanku. Dia pernah menyelamatkanku dari anak-anak nakal yang hendak membullyku. Hahaha, aku benar-benar memalukan, bukan? Aku berlindung di balik tubuhnya yang lebih kuat karena aku tidak yakin bisa melawan mereka. Saat itu, walaupun dia babak belur, tapi dia terus melawan dan menyuruh mereka untuk tidak lagi menggangguku. Aku sangat menyesal waktu itu karena hanya bisa diam karena terlalu takut untuk melawan. Sampai pada akhirnya, adikku menang lalu dia kembali padaku dengan tersenyum seperti tidak ada yang terjadi. Sejak saat itu, aku berjanji untuk melindungi dia dengan segenap kemampuanku. Aku mulai berani melawan siapa saja yang berusaha menyakiti dia. Akan tetapi, sampai sekarang aku tidak menemukan anak itu.”

“Hyung…,” ucap Minseok sedikit cemas karena wajah Baekhyun berubah sendu.

“Jujur, senyummu benar-benar mirip dengan senyumnya, Minseok.”

“Ha? E-eung…”

“Hahaha, kau hanya mirip dengannya. Tenang saja, kau tidak perlu merasa terbebani.”

“Tidak, aku malah merasa tersanjung karena mirip dengan adikmu yang pemberani.”

“Benarkah? Bagus kalau begitu.”

“Jika kau bertemu dengan adikmu, kau harus mengenalkannya padaku, Hyung!”

“Tentu.”

***

Luhan yang sedang tidak ada jadwal menyempatkan diri untuk pergi ke mall bersama Yifan. Saat ini, seharusnya Luhan menyamar atau setidaknya menutupi wajahnya agar tidak dikerumuni banyak sekali penggemar, tapi sekarang tidak. Luhan merasa penggemarnya pasti merindukannya, jadi dia sengaja tidak menyamar agar lebih dekat dengan para penggemarnya. Awalnya memang sulit, tapi para penggemar tidak lantas mengganggunya berlebihan, jadi Luhan bisa tenang.

Di sana, Luhan memasuki sebuah toko pakaian hangat untuk mencari syal dan beberapa mantel untuk persiapan musim dingin beberapa bulan lagi. Saat melihat-lihat, Luhan tidak sengaja menemukan syal yang mengingatkannya pada Minseok.

“Bukannya Xiumin suka warna biru, ya? Yifan-ge, bagaimana menurutmu jika aku membelikan syal ini untuk Xiumin?”

“Ide yang bagus, dia pasti senang.”

“Ah, dia sih tidak diberi hadiah juga sudah senang.”

“Hei, jadi untuk apa kau meminta pendapatku, hah?”

“Hehehe, aku hanya bercanda. Baiklah, aku akan membelikan ini untuknya. Dia pasti lucu saat memakai syal. Ah…aku bisa gila karena merindukannya!”

“Kau sudah gila walaupun tidak memikirkannya. Berhenti berlebihan, Lu.”

Luhan kembali terkekeh kemudian mengambil syal biru itu dan dua setel mantel untuknya. Setelah membayar, Luhan meminta si kasir untuk membungkus syal itu dengan kotak kado.

“Aku akan memberikan ini saat natal.”

“Itu masih lama, Lu.”

“Oh, benar juga. Eung…kalau begitu aku akan mengirimnya saat awal musim dingin.”

Setelah semua urusannya selesai, Luhan dan Yifan meninggalkan mall itu dan kembali ke Byunkor media karena sore nanti akan ada wawancara dengan salah satu majalah China.

Saat Luhan dan Yifan tiba di kantor, mereka tidak sengaja bertemu dengan Hanzhuo, mantan manajer Xiumin.

“Oh? Bukankah kau manajer Xiumin yang dulu?”

“Ah, iya. Senang bertemu dengan kalian.”

“Bagaimana kabarmu? Sekarang kau bekerja di mana? Kata Xiumin kau berhenti untuk mendirikan perusahaan sendiri.”

“Hahaha, aku baik, sudah kuduga anak itu akan menceritakannya padamu. Aku sekarang sedang menyusun rencana dan meminta bantuan pada Tuan Xia untuk memberiku beberapa saran.”

“Oh, jadi karena ini kau di sini. Semoga usahamu sukses, Tuan Han!”

“Ngomong-ngomong, bagaimana hubunganmu dengan Xiumin?”

“Hubungan kami sangat baik, dan aku tidak menyangka jika kami bisa sedekat ini.”

“Apa kau punya niat untuk memacarinya?”

“Oh, yaampun…pertanyaan yang membuatku gugup.”

“Benarkah? Hahaha, maafkan aku, aku hanya bercanda. Baiklah, sepertinya aku harus pergi sekarang.”

“Baiklah, semoga harimu menyenangkan, Tuan Han.”

“Begitu juga untukmu, Luhan. Sampai jumpa.”

“Sampai jumpa.”

Hanzhuo pun berlalu dan Luhan pergi ke ruangannya. Seharusnya Yifan mengikuti Luhan, tapi lelaki super tinggi itu memutuskan untuk menemui Hanzhuo.

“Aku harus ke toilet sebentar,” bohong Yifan.

Yifan sedikit berlari untuk mengejar Hanzhuo yang sudah sampai di tempat parkir. Saat Hanzhuo hendak menyalakan mobilnya, Yifan langsung membuka pintu mobil dan duduk di samping Hanzhuo.

“Oh, kau mengagetkanku, Yifan.”

“Gege, sudah lama kita tidak bertemu.”

“Hahaha, benar juga. Bagaimana, apa kau sudah bertemu dengan Yixing?”

“Sudah, dan dia masih sama seperti dulu. Urakan.”

Hanzhuo kembali tertawa.

“Apakah dia menjalankan tugasnya dengan baik?”

“Tidak pada awalnya. Tuan Daehyun hampir saja memecatnya dan membuat rencana kita berantakan.”

“Anak itu benar-benar…”

“Gege, kira-kira kapan pelaku kecelakaan itu ditangkap?”

“Aku juga tidak tahu. Tim penyidik yang bekerja diam-diam ternyata tidak banyak membantu. Rencana pembunuhan yang pelaku itu gunakan benar-benar tidak bercelah.”

“Tidak, Gege, setiap kejahatan pasti mempunyai celah.”

“Tentu. Lalu bagaimana dengan Kim Han? Apa kau sudah mengurusnya?”

“Iya. Dana yang dia kirim pada para saksi palsu sudah diselidiki, dan uang yang dikirimkan padanya saat sehari setelah penyerangan sudah diperiksa, tapi hasilnya tidak seperti yang kita harapkan.”

“Maksudnya?”

“Pengirim uang itu adalah dirinya sendiri. Dia mengirimkan uang sejumlah 1 juta won yang tidak lain uang hasil rampasannya pada Tuan Daehyun di malam penyerangan. Jika saja ada dana lain dari dalang kejahatan ini, mungkin kita bisa semakin dekat dengan pelaku 19 tahun yang lalu.”

“Apa kau yakin, orang yang menyuruh Kim Han untuk menyerang Tuan Daehyun adalah pelaku 19 tahun yang lalu?”

“Iya, aku yakin mereka berhubungan.”

“Jika dipikir-pikir, orang itu tidak mungkin mengambil resiko dengan melibatkan dirinya dalam kasus ini. Orang itu masih ingin bersembunyi, jadi dia berusaha untuk tidak terlibat dengan hukum.”

“Jujur, sampai sekarang aku masih mencurigai Kim Joonmyun dan keluarganya, Gege.”

“Iya, aku juga, tapi akan sangat berbahaya jika kita menangkapnya tanpa bukti.”

“Oiya, Lay bilang, hubungan Tuan Baekhyun dan Daehyun sudah cukup baik.”

“Fiuh…sungguh melegakan. Kukira mereka akan saling membenci terus-terusan hanya karena lelaki itu, siapa namanya?”

“Park Chanyeol.”

“Iya, dia.”

***

Ternyata benar, apartemen Baekhyun-hyung tidak jauh dari tempat tadi. Baekhyun menyuruhku untuk duduk di sofa, sedangkan dia pergi ke dapur untuk membuat minuman untuk kami. Bukannya duduk, aku malah melihat-lihat foto Baekhyun yang terpajang di salah satu rak khusus. Di sana terdapat foto-foto Baekhyun semasa sekolah dan cukup banyak fotonya bersama Chanyeol.

“Mereka benar-benar dekat…,” gumamku.

Akan tetapi, ada yang aneh, kenapa dari sekian banyak foto, tidak ada satupun fotonya bersama keluarga. Aku penasaran dengan wajah adik Baekhyun, terutama karena Baekhyun-hyung bilang senyum kami mirip.

“Sedang melihat-lihat fotoku semasa sekolah, Minseok-a?”

“Ah, iya, Hyung,” ucapku pada Baekhyun yang sudah berdiri di sampingku.

“Aku lucu, bukan? Terutama yang itu, saat aku baru masuk SMP.”

“Hahaha, iya. Hyung, kenapa kau tidak punya foto keluarga di sini?”

“Oh, itu karena aku hanya punya satu, dan aku tidak mau mengambil resiko foto itu hilang karena kupajang. Jadi foto itu kusimpan di tempat khusus.”

“Aku ingin melihat adikmu.”

“Fotonya ada di rumah. Nanti kalau aku pulang, aku akan mengambilnya dan kuperlihatkan padamu, oke?”

“Oke!”

“Minseok-a, bagaimana rasanya punya keluarga yang masih utuh?”

“M-maksudmu?”

“Walaupun Appamu sudah meninggal, tapi kau pernah merasakan punya keluarga utuh saat usiamu remaja, bukan?”

“Tunggu dulu, apakah…”

“Iya, orangtua kandungku sudah meninggal karena kecelakaan yang tadi kuceritakan, maka dari itu aku hanya punya satu foto keluarga. Foto yang diambil satu hari sebelum kecelakaan itu, saat ulangtahunku.”

“Ah…begitu…”

“Jadi? Kau belum menjawab pertanyaanku.”

“Rasanya sangat menyenangkan. Aku benar-benar menyayangi mereka, tapi walaupun begitu…jika Tuhan memberiku kesempatan, aku ingin kembali ke masa lalu yang tidak pernah kuingat. Karena aku merasa, ada seseorang yang sedang menungguku dengan perasaan terluka.”

Saat mengucapkan itu, tanpa sadar airmataku menetes. Ada perasaan yang aneh dari ketidakpastian itu. Aku benar-benar merasa kesepian sekarang.

Kurasakan sentuhan halus dipipiku dan itu dari Baekhyun-hyung. Dia mengusap airmataku seperti seorang kakak yang sedang menghibur adiknya.

“Seperti yang kukatakan tempo lalu, kau harus yakin kalau Tuhan menyimpan sebuah rencana besar dibalik masalahmu, Minseok-a. Kau juga harus yakin kalau suatu hari nanti kau akan menemukan ingatanmu dan bisa bertemu dengan orang itu.”

 

Advertisements

14 thoughts on “My Immortal Love is You _ XiuHan/LuMin (Bagian 08)

  1. Aaaaakkk mian baru reviewwwww.. Reader baruuu :3
    Makasih yaaa karena kamu udah lanjutin ceritanyaaaa, makin bagusss, aku jadi makin penasaran siapa jumyeon sebenernya .-. Itu kok ada yg ngaku ngaku daehyun??? -.-

    • waah, nggak apa-apa . aku juga updatenya lama nian, jadi aku merasa bersalah 😦
      waaah, makasih juga kamu udah sempetin review 😀 hehehe. hayooo, aku juga penasaran 😀 bentar lagi kujelasin kok 😀 tenang aja 😀
      makasih banyak udah baca 😀

  2. loh loh loh yg sama chanyeol siapa? kok namanya byun daehyun nama adeknya byun baekhyun noh trus xiumin gmn..
    tuh kan kris aja curiga sama junmyeon sama kyk aku hmm haha
    ahhh moment xiuhan nya dikit sekali

    aku suka bgt dach sama ff nya, lanjut jgn lama-lama ntar aku lupa lg nama + sifat2 tokohnya diawal kyk td krn kelamaan lanjutnya haha *ini nih kadang reader suka maksa author buat lanjutin cerita cepet2 gak tau apa cari inspirasi buat nulis itu susah hehe
    keep writing author ^^

    • lho-lho-lhooo, hayo siapa hayooo. hehe. nanti kujelasin ya 😀
      joonmyun sebenernya kasian hehehe, dicurigain muluuu 😀
      iya, soalnya uhan lagi pulangggg 😀 LDRan dulu doiii
      waah, aku juga suka kamu :* (eh) wkwkwk, maap yaa aku lama banget updatenya 😀 semoga yang selanjutnya nggk lama, tapi nggak janji 😀
      makasih banyak yaa 😀

  3. waaahhh akhirnya update jg ni ff udah mau lumutan rasanya nunggu n ff update hehehehehe tp nggak papa deh yg penting tetap update, ceritanya beneran seru akhirnya kejawab jg klo adiknya baekhyun tu minseok ^_^ lanjut terus ff nya ya jgn stop di tengah jalan author fighting !!!!

    • wkwkwk, maap yaaa kamu nunggunya lamaa 😀 aku juga udah berusaha update secepetnyaa 😀 😀
      okedeeh, aku juga ga mau stop di tengah-tengah soalnya udah sejauh ini 😀 harus sampai akhir dooong, doain aja ya 😀
      makasih banyaak 😀

  4. Ahhh~ akhirnya comeback juga ffnya 😀
    Minseok itu Daehyun kan? iya kan? iya aja dong ‘-‘/\ hehe
    Tapi kalo Minseok itu Daehyun adeknya Baekhyun terus Daehyun yang sama Chanyeol itu siapa? 😮 Terus cinta pertama Lu-ge itu Minseok atau Daehyun yang sama Chanyeol itu? o.O

    Jadi Yifan, Lay, sama Hanzou itu pengawal atau pembantu atau semacamnya gitulah dikeluarga Byun? Nah itu keluarga Joonmyun kenapa tuh?

    Jjeng jjengggg~ otakku kembali dipertemukan dengan pertanyaan…
    Eonnie cepat-cepat update yaaaa~ aku selalu menunggu kelanjutan ffmu~
    Fighting eonnie~ ‘-‘9 Annyeong~ /lambai tangan bareng Xiuhan/

    • waaah, akhirnya hehehe
      iya, harusnya Minseok itu Daehyun *eh
      hayo itu siapa hayooo, nape ni ff jadi mirip sinetron ya -_-
      Iyaa, Anda benarr ! nanti kujelasin ya 😀
      Aku juga mau cepet-cepet updateee, doakan aja yaa 😀 😀
      makasih banyak udah baca 😀

  5. Ooo… jadi yixing sama yifan tahu siapa xiumin sebenarnya… hanzhuo ge mantan manager xiumin juga sebenarnya siapa … jgn2 mereka bertiga org2 yg harus ngejaga xiumin dan baekhyun ya…

    Jiah ternyata tebakan kn ku benar klu First love nya luhan si xiumin jga…

    Cie …cie yg masih ada rasa #rasajeruk #strobery #mangga ups salah maksudnya masih ada getar2 cinta nie sama si tiang listrik chanyeol #toelXiumin…
    Moga cepat hilang tu rasa ya xiu kn kasihan si rusa… ^^

    Jadi xiumin adek nya baekhyun … jdi nama sebenarnya byun daehyun…
    Tpi siapa si daehyun yg bersama chanyeol…
    Apa orang yg berniat menipu baekhyun…

    Penasaran apa sangkut paut kim han, eomma minseok, keluarga byun, keluarga suho dan siapa sebenarnya chanyeol kok bisa bersama daehyun … ?????

    Waaaaa…. saya makin penasaran nie… ttp nulis ya thor walaupun moment xiuhan gk ada …
    Nice ff and daebak ^_^

  6. woaahhhh.. authornim ceritanya kenapa menyayat hati seperti ini??? sebenarnya xiumin beneran adiknya baekhyun bukan sih?? terus siapa byun daehyun yang ditemuin sm chanyeol?? akkhhh kepalaku pusing tapi ga bisa berenti buat mikirin nih ff.. lanjut,, lanjut..

  7. Eon…
    Lumutan nunggu nya T^T

    Tapi, waktu chap ini muncul..
    Terjawab lah pertanyaan ku (?)..
    (︶︿︶)
    En, cerita nya makin bagus eon…
    GAk sabar tunggu lanjutan nya..

    Aku jadi ngebayang kalo jadi Baekhyun, rasanya pasti sakit banget T^T

    Dan, banyak pertanyaan yg melayang di otakku…
    1. Sebenernya Xiumin itu adek Baekhyun aka si Byun Daehyun ??
    2. Terus, kalo xiumin itu Daehyun, Daehyun yang sama Chanyeol siapa ??
    3. Terus Hanzhou, Yifan, sama Yixing itu siapa ??
    4. Terus kenapa Joonmyun terus dicurigai ??
    5. Kenapa Shinae jahat banget sama Xiumin ??

    Buruan apdet ya eon.. Supaya 5 pertanyaan tadi cepat terjawab XD

  8. hoho akhrnya diposting juga, udah pnasaran bgt .
    kok chanyeol bs knal sm byun daehyun? tp it daehyun palsu kan ya? cz yg asli kan xiumin 😀 hbngan baek ma xiumin udh baik yeay!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s