My Immortal Love is You _ XiuHan/LuMin (Bagian 06)

Tittle: My immortal love is you

Author: Fie

Genre: romance, family, drama, boyxboy

Length: Multichapter

Rated: T

Languange: bahasa

Pairing: LuMin/XiuHan

Cast:

Main cast:

– EXO XiuMin as Kim Minseok/XiuMin

– EXO Luhan as Xi Luhan

– EXO Chanyeol as Park Chanyeol

– EXO Baekhyun as Byun Baekhyun

Supporting cast:

– EXO SuHo as Kim Joonmyun

– EXO D.O as Kim Kyungsoo

– EXO Lay as Zhang Yixing

– EXO Kris as Wu Yifan

– EXO Sehun as Kim Sehun

– EXO Kai as Lee Jongin

– EXO Chen as Lee Jongdae

– EXO Tao as Hwang Zitao

– Super Junior Yesung as Kim Jongwoon

– SNSD Sunny as Lee/Kim Soonkyu

– Other….

 

 

“Sebuah cerita tentang kasih sayang yang akan terus abadi.”

 

 

SIX – Believe

“Walaupun kau tidak menyukaiku sekarang, tapi aku akan berusaha keras untuk menjaga orang yang telah dipercayakan padaku.”

 

 

 

KYUNGSOO meminta Luhan untuk meninggalkannya dengan Minseok karena dia ingin memperjelas semuanya, semua yang mengganggu pikirannya. Akhirnya dengan sedikit ragu, Luhan keluar setelah sekali lagi melihat Minseok.

“Hyung.”

“Kenapa kau mengusir Luhan?”

“Kenapa kau berbohong?”

“M-Mwo? Aku tidak berbohong, itu—“

“Kau bilang, kau membenci pembohong, tapi kenapa sekarang kau berbohong?”

“Aku tidak berbohong.”

“Kenapa kau terus menyembunyikan semuanya padaku? Kenapa hanya aku orang yang tidak tahu apa-apa?”

“Kyungsoo-a…”

“Aku kecewa padamu, Hyung. Aku lebih kecewa lagi karena kau berbohong padaku tentang hubungan kita.”

Kyungsoo berlari keluar meninggalkan Minseok yang sangat terkejut dengan ucapan Kyungsoo. Luhan yang melihatnya langsung masuk ke dalam untuk melihat keadaan Minseok.

“Xiumin, ada apa? Kenapa Kyungsoo pergi?”

“Bantu aku, Lu-ge,” ucap Minseok seraya berusaha bangun.

“Kau mau kemana?”

“Aku harus menghubungi seseorang. Bisakah kau mengantarku ke luar?”

“Aku akan meminta izin pada dokter Park dulu.”

“Aneyo, kita harus pergi sekarang.”

“Tapi…”

“Bukankah kau bilang ingin terus berada di dekatku? Tolong aku, Lu-ge…”

 

***

 

Luhan meminjamiku bajunya dan kami keluar diam-diam. Kami harus berjalan ekstra hati-hati saat melewati para wartawan yang masih menungguku. Sesampainya di tempat parkir, Luhan langsung membukakan pintu untukku.

“Arahnya kemana?”

Setelah aku menjelaskan jalannya, mobil Luhan segera melaju dengan kecepatan tinggi. Aku harus pergi menemui Sehun, bagaimanapun caranya aku harus menemuinya. Tidak seharusnya Sehun mengatakan hal yang belum pasti pada Kyungsoo.

“Sebenarnya ada apa ini, Xiumin?”

“Tolong jangan dulu bertanya, Lu-ge. Aku sendiri masih bingung.”

Luhan terlihat sangat kesal dan tiba-tiba dia langsung menepikan mobilnya.

“Lu-ge!”

“Aku tidak akan mengantarmu ke tempat yang dapat membahayakan hidupmu!”

Mata Luhan menggambarkan kecemasan dan kekesalan.

“Bukannya aku tidak ingin menjagamu, Xiumin. Aku hanya tidak ingin kau seperti ini lagi. Apa kau tahu kalau aku sangat cemas sampai jantungku hampir copot? Tolong jangan menantang bahaya.”

Mendengar ucapannya, airmataku tidak kuasa tertahan lagi. Aku kembali menangis di sampingnya, mengeluarkan sebagian kecil beban hidupku.

“Xiuminnie…”

“Aku tidak tahu kenapa hidupku menjadi seperti ini, Lu-ge. Apakah mungkin Tuhan sedang menghukumku karena kesalahan masa lalu?”

Luhan melepas sabuk pengamannya lalu menggenggam tanganku.

“Kau mungkin tidak tahu betapa sayangnya Tuhan padamu, Xiumin. Semuanya Dia lakukan untuk memberimu hidup yang lebih baik. Kau harus percaya itu.”

“Kyungsoo sudah mengetahuinya.”

“Mengetahui apa?”

“Kalau kemungkinan, aku bukan kakaknya.”

“Apa? Kau bukan apa?”

“Sudah kubilang, aku sendiri masih bingung karena hal itu belum pasti.”

“Apa karena itu dia pergi tiba-tiba?”

“Ne. Entah dari siapa dia mengetahuinya, yang pasti, aku harus bertemu dengan orang yang sebelumnya mengetahui ini.”

“Siapa?”

“Sepupuku, Sehunnie.”

 

***

 

“Apa? Dia kemana? Oh, baiklah. Tetap ikuti mereka.”

Baekhyun yang sedang menyiapkan sarapan untuknya dan Chanyeol hanya bisa menatap heran Chanyeol yang langsung meremas ponselnya sambil memasang wajah kesal.

“Kau kenapa?” tanyanya kemudian.

“Luhan membawa Minseok pergi.”

“Mwo? Luhan? Dia ke sini?”

“Eum.”

“Bagaimana bisa dia ke sini? Tunggu dulu, dia ke sini hanya untuk menjenguk Minseok?”

“Molla.”

“Chanyeol, sepertinya artisku sangat menyukai Minseok sampai rela ke sini. Apa dia tidak tahu akibat dari perbuatannya?”

“Sebaiknya kau urusi artismu itu. Sekarang aku akan menjemput Minseok.”

“Chanyeol-a!”

“Kenapa kau berteriak begitu?”

“Aku ikut.”

“Ha? Ikut? Tidak usah. Kau akan memperburuk keadaan kalau ikut.”

“Kapan aku melakukan itu?”

“Kau tidak ingat saat aku menahan Minseok di Beijing tempo lalu? Kau memarahi Minseok secara tidak langsung sehingga dia pergi.”

“Aku hanya kesal waktu itu. Sekarang aku ingin menemui Luhan.”

“Baiklah. Aku akan mengizinkanmu ikut, tapi kau harus berbicara pada artismu supaya menjauh dari Minseok.”

“Apa hakmu melakukan itu padanya? Dia menyukai Minseok kan bukan salahku. Kalau kau memang masih menyukai Minseok, sebaiknya kau yang bicara langsung pada Luhan.”

“Sudahlah, kau bisa pulang sekarang karena aku mungkin baru kembali malam.”

“Tidak, aku harus ikut!”

“Byun Baekhyun! Berhentilah mengikutiku! Apa kau tidak punya orang lain untuk diikuti? Aish…”

Mendengar Chanyeol berteriak begitu, dada Baekhyun tiba-tiba saja sesak. Dia tidak menyangka Chanyeol akan memarahinya hanya karena mantan pacarnya. Chanyeol telah mengenal Baekhyun lebih lama ketimbang mengenal Minseok, tapi kenapa Chanyeol melakukan ini padanya?

Belum sempat Baekhyun membalas perkataan Chanyeol, namja tinggi itu sudah keluar setelah mengambil kunci mobilnya.

“Apa kau benar-benar tidak menganggapku lagi? Chanyeol-a, apa kau tahu kalau aku bisa menghancurkan Minseok dengan sangat mudah?”

 

***

 

Sehun menatap wajahnya yang babak belur. Masih jelas dalam ingatannya tentang kejadian kemarin, saat dia bersikeras meminta Eommanya untuk mengizinkannya pergi menemui Kim Minseok dan Appanya tahu.

 

 

“Apa kau tidak punya otak? Aku sudah membesarkanmu selama 25 tahun, tapi apa balasanmu? Kau hanya memikirkan bocah sialan itu! Sampai kau berhenti memikirkannya, kau akan terus dikurung!”

“Appa! Kenapa kau seperti ini? Bukankah kau sangat menyayangi Minseok dulu? Kenapa sekarang kau membencinya?”

“Kau tidak perlu tahu! Atau kau ingin keluarga Minseok lebih menderita lagi dari ini?”

“Lambat laun, polisi akan menangkapmu, Appa! Walaupun kau adalah Appaku, tapi jika kau berbuat salah, aku tidak akan membantumu.”

“Mereka tidak akan menangkapku, dan aku bisa dengan mudah menghancurkan keluarga Kim Minseok. Jika kau menemui dia lagi, bukan hanya kau yang akan hancur, tapi juga orang-orang yang kalian sayangi. Aku bersungguh-sungguh.”

 

 

Sehun menyentuh luka di pipinya perlahan, tapi cukup membuat wajahnya meringis. Dia benar-benar tidak habis pikir kenapa Appanya bisa berubah drastis. Sehun yakin ini bukan tentang uang, tapi hal lain yang lebih besar dan sangat berpengaruh pada keluarganya.

 

Tuk

 

Sehun yang sibuk membersihkan lukanya langsung berhenti karena mendengar suara batu yang dilempar ke jendela kamarnya. Dengan langkah terseok, Sehun berjalan menuju jendela dan membukanya. Dia sangat terkejut saat melihat siapa yang melempar batu itu.

“Minseok-a…”

Minseok melambai-lambaikan tangannya seperti menyuruh Sehun untuk turun dan menemuinya. Akan tetapi, Sehun hanya bisa menatap Minseok sambil bernafas lega karena sepupu yang sangat disayanginya itu baik-baik saja.

“Sehun-ah! Aku ingin berbicara denganmu!”

Sehun menggeleng dan segera menutup jendelanya saat ingat perkataan Appanya kemarin. Sehun tidak ingin ada lagi yang menjadi korban karena keegoisannya.

“Mianhae…Minseok-ah.”

Minseok bingung melihat Sehun yang langsung menutup jendelanya. Dia meloncat-loncat untuk melihat Sehun lebih jelas, kalau-kalau Sehun masih membuka sedikit jendelanya, tapi itu tidak terjadi. Bayangan Sehun menjauh dari jendela, seperti tidak memberi harapan pada Minseok untuk berbicara padanya.

“Sehun-ah…”

“Xiumin? Ada apa? Bukankah orang itu yang ingin kau temui?”

“Aku juga tidak mengerti kenapa dia bersikap begitu.”

“Mungkin dia sedang tidak ingin diganggu. Bagaimana kalau kita pulang sekarang?”

“Tidak, Gege. Aku harus menemui Sehun.”

Saat Minseok hendak melempar batu lagi, sebuah mobil berwarna hitam berhenti di dekat mereka. Seorang lelaki bertubuh tinggi dan berambut hitam legam keluar dari mobil itu. Dia, Park Chanyeol, langsung menghampiri Minseok dan menarik tangan kiri Minseok.

“Kajja.”

“C-Chanyeol-hyung…”

“Kau tidak boleh keluar sebelum dokter mengizinkanmu.”

Tanpa mendengar pembelaan Minseok, Chanyeol langsung menarik tubuh Minseok menuju mobilnya. Tapi, langkah mereka tertahan saat Luhan menarik tangan kanan Minseok.

“Kenapa kau memaksa Xiumin untuk ikut denganmu? Apa kau tidak punya etika?” ucap Luhan geram.

Chanyeol menatap Luhan dengan sangat kesal sambil terus menggenggam tangan Minseok. Luhan juga tidak berbeda jauh.

“Apa yang kau inginkan?” tanya Chanyeol.

“Xiumin akan pulang denganku.”

“Aku tidak peduli kau itu artis besar atau apa, yang pasti mulai sekarang, kau harus melepaskan Minseok.”

“Kenapa? Apa ada alasan jelas kau melarangku?”

“Hubungan kalian terlalu berbahaya. Penggemarmu akan menyelakakan Minseok.”

“Kau tahu apa tentang penggemarku? Apa kau Tuhan yang bisa mengatur hidup kami? Lepaskan tanganmu dari Xiumin.”

“Kau benar-benar keras kepala.”

Chanyeol melepas tangan Minseok lalu mendorong Luhan hingga namja itu terjatuh. Chanyeol menahan tubuh Luhan sambil menarik kerah kemeja Luhan.

“Sudah kubilang untuk melepaskan Minseok, bodoh!”

Chanyeol menghantam wajah Luhan cukup keras sampai mulut Luhan mengeluarkan darah.

“Hyung!”

Saat Minseok berteriak untuk menghentikan perkelahian, tiba-tiba saja ada sebuah bayangan yang tergambar dalam ingatannya.

 

“Hyung!”

“Sudah kubilang jangan dekati adikku!”

“Hyung hentikan!”

“Kalau kau mendekati adikku, dia akan diejek oleh teman-temannya! Sebaiknya sekarang kau pergi!”

 

Tangan Minseok bergetar hebat, seperti ingin melepaskan sesuatu yang kuat dari dalam dirinya. Minseok terjatuh. Dia menyeret tubuhnya mundur dengan sekuat tenaga.

“H-hyung…”

Chanyeol yang melihat itu langsung melepaskan tubuh Luhan lalu mendekati Minseok. Luhan juga berusaha bangkit sambil membersihkan darah dari bibirnya.

“Minseok-ah, kau kenapa?”

“Hyung…”

Dengan sigap, Chanyeol mengangkat tubuh Minseok dan membawanya ke mobil. Chanyeol segera melajukan mobilnya begitupun Luhan.

“Hyung…”

 

***

 

Sesampainya di rumah sakit, Minseok langsung dilarikan ke UGD karena kondisinya tiba-tiba saja memburuk. Melihat hal itu, para wartawan segera mengambil gambar Minseok dan juga dua namja yang mengiringinya.

Setelah Minseok masuk ke dalam UGD, seluruh wartawan segera mengerumuni Luhan dan Chanyeol. Mereka sangat ribut, sampai-sampai hampir seluruh petugas rumah sakit harus mengusir mereka. Saat Luhan dan Chanyeol terbebas dari para wartawan, mereka berdua duduk di kursi tunggu dalam diam.

Beberapa saat kemudian, Wu Yifan bersama Kyungsoo, yang langsung menyadari keributan tadi pasti terjadi karena Minseok, berlari menghampiri keduanya.

“Luhan-hyung, kenapa Hyungku masuk UGD?”

“Aku tidak tahu, Kyungsoo. Saat orang ini memukulku, tiba-tiba saja Minseok terjatuh dan kondisinya memburuk.”

Kyungsoo menatap Chanyeol yang sedang duduk sambil menunduk, lalu langsung menarik kerah kemeja Chanyeol sehingga tubuh itu sedikit terangkat.

“Kenapa kau masih menemui Hyungku?”

“Kyungsoo-a…”

“Sudah kubilang jangan pernah menemui Hyungku lagi!!”

“Itu karena Luhan terus-terusan bersama Hyungmu! Apa kau tahu akibat dari perbuatannya? Hyungmu akan dicelakai oleh penggemarnya!”

Kyungsoo merasa sebuah pukulan yang sangat kencang menghantam dadanya. Kenapa dia tidak berpikir itu sebelumnya. Hubungan dua artis besar di sini sangat diperhatikan, tapi Kyungsoo melupakannya karena perkataan Luhan yang meyakinkan.

Kyungsoo melepaskan tarikannya dari Chanyeol lalu berjalan mundur. Dia bersandar di dinding dan perlahan-lahan ambruk.

“Kenapa harus Hyungku yang mendapat semua ini? Mianhae, Hyung…”

Luhan berdiri hendak menghampiri Kyungsoo, tapi Yifan mencekal tangan Luhan untuk mencegahnya.

“Jangan.”

“Yifan-ge…”

“Ayo, aku ingin berbicara padamu.”

“Tapi…”

“Hanya sebentar.”

 

***

 

Aku berada di sebuah taman yang belum pernah kulihat sebelumnya. Kemudian, aku berjalan menelusuri taman itu, tapi tidak ada siapa-siapa di sana. Akhirnya aku duduk di sebuah ayunan karet dan berayun sebentar. Aku bisa merasakan angin dingin menyentuh pipiku saat berayun. Walaupun dingin, aku merasa sangat bahagia karena aku seperti menemukan bagian diriku yang telah lama hilang.

Beberapa saat kemudian, seorang anak laki-laki yang sangat lucu duduk di sampingku. Dia mencoba berayun, tapi agak susah karna kakinya tidak dapat menyentuh tanah. Ketika aku hendak membantunya, seorang anak lelaki lain datang dan berdiri di belakangnya.

“Apa kau ingin berayun?”

“Ne…”

“Kau harus bertambah tinggi supaya bisa berayun sendiri.”

“Ne, Hyung.”

“Tidak apa-apa. Jika kau kesulitan berayun, kakakmu ini akan membantumu karena aku akan selalu berada disampingmu.”

Mendengar percakapan mereka, tiba-tiba saja airmataku menetes. Apakah aku dan Kyungsoo seperti itu dulu?

 

Tap…tap…tap…

 

Seseorang datang dan berdiri di belakangku. Dia menyentuh tali ayunanku dan mendorong ayunan ini perlahan.

“Kau harus bertambah tinggi supaya bisa berayun sendiri.”

Dadaku sesak saat mendengar ucapan orang itu. Aku langsung menoleh ke belakang, dan betapa terkejutnya aku saat melihat orang itu.

 

***

 

Tangan Hanzhuo yang sedang mengetik langsung berhenti saat istrinya meletakan sebuah koran di meja kerjanya. Dahi Hanzhuo segera berkerut saat melihat judul berita utama pagi ini.

“Apa ini?”

“Kau tidak bisa membacanya? Luhan pergi ke Korea untuk menjenguk Xiumin. Apa mereka dekat?”

“Aku tidak tahu. Seingatku mereka berteman tidak lama, tapi kenapa…”

“Apa Luhan menyukai Xiumin?”

“Mungkin.”

“Memangnya tidak berbahaya jika mereka berkencan?”

“Yaampun, anak ini memang tidak bisa menjaga dirinya sendiri. Aku akan segera menghubungi Zhang Yixing.”

“Zhan Yixing? Lay si pengacau itu? Untuk apa?”

“Dia akan menjadi manajer Xiumin yang baru. Aku akan memintanya untuk segera menemui Xiumin dan menjaga bocah itu.”

 

***

 

Wu Yifan mengajak Luhan ke kantin rumah sakit dan memesan dua kopi hangat untuk mereka. Saat kopi itu diletakan di hadapan Luhan, dia hanya bisa tersenyum getir.

“Apa aku tidak boleh dekat dengan orang yang kusukai?”

“Lu, bukan begitu.”

“Lalu apa? Apa aku harus berhenti menjadi penyanyi supaya mendapatkannya? Apa aku harus menghilang dari dunia hiburan supaya penggemarku tidak sakit hati?”

“Lu…”

“Aku benar-benar lelah hidup seperti ini, Gege. Di satu sisi, aku ingin melindungi Xiumin, tapi di sisi lain aku tidak ingin menyakiti penggemarku. Lalu aku harus bagaimana?”

“Ucapanmu itu… apa kau menyukai Xiumin lebih dari teman? Maksudku, dulu kau bilang hanya menyukainya karena dia itu penulis favoritmu, tapi sekarang, sepertinya kau memang menyukainya.”

“Dulu aku memang bingung, Gege. Tapi sekarang, saat aku melihat Park Chanyeol menggenggam tangan Xiumin, aku benar-benar membencinya.”

“Lu, semua orang berhak mendapatkan orang yang dia suka, dan jika Tuhan memang menjodohkanmu dengan Xiumin, semua akan baik-baik saja pada akhirnya. Kau hanya harus bersabar dan menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.”

“Aku tidak ingin kehilangan orang yang kusukai lagi, Gege…”

 

***

Setelah mendapat perawatan yang baik di UGD, Minseok dipindahkan ke kamar rawatnya. Eomma Minseok yang baru saja datang segera menemui dokter Park untuk mengetahui apa yang terjadi.

“Ada apa ini, dokter Park?”

“Trauma Minseok semakin parah, Ahjummanim.”

“Kenapa bisa begitu?”

“Jika Minseok bertemu dan terus berinteraksi dengan seseorang yang sangat dia rindukan di masa lalunya, ingatan Minseok akan berusaha kembali dan membuat pikirannya terganggu.”

“Siapa orang itu?”

“Aku juga tidak tahu.”

“Bagaimana ini bisa terjadi? Kenapa harus Minseok-ku yang mengalami ini…”

 

***

 

Luhan memandangi Minseok dari kaca pintu kamar. Kyungsoo terlihat sedang memandangi sambil memijati tangan kakaknya. Disamping Kyungsoo, ada Chanyeol yang sedang duduk dan juga sedang memandangi Minseok. Luhan ingin sekali masuk dan memandang Minseok dari dekat, tapi dia takut Kyungsoo akan marah dan membuat keributan sehingga Minseok tidak bisa istirahat dengan tenang.

“Luhan-ssie?”

Mendengar suara Eomma Minseok, Luhan segera berbalik dan memberi jalan untuk wanita paruh baya itu.

“Oh, Ahjummanim.”

“Kenapa kau tidak masuk?”

“Tidak apa-apa. Aku akan menunggu di sini saja.”

“Tidak-tidak, kau harus masuk dan menemani Kyungsoo. Kulihat kalian berdua cukup dekat, jadi aku membutuhkanmu untuk menghibur Kyungsoo.”

“Sepertinya Kyungsoo tidak akan mau menemuiku lagi.”

“Kenapa?”

“Tidak apa-apa, Ahjummanim.”

“Baiklah, jika kau ingin masuk, masuk saja ya.”

“Ye.”

“Aku sangat senang Minseok mempunyai teman sepertimu, Luhan-ssie. Aku belum pernah melihat Minseok tersenyum seperti kemarin saat melihatmu. Minseok yang kubesarkan selama ini memang selalu tersenyum dan ceria, tapi kemarin aku merasa ada yang berbeda saat kalian bertemu. Apakah kalian berkencan?”

“A-animida.”

“Benarkah? Aku berharap ada orang sepertimu yang bisa membuat Minseok tersenyum lagi seperti itu. Park Chanyeol memang anak yang baik, tapi sepertinya Minseok tidak bisa melupakan masa lalunya dengan namja tinggi itu. Ah…baiklah, aku masuk dulu ya.”

Luhan terdiam mendengar perkataan Eomma Minseok. Setiap kata yang dilontarkan wanita itu kini tertancap kuat dalam pikiran Luhan.

“Eomma Xiumin percaya kalau orang sepertiku bisa membuat anaknya tersenyum bahagia. Aku akan berusaha keras untuk melindungi Xiumin karena aku benar-benar…mencintainya.”

Saat Luhan berbalik, dia sangat terkejut melihat Kim Joonmyun berdiri di depannya. Orang itu membawa serumpun bunga dan bingkisan buah.

“J-Joonmyun?”

“Luhan-ge? Aku tidak tahu kalau kau datang.”

“Kenapa kau di sini?”

“Apa penampilanku kurang jelas? Aku ingin menjenguk orang yang kukagumi.”

“Kapan kau datang?”

“Baru tadi pagi. Nah, bisakah aku masuk untuk menjenguk Xiumin?”

“Jangan. Sebaiknya nanti saja.”

“Kenapa?”

“Dia masih tidur.”

“Lalu kenapa kau di luar?”

“Aku tidak ingin mengganggu Xiumin. Ayo, kita ke tempat lain saja.”

“Baiklah, aku akan menemui Xiumin nanti bersamamu. Oke?”

“Iya.”

“Hei-hei, kemana Luhan yang selalu percaya diri? Kenapa kau lesu begini?”

“Aish…aku tidak apa-apa. Sudahlah, ayo pergi!”

 

***

 

Setelah mendapat mimpi itu, tiba-tiba saja aku terbangun dengan nafas terengal. Kyungsoo dan Eomma langsung menenangkanku. Kupegang dadaku untuk mengatur nafas dan kesadaranku yang tidak stabil.

“Minseok-a, gwenchana?” tanya Eomma yang langsung memegang pipiku.

“Ne, Eomma…”

“Sekarang tenangkan dirimu dulu, eoh? Eomma akan keluar sebentar. Kalian jaga Minseok baik-baik, ya.”

“Ne, Eomma.”

“Ne, Ahjummanim.”

Suara siapa itu? Apakah itu suara Park Chanyeol-hyung?

Saat Eomma keluar, Park Chanyeol mendekat dan memandangku lekat. Aku menatap Kyungsoo untuk mendapat penjelasan kenapa dia di sini.

“Kau tidak ingat kalau Chanyeol-hyung yang mengantarmu, Hyung?”

“Mwo? Dia?”

Tunggu dulu. Ah…iya, aku ingat. Dia yang mengangkat tubuhku ke mobilnya saat aku melihat bayangan aneh.

“Luhan. Dimana Luhan?”

“Luhan-hyung pergi dengan Yifan-hyung,” jawab Kyungsoo.

“Minseok-ah, apa kau sudah lebih baik?”

Aku tidak langsung menanggapi Chanyeol karena sedang mengingat kenapa aku bisa melihat bayangan aneh itu.

“Minseok?”

Ah, aku ingat. Chanyeol memukul Luhan sampai Luhan memuntahkan darah.

“Aku harus menemui Lu-ge, dan kau, bisakah kau tidak memakai kekerasan untuk mendapatkan sesuatu? Lu-ge tidak bersalah sama sekali, aku yang memintanya menemaniku.”

“Aku hilang kendali tadi. Maafkan aku.”

“Apa kau sudah meminta maaf pada Lu-ge? Aku rasa belum.”

“Aku akan meminta maaf padanya nanti.”

“Kyungsoo-a, bisakah kau mengantar orang ini keluar? Aku ingin istirahat.”

“Ne. Hyung, ayo keluar.”

“Minseok-ah, aku benar-benar mencintaimu…”

 

***

 

Baekhyun langsung bersembunyi saat melihat Chanyeol keluar dari kamar Minseok. Dia menghela nafas lelah karena Baekhyun tahu kenapa Chanyeol keluar dengan wajah kusut begitu.

“Sudah kubilang kan, kau tidak usah menemui anak itu lagi.”

Saat matanya mengikuti langkah Chanyeol, tanpa sengaja dia melihat seseorang yang tidak asing. Dia berjalan dengan artisnya, Luhan.

“Bukankah itu Kim Joonmyun? Kenapa dia bisa di sini?”

Joonmyun dan Luhan berhenti saat bertemu dengan Chanyeol. Luhan memalingkan wajahnya dari Chanyeol, sedangkan Joonmyun memberi salam padanya.

“Selamat siang, Tuan CEO.”

“Kim Joonmyun?”

“Ye. Aku ke sini untuk menjenguk Xiumin.”

“Oh…tentu saja. Baiklah, silahkan.”

“Terimakasih, Tuan CEO.”

“Ah, jangan lupa untuk menemuiku nanti sore,” ucapnya, dan saat melihat Luhan, dia langsung teringat sesuatu, “aku minta maaf karena memukulmu tadi.”

“Hem.”

“Hanya ‘hem’?”

“Lalu kau mau apa?”

“Aish…aku minta maaf karena Minseok yang memintanya, bukan karena aku ingin.”

“Xiumin sudah sadar?”

“Ne.”

“Dia sudah sadar sepenuhnya karena mengusirmu keluar, hahaha.”

“Apa kau bilang?”

Joonmyun langsung memukul siku Luhan lalu membungkuk hormat pada Chanyeol sekali lagi.

“Kami pergi dulu.”

Joonmyun menarik Luhan menuju kamar Minseok.

“Dia atasanku sekarang, jadi kau tidak boleh seenaknya.”

“Dia kan atasanmu, kenapa harus aku yang repot?”

“Kalau kau membuatnya kesal, nanti dia melampiaskannya padaku.”

“Ish…”

Sesampainya di depan kamar Minseok, Luhan menahan Joonmyun karena dia bisa melihat Kyungsoo sedang mengobrol serius dengan Minseok. Luhan membuka sedikit pintu kamar itu untuk mendengar percakapan mereka. Luhan tahu itu tidak sopan, tapi dia benar-benar penasaran.

“Maafkan aku soal tadi pagi, Hyung.”

“Aku tidak pernah marah padamu, Kyungie.”

“Aku sudah tidak peduli apakah Hyung berbohong atau tidak, yang penting sekarang, aku masih bisa melihatmu.”

“Ini baru adik kesayanganku.”

“Dan Luhan-hyung…”

Saat Kyungsoo menyebut namanya, Luhan semakin memusatkan pendengarannya.

“Walaupun aku tahu dia berbahaya untukmu, tapi aku mempercayainya.”

“Nde?”

“Aku tahu mungkin penggemarnya akan melukaimu, tapi…aku percaya dia bisa menjagamu. Memang terlalu cepat untuk percaya, tapi perasaanku selalu tenang saat kau bersamanya, Hyung. Tapi tenang saja, aku akan menghancurkannya jika dia menyakitimu.”

“Hei-hei, menghancurkan seperti apa, hah?” tanya Luhan yang langsung membuka pintu selebar mungkin.

“L-Luhan-hyung, kau mendengar perkataanku?”

“Tentu saja, sangat jelas malah.”

“Aish…”

Minseok tersenyum pada Luhan lalu melambaikan tangannya seperti memanggil Luhan untuk menghampirinya.

“Ada apa?”

Tiba-tiba saja, Minseok memegang pipi Luhan lalu menarik wajah itu perlahan mendekati wajahnya. Minseok mengamati bibir Luhan sambil memiringkan wajahnya. Luhan hanya bisa mengerjap-ngerjapkan matanya seraya menahan nafas karena terlalu kaget dengan kelakuan Minseok.

“X-Xiumin…”

Setelah puas, Minseok mendorong tubuh Luhan untuk kembali pada posisi semula.

“Ternyata tidak apa-apa,” ucap Minseok tanpa mempedulikan Luhan yang syok.

“Apa maksudmu?”

“Aku minta maaf ya. Gara-gara aku, kau dipukul Chanyeol-hyung.”

“He? Itu tidak masalah. Aku kan lelaki kuat, pukulan seperti itu tidak ada artinya sama sekali.”

“Syukurlah kalau begitu…”

Sedetik kemudian, Joonmyun memunculkan kepalanya dari luar lalu mengetuk.

“Selamat siang.”

“Joonmyun-ssie! Benarkah itu kau?” tanya Minseok sedikit tidak percaya.

“Ye, Minseok-ssie. Aku ke sini untuk menjengukmu,” ucap Joonmyun seraya mendekat dan meletakan buah serta bunganya di nakas di samping tempat tidur Minseok.

“Kau datang jauh-jauh dari Beijing hanya untuk menjengukku?”

“Animida, aku ke sini juga untuk melamar pekerjaan di Anthersy Book.”

“Maafkan aku karena belum bisa bicara dengan Chanyeol-hyung tentang lamaranmu.”

“Tidak apa-apa, Hyung. Aku sudah diterima kok.”

“Ho? Benarkah?”

“Iya. Nanti sore aku akan menemui Tuan CEO untuk membicarakan kontrakku.”

“Chukae. Aku benar-benar senang kau diterima di sana. Kami akan sangat mengandalkanmu, Joonmyunnie.”

“Gomapsimida.”

“Jangan bicara dengan bahasa formal terus dong. Anggap saja kita bukan lagi rekan kerja, tapi teman.”

“Baiklah.”

“Ah, aku baru ingat. Kyungsoo-ah, ini mahasiswa yang tempo lalu kuceritakan. Kim Joonmyun-ssie, perkenalkan ini adikku, Kim Kyungsoo.”

“Salam kenal, namaku Kim Kyungsoo.”

“Eum, salam kenal juga. Aku benar-benar mengagumi kakakmu, jadi kuharap kita bisa berteman baik.”

“Ne.”

“Apa tidak ada yang menganggapku di sini?” tanya Luhan seraya melipat kedua tangannya di depan dada.

“Lu-ge, aku tidak melihat Yifan-ge daritadi. Dia kemana?”

“Oh, aku menyuruhnya untuk mengikuti kasusmu.”

“Mwo?”

“Aku takut ada orang yang memanfaatkan kasusmu untuk urusan yang tidak-tidak, jadi aku meminta Yifan-ge untuk mengawasinya.”

“Oh…”

“Kenapa kau seperti tidak senang? Seharusnya kan kau senang kalau polisi bisa menangkap pelakunya.”

“Eum.”

“Hanya ‘eum’? Aish…benar-benar anak ini…”

“Sudahlah, aku sudah malas membicarakan kasus itu. Aku ingin segera keluar dari rumah sakit dan bekerja lagi.”

“Hei, bagaimana kalau sehari setelah Xiumin keluar, kita berlibur ke taman ria?”

“Hyung, kau tidak takut dikejar-kejar?” tanya Kyungsoo.

“Oiya-ya. Eum, sudahlah tidak apa-apa, manajerku akan mengatasinya.”

 

***

 

Seperti yang Luhan bilang, Yifan pergi ke kantor polisi untuk mengikuti kasus Minseok. Sebenarnya Lee Jongdae sudah melarang Yifan untuk mengetahui perkembangan kasus itu, tapi Yifan terus memaksa dengan alasan keselamatan Minseok.

“Kalau kami tidak tahu bagaimana detail perkembangan kasus ini, bagaimana kami bisa menjaga Kim Minseok?”

“Memangnya kau ini manajernya?”

“Tidak. Aku ke sini bukan sebagai manajernya, tapi temannya.”

“Aish…”

Lee Jongdae menyerahkan sebuah berkas berisi data tentang kesaksian beberapa orang tentang alibi Kim Han tempo lalu. Wu Yifan membacanya dengan seksama, dan memang betul, kesaksian untuk alibi Kim Han tidak bercelah.

“Bagaimana? Kau puas?” tanya Lee Jongdae sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

“Tidak.”

“Mwo? Aku dan Jongin sudah berusaha keras untuk mencari jalan lain, tapi pernyataan Kim Minseok benar-benar tidak membantu.”

“Kau mau mulai darimana?”

“Kami sudah mencari semuanya bahkan mencocokan DNA Kim Han dengan DNA dari lendir yang tertinggal pada cangkir kopi di ruang tengah.”

“Bagaimana hasilnya?”

“Kami hanya menemukan sidik jari dan DNA yang cocok dengan Kim Minseok. Jadi kemungkinan besar yang memakai cangkir itu adalah Kim Minseok.”

“Jadi hanya satu cangkir yang kalian temukan?”

“Ye.”

“Apa kalian sudah memeriksa kediaman Kim Han?”

“Kami tidak bisa karena surat perintahnya tidak keluar.”

“Kenapa tidak keluar?”

“Tidak ada alasan kuat bagi kami untuk menggeledah rumahnya.”

“Apa kau yakin Kim Han pelakunya?”

“Aku juga kurang yakin setelah melihat alibinya yang kuat, tapi entah kenapa, aku merasa dia memang pelakunya.”

“Ah, tunggu dulu. Kalau kalian tidak bisa memeriksa Kim Han terang-terangan, bagaimana kalau diam-diam?”

“Nde?”

“Jadi begini…”

 

***

 

Dua hari kemudian, aku keluar dari rumah sakit dan rencananya besok pagi para wartawan akan mewawancaraiku di rumah. Aku tidak keberatan kalau mereka bertanya tentang kronologi penyerangan karena aku akan menjawab seperti tempo lalu, saat polisi menanyaiku. Sampai sekarang, alasan itu yang membuatku tidak bisa jujur kalau Paman Han yang menyerangku.

“Xiumin, saat para wartawan itu menanyakan hubungan kita, kau mau bilang apa?” tanya Luhan saat kami di mobil menuju rumahku.

“Mau bilang apa ya…”

“Jangan mengatakan hal yang bisa memberatkanmu atau menimbulkan kesalahpahaman ya.”

“Kau takut aku yang terluka atau penggemarmu?”

“Kau bicara apa sih? Tentu saja kalian semua.”

“Hahaha, aku hanya bercanda, Gege. Baiklah, aku akan menjawab kalau kita hanya berteman karena memang begitu, kan?”

“Eoh…”

“Hyung, apa kau tidak punya manajer baru? Apalagi sebentar lagi kau akan bermain film,” ucap Kyungsoo yang duduk di depan.

“Oh, aku juga tidak tahu. Nanti akan kubicarakan dengan Chanyeol-hyung.”

“Mwo? Kau mengusirnya kemarin lalu sekarang mau bicara dengannya?” tanya Luhan heran.

“Ini masalah pekerjaan, Lu-ge. Kami harus professional, kalau tidak, kami akan mengecewakan banyak orang.”

“Oh.”

Sampai sekarang, aku masih bingung kenapa Luhan bersikap terlalu berlebihan padaku.

 

“Lu-ge, sebenarnya kau menganggap hubungan kita seperti apa?”

Luhan terdiam. Dia hanya menatapku lekat. Lalu tiba-tiba, Luhan medekatiku dan mengecup keningku. Aku tidak bisa mengartikan kecupan ini karena jika aku salah, aku takut hubungan kami akan hancur.

“Aku belum bisa menjawabnya, Xiuminnie…”

 

Kulirik Luhan yang sedang memejamkan matanya. Baru sekarang aku melihat lingkar mata hitam yang jelas di wajah Luhan. Memang sih, dia sedang tidak memakai make up, tapi setidaknya dia harus menutupi lingkar mata itu.

“Lu-ge.”

“Ho?”

Luhan langsung membuka matanya dan menatapku.

“Kapan kau kembali ke China?”

“Um…aku tidak tahu.”

“Mwo? Bagaimana dengan penggemarmu di sana?”

“Aku juga memikirkan mereka.”

“Kalau begitu kau harus pulang secepatnya.”

 

***

 

Park Chanyeol memeriksa pekerjaan Kim Joonmyun untuk ilustrasi terbaru film yang akan dimainkan Minseok. Setelah memeriksanya, dia hanya bisa tersenyum puas karena pekerjaan Joonmyun benar-benar menakjubkan.

“Aku tidak pernah bertemu dengan orang sehebat kau, Joonmyun-ssie. Di usiamu yang semuda ini, kau bisa membuat karya yang sangat indah.”

“Terimakasih, Tuan CEO.”

“Nah, kau bisa pergi sekarang. Terimakasih untuk hari ini.”

“Tuan CEO, bisakah saya bertanya?”

“Tentu.”

“Apakah Anda dan Kim Minseok sudah berteman lama?”

“Nde?”

“Maksud saya, memang wajar jika seorang CEO berteman dengan pegawainya, tapi dari berita yang kemarin saya lihat…sepertinya hubungan kalian bukan sekedar teman biasa.”

“Apa tujuanmu menanyakan itu?”

“Oh, tidak apa-apa. Saya hanya penasaran karena jika kalian berteman, kenapa Anda tidak mengantar Minseok-sunbae pulang?”

“Aku sudah mengutus orang untuk menjaganya.”

“Ohya? Apakah itu Luhan?”

“Luhan? Tentu saja bukan.”

“Saya kira Luhan yang Anda utus karena dia terus saja menempel pada Minseok-sunbae.”

“Kuharap orang itu segera kembali ke China.”

“K-kenapa Anda berkata seperti itu?”

“Tidak apa-apa.”

“Eum…baiklah, sekarang saya akan keluar, Tuan CEO.”

“Kim Joonmyun-ssie, bisakah kau mencari tahu bagaimana hubungan mereka?”

“Nde?”

“Hubungan mereka tidak bisa berlanjut karena akan merugikan masing-masing agensi. Kau mengerti, kan?”

“B-baiklah…”

Dengan langkah kikuk, Joonmyun keluar dari ruangan Chanyeol. Tepat saat Joonmyun menutup pintu ruangan Chanyeol, Byun Baekhyun datang. Joonmyun sangat terkejut melihat kedatangan Baekhyun.

“Jadi benar, itu kau, Kim Joonmyun?”

“B-Byun Baekhyun-hyung…”

“Kau tidak pantas memanggilku Hyung.”

“Aku harus kembali ke ruanganku.”

“Apa kau sedang memata-mataiku?”

“Maksudmu?”

“Oh, tidak apa-apa. Hanya penasaran kenapa kau melamar ke perusahaan tempat teman dekatku memimpin.”

Joonmyun mengepalkan tangannya sambil menggigit bibir bawahnya.

“Apa kau yang mengatur hidupku? Aku bekerja dimanapun itu urusanku,” ucap Joonmyun.

“Ah, benar juga. Seorang yang lahir dari keluarga koruptor dapat bekerja dimana saja karena bagaimanapun kasus Appamu sudah ditutup. Tunggu dulu, apa kau mencari keadilan?”

“Byun Baekhyun, jaga ucapanmu.”

“Ups, apa aku berkata salah?”

Kim Joonmyun hanya menatap nanar Byun Baekhyun lalu berjalan cepat meninggalkannya.

“Sampai kapanpun, keluarga Byun tidak akan menerima kalian,” ucap Baekhyun yang berhasil menghentikan langkah Joonmyun, “walaupun saat itu kita belum mengerti apa-apa karena masih muda, tapi sekarang aku sudah benar-benar mengerti dengan sejarah buruk Appamu.”

Baekhyun tersenyum tipis, tapi airmata terlihat menggenang di pelupuk matanya.

“Walaupun kasus itu sudah ditutup, tapi aku bisa membukanya lagi jika mendapatkan bukti yang kuat untuk membuatmu hancur. Seperti kalian, yang telah merenggut orang-orang yang kucintai.”

 

***

 

Kami tiba di rumahku sekitar jam 10 pagi. Kyungsoo membantuku untuk berjalan, sedangkan Luhan dan Yifan membawakan barang-barang kami.

“Sudahlah, kau tidak perlu membantuku berjalan, Kyungie.”

“Tidak-tidak, aku harus menjaga Hyung seperti janjiku.”

“Aish…”

Saat Kyungsoo membuka pintu rumah, Eomma langsung menyambut kami dengan suka cita. Di sana juga ada Soonkyu-noona dan Jongwoon-hyung.

“Anakku, akhirnya kau kembali.”

“Maafkan aku karena membuatmu khawatir.”

“Lain kali, kau harus menghubungi polisi jika bertemu dengan orang mencurigakan, arra?”

“Ne.”

“Nah, sekarang kalian istirahat dulu. Setelah itu, kita akan makan siang bersama. Ah, dan juga, Luhan-ssie dan Yifan-ssie, kalian akan tinggal di sini, kan?”

“Nde? Tinggal di sini?” tanya Luhan bingung.

“Iya, anggap saja ini sebagai balas budi seorang ibu pada orang yang telah menjaga anaknya. Sebelum kembali ke China, kalian mau tinggal di sini kan?”

“Yifan-ge?”

“Tentu saja, Ahjummanim.”

“Kalian bisa memanggilku Eomma karena aku sudah menganggap kalian anakku.”

“A-ah… ne, Eomma,” ucap Luhan terbata-bata.

Aku tertawa kecil melihat sikap canggung Luhan saat memanggil Eomma.

“Hei, apa yang kau tertawakan?” ucap Luhan seraya menyikut tanganku.

“Tidak apa-apa.”

“Oiya, karena kamar tamu sedang direnovasi, tidak apa-apa kan kalau kalian berbagi kamar dengan anak-anakku?”

“He? Eomma, kau benar-benar keterlaluan,” celetuk Kyungsoo.

“Itu tidak masalah. Kalau begitu, aku akan berbagi kamar dengan Xiu…maksudku, Minseok.”

“Luhan-hyung, aku tidak akan membiarkanmu sekamar dengan Hyungku. Aku akan tidur dengan Minseok-hyung, jadi kalian berdua bisa tidur di kamarku.”

“Ish…,” kesal Luhan.

“Ne, itu ide yang bagus. Aku dan Luhan akan tidur di kamar Kyungsoo,” ucap Yifan seraya mencubit lengan Luhan sehingga namja itu meringis.

“Baiklah kalau begitu, kalian bisa ke atas sekarang untuk merapikan barang kalian. Soonkyunie, bisakah kau membantuku di dapur? Dan Jongwoon, kau bantu mereka.”

“Ne, Eomma,” ucap Jongwoon seraya membantu Yifan untuk membawa barang-barang kami.

 

 

Saat aku sedang merapikan bajuku, Kyungsoo datang membawa air minum dan meletakannya di meja. Kemudian dia duduk di sampingku dan mengambil beberapa bajuku untuk dirapikan.

“Aku senang Hyung kembali.”

“Eoh, aku juga.”

“Aku berjanji akan menjadi dokter yang hebat, Hyung.”

“Berusahalah yang terbaik, Kyungie.”

“Aku rindu Appa…”

“Baru sekarang aku mendengarmu rindu Appa. Ada masalah apa?”

“Memangnya harus ada masalah dulu baru aku rindu Appa?”

“Mungkin kau tidak, tapi aku, saat mendapat masalah besar, aku akan merindukan Appa lebih dari biasanya. Apa kau juga begitu?”

“Eum, sepertinya Hyung benar.”

“Kau bisa menceritakannya padaku.”

“Tentang ucapanku dua hari yang lalu. Saat aku marah karena Hyung berbohong tentang hubungan kita, aku tidak sadar saat mengucapkannya.”

“Ohya?”

“Tapi kenapa Hyung langsung pergi ke rumah Sehun-hyung setelah aku mengucapkannya?”

“A-ah…itu…”

“Aku tidak bermaksud menyudutkanmu, Hyung. Aku benar-benar sedang emosi waktu itu, jadi kau tidak perlu memikirkannya lagi.”

“Eoh.”

“Aku hanya takut kau sudah tidak lagi menganggapku adik, jadi aku berkata seperti itu. Apa kau percaya?”

“Tentu saja, Kyungie.”

“Dan juga, jangan bertanya seperti itu lagi.”

“Bertanya seperti apa?”

“Tentang bagaimana jika kau bukan kakak kandungku, jangan bertanya itu.”

“Iya, aku berjanji tidak akan bertanya itu lagi.”

 

Tok tok tok

 

Obrolan kami terhenti saat Luhan mengetuk pintu kamarku yang terbuka. Dia tersenyum seraya masuk dan duduk di hadapanku.

“Kalian sedang membicarakanku, ya?”

“Ey, tidak perlu terlalu percaya diri, Luhan-hyung,” ejek Kyungsoo.

“Hya, seorang artis harus percaya diri supaya tidak memalukan di depan kamera.”

“Heol. Hyung, aku ke dapur dulu ya. Sepertinya Eomma dan Noona sudah selesai masak.”

“Kau tidak pamit padaku?”

“Ish…”

Kyungsoo pun pergi meninggalkan kami berdua. Aku kembali menata bajuku ke lemari, tapi tiba-tiba Luhan mencekal tanganku.

“Biar aku saja yang memasukan bajumu, Xiumin.”

“Tidak usah, Lu-ge.”

“Kau bisa lelah. Sebaiknya kau duduk saja, atau tiduran lebih baik.”

Luhan menarik baju dari tanganku, tapi aku berusaha menahannya. Akhirnya kami saling menarik, dan tiba-tiba saja tubuhku terpeleset dan menimpa tubuhnya. Wajah kami berada pada jarak yang dekat sekali sampai aku bisa merasakan deru nafasnya dengan jelas. Kami terdiam dalam posisi itu selama beberapa detik sampai akhirnya aku bangun dan hanya bisa mengelus bagian belakang leherku karena gugup.

“M-maafkan aku…,” lirihku.

Luhan belum juga bangun dan hanya bisa mengerjap-ngerjapkan matanya.

“Mari kubantu,” ucapku seraya mengulurkan tangan padanya.

Dia hanya menatap tanganku ragu lalu menggapainya perlahan. Dengan sekuat tenaga, aku membantunya kembali duduk.

“Aku tidak sengaja, maafkan aku, Lu-ge.”

“E-eoh…”

“Biar aku saja yang merapikannya. Sebaiknya kau kembali ke kamar Kyungsoo untuk membantu Yifan-ge.”

“Eoh…eh, maksudku aku akan tetap di sini untuk membantumu.”

“Huft…benar-benar mengganggu.”

“Apa katamu? Aku mengganggu?”

“Aku bisa melakukannya sendiri, Lu-ge.”

Dengan kasar, Luhan mengambil salah satu bajuku lalu melemparkannya ke lemari, membuat baju itu berantakan.

“Hya! Apa yang kau lakukan?”

“Itu baru namanya mengganggu!” ejeknya seraya menjulurkan lidahnya.

“Aish…berhenti menggangguku, Lu-ge!”

Luhan berdiri lalu berpindah ke belakangku. Dia memelukku dan meletakan dagunya di pundak kananku.

“Kalau begini, apa kau masih menganggapku pengganggu?”

Jantungku berdebar sangat kencang saat kurasakan pipinya bersentuhan dengan pipiku. Dari tepi mata, aku bisa melihat senyum jahilnya. Tindakannya memang tidak menggangguku secara langsung, tapi cukup membuatku tidak bisa bergerak karena gugup. Aku ingin melawan, tapi hatiku berkata lain. Aku ingin terus bersamanya dalam jarak sedekat ini.

“Aku tidak ingin kau menganggapku pengganggu, Xiumin. Karena aku ingin terus berada di dekatmu.”

 

***

 

Kim Joonmyun memandang sebuah foto berisi dirinya bersama kedua orangtuanya.

 

“Walaupun kasus itu sudah ditutup, tapi aku bisa membukanya lagi jika mendapatkan bukti yang kuat untuk membuatmu hancur. Seperti kalian, yang telah merenggut orang-orang yang kucintai.”

 

Kata-kata Byun Baekhyun barusan membuatnya tidak kuasa menahan airmatanya. Dia merasa luka dalam hatinya kembali sakit setelah sekian lama menahannya. Kim Joonmyun tertawa getir, seperti meremehkan ucapan Baekhyun.

“Apalagi yang kau inginkan dariku, Byun Baekhyun? Apa tidak cukup kau dan keluargamu menghancurkan kami? Jika kau mau bermain api, maka aku akan menggunakan api yang lebih panas.”

 

***

 

Kim Kyungsoo berjalan pelan-pelan sambil melihat sekeliling, memastikan tidak ada yang mengikutinya. Kemudian dia keluar dari mengambil ponselnya dari saku celananya. Kyungsoo langsung mencari sebuah kontak, ‘Lee Jongin’, dan menghubunginya.

“Yeoboseo?”

“Ah, Jongin-ssie, apa kau sedang sibuk?”

“Tentu saja iya. Memangnya ada apa?”

“Aku ingin meminta bantuanmu.”

“Bantuan tentang apa?”

“Nanti malam, apa kita bisa bertemu?”

“Tunggu dulu. Eum…baiklah, aku bisa. Dimana?”

“Di kedai kopi Valcy jam 7, bagaimana?”

“Baiklah.”

“Gomapta.”

Kyungsoo menutup panggilannya lalu berbalik untuk masuk, tapi dia langsung terkejut saat melihat Minseok yang sedang menatapnya heran.

“Aigo! Kau mengagetkanku, Hyung!”

“Kau menghubungi siapa tadi?”

“Euh…itu…”

“Itu siapa?”

“Aku menghubungi Lee Jongin, polisi yang menangani kasusmu.”

“Untuk apa kau menghubunginya?”

“Aku hanya ingin bertemu dengannya untuk membicarakan kasusmu.”

“Benarkah? Lalu apa yang kau maksud dengan meminta bantuan?”

“Hyung, apa lagi kalau bukan tentang kasusmu? Memangnya aku punya urusan lain dengan polisi tentang hal lain?”

“Ya siapa tahu…”

“Tidak ada yang sedang kusembunyikan, Hyung. Kau tenang saja.”

“Eomma menyuruh kita ke ruang makan.”

“Ne. Ayo, Hyung,” ucap Kyungsoo seraya menggandeng lengan Minseok.

 

***

 

Baekhyun melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatap kesal Chanyeol yang sedang memeriksa beberapa dokumen dari sofa pertemuan.

“Kenapa kau menerima orang itu?”

“Orang itu? Siapa?”

“Kim Joonmyun.”

“Memangnya kenapa? Dia cukup kompeten walaupun baru lulus kuliah.”

“Apa kau tidak tahu latar belakang keluarganya? Mereka benar-benar memalukan.”

“Kau bicara apa sih.”

“Aku bersungguh-sungguh. Ayahnya adalah pembunuh dan juga koruptor.”

“Hei…kau tidak boleh menuduh orang seenaknya.”

“Aku tidak menuduh siapapun.”

Chanyeol meletakan berkas-berkas yang sedang dia periksa lalu duduk di samping Baekhyun.

“Apa yang sedang kau bicarakan, hah?”

“Kau ingat tentang salah satu keluarga Byun yang diusir beberapa tahun yang lalu?”

“Eum…iya, aku ingat.”

“Dia adalah anak tunggal dari keluarga itu. Appanya menggelapkan uang perusahaan dalam jumlah yang sangat besar, dan aku yakin…Appanya juga yang sudah membunuh keluargaku.”

“Baekhyunnie, tetap saja, itu bukan dia kan? Toh, keluarganya sudah dihukum oleh kakekmu.”

“Kau tidak percaya kalau dia akan menghancurkan perusahaanmu juga?”

“Baekhyun-ah, tolong berhenti menuduh orang seperti itu.”

“Cih, lagi-lagi membela orang yang baru kau kenal.”

“Apa kau masih membicarakan tentang masalah kita dua hari yang lalu?”

“Tidak.”

“Aish…aku kan sudah minta maaf padamu. Aku benar-benar emosi waktu itu.”

“Sudah kubilang aku tidak membicarakan itu. Yang kubicarakan sekarang adalah Kim Joonmyun.”

“Bagaimana kalau malam ini kita minum kopi di kedai Valcy? Sudah lama kita tidak ke sana, bukan?”

“Kau sedang merayuku? Itu tidak mempan.”

“Oh, ayolah. Aku ingin memperbaiki hubungan kita.”

“Huft…”

“Bagaimana?”

“Baiklah.”

 

***

 

Seorang lelaki bertubuh kurus dan tidak terlalu tinggi berjalan dengan senyum penuh arti. Lelaki yang berpenampilan seperti penyanyi rock itu berhenti di depan sebuah rumah dengan nama keluarga Kim, nomor 70. Setelah merapikan jaketnya sekali lagi, lelaki itu menekan bel rumah itu sekali.

 

Ting tong

 

Acara makan siang keluarga Kim dan dua tamu spesial itupun harus terhenti karena suara bel.

“Biar aku saja,” ucap Kyungsoo seraya berlari keluar.

 

Klek

 

Saat dia membuka gerbang, Kyungsoo hanya bisa menatap tamunya bingung. Penampilan lelaki itu membuatnya cukup waspada.

“Siapa ya?” tanya Kyungsoo sambil melihat lelaki itu dari bawah ke atas.

“Namaku Zhang Yixing, senang berkenalan denganmu.”

“Mau cari siapa?”

“Benarkah ini rumah Kim Minseok?”

“B-benar.”

“Aku manajer barunya.”

“Oh, benarkah?”

“Iya. Aku bisa menunjukan surat kontraknya kalau kau mau.”

“Nanti saja. Ayo masuk, kami sedang makan siang.”

“Apa aku mengganggu?”

“Tanpa kau bilang pun seharusnya kau tahu.”

“Maafkan aku karena datang di saat yang tidak tepat.”

“Tidak apa-apa. Kebetulan tadi kami membicarakan manajer baru untuk Hyungku, dan sekarang kau datang. Benar-benar kebetulan.”

Kyungsoo mempersilahkan lelaki itu masuk.

“Kami memang ditakdirkan bersama.”

“Mwo?”

“Hahaha, santai saja, Kyungsoo-ssie.”

“Ha? Kau tahu namaku?”

Zhang Yixing hanya tersenyum lalu membungkuk hormat saat tiba di ruang makan.

“Salam kenal, namaku Zhang Yixing. Kalian bisa memanggilku Lay. Aku adalah manajer baru Xiumin.”

Kim Minseok berdiri saat Lay menyebut namanya. Dia benar-benar dibuat bingung dengan rocker yang mengaku manajernya itu.

“Siapa namamu tadi?”

“Lay.”

“Sepertinya nama itu tidak asing.”

“Aku adalah adik kelas Hanzhuo-gege.”

“Ah! Aku ingat, kau itu si pengacau Lay, kan?”

“Hahaha, Anda benar-benar lucu, Xiumin. Aku bukan pengacau, tapi Hanzhuo-ge yang menyebar rumor itu hanya karena aku selalu membuat mesin fotokopi rusak.”

“Lalu siapa yang menyuruhmu menjadi manajerku?”

“Hanzhuo-ge.”

“Mwo?”

“Bolehkah aku makan siang dengan kalian? Aku sangat lapar.”

Tanpa basa-basi, Lay langsung duduk di bangku Appa dan mengambil piring dan beberapa lauk. Melihat hal itu, Minseok beranjak dari tempatnya lalu menarik Lay ke ruang tengah. Lay hanya cekikikan mendapat perlakuan itu.

“Hya, apa kau tidak punya sopan santun? Dan lagi, penampilanmu sangat tidak sopan.”

“Oh, ayolah, Xiumin. Aku hanya berusaha menunjukan diriku yang sebenarnya. Hanzhuo-ge bilang, kau tidak suka orang yang berpura-pura.”

“Kita harus ke kantor sekarang.”

“He? Kau tidak percaya padaku? Aku benar-benar manajer barumu.”

“Aku tidak percaya sebelum membuktikannya sendiri. Setelah terbukti kalau kau memang manajerku, kau boleh memakan apapun yang disediakan Eommaku.”

“Benarkah? Baiklah…”

Minseok dan Lay kembali ke ruang makan untuk berpamitan.

“Jongwoon-hyung, bisakah aku meminjam mobilmu sebentar?”

“Ho? Untuk apa?”

“Aku mau ke kantor sebentar untuk memastikan kalau orang ini benar-benar manajerku.”

“Habiskan dulu makananmu, Minseokkie.”

“Aku akan menghabiskannya nanti, Eomma.”

“Xiumin, apa aku perlu mengantarmu?”

“Tidak perlu, Lu-ge. Jongwoon-hyung, mana kuncinya?”

“Ini, jaga baik-baik ya.”

Jongwoon melempar kunci mobilnya pada Minseok lalu tanpa babibu mereka segera pergi ke kantor Anthersy Book.

 

***

 

Walaupun aku belum hapal jalan ke Anthersy Book, tapi akhirnya kami sampai juga di sana. Setelah bertanya dimana ruangan Chanyeol, kami segera pergi ke sana. Sepanjang jalan, Lay hanya tersenyum dan sesekali cekikikan. Aku tidak habis pikir kenapa Hanzhuo-ge merekomendasikan orang sepertinya.

“Oh, bukankah Anda Kim Minseok?” tanya sekretaris Chanyeol.

“Iya, aku mau bertemu dengan Tuan CEO.”

“Tapi sekarang Tuan Byun sedang ada di dalam.”

Mwo? Baekhyun-hyung ada di dalam? Oh, aku tidak perlu heran, mereka kan berteman.

“Sampai berapa lama?”

“Saya akan menanyakannya. Tunggu sebentar,” ucapnya seraya memandang heran pada orang di sampingku.

Beberapa saat kemudian, sekretaris Chanyeol keluar dan mempersilahkanku masuk. Saat aku masuk, Chanyeol dan Baekhyun segera berdiri sambil memasang wajah terkejut. Mungkin mereka tidak percaya kalau aku benar-benar datang.

“M-Minseok-ah…,” lirih Chanyeol.

“Ne, ini aku.”

“Siapa orang yang berpenampilan urakan itu?” tanya Baekhyun.

“Apakah kalian tidak meminta kami duduk?” ucap Lay yang dengan tidak sopannya langsung duduk di sofa lain.

“Siapa kau?” tanya Baekhyun sekali lagi.

“Ah, aku lupa memperkenalkan diri pada kalian. Namaku Zhang Yixing, tapi panggil aku Lay. Aku adalah manajer baru Xiumin.”

Chanyeol langsung menatapku dan menggeleng tanda dia tidak tahu apa-apa.

“Yaampun…aku benar-benar manajernya.”

Lay mengambil sebuah map berwarna merah tua dari ranselnya yang berduri-duri lalu menyerahkannya pada Chanyeol.

“Itu kontrak kerja dari Anthersy Book cabang China,” jelasnya.

Chanyeol mengambil map itu dengan agak ragu lalu membaca isinya.

“Iya, ini memang kontrak kerja yang telah disahkan oleh perusahaan.”

“Mwo? Kalian memberiku manajer urakan seperti ini? Benar-benar kejam.”

“Minseok-a, aku tidak tahu kenapa perusahaan mempekerjakan orang seperti ini. Aku akan memeriksanya lagi.”

“Hei-hei-hei, kurang meyakinkan apa lagi, sih? Aish…hanya karena penampilanku yang seperti penyanyi rock kalian meremehkanku? Apa aku harus merubah penampilanku seperti kalian?” ucapnya seraya menunjuk Chanyeol dan Baekhyun dengan jempolnya.

“Jika kau merasa terganggu, aku akan berusaha menggantinya, Minseok.”

“Eits, jangan seenaknya ya. Walaupun kau adalah pimpinan kantor ini, tapi jangan seenaknya memecatku tanpa melihatku bekerja.”

“Kalau kau ingin diterima, ubah penampilan dan sikapmu. Kau tidak kenal Kim Minseok?”

“Oh, tentu saja aku mengenalnya. Dia adalah penulis terkenal di Asia yang sebentar lagi bermain film dengan penyanyi favoritnya, Xi Luhan. Dia berasal dari keluarga Kim yang sudah tinggal di Kanada selama 4 tahun. Ayahnya, Kim Jaein, telah meninggal beberapa minggu yang lalu. Kini dia tinggal dengan Eommanya, Kim Shinae, adiknya, Kim Kyungsoo, dan kakak angkatnya dan istri kakaknya, Kim Jongwoon dan Kim Soonkyu yang dulunya berasal dari keluarga Lee.”

“Darimana kau mendapat identitasku sedetail itu?”

“Tentu saja dari Hanzhuo-ge.”

“Minseok-a, kau harus menerima Lay untuk sementara. Jika pekerjaannya tidak memuaskan, aku akan memecatnya.”

“Arra. Aku akan menerimanya, tapi tolong jangan ke rumahku sekarang.”

“Kau bilang aku boleh makan siang di rumahmu.”

“Aish…benar-benar.”

“Lay-ssie, aku akan membelikanmu makan siang, tapi tolong jangan ganggu Minseok dan keluarganya dulu. Minseok baru saja keluar dari rumah sakit, jadi—“

“Iya-iya, aku mengerti. Aku akan pulang dan baru besok ke rumahmu, bagaimana?”

Tanpa menjawab, aku keluar dari ruangan itu karena sudah kesal mendapat manajer baru urakan sepertinya. Chanyeol langsung mengejarku dan menarik tanganku.

“Minseok-a, maafkan aku karena tidak tahu apa-apa tentang orang itu.”

“Tidak apa-apa. Toh, dia orang yang direkomendasikan manajer lamaku, kan?”

“Aku berjanji akan menangani masalah ini. Kau hanya harus bertahan sementara.”

“Ne.”

“Apa kau sudah benar-benar sehat?”

“Tentu saja. Kalau belum, untuk apa aku di sini?”

“Kau masih marah padaku soal aku memukul Luhan, bukan?”

“Tidak.”

“Jangan berbohong, Minseok.”

“Iya, aku memang masih marah padamu. Kalau perlu, aku akan memukul wajahmu sekarang juga.”

“Kalau begitu…,” Chanyeol menuntun tanganku ke wajahnya, “lakukanlah.”

“Kenapa kau tidak pernah mau mengerti pada ucapanku, Hyung? Sudah kubilang kan, aku tidak bisa mencintaimu lagi, semuanya tidak akan sama.”

“Aku tidak peduli, Minseok-a. Aku akan terus mencintaimu.”

“Aish…”

Aku berusaha melepas genggaman Chanyeol, tapi lelaki itu malah mengeratkannya. Tiba-tiba saja, Lay berjalan sangat cepat di antara kami sehingga genggaman itu terlepas.

“Tugas pertamaku sebagai manajer, aku akan mengantarnya pulang.”

Dengan sigap, Lay langsung menggandengku dan menarik tubuhku meninggalkan Chanyeol. Walaupun aku tidak menyukainya, tapi aku sangat berterimakasih karena dia sudah menjauhkan Chanyeol dariku.

“Gomawo,” ucapku saat kami tiba di tempat parkir.

“Walaupun kau tidak menyukaiku sekarang, tapi aku akan berusaha keras untuk menjaga orang yang telah dipercayakan padaku.”

 

***

 

Sesuai perkataan Lay tadi, setelah mengantarku pulang, dia memesan taksi untuk pulang dan baru kembali besok.

“Apa kau tidak mau masuk dulu?”

“Tidak-tidak, aku akan kembali besok pagi. Ah, aku lega kau masih menghindari Park Chanyeol.”

“Nde?”

“Hahaha, tidak apa-apa. Aku pulang dulu ya.”

Taksi yang ditumpangi Lay pun melaju dengan kecepatan normal dan menghilang di persimpangan jalan. Aku pun segera memarkir mobil Jongwoon-hyung lalu masuk ke rumah.

Eomma dan yang lain langsung berdiri saat aku memasuki ruang tengah.

“Dimana penyanyi rock itu?” tanya Eomma.

“Dia pulang.”

“Jadi orang itu bukan manajer barumu, Hyung?”

“Dia manajerku kok, tapi dia bilang akan kembali besok.”

“Lelaki urakan tadi manajer barumu? Benar-benar aneh,” komentar Luhan.

“Eum, aku juga tidak mengerti. Ah, apa kalian sudah selesai makan siang? Maafkan aku ya karena tiba-tiba pergi.”

“Apa kau mau Eomma menghangatkan supmu?”

“Ne, Eomma.”

Aku mengikuti Eomma ke ruang makan begitu juga Luhan. Di meja makan, hanya ada piringku dan piring Luhan yang belum bersih.

“Kenapa kau tidak menghabiskan makananmu?” tanyaku.

“Aku sengaja menunggumu.”

“Untuk apa?”

“Sudah lama kan kita tidak makan bersama?”

“Hei, tolong jangan katakan itu di depan Eommaku.”

“Memangnya kenapa? Aku sudah banyak bercerita pada Eommamu tentang hubungan kita.”

“Ish, kau ini…”

“Hahaha, kalian berdua sangat serasi ya.”

“Eomma, apa yang kau katakan?” protesku.

“Eommamu pernah bilang kalau dia ingin orang sepertiku yang menjadi pasanganmu.”

“Mwo? Yang benar saja?”

“Apa kau meremehkanku, hah?”

Eomma kembali tertawa melihat perdebatan kami lalu menuangkan sup kentang ke mangkukku.

“Eomma ke kamar dulu, ya. Kalau kalian sudah selesai, letakan piringnya di wastafel saja tidak usah dicuci.”

“Ne,” jawab kami bersamaan.

Selepas kepergian Eomma, aku makan tanpa memedulikan Luhan yang sedang menatapku. Dia melakukan itu pasti ingin mengerjaiku.

“Xiumin,” panggilnya, tapi aku masih sibuk makan, “kau sangat manis.”

Dia berhasil membuatku memuntahkan sedikit makanan yang hampir kutelan.

“Apa yang kau bicarakan, Lu-ge?”

“Aku tidak tahu kapan terakhir kali memuji orang seperti ini, yang pasti sudah lama sekali.”

“Siapa orang yang kau puji seperti ini?”

“Cinta pertamaku.”

 

***

 

Malam itu, sesuai permintaan Kyungsoo, dia dan Jongin bertemu di kedai Valcy tepat jam 7. Kyungsoo memesan vanilla late, sedangkan Jongin memesan kopi hitam. Sambil menunggu kopi mereka, Kyungsoo meletakan dua buah pelastik berisi rambut di atas meja. Jongin hanya mengerutkan dahinya heran.

“Apa ini?”

“Rambut Eomma dan Hyungku.”

“Ha?”

“Aku tahu kau sibuk, tapi bisakah kau membantuku sekali ini saja? Tolong periksa apakah DNA mereka cocok. Aku ingin memastikan apakah Hyungku anak kandung Eomma atau bukan.”

“M-maksudmu?”

“Hyungku mempunyai penyakit aneh sejak kecil. Dia akan mengalami sakit kepala yang parah setiap melihat berita kecelakaan. Aku menduga, Hyungku pasti pernah mengalami kecelakaan yang membuatnya trauma seperti itu. Ditambah lagi, beberapa hari yang lalu aku tidak sengaja mendengar Eommaku berbicara dengan dokter yang menangani Hyungku, dia bilang kalau Hyungku pernah mengalami kecelakaan yang membuatnya tidak bisa mengingat masa lalunya. Karena itu, aku ingin mencaritahu penyebab penyakitnya. Aku mohon bantulah aku, Jongin-ssie. Aku tidak tahu harus meminta tolong pada siapa lagi.”

“Lalu kalau dia bukan kakak kandungmu, apa yang akan kau lakukan?”

“Aku akan mencari keluarga lamanya dan juga penyebab kecelakaan itu. Aku tidak bisa melihat kakakku terus ketakutan.”

Advertisements

12 thoughts on “My Immortal Love is You _ XiuHan/LuMin (Bagian 06)

  1. Yah Sehunnya sekilas lagi.. *cemberut*
    Lah kok Kyungsoo jadi baik lagi sama Chanyeol? labil deh Kyungsoo -_-
    Kelurga Byun? ada apa dengan keluarga Byun? terus cara Baekhyun menghancurkan Minseok gimana caranya? *penasaran*

    Kayaknya bener deh Minseok itu cinta pertama Luhan ya eonnie? 😀 haha, etapi keluarga Minseok yang dulu siapa dong? 😮 Terus kakak Luhan? *mikir keras*

    Aish, Luhan nih emang bener-bener pengen banget ya orang lain tau hubungan mereka :3 haha. Wah mau minta restu nih Luhan ke eomma Minseok #plak *ditabok Luhan*

    I-itu Lay? kok begitu kelakuannya? apa sengaja? atau emang begitu? *cengo*

    Ahhhh, aku berharap Minseok sama Luhan bersatu~ dan aku berharap otakku gak kusut deh gara-gara mikirin Minseok sama Luhan bersatu :3 hehe. Fighting eonnie ‘-‘9 aku doain semoga cepet update ya, hehe 😀 Annyeong eonnie /lambai-lambai tangan bareng Lumin/

    • kkkk, namanya juga supporting cast sayang. kamu mau luhannya kupasangin sama sehun? *eh
      nggak, bukannya baik lagi itu, tapi dia syok sama kata-kata chanyeol, jadinya dia diem aja hehe lagian chanyeol juga yang udah nganter xiu ke rs.
      harusnya ada ttg mereka di bagian-bagian akhir heheheheee
      cieee hayo siakupa hayoooo. kkk
      eommanya minseok kayaknya udah suka de sama luhan xD keliatan bangetttt
      wkwkwk, pembunuhan karakter banget ni aku 😀 😀 Lay yang kalem kujadiin urakan begitong. mangap yak!
      aku doain juga mereka bersatu yaa !! *eh
      sip daah, doain terus supaya otakku ga stuck kkkkk.
      makasih banyak udah baca 😀

      • Oiya ya 😮 haha. Andwaeeeeee~ jangan aduh jangan dipasangin sama Sehun dong aduh *panik*
        Oh jadi semacem berterima kasih gitu ya? *sok tau*
        Huaaaa~ semoga mereka berjodoh deh(?) 😀
        Haha iya, udah kawinin aja eomma~ #plak *ditabok Kyungsoo*
        Yehet didoain sama eonnie :3
        aku selalu mendoakan eonnie kok hehe 😀 sama-sama eonnie \^.^/

  2. huwaaaa akhirnya hap 6 nya keluar jga senangnya hehehehehe aku sangat suka eruta ff ni, jangan2 Minseok tu cinta pertamanya Luhan (soktau -_- )lanjut lg ya thor ff nya jgn buru2 end ya (Y) (Y)

  3. pokoknya ini ff favorite dahh, teka teki kehidupan para pemain nya bikin penasaran sepanjang aku baca ff ini dr awal..
    updatenya klu bisa cepet ya,,, uhhh penasaran >.<

  4. Wah c luhan disupport ma calon mertua.. apa xiumin tu cinta pertama luhan.. sebenernya masa lalu xiumin gimana hmm moga bisa terungkap y..
    Lumin couple kapan jadian ni heheheh…

    • iya iyaa 😀 aku juga bahagiaa 😀 wkwkwk
      cieee, cinta pertama ga yaaa 😀
      masa lalunya pasti keungkap kok 😀 *yaiyalah
      kapan cobaaa, nantikan aja ya 😀 bentar lagi kok 😀 😀
      makasih banyak udah baca 😀

  5. Huaaa,,,
    Akhirnya chap 6 nya udah muncul (?) !!!!
    Ituu,,, kenapa si Baek jahat amat sama Suho.. Itukan masa lalu nak(?) Lupain aja.. Lagian kasus nya juga udah ditutup (?) Buat apa diungkit lagi … -_-“

    Greget deh sama Chanyeol,,
    Padahal udah ada Baekhyun malah minta Xiumin..
    Liat noh,, Baekhyun itu udah manis,, kenapa malah didiemin aja?? Xiumin itu milik Luhan(?) Selamanya !! Arraseo!! #ditimpuk

    Huaa,, eomma nya Xiu udah kasih restu sama Luhan..
    Ayoo,, buruan nikah gihh 😀

    Itu si Lay ??
    Aduh,, gak bisa bayangin penampilan Lay kayak rocker XD
    Apalagi,, kelakuannya.. Gak sopan amat atuh bang -_-

    And,, Kyungsoo..
    Dirimu terlalu KEPO nak TT^TT *garukpantatSehun(?)*
    Kurangi keKEPOan mu itu..
    Gak usah cari tau masalalu hyungmu..
    Nanti,, hyungmu akan sedih nakkk (?)..
    #anakilang#

    Hua,,,,
    Eonni fighting!! Buruan apdet chap 7 nya yaaa :*

    • huaa, akhirnya yaaa xD
      baek emang jahat ih *mangap ya baek* tapi baeknya dendem sama keluarga suho karena -tetttt- rahasia! 😀
      chanyeol gigih banget aku juga kesel hihihihi bener-bener! padahal sama baek udah bagus ya -_-
      cie-cieee, eomma kayaknya ngpans juga sama luhan xD wkwkwk
      aku ngelakuin pembunuhan karakter banget sama lay 😦 mangap ya lay wkwkwk
      tapi kyungsoo ngelakuin itu biar xiumin sembuh *katanya* wkwkwk, jadi perlu dicoba-coba 😀 😀
      okee, doain aja ya sabtu/minggu udah jadi 😀 makasih banyak udah baca 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s